Friday, October 22, 2021

Titipan terindah

 

Kupandangi Mia dalam tidur pulasnya. Kucium lembut keningnya. Airmataku menganak di tubir mata. Di samping nampak suamiku memperhatikan. “ Maafkan bunda, Ya Mia.” Kataku dengan suara sesal dan tahan isak tangis.


Tadi siang aku sempat marah besar kepada Mia karena entah kenapa dia tidak mau pergi sekolah. Dengan segala macam cara aku membujuknya tapi Mia tetap tidak mau kesekolah. Tak disengaja aku meletupkan amarahku sampai memukul kakinya. Mia menangis “ Bunda, sakit …” aku terdiam seketika ketika melihat wajah takutnya memandangku.


Segera aku merangkulnya. “ Sekolah ya nak. Mia kan mau jadi orang pintar. Sepintar ayah Mia , yak an”


“ Mia, engga mau sekolah bunda” katanya dengan pandangan kosong.


“ Kenapa , sayang “


“ Mia, takut sama Bobi. “


“ Siapa itu ?


“ Anak laki laki”


“ Emang kenapa “


“ Dia sering ganggui Mia. Mia benci Bobi..” katanya meninggi.


“ Gimana kalau bunda antar Mia kesekolah “


Matanya memancarkan satu keyakinan dan kekuatan “ benar , bunda mau antar Mia kesekolah”

Aku menggangguk.


“ Mbak…”Katanya hampir tidak percaya. Karena biasanya yang antar ART.


“ Mbak di rumah jaga adik. “


Mia mengganguk dan memelukku.


Ketika sampai di sekolah. Mia berkata kepadaku “ Bunda tidak kekantor, kan. “ Wajahnya nampak kawatir.


Aku terdiam. Namun aku tidak bisa membiarkan permata hatiku cemas dalam belajar” Bunda akan tetap di sekolah. Jaga Mia sampai pulang sekolah.” Wajanya cerah.


Mia putri sulungku. Dia sekarang duduk di TK. Sementara adiknya berusia 3 tahun. Aku sendiri bekerja di perusahaan Swasta dan Suamiku juga bekerja Perusahaan Asing. Kehidupan ekonomi kami memang mapan dan karena itu tidak sulit bagi kami untuk membayar dua orang baby sitter. Sehari hari Mia dirawat oleh Baby sitter. Kebersamaanku dengan Mia dan adiknya hanyalah dipagi hari sebelum berangkat kekantor dan malam hari hanya melihatnya terlelap ditempat tidur. 


Mungkin beginilah apa yang dirasakan oleh mama ketika menungguku belajar di sekolah. Aku ingat betul dulu aku acap melongok keluar jendela untuk melihat mama duduk di taman sekolah. Bila mataku bersitatap, mama akan tersenyum indah kepadaku. Karena itu aku bersemangat di sekolah. 


Ketika acara perpisahan sekolah di TK, aku masih ingat mama berlinang air mata menyaksikan aku membaca puisi “kasih ibu “.  Papa juga selalu hadir disetiap hari istimewaku. Mama tetap selalu mendampingiku sampai aku tamat SD. Setelah masuk sekolah SLP, mama tak lagi menungguiku tapi selalu aku diantar dan jemput oleh mama. Mama setir sendiri mobil. Ini terus berlangsung sampai aku tamat sekolah SMU. 


Ketika aku masuk perguruan tinggi, mama paling sibuk menyiapkan aku untuk tinggal di luar kota. Dia sendiri yang mencarikan tempat kos terbaik untukku. Dia sendiri yang membelikan kebutuhanku di tempat kos.  Paling sedikit dalam seminggu mama menelphone tiga kali. Selalu yang diingatkan agar aku menjaga sholat dan makan.


Mama sangat sabar. Mama tidak pernah membentakku apalagi sampai memukulku. Bila kadang puncak emosinya tak mampu diredamnya karena kenakalanku maka mama akan memeluku sambil menangis “ Anak mama sayang. Buah hati mama. Jangan nakal ya sayang. “Itu selalu dikatakan mama. Namun dengan airmata mama sudah cukup membuatku luluh untuk sadar akan kesalahanku. 


Bila aku sakit mama tak pernah jauh dariku. Bila malam mama menemaniku tidur. Sedikit saja aku tersentak dari tidurku, mama sudah terbangun. Dia meraba keningku dan bila aku kembali tertidur mama akan mencium keningku sambil berdoa “ Ya Allah, sembuhkan buah hatiku. Engkau titipkan ia padaku tentu engkau pula yang akan menjaganya.” Kata kata itu masih tetap lekat dalam ingatanku. 


Kecintaan mama bukan hanya kepadaku tapi kepada semua saudaraku. Kepada Bang ijal, uni Remi, sikap mama sama. Karena itu jarang kami bertengkar satu sama lain. Sikap bijak mama membuat hati kami melembut dan mudah didamaikan.


Ketika aku lulus perguruan tinggi. Mama bersama papa mengantarku ke gedung wisuda dengan wajah ceria. Ketika aku menggunakan baju toga, nampak mama dan papa berlinang air mata sebagai ujud kasih mereka yang tak bisa diungkapkan dengan kata kata.  Ketika aku mulai bekerja, Mama selalu mengingatkanku untuk menjaga makan. Kadang menyiapkan sarapan pagi untukku. 


Ketika aku akan menikah, mama mengajak bicara dari hati kehati. Mama menasehatiku agar menjadikan rumah tangga sebagai ladang ibadah. Cinta itu adalah pengorbanan dalam konsep memberi. Demikian mama menjelaskan kepadaku dalam bahasanya yang sederhana. Namun itu sangat bermakna bagiku. Karena mama tidak hanya pandai berkata tapi mama telah membuktikan itu dalam hidupnya. Pengorbanannya menjaga anak anak sangat luar biasa. 


Kami beruntung punya mama. Kesetiaannya kepada Papa sangat luar biasa. Papa beruntung mendapatkan mama sebagai istri. Ini dapat kurasakan sebagai anak dan wanita, yang kelak akan menjadi ibu juga istri dari seorang pria.


Ketika mendekati hari pernikahan, ada satu yang tak pernah bisa kulupakan seumur hidup ketika mama berkata kepadaku “ Nur, kelak yang akan menjadi wali nikahmu adalah penghulu.”


“ Mengapa ? mengapa bukan papa ?


Mama terdiam. Tak berapa lama , airmata mama mengalir sambil berkata “ Secara agama papa tidak berhak menikahkanmu karena kami bukanlah orang tua kandungmu. Kamu anak yatim lagi piatu sejak usia dua tahun. “


Aku hampir tidak percaya apa yang barusan aku dengar. Tapi mama berkata dengan sungguh sungguh tanpa bisa menahan airmatanya. Mama memelukku. Aku larut dalam tangis. Aku masih tidak mempercayai kata kata mama. Aku berharap ini hanya mimpi belaka, Bukan realita yang harus kuterima. Dua puluh lima tahun mama dan papa merahasiakan ini dan terungkapkan ketika aku akan menikah. “ Bagaimanapun Nur tetap anak kami. Hanya ceremonial agama mengharuskan seperti itu. Maklum ya nak.”


“ Ma, …” aku membalas dekapan mama dengan keras” Ma, kenapa Nur harus menjadi yatim lagi piatu. Aku tidak pernah merasakan perbedaan sebagai anak tiri. "


Mama menatap mataku dengan tatapan kasih “ Semua Allah yang mengatur. Allah bisa menitipkan anak melalui rahim kita tapi bisa juga menitipkan pada rahim wanita lain. Walau rahim berbeda namun hakikatnya sama. Sama sama milik Allah dan sama sama titipan Allah. Kecintaan mama kepada kamu dan juga saudaramu, adalah kecintaan mama kepada Allah. 


Pengorbanan mama kepada kalian semua karena kecintaan mama kepada Allah. Ketika kalian tumbuh dan berakhlak, rasa cinta itu semakin membuncah. Karena mama mampu mengaktual cinta itu dalam bentuk berbuat karena Allah dan menjadikan kalian seperti Allah mau. Ini amanah teramat indah yang tak mungkin bisa dibandingkan dengan apapun , anakku.”


***


“ Bunda “ terdengar teriakan Mia kepada ku. Membuat lamunanku terhenti. Mia berlari kearahku sambil merentangkan kedua tangannya untuk memelukku. “ Bobi engga nakal lagi , bunda” Aku memeluk erat Mia sambil berkata “ Bunda , janji mulai saat ini dan besok  besok , bunda akan selalu ada bersama Mia.”


Aku mengirm SMS kepada suamiku “ Yah, bunda mulai sekarang akan berhenti kerja. Bunda akan selalu ada di rumah untuk anak anak.”


“ Benar nih “Jawab SMS suamiku.


“ Benar, Yah.


“ Alhamdulillah. “


Setelah itu, aku tersenyum bahagia. Aku telah membuat keputusan terbaik dalam hidupku saat itu. Karena itu aku sangat merindukan mama. Dalam  perjalanan kerumah , pikiranku selalu kepada mama. Sudah dua kali dalam sebulan ini mama mintaku datang membawa anak anak tapi karena kesibukanku di kantor selalu tidak ada waktu. Aku berniat akan datang kerumah mama. 


Namun ketika aku sampai dirumah, nampak mobil mama sedan di parkir di dalam pagar. Mia langsung berlari kencang kedalam rumah “ Omaaaa…datang. Oma Mia datang. " 


Aku berjanji besok besok akan  selalu datang kerumah mama bila mama merindukan anak anakku, cucunya. Aku akan selalu ada di rumah, untuk anakku, untuk suamiku. Tentu waktuku akan selalu ada untuk menjaga mama dan merawatnya dimasa tua, sebagimana mama berkorban untukku...


Menari dibalik kabut...

 



Hong Kong.

Sore itu saya datang ke tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan seseorang. Karena teman yang rekomendasi, saya penuhi pertemuan itu. Bertempat di restoran kecil di pojok jalan. Memang ini lingkungan cafe di kawasan central Hong Kong. Walau tempatnya kecil tetap saja sewanya mahal. Harga menu engga murah. Belum sempat pesan menu, seorang wanita usia empat puluhan mendekati saya. “ Saya dari Pak Denny. Saya baru sejam lalu mendarat dari NY “ Katanya dengan wajah dingin.


“ Duduklah.” Kata saya cuek sambil pilih menu.

Pelayan restoran datang. “ Ayam Hainan.” kata saya. 

“ Dan anda “ kata pelayan itu kepada wanita depan saya duduk.

“ Kopi saja.” 


Pelayan berlalu. Wanita itu mengeluarkan amplop warna kuning. Saya membuka amplop itu. Setelah membaca sekilas. Saya masukan kembali dokumen itu kedalam amplop. Saya mengambil cheque dari balik saku jas saya. Menyerahkan ke wanita itu. Tampa melihat jumlah tertera di cheque itu, wanita itu pergi dari hadapan saya. 


***

Singapore

Saya jalan kaki dari Mandarin Orchard ke Hotel Four Season. Sampai di Hotel, Denny dan Wenny sudah menanti saya di lobi. “ Mereka tunggu kamu di lantai 6. Team mereka lengkap. Kamu siap? Kata Denny. Saya tersenyum saja seraya melangkah cepat ke arah lift diikuti oleh Wenny dari belakang. Di dalam lift Wenny memperbaiki dasi saya dengan tersenyum. “ Mengapa kamu tidak pernah rapi? Katanya. Saya diam saja.


Di ruang meeting, mereka hadir dengan lengkap. Mereka memperkenalkan diri satu persatu. Saya menjawab hormat. Salah satu dari mereka tampil menyampaikan presentasi bisnis. 

“ Dari lokasi ini “ katanya mewakili presentasi dengan menunjuk satu peta kawasan property. “ ke jakarta, membutuhkan jarak tempuh 1 jam.  Harga tanah di kawasan itu Rp. 20 juta per M2. Sekarang ada lokasi ini ” Katanya menunjuk arah petan lain yang merupakan lokasi proyek yang hendak dibangun. 


“ Lokasi ini sekarang harga tanah Rp. 1 juta. Nanti berkat adanya akses transfortasi modern ke lokasi ini, dibutuhkan waktu tempuh hanya 15 menit. Harga tanah akan naik Rp. 20 juta per m2. Itu masih sangat murah. Bandingkan dengan kawasan TOD di China yang harganya tanah di TOD bisa mencapai Rp. 60 juta per m2.” Katanya melanjutkan. Kemudian dia masuk kepada analisa yang berkaitan dengan aspek legal, tenis, marketing dan financial. Singkatnya dari kenaikan harga tanah pada TOD saja sudah bisa bayar hutang bangun akses transportasi. Sebuah exit strategy yang jenius. Saya tidak begitu tertarik dengan angka angka itu. Saya sudah tahu agenda mereka. 


Saya membuka tas kerja saya dan mengeluarkan tiga lembar dokumen.  “ silahkan baca dokumen ini. Saya minta pihak yang saya tunjuk untuk tanda tangani dokumen ini. Saya pastikan dalam seminggu komitmen bank  akan keluar. Masalah pembiayaan selesai. “ Kata saya. 


“ Bagaimana anda yakin ? kata salah satu mereka


“ Di sebelah saya banker yang mengatur komitmen itu” Kata saya memperkenalkan Denny. Tampa saya komando Denny videocon dengan banker di NY. Semua menyaksikan komunikasi dengan banker itu. Mereka tidak percaya. Saya berdiri dan minti izin undur diri, Saya males bicara lebih banyak. 

"  B, Seru Danny waktu keluar dari ruang meeting." Jadi gagal? 

" Kita meeting bukan untuk deal. Kita hanya lempar umpan. Nanti yang kail orang lain. Terimakasih udah temanin saya meeting" kata saya.


***

Beijing.

Chang datang ke hotel Central Park Beijing sebelah hotel Hyatt tempat saya nginap. “ Kenapa engga di Panninsula ? Kata Chang

“ Kebetulan malam ini saya ada janji makan malam di Germany Club dengan teman. Tempatnya di hotel ini.” Kata saya.

“ Kamu yakin mereka akan patuhi business model yang kamu inginkan dalam proyek konsorsium itu? Tanya chang sambil lalu waktu minum kopi di lounge  executive.

“ Apa penting itu ?

“ Ya penting. Karena tampa business model seperti itu, engga mungkin proyek trasnfortasi modern itu bisa mendatangkan laba. Mau engga mau pada akhirnya negara Indonesia harus tanggung jawab.”

“ Selagi dokumen ini ditanda tangani, apakah masih relevan bicara resiko dari sisi anda? Kata saya memperlihatkan draft dokumen. Chang baca sebentar. Dia tersenyum dan mengangguk. “

“ Tapi apa iya tanpa sovereign guarantee,  banker mau berikan credit. Kan dokumen draft ini tidak kuat, apalagi tanpa persetujuan DPR “ kata Chang.

“ Selagi dokumen itu ditanda tangani, akan aman saja. Banker di NY yang menjamin resiko atas dokumen tersebut. “ 

Chang pandang saya lama. “ Bro, kamu tempatkan kami dalam posisi sulit.”

“ Ini bisnis. Negeri kami masih dibawah kapasitas ekonominya. Peluang berkembang masih sangat besar. Sementara negara lain sudah over capacity. Please, anda ragu, AS masuk. Atau ikuti skema saya. Anda akan dapatkan peluang lebih luas bermitra dengan kami.”

“  Saya dengar kabar salah satu menteri akan berkunjung ke Beijing minggu depan. Dia datang bersama team EPC proyek. Katanya rapat dengan banker.” kata Chang. Saya tidak peduli.

“  Nah tugas anda meyakinkan banker di sini” Kata saya tersenyum. Chang terdiam seperti sedang berpikir. Saya berdiri dan kancingkan jas saya. “ Permisi Chang. Saya ada janji ketemu relasi saya. Senang bertemu dengan anda.” kata saya seraya membungkuk.


***

KL 2019

Yuni datang bersama Esther ke Hotel Istana. Saya ajak mereka makan malam di Pulau bintan. “ Hebat, proyek tranfortasi itu berjalan mulus. Masalah tanah sudah hampir 100 persen selesai dibebaskan. Tapi yang jadi masalah adalah soal TOD. Seperti n nya pemda belum berani mengubah tata ruang. Apa yang terjadi apabila TOD gagal sebagai business model”


“ Jawab sendiri.” Kata Eshter. Saya tersenyum. Yuni melirik ke saya. “ Negara ya bailout. Jadi proyek APBN. ?  Tapi kan ada Perpres 2015. Engga ada APBN”Lanjut Yuni

“ Kan refinncing lewat TOD. Kalau TOD engga jalan, ya default hutang kontruksi. Terus yang mau tanggung jawab untuk biaya kontruksi siapa? Kata esther. Yuni terdiam.


“ Uda kenapa diam dan senyum senyum aja dari tadi? Kata Yuni. Esther tertawa.  

" Kamu itu kepoan. B, itu engga suka diskusi soal gituan. Tetapi omongan kamu dia catat baik. Akan jadi tema dalam tulisan dia di blog dan page.” Kata Esther.


Usai makan malam, Yuni langsung ke kamar. Tetapi Esther temanin saya minum wine di cafe bersama James. “ Saya dengar kabar kamu udah keluar dari cross guarantee settlement dengan pihak NY. Benar?


“ China yang minta saya keluar. Ya 70% pinjaman itu kembali ke CHina lagi dalam bentuk impor pengadaan EPC. Setidaknya China mengukuhkah hegemoninya terhadap ekonomi Indonesia. Itu lebih baik daripada AS. “ 


“ Dan kamu dapat fee dari Chang. Karena berkat dokumen dari kamu, Chang dapat posisi. Dia dapat fee dari pengadaan EPC. Padahal itu hanya selembar dokumen SWAP guarantee settlement. Tetapi dengan itu kamu benturkan politik AS dan China. Bisnis cari uang mudah. “ Kata Esther. 


“ Sok tahu kamu?


“ Semua langkah kamu saya tahu. Denny kan teman saya. Kamu kenal dari saya.” kata esther sewot. “ Baru saya tahu, ternyata dokument dari NY itu hanya credit enhancement yang ilegible, yang tidak ada isi. Teganya kamu make use, Danny.” Esther bicara dengan nada tinggi.


“ Saya engga make use. Itu semua ada ongkosnya. Tapi okelah. Maafkan  saya. Saya tahu, kamu tidak pernah percaya saya.” Kata saya tersenyum.


" Saya tahu jalan pikiran kamu. Kamu tahu percis mereka yang terlibat dalam proyek itu rakus dan pasti umpan kamu mereka makan. Itu kan skema too good to be true.  Chang itu pedagang, dengan dokumen dari kamu itu, dia pasti mudah yakinkan semua pihak, terutama bank di China dan juga politisi. Kamu memang tidak bergerak dan tidak ada dimana mana,  tapi kamu melempar racun ke mereka semua. Jahat kamu, B" Kata Esther.


" Saya engga jahat. Saya hanya survival saja. Berharap program pemerintah bisa jalan. Infrastruktur bisa terbangun. itu aja."


" Jangan hipokrit depan saya. Akui sajalah" Esther semakin keras.


" Loh apa salah saya berprangsangka baik. Kalau benar business model TOD bisa diterapkan kan bagus. Semua happy. " Kata saya.


" Dan kamu tahu pasti TOD itu akan gagal. APBN akan bailout. Karena rente tanah akan dibagi bagi ke pengusaha yang dekat penguasa. " Esther semakin emosi. Saya diamkan saja. Dia memang begitu. Kami saling berdiam. Saya tahu esther sedang berpikir. Entah apa yang dia pikirkan. Yang jelas dia sahabat saya. Dia yang tak ragu kritik saya. Tapi dia pula yang selalu ada untuk saya.


“ Tapi setelah melewati resiko dan kamu keluar sebagai pemenang, Kamu seksi banget. kecerdasaran kamu itu yang seksi. Jangan GR. ya.” Kata esther kemudian.. Saya tertawa.


“ Gimana kalau kita buka botol wine.? Kata esther dengan mata penuh arti.


“ Kamu engga kawatir  mabok. Hotel kamu jauh loh dari sini”


“ Mabok? kamu gendong aku ke kamar.” Kata esther polos dan dia pesan wine satu botol kepada waitress.***


Disclaimer : Nama dan tempat fiksi belaka.

Source : MYdiary.

Thursday, October 21, 2021

Merebut hati orang

 



Tahun 1987 saya pertama kali bersentuhan dengan Bank untuk jadi debitur. Waktu tiu usia saya 24 tahun. Collateral engga ada. Tapi saya ada long term kontrak ekspor keranjang Rotan. Semua bank minta collateral. Rekening saya untuk dijadikan Personal gurantee engga cukup. Saya bertemu dengan mentor saya. Dia orang Tionghoa. Setelah saya ceritakan masalah saya, dia tersenyum. 


“ Kamu harus ketemu dengan Dirut Bank langsung. Hanya dia yang bisa mengerti rencana kamu dan berani ambil resiko. “ Kata mentor saya. Siapa saya yang bisa bicara dengan dirut bank. Usia masih muda. Business masih kelas gurem.  “ Kamu dan dia sama saja. Sama sama dirut perusahaan dihadapan UU. Jangan takut. Temui dia. Kalau ketemu, pastikan dalam 3 menit dia tertarik dengan rencana kamu” Nasehat mentor saya. 


Saya datang ke kantor pusat Bank itu di kota. Jam 7 pagi saya sudah ada di ruang tunggu dirut itu.  Jam 7.30 dirut bank itu masuk ke kamar kerjanya. Saya membungkuk memberikan hormat. Dia tersenyum. “ Ada apa ? 


“ Boleh saya bicara sebentar pak.”


“ Kamu nasabah bank ?


“ Ya pak.” 


Dia tatap saya sebentar. “ Maaf saya engga ada waktu. Lain waktu aja” Katanya tersenyum. Saya mengangguk. Besok saya datang lagi. Di tolak lagi. Saya butuh waktu 4 minggu, datang setiap hari. Barulah dia terima.  Ketika duduk menghadap meja kerjanya, saya langsung ceritakan masalah saya. Dia tersenyum.

 

“ Gini, yakinkan pembeli kamu di Taiwan itu untuk mau memberikan red clause LC minimal 30%. Kalau dia mau, kamu datang ke saya. “


Saya  bengong. Begitu bijak dia menolak saya. Saya temui mentor saya. “ Wajar saja. Yang pertama harus kamu yakinkan adalah pembeli. Kalau hanya sekedar kontrak, semua orang bisa. Tetapi kontrak yang memberikan kamu kepercayaan bukan sekedar delivery tetapi juga mitra, itu engga mudah.”  Kata mentor saya bijak.


Saya lakukan ekspor pertama dengan modal sendiri. Saya kirim saja sebagai sample 1 kontainer tanpa Lc. Saya tahu itu beresiko. Kalau dia tidak bayar karena alasan spec di bawah standar. Habis saya. Ternyata dia senang. Tapi “ Saya akan bayar setelah 10 kontainer delivery sesuai kontrak. “ Katanya via fax. Saya senang. Tetapi darimana modal? Saya tidak mau terus dalam situasi tidak pasti. Saya terbang ke Taipeh untuk menemui buyer. 


“ Maafkan saya. Saya tidak bisa delivery karena saya tidak ada modal. Maafkan saya.” Kata saya berlutut.  


Lama dia pandang saya. 

“Jadi gimana solusinya? Katanya.


“ Apakah mungkin anda keluarkan red clause Lc 30% dari kontrak”  kata saya. “ Bank saya mau memberikan kredit ekspor kalau sarat LC itu red clause. “ Kata saya. Akhirnya setelah berpikir sehari, besoknya dia sanggupi.


Sampai di Jakarta, saya menghadap dirut bank itu lagi. Dia tersenyum membaca Performa Invoice dengan sarat Red Clause LC. 


“ Ajukanlah proposal kredit ke bagian kredit ya.” Katanya berwibawa namun tidak hilang wajah ramahnya. 


“ Terimakasih pak. Segera saya ajukan kredit sekarang” 


Setelah dapat kredit. Kepercayaan saya jaga. Bunga  dan cicilan saya bayar ontime. Hubungan pribadi dengan dirut bank saya jaga. Setiap dia ulang tahun saya selalu kirim  ke Rumahnya. Itu sampai sekarang. Walau dia sudah pensiun. Kini dia jadi mentor saya. 


Saya teringat nasehat papa saya. “ kalau kamu ingin naik tangga sosial maka kamu harus memerdekankan pikiran kamu. Kamu harus keluar dari stigma bahwa kamu lahir dari keluarga miskin. Kamu tidak sarjana. Kamu bukan etnis China. Nasip kamu ditentukan oleh pilihan cara kamu berpikir. Kalau pikiran kamu terjebak dengan realitas siapa kamu, maka masalah dan kesulitan akan menelan kamu.


Jangan biarkan masalah dan kesulitan menghentikan kamu. Kamu  harus terus bergerak. Kepada orang Chinalah kamu harus belajar. Mereka tidak manja dan pandai merebut hati orang. Setelah itu mereka berjuang tiada henti untuk menjaga kepercayaan.  Semoga suatu saat kamu bisa punya mitra orang China, atau orang Barat. Bahwa kamu putra terbaik kami dan kami tidak main main mendidik kamu.”


Usia 45 tahun setelah sepuluh tahun lebih papa saya meninggal saya punya direktur orang China, Hong Kong, Inggeris, Korea, Rusia. Terbukti benarlah nasehat papa saya bahwa bukan karena agama atau ras membuat orang berbeda tapi sikap mental dan lebih tinggi lagi adalah akhlak berani bersaing secara terpelajar dan terhormat. Tanpa mengeluh,  tanpa iri dengan kesuksesan orang lain. Senantiasa rendah hati.

Tuesday, October 19, 2021

Tidak mudah menjadi Ibu.

 


Jam 2 pagi aku terbangun oleh suara telp selularku. Aku segera meraih telp yang ada di lampu meja tempat tidur. Nara, Putriku. Tertera di layar telp selularku. “ Ada apa sayang? kataku.


“ Aku depan pagar ayah” Katanya dengan suara menahan tangis. Aku segera berlari ke lantai bawah. Tetapi sebelum aku sampai, Nara sudah ada di ruang tamu. ART sudah lebih dulu membukakan pintu. Nara tidak datang sendiri. Bersamanya ada dua cucuku. Dari wajahnya aku tahu Nara punya masalah dengan suaminya. Aku tak ingin bertanya lebih jauh. Aku sadar, sangat berat baginya untuk bisa keluar rumah tanpa suami.  Nara menangis. Aku peluk dia. “ Bawa cucu ayah ke kamar kamu, Ya sayang. “ Kataku seraya menghapus air matanya. Dia mengangguk. 


Aku termenung di kamar sendiri. Besok ulang tahunku yang ke 65. Itu juga berarti 10 tahun sudah aku ditinggal Mariam, yang meninggal karena kanker. Kami punya 2 putri dan 2 putra. Dua putri kami adopsi sejak mereka usia Balita. Dua putra anak kandung kami sendiri. Namun kami tidak pernah membedakan mereka. Usia mereka tidak terpaut jauh.  Boy, yang sulung sudah selesai kuliah. Dia sudah menikah dan memberiku 1 cucu. Tinggal di Surabaya. Randi, masih jomblo. Dia bekerja di pasar modal setelah tamat kuliah. Putriku Nara, jadi designer dan menikah dengan pengusaha. Punya anak 2. Terakhir Vivi, ibu rumah tangga, suaminya pengusaha.


Aku pergi ke ruang sholat yang ada di taman dekat kolam renang. Sampai di sana , sudah ada Nara bersimpuh sedang berdoa. Dia usai sholat tahajud. Aku sholat sunah fajar. Setelah itu, Nara berdiri ikut jadi ma’,mun sholat subuh. 


“ Ayah maafkan aku. Selalu membuat repot ayah.” Kata Nara usai sholat subuh. 


“ Tidak perlu minta maaf anakku. Mendiang bundamu berpesan kepada ayah walau kalian tidak lagi tinggal di rumah namun kamar kalian harus tetap bersih. Rumah ini akan selalu tempat kalian pulang dan ayah selalu ada untuk kalian.  Tenangkan diri kamu. Jangan terlalu sedih ya sayang” Kataku mengusap kepalanya. Nara berlinang air mata. 


Aku kembali ke kamar kerja untuk membaca dokumen sebelum pergi ke kantor. Telp masuk dari istri Boy. “ Ayah..” kata Weni.


“ Ya sayang,. ada apa ?


“ Mas boy sudah tiga bulan berhenti kerja. Katanya kerja di bank, haram.  Kehidupan kami sedang sulit ayah. Mas Boy tidak mau lagi bicara denganku. Karena aku menolak pakai hijab. Dia juga larang aku bicara kepada ayah. Gimana nasip kami ayah..”


“ Sabar ya sayang. Nanti Ayah bicara dengan Mas mu. Cucu ayah gimana?


“ Semua baik baik saja ayah.” 


Aku terhenyak. Sepagi ini aku dihidangkan masalah yang rumit dari anak anakku. Setelah sarapan aku pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku telp Bayu, suami Nara. “ Ananda sehat ? kataku menyapa.

“ Oh ayah. Sehat yah..” 

“ Istri dan anak anak kamu di rumah ayah.” 

“ Ya ayah. Maafkan saya.”

“ Kalau ada waktu, Bayu temanin ayah ya makan siang” Kataku.

“ Ya ayah. Bayu  pasti datang.”


Setelah telp ditutup aku telp teman yang juga ustad. “ Assallamualaikum ustad”

“ Waalaikum salam. Eh Pak Dono apa kabar.”

Aku ceritakan masalah Boy. Dengan seksama ustad itu mendengar. “ Saya akan temui putra bapak sekarang. Insya allah selesai masalahnya. Boy masih pemula kok. Tenang saja pak. Engga usah kawatir.”


“ Terimakasih pak Ustad. “


“ Oh ya pak Dono, terimakasih donasinya untuk ponpes kami. Uang sudah kami terima minggu lalu. Surat tanda terima sudah kami kirim juga  ke  kantor bapak. “


“ Terimakasih juga pak Ustad. Selama ini bapak yang telah menuntun saya dalam beragama dan sabar.” Kataku. Setelah itu aku menghela nafas. 


Sampai di kantor jam 10 pagi. Aku dapat kabar dari Sekretarisku bahwa Randi menantiku di kamar kerjaku. Kudapati dia sedang duduk dengan wajah lesu. “ Ayah ..” katanya dengan canggung. Itu cirinya kalau ada masalah.


“ Ada apa,  sayang..”


“ Maafkan aku ayah..”


“ Ya ada apa ? AKu semakin kawatir.


“ Dewi hamil. “


“ Dewi siapa ?


“ Sekretarisku. “


“ Sama siapa hamilnya?


“ Aku ? Kata Randi dengan menunduk. 


“ Kamu? Dewi pacar kamu.? Kataku terkejut. Randi terdiam lama. Aku kenal sifatnya. Dia sangat pragmatis. Karenanya aku harus hati hati. 


“ Ya ayah..”  Randi terdiam. “ Aku ingin menikahinya. Tapi orang tuanya engga setuju kami menikah. Karena beda agama.” Randi keliatan sekali rapuh. Dia butuh aku ayahnya untuk melindungi dan mengerti dia. Aku tidak mempermasalahkan dia tidak pernah terbuka soal pacarnya. " Ayah aku kangen Bunda.." Kata Randi menangis. Aku tahu perasaan Randi dalam situasi ini. Ibunya tempat dia curhat atas masalah apapun. Ibunya cahayanya melewati hidup yang tidak ramah.


Aku peluk dia. “ Ayah juga kangen Bunda. Kalau Bunda masih ada, dia pasti senang melihat kamu jadi pria yang bertanggung jawab. Hari ini kita akan temui orang tua Dewi. “ kataku. Kurasakan Randi semakin kencang pelukannya. “ Maafkan aku ayah. Selama ini aku terus merepotkan ayah.”


“ Anakku, masa muda masa dimana semua orang bisa saja berbuat salah. Ayah juga pernah muda. Yang penting kamu harus dapat hikmah dari setiap masalah yang datang. “ Kataku. Setelah itu Randi pergi keluar dari ruanganku. 


Aku kembali sibuk dengan akfititasku. Janga 12.30 siang aku pergi ke restoran janji bertemu Bayu. Dia mencium punggung lenganku ketika bertemu. Aku diamkan saja. Tidak bertanya apa masalahnya. Namun lambat laun Bayu salah tingkah. Akhirnya dia berkata” Aku lagi ada masalah ayah”


“ Masalah apa ?


“ Bank akan sita rumah kami. Masalahnya aku gagal membayar hutang yang jatuh tempo. Tahun lalu aku beli stock barang impor , ternyata kurs rupiah semakin menguat. Aku tidak bisa bersaing. Potensial loss. “ 


“ Sabar ya nak.”


“ Nara tuduh aku mata duitan kepada mertua. Padahal aku tidak ada niat minta uang. Aku hanya ingin minta advice ke ayah agar bisa keluar dari masalah. Dia terus cerca aku. Akhirnya aku lepas kendali, bicara kasar. Maafkan aku ayah . “


“ Biasa itu rumah tangga.  Kalian harus saling menguatkan. Jangan karena perbedaan sikap, kalian terpisahkan, paham ya nak.”


“ Ya ayah.


“ Oh ya. Stok kamu di gudang, PPC kan.” 


“ Ya ayah.”


Aku telp teman yang punya pabrik minuman. Setelah selesai telp aku menatap lama kepada Bayu. “ Kamu bawa kartu nama ayah. Temui pak Adreas. Dia sudah janji akan beli stok kamu. Bayarlah utang ke bank.” Kataku. Randi berlinang air mata dan memelukku. 


“ Terimakasih ayah.”


“ Jangan cerita kepada Nara soal ini ya. Jemputlah istri dan anak anak kamu di rumah ayah.”


“ Terimakasih ayah.”


Sore jam 5 aku dapat telp dari istri Boy ” Ayah, Mas Boy sudah minta maaf kepadaku. Dia menyesal karena salah ikut pengajian. Terimakasih ayah sudah kembalikan mas boy kepada aku dan anak anak.  Mas Boy akan ke Jakarta. Dia merasa salah selama ini. Seharusnya dia bantu ayah di perusahaan. Karena dia anak tertua di keluarga” Setelah bicara telp itu, aku menangis.  Aku ingat pesan Mariam, " Mas, kalau aku tidak ada, bagaimanapun hadapi dengan sabar anak anak. Mereka  semua cobaan dari Tuhan untuk kita,  agar kita kembali ke Tuhan dalam husnul khatimah ".  Tuhan kembalikan anakku kepadaku. Dia akan jadi tongkatku dimasa tua. Aku ingat pesan Mariam, " Mas, kalau aku tidak ada, bagaimanapun hadapi  anak anak dengan sabar. Mereka  semua cobaan dari Tuhan untuk kita agar kita kembali ke Tuhan dalam keadaan husnul khatimah ". Mariam benar. Buah sabar selalu indah..


Ya aku harus ingat pesan Mariam. Aku harus sabar dan ikhlas. Berikutnya aku harus siap siap ke rumah Dewi, Pacar Randi. Jam 6 sore Randi sudah sampai di kantor. Kami sholat maghrib berdua di kamar kerjaku.


Sesampai di rumah keluarga Dewi, kami disambut dengan wajah masam oleh ayah dan Ibunya. “ Kami memang orang tidak sekaya bapak, tapi kami punya rasa hormat. Dari awal kami sudah menolak hubungan mereka karena alasan beda agama. Tetapi anak bapak tidak bisa mengerti. Kini kami ditempatkan disituasi yang sulit. Beginikah cara bapak mendidik anak? Kata Ibu Dewi. Aku tahu dan bisa mengerti suasana hati seorang ibu. Apalagi kepada putrinya. 


Aku berlutut dihadapan kedua orang tua Dewi. “ Maafkan saya pak, bu. Memang saya gagal mendidik anak saya. Maafkan saya. “ Randi terkejut meliat aku berlutut dihadapan kedua orang tua Dewi. “ Dengan segala kerendahan hati, saya mohon izin bapak dan ibu untuk merestui mereka menikah. Saya janji akan menjadikan Dewi seperti anak kandung saya. Sekali lagi mohon maaf. “ lanjutku.


Ayah Dewi dan ibunya terkejut dengan sikapku. Mereka berdua berusaha mengajak aku berdiri. “ Ya sudah pak. Kami juga restui putri kami menikah dengan putra bapak. Kita orang tua yang penting mereka bahagia dengan pilhannya.” kata ayah Dewi. Selanjutnya pembicaraan langsung kepada jadwal pernikahan.


Dalam perjalanan pulang, WA masuk dari Vivi. “ Ayah, Restoran  kami sudah enam bulan tutup karena covid…Tabungan sudah habis. Selama ini suamiku larang aku minta bantuan ayah. Kini kami benar benar sulit,  ayah..”


“ Ayah sudah kirim uang Rp. 70 juta. Gunakan uang itu untuk bertahan sampai pandemi selesai. Nanti kalau kurang uang untuk modal, hubungi ayah ya sayang” Jawaban WA ku setelah kirim uang via Mbanking. Aku menghela nafas panjang. 


Sampai di rumah, kembali sepi. Nara sudah kembali ke rumahnya. Padahal hari ini aku ulang tahun. Tidak ada  anak yang mengucapkan ulang tahun. Tetapi bagaimanapun mereka tetaplah anakku. Tugas ayah memang harus berkorban dan menyimpan sepi dan sedih dihadapan anak anaknya. Boy dan Randi sudah jadi ayah. Tentu dia harus menjalani takdirnya sebagai ayah. Sama denganku. Nara dan Vivi sudah jadi ibu dari anaknya dan istri bagi suaminya. Tentu mereka harus menjalani takdirnya sebagaimana yang dilakukan Mariam. Pada akhir semua akan baik baik saja dan kepada Tuhan semua kembali.


***


Sewaktu Mariam, istriku masih hidup. Aku tidak pernah terlibat menyelesaikan masalah anak anak. Karena memang tidak ada masalah atau Mariam pintar menyelesaikan masalah tanpa aku perlu repot. Sehingga aku bisa focus dengan bisnisku. Siibuk di luar rumah dan pulang dalam keadaan lelah. Di rumahpun pikiranku masih kepada bisnis. Selama 25 tahun menikah, aku tidak pernah mendengar Mariam mengeluh soal anak anak. Andaikan ada waktuku mendengar keluhan Mariam, mungkin itu bisa mengurangi bebannya. Tetapi aku tidak ada waktu untuk itu. Aku merasa baik baik saja karena aku sudah memberi uang lebih dari cukup, rumah yang besar, dan segala fasilitas.


Setahun setelah Mariam wafat, Boy datang minta izin menikah. Padahal kuliah belum tamat. Setelah menikah, Boy dan istrinya tingga di rumahku. Setamat kuliah, Boy bekerja di PMA. Dia menolak berkarir di perusahaanku. Tidak juga mau tinggal bersamaku. Dia lebih memilih Pindah ke rumahnya sendiri. Tahun yang sama, Randy berhenti kuliah karena lebih tertarik main saham. Semakin aku paksa membantuku di perusahaan, semakin keras dia menolak. Bahkan sempat lari dari rumah. Aku terpaksa membujuknya berkali kali agar pulang. Setelah itu dia tetap ingin misah dariku. Tinggal di Apartement.


Lima tahun setelah itu, Vivi putri bungsuku memilih menikah dengan pria dari keluarga miskin. Suaminya tidak mau kerja di perusahaanku. Vivi dan suaminya pindah ke Semarang. Membuka restoran.  Setahun setelah Vivi menikah. Nara, tamat dari sekolah desain di Singapore, dilamar pacarnya. Suaminya pengusaha. Mereka juga tidak mau bekerja di perusahaanku. 


Setiap anak menikah, aku selalu menangis. Aku teringat Mariam. “ Kalau nanti aku tidak ada dan anak anak merepotkan Mas, itu karena salahku. Aku gagal melaksanakan amanah Mas mendidik mereka. Maafkan aku Mas..” Kata Mariam sebelum menghembuskan  napas yang terakhir. Betapa ikhlasnya dia dengan amanahnya sebagai istri. Tidak ada sekalipun dia menyalahkanku. Padahal akulah penanggung jawab keluarga. Kelak di akhirat, sebelum mereka diadili Tuhan, aku lebih dulu diadili. Maafkan aku Mar...maafkan aku..


Setelah Mariam meninggal, selama 10 tahun aku harus menyelesaikan banyak masalah dengan anak anak. Setiap masalah datang, aku semakin merasa bersalah kepada Mariam. Waktu dia masih hidup, aku tidak pernah berterimakasih kepadanya. Ternyata uang dan harta yang aku berikan tidak ada arti bila dibandingkan dengan kehadirannya selalu ada untuk anak anak. Aku baru sadar betapa berat amanah yang selama ini kuberikan kepadanya mendidik dan menjaga anak anak. Tugas ibu memang tidak mudah. Tidak mudah.