Friday, December 31, 2021

Hutang...

 




Tadi malam Nazwa ke rumah tantenya untuk menikmati detik detik menjelang tahun baru. Jadi saya dan oma di rumah berdua aja. Saya baca lewat notepad di kamar kerja. Oma sedang merajut buat sweater. Dia tahu saya akan pergi lagi ke China. Sweater itu lapisan  pakain luar penahan dingin. Oma mendekati saya.” Papa sedang ngapain?


“ Ini papa lagi desk riset. Baca pendapat para ahli dan praktisi soal peluang investasi dan ancaman inflasi tahun 2022.”


“ Kenapa harus tahu pendapat mereka”


“ Bisnis kan harus terus bergerak ke depan. Itu perlu hutang. “


“ Apa kaitannya dengan inflasi?


“ Kan kalau inflasi tinggi, akan memaksa pemerintah menarik uang beredar dengan menaikan suku bunga. Dan otomatis uang perbankan pindah ke surat berharga yang diterbitkan bank sentral. Termasuk dana pensiun juga pindahkan dananya ke surat hutang negara. Akibatnya susah kita mau investasi. Karena uang nongkrong ditempat aman.”


“ Kan hutang itu gampang.Asalkan ada jaminan ya bank beri kredit. Engga ada resiko.”


“ Benar. Itu namanya mortgage. Kan engga semua hutang dalam bentuk mortgage” 


“ Mortgage itu apa?


“ Ya semacam KPR atau pinjaman dengan collateral aset.”


“ Emang ada bank atau lembaga mau beri pinjaman tanpa collteral aset ?


“ 90% hutang itu tanpa collateral” Kata saya tersenyum. Oma nampak mikir.


“Pah kenapa mereka mau beri hutang tanpa collateral?


“Itu ukurannya adalah bisnis yang dijalankan layak. Harus menguntungkan dan aman. Tidak memberi pinjaman kepada pemegang saham. Biaya tetap rendah, termasuk tunjangan direksi wajar atau tidak berlebihan.  Secara moral perusahaan dikelola dengan akuntable dan transparan tanpa ada nepotisme. Pendirinya dipercaya. ”

 

“ Oh gitu.  Engga ngerti mama. Terus gimana tahunya ukuran itu semua. Kan bisa aja diatur atur biar kelihatan hebat”


“ Kreditur itu engga bego. Gampang kok mengetahuinya.  Kalau perusahaan kesulitan uang untuk operasi hari hari. Nah itu artinya  ada masalah. Walau perusahaan keliatan  hebat, tetapi bagi kreditur itu dianggap sampah. Engga akan dapat pinjaman.” 


“ Contohnya ? kata Oma masih belum paham.


“ Garuda itu modalnya kurang lebih 10% dari total hartanya. Sisanya adalah hutang. Itu artinya dia bisa leverage 10 kali dari modal.  Pastilah dia hutang tanpa collateral. Kan collateralnya hanya ada 10%. “ 


“ Tetapi kan Garuda rugi. Kenapa masih bisa dapat hutang tanpa collateral?


“ Itu karena trust kepada pemerintah sebagai pendiri perusahaan. Jadi walau perusahaan rugi, kreditur tetap percaya selagi NKRI tetap berdiri. Tentu harus ada jaminan dari pemerintah. Nah baru ada masalah kalau pemerintah lepas tangan.  “ Kata saya. “ Contoh lagi, mama tahu kan bank? Lanjut saya


“ Ya tahulah.”


“ Nah bank itu, sesuai aturan modal minimal 10% dari total harta BAnk. Sisanya  atau 90 % harta berasal dari uang masyarakat. Itu kan sama saja dengan hutang. Kalau kita nabung dan deposit di bank, kita hanya dapat kertas selembar saja. Engga ada collateral bank berikan kalau dia hutang ke kita. Sampai disini paham ya mah”


“ Nah itu paham. Perusahaan Yuni itu hutang begitu juga?


“ Ya. Modal hanya Rp 50 miliar. Tetapi aset perusahaan Rp. 500 miliar. Sisanya Rp, 450  miliar hutang.  Itu artinya Yuni bisa leverage 9 kali dari modal yang ada.”


“ Di Hong kong juga?


“ Ya sama. Holding hanya punya modal 5% dari total harta. 95% dari hutang semua.


“ Kalau engga bisa bayar gimana”?


“ Sifat utang itu kan unsecure. Artinya penyelesaianya melalui pengadilan. Bukan sita jaminan. Kalau dalam proses pengadilan, perusahaan tidak salah, ya pihak kreditur tidak bisa paksa suruh kita bayar. Justru tugas kreditur harus memberikan solusi. Agar hutang bisa dibayar. Biasanya jarang berujung ke pengadilan. Kreditur lebih memilih jalan damai lewat restruktur hutang, seperti penjadwalan hutang, pemotongan bunga. dll "


“ Wah enak banget.”


“ Ya engga juga enak. Karena untuk memastikan kita engga melakukan kesalahan itu pekerjaan berat. Itu soal sikap mental pendiri perusahaan. Harus anti nepotisme. Harus patuh kepada hukum perseroan. Tidak boleh anggap perusahan itu milik sendiri. Tetapi milik orang banyak. Jujur itu penting. Sama juga pemerintah bisa gampang hutang. Itu karena management APBN bagus dan dunia tahu, secara personal Jokowi itu orang jujur dan tidak nepostime. Walau APBN terus defisit, orang tetap aja percaya beri negara hutangan. Padahal itu hutang unsecure. Tanpa ada sovereign atau jaminan negara.


“ Nah kalau sampai kita engga bisa bayar hutang dan dianggap bukan kesalahan kita. Kenapa ?


“ Itu bisa saja karena faktor ekternal, seperti tingginya suku bunga, infasi tinggi, aturan negara yang menyulitkan, pasar lesu..dan lain lain. “Kata saya tersenyum. Oma manggut manggut. 


“ Papa kan engga pernah nepotisme. Engga pernah hutang kepada perusahaan. Engga pernah korupsi. Mama tahu itu. Hidup kita sederhana saja kok.”


“ Ya enggalah. Emang siapa papa?. Hanya mantan pedagang kaki lima. Kalau orang mau beri hutang kepada perusahaan dan holding,  itu karena sikap mental papa doang. Lain itu ya management harus akuntabel dan transparan dan dilaksanakan secara profesional.” 


“ Mantan pedagang kaki lima, dagangannya sempak lagi” Kata oma tertawa. Saya senyum aja.  “ Nih sweater sudah jadi. Coba dipakai. Mama mau lihat. “ Kata Oma. Saya kenakan. 


Oma tersenyum senang lihat saya kenakan sweater.


" Alhamdulilah berkurang jelek suami gua..” Kata oma lihat saya  pakai sweater buah karya tangan dia sendiri.


***


“ Pah, itu pengusaha batubara tajir banget ya. Mereka punya private jet. Mobil mewahnya di dalam grasi puluhan. Engga pernah mereka pusing keliatannya dengan bisnis. “ 


“ Itu sama dengan contoh. Mama dapat izin dari lurah kelola tanah. Kemudian tanah itu mama suruh orang lain olah. Setiap hasil dari tanah itu, mama dapat bagian keuntungan. Mama engga keluar ringat dan modal, uang masuk. Dari bagi hasil itu, mama bagi dech lurah. “


“ Wah enak banget. Makanya mereka engga pusing ya. Paham. Tapi cerita sebenarnya gimana?“ Oma memang punya mindset business. Dia selalu punya rasa ingin tahu besar kalau bicara uang dan bisnis.


“ Mereka dapat konsesi batubara dari pemerintah. Untuk mengolah tambang itu kan perlu modal. Nah mereka minta kotranktor mengolahnya. Untuk ekspor kan perlu bayar pajak daerah dan pajak ekspor. Uang untuk  bayar pajak  itu berasal dari kontraktor juga. Biasanya kontraktor dapat bayaran dari pemilik konsesi berdasarkan jumlah produksi batubara. Kalau engga salah. Kontraktor dapat USD 20 per ton. Nah kalau harga jual batubara diatas USD 100. Hitung aja berapa dia untung.” Kata saya. Oma menyimak.


“ Terus kalau engga ada pembeli batubara gimana ?


“ Ya kontraktor yang beli sendiri.”


“ Siapa kontraktor itu?


“ Biasanya perusahaan logistik yang punya alat berat dan truk, seperti TU, Charterpilar dll. Atau  ada juga perusahaan asing yang jadi kontraktor merangkap pembeli” Kata saya tersenyum.


“ Wah enak banget. Hanya punya konsesi uang masuk. Tanpa resiko segala. Pantas aja mereka bisa terus bergaya. Karena engga mikirin resiko apapun.” Kata Oma.

 

“ Dapatkan konsesi itu sulit engga ?


“Engga juga.”


“ Gimana caranya?


“ Ya elus telor pejabat, gubernur, kepala daerah, menteri,  TNI/POLRI, termasuk Politisi dan Ormas.   Itu aja.” 


“ Telor?? Oma melotot kearah saya. Saya tersenyum menatapnya. Oma langsung ngakak. “ Kok istrinya izinkan sih suaminya kerja elus telor orang. “ 


“ Itulah pria mah. Para ayah itu menjadikan istri sebagai ratu dan anak sebagai raja, sementara di luar dia jadi budak. Elus telor orang. Tetapi para ayah menutup itu semua dengan uang melimpah demi kebahagiaan anak dan istrinya. Kalau salah biarkan untuk ayah saja. “ Kata saya tersenyum.


“ Untung papa engga bisnis begitu” Kata Oma. Dia genggam jemari saya. Ditatapnya mata saya. “ Dengar ya pah. Dari awal kita menikah, mama tidak melihat papa punya harta atau tidak. Ingat engga. Mama pernah bilang, Mama engga mau papa korbankan iman hanya karena ingin membahagiakan keluarga. Yakinlah engga akan berkah. Jadi engga apa papa capek dan beresiko. Engga apa tidak kaya seperti mereka.. Engga apa harus bisnis di luar negeri.  Engga apa apa. Kita lalui saja selagi halal. Karena itu maunya Tuhan. Barugi makonyo balabo. Bakaringek makonya mendapek.” 


“ Ya mah.”


“ ya udah. “


Kami terdiam. Seakan berpikir dengan diri kami sendiri. Tak berapa lama Oma, berkata “ Pah, ini soal Yuni..” Duh seperti petir menerjang. “ Ya mah”


“ Kenapa papa terlalu memanfaatkan dia. Berkali kali papa suruh dia mengerjakan pekerjaan yang rumit. Sampai ke luar negeri. Dia pernah lama di Vietnam dan di AS. Belum lagi di China. Bertahun  tahun dia engga ada waktu untuk anaknya. Kini setelah ada cucu, diapun engga ada waktu ketemu cucunya. Usianya engga muda lagi. Sebaiknya biarkan dia menikmati masa tuanya di Jakarta. Biarkan dia Focus ke bisnis dia di jakarta aja. Jangan lagi suruh dia untuk urusan pribadi papa. Dan lagi sudah sepantasnya dia menikmati masa tuanya karena masa mudanya melewati banyak kesulitan membesarkan perusahaan. “


“ Ya mah. Papa akan pikirkan”


" Jangan zolim sama orang. Mentang mentang orang butuh" 


" Ya mah.”

Oma terdiam.  Di balik sikapnya yang keras, hatinya lebih lembut dari saya. Lebih kaya iman. Sangat tahu diri. “ Tuhan, sabarkan aku untuk terus belajar dari kesalahanku, dan menerima sikap istri yang kadang bikin aku pening



Di Gambir itu...

 


 

Saya dari pasar ikan dengan kendaraan Yuni menuju jalan Thamrin. Di jalan Jayakarta saya mampir beli rokok di Indomaret. Selesai beli rokok, di pinggir jalan depan Indomaret ada pedagang grobakan. Saya dengar  pria itu sedang marah kepada wanita yang gendong bayi.  Keta katanya sangat kasar. Sepertinya pria itu suaminya. Marah karena istrinya datang dari kampung menyusulnya.


Wanita itu didorong oleh pria itu. Terjatuh bersama Balita. Entah mengapa saya spontan mendekati wanita itu. Menggendong balitanya. Balita itu menangis. Saya dekap dekatkan ke dada saya. Balita itu berhenti menangis. Dan wanita itu segera berdiri. Kembali dia mau mendekati pria itu. Tetapi dibentak dan dihujat dengan kata tak senonoh. Wanita itu terdiam. Di menoleh ke belakang meliat saya gerdong balitanya. Dia ambil balitanya dari saya. Airmatanya berlinang. Dia pergi.  


Saya terhenyak. Saya mematung meliat wanita itu berjalan menjauh dari suaminya. Saya kembali ke kendaraan Yuni. Ketika kendaraan mau jalan “ jangan jalan dulu.” sentak saya.

Saya berpikir keras. “ Apa yang harus saya lakukan. Apakah saya temui suaminya. Atau istrinya “ kata saya.\.

“ Uda, udah dech. Anggap saja ini cobaan mereka berdua. Biarkan mereka menyelesaikannya. Kita jalan aja. Doakan mereka. “

“ Ya tetapi ini terjadi di depan saya. Pasti ada pesan dari Tuhan untuk saya. Ini engga kebetulan. “ kata saya termenung.


“ Ya udah. Jalan “ kata saya akhirnya 


Setelah jalan beberapa menit saya liat wanita itu berjalan kaki sambil menggendong balitanya. Saya tak sanggup lihat dia jalan kelelahan. Setelah melewati wanita itu “ Yun berhentikan kendaraan. “ kata saya dan keluar kendaraan. Saya berlari mendekati wanita itu.


“ Ibu mau kemana? Tanya saya.


“ Mau ke gambir pulang. Naik kereta”


“ Mari saya antar ke gambir ya. “ kata saya dengan tersenyum. “ engga usah pak. 


“ Engga apa apa. Itu kendaraan saya” 


Dia mengangguk. Saya ambil balita dari gendongannya. Dia ikuti saya ke tenpat kendaraan parkir. Yuni buka pintu belakang. Wanita itu duduk di belakang bersama balitanya.


“ Saya yang salah pak. “ kata wanit itu. Suami saya harus bayar lapak ke preman dan bayar hutang ke rentenir untuk modal. Saya bingung ditagih terus sama rentenir. Suami saya engga pulang pulang” kata wanita itu.


“ Berapa suami ibu hutang ke rentenir “


“ Rp 8 juta. Tadinya hanya 6 juta. Itu udah sama bunga” 


“ Yun, kamu ada uang rupiah. Saya hanya ada dollar. “ kata saya. Yuni keluarkan uang dari tasnya satu ikatan Rp 10 juta pecahan Rp 100 ribu. Saya serahkan kepada wanita itu setelah sampai di Gambir. Wanita itu terkejut. Dia menangis sambil memeluk balitanya. Dia menggelengkan kepala seakan menolak. Namun saya paksa dia terima. “ Terimakasih pak.


“ Simpan yang rapi uangnya ya bu. “ kata saya. Dia masukan dibalik bajunya. 


Saya lanjut ke Thamrin. Di dalam kendaraan Yuni menangis. Duh kenapa semua menangis. Wanita sama saja 


“ ada apa kamu nangis !


“ Ingat 18 tahun lalu. Yuni diusir oleh suami karena Yuni engga bisa bayar hutang rentenir. Yuni keluar rumah malam malam. Gendong Yuli. Engga tahu kemana lagi minta tolong. Semua teman menolak. Orang tua di medan juga miskin. Akhirnya Yuni telp Uda. Pas uda bilang di Hongkong. Yuni rasanya habis harapan. Tetapi uda bilang akan kirim orang bantu YunI. Yuni tunggu di halte gambir 4 jam. Mana Yuli rewel terus nangis. Lapar dia. Akhirnya orang uda datang juga. Jam 1 pagi. Setelah itu hidup Yuni berubah. Ya ini tempat sangat bersejarah. Menjadi kenangan yang tak akan bisa hilang. “‘Kata Yuni. Saya genggam jemarinya.


“ Bertahun tahun Yuni selalu bertanya. Apa motive uda bantu Yuni. Yuni baru kenal udah 2 bulan. Itupun kenal karena Yuni Sales asuransi.  Yuni waktu telp dan ceritakan masalah Yuni ke uda. Itu tidak yakin akan dapat respon baik. Tetapi malah uda jawab singkat dan terbukti janji akan kirim orang itu bukan sekedar ngomong. Kini, dengan peristiwa barusan, barulah Yuni dapat jawaban tentang uda.”


“ Orang tua saya menasehati. Apabila kita melapangkan orang karana terlilit hutang, maka Tuhan akan lapangkan urusan kita. Tentu hutang untuk bertahan hidup, bukan hutang bisnis atau konsumerisme. Tapi karena nasehat itu dari ibu saya. Maka selalu saya jaga dan laksanakan. “


Saturday, December 25, 2021

Natal yang indah..


 


Waktu kuliah di Semarang, aku punya teman wanita. Dia tetangga tempatku ngekos. Namanya Sumiati. Menurut Sumi,  dia bekerja pada sebuah biro jasa. Biaya hidup dan kuliahku ditanggung Mas Anto kakak tertuaku yang pedagang kelontongan di pasar tradisional. Tentu uang yang kuterima setiap bulan sangat pas pasan. Tetapi kalau aku kurang uang, Sumi selau beri aku uang. Lama lama aku terikat moral dengan Sumi. 


Sampai akhirnya aku jatuh cinta. Sumi memang lumayan cantik tetapi naif. Dia tipe wanita Jawa. Nrimo dan tidak mementingkan diri sendiri. Dia hanya tamatan SMU. Bukan teman enak diajak diskusi. Dia lebih suka mendengar. Ragu berbeda pendapat denganku. Walau belum menikah, Sumi tidak menolak aku setubuhi. Tentu pakai pengaman. Karena aku belum siap berkomitmen. Aku tahu bahwa aku bukan pria pertama yang bersetubuh dengannya. Terbukti ketika aku setubuhi, dia sudah tidak perawan. Aku bisa menerima.


Suatu waktu, aku dapat informasi dari Ibu kos. Bahwa Sumiati bekerja sebagai wanita panggilan. Ketika aku tanyakan kepada Sumiati. Dia mengakui dengan jujur. “ Aku memang menjual tubuhku, tetapi aku tidak pernah menjual hatiku kepada pria lain. Hatiku hanya pada Mas. Kalau karena itu Mas tidak bisa terima. Engga apa apa. Lupakan saja aku. “  Kata Sumiati dengan air mata berlinang. Itu artinya aku punya alasan untuk berpisah baik baik. Tanpa rasa bersalah. Masa depanku masih panjang. Banyak wanita diluar sana menanti untuk kupinang. Tamat kuliah aku dapat kerjaan di Jakarta.


Aku bekerja di BUMN. Jabatanku Manager. Gaji dan tunjangan lumayah besar. Belum lagi fee dari rekanan yang memungkinkan aku dapat beli rumah bagus di real estate. Karena kesibukanku, aku baru serius memikirkan wanita setelah usia 30 tahun. Itupun setelah secara ekonomi aku established. Aku punya pacar. Namanya Indianti. Kupanggil Dian. Memang cantik. Kulitnya putih. Rambut sebahu. Wajahnya seperti indo. Maklum ayahnya bule dan ibunya dari Sukabumi. Namun dia lahir dari keluarga broken home. Ayahnya pergi saat dia dalam kandungan. Ibunya tinggal di kampung. Semua temanku terpesona dengan kecantikan Indiani.


***

Seminggu sebelum Natal.


Aku berkali kali telp Indiani. Hapenya mati. Aku mengkawatirkan rumahku akan disita bank. Karena sejak 2 tahun lalu kugadaikan untuk usaha catering Dian. Pinjaman itu sebesar Rp. 1 miliar. Sejak teken akad kredit, tidak pernah Dian bayar bunga dan angsuran. Terpaksa aku  bayar pakai tabunganku. Dian beralasan usahanya baru jalan. Aku bisa mengerti. Karena aku sayang Dian. 


Setahun setelah akad kredit, Dian masih belum bisa bayar bunga dan cicilan. Sementara tabunganku sudah habis untuk bayar bunga dan cicilan.  Untuk terus membayar bunga, aku tidak punya cukup uang. 2/3 gajiku habis hanya untuk bayar cicilan dan bunga. Bagaimana aku akan hidup di Jakarta. Aku tidak bisa mendesak Dian. Karena kalau aku bicara tentang utang bank, dia keliatan sedih. Aku tidak mau Dian sedih.


Akhirnya Dian hubungi aku via telp “ Mas, maafkan aku. Aku lagi ada masalah. “ Kata Dian dengan suara terisak. Membuatku tidak tega membicarakan soal bank akan sita rumahku. 

“ Dimana kamu, Yan. Kita ketemu sekarang ya.”

“ Baik Mas. Kita ketemu di cafe tempat biasa.” Katanya. Aku segera meluncur dari Bekasi ke bilangan Blok M.  Sampai di cafe itu, Dian  nampak murung. 

“ Ada apa Yan? Kenapa berhari hari hape kamu off ? Aku datangi tempat tinggal kamu, mereka bilang kamu tidak ada di rumah. “

“ Aku terjebak rentenir, Mas. Mereka kejar aku. Aku takut. “ Dian menangis.

“ Berapa hutang kamu ?

“ Hampir 1 miliar. “

“ Duh sayang. Kenapa sampai begini? kataku dengan nada hiba.

“ Maafkan aku mas. Sebaiknya aku mati saja.” Kata Dian dengan mimik putus asa.

“ Aku tidak bisa lagi bantu kamu Yan. Kamu kan tahu. Aku hanya pegawai. Hartaku kini hanya rumah. Itupun kalau tidak dibayar hutang, bank akan sita. Tabunganku sudah habis bayarin bunga dan cicilan.” Kataku. Dian menangis seakan menyesal dan kehilangan jalan untuk menyelesaikan masalah.


“ Maafkan aku mas. Kalau aku diberi waktu 3 bulan, aku bisa selesaikan semua. Ini aku dapat kontrak catering untuk perusahaan tambang. Sudah ada mitra yang mau kerjasama. Perusahaanku dapat goodwill  didepan sedikitnya Rp. 3 miliar atas kerjasama itu dan setiap  bulan masih dapat Rp. 50 juta. Itu lebih dari cukup untuk kita menikah. Engga repot lagi mikiran biaya hidup. Tapi semua sia sia. Kerjaku sekian tahun engga ada hasil. Maafkan aku.” Kata Dian dengan terisak isak. Dia nampak tak lagi bersemangat seperti biasanya.


“ Duh jadi gimana solusinya. “ Kataku bingung.

Dian lama menatapku. Akhirnya dia berkata “ Mas, aku ada usul. Tapi apa Mas setuju.? Kalaupun tidak, engga apa apa. Biar Dian selsaikan sendiri masalah ini. Apapun yang terjadi, Diah sudah siap. Maafkan Dian, ya Mas. “

“ Ya apa usul itu.” Kataku siap mendengar sebuah solusi. Nampak Dian menarik napas dalam dalam. Seakan berusaha siap menyanpaikan usul. “ Temanku mau lunasi hutangku di bank dan Rumah Mas bisa di roya. Tetapi setelah itu rumah mas dijual ketemanku. Sisa setelah bayar utang bank masih ada Rp. 1,5 miliar. Yang Rp. 1 miliar untuk bayar hutangku kepada rentenir. Dan Rp 500 juta untuk biaya perkawinan kita dan sewa apartement. Aku berharap januari kita bisa menikah. “ Kata Dian dengan hati hati.

“ Kamu yakin kontrak catering itu dalam tiga bulan bisa mendatangkan uang.” Tanyaku menegaskan.

“ Yakin sekali Mas. Ini sudah ada kontraknya.” Kata Dian memperlihatkan kontrak itu kepadaku. Begitu cara dia meyakinkanku. Bahwa dia tidak berbohong.

“ OK, kapan teman kamu bisa bantu lunasi hutang bank?

“ Besok bisa kok.” Kata Dian cepat dan keliatan mendung di wajahnya mulai menipis.


Keesokan aku dan Dian datang ke bank bersama temanya yang janji akan lunasi hutang dan roya jaminan Rumah punyaku. Benarlah. Tak lebih 1,5 jam urusan itu selesai. Pelunasan hanya  dengan cara pindah buku dari rekening teman Dian ke rekening Dian. Setelah itu bank lakukan pendebitan rekening Dian sebagai syarat pelunasan. Pada waktu bersamaan rumah itu di roya dan kembali kepadaku dalam keadaan bebas. Tapi pada waktu bersamaan rumah itu pindah ke teman Dian. Notaris sudah ada di  bank melakukan akta jual beli. 


Rp. 1,5 miliar masih ada di rekening Dian. Kami janji besok akan betemu untuk bayar utang Dian ke rentenir dan membuat persiapan untuk perkawinan. Tetapi besoknya , telp Dian off. Aku kebut mobilku ke rumahnya. Ternyata dia sudak tidak tinggal di rumah yang disewanya. Tak terhitung kali aku telp Dian, namun sia sia. Telpnya sudah tidak aktif lagi. 


Besok mau ke Yogya natalan. Temanku perlihatkan photo Dian dengan seorang pria. “ Dari dulu aku mau beritahu kamu. Bahwa pacar kamu itu pemain. Tetapi meliat kamu sangat bahagia dengan dia, aku jadi tidak tega. “ Kata temanku. Aku seperti terjatuh ke jurang terdalam.  Mau lapor polisi, tidak ada kontrak antara aku dengan Dian. Akta jual beli sudah terjadi secara legal. Rumahku melayang. Tabunganku ludes.


***

Aku marah dan sakit hati kepada Dian.  Dia bukan hanya menipuku tetapi juga membodohiku. Tetapi mau melampiaskan marah,  aku tidak tahu dimana Dian kini. Mungkin dia sudah melupakanku. Aku mulai dihinggapi paranoia. Aku  mengenal wanita seumur hidupku hanya dua orang, yaitu Sumiati dan Dian. Sumiati yang akhirnya terbukti pelacur namun jujur. Kemudian bertemu Dian, yang bukan pelacur tetapi pembohong dan penipu. Apa salahku. Apa dosaku?


Dari sahabat sosial media. Aku punya mentor virtual. Dari tulisannya aku mendapatkan banyak pencerahan. Aku japri tentang masalahku. Aku ceritakan semua masalahku. Walau dia musim tapi dia bijak menasehatiku. Dia berkisah yang hampir semua umat kristiani tahu kisah itu. Ketika Yesus duduk mengajar. Katanya mengawali tulisan via messenger. Tiba-tiba guru Taurat dan orang Farisi datang. Mereka membawa seorang perempuan yang langsung mereka paksa berdiri di tengah orang banyak. Perempuan itu tertangkap basah berzina, dan melacur.


“ Apa yang harus kami lakukan” Kata mereka. Yesus diam saja.  Dan mereka kembali mengingatkan Yesus akan pesan Taurat. “ Hukum Taurat Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu” 


Yesus menatap mereka yang siap merajam wanita itu. Kemudian Yesus berkata “ ”Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah. Suasana mendadak senyap. Tak ada yang bertindak. Tak seorang pun siap melemparkan batu, memulai rajam itu. Bahkan ”satu demi satu orang-orang itu pergi, didahului oleh yang tertua. Mengapa ? karena memang tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Apa hak manusia menghukum. Sedangkan Tuhan itu maha pengampun.


Akhirnya di sana tinggal Yesus dan perempuan yang dituduh pezina itu ”Aku pun tak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Kata Yesus.  Tak ada rajam. Tak ada hukuman. Kecuali anjuran untuk bertobat. Jangan lagi berbuat dosa.


Dari kisah itu, kamu bisa tahu. Bahwa kekecewaan kamu terhadap Dian, bukanlah dosa kepada Sumiati. Tuhan tidak menghukum pendosa. Karena menghukum seorang pendosa tak akan mengubah apa-apa; sebaliknya empati, uluran hati, dan pengampunan adalah laku yang transformatif. Jadi maafkan Dian. Dan kalau ada waktu temui Sumiati , minta maaflah. Selanjutnya lalui hidup dengan suka cita iman. Karena iman itulah yang akan menyelamatkan kamu dari kebodohan.


***

“Usia kamu sudah diatas 30. Tepatnya 35. Kapan kamu akan melamar Indiani. Cepatlah. Apalagi yang ditunggu.”  Kata Mas Anto. Aku diam saja. Aku tahu Mas Anto sebagai kakak tertua sudah seperti ayah bagiku dan adik adik. Terutama sejak ayah meninggal. Kedatanganku ke rumah Mas Anto di Yogya karena natal. Ibu tinggal bersama Mas Anto.


“ Hubungan kalian sudah terjalin 3 tahun. Bukan waktu singkat untuk sebuah hubungan. Ya sampai kapan.? Tanya Mas Anto., Aku terdiam. Aku merasa gagal sebagai pria kalau ingat kelakuan Dian.  Apa yang dapat kubanggakan. Walau kerja di BUMN. Usia 35 tahun aku tidak punya rumah. Tidak punya tabungan. Semua karena kebodohanku yang dibutakan karena cinta. Aku naif. Lebih naif dari Sumiati. Setidaknya.


“ Ya sudah.  Kalau memang Indiati terlalu berat syaratnya, Mas akan kenalkan wanita untuk kamu. Kenalan saja dulu. Wanita ini pegiat Gereja. Kesehariannya bekerja sebagai juru rawat di rumah sakit“ Lanjut Mas Anto. Aku tidak berani menolak. Walau aku masih trauma dengan wanita. Namun menolak, itu terlalu angkuh namanya. Toh kenalan tidak ada masalah. 


Aku datang ke gereja ikut misa natal bersama keluarga Mas Anto dan adik adiku. Di pintu gerbang. Mas Anto kenalkan aku dengan wanita. “ Kenalkan Sum,  ini adik Mas yang di Jakarta.” Kata Mas Anto memperkenalkanku kepada wanita itu. Setelah itu mas Anto sibuk dengan teman temannya. Saat itu aku seperti disambar petir. Ternyata di hadapanku adalah Sumiati. Senyum tulusnya masih seperti dulu. “ Apa kabar Mas? Sapanya.

“ Baik Sum. Kamu gimana ?

“ Ya beginilah.” Kata Sum dengan wajah tertunduk.

“ Sum..” Seruku.

“ Ya Mas..”

“ Maafkan kan Mas ya..”

“ Mas engga ada salah. Justru Sum yang salah. Sejak kita pisah.  Sum datang ke Gereja untuk bertobat. Aktifis Gereja tuntun Sum bertobat. Mereka bantu Sum dapat beasiswa di akademi perawat di Yogya ini. Kini Sum kerja di Rumah sakit” Kata Sum.


Babo, Natal ini sangat indah. Tidak ada dosa tampa ampunan. Pertobatan adalah jalan Tuhan yang selalu indah pada akhirnya.  Doakan semoga hubunganku dengan Sum berujung kepada pernikahan yang indah. Sehingga aku bisa menyanyikan lagu “ Beautiful  in white. Aku senang kalau Babo bisa bagikan kisahku kepada teman teman DDB. Agar mereka mendapatkan pencerahan. Sehat selalu Babo. Terimakasih nasehatnya. Salam untuk Oma. Semoga aku dapatkan istri setegar Oma..

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...