Tuesday, March 28, 2023

Doniku...

 




“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk.  Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doniku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.


“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol. Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he! “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk di korsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.


Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu, apalagi dimaki maki dan dimarahi di depan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”


“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda. Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “


“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “


Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas. Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.


Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian, ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. 


Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka di sekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gizi yang cukup dan lingkungan yang baik.


Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gizi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.


Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.


“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “


“ Biar dia bisa dididik dengan benar”


“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”


“ Ini sudah keputusanku, Titik.


“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.


Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.


Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.


Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.


Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “


Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.


Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.


Kuperhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.


Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal di rumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.


Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak dihabiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami, tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada di belakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.


Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud di kaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. Tidak, Bunda percaya kan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” 


Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.


Tapi akibat kejadian itu, suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku ” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Doni dari rumah.


“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.


“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.


***

Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. 


Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “


***


Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. 


Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.


Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku di rumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. 


Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Satu hari aku melihat sosok pria gagah berdiri di depan pintu rumah. Doniku ada di depanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.


Kehadiran Doni di rumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu dicemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. 


Tak lebih setahun setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya


“ Hidup ini bukan mencari rasa hormat di hadapan manusia. Hidup ini mecari ridho Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan adalah cobaan terberat dalam hidup dan cara menghadapinya hanya satu yaitu rendah hati dan berbagi. Kita harus berjalan dengan cara yang benar menurut Allah agar kita sampai kepada jalan sebenarnya. Dekatlah kepada Allah. Jangan pernah sekalipun tinggalkan sholat. Kalau kita dekat kepada Allah, maka Allah akan menjaga kita siang dan malam.   Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita di dunia ini selain Allah.? Apapun yang hllang selalu ada gantinya, tetapi kalau Tuhan hilang dari hati kita, maka itu tidak ada gantinya. Kita akan menjadi korban kehidupan yang akan menjadi sesal tak berujung. “


“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini pesan cinta dari Tuhan. Kita semua punya peran hingga membuat ayah terpidana koruptor. Allah sedang berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas. Tentang hakikat kehidupan, kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan.  Kembali dalam keadaan husnul khatimah. " Kata Doni. Aku menangis. Doniku memelukku dengan segenap cintanya. 


Tuhan memang tidak memberiku putra yang pintar dan terpelajar. Tapi Tuhan mengajarinya untuk hidup berakal  dan dia mendapatkan itu untuk menjadi cerdas dalam keimanan. Doniku cerdas secara spiritual dan cerdas secara intelektual. Dia mandiri dan bertanggung jawab kepada ayah dan ibunya, serta adik adiknya.  Doniku menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku di penjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram.  Kalau ada harta terindah maka itu adalah anak yang sholeh, Mahasuci Allah.

Saturday, March 25, 2023

Dia naif

 



Tahun 2010 saya datang ke Bangkok untuk bertemu dengan relasi saya, Aroon.. Pagi datang. Rencana malamnya saya kembali ke Hong Kong dengan pesawat terakhir.  Janji makan siang di grand millenium hotel Bangkok. Dari bandara saya langsung ke Hotel. Jam 12.45 saya sudah di hotel. Aroon sudah menanti. Kedatangan saya untuk bertemu face to face dengan dia sekedar meyakinkan bahwa deal yang dilakukan Wenny adalah tanggung jawab saya. Dia tidak perlu ragu soal sikap Wenny. 


“ Terimakasih B, saya senang. Perubahan kontrak untuk supply nafta ke petrokimia kami tidak ada agenda lain, justru memperkuat posisi kami sebagai produsen downstream oil. Kami akan patuhi SOP supply chain dari Yuan. Termasuk standa sumber daya keuangan. Wah kami benar benar punya mitra solution provider. One stop service dan transfaran “ Kata Aroon.


Aroon tidak bisa lama lama. Dia harus kembali ke kantor. Tapi dia sediakan supir dan asistennya mendamping saya selama di Bangkok. Setidaknya sampai Sore. Ingat pesanan istri untuk beli lukisan tenun Thailand. “ Dimana saya dapat lukisan tangan dengan teknik tenun.” Tanya saya kepada asisten Aroon. Wanita. Usia mungkin belum tiga puluhan. Namanya Achara.  


Dia menunjuk ke dinding cafe. ” Seperti itu ya “ 


“ Ya.” Kata saya melirik ke arah lukisan di tempel di dinding.


“ Anda tunggu saja di sini. Dalam 20 menit saya akan bawakan lukisan itu. “ Kata Achara.  Dia langsung berlalu. Saya tunggu aja sambil minum kopi dan baca news lewat laptop ukuran portable. Benarlah tak lebih 20 menit dia sudah datang dengan bukusan panjang. Dia perlihatkan isi bungkusan itu. Gambar gajah dengan benang tenun emas.  Halus sekali. “ Berapa harganya ? Kata saya. Mau ganti uangnya. 


“ Engga perlu pak.  Boss saya yang bayar” Kata Achara. 


“ Wah jadi merepotkan. “ 


“ Kami tidak tahu harus memberi apa hadiah untuk anda. Apalagi anda tidak suka hiburan ala bangkok. Waktu anda juga sempit. “ kata Achara. Saya menangguk dan tersenyum “ terimakasih”. Kata saya dan terus asik dengan komputer.  Achara tetap berdiri sedikit menjauh dari table saya. Namun dia siap untuk melaksanakan kebutuhan saya.


“ Pak, ..” Seru Achara.

Saya mendongak beralih dari komputer kepada Achara. “ Ada apa ?


“ Maaf, kalau terkesan naif.  Saya..”


“ Ya silahkan bicara. Engga usah sungkan” Kata saya melambaikan tangan “ Duduk di sini sajalah “ kata saya memintanya duduk disamping saya. Dia melangkah dengan santun. Setelah duduk dia masih diam.


“ Ada apa? Bicaralah “tanya saya dan berusaha tersenyum agar dia bisa relak. 


“ Saya punya keluarga di kampung. “ Katanya mulai berani bicara. “ Kami punya kebun jahe merah. Tapi bingung memasarkannya. Selama ini jual lokal dan ada juga ekspor dalam keadaan mentah ke Malaysia, India, dan China. Nilai tambahnya kecil. Apa mungkin kami dapat jalan bangun pabrik minyak jahe dan dapat dukungan sebagai supply chain industri.” Kata Achara. Saya membuka kacamata baca saya. Sempat berpiki sejenak. Saya sudah pengalaman di Indonesia. Yang paling sulit mendidik petani agar bekerja sesuai standar indusri.


“ Sudah produksi minyak jahe ? tanya saya.


“ Udah pak. Tapi dengan tekhnologi sederhana.”


“ Bisa saya dapat contohnya.” 


“ Bisa pak. “ 


“ Ya udah. Kamu kirim ke alamat saya di Hong Kong.” Kata saya memberikan kartu nama. Dia senang.


***

Seminggu kemudian, sekretaris saya memberikan paket dari bangkok. Saya buka paket itu. Isinya sampel minyak jahe dalam botol. Saya hirup aromanya. Tidak begitu kuat. Memang home industri untuk pengolahan hasil pertanian tidak aplicable untuk spek kebutuhan industri minuman atau industri pharmasi. Saya ignore saja. Ini buang waktu untu di follow up. 


Dua hari kemudian, datang pria muda datang ke kantor saya. Dia menyebut nama Achara. Saya izinkan dia masuk ke kamar kerja saya. “ Saya tidak bisa bantu pasarkan produk minyak jahe kalian. Maaf. Sampaikan ke Achara.” Kata saya to the point.


“ Bisa tahu sebabnya.?


Saya ambiil file spec minyak jahe yang diperlukan industri pharmacy dan industri minuman. “ Kamu test minyak jahe ini di lab dan bandingkan dengan spec requirement untuk bahan baku industri minuman dan pharmacy.” kata saya. Dia mengangguk. Dengan tersenyum dia berkata akan segera mempelajari spec requirement dari saya.


***

Setahun kemudian, Achara telp saya.” Bapak saya Achara. Apakah anda masih ingat setahun lalu di Bangkok” Terdengar suaranya di seberang.

“ Ya ada apa?

“ Boleh ketemu anda ?

“ Loh anda kan kerja di Petrokimia.”

“ Saya udah berhenti. Saya ingin membantu bisnis keluarga” 

“ Oh ok.”

“ BIsa pak?

“ Saya sedang di Ho Chin Minh. Datanglah kemari.”

“ Siap pak,  terimakasih.”


Sore harinya dia sudah  ada di Hotel saya. Saya terima dia di lounge executive. Dia perlihatkan gambar lahan pertanian. Proses tanam dan panen. Pengolahan secara sederhana. Saya lihat satu persatu photo itu.” Maaf. Saya berharap bapak bisa meninjau lahan pertanian kami. “


Saya tatap lama wajah Achara. Ini wanita naif. Dia pikir siapa. Seenaknya provokasi saya untuk bisnis yang engga jelas. Saya senyum aja. Kesan saya tidak bisa ditutupi bahwa saya tidak tertarik masuk terlalu jauh dengan obsesinya. Terlalu banyak di dunia ini orang punya impian. Bisanya hanya mengeluh dan berharap too good to be true. Telp masuk dari luar.  Saya bicara cukup lama. Usai, saya kembai ke Achara. “ Nanti saya pikirkan. Tapi saya tidak janji apapun.” Kata saya cepat.  Achara menganguk. Dia maklum. Karena saya terus sibuk terima telp. Dia pamit. Saya mengangguk seraya menerima uluran tanganya untuk salaman.


***

Malam hari saya pergi makan di kawasan distrik 2 Ho Chin Minh. Sekretaris saya dampingi saya. Saat akan masuk ke dalam kendaraan, di luar lobi ada Achara. Dia tersenyum kepada saya.  Saya dekati. “ kamu engga pulang ? Dia terdiam. Wajahnya keliatan lelah dan muram. Artinya dia sudah lebih 5 jam menanti di luar lobi. Pertarungan yang tidak mudah diatas harapan yang sangat kecil.


“ Mau temanin saya makan malam ? tanya saya. 

“ Terimakasih pak..tapi “ dia keliatan ragu.

“ Ayolah..” Kata saya mempesilahkan pintu terbuka duduk di belakang dengan saya. Sekretaris saya duduk didepan bersama supir. Akhirnya dia mau juga masuk ke dalam kendaraan.


“ Pak..Serunya saat dalam kendaraan “  beri saya peluang. Arahkan saya apa sebaiknya yang harus saya lakukan. Itu aja saya harapkan dari bapak. Maaf pak. Mungkin saya terlalu naif.” kata Achara dengan mata berlinang. Mungkin dia sangat berharap dan kehilangan cara untuk memprovokasi saya. Saya termenung.  Sepertinya saya membaca pesan cinta dari Tuhan dari sikap naif nya itu. Tapi saya tidak bisa memberikan too good to be true. Bagaimanapun pertimbangan bisnis yang utama. 


“ Pak, kami usahakan ekspor 200 liter minyak jahe ke pabrik yang jadi member supply chain anda. Proses produksi sesuai dengan spec requirement. Saya akan bangun mini industri untuk proses sesuai standar industri supply chain. Mesin itu memastikan proses 80% tidak ada human touch. Higines dan nol kontaminasi sejak dari pencucian dan penggilingan, pemecahan sel, sampai destilasi uap. Destilasi uap itu cara efektif sebagai separator menghasilkan minyak atsiri. “ Kata Achara saat sampai di restoran. Saya terkesima. Penguasaan tekhnis luar biasa.  “ Pak, saya perlu USD 100.000 beli mesin minin industri “ Kata Achara dengan ragu ragu. Naif memang. 


Saya tatap lama dia. Sampai dia salah tingkah.” Saya akan sediakan USD 100,000. “ Kata saya akhirnya membuat keputusan.. “ Nah seebelumnya kamu harus ajukan quotation kepada divisi trading saya untuk kontrak 200 liter. Setelah kontrak, kamu akan dapat uang dari saya secara personal “ kata saya. Achara langsung berlutut depan saya. Dengan merapatkan kedua telapak di dadanya , dia mengucapkan terimakasih. 


***




Tiga bulan kemudian saya dapat kabar dari Divisi trading Yuan, bahwa Achara sukses delivery ke pabrik minuman di Korea. Memuaskan. Setahun kemudian, Achara menyanggupi  long term kontrak sesuai standar supply chain global kami. Saya udah lupakan. Itu sudah urusan management Yuan. Soal uang USD 100,000 tidak lagi saya pikirkan. Karena dua tahun kemudian, berkat dukungan supply minyak jahe itu kami berpeluang melakukan ekspansi kapasitas pabrik minuman ginger ale. Sebagian lagi memenuhi kebutuhan pabrik pharmacy di China.


***

Tahun 2015, saya bertemu dengan Achara di KL. Dia tetap seperti dulu. Rendah hati dan terkesan inferior di hadapan saya. “ Pak, ini laporan keuangan perusahaan saya” Katanya menyerahkan map berisi lembaran kertas. Saya baca laporan keuangannya. Aset USD 12 juta. Hutang bank USD 5 juta. Laba ditahan 7 juta. Modal disetor USD 100,000. Saya tatap lama Achara. “ Apa maksud kamu dengan laporan keuangan ini? 


“ Perusahaan saya bisa berkembang berkat dukungan Yuan. Saya dapat akses ke lembaga keuangan untuk investasi dan modal kerja. Saya juga dapat training product knowledge dari devisi supply chain Yuan. Sehingga produk saya bisa masuk ke downstream lebih luas. Hampir semua jenis minyak Nabati sudah saya produksi. Value makin tinggi dengan menggunakan tekhnologi SFE. Nah, ini perusahaan bapak. Saya hanya kerja. Yang penting keluarga saya dapat jaminan market dengan harga yang tidak terpengaruh dengan musiman. Harga sesuai dengan pasar international” katanya menunduk. 


“ Saya siap ubah akte perusahaan untuk melepas semua saham kepada bapak.” Katanya lagi. “ terimalah saya bagian dari visi bapak “ Dia menunduk tanpa ada keberanian menatap saya.


“ Kemari ! “ kata saya meminta Achara mendekat saya. Saya peluk dia. “ kenapa kamu terlalu terbawa perasaan. Ini hanya soal bisnis. Saya berjudi setiap hari. Kadang kalah, kadang menang. Biasa saja. Berkat kerja keras kamu, pabrik minuman saya di korea bisa berkembang dan pabrik herbal saya di china mendapatkan bahan baku yang berkualitas. Kamu telah menjadi mitra sejajar dengan saya. Tidak usah terlalu merendahkan diri. Lupakan soal transfer saham kepada saya. Kelola aja bisnis itu dengan baik. Paham ya sayang.” kata saya dan kemudian melepas pelukan saya. Tapi dia semakin mempererat pelukannya. Tanpa bersuara. Saya tahu Achara menangis.


“ Pak..” Katanya setelah melepas pelukannya. “ Saya sebenarnya anak yatim. Saya dibesarkan orang tua angkat. Mereka sekolahkan saya sampai jadi sarjana. Walau saya sudah mapan bekerja di perusahaan negara bidang Petrokimia, tapi saya tetap merasa berhutang kepada keluarga orang tua angkat saya. Makanya saya putuskan berhenti kerja. Saya ingin manfaatkan ilmu sarjana kimia  saya untuk  membantu mereka medapatkan keadilan atas sumber daya yang mereka punya. Tanpa sains tidak mungkin mereka bisa berkembang. Tapi saya tidak ada jalan dapatkan modal. Saya berdoa siang malam kepada Tuhan agar dapat jalan. Entah mengapa saat pertama bertemu bapak, seperti ada cahaya. Saya yakin. itu tanda dari Tuhan atas doa saya selama ini.” Katanya. Saya senyum aja. 


Tahun 2018, Achara sudah membangun refinery ginger oil dengan mesin modern. Omzet nya kini pertahun sudah mencapai USD 150 juta atau hampir Rp. 2 triliun. Tahun 2022 saya bertemu dengannya di Bangkok. “ menikahlah, Usia kamu udah 35 tahun. Kapan lagi mau menikah” Kata saya saat bertandang ke rumahnya.


“ Belum ada jodoh. “Katanya tersenyum. 


Saya minta izin sholat. Dia persilahkan sholat di Kamar nya yang bersih. Di dalam kamar itu ada photo saya dengan dia tahun 2010 saat saya menerima lukisan bahan tenun. Ada tulisan dibawah photo itu. You've opened my eyes. And showed me how to be smart and unselfishly.  Saya terhenyak. 

Friday, March 24, 2023

Kekuasaan ala Machiavelli



Kami duduk berhadap-hadapan di ruangan sebelum boarding pesawat. Sepertinya aku kenal. Ya pasti kenal. Betapa tidak. Diam diam aku suka dia. Entah mengapa suka. Tidak perlu dijelaskan. Dia cantik pastinya. Cerdas dan terpelajar. Doktor bidang Ekonomi. Saat aku kali pertama mengenalnya 15 tahun lalu. Usiaku 45 tahun dan dia 35 tahun. Dia salah satu pengajar program short course Supply chain management di Universitas di Eropa. Caranya mengajar sangat komunikatif. Aku yang hanya tamatan SMA bisa mencerna pelajaranya dengan cepat.  


“ Anda bisa cepat menguasai pelajaran, karena anda termotivasi pada business supply chain. Itu umum terjadi pada peserta kursus dari kalangan business man. Beda dengan peserta kursus dari karyawan atau mahasiswa.” Katanya dengan berwibawa seraya menyerahkan sertifikat. Aku tidak begitu peduli dengan sertifikat itu. Karena keberadaanku dalam program short course itu hanya mengisi waktu senggang selama 7  bulan mengembangkan bisnis Asset Management di Eropa. 


“ Apa rencana anda dengan menguasai kursus ini? Tanyanya. Aku memang merahasiakan profile ku. Dia hanya tahu aku sebagai pedagang UKM di Indonesia, yang sedang mencari ilmu untuk berkembang. Setidaknya selama kursus aku bisa lebih memahami supply chain management. Ini berkaitan pengadaan, manajemen life cycle product, perencanaan stok dan likuiditas, pemeliharaan aset, dan logistik. Pengetahuan ini sangat penting untuk  memahami sumber daya dan mendalami proses manufaktur. 


Tujuanku sebenarnya bukan sekedar mempelajari Supply chain management tetapi lebih daripada itu ingin mengembangkan bisnis jasa trading untuk membantu produsen tetap kompetitif di pasar yang terus berubah. Ini akan memastikan kesuksesan mereka di masa depan. Selain itu, dengan gangguan rantai pasokan global yang terus menjadi ancaman, memberikan solusi kepada produsen untuk merespons dan mengelola risiko ini dengan cepat. Jadi bukan sekedar bertindak sebagai pedagang tetapi solution provider. Ini obsesi-ku terhadap Yuan Holding di masa depan.


 “ Maaf, apakah nama anda Lilian? Sapaku dengan ramah. “ Pengajar supply chain mangement di London tahun 2009.”


“ Ya benar. Sudah lama sekali. Maaf kalau saya tidak bisa mengingat satu persatu perserta kursus ” Katanya. Dia Cantik. Sedangkan aku sudah menua.  


“ Nama saya Ale “Kataku memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan untuk menjabatnya. Dia menerima jabatan tanganku dengan angkuh. Aku tahu diri saja. 


“ Dari anda saya dapatkan penjelasan lebih mudah tentang supply chain. Sehingga  saya bisa melewati kursus dengan mudah. “Kataku dengan sedikit memujinya.


“ Tapi sekarang saya  bekerja di Investment Holding. Kantor saya di Singapore. Kantor Pusatnya di Hong Kong “ Katanya. “ Business nya berfacus kepada jasa supply chain untuk industri pertanian, mineral, kimia. Perusahaan dilengkapi dengan sistem digital logistik, cash management, warehousing untuk inventory dan perkapalan. “Lanjutnya.


“ Mengapa anda tidak bekerja di Indonesia. Bukankah Indonesia butuh skill seperti anda.” Kata saya.


“ Walau saya orang Indonesia, sulit untuk profesional seperti saya bekerja di lingkungan yang korup dan standar akuntabilitas yang rendah. Saya lebih memilih di Singapore saja dan tidak mau bekerja di perusahaan milik orang Indonesia.”


“ Mengapa ?


“ Pengusaha indonesia itu nepotisme. Profesionalitas tidak berkembang. Mereka hidup kebanyakan dari rente” Katanya.


“ Gimana bisnis di Singapore ? Tanyaku. Aku mau tahu perspektif nya sebagai mentorku.


“ Sekarang Singapore dapat berkah. Bank kelebihan likuiditas berkat surplus ekspor Indonesia. Itu juga berkat windfall dari kenaikan harga komoditas, bukan karena nilai tambah industri. Indonesia sejak era SBY sampai sekarang memang terjadi deindustrialisasi. Sementara Singapore industri tumbuh dengan pesat terutama industri IT. “ Katanya. 


Aku memilih menyimak saja. Ya dia memang mentorku, setidaknya aku pernah 3 bulan mendapat ilmu dari dia.


“ SDA kita besar. PDB kita terbesar 16 di dunia. Tapi likuiditas perbankan kalah jauh sama Singapore. Padahal PBD Singapore 1/3 PDB Indonesia. Asset perbankan Singapore juga lebih besar dari Aset perbankan Indonesia.  Data statistik konsumsi rumah tangga yang berkotribusi 55% dari PDB, pertumbuhannya selalu dibawah angka pertumbuhan ekonomi. Itu artinya tingkat kesejahteraan kita semakin tahun semakin turun nilainya. Dan lucunya karena itu kekuasaan tetap kokoh berdiri dan setiap presiden berganti selalu dibebani harapan. Ternyata harapan omong kosong semua. Kita engga kemana mana. “ Kata Lilian. 


" Sepertinya singapore itu kaya berkat punya tetangga indonesia yang bodoh dan malas. " Kata Lilan kemudian.


Wah ini sepertinya dia punya concern yang besar terhadap nasip bangsa Indonesia. Memang pekerja migran lebih objectif menilai negaranya daripada mereka yang kerja di Indonesia. Visi mereka luas,  seluas gaulnya.


“ Mengapa ? tanyaku seperti dulu jadi muridnya.


“ Untuk menjawab pertanyaan kamu. Sebenarnya tidak sulit. Fenomena kekuasaan itu sudah dibahas secara vulgar oleh  Nicolo Machiavelli dalam bukunya the Prince.”Katanya. 


Aku menyimak.


“ Kekuasaan itu didapat dari merangkul orang lemah dan frustrasi. Dan mengajak mereka untuk bersatu melawan siapa saja dengan janji populis. Walau cara mendapatkan kekuasaan itu tidak etik dan tidak bermartabat. Itu tidak penting. Karena selalu ada pembenaran bagi pemenang. Ketika berkuasa, maka yang dilakukan adalah membuat aturan yang membungkam orang lemah itu dulu. Di era sekarang, dibungkam lewat UU ITE. Hanya dianggap melanggar pasal hate speech, itu bisa mengurung orang 5 tahun penjara sedikitnya.


Machiavelli tidak mengutuk kejahatan sebagai alat kekuasaan. Dia malah menyarankan tindakan amoral dilakukan dengan cepat. Penguasa juga perlu mencari cara agar rakyat selalu bergantung pada negara. Kalau sistem diperlukan agar simiskin tidak bisa mengakses sumber daya, ya sistem itu akan di-create. Pada waktu bersamaan penguasa membagi bagi sumber daya kepada elite yang mendukung kekuasaannya, untuk agar elite itu jadi budak kekuasaan. “ Katanya.


Lilian terdiam sebentar. Aku sabar menanti wejangannya. 


“ Sebenarnya indonesia berusaha membangun agenda state of capitalism. Namun tidak dengan agenda seperti Singapore dan China, yang mana BUMN nya lead  terhadap bisnis strategis. BUMN bertugas melaksanakan agenda ekonomi Walt Whitman Rostow. Yaitu negara diwajibkan hadir untuk mendistribusikan sumber daya  seraca proporsional kepada rakyat sesuai dengan tahapan pembangunan yang terprogram dan konsisten. Sayangnya Indonesia, sejak reformasi kita berubah bukan kepada peningkatan nilai atas dasar agenda yang jelas, tetapi lebih pragmatis dan too good to be true. Akibatnya distribusi sumber daya tidak terprogam, jatuh tidak kebawah tetapi berputar diatas saja. Rasio GINI tetap lebar.” Kata Lilian. 


Pembicaraan terhenti. Karena kami harus masuk boarding. Dia tersenyum melambaikan tangan masuk lebih dulu. Maklum dia duduk di business class. 


***

Sampai di Bandara Changi kami bertemu lagi di kuridor kedatangan. Dia menanti taksi dan aku menanti jemputan dari Yuan holding. Dia terkejut meliat supir dengan seragam Yuan. Dia mendekatiku.


“ Anda siapa ?tanyanya mengerutkan kening.


“ Ale, kan tadi saya udah beritahu nama saya.”


“ Maksud saya, mengapa anda dijemput kendaraan Limo. Ini hanya untuk CEO saya. “ Katanya. 


“ CEO ? Aku terkejut. Mangapa dia tahu ini kendaraan CEO Yuan Holding. " anda kerja di Yuan Holding? tanyaku.


" Ya saya Business development director " Katanya seraya mengangguk. 


“ Mari satu kendaraan dengan saya. Saya turun di Mandarin Hotel dan kamu terus ke kantor dengan kendaraan ini. ” Kataku ramah. 


" Tapi ini kendaraan Mrs Fiona, boss saya. Engga boleh saya dalam kendaraan ini" Katanya bingung. 


" Engga apa apa. " Kataku menguatkan untuk tidak ragu masuk kedalam kendaraan.


“ Anda belum jawab pertanyaan saya, Mengapa anda dijemput kendaraan boss saya. Yuan kan dimiliki Tycoon Hong Kong. “ Tanyanya.


“ Kebetulan saya kenal dengan salah satu pemegang sahamnya."Kataku cepat.


“ Yang mana ? Ibu Wenny atau Steven, Wada, Richard. Yang mana teman anda?


“ Ibu Wenny. “ Kataku singkat.


“ Hebat ada orang indonesia kenal dekat dengan Tycoon Hong Kong. "Katanya dengan nada percaya tidak percaya.  " Bisnis anda di Jakarta apa ? Lanjut tanya lagi.


“ Penulis dan pembaca doa.”Kataku singkat. Dia mengangguk namun menatapku dengan wajah mengerutkan kening. "  Maaf, saya naik taksi aja. " Katanya ramah. Ya udah bye bye..

Menentukan pilihan...

  Tahun 1984, selesai briefing team sales di kantor. Kami segera bergerak menuju target pasar. Kantor kami di Ratu Plaza. Di lobi Aling namp...