Friday, April 16, 2021

Jalan terjal menuju taubah.

 



Pria itu datang ke KTV tidak seperti tamu lainnya. Dia tidak mau menyentuhku  walau aku sudah di booking dan bisa diperlakukan sesukannya. Usai waktu KTV, dia memberiku tip lebih besar dari tamu lainnya. Apakah dia menyukaiku dan ingin berhubungan lebih dari sekedar hubungan client dan pramuria KTV. Entahlah. Pernah satu saat, aku tidak masuk kerja.  Menurut mami son, dia tidak memilih wanita lain. Apakah dia sedang menggodaku? Apakah dia terpesona denganku. ? 


Ah tidak mungkin. Aku bukan pilihan tepat. Banyak yang lebih cantik dariku. Kalau dia mau istri simpanan, tentulah dia pilih yang lebih cantik. Soal service? Aku tidak pernah ada kesempatan service dia. Sudahlah.  Biarkan dia dengan sikapnya. Mungkin dengan duduk di ruang KTV bersama temanya, dan memberi tip kepada pramuria adalah kesenangan tersendiri baginya. Apa peduliku.


Suatu saat dia datang ke rumah sakit. Ternyata dia tahu aku sakit dari Mamin Son. Dia pindahkan aku kamar VIP. Dia hanya diam menatapku. Tak ada kata penghibur.  Tapi dia tanggung semua biaya. Sekeluar dari rumah sakit. Aku merasa ada cahaya dalam relung sanubariku.  Aku harus berubah. Aku harus mencari pekerjaan lain yang lebih terhormat.  Tapi aku tidak ada uang untuk bayar hutangku kepada mamison. Ketika dia tahu rencanaku. Dia membayar hutangku.


 “ Beranilah untuk berubah. Dan tetap sabar walau cobaan berat.” Katanya singkat ketika memberi tahu bahwa hutangku sudah dibayarnya. Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Walau aku tahu Hapenya, aku tidak berani telp dia. Dia hanya pria yang misterius dan memberikan solusi too good to be true kepadaku. Aku tidak boleh baper. Walau mungkin aku sudah jatuh cinta dengannya.


***


Empat tahun setelah keluar dari dunia malam. Aku memang berubah dalam segala hal. Walau pekerjaanku sebagai administrasi gudang coldstorage  namun lebih dari cukup untuk hidupku sendiri. Aku sudah bisa sewa rumah sendiri. Aku juga menaggung seorang ponakanku yang yatim piatu. Aku tidak butuh apa apa lagi. Kecuali bersukur kepada Tuhan. 


“ Murni kamu ada dimana? SMS masuk. Tertera namanya Doni. Di hapeku aku sebut namanya “Mas-ku”.

“ Di rumah mas..” 

“ Boleh engga ke rumah akmu?

“ Boleh mas. Datang aja. “ Kataku seraya memberi alamat lengkap.


Belum jam 10 malam mas Doni sudah sampai. Dia tampak kumuh. Tidak seperti biasa.

“ AKu bangkrut, Mur. “ Katannya berwajah muram.

“ Sabar ya mas.”

“ istriku pergi ke Singapore ikut anaknya setelah rumahku disita bank.  “ katanya tertunduk lesu. “ Aku tidak punya apa apa lagi. Hanya baju yang melekat di badan” Lanjutnya. 

“ Kalau Mas engga keberatan. Mas bisa tinggal di rumahku sementara. “ Kataku mengusulkan begitu saja. Dia terkejut menatapku. Seperti tidak percaya yang baru didengarnya. 

“ Terimakasih Mur. Moga engga lama saya merepotkan kamu. Saya ad peluang bisnis yang sedang saya urus. Moga cepat berhasil dan aku bisa keluar dari rumah’

“ Amin. Semoga dimudahkan Tuhan rencana Mas.” 


Setelah itu Mas Doni tinggal di rumahku. Setiap hari dia keluar rumah. Kami hanya bertemu malam hari. Itupun dia tidak merepotkanku. Dia punya kunci sendiri. Tidur di dekat dapur. Pagi pagi aku membuat sarapan untuk dia sebelum pergi ke kantor. Selalu diatas meja makan aku letakan uang Rp. 100 ribu untuk ongkos dia. Aku pergi kerja dia belum bangun. 


Tiga bulan Mas Doni di rumahku. Dia pamit ke kalimantan membawa relasi bisnisnya dari luar negeri untuk meninjau tambang batu bara. Setelah itu Mas Doni mengabarkan bahwa dia sementara menetap di Kalimantan. Tak lupa berterimakasih. Setelah itu itu kami sudah jarang komunikasi. Aku berdoa semoga dia baik baik saja.


Setahun kemudian, mas Doni datang menemuiku lagi. Sekarang dia sudah berbeda dari sebelumnya. Penampilannya sama seperti awal aku bertemu dengannya. Dia sudah kaya lagi. Dia membelikan apartement untukku. Saat itu aku benar benar tersanjung. Namun saat itu juga Mas Doni bilang bahwa dia sudah kembali ke istrinya. Aku senang saja. 


Suatu hari di hari minggu, aku kedatangan wanita dan pria ke rumahku. Aku persilahkan mereka masuk
“ Kamu Murni ? Kata pria tamu.

“ Ya benar. Ada apa ? 

“ Kamu perusak rumah tangga orang ya. “ Suara pria muda itu menggelegar. Aku terkejut. Jantungku berdetak kencang. Aku yakin anak muda ini putra dari Mas Doni dan perempuan itu istrinya.

“ Maaf, apa maksud anda?

“ Papa saya selingkuh dengan kamu. Dan rumah mewah ini pasti pemberiannya! Kata anak muda itu dengan emosi.

“ Dasar lonte kamu! Teriak wanita itu. 

Aku terdiam. Entah mengapa aku menangis. “ Saya tidak pernah selingkuh dengan papa kamu. Tidak pernah. Dia datang ke rumah saya karena dia tidak ada tempat tinggal. Hanya itu. Rumah ini memang pemberian dia tanpa pernah saya minta. Kalau kalian mau ambil, ambillah. Saya keluar sekarang”  kataku.

“ Bohong kamu.! Teriak anak muda itu dengan garang.
“ Ya udah keluar kamu! Kata wanita itu.

Tanpa banyak bertanya lagi, aku langsung masuk kamar dan  keluar membawa tas dengan isi pakaian. Anak asuhku kubawa pergi. Sejak itu juga hape mas Doni aku block. Tempat tinggalku  yang baru aku rahasiakan kepada teman teman kantor.


Aku tidak menyalahkan keluarga Mas Doni. Anaknya tentu berhak atas ayahnya. Tentu mereka inginkan kedua orang tuanya rukun kembali. Istri Mas Doni tidak salah. Dia berhak lindungi suaminya.   Setidaknya dengan kebangkutan Mas Doni dan akhirnya bisa bangkit kembali, keluarganya bisa mendapatkan hikmah untuk saling memperbaiki diri dan merubah menjadi lebih baik. 


Aku juga tidak salah.  Kalau aku membantu mas Doni, itulah caraku berterimakasih kepada Mas Doni. Apakah aku pantas dapatkan keadilan atas kesalahan yang tak kuperbuat terhadap Mas Doni?  Itu tidak penting bagiku. 


Allah memang Maha Pengampun atas dosa dosa manusia. Namun ampunan itu tidak didapat dengan hanya lewat kata dan penyesalan. Tetapi harus dibuktikan dengan sikap konsiten di jalan yang benar.  Sama halnya dengan keimanan. Tidak ada keimanan tampa cobaan. Pada akhirnya rasa sukur dan sabar itulah menjadi pendamai jiwa, walau sakit tak tertanggungkan namun aku tetap harus berprasangka baik kepada Tuhan.


Menjelang usia 40 tahun aku bertemu dengan pria yang berkarir di Bank. Dia bisa menerima masalaluku. Mendukung karirku. Kini, Karirku diperusahaan cold storage semakin bagus. Aku sudah jadi pimpinan unit business. Aku mengendalikan empat processing fish di Indonesia, Thailand, China, Korea. Pimpinanku yang juga wanita Jomblo adalah inspirasiku untuk memahami itu semua.  Kadang satu pintu tertutup, Tuhan bukakan pintu lain. Selalu indah akhirnya.

Wednesday, April 14, 2021

Cara dia menemukan Tuhan.

 



Kalau itu tahun 2000. Usia 36 tahun. Setelah duduk di bangku business class pesawat menuju Hong kong. Pramugari memberiku welcome drink. Dari arah pintu masuk. Aku terkejut. Menatap wanita yang baru masuk melewati kuridor. Dia sempat melirik kearahku. Tak ada senyum ketika melewati kursiku. 


Aku melirik ke belakang. Wanita itu duduk di economy class. Tepat di perbatasan ekonomi class dan business class. Apakah aku baru melihat masa laluku? Benarkah itu Risa? Mengapa dia tidak mengenalku lagi.? Dalam kebingungan itu memaksaku untuk kembali menoleh ke belakang. Dia sempat tersenyum tipis ketika aku tatap.


***

Tahun 1983 aku bekerja sebagai sales. Sering mampir ke pasar glodok. Kebetulan ada rekananku yang berdagang di glodok. Saat itulah aku mengenal Risa. Awalnya aku tertarik membeli tape kaset lagu barat tahun 70an yang dia jual di kaki lima. Dia sabar melayaniku walau aku hanya membeli satu kaset saja.


Setelah itu  kalau aku mampir ke Glodok, aku pasti menemui Risa. Lama lama kami jadi akrab. Aku senang berteman dengannya, walau dia gadis Tionghoa. Dia cerdas dan punya rasa hormat. Kalau dia mau dapatkan pacar kaya tidak sulit. Dia memang cantik.


Aku pernah ajak dia ketempat kosku di Cempaka Putih. Akupun pernah diajaknya ketempat kosnya di bilangan Mangga Besar. Jadi kami saling memaklumi bahwa kami anak rantau. Aku tak pernah mendengar dia becerita tentang masa depannya. Dia sepertinya tidak punya cita cita. Hidup mengalir saja.  Hanya karena kesibukan masing masing, kami jarang bersama sama. Tapi pernah sekali makan bubur ayam di Mangga Besar. Dia sanang sekali aku traktir. Pernah sekali nonton di Eldorado. Itu saja. 


Suatu hari aku pulang ke tempat kosku dia sudah ada di teras paviliun. “ Aku tak bisa lagi bayar kos. Daganganku sudah habis untuk biaya berobat ibuku di kampung. Aku tidak tahu mau tinggal dimana? Katanya dengan tertunduk. 

“ Kalau kamu tidak keberatan, Kamu bisa tinggal sementara di kamarku. Aku tidur di lantai. Engga apa apa ?


“ Engga. Kamu tidur di ranjang. Aku tidur di lantai. Kalau engga, ya aku cari tempat lain saja.” katanya ketika masuk kamar. Akupun mengalah. Aku sibuk membaca dan dia cepat sekali tertidur.  Sepertinya dia lelah sekali. 


Keesokan paginya. “ Aku mau ke glodok. Jadi calo aja dulu. Moga dapat peluang untuk makan.” katanya. Aku biarkan dengan rencananya. Sebelum berangkat kerja, aku memberinya uang untuk trasport. Dia sempat berlinang airmata menolak uang itu. Tapi karena butuh, dia terima juga.  Setelah itu, dia sibuk. Malam hari baru pulang ketempat kosku. Langsung tidur kelelahan.


Pernah lebaran, dia  menemaniku pulang mudik ke sumatera. Dia sangat menghormati kedua orang tuaku. Namun ayahku menolak aku berteman dengan dia. Itu dikatakan terang terangan di hadapan dia. Risa hanya diam. Tak ada sedikitpun dia tersinggung. Setelah kembali ke Jakarta, dia tidak mempermasalahkan sikap ayahku. Hampir enam bulan dia tinggal satu kos denganku. Selama itu kami tidak pernah saling menyentuh dan tetap menghormati privasi masing masing.


Dia pergi dengan alasan dapat pekerjaan sebagai penjaga toko di Surabaya. Pamannya berbaik hati menampungnya. Aku tak bisa menahan kepergiannya. Aku hanya berdoa semoga dia baik baik saja. Dua kali lebaran aku tidak datang. Karena hidupku dirantau sedang sulit. Namun dari kampung aku dapat surat. Kedua orang tuaku berterimakasih. Walau aku tidak datang tetapi kiriman uang tetap datang. Aku bingung. Siapa yang kirim uang itu.  Belakangan baru aku tahu. Ternyata yang kirim uang adalah Risa. 


Stempel wesel dari Jakarta. Itu artinya dia tidak di Surabaya. Aku berusaha mencarinya dan bertanya dengan teman temannya di Glodok. Tidak ada yang tahu dimana dia berada. Dia hilang begitu saja. Sampai akhirnya aku melupakannya. Apalagi tahun 1985 aku sudah menikah. 


***

Setelah pesawat landing. Pintu pesawat terbuka. Walau business class lebih dulu keluar. Aku tidak segera berdiri dari tempat dudukku.  Setelah giliran ekonomi class diizinkan keluar. Aku berdiri menatap kearah ekonomi class dan melangkah kearah tempat duduk Risa. “ Lama ya engga ketemu. Kamu udah jadi orang hebat. “ Katanya tersenyum.


“ Ke Hong Kong ?tanyaku.


“ Ya” Katanya singkat.


“ Ada urusan apa ? Tanyaku.


Dia tidak menjawab. Namun dia memagut lenganku melangkah keluar dari pesawat. Sama seperti 16 tahun lalu ketika kami masih melata di kaki lima. “ Aku jadi TKW.”


“ Bagaimana dengan anakmu?


“ Aku tidak pernah menikah. “


“ Sudah berapa lama kerja di Hongkong?


“ Hampir 10 tahun. Kebetulan bossku orang baik. Dia sudah anggap aku sebagai keluarga sendiri. “


Aku termenung. 


“ Megapa kamu menghilang dariku. Bukankah kita sahabat.? Kamu pernah mengirim uang untuk keluargaku di kampung disaat aku terpuruk. Apakah itu tidak ada artinya bahwa kita memang sahabat” kataku


Risa hanya diam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaanku. Aku mau antar dia ke tempat tinggalnya tapi dia menolak. Kami berpisah di gate bandara HKIA. Sejak itu dia tidak pernah telp aku. Akupun sibuk. 


***

Tahun 2005 aku kena Flue SARs. Saat itu sedang ada pandemi di Hong Kong. Kalau aparat tahu aku kena SARS, pasti aku dikarantina. Semua sahabat aku telp tidak mau datang. Tentu mereka kawatir ketularan. Mereka hanya menyarankanku pergi ke RS atau hubungi pusat bantuan SARS. Temanku di China, bisa membatuku berobat tanpa harus ke rumah sakit. Masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari gate Hong Kong -shenzhen yang punya detektor suhu  tubuh. 


Saat itulah, aku telp Risa. Aku tidak yakin dia mau terima telpku. Apalagi saat itu jam 2 pagi. Tubuhku panas dan sesak napas. Ternyata dia terima telpku. Dia berjanji akan ke tempatku. Benarlah. Dalam 30 menit dia sudah ada di apartemenku. Aku ceritakan alasanku tidak mau ke RS dan ingin ke China. Sampai pagi dia merawatku dengan mengompres kepalaku setelah memberi obat penurun panas. Jam 10 pagi dia bawa aku ke shenzhen. Berkat parasetmol, aku bisa lolos melewati gate imigrasi yang dilengkapi detektor suhu tubuh. 


Di gerbang kedatangan sudah ada Wenny menantiku. Mereka berdua membawaku ke klinik khusus. Semalaman dalam perawatan aku tertidur pulas.  Besok paginya aku bisa sembuh. Ternyata itu klinik khusus pengobatan dengan candu. Sebelum aku berterimakasih, Risa sudah kembali ke Hong Kong. 


“ Semalaman Risa ada di samping tempat tidur kamu. Dia menangis dalam doa. Aku dengar doanya,” Tuhan, sembuhkan pria yang pernah menjaga kehormatanku ketika aku terpuruk dan terabaikan. Sembuhkan pria yang aku cintai dengan tulus. Aku tak berharap apapun, kecuali sembuhkan dia Tuhan.” Demikian Wenny mengulang doa Risa.


“ Bro, dia mencintai kamu dengan tulus. Dia mencintaimu karena Tuhan. Dia sudah menemukan Tuhan ketika dia bisa berkorban untuk cintanya dan tahu berterimakasih. Kalau orang sudah menemukan Tuhan lewat pengorbanan cinta, dia tidak butuh apa apa lagi..” Kata Wenny.


***


Dari stasiun HungHom, saya jalan kaki ke apartement saya di Harbour View Horison. Tidak terlalu jauh. Kaluar dari stasiun, masuk gedung Metropolis. Keluar lewat belakang, terus menyeberang jalan. Ada skybridge ke apartement saya. Ya kurang lebih 2 KM. Waktu itu tahun 2010. Bulan januari. Tempratur sore hari sekitar 18 derajat celcius. Sampai di halaman kawasan Apartement, saya melihat ada wanita mengenakan jaket musim dingin warna merah. Dia tersenyum kearah saya.  Setelah dekat “ Ale, apa kabar ? Tegurnya. Saya terkejut “ Risa! saya langsung merangkul dia. “ Ada apa kemari? kataku.


“ Aku mau ketemu kamu.” 


“ Loh kenapa engga telp dulu. Sudah berapa lama nunggu di sini?


“ Dari jam 5” Katanya tersenyum. “Aku telp kamu, tapi yang jawab sekretaris kamu. Aku juga udah email berkali kali tapi tidak dijawab. “ Sambungnya.


‘ Maaf Risa, aku beri kamu kartu nama. Itu hape dan email yang kelola sekretarisku. Aku lupa kasih kamu nomor hape pribadiku. “ kataku. “ Ayo ikut aku ke apartement” lanjutku seraya mengambil tasnya. 


“ Aku rencana mau pulang besok. Aku hanya ingin pamit aja, Ale” Katanya ketika sampai di Apartement.


“Pulang liburan?


“ Bukan. Kotrakku tidak diperpanjang. Tadinya aku mengurus lansia selama 18 tahun.  Dua bulan lalu orang tua yang aku urus itu meninggal. Keluarganya tidak mau perpanjang kontrak. Karena mereka mau pindah ke Kanada.” Kata Risa.


“ Di pontianak, keluarga kamu masih ada?


“ Ibu sudah meninggal tahun lalu. Kokoh ku sejak 10 tahun lalu berlayar ikut kapal penangkap ikan. Sampai kini tidak tahu kabarnya. “ Kata Risa dengan wajah sedih. Aku tetap Risa namun dia cepat memalingkan wajah kesamping. “Ale , aku hanya ingin mampir saja. Besok aku pulang. “


“ Loh malam ini kamu mau tinggal dimana. Bawa tas lagi?


“ Tinggal di Mess Konjen di Causeway bay”


“ Risa..Tinggal di sini aja ya “Kataku lembut.


“ Aku malu Ale…” Kata Risa berlnang airmata. “ Bajuku kumuh. Apartement kamu mewah sekali. Aku engga pantas tinggal disini. Biarlah aku pergi aja.”


“ Tidak! Kamu tinggal disini. Engga ada lagi drama kamu bisa pergi  begitu saja menghilang dariku. “ kataku tegas, membawa tasnya ke dalam kamar. “ Kamu tidur disini dan aku di kamar sebelah. Rencana pulang batalkan saja. Besok kita bahas rencana kamu ya.” kataku.


“ Nah sekarang kita keluar cari makan” kataku.


“ Aku di apartement saja. Aku bisa masak.” Katanya sungkan.


“Engga Risa. Kita makan malam di luar saja.” kataku. Dia nurut. Kami pergi ke kawasan Financial center. Mampir sebentar ke toko pakaian. “ Kamu diam saja. Pelayan toko akan pilih pakaian yang cocok untuk kamu. “ 

“ Tapi mahal Ale?

“ Engga usah pikirkan. Kartu emas ini yang jamin bayar. “ Kataku menyerahkan CC ke pelayan toko. Aku segera telp Lena agar siapkan makan malam di Financial Club.


***

Besok pagi Wenny sudah datang ke apartement. Aku perintahkan Wenny untuk memikirkan masa depan Risa. Sementara dia tinggal sama Wenny. Risa terharu ketika meninggalkan apartemenku. Dia hanya tamatan SMA, tapi dia fasih bahasa inggirs , mandarin dan kanton. Yang sangat membantu masa depan Risa di Hongkong adalah dia sudah punya PR. Jadi mudah merencanakan pekerjaan untuk dia di Hong Kong atau di negara lain. Sementara dia magang di holding di bawah pimpinan Wenny.


Tahun 2011 Risa pindah ke Vietnam pada unit business kami bidang elektonik. Awalnya berkarir sebagai office manager. Tahun 2012 dia sudah pegang posisi GM. Tahun 2013 dia sudah pegang posisi sebagai direktur.  Benar kata Weny dia memang cerdas dan sangat mandiri. 


Tahun 2018 dalam pertemuan dengan seluruh anak perusahaan, Risa datang mewakili perusahaannya di Vietnam. Usai acara aku undang dia makan malam. Saat aku genggam erat jemarinya “ Ale aku sudah tua ya.  Udah lembek ya. “ Katanya tertunduk malu.


“ Tapi kamu tetap Risa ku. Itu tidak akan berubah. “ Kataku. Wenny bilang waktu aku sakit, kamu berdoa. Bilang kamu mencintaiku ya.” Lanjutku. Wajahnya bersemu merah. Dia cubit lenganku. Kini usianya 56 tahun. Kami menua namun tetap saling mendoakan. 

“ Walau hidupku mungkin tidak lama lagi. Aku bahagia, karena kamu tahu aku mencintaimu.” Katanya. 

Aku peluk dia. “  Aku bahagia Ale. Kamu selalu menghormatiku dan membuatku sangat sempurna sebagai wanita.” Katanya berlinang airmata.


Sunday, April 11, 2021

Sesal.

 


Kalaulah bukan karena aku butuh uang. Aku tidak ingin menerima kedatangan pria itu. Dia bersendal jepit. Bajunya kumuh seperti orang kampung pada umumnya. Aku kawatir teman temanku meliat kedatangannya. Kuterima dia di teras. Dia menyerahkan uang dalam bungkus plastik dengan tersenyum. “ Ya udah. “ Kataku ketus. Dia tetap tersenyum. Tak berapa lama dia pergi. Mungkin karena aku tak berniat bicara dengan dia. Itulah kebiasaan pria itu sejak aku kuliah di kota.

***

“ Bunda akan menikah lagi “ kata Bunda saat aku SLTP


“ Ya Bunda. Tetapi kenapa harus dengan dia, pria miskin itu. Bunda kan cantik. “ Kataku. Bunda diam saja. Ayahku meninggal karena kecelakaan.  Dua tahun bunda menjanda. Kehidupan kami semakin sulit. Harta yang tak seberapa peninggalan mendiang ayah cepat habis menghidupi aku dan adikku. Bunda terpaksa bekerja sebagai buruh di Pabrik. Pernikahan itu terjadi. Aku harus menerima. Itu urusan Bunda. Ayah tiriku pedagang kecil di pasar tradisional. Dia pendiam. Tidak banyak bicara. Sehingga hubungan antara aku dan adikku dengan dia tidak begitu hangat. Aku dan adiku tetap tidak menyukainya.


Saat remaja. Aku punya pacar. Bunda senang. Karena pacarku dari keluarga kaya raya di kampug kami. Tapi ayah tiriku tidak suka hubunganku dengan pacarku. Itu dia buktikan ketika pacarku datang ke rumah. Dia tidak pernah keluar dari kamar tidur.  Pernah aku dengar suara suara bisik bisik dari balik kamar. Pertengkaran antara ibuku dan ayah tiriku. Benar. Ayah tiriku tidak ingin aku terus  berhubungan dengan pacarku.


Suatu saat pulang sekolah sore hari. Pacarku memaksa aku mampir ke rumah kosong. Aku berontak keras. Aku tidak mau. Dari jauh nampak ayah tiriku sedang jalan ke arah pulang. Dia melihat aku sedang berusaha meloloskan diri dari paksaan pacarku. Dia bentak pacarku. Langsung Pacarku lari. Dia tatap aku dengan wajah kerasnya.” Pulanglah. Jangan ceritakan kepada ibumu.” katanya. Aku pulang jalan lebih dulu. Di belakang ayah tiriku mengikuti.


Tetapi setelah itu, entah darimana rumor datang. Ibuku sedih. Keluarga pacarku mengabarkan kepada orang ramai bahwa aku sudah tidak perawan. Karena digauli oleh ayah tiriku. Ibuku berang kepada ayah tiriku. Namun ayah tiriku tetap diam. Dia tidak ingin bicara banyak. “ Aku tidak  ingin membela diriku atas fitnah itu. Antar anak kamu ke puskesmas. Periksa.” Kata ayah tiriku. Dia tidak pernah cerita peristiwa dulu pacarku hampir merenggut kegadisanku. Bunda sangat kecewa kegagalanku menikah dengan keluarga kaya. Akhirnya karena itu perceraian terjadi. Ayah tiriku keluar dari rumah. Aku senang.


Bunda kembali kerja sebagai buruh pabrik. Aku tamat SMU. Aku diterima di PTN. Bunda bingung dapatkan uang untuk mengirimku ke kota. Saat itu ayah tiriku datang mengulurkan bantua. Bunda menolak keras. Tapi karena tidak ada pilihan lain. Akhirnya Bunda menerima. Sehingga aku bisa berangkat ke kota. Kesanku tetap tidak suka dengan ayah tiriku. Setiap tiga bulan dia datang ke kota. Memberiku uang makan dan uang bayar kos. 


Ayah tiriku setelah bercerai dengan ibuku tidak menikah lagi. Setelah tamat kuliah, aku diterima bekerja di kota. Ibu dan adiku kubawa tinggal bersamaku. Hubungan kami terputus dengan mantan ayah tiriku. Dari keluargaku di kampung aku mendengar kabar mantan ayah tiriku meninggal. Sejak kematian ayah tiriku, aku dirudung rasa bersalah. Aku harus membuka rahasia masa laluku. 


“ Bunda, aku mau jujur. Sebenarnya ayah tiriku tidak pernah menyentuhku. Bahkan dia yang menyelamatkanku dari usaha pacarku yang ingin perkosaku.’ kataku. 


“ Benar itu? Mengapa Nak kamu tidak jujur kepada Bunda” Kata Bunda menangis. Aku terdiam. Ketidak sukaanku kepada ayah tiriku membuat aku mendiamkan segala fitnah terhadap pria yang begitu tulus dan berkorban untukku dan Bunda. Bunda keliatan sangat sedih. Semalaman Bunda menangis. 


“ Dia memang miskin. Tapi dia cinta pertama Bunda. Saat bunda dijodohkan oleh kakekmu dengan ayahmu, dia sangat terpukul. Tapi dia sadar dengan kemiskinannya. Saat ayahmu meninggal dia datang ke bunda. Melamar Bunda. Walau kalian tidak suka dengan dia. Namun cintanya kepada kalian tidak beda dengan anak kandung. Bahkan setelah bercerai dengan Bunda, disaat Bunda kesulitan,  dia selalu ada untuk bunda. “ Kata Bunda. Saat itu aku terasa jatuh kejurang terdalam dalam sesal tak bertepi.


Seminggu setelah itu, aku dan  Bunda beserta adiku pergi ke kampung, Kami pergi ke pusara ayah tiriku. 


Aku bersimpuh dengan air mata berurai. “ Ayah maafkan aku Yah…” isakku. Kupeluk pusara itu. 


Ibuku juga  memeluk pusara itu “ Maafkan aku Abang. Maafkan aku..”  Kata Bunda menangis. 


Adiku juga memeluk pusara itu. 

Kami bertiga menangis dalam sesal untuk pria yang seumur hidupnya hanya ingin berbuat baik karena Tuhan. Walau derita tak tertanggungkan, dia tetap tidak kehilangan cinta dan terus berkorban.


Dimanusiakan...

 


Setiap istirahat sekolah aku berlari ke kantin bersama teman teman. Kami biasa makan sambil istirahat. Tapi tidak bagi Bayu. Dia pergi ke dekat pintu gerbang sekolah. Dia jual pempek. Setelah usai jam istirahat, dagangnnya dititipkan kepada babak tua pedagang bakso. Dia kembali ke kelas. Sepertinya hubungan Bayu dengan pedagang bakso hubugan orang kelas bawah. Yang saling menjaga dan percaya. Bayu teman SMP ku. Kami dari SD sekalas. Waktu SD jam istirahat dia jualan kerupuk di halaman sekolah. SMP, dia jualan pempek di halaman sekolah. Pulang sekolah dia jualan Es Balon dan Pempek di tempat olah raga. 


Bayu pintar sekolah khususnya matematika. Lainnya dia memang kurang. Namun dia tidak pernah punya masalah dengan temannya. Walau dia sering diejek karena pakaianya tambalan namun dia tak pernah tersinggung.. Dia hanya punya satu sepatu. Olah raga dia bertelanjang kaki. Karena dia tak mampu beli sepatu olah raga.Walau para wanita di kelas tidak pernah menegur Bayu, aku kadang suka juga menegurnya. Bahkan beli pempek dagangannya.
Suatu saat kami sedang olah raga di lapangan umum di luar sekolah. Ada ada preman menganggu kami. Anak pria semua lari ketakutan. Tapi tidak bagi Bayu. Dia hadapi anak preman itu. Anak preman itu lari setelah melihat kepala bayu berdarah.


“ Aku engga apa apa. Rum. “ Kata Bayu berusaha berdiri. Aku menangis. Itu karena dia berusaha melindungi kami para perempuan dari anak berandal. Sikunya berdarah. Dari kepalanya keluar darah karena kena pukulan kayu. Tetapi Bayu petarung sejati. Dia berhasil membuat pengeroyoknya tidak ingin melanjutkan perkelahian. Dua dari mereka tejatuh.


“ Aku kasihan dengan ibuku. Ini dagangan untuk bantu ibuku menghidupi kami” Kata Bayu dengan sedih menatap pempek yang bertebaran di jalan. Termos es hancur. Namun Bayu tidak meratap. Hanya airmatanya berlinang.


“ Kamu ke dokter sekarang. Aku panggil supirku datang sekarang. Kamu tunggu !” kataku seraya keluar dari lapangan olah raga ke tempat parkir.


“ Engga perlu Pak. Saya pulang aja. “ Kata Bayu kepada supirku. Dia menutup luka kepalanya dengan kaus bajunya.

“ Pak cepat bawa dia ke Rumah sakit. Dia teman sekelas saya. “ Kataku meraung kepada supirku. Namun Bayu terus melangkah dan menjauh membawa baskom kosong. 


Keesokanya aku bertemu dengan Bayu di kelas. Kepalanya tidak diperban. Aku tanpa sungkan melihat kepala dan sikunya. “ Dikasih kopi Rum. Engga apa apa “ kata Bayu dengan tersenyum. Aku menitikan airmata.


“ Mereka jahat sekali. “Airmataku jatuh.


“ Engga apa apa, Rum “ Bayu tersenyum seakan menguatkan aku bahwa dia akan baik baik saja.


***

Tamat SMP aku masuk sekolah Swasta kristen. Karena aku etnis Tionghoa. Bayu terima di sekolah negeri. Sekolah pavorit. Sejak itu aku jarang bertemu dia. Namun setiap malam minggu aku sering melihat Bayu dagang rokok di kaki lima. Papaku selalu temani aku turun dari kendaraan menyapa Bayu “ Nak rame dagangannya ? Kata papa.


“ Biasa saja Pak. “


“ Ya udah, Saya beli rokok Djisamsoe ya “


Bayu sempat melirikku ketika menyerahkan rokok itu kepada papa. Namun dia cepat sekali menundukan wajah di depanku.


“ Rum, Papa dulu waktu seusia Bayu juga mengalami kehidupan seperti dia. Biasa saja laki laki. “ Kata Papa. Bayu menunduk ketika kami pamit berlalu. Sesudah makan mie bersama papa, aku selalu pesan mie untuk dibugkus, untuk Bayu. Papa hanya duduk di dalam kendaraan melihatku mengantar mie ke Bayu yang sedang dagang di kaki lima. Itu aku lakukan selama tiga tahun setiap malam minggu. “ Kamu berbuat baik itu karena Tuhan. Dan nanti Tuhan juga yang akan membalas kebaikan itu ” Kata Papa. Itu tidak pernah aku lupa.


***

Setamat SMA aku melanjutkan ke univesitas Swasta di Jakarta. Setahun kemudian, keluargaku juga hijrah ke Jakarta. Aku tidak tahu kelanjutan Bayu. Namun kenangan tentang Bayu tidak pernah hilang dalam ingatanku. Setamat Universitas aku bekerja di bank swasta di Jalan Roa Malaka, jakarta. Aku pacaran dengan nasabah bankku. Tiga tahun setelah itu aku menikah. Namun kenangan tentang Bayu tak pernah juga hilang. Apakah aku jatuh cinta dengan Bayu? Ah tidak. Aku hanya merindukan wajah teduh dan tenangnya. Semangat hidupnya tanpa mengeluh. Karakter papa ku ada pada Bayu. 


Usiaku sudah 50 tahun. Seusia itu aku sudah menjanda dua tahun. Suamiku meninggal. Aku harus mengambil alih tanggung jawab melanjutkan usaha suami. Papa udah meninggal. Mama tinggal bersamaku. Usahaku semakin sulit. Karena mendiang suamiku meninggal hutang yang cukup besar. Aku berusaha bertahan. Pertahanku terakhir adalah menyelesaikan utang bank. Agar pabrik tidak disita. Pihak bank berbaik hati untuk menyelamatkan bisnisku. Caranya aku harus bermitra dengan investor. Aku ikhlas. Yang penting aku tidak dibebani hutang. Amanah mendiang suami bisa kutanaikan.


Di hotel bintang Lima aku diatur oleh pihak bank untuk bertemu dengan calon investor yang akan jadi mitraku. Aku datang on time. Tak lebih 5 menit setelah itu, aku melihat pria berjalan kearah tableku. Jantungku berdetak kencang. Betapa tidak. Pria itu adalah Bayu.


“ Rum, kamu? lama ya engga ketemu. Kamu sehat.? Katanya beruntun. Aku perhatikan ada kerinduan pada wajah Bayu. Dia tetap menaruh hormat kapadaku seperti waktu SMP dulu.


“ Aku baik saja. Kamu sehat ?


“ Aku sehat. Kamu sendirian ? boleh aku gabung sebentar. “


“ Oh boleh Bayu. Boleh. “


“ Nanti kalau relasi kamu datang. Aku pergi “ Katanya.


“ Ya. tapi tunggu aku.Jangan pergi. Aku kangen kamu,  Bayu. “


“ Boleh tahu mau ketemu siapa ? Pria ?


“ Perempuan , Ibu Yuni. ?


“ Yuni dari yang di cengkareng. Yang punya pabrik footware di batuceper ?


“ Ya kok kamu tahu ?


“ Ya artinya kamu ketemu aku. Yuni itu direksiku.”


“ Hah..Bayu! Kamu boss nya ?


Bayu hanya tersenyum dengan rendah hati.


“ Ya tadi Yuni cerita soal kerjasama bisnis. Aku putuskan ketemu langsung. Dia engga bisa ikut meeting. Ada urusan lain. “


“ Oh..” Aku kehilangan kata kata.


Bayu tidak jadi bermitra dengaku. Caranya sangat halus memperlakukanku. Dia bantu menyelesaikan masalah hutang lewat skema venture linked MBO. Ya hutang perusahaanku dilunasinya di bank. Pada waktu bersamaan dia terjunkan team untuk merestruktur dan rasionalisasi pabrik. Dukungan pasar internationalnya sangat hebat. Sehingga dalam tiga tahun program MBO selesai. Perusahaan tetap miliku. Produksi pabrik di offtake oleh perusahaan Bayu di China. Aku bisa santai di masa tuaku. Bayu, adalah malaikat  yang Tuhan kirim kepadaku, yang selalu hadir disaat aku sulit.


“ Mengapa kamu baik sekali kepadaku, Bayu?

" Ya tak pernah aku lupakan. Rasa kawatir kamu ketika melihatku terluka. Itu benar benar menginspirasiku. Air matamu itu tidak bisa dihapus dalam pikiranku. Itu akan abadi. Bahwa aku dimanusiakan di tengah kekurangan dan kemiskinanku." kata Bayu. Namun sikap hormatnya tidak berubah kepadaku. Kadang aku risih tetapi itulah Bayuku. Sampai kini kami bersahabat.