Posts

Showing posts from February, 2021

Menikah karena Tuhan..

Image
  Saya punya sahabat, namanya, Steven. Dia kaya raya sebagai putra dari pengusaha Casino. Sampai dengan usia 40 dia belum juga menikah. Padahal dia ganteng. Tubuh atletis.  Pria sejati. Wanita cantik tak terbilang disekitar dia. Dari artis film sampai super model bermimpi ingin jadi istrinya. Tetapi itu tidak menjadikanya pria beristri. Wajahnya sangat femiliar bagi orang Hong Kong. Karena dia donatur tetap dalam acara balap formula 1. Namun orang Hong Kong tidak begitu lebay dengan orang tenar. Mereka engga tertarik untuk mengganggu privasi orang lain, seperti minta Sefly. Makanya dia bisa menikmati privasinya. Apakah dia sengaja membujang? Saya tidak yakin begitu besar kekuatannya dibandingkan Tuhan. Sehingga bisa menolak jodoh. Yang pasti Tuhan punya cara tersendiri untuk mengirim jodoh kepadanya.  Saya ingin cerita sedikit bagaimana akhirnya Steve,  dapat jodoh.  Pada suatu saat di musim dingin tahun 2011. Saya dan Steve membuang waktu di sebuah cafe. Ini bukan caffe berkelas. Cafe

Tidak dendam.

Image
  Kapal dagang ( phinisi) saya tenggelam dan hampir membuat saya meninggal teratung atung selama 3 minggu ditengah laut. Sayapun bangkrut. Itu tahun 1988. Hutang tak sanggup saya bayar. Terpaksa rumah disita. Saya titipkan istri dan anak usia balita kepada mertua. Karena saya tidak punya apa apa lagi untuk memulai langkah saya dalam bisnis.  Mertua saya bisa menerima. Ipar saya keliatan tidak suka. Setiap dia lewat depan saya. Dia ludahi muka saya. Saya diam saja. Saya sadar, Saya numpang.  Tapi suatu saat istri liat saya diludahi. Dia marah besar ke kakaknya. Terjadi pertengkaran. Mertua saya minta saya keluar. Saya keluar. Sebelum saya keluar , saya sujud dihadapan mertua saya. Mohon maaf. Mohon jaga istri dan anak saya.  Ketika saya melangkah keluar, di teras rumah.  Istri saya bersimpuh di kaki saya. Dia pegang kedua kaki saya. Dia menangis namun tak bisa berkata apapun. Saya tahu saat itu betapa hancur hatinya. Dia tahu saya sangat butuh dukungan. Terutama dari keluarganya. Namun

Tidak menyerah..

Image
  Di Hong Kong saya biasanya weekend di Shenzhen. Kantor sediakan apartemet di kawasan Dongmen. Di luar kota Shenzhen ada  villa. Hari sabtu saya didampingi oleh James atau Tong atau Wenny atau Esther. Namun hari minggu saya sendirian. Maklum hari minggu hari libur bagi mereka bersama keluarga dan teman. Tinggalah saya sendirian. Biasanya saat kesendirian itu saya gunakan bersantai. Minggu Subuh saya sholat di Masjid Libanon yang  berada diatas atap sebuah Hotel. Jalan santai dari kawasan apartement ke stasiun Louhu. Jam 8 pagi saya ke pusat  Gym dan Spa sampai jam 9 pagi. Sarapan pagi di restoran Muslim. Setelah itu biasanya saya suka pergi ke pasar tradisional. Bukan untuk belanja. Tetapi meliat cara orang berbisnis seperti waktu zaman saya kecil di Lampung temanin ibu saya belanja. Liat orang tawar menawar harga 200 gram cabe. Tarik ulat leher untuk ikan sekilo. Apalagi liat pembeli emak emak bawa sendiri timbangan untuk pastikan engga dibohongi penjual. Lucu dan asyik liat mereka. 

Buah kebaikan..

Image
  Kesunyian itu ada. Keheningan itu adalah keterpaksaan. Phisik tak berjarak. Mereka tidak saling tatap. Diam seperti sedang berdialogh dengan hati masing masing. Anak usia 5 tahun tak henti berlari kesana kemari. Kadang mendekat  keibunya yang duduk dihadapan pria itu. Anak kecil itu dari arah belakang menyender di kursi Ibunya. Kadang korsi bergoyang goyang “ Sayang, duduk yang tenang.” Kata ibunya dengan lembut. Anak itu menurut. “ Engga kebayang betapa repotnya kamu ngurus dia.” kata pria yang dihadapan wanita itu. “ Ya dia aktif sekali, bang Chan.” “ Mungkin waktu kecil aku seperti dia ya Ming”  “ Like father like son, mungkin”. Ming berkata seperti menusuk kejantung Chan. Hening lagi. Akhirnya “ Aku kembali ke Hotel. Besok kami pulang ke Changsa. Terimakasih udah mau terima kami.” Kata Ming. “ Terimalah uang ini. “ Kata Chan menyerahkan bank draft USD 200.000.  “ Aku tdak datang untuk minta kamu merasa bertanggung jawab. Aku kangen, Chan” Ming menangis. “ Kedua tanganku masih kua