Saturday, March 12, 2022

Kenangan indah di Jogya


Di lobi hotel Natour Yogya aku melihat serombongan wisatawan Jepang duduk. Mereka menanti petugas travel sedang memproses check in. Senja sudah menjemput Yogya. Tentu saat yang tepat cari makanan lesehan dan menikmati suasana malam. Saat itu usiaku 21 tahun. Aku datang ke Jogya karena teman akan memperkenalkan boss yang mau mendirikan pabrik ban sepeda. Sebagai sales rubber syntetic ini peluang bagus. Ini kali pertama aku ke Jogya. 


Aku duduk di lounge sendirian. Pikiranku kepada kejadian seminggu lalu. Florence dengan tegas menolak cintaku. Dia bahkan mentertawakan aku. Walau kami sudah bersahabat lebih dari 1 tahun, ternyata dia hanya ingin jadi sahabatku saja. Setelah itu Risa masuk dalam hidupku. Kami juga bersahabat. Tetapi diapun pergi setelah aku utarakan cintaku. Sudah nasipku. Tidak pernah ada wanita yang jatuh cinta kepadaku. Sebagai pria memang aku ditakdirkan tidak untuk dicintai. Apakah karena wanita itu terlalu cantik untuk ukuran pria sepertiku yang hitam dan kerempeng. 


“ Kamu sebaiknya menikah dengan ponakan papa. Udah, ficus aja ke-kerjaan kamu. Jangan berpikir macam macam.“ Kata ayahku. Aku hanya diam saja. Aku tidak bisa menolak. Karena memang tidak ada alasan kuat untuk menolak. Toh kenyataannya tidak ada wanita lain pilihanku yang mau menikah denganku. Lamunanku buyar ada teguran “ Anda petugas kantor pusat dari Jakarta ya” Nampak Wanita jawa. Rambutnya dikepang dua. Hidungnya mancung. Mata bulat. 


“ Bukan. Saya tamu hotel ini” 


“ Oh..” Matanya bulatnya berputar ke sekeliling lobi itu. Dia duduk di sebelah saya. “ sebaiknya saya tunggu saja.” Katanya tanpa menoleh kesaya. Memang kursi lobi siapa saja bisa duduk. 


“ Saya guide. Kemarin saya dapat kabar dari kantor travel mereka butuh saya untuk antar tamu dari Jepang.”


“ Mbak kerja di travel ? Tanya saya. 


“ ya tapi freelance”


Lewat satu jam. Wanita itu berdiri dan melangkah ke luar. Aku juga berdiri. Kami berdiri sejajar depan pintu hotel. Aku berencana mencari makan di luar. Jogya kan terkenal dengan lesehan dan jalan Malioboro. “ Anda kali pertama ya ke Jogya “ Tegur wanita itu.

“ Ya. Apa mbak bisa temanin saya makan malam.” Kata saya memberanikan diri. Kalau ditolak ya udah. 

“ Kenapa ?

“ Saya tidak bisa makan sendirian. Mau ya mbak.”

Dia berpikir sebentar. Mata bulatnya menyiratkan dia senang. “ Ok. saya guide kamu ya. “ Katanya. Tersenyum. Duh lesung pipinya indah sekali.


Kami menyusuri Malioboro. Usai makan lesehan. Dia ajak aku berkeliling Yogyakarta di atas becak. Menyelusup di tengah sebuah bazar murah yang memajang buku-buku bajakan. Dia terkejut karena aku membeli buku banyak.


“ Kamu ternyata penggemar buku. Tapi aneh, beragam buku yang kamu pilih”


“ Saya suka baca apa saja. Hanya itu sahabat saya dikala sendirian.”


“ Apa kamu tidak ada pacar.” Tanyanya.


“ Tidak ada. Dan mungkin tidak ada yang mau. “ Kataku. Dia tertawa. “ Kok lanang bilang begitu. Mana ada pria yang tidak menarik. Pasti ada saja wanita yang suka.” Katanya. Jam 8 dia antar aku kembali ke Hotel. “ Loh uang apa ini? Katanya terkejut ketika aku serahkan selembar uang Rp. 10.000.


“ Kan mbak udah jagi guide saya. Setidaknya saya tidak merasa berhutang kepada wanita sencantik Mbak yang sudah mau temanin saya makan.” 


“ Saya terima uang ini ya? Katanya setengah tidak percaya.


“ Ya. Terimalah.” kata saya tersenyum. 


“ Sampai kapan di Jogya? Tanyanya


“Minggu depan.” 


“ Mau besok saya temanin lagi.”


“ Kalau mbak tidak keberatan” Kataku. Dia keliatan senang. “ Besok jam 7 malam. Temanin saya makan lagi ya” lanjutku


***

Keesokannya dia datang lagi dan begitu juga hari hari berikutnya. Kami jadi akrab. Ternyata wawasannya luas sekali. Dia sarjana IKIP dan penggemar baca. Jadi diskusi kami hidup. 


“Pembangunan Jepang sukses lantaran menjaga jarak dari kapitalisme internasional yang penuh jebakan. Mereka membangun kapitalisme disosiatif. Mereka meminjam cara kerja kapitalisme sambil membentengi diri dengan kebijakan ekonomi yang berorientasi pada pasar domestik. Sementara itu, Brasil keliru dengan membangun kapitalisme asosiatif. Tunduk, bertekuk lutut berhadapan dengan kapitalisme internasional. Jadilah mereka zona kehancuran. Monumen kegagalan pembangunan,” Katanya.


“Kapitalisme itu terjadi tidak ada pemaksaan. Itu proses slow motion. Diterima karena proses yang damai. Orang ingin makmur dan memiliki kebebasan berkompetisi mengelola sumber daya. Jadi tidak seharusnya dikutuki. “ Kataku ketika dia membahas buku tentang kapitalisme. 


“ Tapi kapitalisme itu hanya akan menjadikan orang monster terhadap orang lain.” Katanya.


“ Pernah baca buku Milton Friedman, Free to Choice? 


“ Woh hebat kamu. Bacaannya berat. ” Katanya terpesona. Coba jelaskan apa yang kamu pahami. Saya tahu buku itu tapi tidak pernah baca buku itu” 


“ Albert Hirschman mengeritik Milton Friedman dalam esainya, against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. 


Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu. Apa yang diungkapkan oleh Hirschman sejalan dengan pemikiran dari bapak kapitalisme, Adam Smith, dalam bukunya yang pertama, the theory of Moral Sentiment, ia tidak menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith,  juga berbicara tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan.” Kataku.


Eh entah mengapa dia segera cium aku. Terjadi begitu saja. Mengapa wanita yang aku kenal. Selalu lebih dulu cium aku, dan mereka tertarik hanya karena pemahamanku tentang buku yang aku baca.  Di depan orang utan Gembira Loka yang termangu-mangu, ia bercerita dengan penuh luapan kekaguman tentang Doktor Soedjatmoko. Ia menyebut Sang Doktor sebagai seorang humanis dengan pikiran yang meloncat- loncat ke depan. Kutipannya tentang Soedjatmoko kemudian berhamburan seperti rangkaian gerbong kereta, menderu-deru, tak habis-habis.


Di jogya kebersamaan kami, hari-hari selalu diskusi. itu pun ditaburi banyak kutipan para pemikir besar itu berjejal-jejal di kepalaku dan anehnya menghasilkan rasa bahagia yang menghanyutkan. Wanita itu memang berhasil membuat aku merasa tersanjung. Gimana tidak. Seorang pria kampung bisa berdiskusi dengan wanita sarjana yang cantik. Walau usianya lebih tua dariku. Namun dia tidak memperlakukanku sebagai adik. Teman dewasa untuk berdiskusi secara terpelajar.


Di hari perpisahan kami, dia memelukku erat. Tatapan matanya menggetarkan ulu hatiku. Matanya nanar dan nyaris berair. Mendung terasa menggantung di atas stasiun Tugu petang itu.”Aku telah jatuh cinta,” bisikku lirih. Nyaris tak terdengar.


“ Kamu terlalu muda untuk jatuh cinta. Masa depan kamu masih panjang. Kamu pria hebat yang pernah aku kenal. Kamu perlakukan aku dengan sempurna sebagai wanita. “katanya. 


Aku teringat tadi malam. Walau  aku sudah bujuk dia pulang selepas antar aku makan malam,  tapi dia memilih masuk ke dalam selimutku.  Usia muda kami saling berlari menuju atas bukit. Semua nampak indah terpancar dari mata wanita itu yang seakan terlena Love concerto. “ Aku mencintai kamu” Kataku berbisik. Dia terdiam sejenak. Menggeleng dan tersenyum. " Madam Mao, tidak mencintai Mao, tetapi ia mencintai China saja, ya kan. " Katanya, yang seakan dia ciptakan tembok China antara aku dan dia. Aku memilih mendekap saja. Sampai pagi tidak terjadi apa apa. Aroma tubuhnya harum masih lekat dalam pikiranku,  sampai kini. 


Tapi, sejarah kami dimulai dan berakhir pada titik yang sama. Hari-hariku selepas Jogya kembali sibuk mengejar impian usia mudaku. Karena prospek bisnisku gagal di Yogya. Aku tidak ada alasan untuk bertemu lagi dengan dia. Dan dia tidak pernah kirim surat. Wanita itu lenyap dengan sempurna. Bulan-bulan dan tahun-tahunku yang panjang tak disinggahi sepotong pun kabar darinya.


Yang kutahu bertahun-tahun kemudian adalah namanya kerap benar mengisi berita utama surat kabar. Wajahnya nyaris setiap hari muncul dalam acara-acara pamer cakap televisi. Kejatuhan Soeharto telah menaikkan namanya sebagai profesor dan pengamat politik. Aku sendiri harus menutup rapat-rapat buku sejarahku dengannya. Semuanya sudah kuanggap tamat dan usai begitu saja.


***

Tahun 2014, “ Jely, how are you. Do you still remember me, Dyah, Jogya. In 1984. Hotel Natour. Your article about Prabowo is amazing, I read everything you wrote on the blog. It seems to bring me back to my youth. To have met a great man, who made me feel so perfect as a woman.  I wish you good health and success. “ Pesan masuk ke meseenger Facebook. Aku reply, tetapi tidak pernah dia balas.

No comments:

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...