Thursday, March 31, 2022

Melukis di atas pasir

 




Tahun 2002 Udin diundang ke rumah temannya yang pengusaha. Teman ini punya koneksi kuat di Laskar Nasional (LN). Tinggalnya saja di Cijantung, Komplek Laskar. Rumah yang dia tempati tadinya milik Jenderal bintang IV. Setelah berbicara panjang lebar selama hampir 1 jam, teman Udin berkata “ Gua dan Jenderal S mau mendirikan partai. “


“ Partai yang ada aja susah menang lawan pemenang pemilu yang sudah lama eksis, apalagi partai baru” Kata Udin tersenyum seakan meminta temanya jangan halu.


“ Kamu dengar dulu. Engga ada yang engga mungkin di republik ini kalau ada uang. Saya sudah survey di pantura Jawa dan wilayah Tapal Kuda yang merupakan basis merah. Saya tanya mereka pilih uang atau merah. Dari 100 yang saya tanya 100 jawab pilih uang. Ini masalah perut. Rakyat capek bicara politik. Berganti rezim tetap aja mereka miskin.” Kata Teman udin dengan retorik.


“ Terus darimana uang? emang sedikit biaya untuk menang?. Apalagi partai baru.” Kata Udin ketus.


“ Ya dari para obligor BLBI. Mereka engga happy dengan kebijakan MSAA untuk bisa dapatkan R&D.  Ada ratusan triliun mereka dirugikan lewat skema itu. Kalau mereka korban uang untuk politik Rp. 20 triliun kan kecil untuk jadikan seorang presiden dan partai pemenang pemilu.” Kata teman Udin tersenyum.


“ Ok lah. Terus gimana mengorganisir proses menjadi pemenang. Kan butuh akar rumput. Emang bisa bangun akar rumput dengan cepat. Apalagi beberapa bulan doang.”


“ Ah gampang itu. Yang jago menggerakan akar rumput itu hanya Laskar nasional. Karena LN punya sistem Hamkamnasrata. LN punya sumber daya untuk menggerakan semua elemen masyarakat, termasuk tokoh masyarkat dan Islam lewat gerakan primordial. Uang akan mengalir lewat mereka. Tentu lewat operasi intelijen. Kan politik. Maklum dong, ka LN engga berpolitik. ” Kata teman Udin. Omongan terakhir ini membuat Udin terkejut. Wah ini serius urusannya. Benar benar smart.


***

“ Bro, lue datang ke kantor tempat gua lagi meeting” Kata teman Udin lewat SMS. Udin segera meluncur ke alamat kantor di Jalan Sudirman.  Udin menanti di ruang tunggu selama temannya lagi meeting. Temannya keluar dari ruang meeting dan menghampirinya untuk ajak jalan ke Hotel Sultan. Udin sempat melirik tamu yang keluar dari ruang meeting itu. Ada 7 orang. Udin kenal semua wajah mereka. Mereka adalah konglomerat yang tersangkut kasus BLBI. Hanya satu yang pribumi.  


“ Itu tadi sponsor. Tapi dari 7 orang itu hanya satu boss. Disebut aja Bos Naga. Yang enam orang hanya proxy. Ya boneka untuk menggelapkan aset. Bos itu mau biayai semua sesuai anggaran. Tetapi syaratnya dia engga mau ketemu langsung dengan capres dan calon pengurus partai. Dia hanya izinkan pengusaha yang dia kenal untuk jadi penghubung antara dia dan capres. “ Kata teman Udin.


“ Kenapa ?


“ Ya dia engga mau ambil resiko. Kalau menang sih bagus. Kalau kalah kan hancur mereka sama lawan politik. Jadi silent operation aja. Yang penting uang akan mengalir melalui penghubung dia. “ 


“ OK modal udah dapat. Terus akses ke LN dan  Islam gimana? “ Tanya Udin.


“ Teman gua yang jenderal akan atur pertemuan dengan dua orang. “ Kata teman Udin. Ketika menyebut nama dua orang itu Udin langsung bereksi.” Loh kedua orang itu menteri kabinet presiden sekarang. Apa iya mereka mau berkhianat. “


“ Siapa yang engga mau kekuasaan? Kekuasaan itu sama dengan uang. Paham lue “ 


“ Terus..”


“ Kalau mereka mau, gua akan atur mereka berdua ketemu dengan  boss Naga, ya tentu melalui penghubungnya.  “


Sampai di Hotel Sultan sudah ada beberapa tokoh islam dan ormas di ruang seminar berukuran kecil.  Pertemuan itu memperkenalkan kapasitas mereka masing masing sebagai tokoh yang bisa menggerakan akar rumput. Arranger yang atur pertemuan itu adalah pensiunan Laskar. Sejak itu Udin memutuskan tidak ingin bertemu dengan temannya. Apalagi Udin sudah hijrah ke luar negeri.


***

Benarlah. Pemilu tahun 2004, dimenangkan oleh Partai baru berdiri. Dan yang jadi presiden dan wakil adalah dua mantan menteri presiden sebelumnya.  Yang membuat Ketua Umum Partai Merah marah adalah mereka berdua sengaja deal dengan konglomerat yang berseteru dengannya. Padahal mereka berdua ada dibalik kebijakan soal BLBI. Bahkan mereka berdua anggota team penyelesaian BLBI. Jadi hanya pengkhianat yang pantas untuk mereka.  Tetapi bagaimanapun itulah politik. Tentu pemenang punya alasan untuk tidak disebut pengkianat.


Setelah dua periode kekuasaan, menjelang akhir kekuasaan tahun 2013, ada jenderal bintang tiga mantan dubes Singapore didatangi  boss Naga. Kebetulan mereka memang sudah lama bersahabat. Boss ini kecewa dengan presiden. Katanya hampir dua peridoe kekuasaan engga juga selesaikan kasusnya. Digantung engga jeas. Pada pemilu 2014, dia mau dukung siapa saja calon presiden asalkan bisa bantu dia. 


Jenderal ini menghubungi mantan wapres tahun 2004-2009 untuk melobi Ketua Umum Partai Merah agar mendukung Gubernur Ibukota jadi capres. Alasannya Gubernur Ibukota itu disamping track recordnya bagus juga orang jujur dan capable. Yang penting jenderal ini udah kenal lama dengan Gubernur ibukota itu. Maklum dia pernah bermitra dalam bisnis waktu gubernur itu jadi pengusaha.


***

Ketua Partai Merah tidak begitu saja setuju usulan dari eks menterinya waktu dia presiden 2002 . Dia ingat pengalaman dikhianati tahun 2004. Namun suami dari Ketua Partai Merah itu diyakinkan oleh salah satu jenderal sahabat dari eks menterinya itu, bahwa laskar nasional siap mendukung proses suksesi melalui konstitusi. Keadaannya mencair. Karena bagi partai merah kalau LN siap berati semua terkendali. Apalagi barisan Islam akar rumput siap membantu. Aman. 


Namun ketua Partai merah tetap tidak mau berhubungan dengan Boss Naga. “ Kalau mau dukung yang dukung aja. Tetapi tidak ada konpensasi politik. Kasus hukum kalau memang belum selesai ya jalan terus sesuai UU.”  Katanya yang kekeh dengan sikapnya patuh kepada UU. Tegar seperti batu karang di tengah samudera. Komitmen yang tidak jelas itu, membuat bos naga tidak seratus 100 % mendukung. Itu sebabnya dia melirik ke partai lain. Situasi ini membuat semua partai punya peluang mendapatkan dukungan dari Boss naga. Capres Partai Merah berusaha mendatangi partai  lain untuk berkoalisi. Tapi karena tidak ada deal yang ditawarkan, ajakan koalisi disikapi dengan dingin. 


Kontestan Capres 2014 jadi tiga pasang. Partai merah sepi dukungan partai koalisi. Keadaan semakin rumit karena sikap ketua partai yang tidak bisa pragmatis. Padahal tampa dana sulit untuk menang dalam Pemilu. Sikap yang tidak pragmatis ini disikapi secara politik oleh eks menterinya yang juga mantan wapres 2004-2009. “ Engga ada masalah Bu.  Kalau menang, kita sama sama kawal presiden kita. Kan saya ada disamping presiden sebagai wapres. Saya jamin ” katanya. Ketua partai merah tetap tidak menerima. Namun setuju proposal pembagian jatah menteri di kabinet. Tim sukses dibagi dua. Dari partai merah dan dari Boss Naga.  Masing masing bersinergi dengan komando berbeda.


Kalau tahun 2004 jenderal S yang menjalin koneksi dengan LN, namun pada pemilu 2014 peran itu digantikan oleh Jenderal W yang bertugas memback up dukungan LN kepada partai Merah di akar rumput. Sementara Cawapres bertugas menarik dukungan akar rumput kelompok islam. Mendengar kabar bahwa boss naga komit medukung, salah satu kontestan mengundurkan diri. Yakin engga bakal menang kalau lanjut. Koalisi yang sudah dibangunya pindah ke gerbong PS ( lawan capres Partai Merah). Partai merah tetap saja sepi koalisi. Tapi Boss naga ada di belakang. 


Akhir cerita kontestan yang diusung Partai Merah memenangkan pemilu 2014. Bukan itu saja. Partai merah mendulang suara banyak di Pemilu legislatif. Partai merah juara 1 dan sukses mengalahkan partai mercy dan menggeser koalisi partai itu yang pernah membuatnya jadi oposisi selama 10 tahun. Benarlah. Beberapa pengusaha penghubung Boss Naga jadi menteri. Bahkan eksekutif perusahaan yang menguasai saham mayoritas bank swasta terbesar jadi menteri juga ( nanti baca episode profile Boss Naga).


Di awal kekuasaan memang tidak mulus hubungan presiden dengan ketua Partai merah. Khususnya terkait pemilihan Kapolri. Namun setelah lewat lobi dari Wapres, akhirnya bisa kembali normal. Mengapa ? Karena agenda Partai merah semua jadi prioritas pembangunan khususya toll laut, pembangunan infrastruktur, reformasi tata niaga migas, dana desa dan program reforma agraria lewat pembagian lahan  kepada rakyat. Maklum Ketua Partai Merah ingin memperkuat panestrasi pemilih partainya. Kalau program itu semua sukes, partainya diuntungkan secara politik. 


***

Setelah tahun 2004 proses politik tidak mendukung memuluskan penyelesaian kasus BLBI. Presiden semakin sulit dihubungi dan diajak bicara. Dia dicuekin. Karena bisnis Batubara semakin berkibar. Para OKB semakin banyak  merapat ke istana dan ke elite politik yang berkoalisi dengan penguasa. Yang miris para proxy dari Bos Naga membangun jaringan ke istana hanya untuk kepentingan pribadi mereka saja. Merekapun mendadak jadi orang kaya raya dan terdaftar sebagai 100 orang terkaya di Indonesia.  Bos Naga tahu bahwa situasi bisnis semakin tidak berpihak kepadanya. 


Dia menjauh dari euforia bisnis batubara.  Dia tidak tertarik dengan bisnis rente. Setelah sebagian besar perusahaannya diambil alih oleh pemerintah dalam rangka MSAA, dia focus mengembangkan perusahaan yang masih tersisa untuk bisa dia kembangkan. Lambat namun pasti dia bisa mengembangkan perusahaan secara luas. Dari hulu sampai hilir industri makaan dia kuasai. Bahkan jaringan retailnya terus bertambah menjagkau seluruh pelosok tanah  air. Itu berkat dukungan mitra internationalnya.


Bersama mitra globalnya dia mengembangkan bisnis dowstream CPO sampai ke luar negeri. Totalnya lebih 500 pabrik dia bangun di luar negeri. Termasuk juga membangun food industry di beberapa negara bahkan sampai ke Afrika.  Bahkan bisnis jaringan retailnya merambah ke Australia dan China. Sementara kasus atas akad MSAA yang dia merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah belum juga tuntas. Bahkan status hukum juga tidak jelas. Padahal kalau sudah teken MSAA itu dianggap lunas kewajibannya. Namun R&D pun digantung tampa ada kepastian hukum.


Tahun 2008, krisis Wallstreet terjadi. Presiden tidak butuh dia lagi untuk pemilu berikutnya. Karena ada bandar tambang batubara yang siap jadi pendana atau sponsor. Dia diam saja. Tapi dia tidak bodoh. Dia sudah ukur bahwa pada akhirnya OKB yang ada disekitar presiden itu akan kesulitan akibat krisis financial global.  Benarlah. Sejak tahun 2010 mulai terjadi kelangkaan likuiditas. Bos naga secara berangsur mulai mempreteli asset mereka dan membuat mereka lemah. Sehingga tergantung kepada dia. 


Bahkan saham perusahaan dari keluarga mantan penguasa Orba juga dia ambil alih secara hostile lewat shadow banking. Maklum mereka butuh  biaya mahal untuk keluarganya. Pendapatan tidak ada. Dia datang memberikan kemudahan kas bon. Namun lambat laun kas bon jadi membesar sehingga saham disitanya. Praktis proxy dari ex keluarga orba jadi proxy dia. Tahun 2013 praktis hanya dia yang likuid. Sementara pengusaha yang dekat dengan istana pada loyo karena harga batubara jatuh di pasar dunia.


Itulah sebabnya tahun 2013 ketika proses suksesi menjelang berakhir dua periode jabatan presiden,  dia didekati oleh temannya yang juga jenderal pengusaha. Tahun 2014 Pemilu dimenangkan oleh partai merah. Sahabatnya tidak ada dalam kabinet. Dia kecewa. Belakangan ditunjuk jadi KSP dan waktu pergantian kabinet sahabatnya jadi MenkoPolhukam. Ini kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya. Tetapi tidak lama kemudian temannya digeser dari Menkopolhukam. Ya wakil presiden justru mempersulit upayanya menyelesaikan kasusnya. Kandas sudah.


Melalui proxy nya dia juga ikut terlibat divestasi saham tambang emas di NTB. Sebelumnya bersama mitranya dia sudah punya tambang emas di Sumatera.  Melalui penguasaan saham di tambang emas ini dia lakukan SWAP aset dengan PIC di Hong kong , yang juga pemegang saham mayoritas Bank swasta terbesar di Indonesia. Namun upaya ini gagal. Padahal eksekutif dari PIC punya posisi menteri investasi. Dia tenang saja. Dulu waktu lelang BPPN, sumber dana PIC berasal dari mitra globalnya.. Karena kontrak opsi buy back yang dimiliki mitra globalnya  sudah dia kuasai. Praktis pemegang saham bank itu hanya proxy.


Selama lima tahun periode pertama presiden masalahnya tidak juga selesai. Tahun 2019, praktis hanya dia yang punya sumber daya keuangan. Walau berat, dia siap mendukung seperti tahun 2013. Berharap kasusnya bisa selesai dan dia bisa focus membangun indonesia. Tahun 2019 Pemilu kembali memenangkan petanaha.  Dia berhasil menempatkan beberapa temannya di posisi menteri. Namun tetap saja tidak mudah. Proses politik terlalu rumit untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan uang. Apalagi para proxy juga tidak semua loyal. Mereka tidak ingin kasus dia selesai dan mereka jadi nothing. Para politisi juga ingin terus dapat saweran uang dari para proxy.


Tahun 2020 dan 2021 ditengah pandemi, likuiditas mengering. Kalau tidak selesai juga kasus ini tentu dia bisa bersikap pragmatis. Cari teman baru. Ini masalah bisnis. Kan engga bisa thank you terus..


***

Kekuasaan lahir dari partai. Namun dipasarkan lewat media dan dibiayai oleh pengusaha. Dalam sistem demokrasi itu alurnya. Mau idiologi atau agama, sama saja. Partai mendelivery calon pemimpin kepada rakyat dan rakyat yang menentukan. Terima atau tidak. Prosesnya melibat sumber daya partai. Sumber daya itu perlu modal untuk menggerakan mesin partai. Dari sejak kampanye ,  gandeng ormas sampai kepada pengawalan suara di TPS sampai ke pusat. Kurang modal kampanye? suara disikat lawan. Kurang modal pengawasan proses pemilu? suara dilipat lawan. Ya kompetisi namanya.


Bagi partai masalah pileg engga perlu modal besar. Bahkan itu bisa jadi tambang uang bagi partai. Yaitu dari caleg yang akan ikut Pileg.  Biaya kampanye dan pengawalan suara ditanggung oleh Caleg. Tetapi kalau Pilpres, nah ini biaya ditanggung oleh partai. Engga mungkin dibebankan kepada caleg. Karena mereka juga sudah habis habisan untuk biaya kampanyenya sendiri. Dari mana partai dapat uang? Ya dari pemodal. 


Di Indonesia ini jalur pemodal ada tiga grup. Satu groua A. Ini group pengusaha tambang. Itu jalurnya lewat SBY. Maklum ketika tambang booming itu diera dia. 90% konsesi tambang yang ada sekarang dikeluarkan era dia. Tetapi jalur group A ini tidak bisa langsung ke SBY.  Ada pihak penghubung yang sangat dipercaya. Yang juga pengusaha. Kalau dia ok maka dia akan koordinasikan kesemua teman temanya untuk bergerak sesuai arahan SBY. Saat sekarang Grup A sedang naik daun sejak harga tambang naik terus.


Group B, itu jalurnya Jokowi. Mereka yang usahanya berkembang pesat selama kekuasaannya lewat industri kreatif dan consumer goods. Untuk dapatkan jalur ke grup B ini tidak bisa langsung kepada Jokowi. Ada koordinator yang dipercaya Jokowi. Kalau Jokowi ok, koordinator inilah yang bertugas menggalang dana. 


Group C, itu jalurnya Prabowo. Mereka adalah keluarga Cendana. Namun sekarang kekuatan modal grup C tidak lagi significant untuk jadi sponsor. Sebagian saham mereka sudah dikuasai oleh Group B.


Tahun 2019 team Jokowi berhasil mempenguasai penghubung SBY dengan memberikan fasilitas kredit perbankan. Tentu dengan jaminan dari team Jokowi. Sehingga dia bisa mengunci sumber dana SBY. SBY jadi koalisi pasif dengan PS. Kalau tidak dikunci kemungkinan muncul capres Gatot dan Salim Segap (PKS). Prabowo pasti ditinggalkan koalisinya. Itu berkat LBP, yang bisa meyakinkan group Erwin S dan Roslan mendukung PS. Tetapi setelah koalisi terbentuk, duit yang dijanjikan Sandi malah engga ada. Cendana juga engga mau keluar uang semua. PKS keselek bakiak. Jokowi menang.

***

Tahun 2024 ini Group A berkibar karena harga tambang ( batubara dan nikel ) terus naik.  Pasar mereka luar negeri. Sementara grup B, yaitu consumer goods  dan industri kreatif tergantung pasar domestik yang menyusut akibat pandemi. Pada waktu bersamaan likuiditas mengering akibat dana tersedot ke SBN untuk membiayai COVID. Belum lagi masalah BLBI belum juga tuntas. Kalau tidak langkah cepat mengatasi keadaan maka bukan tidak mungkin grup B akan bergabung ke grup A. 2024 adalah SBY sebagai king maker. PDIP terancam. 


Bagi anda yang idealis, mungkin sulit menerima cerita diatas. Kalau anda  berpikir idealis dan utopia maka itu sama saja jomblo yang melihat rumah tangga dalam imajinasinya sendiri. Apapun, itu hanya imajinasi saja. Tidak akan bersua dalam realita. Hidup adalah ketergantungan dan saling berbenturan terus menerus. Mengapa? hakikat hidup adalah bergerak dan setiap gerakan pasti ada gesekan. Dari gesekan itulah terjadi proses pembelajaran dan pendewasaan.


No comments:

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...