Posts

Showing posts from March, 2022

Melukis di atas pasir

Image
  Tahun 2002 Udin diundang ke rumah temannya yang pengusaha. Teman ini punya koneksi kuat di Laskar Nasional (LN). Tinggalnya saja di Cijantung, Komplek Laskar. Rumah yang dia tempati tadinya milik Jenderal bintang IV. Setelah berbicara panjang lebar selama hampir 1 jam, teman Udin berkata “ Gua dan Jenderal S mau mendirikan partai. “ “ Partai yang ada aja susah menang lawan pemenang pemilu yang sudah lama eksis, apalagi partai baru” Kata Udin tersenyum seakan meminta temanya jangan halu. “ Kamu dengar dulu. Engga ada yang engga mungkin di republik ini kalau ada uang. Saya sudah survey di pantura Jawa dan wilayah Tapal Kuda yang merupakan basis merah. Saya tanya mereka pilih uang atau merah. Dari 100 yang saya tanya 100 jawab pilih uang. Ini masalah perut. Rakyat capek bicara politik. Berganti rezim tetap aja mereka miskin.” Kata Teman udin dengan retorik. “ Terus darimana uang? emang sedikit biaya untuk menang?. Apalagi partai baru.” Kata Udin ketus. “ Ya dari para obligor BLBI. Merek

Tidak bisa pergi begitu saja

Image
Tahun 2010. Jam 11 malam. Baterai hape habis. Aku tidak bisa komunikasi kemanapun. Taksi di depan lobi tidak tersedia. Aku terpaksa jalan kaki dari Grand Hyatt ke arah jalan raya. Karena hujan tak kunjung reda. Aku menerobos hujan rintik rintik itu. Berharap dapat taksi di pinggir jalan Sudirman. Di Halte Plaza Indonesia menanti lebih 30 menit tidak juga dapat taksi. Jam 12 malam aku  putuskan beranjak dari Halte itu. Tujuanku Kampung Bali Tanah Abang. Itu rumah mertuaku. Berharap aku bisa diantar ponakan pulang ke Tagerang.  Dalam perjalanan. Depan Sarinah, aku dikejutkan oleh kendaraan yang tepat berhenti di sampingku. Ada wanita terlempar dari dalam kendaraan. Wanita itu jatuh di trotoar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kendaraan itu berlalu cepat. Aku terkejut. Dalam kebingungan itu. Dari jauh nampak taksi. Oh Tuhan, dapat juga taksi. Aku segera beri tanda berhenti. Taksi itu berhenti depanku. Ada niat untuk segera pergi. Tetapi kakiku tidak bisa bergerak. Aku harus berbuat sesua

Tuhan selalu memanggil..

Image
  Tahun 1983, malam. Kawasan terminal Grogol. Hujan turun rintik rintik. Aku berusaha merapat ke halte yang kumuh sekedar menghindari gerimis. Di halte itu sudah ada wanita. Dia keliatan  bingung dengan tas di pangkunya. Dua orang pria datang mendekatiku. Tahu tahu salah satu mereka mengarahkan pisau ke keningku.  “ Serahkan uang. Cepatlah, sebelum tangan ini lepas dari kendaliku! Teriak lelaki itu dalam getaran yang hebat. Aku tak tahu apakah ia marah atau gentar. Suara keras, namun runtuh sebagai kemurungan. Di dompetku ada uang Rp. 200.000 yang baru kudapat sejam lalu dari hasil penjualan tekstil  ke relasiku di Kawasan Taman Kota. Ini uang amanah yang harus ke setor kepada toke di Jalan Pintu Kecil kota keesokannya. Bukan kematian yang kutakutkan, namun amanah yang harus kuemban, membuatku mengabaikan resiko untuk mencumbui ketajaman pisau dan liar kegelisahan di sepasang mata yang ganas karena lapar. “ Mau mati kamu? tariak pria itu mengarahkan pisau ke dahiku. Aku menarik kepalak