Posts

Showing posts from December, 2021

Hutang...

Image
  Tadi malam Nazwa ke rumah tantenya untuk menikmati detik detik menjelang tahun baru. Jadi saya dan oma di rumah berdua aja. Saya baca lewat notepad di kamar kerja. Oma sedang merajut buat sweater. Dia tahu saya akan pergi lagi ke China. Sweater itu lapisan  pakain luar penahan dingin. Oma mendekati saya.” Papa sedang ngapain? “ Ini papa lagi desk riset. Baca pendapat para ahli dan praktisi soal peluang investasi dan ancaman inflasi tahun 2022.” “ Kenapa harus tahu pendapat mereka” “ Bisnis kan harus terus bergerak ke depan. Itu perlu hutang. “ “ Apa kaitannya dengan inflasi? “ Kan kalau inflasi tinggi, akan memaksa pemerintah menarik uang beredar dengan menaikan suku bunga. Dan otomatis uang perbankan pindah ke surat berharga yang diterbitkan bank sentral. Termasuk dana pensiun juga pindahkan dananya ke surat hutang negara. Akibatnya susah kita mau investasi. Karena uang nongkrong ditempat aman.” “ Kan hutang itu gampang.Asalkan ada jaminan ya bank beri kredit. Engga ada resiko.” “ B

Di Gambir itu...

Image
    Saya dari pasar ikan dengan kendaraan Yuni menuju jalan Thamrin. Di jalan Jayakarta saya mampir beli rokok di Indomaret. Selesai beli rokok, di pinggir jalan depan Indomaret ada pedagang grobakan. Saya dengar  pria itu sedang marah kepada wanita yang gendong bayi.  Keta katanya sangat kasar. Sepertinya pria itu suaminya. Marah karena istrinya datang dari kampung menyusulnya. Wanita itu didorong oleh pria itu. Terjatuh bersama Balita. Entah mengapa saya spontan mendekati wanita itu. Menggendong balitanya. Balita itu menangis. Saya dekap dekatkan ke dada saya. Balita itu berhenti menangis. Dan wanita itu segera berdiri. Kembali dia mau mendekati pria itu. Tetapi dibentak dan dihujat dengan kata tak senonoh. Wanita itu terdiam. Di menoleh ke belakang meliat saya gerdong balitanya. Dia ambil balitanya dari saya. Airmatanya berlinang. Dia pergi.   Saya terhenyak. Saya mematung meliat wanita itu berjalan menjauh dari suaminya. Saya kembali ke kendaraan Yuni. Ketika kendaraan mau jalan “

Natal yang indah..

Image
  Waktu kuliah di Semarang, aku punya teman wanita. Dia tetangga tempatku ngekos. Namanya Sumiati. Menurut Sumi,  dia bekerja pada sebuah biro jasa. Biaya hidup dan kuliahku ditanggung Mas Anto kakak tertuaku yang pedagang kelontongan di pasar tradisional. Tentu uang yang kuterima setiap bulan sangat pas pasan. Tetapi kalau aku kurang uang, Sumi selau beri aku uang. Lama lama aku terikat moral dengan Sumi.  Sampai akhirnya aku jatuh cinta. Sumi memang lumayan cantik tetapi naif. Dia tipe wanita Jawa. Nrimo dan tidak mementingkan diri sendiri. Dia hanya tamatan SMU. Bukan teman enak diajak diskusi. Dia lebih suka mendengar. Ragu berbeda pendapat denganku. Walau belum menikah, Sumi tidak menolak aku setubuhi. Tentu pakai pengaman. Karena aku belum siap berkomitmen. Aku tahu bahwa aku bukan pria pertama yang bersetubuh dengannya. Terbukti ketika aku setubuhi, dia sudah tidak perawan. Aku bisa menerima. Suatu waktu, aku dapat informasi dari Ibu kos. Bahwa Sumiati bekerja sebagai wanita pan