Posts

Showing posts from April, 2021

Mencari yang tidak ada.

Image
  . Di Paninsula Hotel Beijing, musim dingin. Aku keluar dari kamar. Ketika itu malam menjelang tahun baru. Menghabiskan waktu dipergantian tahun di Jing Restaurant And Bar adalah pilihan cerdas daripada sendirian di kamar. Petugas Restaurant menyediakan table untukku sebagai tamu panthouse. Restaurant itu menyediakan menu Perancis namun dengan sentuhan Asia. Aku suka. Perpaduan barat dan timur begitu kompak dalam suasana kosmopolitan. Tamu yang datang, umunnya adalah pengusaha papan atas atau professional. Setelah duduk, pandangan kuarahkan keseluruh ruangan. Mataku tertuju kepada seorang wanita yang duduk sendirian. Wajah yang tak bisa hilang dalam ingatanku. Mengapa dia ada disini? Menjelang tahun baru lagi. Apakah dia turis. Kalau iya, pasti dia sudah masuk kalangan the have dengan status sebagai sosialita. Dari kacamatanya aku tahu itu harga diatas UDS 2000. Pasti yang lain  seperti tas dan jam tangan diatas itu harganya. Walau posisinya menyamping, sebenarnya tidak sulit  bagi di

Hikmah perjalanan hidup

Image
  Perjalanan hidup saya mungkin lebih banyak berkisah tentang kegagalan dan pecundang. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Tahun 83 saya sebagai perantau yang hidup melata. Terseret dalam arus mencari jati diri. Saya ikut pengajian radikal. Menentang rezim Soeharto. Aktif terlibat dalam diskusi gelap bersama gerakan marhaen. Aktif dalam kelompok agama yang menentang pemerintah. Kelompok apapun yang punya semangat menentang Soeharto, saya ikuti.  Tahun 84 saya masuk penjara. Karena tersangkut kasus Tanjung Priok.  Di penjara walau hanya 7 hari namun seperti 7 abad. Setiap hari  dua atau tiga jam saya disiksa. Disebelah sel saya, ada ruang interogasi. Setiap jam saya mendengar suara lulungan dan tangisan memohon ampun. Setelah itu saya melihat orang diseret dari ruang interogasi dengan kepala dan  wajah berdarah. Bahkan ada wanita diseret dengan menarik rambutnya dalam keadaan tak berdaya setelah disiksa.  Saat itu sepertinya saya kehilangan jatidiri. Merasa kalah dan tak berdaya. “ Apakah

Hidup mengalir

Image
  Mardi segera terbangun pukul 4 pagi. Saur. Makan nasi berlaukan tahu goreng dan sambal yang dia beli tadi sore di warteg. Usai itu dia merokok sambil menanti waktu subuh datang.  Dengan malas dia melangkah ke Toilet umum dekat kali. Belum banyak orang antri. Dia mandi dan berwudhu. Usai sholat subuh dia sudah siap siap untuk berangkat ke kawasan kota bekerja di pusat grosir. Jarak tempuh dari tempat tinggalnya di kawasan timur jakarta ke kota cukup jauh.  Pemilik rumah kontrakan datang kepadanya.  “ Nak Mardi, sebaiknya kosongkan kontrakan ini. Ada yang mau isi. Dia berani bayar Rp. 1,5 juta. “  “ Ya bu. “ kata Mardi. Melipat pakaiannya yang hanya tiga setel. Dia masukan kedalam ransel. Pergi meninggalkan tempat kontrakanya. Dia duduk di halte menati buss datang. Saat itu ada wanita bersama anak balita. Matanya terpejam. Sementara balita terus menangis. Seakan wanita itu tidak peduli dengan tangisa balitanya. Ada empati mengetuk hati Mardi.  “ Bu, itu bayinya terus nangis.” Katanya m

Kehilangan waktu kebersamaan

Image
  Waktu nunggu kendaraan datang di lobi, saya bertemu dengan teman lama. Kami sempat ngobrol layaknya sobat lama  tak jumpa. Setelah kendaraan datang saya permisi untuk pergi dan janji ketemuan untuk minum kopi. “ Siapa dia Uda? Tanya Yuni mengarahkan kendaraan ke rumahnya di kelapa gading. “ Teman ini saya kenal lebih dari 15 tahun. Kedua orang tuanya kewarga negaraan Singapore dan dia pindah ke Indonesia ketika menikah dengan orang Indonesia.  Saya mengenal kali pertama ketika dia dipertemukan oleh sahabat saya dalam satu acara. “ kata saya.  “ Tapi ada kisah hikmah dari teman saya itu. Mau dengar ceritanya ! Kata saya.  “ Mau lah.” “ Istrinya selingkuh dengan mantan pacarnya waktu di SMU. Dan itu dilakukan ketika dia jatuh bangkrut. Dia dengan ikhlas memaafkan asalkan istri mau melupakan selingkuhannya.  Dia  tidak peduli asalkan keutuhan keluarga tetap bisa dipertahankan.  Tapi apa yang dia dapatkan setelah itu  ? tak ada. Malah rasa hormat istrinya semakin berkurang. “ “ Apakah be

Utamakan jalan Tuhan

Image
  Ada cerita. Seorang pria pedagang asongan sedang gundah. Karena sang pacar minta segara di nikahi. Kalau tidak, terpaksa sang pacar ikut nasehat untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Bagaimana harus segera menikah? Hidup sebagai perantau memang tidak mudah di kota besar. Penghasilan tidak pasti. Mau tinggal dimana? Tinggal saja masih menumpang di kos temannya. Namun pria itu yakin bahwa dia akan mampu melewati cobaan hidup. Yang penting dia punya keberanian untuk menikah. Tapi apakah cukup dengan hanya bekal keberanian? Antara ragu dan yakin itulah yang membuat dia galau sepanjang hari. Seusai sholat lohor di Masjid dia kembali menuju perempatan jalan untuk kembali dengan aktifitasnya jualan. Namun sebelum sampai di perempatan jalan, dia melihat ada sesuatu benda yang nampak bersih tergeletak di pinggir jalan. Dia segera memungut benda itu. Ternyata tas tangan. Dia buka tas itu. Di dalamnya ada uang dollar cukup banyak dan Iphone. Dalam dompet itu ada uang pecahan ratusan r