Thursday, March 31, 2022

Melukis di atas pasir

 




Tahun 2002 Udin diundang ke rumah temannya yang pengusaha. Teman ini punya koneksi kuat di Laskar Nasional (LN). Tinggalnya saja di Cijantung, Komplek Laskar. Rumah yang dia tempati tadinya milik Jenderal bintang IV. Setelah berbicara panjang lebar selama hampir 1 jam, teman Udin berkata “ Gua dan Jenderal S mau mendirikan partai. “


“ Partai yang ada aja susah menang lawan pemenang pemilu yang sudah lama eksis, apalagi partai baru” Kata Udin tersenyum seakan meminta temanya jangan halu.


“ Kamu dengar dulu. Engga ada yang engga mungkin di republik ini kalau ada uang. Saya sudah survey di pantura Jawa dan wilayah Tapal Kuda yang merupakan basis merah. Saya tanya mereka pilih uang atau merah. Dari 100 yang saya tanya 100 jawab pilih uang. Ini masalah perut. Rakyat capek bicara politik. Berganti rezim tetap aja mereka miskin.” Kata Teman udin dengan retorik.


“ Terus darimana uang? emang sedikit biaya untuk menang?. Apalagi partai baru.” Kata Udin ketus.


“ Ya dari para obligor BLBI. Mereka engga happy dengan kebijakan MSAA untuk bisa dapatkan R&D.  Ada ratusan triliun mereka dirugikan lewat skema itu. Kalau mereka korban uang untuk politik Rp. 20 triliun kan kecil untuk jadikan seorang presiden dan partai pemenang pemilu.” Kata teman Udin tersenyum.


“ Ok lah. Terus gimana mengorganisir proses menjadi pemenang. Kan butuh akar rumput. Emang bisa bangun akar rumput dengan cepat. Apalagi beberapa bulan doang.”


“ Ah gampang itu. Yang jago menggerakan akar rumput itu hanya Laskar nasional. Karena LN punya sistem Hamkamnasrata. LN punya sumber daya untuk menggerakan semua elemen masyarakat, termasuk tokoh masyarkat dan Islam lewat gerakan primordial. Uang akan mengalir lewat mereka. Tentu lewat operasi intelijen. Kan politik. Maklum dong, ka LN engga berpolitik. ” Kata teman Udin. Omongan terakhir ini membuat Udin terkejut. Wah ini serius urusannya. Benar benar smart.


***

“ Bro, lue datang ke kantor tempat gua lagi meeting” Kata teman Udin lewat SMS. Udin segera meluncur ke alamat kantor di Jalan Sudirman.  Udin menanti di ruang tunggu selama temannya lagi meeting. Temannya keluar dari ruang meeting dan menghampirinya untuk ajak jalan ke Hotel Sultan. Udin sempat melirik tamu yang keluar dari ruang meeting itu. Ada 7 orang. Udin kenal semua wajah mereka. Mereka adalah konglomerat yang tersangkut kasus BLBI. Hanya satu yang pribumi.  


“ Itu tadi sponsor. Tapi dari 7 orang itu hanya satu boss. Disebut aja Bos Naga. Yang enam orang hanya proxy. Ya boneka untuk menggelapkan aset. Bos itu mau biayai semua sesuai anggaran. Tetapi syaratnya dia engga mau ketemu langsung dengan capres dan calon pengurus partai. Dia hanya izinkan pengusaha yang dia kenal untuk jadi penghubung antara dia dan capres. “ Kata teman Udin.


“ Kenapa ?


“ Ya dia engga mau ambil resiko. Kalau menang sih bagus. Kalau kalah kan hancur mereka sama lawan politik. Jadi silent operation aja. Yang penting uang akan mengalir melalui penghubung dia. “ 


“ OK modal udah dapat. Terus akses ke LN dan  Islam gimana? “ Tanya Udin.


“ Teman gua yang jenderal akan atur pertemuan dengan dua orang. “ Kata teman Udin. Ketika menyebut nama dua orang itu Udin langsung bereksi.” Loh kedua orang itu menteri kabinet presiden sekarang. Apa iya mereka mau berkhianat. “


“ Siapa yang engga mau kekuasaan? Kekuasaan itu sama dengan uang. Paham lue “ 


“ Terus..”


“ Kalau mereka mau, gua akan atur mereka berdua ketemu dengan  boss Naga, ya tentu melalui penghubungnya.  “


Sampai di Hotel Sultan sudah ada beberapa tokoh islam dan ormas di ruang seminar berukuran kecil.  Pertemuan itu memperkenalkan kapasitas mereka masing masing sebagai tokoh yang bisa menggerakan akar rumput. Arranger yang atur pertemuan itu adalah pensiunan Laskar. Sejak itu Udin memutuskan tidak ingin bertemu dengan temannya. Apalagi Udin sudah hijrah ke luar negeri.


***

Benarlah. Pemilu tahun 2004, dimenangkan oleh Partai baru berdiri. Dan yang jadi presiden dan wakil adalah dua mantan menteri presiden sebelumnya.  Yang membuat Ketua Umum Partai Merah marah adalah mereka berdua sengaja deal dengan konglomerat yang berseteru dengannya. Padahal mereka berdua ada dibalik kebijakan soal BLBI. Bahkan mereka berdua anggota team penyelesaian BLBI. Jadi hanya pengkhianat yang pantas untuk mereka.  Tetapi bagaimanapun itulah politik. Tentu pemenang punya alasan untuk tidak disebut pengkianat.


Setelah dua periode kekuasaan, menjelang akhir kekuasaan tahun 2013, ada jenderal bintang tiga mantan dubes Singapore didatangi  boss Naga. Kebetulan mereka memang sudah lama bersahabat. Boss ini kecewa dengan presiden. Katanya hampir dua peridoe kekuasaan engga juga selesaikan kasusnya. Digantung engga jeas. Pada pemilu 2014, dia mau dukung siapa saja calon presiden asalkan bisa bantu dia. 


Jenderal ini menghubungi mantan wapres tahun 2004-2009 untuk melobi Ketua Umum Partai Merah agar mendukung Gubernur Ibukota jadi capres. Alasannya Gubernur Ibukota itu disamping track recordnya bagus juga orang jujur dan capable. Yang penting jenderal ini udah kenal lama dengan Gubernur ibukota itu. Maklum dia pernah bermitra dalam bisnis waktu gubernur itu jadi pengusaha.


***

Ketua Partai Merah tidak begitu saja setuju usulan dari eks menterinya waktu dia presiden 2002 . Dia ingat pengalaman dikhianati tahun 2004. Namun suami dari Ketua Partai Merah itu diyakinkan oleh salah satu jenderal sahabat dari eks menterinya itu, bahwa laskar nasional siap mendukung proses suksesi melalui konstitusi. Keadaannya mencair. Karena bagi partai merah kalau LN siap berati semua terkendali. Apalagi barisan Islam akar rumput siap membantu. Aman. 


Namun ketua Partai merah tetap tidak mau berhubungan dengan Boss Naga. “ Kalau mau dukung yang dukung aja. Tetapi tidak ada konpensasi politik. Kasus hukum kalau memang belum selesai ya jalan terus sesuai UU.”  Katanya yang kekeh dengan sikapnya patuh kepada UU. Tegar seperti batu karang di tengah samudera. Komitmen yang tidak jelas itu, membuat bos naga tidak seratus 100 % mendukung. Itu sebabnya dia melirik ke partai lain. Situasi ini membuat semua partai punya peluang mendapatkan dukungan dari Boss naga. Capres Partai Merah berusaha mendatangi partai  lain untuk berkoalisi. Tapi karena tidak ada deal yang ditawarkan, ajakan koalisi disikapi dengan dingin. 


Kontestan Capres 2014 jadi tiga pasang. Partai merah sepi dukungan partai koalisi. Keadaan semakin rumit karena sikap ketua partai yang tidak bisa pragmatis. Padahal tampa dana sulit untuk menang dalam Pemilu. Sikap yang tidak pragmatis ini disikapi secara politik oleh eks menterinya yang juga mantan wapres 2004-2009. “ Engga ada masalah Bu.  Kalau menang, kita sama sama kawal presiden kita. Kan saya ada disamping presiden sebagai wapres. Saya jamin ” katanya. Ketua partai merah tetap tidak menerima. Namun setuju proposal pembagian jatah menteri di kabinet. Tim sukses dibagi dua. Dari partai merah dan dari Boss Naga.  Masing masing bersinergi dengan komando berbeda.


Kalau tahun 2004 jenderal S yang menjalin koneksi dengan LN, namun pada pemilu 2014 peran itu digantikan oleh Jenderal W yang bertugas memback up dukungan LN kepada partai Merah di akar rumput. Sementara Cawapres bertugas menarik dukungan akar rumput kelompok islam. Mendengar kabar bahwa boss naga komit medukung, salah satu kontestan mengundurkan diri. Yakin engga bakal menang kalau lanjut. Koalisi yang sudah dibangunya pindah ke gerbong PS ( lawan capres Partai Merah). Partai merah tetap saja sepi koalisi. Tapi Boss naga ada di belakang. 


Akhir cerita kontestan yang diusung Partai Merah memenangkan pemilu 2014. Bukan itu saja. Partai merah mendulang suara banyak di Pemilu legislatif. Partai merah juara 1 dan sukses mengalahkan partai mercy dan menggeser koalisi partai itu yang pernah membuatnya jadi oposisi selama 10 tahun. Benarlah. Beberapa pengusaha penghubung Boss Naga jadi menteri. Bahkan eksekutif perusahaan yang menguasai saham mayoritas bank swasta terbesar jadi menteri juga ( nanti baca episode profile Boss Naga).


Di awal kekuasaan memang tidak mulus hubungan presiden dengan ketua Partai merah. Khususnya terkait pemilihan Kapolri. Namun setelah lewat lobi dari Wapres, akhirnya bisa kembali normal. Mengapa ? Karena agenda Partai merah semua jadi prioritas pembangunan khususya toll laut, pembangunan infrastruktur, reformasi tata niaga migas, dana desa dan program reforma agraria lewat pembagian lahan  kepada rakyat. Maklum Ketua Partai Merah ingin memperkuat panestrasi pemilih partainya. Kalau program itu semua sukes, partainya diuntungkan secara politik. 


***

Setelah tahun 2004 proses politik tidak mendukung memuluskan penyelesaian kasus BLBI. Presiden semakin sulit dihubungi dan diajak bicara. Dia dicuekin. Karena bisnis Batubara semakin berkibar. Para OKB semakin banyak  merapat ke istana dan ke elite politik yang berkoalisi dengan penguasa. Yang miris para proxy dari Bos Naga membangun jaringan ke istana hanya untuk kepentingan pribadi mereka saja. Merekapun mendadak jadi orang kaya raya dan terdaftar sebagai 100 orang terkaya di Indonesia.  Bos Naga tahu bahwa situasi bisnis semakin tidak berpihak kepadanya. 


Dia menjauh dari euforia bisnis batubara.  Dia tidak tertarik dengan bisnis rente. Setelah sebagian besar perusahaannya diambil alih oleh pemerintah dalam rangka MSAA, dia focus mengembangkan perusahaan yang masih tersisa untuk bisa dia kembangkan. Lambat namun pasti dia bisa mengembangkan perusahaan secara luas. Dari hulu sampai hilir industri makaan dia kuasai. Bahkan jaringan retailnya terus bertambah menjagkau seluruh pelosok tanah  air. Itu berkat dukungan mitra internationalnya.


Bersama mitra globalnya dia mengembangkan bisnis dowstream CPO sampai ke luar negeri. Totalnya lebih 500 pabrik dia bangun di luar negeri. Termasuk juga membangun food industry di beberapa negara bahkan sampai ke Afrika.  Bahkan bisnis jaringan retailnya merambah ke Australia dan China. Sementara kasus atas akad MSAA yang dia merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah belum juga tuntas. Bahkan status hukum juga tidak jelas. Padahal kalau sudah teken MSAA itu dianggap lunas kewajibannya. Namun R&D pun digantung tampa ada kepastian hukum.


Tahun 2008, krisis Wallstreet terjadi. Presiden tidak butuh dia lagi untuk pemilu berikutnya. Karena ada bandar tambang batubara yang siap jadi pendana atau sponsor. Dia diam saja. Tapi dia tidak bodoh. Dia sudah ukur bahwa pada akhirnya OKB yang ada disekitar presiden itu akan kesulitan akibat krisis financial global.  Benarlah. Sejak tahun 2010 mulai terjadi kelangkaan likuiditas. Bos naga secara berangsur mulai mempreteli asset mereka dan membuat mereka lemah. Sehingga tergantung kepada dia. 


Bahkan saham perusahaan dari keluarga mantan penguasa Orba juga dia ambil alih secara hostile lewat shadow banking. Maklum mereka butuh  biaya mahal untuk keluarganya. Pendapatan tidak ada. Dia datang memberikan kemudahan kas bon. Namun lambat laun kas bon jadi membesar sehingga saham disitanya. Praktis proxy dari ex keluarga orba jadi proxy dia. Tahun 2013 praktis hanya dia yang likuid. Sementara pengusaha yang dekat dengan istana pada loyo karena harga batubara jatuh di pasar dunia.


Itulah sebabnya tahun 2013 ketika proses suksesi menjelang berakhir dua periode jabatan presiden,  dia didekati oleh temannya yang juga jenderal pengusaha. Tahun 2014 Pemilu dimenangkan oleh partai merah. Sahabatnya tidak ada dalam kabinet. Dia kecewa. Belakangan ditunjuk jadi KSP dan waktu pergantian kabinet sahabatnya jadi MenkoPolhukam. Ini kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya. Tetapi tidak lama kemudian temannya digeser dari Menkopolhukam. Ya wakil presiden justru mempersulit upayanya menyelesaikan kasusnya. Kandas sudah.


Melalui proxy nya dia juga ikut terlibat divestasi saham tambang emas di NTB. Sebelumnya bersama mitranya dia sudah punya tambang emas di Sumatera.  Melalui penguasaan saham di tambang emas ini dia lakukan SWAP aset dengan PIC di Hong kong , yang juga pemegang saham mayoritas Bank swasta terbesar di Indonesia. Namun upaya ini gagal. Padahal eksekutif dari PIC punya posisi menteri investasi. Dia tenang saja. Dulu waktu lelang BPPN, sumber dana PIC berasal dari mitra globalnya.. Karena kontrak opsi buy back yang dimiliki mitra globalnya  sudah dia kuasai. Praktis pemegang saham bank itu hanya proxy.


Selama lima tahun periode pertama presiden masalahnya tidak juga selesai. Tahun 2019, praktis hanya dia yang punya sumber daya keuangan. Walau berat, dia siap mendukung seperti tahun 2013. Berharap kasusnya bisa selesai dan dia bisa focus membangun indonesia. Tahun 2019 Pemilu kembali memenangkan petanaha.  Dia berhasil menempatkan beberapa temannya di posisi menteri. Namun tetap saja tidak mudah. Proses politik terlalu rumit untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan uang. Apalagi para proxy juga tidak semua loyal. Mereka tidak ingin kasus dia selesai dan mereka jadi nothing. Para politisi juga ingin terus dapat saweran uang dari para proxy.


Tahun 2020 dan 2021 ditengah pandemi, likuiditas mengering. Kalau tidak selesai juga kasus ini tentu dia bisa bersikap pragmatis. Cari teman baru. Ini masalah bisnis. Kan engga bisa thank you terus..


***

Kekuasaan lahir dari partai. Namun dipasarkan lewat media dan dibiayai oleh pengusaha. Dalam sistem demokrasi itu alurnya. Mau idiologi atau agama, sama saja. Partai mendelivery calon pemimpin kepada rakyat dan rakyat yang menentukan. Terima atau tidak. Prosesnya melibat sumber daya partai. Sumber daya itu perlu modal untuk menggerakan mesin partai. Dari sejak kampanye ,  gandeng ormas sampai kepada pengawalan suara di TPS sampai ke pusat. Kurang modal kampanye? suara disikat lawan. Kurang modal pengawasan proses pemilu? suara dilipat lawan. Ya kompetisi namanya.


Bagi partai masalah pileg engga perlu modal besar. Bahkan itu bisa jadi tambang uang bagi partai. Yaitu dari caleg yang akan ikut Pileg.  Biaya kampanye dan pengawalan suara ditanggung oleh Caleg. Tetapi kalau Pilpres, nah ini biaya ditanggung oleh partai. Engga mungkin dibebankan kepada caleg. Karena mereka juga sudah habis habisan untuk biaya kampanyenya sendiri. Dari mana partai dapat uang? Ya dari pemodal. 


Di Indonesia ini jalur pemodal ada tiga grup. Satu groua A. Ini group pengusaha tambang. Itu jalurnya lewat SBY. Maklum ketika tambang booming itu diera dia. 90% konsesi tambang yang ada sekarang dikeluarkan era dia. Tetapi jalur group A ini tidak bisa langsung ke SBY.  Ada pihak penghubung yang sangat dipercaya. Yang juga pengusaha. Kalau dia ok maka dia akan koordinasikan kesemua teman temanya untuk bergerak sesuai arahan SBY. Saat sekarang Grup A sedang naik daun sejak harga tambang naik terus.


Group B, itu jalurnya Jokowi. Mereka yang usahanya berkembang pesat selama kekuasaannya lewat industri kreatif dan consumer goods. Untuk dapatkan jalur ke grup B ini tidak bisa langsung kepada Jokowi. Ada koordinator yang dipercaya Jokowi. Kalau Jokowi ok, koordinator inilah yang bertugas menggalang dana. 


Group C, itu jalurnya Prabowo. Mereka adalah keluarga Cendana. Namun sekarang kekuatan modal grup C tidak lagi significant untuk jadi sponsor. Sebagian saham mereka sudah dikuasai oleh Group B.


Tahun 2019 team Jokowi berhasil mempenguasai penghubung SBY dengan memberikan fasilitas kredit perbankan. Tentu dengan jaminan dari team Jokowi. Sehingga dia bisa mengunci sumber dana SBY. SBY jadi koalisi pasif dengan PS. Kalau tidak dikunci kemungkinan muncul capres Gatot dan Salim Segap (PKS). Prabowo pasti ditinggalkan koalisinya. Itu berkat LBP, yang bisa meyakinkan group Erwin S dan Roslan mendukung PS. Tetapi setelah koalisi terbentuk, duit yang dijanjikan Sandi malah engga ada. Cendana juga engga mau keluar uang semua. PKS keselek bakiak. Jokowi menang.

***

Tahun 2024 ini Group A berkibar karena harga tambang ( batubara dan nikel ) terus naik.  Pasar mereka luar negeri. Sementara grup B, yaitu consumer goods  dan industri kreatif tergantung pasar domestik yang menyusut akibat pandemi. Pada waktu bersamaan likuiditas mengering akibat dana tersedot ke SBN untuk membiayai COVID. Belum lagi masalah BLBI belum juga tuntas. Kalau tidak langkah cepat mengatasi keadaan maka bukan tidak mungkin grup B akan bergabung ke grup A. 2024 adalah SBY sebagai king maker. PDIP terancam. 


Bagi anda yang idealis, mungkin sulit menerima cerita diatas. Kalau anda  berpikir idealis dan utopia maka itu sama saja jomblo yang melihat rumah tangga dalam imajinasinya sendiri. Apapun, itu hanya imajinasi saja. Tidak akan bersua dalam realita. Hidup adalah ketergantungan dan saling berbenturan terus menerus. Mengapa? hakikat hidup adalah bergerak dan setiap gerakan pasti ada gesekan. Dari gesekan itulah terjadi proses pembelajaran dan pendewasaan.


Saturday, March 26, 2022

Tidak bisa pergi begitu saja




Tahun 2010. Jam 11 malam. Baterai hape habis. Aku tidak bisa komunikasi kemanapun. Taksi di depan lobi tidak tersedia. Aku terpaksa jalan kaki dari Grand Hyatt ke arah jalan raya. Karena hujan tak kunjung reda. Aku menerobos hujan rintik rintik itu. Berharap dapat taksi di pinggir jalan Sudirman. Di Halte Plaza Indonesia menanti lebih 30 menit tidak juga dapat taksi. Jam 12 malam aku  putuskan beranjak dari Halte itu. Tujuanku Kampung Bali Tanah Abang. Itu rumah mertuaku. Berharap aku bisa diantar ponakan pulang ke Tagerang. 


Dalam perjalanan. Depan Sarinah, aku dikejutkan oleh kendaraan yang tepat berhenti di sampingku. Ada wanita terlempar dari dalam kendaraan. Wanita itu jatuh di trotoar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kendaraan itu berlalu cepat. Aku terkejut. Dalam kebingungan itu. Dari jauh nampak taksi. Oh Tuhan, dapat juga taksi. Aku segera beri tanda berhenti. Taksi itu berhenti depanku. Ada niat untuk segera pergi. Tetapi kakiku tidak bisa bergerak. Aku harus berbuat sesuatu kepada wanita ini. Tidak bisa pergi begitu saja. Aku gendong wanita itu ke dalam taksi “ Ke Rumah Sakit. Pelni” Kataku.  Taksi melaju. Wanita itu tetap tidak bergerak. Moga engga meninggal.


Sampai di Rumah sakit aku gendong wanita itu ke ruang darurat. Petugas minta aku menjamin pengobatan wanita itu. Aku menyerahkan CC ku. Wanita itu sudah dalam perawatan dokter. Aku tenang saja menanti di ruang tunggu UGD. Tak berapa lama Satpam datang  menemuiku. “ Pak ada KTP? 

“ Ya ada. “Kata saya menyerahkan KTP.

“ Kenapa wanita itu? 

“ Tidak tahu. Saya temukan di Depan Sarinah, tepatnya Halte UN”

“ Baik pak. Jangan kemana mana.”  Kata Satpam itu dengan wajah curiga. Aku diam saja. Aku berdoa agar wanita itu baik baik saja. 


Tak berapa lama Polisi datang bersama Satpam. “ Pak ini orangnya.” Kata Satpam menunjuk kearahku. 

“ Maaf pak. KTP saya tahan dulu ya. Mari kita ke UGD liat kondisi wanita itu.” Kata Polisi. Aku tenang saja. Kami dapat penjelasan wanita itu shock karena ada benda tumpul dipaksa masuk kedalam vaginanya. Jadi dia akan baik baik saja. Kami tunggu dia siap ditanyain. Aku diam saja. Polisi itu tidak pernah jauh dariku. Aku belikan Teh botol untuk polisi itu. Mereka menerima.

“ Bapak kerja dimana? tanya polisi.

“ Saya kerja di Hong Kong pak.”

“ Jadi TKI?

“ Ya pak.” Kataku tersenyum. Tak berapa lama dapat panggilan dari Satpam, bahwa wanita itu sudah bisa bicara. Polisi segera datang. Saya dampingi. 


“ Siapa yang membuat kamu begini”? Tanya polisi.

“ Pacar saya.” kata Wanita itu dengen suara gemetar.

“ Dimana dia? 

“ Dia pergi setelah dia antar saya ke kamar hotel pria yang mau beli perawan saya.” Kata Wanita itu.

“ Dimana alamatnya? 

Wanita itu memberi alamat. Polisi menggunakan HT untuk minta temannya yang patroli untuk memburu pacar wanita itu.

“ Ya udah. Kamu buat laporan ya. Biar kami tangkap pria yang beli perawan kamu termasuk pacar kamu.” Kata Poliis. Setelah itu Polisi pergi. Wanita itu harus dirawat inap di rumah sakit atas tanggungan biayaku. 


Besok siang aku datangi Rumah Sakit karena mau ambil Credit Cardku. Ternyata wanita itu sudah diizinkan keluar. Aku bayar bill sebesar Rp 3.500.000. Wanita itu menemuiku di kuridor Rumah sakit.  Entah mengapa. Aku terharu. Membayangkan putriku sendiri. Keliatan dari matanya, dia cerdas. Bukan wanita penggoda. “ Ini uang untuk kamu.” Kataku menyerahkan USD 5000 yang ada di tas selempangku. “ hati hati ya. Jaga diri kamu baik baik.” Kataku. Wanita itu terkejut. Dia menangis. Matanya menatapku lama dengan isakan. Tanpa bicara apapun. Aku berlalu dari hadapan wanita itu setelah menyerahkan kartu namaku.


***


Tahun 2014 aku jalan kaki dari Time Square Hong kong ke arah restoran Sedap Gurih, yang ada di causeway bay,  Yee Wo Street. Saat itu waktu makan siang, hari minggu. Tentu ramai sekali para TKW. Aku datang sendirian. Ada table tersisa tetapi di table itu sudah ada wanita duduk. Wajahnya seperti orang China, kulitnya putih..  Pelayan minta  aku duduk di table itu. Aku duduk tanpa perhatikan wanita itu. Tetapi asik dengan hape sambil menanti menu datang.


“ Maaf, “ Wanita yang duduk depanku menegur. “ Apakah bapak bernama Erizeli.” Kata wanita itu seraya mengeluarkan kartu namaku. Aku melirik kartu nama itu.” Ya benar. Kamu siapa ?

Dia tersenyum. Wajahnya cerah. “ Akhirnya doa saya dikabulkan Tuhan.  Bisa ketemu dengan dewa penolongku.” 

“ Kamu siapa ? kejarku.

“  Ingat engga. Tahun 2010 bapak bantu saya di Rumah sakit Pelni. Ingat ya..” katanya 

“ Oh ya..ya saya ingat.  Ada apa kamu di Hong Kong?

“ Saya kerja di CX sebagai pramugari.  Sejak  dua tahun lalu.” 

“ Oh ya. Hebat. “ Kataku mengangguk mengangguk.


Usai makan siang. Aku ajak dia minum kopi di Regal Hotel. Dia bercerita bahwa dulu dia berani menjual perawannya karena pacarnya perlu uang untuk selesaikan skripsi

“ Saya bertekad berkoban dan dia juga ikhlas. Karena hanya itu harapan kami untuk masa depan kami. Tetapi setelah kejadian itu, dia campakan saya.”

“ Kenapa ? Aku terkejut.

“ Dia marah.  Karena polisi periksa dia. Padahal dia bebas karena saya tidak melaporkannya.” Katanya. Dia berlinang air mata.Aku beri tissue untuk dia usap airmatanya. 


Aku diamkan dia dengan suasana hatinya.


“ Tamat kuliah aku melamar kerja di CX, dan diterima. Semua itu berkat uang yang bapak beri. Saya bisa move foreward. Terimakasih pak.” Katanya. 


Aku tersenyum dan mengangguk. 


" Bapak tahu. " Lanjutnya " sejak kejadian itu saya terus berdoa agar bisa bertemu bapak. Saya melamar kerja di CX, juga dengan alasan sama. Ingin bertemu dengan bapak. Setiap ada kesempatan saya sempatkan mampir ke restoran Indonesia. Berharap bisa ketemu bapak. Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih. Dulu saya lupa mengucapkan terimakasih. "

" Kamu kan bisa telp saya." Kataku.

" Saya sering telp tetapi yang terima wanita. Saya langsung matikan. Kawatir itu yang terima istri bapak."Katanya.  Ya itu bukan telp pribadiku tetapi telp perusahaan." Lagian kenapa segitunya. Biasa saja."

" Pak, perawan saya jual seharga Rp. 25 juta ke orang lain dan karna itu saya masuk RS.  Tetapi bapak memberi saya uang USD 5000, just given, dan malah menyelamatkan saya dari penderitaan dan perih tak tertanggungkan. Uang dari bapak memberi saya kesempatan untuk bangkit lagi..." Katanya berlinang airmata.


Tak berapa lama sekretarisku, Lena datang untuk temanin aku meeting ke Conrad. “ Baik baik selalu ya. “ Kataku segera melangkah pergi. Dia ikuti aku sampai lobi. Setelah kendaraanku standar Limo datang di depan lobi , dia tanpa sungkan langsung memelukku. Lena tersenyum lihat aksi tersebut. “ Ternyata penolongku, bukan hanya hebat hatinya, tetapi memang orang hebat.” Katanya tersenyum dan berlinang airmata. Dia melambaikan tangan ketika aku masuk kendaraan.


Sumber : Mydiary.

Saturday, March 19, 2022

Tuhan selalu memanggil..

 





Tahun 1983, malam. Kawasan terminal Grogol. Hujan turun rintik rintik. Aku berusaha merapat ke halte yang kumuh sekedar menghindari gerimis. Di halte itu sudah ada wanita. Dia keliatan  bingung dengan tas di pangkunya. Dua orang pria datang mendekatiku. Tahu tahu salah satu mereka mengarahkan pisau ke keningku. 


“ Serahkan uang. Cepatlah, sebelum tangan ini lepas dari kendaliku! Teriak lelaki itu dalam getaran yang hebat. Aku tak tahu apakah ia marah atau gentar. Suara keras, namun runtuh sebagai kemurungan. Di dompetku ada uang Rp. 200.000 yang baru kudapat sejam lalu dari hasil penjualan tekstil  ke relasiku di Kawasan Taman Kota. Ini uang amanah yang harus ke setor kepada toke di Jalan Pintu Kecil kota keesokannya.


Bukan kematian yang kutakutkan, namun amanah yang harus kuemban, membuatku mengabaikan resiko untuk mencumbui ketajaman pisau dan liar kegelisahan di sepasang mata yang ganas karena lapar. “ Mau mati kamu? tariak pria itu mengarahkan pisau ke dahiku. Aku menarik kepalaku ke belakang. Salah satu pria temannya mendorong wanita disampingku  sampai ke dinding halte. Aku diam saja. Tetap tenang. Aku yakin kedua preman ini lapar. Mereka tidak siap jadi pembunuh. Tubuh mereka kerempeng. 


Namun ketika mulutnya sangat dekat dengan wajahku. Aku terkejut. Dari bau mulut terasa aroma minuman. Aku membayangkan, mereka bisa tanpa sadar menusukan pisaunya. Aku harus bertindak cepat. Aku tidak merantau untuk mati konyol. Dalam jarak dekat itu. Dengan cepat aku memiringkan tubuh seraya menarik sikunya lewat bahuku. Dengan cepat pria itu terbanting ke depan. Dia tersungkur. Temannya terkejut melihat kejadian yang begitu cepat. Tanpa menunda. Aku tendang dengan Dolke chagi tepat di dagunya. Dia terhuyung. 


Aku tatap mereka berdua dengan wajah dingin. Yang satu terduduk merintih memegang pinggangnya. Kepalanya berdarah. Satu lagi tersender di halte. Mereka berdua dikecam takut dan kawatir aku akan serang lagi. Salah satu pria itu menangis. “ Ampunin saya pak. Saya hanya perlu makan. Ampun pak.” Katanya merayap ke arah kakiku. Aku tahu memang sedang ada operasi tertip memburu preman oleh Team anti Bandit ( TEKAB). Mereka pikir anggo anggota TEKAB. Aku tetap waspada.


“ Kalian pergi dari lokasi ini. Cepat ? kataku. Tanpa banyak bicara mereka segera berdiri “ Ini uang untuk kalian makan” Kataku menyerahkan uang 5 lembar uang Rp. 10.000. Mereka terkejut dan dengan berat menerima uang dariku. “ maafkan saya pak.”


“ ya cepatlah pergi.” Kataku. Mereka setengah  berlari menjauh ke arah roxy.


Wanita di sampingku wajahnya pucat dan menggigil. kecam rasa takut “ Engga apa apa. Mereka sudah pergi. Kamu mau kemana? Tinggal dimana? Kataku. Wanita muda itu terdiam. Seakan belum usai shock nya. Aku diam saja. Tak berapa lama, wanita itu mendekat.” Saya dari indramayu. Baru datang dari kampung. “ Katanya.


“ Mau kemana tujuannya?


“ Ke rumah kakak saya di Bongkaran. Kawasan petamburan”


“ Ya udah. Kita satu arah. Mari naik bajay aja.” Kata saya seraya stop bajay. Waktu itu jam 11 malam.  Dia perkenalkan namanya Wati. Aku juga kenalkan namaku


“ Aku sudah berusaha melamar untuk bekerja ke sana-ke mari, namun begitu sulitnya dengan ijazah SMA yang kumiliki.” Katanya. Oh dia senasip denganku. Tamatan SMA. “  Di kampung aku kerja apa saja. Karena banyak sekali tikus liar. Pemda memberikan sejumlah uang untuk setiap tikus yang terbunuh. Aku bisa mengumpulkan uang. Tapi uang itu untuk pengobatan ibuku. Akhirnya ibuku meninggal, Aku yatim piatu. Bulan lalu, kakak sepupuku tawarkan aku merantau ke jakarta. Sekarang aku datang.”


“ Jakarta tidak ramah untuk orang kampung seperti kita. Kalau kamu tidak tegar, nasip kamu bisa berujung di barak pelacuran. Kalau pria, bisa berujung penjara atau mati kena dor Tekab. Saran saya, tegar lah selalu. Jangan sampai kamu jadi pelacur. “ Kataku. 


Dia menunduk. “ Ya mas. ibuku berpesan sebelum meninggal. Apa pun yang terjadi, berjanjilah pada Ibu untuk tidak terseret ke lembah hitam. Lebih baik miskin terhormat daripada kaya raya tetapi harus menjual diri.” Katanya. 


Wanita itu berhenti di kawasan bongkaran. Aku terus ke Tanah abang. 


***


Tahun 1987, aku dapat order piring untuk ekspor. Aku datangi pabrik di kawasan Tangerang. Setelah deal untuk ekspor 1 kontainer. Aku selalu ada di pabrik itu mengawasi proses produksi agar bisa on time  delivery. Satu malam, aku pergi ke warung yang tak jauh dari pabik. Musik dangdut memekak. Diiringi tawa wanita  dan pria yang menari mengikuti irama dangdut. Aku terus aja makan.  Entah mengapa usai makan dan membayar, aku  meliat wanita berdiri dekat pintu keluar. “ Mas, jeli, masih ingat Wati, mas” tegurnya. Senyumnya langsung mengingatkan aku kepada 4 tahun lalu di Grogol.


“ Kamu, Wati? 


“ Ya mas. “ Katanya setengah berbisik. 


“ Ngapin disini?


“ Aku jadi lonte. Aku terpaksa harus mengingkari janjiku kepada ibuku.” Katanya dengan mimik putus asa.


“ Kamu tinggal dimana? 


“ Sewa rumah bareng teman teman. Di  belakang warung ini.” Katanya.


“ Kenapa Wati? “ Kataku tanpa berani meneruskan pertanyaanku.


“ Aku sempat kerja di pasar grosir tanah abang. Kakak sepupuku perawanin aku dan karena itu istrinya mengusirku dari rumahnya. Pacarku pedagang dari daerah. Setelah dia tiduri aku,  dia campakan aku. Tak mau nikahiku karena tahu aku sudah tidak perawan.. Dia tidak pernah datang lagi. Akhirnya aku menjual diri. Ada germo yang carikan pelanggan. Tetapi setelah aku kena penyakit. Germo buang aku. Setelah sembuh aku pindah kemari. “ Katanya berlinang air mata. Aku geleng geleng kapala. Tetapi apa yang bisa aku lakukan. Jakarta memang kejam.


Besoknya aku bicara kepada boss pabrik. “ Boss, ada lowongan untuk perempuan? 


“Kebetulan ada. ini hari baru buka lowongan. Kerja bagian finishing” 


“ Apa bisa teman saya kerja di sini.”


“ Ya datanglah. Itu lowongan udah diumumkan di depan pintu pabrik” 


Malamnya aku datang ke warung itu. Wati menemaniku. “ Besok kamu kerja di pabrik piring itu. Mau ? 

“ Mau mas. “ 

“ Ya udah. Jangan lupa besok datang ya. “ Kataku. Aku beri dia uang Rp. 300.000. “ Ini uang untuk kamu sewa rumah dan makan selama sebulan. Kamu harus pindah dan jaga kesehatan. Paham” 

“ Ya mas. Terimakasih mas.” Kata Wati berlinang air mata.


***


Tahun 2004 aku sedang berjalan di kawasan Kowloon menuju Asia World hotel untuk bertemu dengan pelangganku dari Timur Tengah yang mau beli garment. Aku mampir makan siang di harbour. Terasa bahuku ada yang tepuk. “ Mas Jeli “ Suara wanita menegurku. Aku perhatikan wanita itu dan tetap tidak mengenal siapa yang tegurku. Cantik dan pakaianya modis.


“ Mas, aku Wati. Adikmu. Lupa ya.”


“ Wati..? Aku berpikir keras. 


“ Yang kerja di pabrik ceramik? Katanya mengingatkan.


“ Ah ya..ya. Wati. Eh kamu kok beda sekali. Makanya saya lupa”


“ Ya mas, Lama kita engga ketemu. Mungkin ada 17 tahun. Terakhir ketemu tahun 1987. Mas, tahu engga. Sejak kerja di pabrik dan sampai sekarang. Wati tidak pernah lupa doakan Mas. Malaikat wati. Yang begitu baik, lebih dari kakak sendiri. Mas terlalu baik."


“ Ya ya.. “ Kataku tercerahkan. “ Gimana kabar kamu?


“ Aku sekarang jadi EO. Tadinya setelah kerja di pabrik. Wati dapat tawaran jadi sales stand pameran property. Karena itu Wati kenalan sama bule. Jadi pacar wati. Dia ajarkan wati jadi EO. Sekarang udah 10 tahun bisnis EO. Ya adakan pameran property, wisata, macem macemlah. “Katanya tangkas. Engga nampak lagi kesan dia inperior  seperti 17 tahun lalu.


“ Ada apa ke Hong Kong.? tanyaku masih terpesona dengan penampilannya.


“ Lagi survey untuk datangkan penyanyi dari Indonesia. Mentas di Hong Kong. Kan TKI banyak di Hong kong. “


“ Hebat kamu. Bangga saya.”  Kataku. Dia peluk aku.” Mas terimakasih. Setidaknya aku merasa senang. Karena jadi adik kebanggaan mas.”


“ Udah punya anak berapa ?


“ Belum punya. Suami engga ada. Siapa yang mau tanam cabang bayi.” katanya tersenyum


“ Loh ajak pacar bule kamu menikah.” kataku.


“ Ya rencannya tahun ini menikah dan kemungkinan Wati pindah ke Amerika. “ 


“ Baguslah. Mas doakan selalu yang terbaik untuk kamu.” Kataku berlalu. Tahun 2008 aku dapat email dari Wati, Bahwa dia sudah di California, AS. 

Wati dan aku, adalah orang kampung. Kami tidak punya kemewahan untuk menentukan apa yang terbaik untuk kami. Mungkin kami bukan orang baik. Tetapi yang pasti kami selalu berniat baik. Hanya kadang hidup yang tidak ramah. membuat kami berbelok arah. Tapi Tuhan selalu mengimbau kami kembali. Dan selalu ada cara Tuhan menuntun kami agar kami baik baik saja. 


MYdiary


Saturday, March 12, 2022

Kenangan indah di Jogya





Di lobi hotel Natour Yogya aku melihat serombongan wisatawan Jepang duduk. Mereka menanti petugas travel sedang memproses check in. Senja sudah menjemput Yogya. Tentu saat yang tepat cari makanan lesehan dan menikmati suasana malam. Saat itu usiaku 21 tahun. Aku datang ke Jogya karena teman akan memperkenalkan boss yang mau mendirikan pabrik ban sepeda. Sebagai sales rubber syntetic ini peluang bagus. Ini kali pertama aku ke Jogya.


Aku duduk di lounge sendirian. Pikiranku kepada kejadian seminggu lalu. Florence dengan tegas menolak cintaku. Dia bahkan mentertawakan aku. Walau kami sudah bersahabat lebih dari 1 tahun, ternyata dia hanya ingin jadi sahabatku saja. Setelah itu Risa masuk dalam hidupku. Kami juga bersahabat. Tetapi diapun pergi setelah aku utarakan cintaku. Sudah nasipku. Tidak pernah ada wanita yang jatuh cinta kepadaku. Sebagai pria memang aku ditakdirkan tidak untuk dicintai. Apakah karena wanita itu terlalu cantik untuk ukuran pria sepertiku yang hitam dan kerempeng. 


“ Kamu sebaiknya menikah dengan ponakan papa. Udah, ficus aja ke-kerjaan kamu. Jangan berpikir macam macam.“ Kata ayahku. Aku hanya diam saja. Aku tidak bisa menolak. Karena memang tidak ada alasan kuat untuk menolak. Toh kenyataannya tidak ada wanita lain pilihanku yang mau menikah denganku. Lamunanku buyar ada teguran “ Anda petugas kantor pusat dari Jakarta ya” Nampak Wanita jawa. Rambutnya dikepang dua. Hidungnya mancung. Mata bulat. 


“ Bukan. Saya tamu hotel ini” 


“ Oh..” Matanya bulatnya berputar ke sekeliling lobi itu. Dia duduk di sebelah saya. “ sebaiknya saya tunggu saja.” Katanya tanpa menoleh kesaya. Memang kursi lobi siapa saja bisa duduk. 


“ Saya guide. Kemarin saya dapat kabar dari kantor travel mereka butuh saya untuk antar tamu dari Jepang.”


“ Mbak kerja di travel ? Tanya saya. 


“ ya tapi freelance”


Lewat satu jam. Wanita itu berdiri dan melangkah ke luar. Aku juga berdiri. Kami berdiri sejajar depan pintu hotel. Aku berencana mencari makan di luar. Jogya kan terkenal dengan lesehan dan jalan Malioboro. “ Anda kali pertama ya ke Jogya “ Tegur wanita itu.

“ Ya. Apa mbak bisa temanin saya makan malam.” Kata saya memberanikan diri. Kalau ditolak ya udah. 

“ Kenapa ?

“ Saya tidak bisa makan sendirian. Mau ya mbak.”

Dia berpikir sebentar. Mata bulatnya menyiratkan dia senang. “ Ok. saya guide kamu ya. “ Katanya. Tersenyum. Duh lesung pipinya indah sekali.


Kami menyusuri Malioboro. Usai makan lesehan. Dia ajak aku berkeliling Yogyakarta di atas becak. Menyelusup di tengah sebuah bazar murah yang memajang buku-buku bajakan. Dia terkejut karena aku membeli buku banyak.


“ Kamu ternyata penggemar buku. Tapi aneh, beragam buku yang kamu pilih”


“ Saya suka baca apa saja. Hanya itu sahabat saya dikala sendirian.”


“ Apa kamu tidak ada pacar.” Tanyanya.


“ Tidak ada. Dan mungkin tidak ada yang mau. “ Kataku. Dia tertawa. “ Kok lanang bilang begitu. Mana ada pria yang tidak menarik. Pasti ada saja wanita yang suka.” Katanya. Jam 8 dia antar aku kembali ke Hotel. “ Loh uang apa ini? Katanya terkejut ketika aku serahkan selembar uang Rp. 10.000.


“ Kan mbak udah jagi guide saya. Setidaknya saya tidak merasa berhutang kepada wanita sencantik Mbak yang sudah mau temanin saya makan.” 


“ Saya terima uang ini ya? Katanya setengah tidak percaya.


“ Ya. Terimalah.” kata saya tersenyum. 


“ Sampai kapan di Jogya? Tanyanya


“Minggu depan.” 


“ Mau besok saya temanin lagi.”


“ Kalau mbak tidak keberatan” Kataku. Dia keliatan senang. “ Besok jam 7 malam. Temanin saya makan lagi ya” lanjutku


***

Keesokannya dia datang lagi dan begitu juga hari hari berikutnya. Kami jadi akrab. Ternyata wawasannya luas sekali. Dia sarjana IKIP dan penggemar baca. Jadi diskusi kami hidup. 


“Pembangunan Jepang sukses lantaran menjaga jarak dari kapitalisme internasional yang penuh jebakan. Mereka membangun kapitalisme disosiatif. Mereka meminjam cara kerja kapitalisme sambil membentengi diri dengan kebijakan ekonomi yang berorientasi pada pasar domestik. Sementara itu, Brasil keliru dengan membangun kapitalisme asosiatif. Tunduk, bertekuk lutut berhadapan dengan kapitalisme internasional. Jadilah mereka zona kehancuran. Monumen kegagalan pembangunan,” Katanya.


“Kapitalisme itu terjadi tidak ada pemaksaan. Itu proses slow motion. Diterima karena proses yang damai. Orang ingin makmur dan memiliki kebebasan berkompetisi mengelola sumber daya. Jadi tidak seharusnya dikutuki. “ Kataku ketika dia membahas buku tentang kapitalisme. 


“ Tapi kapitalisme itu hanya akan menjadikan orang monster terhadap orang lain.” Katanya.


“ Pernah baca buku Milton Friedman, Free to Choice? 


“ Woh hebat kamu. Bacaannya berat. ” Katanya terpesona. Coba jelaskan apa yang kamu pahami. Saya tahu buku itu tapi tidak pernah baca buku itu” 


“ Albert Hirschman mengeritik Milton Friedman dalam esainya, against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. 


Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu. Apa yang diungkapkan oleh Hirschman sejalan dengan pemikiran dari bapak kapitalisme, Adam Smith, dalam bukunya yang pertama, the theory of Moral Sentiment, ia tidak menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith,  juga berbicara tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan.” Kataku.


Eh entah mengapa dia segera cium aku. Terjadi begitu saja. Mengapa wanita yang aku kenal. Selalu lebih dulu cium aku, dan mereka tertarik hanya karena pemahamanku tentang buku yang aku baca.  Di depan orang utan Gembira Loka yang termangu-mangu, ia bercerita dengan penuh luapan kekaguman tentang Doktor Soedjatmoko. Ia menyebut Sang Doktor sebagai seorang humanis dengan pikiran yang meloncat- loncat ke depan. Kutipannya tentang Soedjatmoko kemudian berhamburan seperti rangkaian gerbong kereta, menderu-deru, tak habis-habis.


Di jogya kebersamaan kami, hari-hari selalu diskusi. itu pun ditaburi banyak kutipan para pemikir besar itu berjejal-jejal di kepalaku dan anehnya menghasilkan rasa bahagia yang menghanyutkan. Wanita itu memang berhasil membuat aku merasa tersanjung. Gimana tidak. Seorang pria kampung bisa berdiskusi dengan wanita sarjana yang cantik. Walau usianya lebih tua dariku. Namun dia tidak memperlakukanku sebagai adik. Teman dewasa untuk berdiskusi secara terpelajar.


Di hari perpisahan kami, dia memelukku erat. Tatapan matanya menggetarkan ulu hatiku. Matanya nanar dan nyaris berair. Mendung terasa menggantung di atas stasiun Tugu petang itu.”Aku telah jatuh cinta,” bisikku lirih. Nyaris tak terdengar.


“ Kamu terlalu muda untuk jatuh cinta. Masa depan kamu masih panjang. Kamu pria hebat yang pernah aku kenal. Kamu perlakukan aku dengan sempurna sebagai wanita. “katanya. 


Aku teringat tadi malam. Walau  aku sudah bujuk dia pulang selepas antar aku makan malam,  tapi dia memilih masuk ke dalam selimutku.  Usia muda kami saling berlari menuju atas bukit. Semua nampak indah terpancar dari mata wanita itu yang seakan terlena Love concerto. “ Aku mencintai kamu” Kataku berbisik. Dia terdiam sejenak. Menggeleng dan tersenyum. " Madam Mao, tidak mencintai Mao, tetapi ia mencintai China saja, ya kan. " Katanya, yang seakan dia ciptakan tembok China antara aku dan dia. Aku memilih mendekap saja. Sampai pagi tidak terjadi apa apa. Aroma tubuhnya harum masih lekat dalam pikiranku,  sampai kini. 


Tapi, sejarah kami dimulai dan berakhir pada titik yang sama. Hari-hariku selepas Jogya kembali sibuk mengejar impian usia mudaku. Karena prospek bisnisku gagal di Yogya. Aku tidak ada alasan untuk bertemu lagi dengan dia. Dan dia tidak pernah kirim surat. Wanita itu lenyap dengan sempurna. Bulan-bulan dan tahun-tahunku yang panjang tak disinggahi sepotong pun kabar darinya.


Yang kutahu bertahun-tahun kemudian adalah namanya kerap benar mengisi berita utama surat kabar. Wajahnya nyaris setiap hari muncul dalam acara-acara pamer cakap televisi. Kejatuhan Soeharto telah menaikkan namanya sebagai profesor dan pengamat politik. Aku sendiri harus menutup rapat-rapat buku sejarahku dengannya. Semuanya sudah kuanggap tamat dan usai begitu saja.


***

Tahun 2014, “ Jely, how are you. Do you still remember me, Dyah, Jogya. In 1984. Hotel Natour. Your article about Prabowo is amazing, I read everything you wrote on the blog. It seems to bring me back to my youth. To have met a great man, who made me feel so perfect as a woman.  I wish you good health and success. “ Pesan masuk ke meseenger Facebook. Aku reply, tetapi tidak pernah dia balas.

Selalu ada harapan..

  “ Ale ! terdengar suara Patria di seberang lewat telp selularku. “ Ketemuan dong. Tempat biasa di bunker ya. " sambungnya. Aku tahu i...