Saturday, February 27, 2021

Menikah karena Tuhan..

 


Saya punya sahabat, namanya, Steven. Dia kaya raya sebagai putra dari pengusaha Casino. Sampai dengan usia 40 dia belum juga menikah. Padahal dia ganteng. Tubuh atletis.  Pria sejati. Wanita cantik tak terbilang disekitar dia. Dari artis film sampai super model bermimpi ingin jadi istrinya. Tetapi itu tidak menjadikanya pria beristri. Wajahnya sangat femiliar bagi orang Hong Kong. Karena dia donatur tetap dalam acara balap formula 1. Namun orang Hong Kong tidak begitu lebay dengan orang tenar. Mereka engga tertarik untuk mengganggu privasi orang lain, seperti minta Sefly. Makanya dia bisa menikmati privasinya.


Apakah dia sengaja membujang? Saya tidak yakin begitu besar kekuatannya dibandingkan Tuhan. Sehingga bisa menolak jodoh. Yang pasti Tuhan punya cara tersendiri untuk mengirim jodoh kepadanya.  Saya ingin cerita sedikit bagaimana akhirnya Steve,  dapat jodoh.  Pada suatu saat di musim dingin tahun 2011. Saya dan Steve membuang waktu di sebuah cafe. Ini bukan caffe berkelas. Cafe biasa saja. Kami suka ditempat ini karena tidak jauh dari kantor kami.  


“ Walau saya pernah kalah bertaruh dengan kamu soal tidak semua wanita bisa dibeli. Namun saya tetap tidak yakin. Bahwa wanita suka harta dan kalau mereka akhirnya mau dengan saya karena uang saya. Makanya sampai saya anggap wanita itu komoditas. Terserah kamu anggap saya apa “ Katanya tersenyum. Saya tidak mau berdebat. Itu sudah sikap hidupnya. Saya tidak mungkin bisa mengubahnya. Yang jelas dia sahabat  saya dan dalam doa namanya saya sebut.


Tak berapa lama, ada wanita masuk ke cafe dan menghampir table kami. “ B, kenalkan ini pacar saya.” kata Steve. Saya terkejut. Apakah dia sedang becanda. Wanita itu saya yakin lebih tua dari Steven. Tidak  secantik wanita yang ada disekitarnya. Kulitnya tidak putih. Khas orang Bali. Saya mengangguk. Seraya menyalaminya. Saya diam saja. Ada apa ini.?


“ B. kamu sahabat saya. Selama ini kamu tak lelah mengingatkan saya untuk berubah. Dan inilah pilihan saya. Saya sudah melamarnya. Pestanya dua bulan lagi di LA. Orang tua saya ingin perstanya di Amerika. “ katanya. Saya tersenyum senang. Saya rangkul dia tanda saya bahagia dengan pilihannya.


“ Saya bertemu dia di Bali. Dia tidak kenal saya. Tidak tahu siapa saya. Dia bekerja sebagai room service di Hotel. Dia lihat saya diusir dari hotel karena deposit saya tidak mencukupi.  Dia menolong saya selama 10 hari di tempat tinggalnya yang sederhana. Keluarganya juga sangat ramah. Selama 10 hari dia sediakan tempat tinggal dan makan. Setelah itu saya pergi meninggalkan dia diam diam tanpa terimakasih. Tiga bulan kemudian saya datang lagi menemuinya. Dia tetap ramah kepada saya…Tapi…”


“ Tapi apa ?


“ Dia bilang, “ saya mengkawatirkan kamu. Saya kawatir ada apa apa dengan kamu. Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu dimana alamat kamu. Setiap hari saya berdoa moga kamu baik baik saja.” 


“ Oh..”


“ Saya mengenalnya dan akhirnya memutuskan untuk menikahinya karena alasa sederhana. Tetapi yang sederhana itulah membuat saya berubah sikap secara ekstrim.


“ Apa alasan sederhana itu ?


“ Dia mengkawatirkan saya karena Tuhan dan dia tidak berharap apapun kecuali cinta Tuhan. Mencintai Tuhan, adalah juga mencintai manusia. Tanpa mengenal ras, kedudukan atau harta. “ Kata Steve.

“ Jadi kamu memang sengaja melakonkan diri sebagai orang miskin untuk mendapatkan kejujuran orang bersikap terhadap kamu? Kenapa ?


“ Kamu engga sadar ya. Selama ini setiap kata kata kamu, itu menjadi tantangan bagi saya untuk membuktikan.” 


“Emang apa sih nasehat saya itu.? Kata saya.


“ Kamu pernah bilang, kesombongan terbesar adalah menentukan jodoh seperti apa yang kita mau. Sikap sombong itu karena miskin spiritual. Pernikahan diatas kondisi yang kita suka tak ubahnya dengan pernikahan kapitalis. Tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan.  Dan kamu benar. Saya akhirnya menikah bukan karena kondisi seperti yang saya mau. Tapi karena Tuhan melunakan hati saya untuk mencintai perempuan yang mencintai saya karena Tuhan.” 


Setelah menikah Steve berubah lebih bijak. Dia lebih focus mengembangkan bisnis diluar casino. Orang tuanya sangat memuja istrinya. Karena penuh perhatian dan cinta kepada mertua…

Kalau saya di undang makan malam di rumah Steven yang mewah, istrinya masak gado gado. Enak sekali. “ Steven, cerita kalau Pak B suka gado gado. Saya belajar masak gado gado “ kata istrinya tersenyum ke arah steven. Kalau ingin dapatkan makanan enak, pergilah ke Italia. Kalau ingin dapatkan kedamaian, pergilah ke Tibet. Tapi kalau ingin dapatkan cinta, pergilah ke Bali. Steven dapatkan cinta, dia dapat makanan enak  dan kedamaian sekaligus..

Thursday, February 25, 2021

Tidak dendam.

 



Kapal dagang ( phinisi) saya tenggelam dan hampir membuat saya meninggal teratung atung selama 3 minggu ditengah laut. Sayapun bangkrut. Itu tahun 1988. Hutang tak sanggup saya bayar. Terpaksa rumah disita. Saya titipkan istri dan anak usia balita kepada mertua. Karena saya tidak punya apa apa lagi untuk memulai langkah saya dalam bisnis.  Mertua saya bisa menerima. Ipar saya keliatan tidak suka. Setiap dia lewat depan saya. Dia ludahi muka saya. Saya diam saja. Saya sadar, Saya numpang. 


Tapi suatu saat istri liat saya diludahi. Dia marah besar ke kakaknya. Terjadi pertengkaran. Mertua saya minta saya keluar. Saya keluar. Sebelum saya keluar , saya sujud dihadapan mertua saya. Mohon maaf. Mohon jaga istri dan anak saya. 


Ketika saya melangkah keluar, di teras rumah.  Istri saya bersimpuh di kaki saya. Dia pegang kedua kaki saya. Dia menangis namun tak bisa berkata apapun. Saya tahu saat itu betapa hancur hatinya. Dia tahu saya sangat butuh dukungan. Terutama dari keluarganya. Namun saya tetap melangkah pergi. Saya yakinkan kepada dia,  bahwa saya akan segera jemput dia dan anak untuk berkumpul lagi. Hanya minta dia bersabar dan doakan saya.


Saya pergi keluar rumah tanpa uang satusenpun. Hanya baju satu stel melekat dibadan. Saya sempat tidur di monas semalam.  Akhirnya saya ingat teman lama. Florence. Saya telp dia. Dia kirim uang ke rekening saya. Jadi saya bisa ngekos di Kawasan Cikini. Setiap hari saya keluar rumah. 


Suatu hari saya ngobrol santai dengan tetangga yang kerja sebagai supir menteri. Otak survival saya langsung bergerak liar. Segera saya datangi teman yang masih kerja di perusahaan jepang,  importir mineral. Saya cerita bahwa saya bisa urus impor phospat. Dia senang. Dia siap beri saya fee USD 2 dollar per ton.


Melalui supir itu saya diatar ke rumah menteri. Saya yakin, pasti proposal saya ditolak. Lah koneksi hanya supir. Tapi saya tidak punya pilihan. Hanya itu harapan saya. Ternyata, apa yang terjadi ? Walau menteri itu terima saya diteras. Namun dia mau baca proposal saya. “ Kamu datangi yayasan ini. “ katanya. “ Nanti saya telp pengurusnya.” lanjutnya. Singkatnya hari itu juga saya bertemu dengan pengurus yayasan mau memberikan rekomendasi resmi untuk PT saya sebagai mitra impor phospat. Dalam seminggu saya dapat surat izin impor phospat dengan kuota 100.000 ton perbulan.


Biaya LC dan segalanya ditanggung perusahaan Jepang. Saya bisa bangkit lagi. Hanya dua bulan saya terpuruk dan terhina. Saat itu juga saya jemput istri dan anak saya.  Kami pindah ke rumah baru kami. Beberapa tahun kemudian, Ipar saya bangkrut. Dia pinjam uang ke saya. Saya pinjamin tampa sepengetahuan istri. Hutang itu tidak pernah dibayar. Sayapun tidak tagih. Tetapi suatu saat istri tahu saya pinjamin kakaknya. Dia marah kepada kakaknya. Saya lerai dan minta dia bersabar.


“ Papa tahu. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa memaafkan kakak ku. Dia ludahi pria yang ku cintai. Ayah dari anak ku.  Tapi papa malah bantu dia. Papa engga jaga perasaanku. “ kata Istri. Saya diam saja. Mau gimana lagi. Saya tidak bisa dendam. Apalagi dia adalah kakak istri dan keluarga kami. 


Namun karena itu, akhirnya istri bisa sadar. Diapun melupakan dendam. Mengapa ? Saya katakan” Papa bisa bangkit setelah bangkrut dan terhina. Itu hanya butuh waktu dua bulan. Tanpa pertolongan Tuhan, mana mungkin papa bisa bangkit. Kenapa papa harus dendam?  Benci kepada manusia? Ini bukan antara papa dan kakak kamu tetapi antara papa dan Tuhan. Tuhan engga suka orang pendendam. Itu yang diajarkan amak. “


Setelah itu saya bangkrut lagi. Totalnya empat kali saya bangkrut dalam kurun waktu 10 tahun. Kami selalu sabar walau terhina dan terabaikan. Karena itu kami baik baik saja. Kini kami menua bersama. Tetap hidup sederhana.  Tuhan engga suka orang berlebih lebih dalam segala hal.

Tidak menyerah..

 


Belajar menerima realita


Di Hong Kong saya biasanya weekend di Shenzhen. Kantor sediakan apartemet di kawasan Dongmen. Di luar kota Shenzhen ada  villa. Hari sabtu saya didampingi oleh James atau Tong atau Wenny atau Esther. Namun hari minggu saya sendirian. Maklum hari minggu hari libur bagi mereka bersama keluarga dan teman. Tinggalah saya sendirian. Biasanya saat kesendirian itu saya gunakan bersantai. Minggu Subuh saya sholat di Masjid Libanon yang  berada diatas atap sebuah Hotel. Jalan santai dari kawasan apartement ke stasiun Louhu. Jam 8 pagi saya ke pusat  Gym dan Spa sampai jam 9 pagi. Sarapan pagi di restoran Muslim.


Setelah itu biasanya saya suka pergi ke pasar tradisional. Bukan untuk belanja. Tetapi meliat cara orang berbisnis seperti waktu zaman saya kecil di Lampung temanin ibu saya belanja. Liat orang tawar menawar harga 200 gram cabe. Tarik ulat leher untuk ikan sekilo. Apalagi liat pembeli emak emak bawa sendiri timbangan untuk pastikan engga dibohongi penjual. Lucu dan asyik liat mereka. 

“ Are you from Philipino” Tegur seorang wanita. 

“ No. Inni” Kata saya tersenyum ramah. Orang China tidak bisa sebut Indonesia. Lidah mereka engga sampe. Mereka menyebut Indonesia, Inni.

“ Oh saya ingin memperlancar bahasa inggris saya. Boleh kenalan” Katanya dalam bahasa inggris. Menurut saya mendekati sempurna.

“ Tapi bahasa inggirs anda sudah bagus.” kata saya. Dia memerah wajah. 

“ Kenalkan. Nama saya Lin atau bisa panggil saya Alisa.” Katanya mengulurkan tangan untuk salaman

“ Saya, Bandaro atau B”Kata saya menyambut tangannya. “ Kamu sedang belanja apa ” Kata saya.

“ Ya beli kebutuhan dapur. Anda tidak membeli apapun?

“ Engga. Saya hanya jalan jalan saja. Saya akan ke starbucks untuk minum kopi. Kalau anda selesai belanja, bisa mampir kesana. Kita minum kopi.”

“ Terimakasih. Saya sudah selesai. Mari kita pergi “ katanya.  Saya perhatikan. Alisa bukan orang selatan. Tetapi wilayah Barat. Dia tinggi dan hidunya mancung. Ukuran Bra sedikit lebh besar di bandingkan wanita selatan. Dari pembicaraan ternyata tebakan saya benar. 


Dia berasal dari wilayah Barat China. Pekerjaanya sebagai designer pakaian di sebuah pabrik. Dia sempat mengeluh. Awal dia kerja. Dia dibayar sebulan 12000 Yuan. Tetapi setelah lima tahun kerja. Gajinya terus turun menjadi 5000 Yuan. Alasanya, lulusan designer semakin banyak. Gaji sudah berkompetisi. Dia harus terima atau pabrik persilahkan dia keluar.  Dari kenalan itu, setiap hari minggu saya tidak lagi sendirian. Alisa mau temanin saya selama di Shenzhen.


Belakangan saya tahu. Dia pindah ke Zuhai. Dia banting setir jadi Pengusaha travel. Dia bermitra dengan temannya pengusaha angkutan. Kamipun sudah jarang ketemu. Namun bila ada kesempatan dia sempatkan datang ke shenzhen.  Dia masak makan malam di apartement saya. Setelah itu kami main Bowling atau pergi ke cafe and Bar. Tak terasa persahabatan kami berlangsung 2 tahun.


***

Alisa datang ke saya. Penampilanya berbeda. Pakaiannya sudah lusuh. “ Saya gagal B. Tabungan saya habis. Mitra saya singkirkan saya. Padahal dia janji kalau usaha patungan kami bisa dapatkan agent dari Eropa dan Jepang , dia akan setor modal. Tetapi setelah itu dia tidak juga setor modal.  Saya sabar.  Setelah berkembang, dia datang ke kantor. Memecat saya. Padahal dari awal walau dia pemegang saham mayoritas, dia tidak setor apapun. “


“ Kamu lapor ke Polisi. Saya akan bantu. Saya ada lawyer. “ Kata saya.

“ Engga. Biarlah. Yang salah saya. Teman saya mungkin juga tidak berniat merugikan saya. Itu karena ulah istrinya. “ Kata Alisa. Airmatanya berlinang. Saya terkejut. Dia baru 1 tahun berbisnis. Tetapi mental enterpreneur sudah terbentuk. Dia cepat membuat keputusan dan melupakan kegagalannya. Orang yang cepat melupakan kegagalan adalah petarung unbreakable.


“ Ok. Lantas apa yang bisa saya lakukan?

ALisa terdiam lama. Namun saya genggam jemari dia. Untuk pastikan saya sahabatnya. Saya ada untuk dia. 

“ Saya ada rencana bisnis IT. “ Katanya. Seraya mengambil sesuatu di dalam tasnya. Proposal. “ Kamu pelajari. Apa mungkin?  Saya baca proposalnya yang hanya lima halaman. Setelah saya baca, saya tanya “ masalah  kamu apa dengan proposal ini?

“ Saya butuh modal. “ Katanya.

“ Saya sediakan modal. Tetapi strategi dari saya. Kamu jalankan. gimana? 


Dia memandang saya lama. Sekonyong konyong dia memeluk saya. “ Kamu mau saja bermitra dengan saya itu sudah berkah. Apalagi kamu mau keluar uang. Entah bagaimanan saya membalasnnya.”


Saya minta James untuk mempertajam proposal Alisa dengan dukungan data riset dan analisa prospek bisnis. Saya membuat keputusan investasi sebesar USD 500.000 sebagai start awal modal. Saham saya 70% dan Alisa 30%. Ini bisnis pribadi saya di bawah proxy Holding Wenny. Alisa hanya tiga bulan didampingi team Wenny. Setelah itu dia sudah mandiri melakukan business process. Tiga tahu setelah itu, Wenny tawarkan bisnis Alisa ke Pony Ma. Deal terjadi sebesar USD 30 juta. Saya keluar.  Angel fund saya pada start up Alisa sebesar USD 5 juta. Kami dapat 5 kali capital gain. Alisa dapat USD 7,5 juta. Ditambah bonus dari Wenny sebesar USD 2,5 juta.


Alisa mendirikan venture capital untuk jadi mitra kaum muda yang  ingin bersaing menjadi terbaik di era digital. “ Apa motivasi kamu buka usaha veture capital? tanya saya.


“ Saya orang miskin di kampung. Tersingkir sebagai pekerja karena upah yang terus turun. Tersingkir karena ulah pemodal. Dan saya terselamatkan dari seorang asing, yang juga sahabat saya. Kamu bukan hanya keluar uang tetapi kamu jadi mentor saya, memberikan network business dan rasa hormat. Kaum muda China butuh banyak mentor bisnis. Saya mau ambil bagian dari program pemerintah membantu kaum pemula agar mereka selamat di rimba belantara bisnis dan naik kelas.” Kata Alisa. Saya kagum. Dia memang orang baik. 


Belakangan saya dapat kabar. Venture capital Alisa jadi members associated partners Pony Ma, untuk berburu start up bisnis IT yang layak bergabung dalam ekosistem WeChat.


Moral cerita. Orang baik selalu berpikir positip disetiap masalah. Kamu bisa jadi apa saja. Bekerja keraslah untuk mencapainya. Kalau sukses kembalilah kepada Tuhan. Berbagilah dalam spirit cinta. Hormati orang berilmu dan kaya. Dari dia kamu akan dapatkan jalan menuju mata air. Cintai orang miskin, dari dia kamu akan dapat doa tulus untuk mempertebal empatimu.

Monday, February 22, 2021

Buah kebaikan..

 

Kesunyian itu ada. Keheningan itu adalah keterpaksaan. Phisik tak berjarak. Mereka tidak saling tatap. Diam seperti sedang berdialogh dengan hati masing masing. Anak usia 5 tahun tak henti berlari kesana kemari. Kadang mendekat  keibunya yang duduk dihadapan pria itu. Anak kecil itu dari arah belakang menyender di kursi Ibunya. Kadang korsi bergoyang goyang


“ Sayang, duduk yang tenang.” Kata ibunya dengan lembut. Anak itu menurut.

“ Engga kebayang betapa repotnya kamu ngurus dia.” kata pria yang dihadapan wanita itu.

“ Ya dia aktif sekali, bang Chan.”

“ Mungkin waktu kecil aku seperti dia ya Ming” 

“ Like father like son, mungkin”. Ming berkata seperti menusuk kejantung Chan. Hening lagi.

Akhirnya “ Aku kembali ke Hotel. Besok kami pulang ke Changsa. Terimakasih udah mau terima kami.” Kata Ming.

“ Terimalah uang ini. “ Kata Chan menyerahkan bank draft USD 200.000. 

“ Aku tdak datang untuk minta kamu merasa bertanggung jawab. Aku kangen, Chan” Ming menangis. “ Kedua tanganku masih kuat untuk memikul beban William. Kami akan baik baik saja. Doakan saja.” Ming bicara terbata bata dalam isakan tangis.

“ Aku salah. Karena meninggalkanmu. Aku tidak tahu kalau ternyata kamu hamil. Aku salah karena tidak bisa menikahimu. Karena kehidupan rumah tanggaku sekarang sangat baik. Tidak mungkin aku rusak karena situasi ini. Tapi cintaku kepadamu, itu tidak salah. Terimalah uang ini, Ming. Didik Wiliam dengan baik. Kalau ada masalah, kamu tahu bagaimana harus menghubungiku. “ Kata Chan dengan perasaan bersalah.  


Chan berdiri dari tempat duduknya. Dia menggendong anak usia 5 tahun itu.  Ming tersenyum bahagia. “ Kamu akan sehebat ayahmu, William. Kamu adalah  bukti cinta mama kepada Ayahmu. Mama akan jaga kamu dengan segenap jiwa mama.” kata Ming. Chan merangkul Ming dengan lengan kanannya dan lengan kiri menggendong William. “ Kita akan baik baik saja.”


***

Chan sudah berusia 65 tahun. Badannya lemah. Sekarat. Dokter mengatakan dia kena kanker prostat. Dua anaknya jarang menengokinnya di Rumah. Anaknya tidak mau kembali ke Indonesia. Mereka sudah nyaman berkarir di Amerika. Sejak 10 tahun lalu dia bangkrut. Sehari hari hidupnya ditopang oleh Ling, adik perempuanya. Namun akhirnya, hari ini dia dapat kabar dari Ling. Dia harus tinggal di rumah Jompo. Chan maklum. Ling hanya ibu rumah tangga. Suaminyapun pegawai biasa. Tidak punya uang berlebih untuk terus menanggung hidupnya.


Chan pasrah saja. Bayangannya kepada Ming dan William. Waktu William tamat SMU, Chan bertemu lagi dengan Ming di Changsa. Chan  memberi Ming uang untuk biaya melanjutkan pendidika William ke Tianjing University.  Itu pertemuan kedua. Pertemua ketiga di Beijing. Waktu menghadiri wisuda Willam. Chan memberi uang USD 200,000.  “ Papa engga bisa terus bantu kamu William. Kamu sudah dewasa, Ini pemberian papa yang terakhir. Jaga ibumu.” Katanya. Sejak itu tidak pernah ada lagi pertemuan. Chan tidak tahu perkembangan terakhir William. Juga Ming.


Sore hari, ambulance sudah datang menjemput. Ling sudah mempersiapkan segala galanya untuk dia selama di panti Jompo. 

“ Rumah ini besok harus sudah kosong. Pembelinya sudah minta begitu.” kata Ling. “ Uang hasil penjualan rumah aku tempatkan di deposito atas nama Kak Mey. Bunganya bisa bayar biaya abang selama di panti. Kak Mey biar tinggal sama aku”  Kata adiknya..

“ Anak anaku sudah kamu kabari, Ling? Kata Chan seraya melirik istrinya, Mey.

“ Lelah aku mengingatkan dan berkirim kabar. Surat, email, SMS tak mereka jawab. Udahlah. Engga usah dipikirkan soal anak. Mereka sudah punya kehidupan masing masing. Ikhlas sajalah bang.” kata Ling. Dia diam dan pasrah. Mey berlinang air mata. Mey sejak 3 tahun lalu kena stroke. Responsenya sudah sangat lambat. Tapi Mey secara phisik sehat. 

Kendaraan ambulance terhalang keluar. Karena ada kendaraan berhenti tepat di depan pagar rumah. Seorang pria gagah keluar dari kendaraan. William. Chan tertegun melihat kedatangan William. Yang tak pernah dia bayangkan.

“ Papa ? sakit ? kata william dengan wajah kawatir. Adiknya bingung meliat keakrapan antara Willam dan Chan. Mey berkerut kening. Wiliam merangkul Chan.

Kemudian William sujud di kaki Chan “ Papa, izinkan aku merawat papa. Menjaga papa. “ 

“ Berdirilah nak. “ Kata Chan seraya memeluk William. “ Bagaimana kabar ibumu ?

“ Mama sudah meninggal, papa”

“ Kapan?

“ 10 tahun lalu.”

Chan menangis. “ Maafkan aku Ming..” Dia sesenggukan. Memeluk erat William.


William mengenalkan dirinya kepada Ling dan Mey. “ Sebelum mama meninggal, dia berpesan agar aku menjaga papa. Izinkan aku menjaganya, Ma, Tante “ kata William seraya sujud dikaki Ling dan Mey. Tak berapa lama, Mey mendekati William, tanpa banyak bicara. Mey memeluk William.  “ Ka …mu .anaku juga..” Kata Mey mengganguk ngangguk kepada William.


Akhirnya Chan terbang ke Beijing bersama William. 6 bulan dalam perawatan dokter terbaik di China. Chan bisa sembuh. Dia kembali ke Indonesia karena harus menjaga Mey. William membelikan apartemen mewah di Jakarta dan menyediakan nurse khusus merawat Chan dan Mey.


William termasuk orang terkaya di China. Dia sukses sebagai pengusaha. Setiap bulan dia pastikan datang menjenguk Chan. Rasa sayangnya kepada Chan dan cintanya kepada Mey tidak berbeda dengan cintanya kepada ibunya sendiri.


Moral cerita : Pada akhirnya yang menyelamatkan dan melindungi kita adalah perbuatan baik kita. Dan itu bisa datang dari siapa saja. Pria sukses karena dia hidup dalam cinta dan pengabdian kepada orang tua. Ia tahu berterimakasih dan bersukur kepada Tuhan.

Tuesday, January 26, 2021

Berkorban dan mencintai


Tahun 1985

Florence adalah wanita etnis Tionghoa. Dia kelahiran Riau. Sebetulnya dia cantik. Tetapi karena penampilannya tomboy dan malas berhias, tidak ada pria yang naksir dia. Kami kenalan ketika sama sama jadi sales training pada perusahaan Jepang. Akhirnya kami bersahabat tak tepisahkan.  Dia tidak suka berpura pura. Tegar dan sangat tinggi empatinya. Suatu saat aku mengabarkan kepadanya bahwa aku telah membuat keputusan untuk menikah. Dia senang. Tapi dia tidak meresponse untuk aku melamarnya. Suatu saat aku mengabarkan bahwa orang tuaku menjodohkan aku dengan wanita pilihan keluarga. Dia menguatkan aku untuk tidak ragu menikah. Waktu acara pernikahan dia datang memberikan bingkisan buku harian. Yang menarik di halaman depan buku harian itu ada sajak yang dia tulis.


Senja di pangkal akanan.

Menitip rindu anak rantau.

Kepada angin malam.

Di bawa elang menuju entah kemana.

Dalam kesunyian hati merintih.

Berharap dalam doa.

Sang pengeran menjeput

Namun apalah diri ini.

Hanya melihat matahari terbenam

Yang hanya merasakan kehangatan sejenak

Namun dia tetap di pangka akanan.

Tak akan bisa menjangkau ujung langit.

Esok matahari akan terbit lagi.

Dia tetap di pangkal akanan.


Buku harian itu selalu menamiku selama lebih setahun. Setelah itu buku harian itu penuh dengan catatan tentangku. Kehidupanku berubah dan aku tidak lagi bertemu dengan Florence.


Tahun 1988-1989

Usahaku bangkrut. Aku harus memulai dari nol. Aku tak ingin melanjutkan usaha yang lama. Aku harus mengubah bisnis. Karena aku tidak ingin jatuh di tempat yang sama dan tidak ingin berkubang dengan cerita lama. Aku harus berubah. Usiaku masih muda. Tapi memulai hal yang baru tidak mudah. Saat itu aku bertemu lagi dengan florence. Dia punya usaha di Singapore. Dia sudah sukses sebagai aget alat berat. Dia tawarkan aku bermitranya dengan dia sebagai agent di Jakarta. Bukan itu saja. Dia memberiku modal untuk memulai usaha.


Belakangan aku sukses menjual alat berat kepada BUMN. Namun usaha keagenan itu tidak berlangsung lama. Aku mengundurkan diri karena dia terdepak oleh mitranya di Singapore. Florence kembali ke Jakarta. Walau mitranya tetap berharap aku melanjutkan keagenan di Jakarta. Tapi aku tegaskan. Bahwa aku mau berbisnis karena tawaran dari sahabatku, Florence. Tapi bisnis keagenan itu aku punya modal untuk bangkit lagi. Saat itu aku tahu Florence sedang pacaran dengan pengusaha Kimia. Keluarga konglomerat. Sudah punya bayi. Namun dia tidak tahu kapan akan menikah. Setelah itu kami disconnect lagi.


Tahun 1993.

Aku bertemu lagi dengan Florence. Dia cerita tentang hubunganya yang gagal dengan pacarnya. Tetapi dia bersukur sebelum menikah dia sudah dapat bayi laki laki. Dia jadi single parent. Tinggal di Kawasan pluit. Usahanya berkembang sebagai suplier spare part alat berat pada perusahaan minyak. Saat itu usahaku sedang terpuruk akibat kospirasi relasiku yang akhirnya menendangkau dalam kemitraan. Florence datang menarwarkan bisnis. Dia bantu aku modal. Bukan itu saja dia beri aku proyek. Kamipun bermitra dalam proyek Telecom di Malaysia. Proyek itu berhasil menyelamatkanku keluar dari keterpurukan. Setelah itu disconenect lagi.


Tahun 2000.

Usahaku bangkrut. Aku bertemu lagi dengan Florence. Dia bercerita bahwa dia mengambil anak asuh perempuan. Usia sama dengan putranya. Bertambah anaknya. Dia tak lagi berniat untuk menikah lagi. Diapun hijrah ke Batam mengembangkan industri alat beratnya. Dia bukan hanya suplier tetapi juga punya industri alat berat. Dia tawarkan aku bermitra dengannya. Tapi aku menolak. Tapi selama aku bangkrut dia selalu kirimi aku uang. Tanpa pernah aku minta. itu berlangsung hampir setahun. Dia baru berhenti kirimi uang setelah aku bisa bangkit lagi.


Tahun 2002.

Aku berhasil dalam kemitraan dengan eks keluarga cendana mengakuisi group perusahaan melalui BPPN. Dari akuisisi itu, group perusahaan itu dipecah jadi kecil kecil. Salah satunya aku diberikan kepadaku. Ternyata perusahaan itu adalah keagenan alat berat yang tahun 1989 mendepak Florence sebagai mitra. Perusahaan itu sudah berkembang besar. Punya longterm kontrak maintenance dengan beberapa BUMN di Indonesia. Punya agent di beberapa negara ASEAN.


Di penghujung tahun 2002 aku bertemu dengan Florence di Jakarta. Keadaannya sudah beda dengan dua tahun lalu. Dia ditipu oleh mitranya dari korea. Dia harus bayar hutang bank atau semua disita. Aku jual perusahaan keagenan di singapore itu kepada salah satu konglomerat. Uang hasil penjualan itu aku transfer ke rekening Florence. Dengan itu dia bisa bayar hutangnya dan selamat dari sita jaminan bank. Dia terharu. Padahal saat itu aku masih dalam keadaan merintis untuk berusaha bangkit. Setelah itu aku hijrah ke China kami disconnect.


Tahun 2010. 


“ Padang, gua mau ketemu lue di Hong Kong. Jemput gua ya di Bandara.” kata Florence via SMS. Aku tersenyum. Terakhir ketemu dia tahun 2002.  Ketika itu dia kena trap mitranya orang Korea. Sehingga dia harus bayar hutang. Dia gagal bayar selama 2 tahun. Terpaksa bank lakukan penyitaan. Aku bailout hutangnya. Jadi dia bisa terus melanjutkan bisnis bidang Perkapalan.


Dari jauh Aku liat dia jalan cepat di kuridor gate kedatangan. Dia mengenakan jacket musim dingin. Walau usianya sudah 47 tahun. Dia masih keliatan lebih muda 10 tahun. 

“ Selamat datang, Ubi.” Kataku merangkulnya. Dia tersenyum cerah. Aku ambil luggage nya. 

“ Naik apa kita ke downtown? katanya.

“ Kendaraan aja. Sebentar lagi datang. Aku sudah call. Kita tunggu di sini saja.  “ Kataku depan loby bandara.

“ Langkah kamu masih tegap, padang. “ Kata Florence perhatikan Aku. 

“ Emang gua udah tua? Kita seumur. Kamu aja keliatan usia 30 an”


Dalam kendaraan dia perhatikan aku yang duduk di sampingnya.

“ Padang, apa mimpi gue ? Ini benar disamping gue, teman jelek gue? Katanya.

“ Emang kenapa sih, Ubi.”

“ Lue beda banget sekarang. Ini mobil lue ?

“ Kantor gue yang punya. Emang kenapa ?.”

“ Kok kulit lue putihan. Mukanya klimis.” Katanya menyentuh pipih Aku. Aku hanya tersenyum. Florence cerita tentang sahabat kami semasa sales tahun 80an. Aku mendengar. Kadang tertawa. Cara dia bicara tidak berubah. Sama seperti tahun 80an. Tak berapa lama dia tertidur. Mungkin dia lelah. Aku rebahkan kepalanya di pundak Aku. Dia sepertinya sadar. Dia peluk lengan Aku. Tak berapa lama.. “ Kita sudah sampai. “ Kata Aku menyentuh pipihnya. Dia terbangun. 


“ Ini apartement lu? katanya sampai di apatement.

“ Ini apartement khusus tamu perusahaan.  Apartemen gua ada di blok sebelah. Tuh keliatan towernya. “ kata Aku menunjuk gedung sebelah “  Ini semua kamar menghadap laut. Lue  bebas tidur dimana lue mau.  ART nya orang philipine. “ lanjut Aku. 

“ Keren apartementnya. “ Kata Florence masuk ke semua kamar yang ada. “ Tapi gua engga mau tinggal di sini.”

“Jadi dimana ?

“ Di apartemen lue lah. “

“ Ya..udah. “

“ Keberatan ? lue engga percaya sama gua? Kehormatan keluarga lue adalah kehormatan gua. Itu udah gua buktikan selama ini. “ 

“ Ya ya…Udah. Mari kita pindah. “ Kata Aku tarik tasnya. 

“ lue istirahat. Gua harus kembali ke kantor. Nanti jam 7.30 gua jemput. Kita makan malam.  Ok , Ubi” Kataku sampai di apartementku

“ Engga mau. Gue iku lue. “ Katanya cuek. Dia letakan tasnya. 

“ Ya udah. Ikut..” kataku tampa bisa menahan.


Florence duduk di sofa kamar kerja Aku. Aku sibuk dengan aktifitas kerja. Membaca laporan lewat komputer.  Diskusi dengan BDG dan komite investasi.  Mereka datang ke kamar kerja Aku silih berganti. Semua diperhatikan Florence. Jam 6 selesai. Aku hampiri Florence di sofa. “ Mari kita makan di luar.” Kata Aku. Dia berjalan cepat mengikutiku. 

“ Anak buah lue, ada orang Jepang, China, Hong Kong, Korea, Ausi, Belgia.  Lengkap dech. “Kata Florence di dalam kendaraan.

“ Ya. Mau cari orang Medan, kan engga ada di sini.”

“ Eh gua ingat dulu. Waktu lue diomelin boss Kawamura. Lue pernah ngomong ke gue. Lue bermimpi punya anak buah orang asing. Lue janji engga akan kasar sama mereka. Ingat engga lue?

“ Engga lah. Lupa”

“ Ya udah. Gua saksi lue, udah berhasil dengan mimpi lue.”

Ketika masuk restoran. “ ini lantai 108. Kita ada diatap. Restoran rooftop paling mahal. Apalagi di Ritz “‘ kata Florence. Dia terkejut meliat ada wanita menanti depan pintu. “ Itu kan sekretaris lue.” Katanya

“ Ya.Kenapa ?

“ Kenapa dia ada disini ?.”

“ Pesan table untuk kita makan.”

“ Duh segitunya lue persiapkan. Hanya untuk makan.”

“ Tenang aja. Cuek aja. “


Florence berwajah masam. Aku tidak tahu ada apa ? Ada keinginan untuk bertanya. Namun Aku berpikir positip. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu. “ Itu kenapa dia ada di belakang lue” kata Florence ketus. Aku menoleh ke belakang. Lena berdiri.

“ Itu Lena. Sektaris gua.  Dia ada di sini. Kalau ada telp masuk dia akan berikan ke gua. Tapi telp yang penting saja.”

“ Hmm.” Dia langsung buang serbet di samping piring ke arah Aku. “ Gua pulang aja.” Katanya. Dia keluar dengan setengah berlari. Aku bengong. Ada apa ini. Aku kejar. Tetapi dia sudah lebih dulu masuk lift. Aku terpaksa pakai lift sebelah. Pintu Lift tersibak. Aku liat FLorence berlari kearah Stasiun MRT di kuridor IFC. Aku kejar dan berhasil menjangkaunya.


” Ada apa, Ubi. Apa salah gua.?

“ Besok gua pulang.” teriaknya.

“ Ya kenapa? kan kamu janji mau liburan di  sini. Gua udah siapkan semua”

“ Gua engga kenal lue lagi, Padang. “ Florence menangis. “ Gua bayangin setelah 8 tahun engga ketemu, gua bisa ketemu dengan pria yang gua kenal. Ternyata gua salah. Kamu seperti orang asing. Gua engga cocok dengan hidup lue, padang. Maafin gua. Gua doain lue selalu. Biarkan besok gua pulang”

“ Ubi. Gua juga engga pengen berubah. Perubahan terjadi seperti slow motion sejak gua hijrah ke Hong Kong. Kalau gua ada modal, engga mungkin gua hijrah ke Hong Kong. Lue kan tahu…”Kata Aku jongkok menundukan kepala.  Tak berapa lama. Terasa ada yang membelai kepalaku. Florence ikut jongkok mengusap kepalaku . “ Dari mana kamu dapatkan semua bisnis kamu itu ? katanya dengan suara lembut layaknya seorang ibu.

“ Dari hutang, Ubi ” Kataku dengan air mata berlinang. “ utang semua. Lu kan tahu, gua engga ada modal. Gua orang miskin. Di Indonesia berkali kali gua bangkrut” Kata Aku. Dia dekap kepalaku. Diletakannya di dadanya. Aku bisa dengar gemuruh jantungnya. Entah mengapa aku terharu. Begitu besar kepeduliannya kepadaku.  “ Sangking besarnya hutang kadang gua takut bangun tidur pagi hari. Kadang gua merasa tidak cukup waktu tersedia untuk semua kerja keras gua. “ 


Aku merasakan Florence menahan tangis. Akhirnya dia menangis dihadapanku. “ Lue harus kuat. Gua engga mau liat lue lemah. Lue pria yang pertama menyentuh gua. Lue kebanggaan gua, padang. Hadapi semua. Kuatlah selalu. ” katanya. Aku mengangguk. Kami terdiam. Di tengah kuridor MTR.  Orang lewat mungkin perhatikan. Kenapa ada pria berjas mahal jongkok bersama wanita.


Akhirnya dia tersenyum memukulku. “ lue terlalu nekat. “ 


Dia tarik lenganku. “ Kita cari makan kaki lima seperti di Jalan Pecongan. Kamu tahu tempatnya. Aku traktir kamu. Ayo..” katanya. Ketika aku akan telp, dia segera  mengambil telp " Telp siapa ? katanya

" Lena"

" Sekretaris lue? engga perlu. Gua dan bini lue lebih hebat jaga lue. Apa lue juga engga yakin lagi soal itu.  " Katanya ketus.

" Ya. Udah. " Kataku menyerah.


Kami pergi ke Time Square. Di belakang South Pacific Hotel, ada restoran seafood kaki lima. Florence memesan menu kesukaanku kepada pelayan dengan bahasa mandarin. Setelah itu kami pergi ke Cafe di kawasan Wanchai. Menikmati kebersamaan dalam suasana bersahaja seperti dulu kami muda.  Florence naik ke panggung setelah dipanggil oleh MC. Ternyata dia ingin menyumbang lagu. Dia menarik lenganku untuk ikut ke panggung.  " Lue pakai iringi gua pakai organ. " Katanya. " Lagunya apa ? kataku terkejut. 

" Labuhan hati. Gampangkan. " Katanya. Aku tersenyum. 


Tapi setelah dia lantunkan. Di tengah lagu dia nampak berlinang air mata. Para pengunjung cafe nampak terpesona. Padahal mereka tidak tahu artinya. Ketika sampai pada bait, Manga kok uda baibo hati, Apo sabab Da karano nyo.." Dia menangis. Namun bisa menyelesaikan lagu itu. Usai nyanyi itu saya peluk dia diatas panggung. Semua pengujung cafe itu umumnya adalah orang asing, bertepuk tangan.


Keesokan sore Florence minta pulang. Dia tidak bisa ditahan. Waktu berpisah  dia peluk aku lama. “ Pikirkanlah untuk menetap di Indonesia. Perusahaan gua udah berkembang 3 kali sejak kamu bailout. Itu semua punya lue, padang. Lue jual aja tuh perusahaan. Lue bisa pensiun. Itu bukan hanya harapan gua, tetapi juga harapan istri lue. Dia pernah curhat kegua. “ Aku hanya diam. Florence tahu, aku tidak mungkin surut langkah. No way return..

***

2015

Setelah Pilpres 2014 aku ke Medan bersama istri untuk ninjau proyek. “ Masih ingat Florence? “ kata sahabatku di Medan waktu makan siang. 

" Ingatlah. Gua masih sering komunikasi via telp. "

" Sekarang dia di Medan? 

“ Medan? bukannya tinggal di Riau sama anak angkatnya. Kenapa dia engga cerita pindah ke Medan.?

“  Tiga bulan lalu dia pindah” Kata sahabatku. Saya segera telp Florence. “ Ya hallo.” terdengar suara khas

“ Hai Ubi. ..” Kataku.

“ Lue pindah ke Medan? Kok engga cerita kegua ?

“ Panjang ceritanya. Tapi engga apa. Bisnis di Batam jalan terus.Lancar semua“

“ Aku di Medan, Eli ikut gua. “ Katanya.

“ Ah. Eli ada.  Gua kangen dia, Padang. Ajak dialah ke rumah gua.

Aku sudahi telp itu setelah berjanji sore akan ke rumahnya.


Malam hari aku datang ke rumah Florence bersama istri. Rumahnya di kawasan real estate di Medan. Sampai di rumahnya yang luas. Florence merangkul istriku. Istriku sudah mengenal Florence sejak sebelum kami menikah. Hubungan mereka semakin dekat, disaat aku terpuruk. Istriku tahu Florence selalu ada untuk kami. Dia sahabat kami. Malam itu aku hanya diam saja. Menyaksikan keakraban mereka berdua. Rencana keluar makan malam batal. Istriku dan florence memutuskan makan di rumah. Mereka masak bersama untuk kami makan malam.


***

Kalau sampai seseorang berkorban untukmu, maka itu dia lakukan dengan hatinya. Dia berbuat karena cinta. Tuhan mengirim seseorang untukmu dan akhirnya menjadi tongkatmu tidaklah gratis. Akan ada proses sampai akhirnya kamu dan dia tak terpisahkan. Ketika Tuhan memberimu sahabat, pada waktu bersamaan juga Tuhan memintamu berkorban untuk dia. Hadapi sahabat atau orang terdekatmu dengan sabar dan ikhlas sampai akhirnya kamu tidak berharap apapun dari dia kecuali inginkan yang terbaik untuk dia..maka setelah itu tunggulah. Tangan Tuhan akan bekerja memberikan reward...selalu indah pada akhirnya..