Sunday, November 27, 2022

Ketidak adilan memangsa mereka..

 



Kalau orang bingung harga naik sementara pengahasilan tidak naik. Itu. Artinya ketidak adila sistem sedang bekerja mengorbankan rakyat kecil. Mengapa ? sistem ekonomi lah yang membuat proses produksi jadi naik. Diawali dari suku bunga bank naik, ongkos jasa naik, ongkos pasokan juga naik. Seharusnya upah juga naik. Tetapi ada lautan manusia di luar sana yang tidak bekerja, Yang kapan saja bisa menggantikan pekerja yang memaksa upahnya naik. Mereka  bisa diusir kapan saja dengan alasan pengurangan produksi dan diganti dengan pekerja yang mau terima upah sesuai jumlahn produksi atau pekerja outsourcing. Demikian supir Ojol berkata kepadaku. Seakan ingin menegaskan identitas komunitas kalah di negeri ini.


Aku turun di Kawasan Pantai Indah kapuk. Berjalan kaki kearah di Jantung CBD. Di tempat ini pasti tidak ada cerita  seperti supir Ojol itu. Mereka yang tinggal di kawasan ini sanggup menghadapi krisis lebih 3 tahun. Setidaknya mereka menikmati passive income dari suku bunga yang tinggi. Tabungan mereka lebih dari cukup untuk terus konsumsi. Ketika orang bingung jadi korban PHK, dan harga melambung. Di kawasan ini penghuninya tidak terpengaruh apapun dengan beragam keluhan di luar sana. 


Sebelumnya aku mampir ke outlet beli rokok. Depan toko itu aku melihat wanita kurus dengan wajah ketakutan. Mungkin juga lapar. Aku tidak begitu perhatikan. Terus masuk ke toko untuk dapatkan rokok sebungkus. Wanita usia belum 20 tahun itu masih ada depan toko tapi pinggir jalan. Dia kebingungan. Aku dekati. “ Nak, kamu mau kemana ?


Dia menangis dengan wajah takut. “ Aku diturunkan disini. Aku tidak tahu bagaimana pulang. “ 


“ Kemana pulangnya ?


“ Ke Mangga Besar.”


“ Kamu udah lama di Jakarta?


“ Baru tiga bulan. “


“ Terus ngapain ke kawasan ini?


“ Tadi datang diantar mami ke apartemen. Mami janji akan jemput keesokan  paginya. Tapi tamuku marah marah. Dia suruh supir keluarkan aku. “ Katanya menangis.


“ Siapa nama kamu ?


“ Nama saya Marni. Aku berasal di daerah Pantura Jawa. “ 


“ Ya udah, aku pesankan ojol. Nanti kamu naik ke mangga besar. Kamu engga usah bayar. Aku bayar” kataku. Dia menggil dengan menggeleng gelengkan kepala. “ Aku tidak mau ke tempat mami. Bisa mati aku.”


Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? 


“ Jadi apa rencana kamu. Pulang kampung ya? saya ongkosi”


Dia menggelengkan kepala. “ Aku tidak mau pulang” 


“ Kenapa ?


“ Usia 11 tahun aku diperkosa. Sejak itu aku dianggap tidak ada harga lagi. Tidak ada yang bisa dijual dari ku.  Kami miskin. Harta keluarga miskin adalah perawan anak gadisnya”


“ Kamu mau kerja jadi pembantu rumah tangga di Apartemen?


“ Mau. Aku bisa masak dan cuci pakaian”


“ Ya udah ikut aku ke apartement itu” Kataku menunjuk ke apartement Florence. 


***

Florence bisa menerima Marni sebagai ART. Setidaknya menemani dia di rumah. Mungkin karena sikap Florence yang keibuan dan penyayang. Membuat Marni jadi relax. Diapun cerita…


Hidupku isinya cuma kesedihan. Keceriaan adalah hal yang absurd bagiku. Lagipula tak ada yang aneh dengan kesedihan di negeri ini bukan? Namun aku selalu ingat kata simbok dulu, hidup ini memang sekadar mampir ngombe, singgah untuk minum. Di rumah tidak ada harta kami, kecuali tubuh dan nyawa saja. Itupun kalau ada yang mau beli, kami tidak keberatan.


Tak pernah aku mengerti arti perawan sampai suatu hari simbok bilang aku tak perawan lagi. Padahal hanya sedikit noda darah pada celana dalam, tapi mengapa nasibku jadi berputar seratus delapan puluh derajat? Sebelas tahun usiaku waktu itu, ketika dengan kejamnya Lik Par mengenalkan arti perih sesungguhnya. Ego yang berbalut nafsu itu biang keladinya.


”Untung kamu masih bau kencur…” Istri Lik Par ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku.


Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. Mata mereka isyaratkan birahi. Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Par, tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Par berkeliaran di desa. Kata orang, ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Esok hari pagi-pagi buta, ia telah menghilang. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap.


Aku tak mau lagi pergi bermain, keluar rumah hanya untuk sekolah atau disuruh simbok ke warung. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan lumpur yang melekat. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh diri bukan tak ada, sayang uang jajanku tak pernah cukup untuk beli obat serangga. Gantung diri jelas tak menarik minat. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu.


Setamat SLTP aku tidak bisa terus ke SMU. Kerja di pabrik secara informal dan dibayar apa adanya. Tak cukup untuk hidup dua minggu. Ketika tawaran Yu Sri datang, aku seperti kejatuhan bintang. Ia mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Aku tahu simbok berat hati melepasku. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu menggodanya. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal. Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak.

Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku, tak ada lagi aib yang ditutupi. 


Aku tahu, ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus kepalaku di tengah malam. Tentu ia paham penderitaanku, bukankah selama sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama? Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan kenyataannya. Meski rumah-rumah di sana lebih bagus daripada di desa, tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran.


”Ini bukan Jakarta, bodoh! Ini Subang, negeri seribu impian… ” sergah Yu Sri memotong tanya ini dan ituku.


”Subang ini kota, Yu Silam?”


”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya.

 

”Aku Ningce.”


Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. Nama yang aneh, apa nama kota memang aneh-aneh begitu?


”Ini daerah pantura, pantai utara Jawa,” jelasnya tak sabar.


”Kenapa belum terlihat pantainya?”


Yu Sri mendengus.


Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Sri. Menyiapkan air mandi, masak, termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Yu Sri pulang kerja menjelang pagi. Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek langganan. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu kutanya kantornya di mana.


Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Sri kerja apa. Pantas saja ia harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. Aku tak mau ambil pusing selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku. Untuk diriku, cukuplah uang jajan ala kadarnya. Toh aku selalu makan kenyang di rumahnya. Kadang-kadang Yu Sri pulang membawa fuyunghai. Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. Enaknya luar biasa, simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur hidupnya.


Dua tahun berlalu, Yu Sri mengeluh tak sekuat dulu lagi. Ia mulai sering masuk angin. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit benggol untuk kerokan. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau pelanggannya tak sebanyak dulu.


”Ganti namamu, tak ada Marni yang sekurus tubuhmu.” Gurau Yu Sri.

Aku terkekeh. Yu Sri terus saja memanggil nama asliku.


”Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho, Mbuk?”


”Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah?”


Aku cuma termangu dan membisu. ”Jangan takut, kalau kau rajin suntik tidak akan apa-apa.” Yu Silam tersenyum manis sekali.


Aku masih diam saja. Tak tahu harus bicara apa.


”Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki.” Tak ada nada cemooh dalam suara Yu Sri, tapi hatiku serasa disilet-silet. Pedih dan perih. Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung remang-remang itu. Jadi ini memang kantornya Yu Sri. Untung saja Mami di situ masih punya nurani, ataukah memang usiaku yang masih belum cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk menjadi Lonte. Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di situ.


Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega, sebab malam hari telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik kuda. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. Musik dangdut berdentum keras. Truk besar banyak diparkir di luar. Sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah, dikelilingi gelak dan bisik undangan syahwat. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke kamar-kamar di belakang. Tak tahu pasti aku, mereka sekadar melepas lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup?


Kupikir jadi lonte di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan, tapi sudah jadi gengsi. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai kebanggaan. Nelayan di Subang hingga Indramayu kehilangan penghasilan akibat anomali cuaca dan banjir rob. Dalam keputusasaan, keluarga mereka memilih prostitusi sebagai jalan keluar ekstrem. Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang seizin orangtua. Kelihatannya hanya Yu Sri yang satu-satunya pendatang. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu.


”Jangan melamun saja, nanti piringnya pecah.” Mami menepuk bahuku perlahan.


Aku tersenyum malu, ketahuan bekerja tak sepenuh hati.


”Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang.”

Senyumku terhenti di tenggorokan. Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku, ”Jangan mau digoda tamu, bilang Mami kalau ada apa-apa …”


Duh Gusti, perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan penuh kasih. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya harga tinggi di sini. Seandainya ia tahu kisah sedihku.


Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Tak bosan-bosan mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Kadang-kadang juga menegur cara berdandan dan berpakaian. Ada yang bilang Mami juga ’dosen’ alias lonte senior yang masih menerima tamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Aku tak yakin, apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. Sebab jadi primadona di sini tak bisa lama-lama, selalu saja ada yang baru datang, dan lebih segar.


Marni menghela napas barang sejenak. Kami menyimak.


Empat bulan aku di sini, Yu Sri jarang kerja lagi karena sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Aku tak tahu ia sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Ia rutin pergi berobat entah ke mana. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari, malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Pulangnya selalu dengan obat satu tas keresek. Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. ”Besok malam, mulailah belajar menemani tamu di meja.” Ia diam sejenak sambil menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. ”Jangan mau diajak ke kamar dulu ya!” suaranya tetap rendah tapi tegas.


Malam berikutnya, seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Ada dua orang lelaki di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. Beberapa perempuan di sana ikut juga tersenyum, ada yang tulus ada juga yang dengan bibir setengah terangkat. Biasa itu, anak baru diterima sebagai teman juga sebagai pesaing.


Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. Satu tamu pergi datang tamu lainnya. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal karena sepatu berhak tinggi. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi, meski aku lebih banyak berdiam diri.


”Kamu baru ya?” lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya.


Aku mengangguk sambil tersenyum.


”Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja.” Senyumnya lebar seperti senyum keledai.


Untung Mami keburu menyelamatkanku. Ia pura-pura menarikku ke meja lain. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini. Paling buaya di dunia buaya. Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Minggu depan tak mungkin tugasku masih sama. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di telinga Mami sambil memandangiku, ”Berapa?” Jantungku berdetak sekeras musik di situ. Mami menggeleng dengan senyum menggoda, kelihatannya ia punya rencana tersembunyi.


Marni terdiam. Seakan berpikir atau menahan sedih..Kami terus menyimak.


Dua orang tamu datang ke rumah. Katanya mereka dari tempat Yu Sri biasa berobat. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan penyakitnya.


”Lho, memangnya Yu sakit apa?”


”Pokoknya aku tinggal menunggu mati,” sergah Yu Sri kasar, memotong maksud tamu itu untuk menjelaskan. Percumalah aku bertanya jenis penyakitnya, paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami. Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani sungguh-sungguh. Kalaupun aku harus tertular, itu pasti takdir atau kebodohan. Yu Sri kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya. Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami.


Tanpa kesepakatan, pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di rumah Yu Sri. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang tabungannya. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan dan dikirim ke simbok. Namun, aku harus bicara jujur pada Yu Sri.


”Yu, aku mau jadi buruh cuci saja.”


Yu Sri terbelalak. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan. Takut-takut aku melanjutkan, ”Aku ndak bisa Yu, kerja macam itu.”


”Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya??” Yu Sri meradang.


Aku tak berani menatap matanya. Bagaimana menjelaskannya? ”Sudah kucoba. Sudah kucoba Yu, tapi aku ndak bisa.” Jeritku dalam hati.


”Pergilah sejauh yang kau suka. Biarkan aku membusuk di sini!!!” teriaknya parau. Kupeluk ia dengan air mata, ”Tidak Yu… tidak… kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik.” Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat penyelamatku. Aku tak bisa kembali ke desa lagi. Biarlah simbok hidup dengan adik lelakiku. 


Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk memulai hidup baru bersama Yu Sri. Di tempat yang benar-benar baru, bukan di desa. Aku tak bisa kembali ke sana. Pandangan perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku. Juga pandangan mata penuh birahi pemuda-pemuda desa. Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu. Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Tak sanggup kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang berkesadaran. Aku tak mau jadi lonte Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur.


”Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu?” tanyanya beruntun.


Aku menggeleng cepat-cepat, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.” Mami ikut menggeleng-geleng. Tubuhnya yang tak lagi langsing bergoyang-goyang. ”Tapi kenapa? Kenapaaa??” kedua tangannya terbuka lebar.


Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Mami kelihatan tak puas, mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang.


”Saya…saya… saya sudah tak perawan lagi, Mi…” bisikku pelan. Perempuan setengah baya itu terbelalak, seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi.


”Saya korban perkosaan,” lanjutku lirih. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa.


Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. Ia mengangguk lemah. Dengan latar belakang segelap itu, mungkin dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini. Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. Aku siap kembali ke tugas lama, bersih-bersih, cuci piring, dan membuang sampah-sampah. Tapi setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah. Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. Bibir Mami bergetar, suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka, ”Nasibmu sama seperti diriku dulu, Mbuk…”


Keesokannya Mami menjualku kepada agent yang akan memperkerjakan aku sebagai Lonte di Jakarta. Ternyata mami menipu agent itu. Katanya aku masih perawan. Sebenarnya aku ragu aku tidak perawan. Karena ingat dulu, kali pertema disentuh pria tidak ada darah berlebih. Tapi ternyata ketika agent itu menjual aku, pembeli kecewa besar. Terbukti aku tidak perawan lagi. Pembeli itu usir aku dan akhirnya aku bertemu dengan bapak ini.” demikian cerita Marni menoleh kepadaku. Florence berlinang air mata. 


" Ya kamu kerja di sini saja. Gaji kamu sebulan Rp. 3,5 juta. Di apartement ini hanya ada ibu dan asisten. Sebenarnya Ibu tidak selalu makan di rumah. Tapi kalau kamu bisa masak, ibu akan makan di rumah. Nanti kamu akan ibu sekolahkan sampai tamat SMU. Mau ya." kata Florence. Marni menganguk dan menangis.


Saturday, November 26, 2022

Tiga sahabat berbeda jalan

 





Wibi, menegurku saat kami berpapasan di Lobi Hotel Bintang V. Bersamanya ada 4 pria berbadan tegap. Aku tahu itu pengawalnya. Walau secara financial dia aman namun secara jiwa dia tidak aman. Aku tahu itu. Udah pilihan hidupnya begitu. Aku tidak berharap dia menegurku. Tapi langkahnya cepat mengarah kepadaku. “ Bian, kemana aja lue? masih hidup?  Tegurnya.


“ Ya masih beredar terus. Tapi tidak seperti kamu. Selalu jadi cerita. Aku sepi dari cerita”


“ Oh gimana kabar Tando? masih sering ketemu? tanyanya.


“ Pernah beberapa kali. Terakhir ketemu di Tokyo.”


“ Tando itu bodoh dan tapi jelas lue lebih smart. Gua sebenarnya berharap dia gabung dengan gua.’ Kenapa dia ragu. Kita kan berteman sejak usia muda.” 


“ Setiap orang punya jalan hidup masing masing. Maklumi saja” Kataku tersenyum. Dia menepuk bahuku. “ Gua jalan dulu. Ada mau ketemu teman di lantai 4.” katanya. Aku mengangguk.


Ingatkanku kepada Wibi ke masa 35 tahun lalu. Usia kami tidak jauh beda. Dulu kami pernah punya boss sama. Sebenarnya bukan boss. Tetapi rentenir. Ya kami tidak berhutang dengan collateral  tanah atau rumah tetapi dengan nyawa kami. Bunga tidak ada. Bagi hasil saja. Pembagian 70% untuk boss dan kami 30%. Sebenarnya boss, tidak pernah tahu berapa real cost.  Tapi karena margin sangat besar, pembagian 70% dari total laba bersih, itu tetap lebih tinggi dari bunga bank. Tentu sudah kami keluarkan semua biaya termasuk biaya lobi pemerintah.


“ Boss itu hanya punya koneksi dengan presiden, dia dapat ijin jadi bandar judi. Uang judi itu dia rentenirkan kepada orang seperti kita. Kita kerja keras dan menghadang resiko. Sementara dia dapat untung gede dan uangnya  terus bertambah tanpa kerja keras.“  kata Wibi. Aku hanya angkat bahu. Apa peduliku. Uang yang bicara dan uang yang punya kuasa. Dapat kepercayaan dari boss saja, itu sudah luar biasa. Berkah tersendiri. Sukuri saja itu dulu. 


Hanya tiga tahun berlangsung kedekatan kami. Setelah itu kami sudah jarang bertemu. Wibi tidak lagi butuh boss judi untuk modal. Dia mendekati tentara dan menggunakan dana tabungan pensiun tentara untuk modal mengerjakan proyek di Hankam. Dia cerdas menurutku. Tapi juga konyol. Mungkin keberanian dia itulah yang membuat akhirnya orang tahu. Bahwa kalau dia sukses, karena dia punya nyali. “ Gua enggga tamat SMA. Gua engga ada cara lain untuk bisa maju kecuali nekat. Gua pakai otak reptil. Walau tahu konyol dan pasti kalah, tetap saja gua ladenin. Yang penting yakin aja. Gua dapatkan kekuasaan dan tentara dapat uang dari gua. Lumayanlah “ Katanya beralasan.


Presiden jatuh dan era baru terbentuk.  Sudah bisa ditebak. Usaha Wibi mulai sulit. Power yang dia punya tidak lagi bermanfaat untuk bisnis. Karena pergantian presiden juga pergantian sistem kekuasaan. Tentara tidak lagi berkuasa dalam segala hal. Tentara harus masuk barak. Hanya diperlukan disaat perang. Polisi punya peran besar soal keamanan  publik, yang tentu bersingungan dengan bisnis.


Setelah pergantian presiden tahun 2005. Tando punya koneksi kuat dengan presiden baru. Maklum tahun 90an , Tando punya usaha jasa eskpedisi. Dia dapat proyek angkutan logistik dari Pertamina. Selama pengerjaan proyek itu, dia dapat dukungan keamanan dari perwira menengah, Pak Subandi. Sejak itu oleh Tando hubungan dengan Pak Subandi dijaga terus. Ketika pak Subandi jadi presiden, mudah bagi Tando untuk dapatkan proyek dan fasiitas.


Saat itu aku diminta oleh Wibi untuk bertemu dengan Tando. “ Bian, lue kan lebih dekat dengan Tando. Lue bantu gua ketemu untuk bicara bisnis. Entar kita bagi bareng.Kita kan teman semua”  Aku menyanggupi. Kami bertemu di Singapore di river side cafe. Ya seperti dulu kami muda. Rendezvous. Walau santai tetapi serius. Bicara bisnis dan wine tak lupa. 


“ Tan, gua ada rencana mau buat casino di hotel di kawasan jakarta barat. Lue bantulah bicara dengan presiden” Kata Wibi


“ Gila lue. Itu kan ilegal” Tando langsung bereaksi. Aku tahu, Dia memang pengecut diantara kami.


“ Benar ilegal kalau engga ada izin. Kalau ada izin kan legal. Setidaknya aparat tahu tempat judi itu kita jalankan dan mereka diamkan. Itu udah permissive. Kekuasaan kan sengga selalu surat resmi. Memaklumi malah lebih baik. Karena kita ikat dengan setoran uang ke penguasa.”


“ Ya gimana ya” Tando ragu untuk membantu.


“ Lue engga usah ragu sama gua. Reputasi gua kerjasama dengan tentara sekian puluh tahun bagus. Kalau gua brengsek, udah lama  mereka buang gua. Ayolah. Lue minta berapa setoran sebulan. Gua bayar” Wibi mulai provokasi Tando.


Akhirnya setelah tiga bulan pertemuan itu, Tando menepati janjinya bahwa Presiden udah berikan arahan kepada pimpinan Polisi. Tempat Judi harus jauh dari pemukiman umum. Rakyat kecil tidak boleh terlibat judi. Hanya seminggu setelah itu, casino berdiri di salah satu hotel. Wibi memang gerak cepat dan tidak takut keluar uang untuk aparat. Ini semacam casino gelap tapi terang. Resmi tapi tidak berizin. Jadi tetap saja eksklusif kegiatannya. Itupun omzet setiap bulan diatas Rp. 100 miliar. 


Kegiatan itu berlangsung hanya dua tahun. Tando memang kecewa dengan Wibi. Walau Tando dapat uang tapi Wibi jauh lebih besar. Sebenarnya Wibi tidak  dapat uang lebih besar dari yang dia berikan kepada aparat.  Tapi karena itu dia punya akses ke Polisi dan Tentara. Akses itu dibiayai dari bisnis judi. “ Dia kembali punya kekuasaan untuk kembangkan bisnisnya setelah pergantian presiden. Memang target dia bukan uang dari judi tetapi kekuasaan. “ Kata Tando. Aku hanya maklum. Aku hanya dapat bagian kecil dalam kemitraan itu, itupun dari bisnis janket.


Tando sempat ditawari bekerja sebagai executive di perusahaan Wibi, tapi Tando menolak. Dia focus kepada bisnis logistik minyak mentah. Bisnisnya memang berkembang selama 10 tahun kekuasaan presiden. Aku pun pergi hijrah ke China. Kami masing masing berpisah jalan. Tahun 2013 Tando sudah punya holding bisnis perkapalan di Singapore. Dia bermitra dengan temanya dari Jepang dan Hong kong. Sementara aku mengembangkan bisnis di Hong kong. Wibi semakin besar saja usahanya di Indonesia. Hampir semua bisnis dia terkait dengan kekuasaan. Termasuk menggandeng bank besar di China membuka bisnis bank di Indonesia.


***

Tahun 2014 aku bertemu dengan Tando di Singapore. “ Wibi ajak gua dukung presiden pada pemilu tahun ini, tapi gua engga tertarik. Lue gimana ? tanya nya. Aku hanya diam saja. 


“ Gua hapal jalan pikiran Wibi. Dia punya akses ke data inteligent tentara maupun polisi. Tentu dia tahu siapa capres yang didukung semua elite dan bagaimana peran tentara menjadikan seseorang pemenang. Maklum tentara menguasai logistik kotak suara di dearah terpencil yang tak terjangkau petugas KPU. Dalam perjalanan ke KPUD, kotak suara itu bisa saja berganti dengan suara yang memilih capres yang sudah ditentukan. “ Lanjut Tando.


Benarlah pemilu dimenangkan oleh Capres yang juga didukung secara diam diam oleh Wibi. Diapun tak lupa menitipkan agar temannya di tentara jadi Panglima. 


“ Namun ternyata tidak mudah memanfaatkan kekuasaan itu. Beda dengan era sebelumnya. Dia berkali kali curhat kegua, soal sulitnya berbisnis di era presiden sekarang. “ kataku kepada Tando setahun setelah  Pemilu. 


“ Kamu lihat aja. Apa yang terjadi. Dia itu pendendam dan punya banyak akal goyang kekuasaan” 


“ Justru karena itulah, dia tidak lagi bisa dikendalikan. Dia sudah terlalu yakin dengan akses kekuasaan dengan semua kekuatan demokrasi. Makanya Presiden harus lead dia. “ kataku. 


Setelah itu satu demi satu kasus berdatangan. Pernah kantor Wibi diserbu oleh team polisi. Tetapi dia lolos karena dilindungi oleh Panglima tentara. Pernah juga kena kasus suap ketua MK. Lolos juga. Elite politik benturkan dia dengan sesama pengusaha rente. Terjadilah perang perebutan konsesi. Di bisnis pembebasan tanah untuk infrastruktur dia kalah dengan semua pesaingnya. Bahkan puluhan ribu hektar lahan tambang yang dia punya digusur oleh kekuatan ormas. Kapal penangkapan ikannya dikandangi oleh aparat karena menyalah gunakan izin tangkap ikan.


Wibi juga melawan. Dia tebarkan uang ke ormas dan partai  oposisi. Berkali kali terjadi aksi demo people power yang hampir membuat jatuh kekuasaan.  Tapi gagal total. Justru serangan kepadanya semakin kencang. Akhirnya dia harus akui dia tidak cukup kuat untuk berperang. Jaringannya di tentara bisa membujuk elite politik untuk berdamai dengannya.


” Gua dengar dia alihkan semua bisnis rente dia ke proxy. Kamu kenal kan sama Rudianto. Itu proxy dia. “


“ Apa alasannya ? 


“ Engga tahu pastinya. Rudianto itu keluarga dari bandar Judi tahun 80an. Sepertinya Wibi mau cameback lagi ke judi. Tapi cara yang berbeda dari sebelumnya. Motifnya tentu bukan sekedar judi. Hanya satu caranya untuk menyaingi kekuasaan. Yaitu uang. Dia perlu mesin uang untuk dibagikan kepada elite politik. Tentu dia bisa lebih berkuasa dari sistem”  Kata Tando menduga duga rencana Wibi. 


Aku tahu bahwa Tando ada benarnya. Di perairan Singapore dan Hong Kong Wibi dapat izin mengelola judi di kapal pesiar. Bersama bandar judi Hong Kong dia ikut terlibat dalam proyek casino di Kamboja. Tapi karena itu dia berurusan dengan otoritas China karena kasus pembunuhan yang tidak terungkapkan di Hong Kong.


***

Tahun 2018 awal. Pagi dini hari SMS masuk dari Wibi “ Bian, besok ketemuan ya di tempat gua”  Sebenarnya aku malas untuk bertemu. Tetapi menolak juga engga bagus. Bagaimanapun dia teman lamaku. Kami bertemu di restoran. Yang tahun 90an jadi tempat rendevous kami. Tempat itu kini dikelola oleh generasi kedua dari pemiliknya.


“ Gua sekarang clean dan hidup damai.”Kata Wibi mengawali pembicaraannya. Aku tahu bahwa semua bisnis yang terkait dengan rente, dia sudah serahkan kepada proxy nya.  Semua dikelola dengan cara profesional. Cara dia menyembunyikan asal usul uang sudah terencana dengan baik. Bahkan teamnya dengan sangat smart menggunakan channel youtuber sebagai sumber pencucian uang, termasuk menggunakan selebritis sebagai proxy untuk menerima aliran dananya. 


“ Bian “ serunya kemudian. “ Gua ingin mengelola potensi kekuatan tentara dan Polisi dalam satu kuridor. Tentara boleh tetap dalam barak militer tapi itu tetap perlu sebagai watchdog selama gua kelola Polisi.” 


“ Untuk apa ? tanyaku mengerutkan kening.


“ Untuk kepentingan politik berhadapan dengan oposan dan radikalis. Oposan itu harus dikerdilkan. Karena kita perlu pemerintahan yang kuat. Engga bisa lagi andalkan demokrasi secara bebas. Lawan kebebasan itu dengan pedang hukum. Influencer lawan dengan influencer juga. Media lawan dengan media juga. Ormas lawan dengan ormas juga. Giring semua lawan itu dalam jebakan hukum. Nah itu semua perlu uang. Gua mau persatukan sumber dana ilegal dalam satu konsorsium. “ 


“ Ilegal ? apa maksud kamu?


“ Tentu tidak termasuk narkoba. Itu harus diperangi. Karena kita kan bisnis di zaman modern. Engga bisa kita korban generasi karena alasan cari uang. Justru team ini akan lebih kuat untuk memerangi narkoba dan perdagangan manusia. Yang gua maksud ilegal, adalah bisnis yang tidak ada izin namun permissive dan massive. Kan bagus kalau dikelola dengan baik sehingga jadi potensi besar untuk jadi kekuatan politik.


“ Ok” 


“ Nah dari kekuatan dana ini, gua bisa atur ritme politik dan tentu ambil bagian dari proses suksesi kepemimpinan nasional. Karenanya perlu team kuat Polisi yang independent. “


Aku menyimak saja.


“ Gua udah bicara dengan petinggi Polisi dan Tentara.  Gua juga udah bicara dengan ring kekuasaan. Bicarakan masalah ini dengan partai besar. Mereka semua setuju.  Badan inteligent juga ambil bagian mendukung dan mengawal operasi team khusus di Polisi. Semua anggaran gua tanggung. Tahun depan pemilu gua pastikan kemenangan presiden yang gua dukung” Kata Wibi yakin sekali.


“ Nah Bian, gua mau ketemu lue sebenarnya gua ingin lue bantu gua.”


“ Bantu apa ?


“ Di Indonesia ini ada tiga bandar judi yang terafiliasi dengan bandar Judi di Hong Kong. Mereka terhubung dengan Kamboja connection. Gua tahu salah satu bisnis lue bermitra dengan Godfather judi di Hongkong yang punya cassino di Macau, Kamboja, Singapore, Perth, Vegas. Gua engga bisa paksa tiga bandar judi itu di Indonesia tampa gua punya akses kepada godfather itu. Gua bisa aja paksa mereka, tapi itu sama saja gua ajak perang godfather nya. Pasti habis gua.” Kata Wiby.


“ Wib, kataku “ Gua memang dekat dengan Steven. Tapi dia sendiri tidak pernah cerita soal bisnis judi dia. Dia hanya bicara tentang bisnis kemitraan dengan gua saja. Selain itu dia tidak pernah bicara dan gua juga engga mau tanya macem macem. Dia sangat hati hati bicara. Bahkan dia berusaha menjauh dari media massa, menjauh dari politik. Semua asset dia terstruktur dengan rumit melibatkan ratusan proxy. Tapi kalau lue mau ketemu, ya gua bisa atur.  “ kataku. 


Wibi mengangguk dan paham.


Sebulan kemudian, kami bertemu dengan Steven di Phnom Penh. Makan malam dalam suasana santai. Usai makan malam. Steven berbisik dengaku di toilet. “ Bian, jangan pernah atur saya ketemu lagi dengan orang itu. “ Aku mengangguk dan berkata “ Sorry..” 


Benarlah, setelah itu aku tidak pernah ketemu lagi dengan Wibi. Sepertinya benar kata Tando” Dia itu tidak tahu diri. Siapa dia sehingga pantas berbisnis dengan Godfather berkelas dunia. Ayam kampung mau berteman dengan ayam merak, ya jauhlah.”


Tapi obsesi Wibi membangun konsorsium judi bersama elite Polisi berhasil. Bersama jaringan bisnisnya di Kamboja, dia juga berhasil membangun data center untuk menggerakan judi online nya yang menjangkau Asia, Eropa dan Amerika. Dia memang smart.  Puluhan miliar dollar  uang mengalir lewat  platform Judi itu. Lebih dahsyat dari bisnis Unicorn atau decacorn, hectocorn. Mengapa? laba yang high yiel namun tidak terlacak.


***

Coba ceritakan prakteknya pencucian uang lewat judi online. “ Tanya Tando saat aku bertemu dengannya di Singapore.


“ Ada tiga caranya. Cara pertama, kita buka akun situs judi online. Tentu harus ajukan aplikasi. Dalam aplikasi itu kita harus mencantumkan nomor rekening bank. Setelah disetujui maka selanjutnya pembayaran bisa menggunakan kredit dan debit, virtual account/ Bank digital, dan mata uang kripto. Apa artinya ? aplikasi buka akun itu hanya formalitas saja. Intinya ada pad alat pembayaran. Sehingga nama bisa saja fiktif. Bandar mengarahkan pembayaran ke rekening bank di luar negeri. Umumnya di negara bebas pajak.


Akumulasi uang dari pejudi yang mengalir ke rekening di luar negeri ini legal. Karena alat pembayarannya juga legal. Tapi karena ditempatkan di negara bebas pajak, maka bandar tidak bisa bebas keluarkan uang itu. Nah biasanya ditempuh cara tradisional mengeluarkan uang itu. Yaitu dengan menarik tunai dari bank luar negeri, kemudian dibawa melewati perbatasan ke dalam negeri Uang itu disetor ke bank pada rekening proxy. Kemudian dipindahkan ke rekening bandar melalui bank digital. Walau ada limit batas transfer tapi bisa dilakukan berkali kali lewat aplikasi flash. Nah uang udah clean itu.” Kataku


“ Rekening Proxy itu apa?


“ Ya sama dengan orang pinjam KTP kamu untuk buka rekening di bank digital. Nama rekening atas nama kamu, tetapi Password atas nama orang lain. Jadi tanpa kamu terlibat, orang bebas pindahkan uang di rekening kamu kemana saja. Di Indonesia ini banyak orang mau pinjamkan KTP. Bayar uang kecil ya sejuta mereka udah senang” Kataku.


“ Terus, gimana bawa uang ke dalam negeri ? Apa engga mencurigakan kalau jumlah besar ?


“ Bisa dengan cara bawa dalam jumlah yang dibenarkan aturan. Atau kalau jumlah besar ya cari bandara international yang petugasnya bisa disuap. Biasanya bandar judi udah kerjasama dengan petugas. Jadi bukan masalah.”


“ OK lanjut yang kedua?


“ Gunakan rekening proxy yang ada di bank digital untuk buka akun di situs judi online. Ini situs abal abal. Dibuat memang penampung uang haram. Bukan untuk judi online. Caranya, akun proxy dibuat kalah sehingga uang mengalir ke situs judi online. Walau ada batas limit transaksi lewat akun bank digital, tapi itu bisa melalui ribuan akun proxy. Contoh batas transaksi USD 4000. Nah kalau 1000 akun proxy, kan bisa USD 4 juta sekali pindahkan”


“ Gimana pindahkan uang lewat ribuan akun itu. Kan lama prosesnya”


“ Ada aplikasi yang bisa menggerakan ribuan akun proxy itu. Hanya hitungan menit selesai. “


“ Wah keren ya. Uang haram apa saja itu ?


“ Ya bisa ilegal mining, korupsi dan komisi haram, termasuk  hasil kejahatan kerah putih seperti ponzy “


“ Terus yang ketiga ?


“ Akun judi online bisa juga dipakai untuk membeli barang atau jasa. Antar pemilik akun bisa saling bertransaksi. Ini uang legal karena beli barang kan bayar pajak. Biasanyai barang itu tidak dikirim ke pembeli tapi dijual lagi ke pembeli sebenarnya. Hasil penjualan ditampung d rekening sebagai keuntungan dari menang judi. “


“ Buat situs judi online itu gimana ? Kan perlu Domain Name Server. Perlu konten”


“ Ah mudah itu. Ini kan era digital. DNS kan bisa beli secara online. Bisa terdaftar di negara manapun. Kalau di block oleh pemerintah, ya bikin lagi. Lebih mudah bikin baru daripada block nya. Buat situs judi online juga mudah. Tinggal copy paste situs judi online yang ada tersebar di jagad maya. Itu udah termasuk konten.”


“ Kamu belum jawab, mengapa Judi online jadi modus pencucian uang?


“ Kamu harus tahu sejarah pencucian uang. Dulu mafia pakai istilah pencucian ( laundering ) karena hanya bisnis laundering yang engga jelas pembukuannya. Ngitung omzet kan dari berapa jumlah sabun terbuang. Lah sabunnya udah cair dan dibuang ke saluran air. Gimana pasti ngitungnya. Jadi walau pembukuan menyebutkan omzet besar, ya petugas pajak harus akui itulah adanya. Toh mereka bayar pajak. Yang penting asal usul uang tersamarkan.


Nah era sekarang, bisnis yang engga jelas pembukuannya kan judi. Dengan adanya tekhnologi IT, dan bank digital, judi online cara mudah dan murah cuci uang. Orang bisa create berapa aja nilai uang dan cukup perlihatkan uang hasil menang judi. Kalau akhirnya ketahuan petugas, ya tinggal bayar pajak aja. Yang penting asal usul uang tersamarkan. Dan 90% uang judi online itu bukan judi tetapi uang korupsi, komisi haram, dan ilegal mining, uang dari transfer pricing, termasuk jarah uang dari transaksi ponzy dan money game” Kataku. 


“ Hebat Wibi” Kata Tando tersenyum satire “ Kalak yang akan menjatuhkannya bukan orang lain, tetapi ambisi yang dibangun dengan uang itu sendiri yang akan menelannya. Karena mana ada loyalitas soal uang yang didapat dari cara mudah. Hanya masalah waktu saja. Termasuk jatuhnya kekuasaan yang dibangun dari kekuatan uang rente dan korup. Sejarah selalu berulang. Kita akan jadi saksi sejarah tentang dia” Lanjut Tando.


Disclaimer : Fiksi belaka

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...