Friday, April 30, 2021

Mencari yang tidak ada.

 

.


Di Paninsula Hotel Beijing, musim dingin. Aku keluar dari kamar. Ketika itu malam menjelang tahun baru. Menghabiskan waktu dipergantian tahun di Jing Restaurant And Bar adalah pilihan cerdas daripada sendirian di kamar. Petugas Restaurant menyediakan table untukku sebagai tamu panthouse. Restaurant itu menyediakan menu Perancis namun dengan sentuhan Asia. Aku suka. Perpaduan barat dan timur begitu kompak dalam suasana kosmopolitan. Tamu yang datang, umunnya adalah pengusaha papan atas atau professional.


Setelah duduk, pandangan kuarahkan keseluruh ruangan. Mataku tertuju kepada seorang wanita yang duduk sendirian. Wajah yang tak bisa hilang dalam ingatanku. Mengapa dia ada disini? Menjelang tahun baru lagi. Apakah dia turis. Kalau iya, pasti dia sudah masuk kalangan the have dengan status sebagai sosialita. Dari kacamatanya aku tahu itu harga diatas UDS 2000. Pasti yang lain  seperti tas dan jam tangan diatas itu harganya. Walau posisinya menyamping, sebenarnya tidak sulit  bagi dia untuk menoleh kekanan untuk besetatap denganku. Entah mengapa dia seperti patung.


Aku melangkah menghampiri tablenya “ Mey..” Kataku lembut. 

“ Kaukah itu Ale? Dia terkejut dan segera berdiri. Wajahnya sangat dekat denganku.

“ Ya Mey. “ Kataku menganguk. Dia merebahkan tubuhnya dalam pelukanku. “ So long..my dear…” katanya seakan dia sangat merindukanku.

“ Tidak terlalu lama, May. Hanya 30 tahun atau 6 windu kurang ya tidak jumpa” Dia memukul dadaku dengan lambat. “Aku kangen, Ale “ Katanya. Mey menangis. Mengapa Mey berubah. Bukankah dia wanita yang tegar. Tak mudah menangis. Bahkan merasa tidak bersalah meninggalkanku.


Mey adalah sahabatku sejak masih muda. Dia tidak pernah jatuh hati kepadaku. Akupun begitu. Tapi kedekatan kami, membuat kami kadang sulit membedakan sahabat dan pacar. Kedekatanku dengan dia adalah hubungan kapitalis semata. Aku perlu dia untuk kelancaran bisnis dengan pemerintah dan dia butuh uang mudah dariku. Tapi ketika aku mundur dari bisnis rente, dia juga menjauh driku. “ kamu terlalu idealis. Padahal kamu belum kaya. Kayalah dulu, barulah idealis.  Kalau kamu kaya semua hal jadi mudah.”  Katanya. 

“ Aku ingin idealis dan tidak miskin” Kataku

“ Kamu naif. “ Katanya menyerigai. 

“ Dan apa rencana kamu selanjutnya.?

“ Aku akan menikah dengan direktur perusahaan milik keluarga cendana. “ katanya tersenyum kebanggaan.


***


“ Ceritakan kepadaku tentang 30  tahun yang tidak aku ketahui.? kataku. Mey lama memandangku. “ perlukah? 

Aku mengangguk.

Direktur anak perusahaan dari Group keluarga penguasa itu, memang gagah. Dia pintar. Waktu menikah, dia menghadiahiku satu set berlian. Kalung, gelang dan anting serta jam. Waktu itu harganya USD 200.000. Aku tahu harganya. Karena dia perlihatkan bonnya. Dia hadiahi aku rumah mewah di Cinere. Rumah besar lengkap dengan kolam renang. Kendaraan mewah lengkap dengan supir yang selalu siap mengatarku kemana saja. Tapi dia jarang di rumah. Dia sibuk sebagai eksekutif perusahaan dan entah apalagi sibuknya.


Tapi Ale, 10 tahun berumah tangga serasa kering. Dia benar memanjakanku dengan hartanya. Tetapi itu sama saja dia memanjakan anjing peliharaannya. Tak ada sentuhan yang menghangatkan jiwa. Kamu bisa bayangkan Ale, malam pertama setelah dia nikmati tubuhku dengan fast track, dia langsung memunggungiku. Saat itu aku merasa sampah. Seonggok daging BBQ. Tapi ada dayaku. Selanjutnya, begitu. 


Siapapun tamu dari keluagaku datang dia bermuka masam. “ Tidak perlu kamu terlalu dekat dengan mereka.  Orang orang miskin selalu ada alasan merongrong kita. Dan lagi apa untungny dekat dengan mereka. “ Katanya. Dia marah kalau aku ke salon yang tidak dia kenal. Bukan cemburu. Tetapi lebih soal harga diri. Dia tidak mau aku sebagai aksesori jatuh kelas dihadapan orang lain karena salah tempat. 


Suatu saat aku jatuh sakit. Sakit Ginjal. Saat sakit itu dia ceraikan aku. Alasannya dia butuh anak. Sebetulnya dia anggap tubuhku tidak lagi sesuai dengan kesukaannya. Dia beri aku uang dan aku keluar dari rumahnya. Apa yang bisa kulakukan. Aku masuk ke dalam hidupnya, dia sudah punya segala galanya. Sementara aku datang dalam kemiskinan. Tapi bagaimanapun pemberian uangnya lebih dari cukup untuk aku memulai hidup baru. 10 tahun rumah tangga berjalan tampa makna.


***

Setelah bercerai aku bertemu dengan pria. Dia tidak kaya tapi baik da cerdas. Kehidupan sex kami baik walau tidak sempurna. Dia bekerja di kampus. Aku jadi istri dosen. Dengan uang yang ada aku beli rumah mungil di luar kota. Sisa uang, aku biayai sekolahnya sampai S3 di Eropa. Aku sabar menanti dia pulang dengan mengelola bisnis  impor boneka.  Tapi apa daya. Usahaku bangkrut. Rumahku disita bank. Dia kembali dari Eropa tidak pernah pulang untukku. Dia memutuskan bercerai denga kepulangannya. Ternyata dia kembali ke mantan pacarnya. 5 tahun waktu berlalu tampa makna.


***

Setelah bercerai untuk kedua kalinya, Usiaku sudah kepala tiga.Tepatnya 32 tahun. Aku bekerja sebagai pengajar tari. Dua tahun setelah itu, aku bekenalan dengan pria yang lebih muda  1 tahun dariku. Dia manager pada perusahaan Asuransi.  Dia cerdas dan banyak impian. Ternyata dia hanya punya ambisi dengan memanfaatkan kelemahan orang lain. Dia jadikan aku umpan dengan calon kastomernya. Memang sukses. Karirnya cepat melesat dan penghasilan meningkat. 


Tapi setelah itu dia tidak mau lagi menyetuhku. Setelah itu dia selingkuh denga teman satu kantornya. Aku memilih bercerai. 10 tahun perkawinan sia sia. Usiaku sudah 42 tahun.


***

Setelah bercerai yang ketiga kalinya, aku bekerja pada sebuah rumah tanggai sebagai perawat manula.  Tugasku merawat dan menemani pria manula kesepian yang kaya raya. Kemanapun dia pergi aku mendampinginya. Tugasku mengingatkan obat yang harus dimakannya dan memandikannya. Tak lupa memastikan dia tidur dengan nyaman. Ya itulah hidupku kini. Sekarag ada disini di hotel super mewah. Ya hanya sekedar bertahan hidup. 


Tapi Ale…antara aku dan pria manula itu dua sosok yang sama. Sama sama mengejar photomorgana. Dia kumpulkan harta, dimasa tuanya dia harus menghindari makan enak. Dia punya istri dan selusin selir, tapi di masa tuanya dia sendirian dan kesepian. Dia besarkan anak dan manjakan tetai masa tuanya hidup dijaga perawat. Tidak ada beda dengan aku. Aku selalu mencari suami yang sempurna tapi yang kudapati adalah kesendirian juga. Dia bukan pria suamiku tapi aku berbakti kepadanya karena dibayar. Aku bukan istrinya, tapi hidupnya butuh aku orang bayarannya. 


***

Dia terdiam setelah bercerita panjang tentang hidupnya. Ada air menggenang ditubih matanya. “ Sebetulnya siapa yang pecundang Ale? Apakah aku atau orang orang yang pergi meninggalkanku. Apakah si manula itu atau keluarganya? “ Katanya.


“ Mey, masalah kamu dan mereka adalah tidak pernah saling mencintai. Diantara kalian masing masing mencintai diri sendiri. Karenanya semua kalah. Tidak ada yang menang. Pemenang sejati adalah mereka yang bisa mencintai orang lain namun tak pernah merasa memiliki “ Kataku. Dia terseyum tipis seperti tersadarkan. Mey adalah sahabatku, tentu akulah yang pantas mengingatkannya.


“Bagaimana tentang hidupmu. Ceritakan kepadaku. “ katanya.


“ Hidupku biasa saja. Kamu kan tahu aku menikah dengan wanita biasa. Kalau sampai sekarang kami tetap bersama,  karena kami tidak merasa saling memiliki,  tapi kami saling menjaga. Karenanya berlalunya waku kami semakin tak berjarak. Selalu saling mengkawatirkan dan  tentu saling mendoakan.” Kataku.


“Ale…” Mey sekarang benar benar menangis seperti menyesali hidupnya. Aku peluk dia untuk menentramkan hatinya. “Sabar ya Mey. Kamu akan baik baik saja. Ambil hikmahnya. Cobalah gunakan pekerjaan merawat orang tua ini tampa pikirkan uang. Ikhlas sajalah. Jadikan merawat orang tua itu sebagai ladang ibadah bagi kamu untuk mendekat kepada Tuhan” Kataku. Mey mengangguk. 


***

Dua tahun kemudian,  aku dapat kabar dari Mey, orang tua yang dirawatnya meninggal dengan memberikan warisan kepada dia. Jumlahnya lebih dari cukup untuk Mey menghabiskan masa tuanya yang sedirian. Walau kini usianya 58 tahun. Mey tetap cantik dan dia sahabatku

Wednesday, April 28, 2021

Hikmah perjalanan hidup

 


Perjalanan hidup saya mungkin lebih banyak berkisah tentang kegagalan dan pecundang. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Tahun 83 saya sebagai perantau yang hidup melata. Terseret dalam arus mencari jati diri. Saya ikut pengajian radikal. Menentang rezim Soeharto. Aktif terlibat dalam diskusi gelap bersama gerakan marhaen. Aktif dalam kelompok agama yang menentang pemerintah. Kelompok apapun yang punya semangat menentang Soeharto, saya ikuti.  Tahun 84 saya masuk penjara. Karena tersangkut kasus Tanjung Priok. 


Di penjara walau hanya 7 hari namun seperti 7 abad. Setiap hari  dua atau tiga jam saya disiksa. Disebelah sel saya, ada ruang interogasi. Setiap jam saya mendengar suara lulungan dan tangisan memohon ampun. Setelah itu saya melihat orang diseret dari ruang interogasi dengan kepala dan  wajah berdarah. Bahkan ada wanita diseret dengan menarik rambutnya dalam keadaan tak berdaya setelah disiksa.  Saat itu sepertinya saya kehilangan jatidiri. Merasa kalah dan tak berdaya.


“ Apakah kamu kira yang kita perjuangkan ini sudah benar? tanya teman satu sel dengan saya. Saya terkejut. Tak bisa menjawab. Saya sedang berada dititik terendah keimanan. 


“ Tahukah, kamu. Kisah Nabi Yunus. Kapten kapal yang sedang menghadapi badai, perlu mengurangi penumpang. Saat itu dia melakukan undian siapa yang pantas dibuang kelaut dan siapa  tetap tinggal di kapal. Ternyata, Nabi Yunus harus keluar dari kapal. Saat dia terjun ke laut. Saat itu juga ikan Paus menyambutnya dengan menelannya. Di dalam perut ikan yang gelap. Malaikat mengajarkanya berdoa. Kamu tahu doa apa yang diajarkan malaikat ? 


“Apa ?


“ Itu bukan doa. Tetapi pengakuan diri bahwa “ tiada tuhan selain Allah, sesunggunya aku termasuk yang zolim”. 


“ Oh…


“ Kamu bisa bayangkan, disaat Nabi  Yunus merasa paling benar sehingga pantas meniggalkan kaumnya demi menjauh dari kemaksiatan. Merasa yakin Allah akan menolongnya dalam undian. Tetapi ternyata dia kalah. Orang yang dianggap maksiat justru selamat dan tetap di kapal. Sementara dia sebagai Rasul, terlempar dari kapal. “ kata teman satu sel saya dengan tersenyum. Dia mendekati tempat saya duduk di lantai. 


“ Saudaraku, Yang jahat dan baik itu selalu bersanding di dunia ini. Kita tidak diminta Tuhan memerangi yang buruk. Kita diminta menyampaikan kebaikan dengan cara baik melalui perbuatan dan sikap kita. Agar apa ? agar terjadi perubahan lebih baik. Dan setiap perubahan itu tetaplah kehendak Allah yang berlaku. Jadi tugas kita hanya menyampaikan kebaikan dengan rendah hati dan bersabar. Artinya, sebaik apapun niat kita , kalau disampaikan dengan cara yang salah, tetap saja salah di hadapan Allah.” Katanya dengan bijak. 


Saya terhenyak. Setelah itu setiap detik napas saya berdoa dengan melapalkan “ Tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya aku termasuk orang yang zolim. Saat saya terpuruk, yang saya ingat adalah kezoliman saya, bukan kehebatan saya dalam beragama. Tuhan ingin saya mendapatkan hikmah dari keadaan saya, dan itu adalah rendah hati dan bersabar pada batas tak tertanggungkan. Seharusnya bagi mereka yang dulu pernah merasa benar melaksanakan fatwa ulama menjatuhkan dan menghina Ahok, dan kini mereka hidupnya terpuruk, mereka harus melapalkan " Tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya aku termasuk orang yang zolim." Sebuah sikap kerendahan hati dan malu di hadapan Allah. Karena sikap itulah pertolongan Tuhan akan sampai. 


***

Setelah peristiwa Tanjung priok, saya melupakan soal amarah kepada rezim Soeharto. Saya berusaha berdamai dengan diri saya dan semakin membuat saya berserah diri kepada Allah. Saya focus kepada bisnis. Karena bisnis juga saya berinteraksi dengan rezim Soeharto melalui kroni , ormas dan Golkar. Saya tidak merasa berdosa bila saya ambil bagian dari kemaksiatan itu. Namun satu waktu, saya bertemu Gus Dur. Dia membantu saya dapatkan SPK proyek dan juga fasilias kredit bank. Begitu sakti surat Gus Dur sehigga bisa membuat segan Pak Harto dan banker. 


Tapi ketika proyek selesai, dan saya dapat untung besar dan saya datang ke Gus Dur. “ Saya dapat untung. Berapa Gus perlu uang dari keuntungan ini” kata saya dengan jujur. 

“Saya tidak perlu kamu beri. “.” Katanya.

“ Mengapa Gus ?

“ Agar kamu tidak perlu datang lagi ke saya. Bukankah kamu sudah kaya. “


Saya tersentak. Saat itu juga ada cahaya kebenaran datang ke dalam sanubari saya.  Kalaulah dekat kepada rezim untuk berdamai dan kaya mudah, tentu Gus Dur lebih kaya dari saya dan orang lain. Tetapi Gus Dur tetap hidup sederhana. Dan tidak tergoda dengan pengaruhnya di hadapan politik kekuasaan.? Berdamai adalah keikhlasan. Keikhlasan yang benar apabila diikuti sifat istiqamah. 


“ Apa nasehat Gus untuk saya”


“ Pertama, selalulah berniat baik, Tidak penting orang suka atau tidak suka.  Karena niat itu hanya antara kita dan Tuhan saja yang tahu. Kedua, berusahalah memberikan petunjuk kepada orang lain termasuk mereka yang berbeda agama dengan kamu. Ketiga, caranya selalu bersikap adil dari sejak dalam pikiran sampai pada perbuatan.  Keempat, lakukan itu dengan cara yang manis dan egaliter. Jangan membuat orang lain merasa berjarak, kalau bisa dengan canda yang becanda juga engga apa apa. Kelima, Rendah hatilah selalu.” Kata Gus Dur. 


Sejak itu saya tinggalkan semua bisnis yang berhubungan dengan fasilitas pemerintah dan proyek pemerintah. Saya ingin ikhlas dan istiqamah. Saat itulah saya menemukan jatidiri. Usia saya saat itu 32 tahun. Selama 7 tahun atau sampai usia 40 tahun. Usaha yang saya lakukan jalan terseok seok. Kadang terheti tanpa harapan. Kemudia bergerak lagi dengan terseok seok. Saya tidak lagi melihat hasil sebagai tujuan. Tetapi proses yang bertumpu kepada ikhlas dan istiqamah.


Ketika Gus Dur dilengserkan dan keluar dari istana dengan celana pendek,  saya menangis. " Tuhan, engkau tunjukan kepadaku hakikat ikhlas dan istiqamah dari seorang pemimpin yang engkau pilih. Apalah arti deritaku dibandingkan Gus Dur dalam berjuang secara ikhlas dan istiqamah. "  Samahalnya drama penyalipan Yesus, dalam derita dia masih berdoa kepada Tuhan" Ampuni mereka Tuhan, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan" 



***


Usia 40 tahun saya hijrah ke China. Di China saya menemukan jalan untuk bersikap ikhlas dan istiqamah. Bahkan justru karena sifat itu saya mudah mendapatkan mitra dan kepercayaan dari investor dari Eropa dan AS, termasuk kepercayaan dari pemerintah China yang memberikan peluang dan insentif setiap niat saya membangun industri. 


China bisa mereformasi ekonomi dan politik berkat Dengxioping. Dia lakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Ketika Deng meninggal, dia tidak punya rumah pribadi. Padahal selama dia memimpin, jutaan rumah dia bangun untuk rakyat. Kalau penerusnya sama dengan Deng, itu karena rakyat juga ikhlas dan istiqmah dengan hidup mereka masing masing. Artinya harus ada sikap yang sama antara rakyat dan pemimpin. Maka perubahan yang lebih baik akan terjadi secara sunatullah.


Apa yang dapat saya maknai dalam kisah hidup saya? politik itu hanyalah ladang cobaan bagi orang beriman. Sama halnya dengan kemaksiatan. Apa yang terjadi diluar kita, itu antara mereka dengan Tuhan.  Apa yang terjadi pada kita, itu juga antara kita dengan Tuhan. Jadi tetaplah ikhlas  dan istiqmah dengan focus kepada kita sendiri. Dengan itu tanpa disadari kita sudah ambil bagian dari perubahan  yang lebih baik.


Monday, April 26, 2021

Perlalanan anak manusia

 




Mardi segera terbangun pukul 4 pagi. Saur. Makan nasi berlaukan tahu goreng dan sambal yang dia beli tadi sore di warteg. Usai itu dia merokok sambil menanti waktu subuh datang.  Dengan malas dia melangkah ke Toilet umum dekat kali. Belum banyak orang antri. Dia mandi dan berwudhu. Usai sholat subuh dia sudah siap siap untuk berangkat ke kawasan kota bekerja di pusat grosir. Jarak tempuh dari tempat tinggalnya di kawasan timur jakarta ke kota cukup jauh.  Pemilik rumah kontrakan datang kepadanya. 


“ Nak Mardi, sebaiknya kosongkan kontrakan ini. Ada yang mau isi. Dia berani bayar Rp. 1,5 juta. “ 


“ Ya bu. “ kata Mardi. Melipat pakaiannya yang hanya tiga setel. Dia masukan kedalam ransel. Pergi meninggalkan tempat kontrakanya.

Dia duduk di halte menati buss datang. Saat itu ada wanita bersama anak balita. Matanya terpejam. Sementara balita terus menangis. Seakan wanita itu tidak peduli dengan tangisa balitanya. Ada empati mengetuk hati Mardi.


 “ Bu, itu bayinya terus nangis.” Katanya menegur lembut. 


“ Ya pak. Saya dari tadi malam di halte ini. Saya diusir dari rumah kontrakan. Saya mau pulang ke Cianjur. Tidak ada ongkos.” 


“ Suami ibu dimana?


“ Pergi ke kalimantan. Sebulan tidak ada kabar. Pas ada kabar, dia bilang, sudah menikah lagi di Kalimantan. Katanya janji akan kirimin uang. Ini sudah tiga bulan tidak kirim uang bayar kontrakan. Saya diusir. “ Kata wanita itu menangis.


“ Bu, saya ada uang tidak banyak. Rp. 100 ribu cukup untuk pulang ke Cianjur. “ Kata Mardi menyerahkan uang  kepada wanita itu.


“ Terimakasih pak “ Wanita itu menangis menerima uang dari Mardi. Bus datang. Mardi permisi kepada ibu itu untuk pergi.


Di dalam bus. Mardi teringat surat dari ibunya“ Kalau kau tidak ada uang, tak usah pulang lebaran nanti. Ibu maklum. Doa ibu selalu untuk kau, anakku. Si Mijah sudah menikah dengan pria dari kota. Dia sepertinya sudah lupa dengan kau, anakku. Jangan kecil hati. Itu artinya bukan jodoh kau. Yang penting sesulit apapun kau, jangan pernah tinggalkan sholat. Semua bisa hilang tapi Tuhan tidak boleh hilang dalam kalbumu. “ 


Mijah adalah kekasih Mardi yang pernah berjanji akan menanti Mardi pulang melamarnya. Hidup memang berubah. Jembatan biasa lapuk. Janji biasa mungkir. Mijah tidak salah dengan sikapnya. Mardi  sangat maklum.


Seharian dia sibuk kerja mengepak dan memanggul barang. Hari itu dia terima upah mingguan sebesar Rp. 800.000. Dari uang sebanyak itulah dia harus bayar kosan Rp. 800 ribu sebulan dan sisanya untuk makan. Praktis dia tidak pernah bisa menabung. Tapi dia tetap yakin Tuhan akan membuka jalan untuknya. Dia bercita cita membuka pangkalan minuman teh botol dan aqua untuk dipasarkan oleh pedagang asongan. 


Hari sudah pukul 9 malam ketika dia sampai di kontrakan temannya. Tapi dia tidak bisa masuk. Karena istri temannya datang dari kampung.” Aku mau cari kontrakan. Ya Rp. 800.000 sebulan lah. “ Kata Mardi. Temannya janji akan carikan rumah untuk mardi. Namun minta maaf tidak bisa menampung Mardi tinggal sementara.


Jam 10 malam dia turun di stasiun kereta Tanah Abang. Dia berjalan keluar dari stasiun tanpa tahu kemana arah yang akan dituju. Dia duduk di warung kopi. Berkali kali pelacur jalanan datang menegurnya, dia hanya tersenyum. Jam 2 pagi dia berjalan ke arah istiqla. Lebih baik tafakur di Masjid sambil menanti waktu sahur. Di dekat pom bensin Abdul Muis kebon sirih dia melihat ada tas tergeletak di jalan. Isi tas itu ada hape, uang dollar dan dompet berisi uang pecahan seratus ribu rupiah.


Dia teringat doanya sehabis sholat agar Tuhan mudahkan rezeki untuknya. Nah , itulah janji Allah kepadamu. Gunakan uang itu untuk modal usaha. Itulah janji Allah.  Itu rezeki anak sholeh.” Suara bisikan datang. Namun dia berpikir keras. Bagaimanapun ini harta bukan miliknya. Ini milik seseorang yang sedang kena musibah kehilangan hartanya. Tugasnya bukan mengambil tapi mengembalikan harta ini. Namun berkali kali bisikan itu datang dan logikanya memaksanya untuk mengambil uang itu sebagai solusi dari Tuhan. 


Tapi akhirnya dia putuskan juga untuk menyerahkan uang itu kepada pemiliknya. Dia lihat KTP yang ada di dompet untuk tahu alamat pemilik tas itu. Namun, terdengar suara telp dari iphone yang ada ditas itu. Dia terima telp itu.


" Anda siapa ? Terdengar suara diseberang.


" Saya menemukan tas di jalan, dan di dalamnya ada dompet dan hp. Saya engga tahu siapa pemiliknya. Ini saya mau antar kepemiliknya. “


" Anda dimana sekarang ?


" Dekat pom Abdul muis”


" OK saya tahu tempatnya. Saya segera sana. Saya pemilik tas itu." 


" Baik. “


Tak berapa lama nampak kendaraan mewah berhenti tepat disamping dia berdiri. Seorang wanita dan pria turun dari kendaraan itu. 


" Anda yang temukan tas saya ? kata wanita itu.


" ya bu”


" Mana tas nya ?”


" Ini bu.." Katanya sambil menyerahkan tas itu.


" Tas ini jatuh mungkin waktu saya mau masuk kendalam kendaraan waktu usai isi bensin " kata wanita itu menunjuk kearah jalan yang tidak jauh dari mardi. Setelah memeriksa isi tas itu , wanita itu tersenyum puas " Terimakasih ya " Kata wanita itu langsung masuk kendaraan dan berlalu.


***

Sebelum sampai di istiqlal dia melihat ada kendaraan sedan berhenti di jalan veteran. Dari dalam kendaraan itu ada wanita keluar dengan hampir terjatuh. Sepertinya didorong oleh penumpang yang ada di dalam. Dia dekati wanita itu, yang terduduk di trotoar.


“ Ada apa mbak.? 


“ Mereka udah engga bayar, kasarin saya lagi. “ kata Wanita itu. Wajahnya ada lebam. Tapi wanita itu tidak menangis. “ Mau bayar saya berapa saja saya mau. Yang penting ada ongkos pulang. Mau ? 


“ Berapa ongkos pulang?


“ Rp. 100 ribu aja.”


Mardi beri wanita itu uang. Dan dia melangkah menjauh dari wanita itu menuju istiqlal. 


Seuai sahur dan sholat subuh. Dia berdoa kepada Tuhan. “ terimakasih Tuhan. Hari ini aku kehilangan tempat tinggal. Hari ini aku dapat kabar kekasihku menikah dengan pria lain. Tapi hari ini engkau tunjukan kepadaku cobaan tentang kerakusan dan ketidak berdayaan. Dan empatiku tetap hidup walau aku tidak tahu bagaimana nasipku besok. Yang penting hari ini aku tetap di jalanmu dan selalu bersukur akan kehadiranmu di hatiku.” 


***

Saya tatap lama wajah teman itu setelah selesai cerita tantang pengalaman masalalunya. Dia sekarang memiliki beberapa perusahaan dan tergolong sukses sebagai pengusaha. Jadi disaat prahara datang dan sepertinya tidak ada jalan keluar, jangan pernah menyerah. Jangan pernah kehilangan harapan. Tetaplah percaya Tuhan maha pengasih lagi penyayang. Prasangka kita kepada Tuhan adalah energi positip yang bisa mengubah duka jadi ceria, mengubah kesulitan jadi peluang. Mengubah yang sempit jadi lapang. Mengubah gelap jari terang…


Sunday, April 25, 2021

Kehilangan waktu kebersamaan

 


Waktu nunggu kendaraan datang di lobi, saya bertemu dengan teman lama. Kami sempat ngobrol layaknya sobat lama  tak jumpa. Setelah kendaraan datang saya permisi untuk pergi dan janji ketemuan untuk minum kopi.


“ Siapa dia Uda? Tanya Yuni mengarahkan kendaraan ke rumahnya di kelapa gading.


“ Teman ini saya kenal lebih dari 15 tahun. Kedua orang tuanya kewarga negaraan Singapore dan dia pindah ke Indonesia ketika menikah dengan orang Indonesia.  Saya mengenal kali pertama ketika dia dipertemukan oleh sahabat saya dalam satu acara. “ kata saya.


 “ Tapi ada kisah hikmah dari teman saya itu. Mau dengar ceritanya ! Kata saya. 


“ Mau lah.”


“ Istrinya selingkuh dengan mantan pacarnya waktu di SMU. Dan itu dilakukan ketika dia jatuh bangkrut. Dia dengan ikhlas memaafkan asalkan istri mau melupakan selingkuhannya.  Dia  tidak peduli asalkan keutuhan keluarga tetap bisa dipertahankan.  Tapi apa yang dia dapatkan setelah itu  ? tak ada. Malah rasa hormat istrinya semakin berkurang. “


“ Apakah begitu cepatnya seseorang bisa berubah? Apakah sebetulnya yang membuat istrinya berubah? 


“ Itulah pertanyaan yang tak pernah bisa dia dapatkan jawabanya. Sampai akhirnya istrinya pergi dan tak pernah kembali lagi.” 


“ Terus uda. Jangan berhenti ceritanya.”


“ Akhirnya dia memutuskan untuk memperbaiki hidup dan melanjutkan hidup tanpa istri. Anak anak dia yakinkan bahwa mereka akan tetap aman bersamanya. Bagaimanapun dia tidak pernah marah kepada istrinya. Dia hanya berpikir istrinya  terlalu lemah menyikapi goncangan hidup dan dia sebagai suami gagal melindunginya. Karenanya dia tidak tenggelam dalam dendam. Dia harus ikhlas jadi single parent setelah itu. Berusaha menjadi ayah dan ibu sekaligus bagi anak anak. 


Dia mulai merintis kembali bisnis. Mulai dari nol lagi. Berawal sebagai agent sparepart alat berat menjual ke perusahaan tambang dan jasa transfortasi darat dan laut. Usaha itu lambat laun bekembang. Kedua anaknya sejak SMU sekolah di Singapore, Tinggal di Asrama. Tamat SMU mereka melanjutkan ke Amerika.” Kata saya.


“ Setelah bisnis dia bangkit lagi, apakah mantan istrinya pernah menghubunginya  “ Tanya Yuni


“ Ya datang . “


“ Mau dia menerimanya? “


“ Ya. Biasa saja. Toh dia ibu dari anak anaknya. Tapi keadaannya menyedihkan”


“ Kenapa ?


‘ Menurutnya istrinya mengalami kekecewaan dengan perkawinan keduanya. HIdupnya hancur dan dia hidup terlunta lunta.”


“ Oh…”


“ Yang jadi masalah adalah kedua anak nya sulit bisa menerima Mama nya. “


“ Mengapa ?


“ Maklum dulu waktu mamanya pergi usia mereka masih kecil. Yang bungsu usia 5 tahun. Yang sulung usia 7 tahun. Mereka menyaksikan dia sujud dihadapan mamanya agar jangan pergi tapi mamanya maksa pergi dengan kata kata kasar. Kedua anaknya  juga memegang kaki mamanya agar jangan pergi tetapi mamanya malah mendorong mereka dengan keras. Seakan itu trauma bagi anak anak. Yang tak mudah mereka lupakan. Padahal dia tidak pernah memprovokasi mereka membenci mamanya. 


Dia berusaha meyakinkan anak anaknya agar memaafkan mamanya tetapi selalu gagal. Sudah 15 tahun berlalu, tetapi ingatan buruk masa kanak kanak mereka terhadap ibunya tak pernah hapus. 


Putri sulungnya berkata “ Aku akui mama. Dia ibu yang melahirkan aku. Tetapi dimana mama ketika aku pertama kali dapat haid? dimana mama ketika aku sedih karena di bully teman di sekolah. Dimana mama ketika aku ingin curhat soal pacarku?. Dimana mama ketika aku terbangun tengah malam karena mimpi buruk ? di mana mama ketika aku pertama kali masuk SMU?  Harta tak terbilang dalam kehidupan ini adalah waktu dalam kebersamaan. Tidak ada yang bisa membayar 15 tahun waktu yang begitu berharga hilang begitu saja. Dan itu pilihan mama. Mama tidak perlu minta maaf kepada kami tapi minta ampun kepada Tuhan.”


Anaknya yang laki laki punya sikap berbeda. “ Kalau papa mau balikan dengan mama, yang engga apa apa. Tapi tolong bilang mama, jangan berharap lebih kami bisa seperti anak lain yang sedari kecil dalam dekapan ibunya. Mama harus mau menerima kenyataan. Biarlah waktu berproses untuk membayar semua moment terindah yang hilang selama 15 tahun itu Sampai akhirnya kita bisa kembali normal. Bisa engga mama berkorban untuk kami, merebut hati kami kembali ? . “ 


Yuni terharu mendengar cerita saya. “ Sama dengan Yuni. Putri Yuni sampai sekarang tidak pernah bisa menerima papanya. Dia ingat waktu Yuni diusir malam malam oleh papanya dan gendong dia keluar rumah. Waktu  itu usianya 6 tahun. Sampai kini walau dia sudah menikah, memori masa kecilnya tidak pernah hapus. Ya, kebetulan  papanya memang tidak pernah mau ketemu anaknya lagi. Yang selalu ada untuk dia adalah Uda, ayah non biologis. Ya yang jadi hero dia adalah papa non biologisnya. Sangking sayangnya sama Uda, dia marah kalau Yuni salahin uda. Dihadapannya Uda itu pahlawan tanpa cacat. “ kata Yuni dan saya tersenyum.


Saturday, April 24, 2021

Utamakan jalan Tuhan

 


Ada cerita. Seorang pria pedagang asongan sedang gundah. Karena sang pacar minta segara di nikahi. Kalau tidak, terpaksa sang pacar ikut nasehat untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Bagaimana harus segera menikah? Hidup sebagai perantau memang tidak mudah di kota besar. Penghasilan tidak pasti. Mau tinggal dimana? Tinggal saja masih menumpang di kos temannya. Namun pria itu yakin bahwa dia akan mampu melewati cobaan hidup. Yang penting dia punya keberanian untuk menikah.


Tapi apakah cukup dengan hanya bekal keberanian? Antara ragu dan yakin itulah yang membuat dia galau sepanjang hari. Seusai sholat lohor di Masjid dia kembali menuju perempatan jalan untuk kembali dengan aktifitasnya jualan.


Namun sebelum sampai di perempatan jalan, dia melihat ada sesuatu benda yang nampak bersih tergeletak di pinggir jalan. Dia segera memungut benda itu. Ternyata tas tangan. Dia buka tas itu. Di dalamnya ada uang dollar cukup banyak dan Iphone. Dalam dompet itu ada uang pecahan ratusan ribu dan beberapa credit card. Dia hitung jumlah dollar dan pecahan ratusan ribu, jumlahnya mungkin lebih dari cukup untuk menikah. 


Dia teringat doanya tadi waktu sholat lohor " Wahai Tuhan... berilah kemudahan bagiku untuk melaksanakan pernikahan. Kalaulah bukan karena keimanan rasanya aku tidak perlu menikah, Tapi karena keimanaku maka aku harus menikah. Tanpa pertolonganMu ya Allah, tak mungkin urusan yang maha sulit ini bagi ku akan mudah. Mudahkan ya Allah urusannku”


" Nah , itulah janji Allah kepadamu. Gunakan uang itu untuk menikah. Rayakan pernikahan sebagai bukti kamu pria yang bertanggung jawab, dan menantu yang pantas dihormati. " Terdengar bisikan di hatinya. 


Namun dia berpikir keras. Bagaimanapun ini harta bukan miliknya. Ini milik seseorang yang sedang kena musibah kehilangan hartanya. Tugasnya bukan mengambil tapi mengembalikan harta ini. Namun berkali kali bisikan itu datang dan logikanya memaksanya untuk mengambil uang itu sebagai solusi dari Tuhan. 


Tapi akhirnya dia putuskan juga untuk menyerahkan uang itu kepada pemiliknya. Dia lihat KTP yang ada didompet untuk tahu alamat pemilik tas itu. Namun sebelum dia melangkah kealamat rumah pemilik tas itu, terdengar suara telp dari iphone yang ada ditas itu. Dia terima telp itu.


" Anda siapa ? Terdengar suara diseberang.


" Saya menemukan tas di jalan, dan di dalamnya ada dompet dan hp. Saya engga tahu siapa pemiliknya. Ini saya mau antar kepemiliknya. “


" Anda dimana sekarang ?


" Dekat pom bensin menteng”


" OK saya tahu tempatnya. Saya segera sana. Saya pemilik tas itu." 


" Baik. “


Tak berapa lama nampak kendaraan mewah berhenti tepat disamping dia berdiri. Seorang wanita turun dari kendaraan itu. 


" Anda yang temukan tas saya ? kata wanita itu.


" ya bu”


" Mana tas nya ?”


" Ini bu.." Katanya sambil menyerahkan tas itu.


" Tas ini jatuh mungkin waktu saya mau masuk kendalam kendaraan yang tadi parkir sekitar itu " kata wanita itu menunjuk kearah jalan yang tidak jauh dari pria itu. Setelah memeriksa isi tas itu , wanita itu tersenyum puas " Terimakasih ya " Kata wanita itu langsung masuk kendaraan dan berlalu.

Seminggu kemudian, pria itu mendapat kabar bahwa pacarnya telah memutuskan untuk menerima saran orang tuanya menikah dengan pria lain. Tak ada kecewa atau sedih. Tuhan telah memberi dia cobaan maha berat disaat dia harus melaksanakan kewajibannya menikah. Dan dia lebih memilih tidak menggadaikan keimanannya demi wanita yang harus dinikahinya. 


Dalam hati dia yakin inilah yang terbaik dari Tuhan untuk dia terus melangkah di bumi ini dengan tetap berbuat baik dalam kondisi apapun. Apakah akan berbuah baik?, dia tidak pernah pikirkan soal itu. Tapi ada kebahagiaan dan rasa aman ketika dia tetap di jalan Tuhan..