Saturday, March 26, 2022

Tidak bisa pergi begitu saja



Tahun 2010. Jam 11 malam. Baterai hape habis. Aku tidak bisa komunikasi kemanapun. Taksi di depan lobi tidak tersedia. Aku terpaksa jalan kaki dari Grand Hyatt ke arah jalan raya. Karena hujan tak kunjung reda. Aku menerobos hujan rintik rintik itu. Berharap dapat taksi di pinggir jalan Sudirman. Di Halte Plaza Indonesia menanti lebih 30 menit tidak juga dapat taksi. Jam 12 malam aku  putuskan beranjak dari Halte itu. Tujuanku Kampung Bali Tanah Abang. Itu rumah mertuaku. Berharap aku bisa diantar ponakan pulang ke Tagerang. 


Dalam perjalanan. Depan Sarinah, aku dikejutkan oleh kendaraan yang tepat berhenti di sampingku. Ada wanita terlempar dari dalam kendaraan. Wanita itu jatuh di trotoar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kendaraan itu berlalu cepat. Aku terkejut. Dalam kebingungan itu. Dari jauh nampak taksi. Oh Tuhan, dapat juga taksi. Aku segera beri tanda berhenti. Taksi itu berhenti depanku. Ada niat untuk segera pergi. Tetapi kakiku tidak bisa bergerak. Aku harus berbuat sesuatu kepada wanita ini. Tidak bisa pergi begitu saja. Aku gendong wanita itu ke dalam taksi “ Ke Rumah Sakit. Pelni” Kataku.  Taksi melaju. Wanita itu tetap tidak bergerak. Moga engga meninggal.


Sampai di Rumah sakit aku gendong wanita itu ke ruang darurat. Petugas minta aku menjamin pengobatan wanita itu. Aku menyerahkan CC ku. Wanita itu sudah dalam perawatan dokter. Aku tenang saja menanti di ruang tunggu UGD. Tak berapa lama Satpam datang  menemuiku. “ Pak ada KTP? 

“ Ya ada. “Kata saya menyerahkan KTP.

“ Kenapa wanita itu? 

“ Tidak tahu. Saya temukan di Depan Sarinah, tepatnya Halte UN”

“ Baik pak. Jangan kemana mana.”  Kata Satpam itu dengan wajah curiga. Aku diam saja. Aku berdoa agar wanita itu baik baik saja. 


Tak berapa lama Polisi datang bersama Satpam. “ Pak ini orangnya.” Kata Satpam menunjuk kearahku. 

“ Maaf pak. KTP saya tahan dulu ya. Mari kita ke UGD liat kondisi wanita itu.” Kata Polisi. Aku tenang saja. Kami dapat penjelasan wanita itu shock karena ada benda tumpul dipaksa masuk kedalam vaginanya. Jadi dia akan baik baik saja. Kami tunggu dia siap ditanyain. Aku diam saja. Polisi itu tidak pernah jauh dariku. Aku belikan Teh botol untuk polisi itu. Mereka menerima.

“ Bapak kerja dimana? tanya polisi.

“ Saya kerja di Hong Kong pak.”

“ Jadi TKI?

“ Ya pak.” Kataku tersenyum. Tak berapa lama dapat panggilan dari Satpam, bahwa wanita itu sudah bisa bicara. Polisi segera datang. Saya dampingi. 


“ Siapa yang membuat kamu begini”? Tanya polisi.

“ Pacar saya.” kata Wanita itu dengen suara gemetar.

“ Dimana dia? 

“ Dia pergi setelah dia antar saya ke kamar hotel pria yang mau beli perawan saya.” Kata Wanita itu.

“ Dimana alamatnya? 

Wanita itu memberi alamat. Polisi menggunakan HT untuk minta temannya yang patroli untuk memburu pacar wanita itu.

“ Ya udah. Kamu buat laporan ya. Biar kami tangkap pria yang beli perawan kamu termasuk pacar kamu.” Kata Poliis. Setelah itu Polisi pergi. Wanita itu harus dirawat inap di rumah sakit atas tanggungan biayaku. 


Besok siang aku datangi Rumah Sakit karena mau ambil Credit Cardku. Ternyata wanita itu sudah diizinkan keluar. Aku bayar bill sebesar Rp 3.500.000. Wanita itu menemuiku di kuridor Rumah sakit.  Entah mengapa. Aku terharu. Membayangkan putriku sendiri. Keliatan dari matanya, dia cerdas. Bukan wanita penggoda. “ Ini uang untuk kamu.” Kataku menyerahkan USD 5000 yang ada di tas selempangku. “ hati hati ya. Jaga diri kamu baik baik.” Kataku. Wanita itu terkejut. Dia menangis. Matanya menatapku lama dengan isakan. Tanpa bicara apapun. Aku berlalu dari hadapan wanita itu setelah menyerahkan kartu namaku.


***


Tahun 2014 aku jalan kaki dari Time Square Hong kong ke arah restoran Sedap Gurih, yang ada di causeway bay,  Yee Wo Street. Saat itu waktu makan siang, hari minggu. Tentu ramai sekali para TKW. Aku datang sendirian. Ada table tersisa tetapi di table itu sudah ada wanita duduk. Wajahnya seperti orang China, kulitnya putih..  Pelayan minta  aku duduk di table itu. Aku duduk tanpa perhatikan wanita itu. Tetapi asik dengan hape sambil menanti menu datang.


“ Maaf, “ Wanita yang duduk depanku menegur. “ Apakah bapak bernama Erizeli.” Kata wanita itu seraya mengeluarkan kartu namaku. Aku melirik kartu nama itu.” Ya benar. Kamu siapa ?

Dia tersenyum. Wajahnya cerah. “ Akhirnya doa saya dikabulkan Tuhan.  Bisa ketemu dengan dewa penolongku.” 

“ Kamu siapa ? kejarku.

“  Ingat engga. Tahun 2010 bapak bantu saya di Rumah sakit Pelni. Ingat ya..” katanya 

“ Oh ya..ya saya ingat.  Ada apa kamu di Hong Kong?

“ Saya kerja di CX sebagai pramugari.  Sejak  dua tahun lalu.” 

“ Oh ya. Hebat. “ Kataku mengangguk mengangguk.


Usai makan siang. Aku ajak dia minum kopi di Regal Hotel. Dia bercerita bahwa dulu dia berani menjual perawannya karena pacarnya perlu uang untuk selesaikan skripsi

“ Saya bertekad berkoban dan dia juga ikhlas. Karena hanya itu harapan kami untuk masa depan kami. Tetapi setelah kejadian itu, dia campakan saya.”

“ Kenapa ? Aku terkejut.

“ Dia marah.  Karena polisi periksa dia. Padahal dia bebas karena saya tidak melaporkannya.” Katanya. Dia berlinang air mata.Aku beri tissue untuk dia usap airmatanya. 


Aku diamkan dia dengan suasana hatinya.


“ Tamat kuliah aku melamar kerja di CX, dan diterima. Semua itu berkat uang yang bapak beri. Saya bisa move foreward. Terimakasih pak.” Katanya. 


Aku tersenyum dan mengangguk. 


" Bapak tahu. " Lanjutnya " sejak kejadian itu saya terus berdoa agar bisa bertemu bapak. Saya melamar kerja di CX, juga dengan alasan sama. Ingin bertemu dengan bapak. Setiap ada kesempatan saya sempatkan mampir ke restoran Indonesia. Berharap bisa ketemu bapak. Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih. Dulu saya lupa mengucapkan terimakasih. "

" Kamu kan bisa telp saya." Kataku.

" Saya sering telp tetapi yang terima wanita. Saya langsung matikan. Kawatir itu yang terima istri bapak."Katanya.  Ya itu bukan telp pribadiku tetapi telp perusahaan." Lagian kenapa segitunya. Biasa saja."

" Pak, perawan saya jual seharga Rp. 25 juta ke orang lain dan karna itu saya masuk RS.  Tetapi bapak memberi saya uang USD 5000, just given, dan malah menyelamatkan saya dari penderitaan dan perih tak tertanggungkan. Uang dari bapak memberi saya kesempatan untuk bangkit lagi..." Katanya berlinang airmata.


Tak berapa lama sekretarisku, Lena datang untuk temanin aku meeting ke Conrad. “ Baik baik selalu ya. “ Kataku segera melangkah pergi. Dia ikuti aku sampai lobi. Setelah kendaraanku standar Limo datang di depan lobi , dia tanpa sungkan langsung memelukku. Lena tersenyum lihat aksi tersebut. “ Ternyata penolongku, bukan hanya hebat hatinya, tetapi memang orang hebat.” Katanya tersenyum dan berlinang airmata. Dia melambaikan tangan ketika aku masuk kendaraan.


Sumber : Mydiary.

No comments:

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...