Tuesday, September 28, 2021

Jiang Ching

 






“ Ceritakan kepadaku tentang Madam Mao. “ kataku kepada Wenny ketika dalam perjalan dari Beijing Ke Hong kong.


“Ada apa kamu begitu ingin tahu?


“ Aku banyak membaca buku tentang Madam Mao. Tetapi dari perspektif yang mengarah kebencian kepada dia. Mungkin kamu bisa ceritakan apa yang kamu tahu. Dari perspektif kamu sebagai wanita. “ Kataku.


Wenny terdiam sebentar. “ Baiklah aku ceritakan…


Dia lahir di Shandong. Ibunya seorang selir Bangawan. Waktu kecil dia tidak pernah duduk minum teh bersama dengan ayahnya. Dia hanya tahu, ayahnya datang untuk meniduri ibunya. Setelah itu pergi. Pergi tidak jauh. Hanya beberapa langkah saja. Ayahnya berada di rumah induk bersama istri pertama dan anak anaknya. Dia bersama ibunya dan para selir lainnya tinggal di sebuah bangunan bersama dengan Babi Babi. Berada di pekarangan belakang rumah besar itu.


Dari kecil sampai ABG, dia dipangil dengan nama Yunhe. Artinya ayam merak diantara ayam kampung. Dari kecil sudah keliatan jiwa memperontaknya. Ia dengan tegas menolak budaya China dimana wanita ujung kakinya harus diikat agar mengecil sehingga tidak bisa pergi jauh. Setelah remaja dia menikah. Menjadi selir tuan Fei, bangsawan dari Shandong. Namun pernikahan itu hanya singkat. Setelah selaput daranya hilang, diapun dibuang. Saat itu dia tidak sedih. Itu sudah garis tangan, wanita dari anak selir sama harganya dengan seekor Babi. Apa yang dialami ibunya, juga kini dia rasakan.


Kemudian, dia berkenalan dengan Yu Qi wei, pria cerdas dan ganteng. Yang kemudian menikahinya. Menjadi suami keduanya. Namun pria itu ternyata terlalu banyak mimpi tapi miskin effort. Memang dia mantan istri selir. Tidak pernah mendapatkan cinta. Namun dia juga tidak ingin hanya dapatkan cinta dari Yu Qi wei dan kelaparan. Ia tidak tertarik dengan pria yang lemah semacam itu. Terlalu pandai mengeluh dan menyalahkan pemerintah. Sementara menghidupi diri sendiri saja tidak mampu. Dia memilih bercerai.


Masa muda bagi wanita sangat singkat. Itu dia sadari. Dari dua kali pernikahan yang gagal itu, dia memutuskan pergi merantau ke Shanghai. Di Shanghai dia berganti nama. Seakan ingin mengubur masalalunya yang buruk di Shandong. Dia ganti namanya jadi Lan Ping. Di sana dia berkenalan dengan pria, Tang Nah, yang membantunya menapak karir sebagai artis teater. Hubungan emosional mereka semakin lengket. Akhirnya mereka menikah. Ini pernikahan ketiga kalinya bagi Lan Ping. Namun dia tidak pernah sukses sebagai artis.


Suaminya selalu bicara tentang moral dan keadilan sosial namun di tempat tidur dia terlalu angkuh. Hanya mementingkan dirinya sendiri. Terlalu terburu buru. Kering dan membosankan. Akhirnya dia bercerai dengan suaminya. Bukan karena suaminya tidak mencintainya. Dia hanya tidak ingin menanggung hidup suaminya dari hasil kerja kerasnya dan mengalami kehidupan sex yang buruk.


Setelah bercerai dengan suaminya. Lan Ping mengalami phase hidup dalam titik terendah. Dia kehilangan harapan. Para pria dengan berbagai alasan hanya ingin memanfaatkannya. Budaya feodal memang menjadikan wanita sekedar hiburan dan pelepas orgasme. Dalam keadaan hidup seperti itu, membangkitkan perasaan melawan atas semua ketidak adilan. Musuhnya adalah kaum feodal. Mereka kutu dalam selimut. Mereka harus dihabisi. Demikian tekadnya ketika bergabung dalam gerakan bawah tanah Komunis di Yenan. Kecerdasanya berhasil menggaet orang kepercayaan Mao. Kan Sheng kasmaran kepada dia, mengajaknya bertemu Mao Tse tung. Saat bertemu Mao, dia yakin Mao menyukainya. Diapun menjauh dari Kan Sheng.


Memang saat kali pertama bertemu dengan Lan Ping, Mao langsung jatuh cinta. Belakangan Mao meninggalkan istrinya untuk menikah dengan Lan Ping. Dia mengubah namanya menjadi Jiang Ching. Jiang Ching, menyadari bahwa sebagai Pemimpin Mao punya banyak pacar gelap. Bagaimanapun Mao masih hidup dalam budaya tradisional China. Yang percaya bahwa pria harus sering berhubungan sex dengan perawan agar bisa awet muda. Para kaisar tempo dulu juga melakukan hal yang sama. Ada salah satu selir Mao yang juga artis , sampai bunuh diri karena depresi merasa terabaikan oleh Mao.


Jiang Ching sadar bahwa Mao tidak tertarik dengan kecantikannya. Karena masih banyak yang lebih cantik dan muda. Mao tertarik dengan kecerdasan dan kekuatan hatinya. Dengan bakat artis yang dia miliki, dia mampu memainkan peran pendamping Mao yang selalu membuat Mao penuh percaya diri dan bersemangat menghadapi semua tantangan. Saat itulah Jiang Ching tahu bahwa Mao bukanlah pria yang kuat. Dia terlalu melankolis atau sangat dominan menggunakan perasaanya dalam menghadapi persoalan. Makanya Mao mudah sekali terpengaruh dengan orang terdekatnya.


Sebagai Artis, Jiang ching berhasil melaksanakan perannya dengan sangat hebat. Membuat dia sangat dipercaya oleh Mao. Bahkan Mao berani dengan tegas mengizinkan Jiang Ching ikut dalam rapat Partai. Padahal itu adalah tabu dalam tradisi Partai Komunis. Saat itulah Jiang Ching sadar bahwa dia sudah menguasai Mao. Lambat namun pasti dia semakin besar pengaruhnya. Akhirnya memiliki kekuatan besar untuk mengatur Tiongkok walau dia belum bisa tampil di hadapan publik.


Ada hal yang tak pernah hilang dari diri Jiang Ching. Bahwa dia tidak pernah berhenti membenci kaum bangsawan. Mungkin karena masalalunya yang buruk. Seperti ketidak sukaannya terhadap Wang Guang mei, istri dari Liu Shao Qi wakil Mao. Setiap melihat Wang Guang mei tampil di publik, itu seperti mengejeknya. Bukan hanya kepada Wang Guang mei , dia juga tidak suka kepada Deng Yen Chao, istri dari Zhou En Lai, Perdana Menteri China. Hanya saja, Deng Yen Chao berusaha merebut hati Jiang Ching. Sehingga Jiang Ching bisa menerima walau tetap tidak suka. Semetara Jiang Ching sendiri tidak boleh tampil di publik. Karena belum resmi sebagai istri sah Mao.


Ketidak sukaan Jiang Ching dengan elite Partai Komunis, yang juga sahabat dan bawahan Mao, melahirkan intrik dan faksi. Mao tahu itu. Mao tidak ingin meredam munculnya faksi. Mao hanya diam. Mao menganggap bahwa pertikaian yang terjadi pada bawahannya itu digunakan untuk memperkuat dirinya, sehingga Mao secara diam diam juga mendukung bawahannya yang saling menyerang.

Jiang Ching bersekutu dengan chun Qiao, seorng penulis dan editor Shanghai Wenhui , bahkan bersamanya, Jiang Ching membentuk kelompok empat, dimana dua diantaranya merupakan murid Chun Qiao. Belakangan kelompok empat ini sangat berkuasa dan ditakuti oleh lawan politik. Deng Zao Ping adalah korban dari kelompok empat ini. Deng diasingkan ke Yunan.


Pada suatu acara makan malam antara pasagan suami istri Lin Biao, Zhou En Lai , Mao Ze Dong dan Jiang ching. Mao seperti sedang memuji muji keluarga Lin Biao. Saat itu Lin Biao. merasa sangat bangga dengan pujian Mao. Tidak ada suatu firasat buruk akan terjadi. Namun setelah selesai makan malam, mereka dibantai dalam perjalanan pulang ke rumah. Katanya perintah Mao, tetapi sebetulnya ini perintah dari Jing Ching. Alasannya diduga akan melakukan kudeta. Media massa menceritakan kematian itu sebagai sebuah peristiwa kecelakaan pesawat. Mao hanya diam saja. Seakan tidak peduli.


Jiang Ching tersenyum kemenangan dengan sikap Mao itu. Dia berada di sisi Mao dan berbuat untuk itu. Itu sinyal dia dapat restu untuk membunuh lebih banyak lagi. Diapun ciptakan kekacauan diseluruh China. Bagi Jiang Ching, sasaran dari revolusi kebudayaan adalah sebuah surga. Bagi Jiang Ching , sangat paham bahwa “revolusi adalah di mana satu kelas menggulingkan kelas lainnya dengan menggunakan kekerasan. “ Targetnya adalah menghabisi kelas feodal.


Jiang Ching bukan hanya membantai kaum feodal tuan tanah dan pemburu rente tetapi juga segala simbol feodalisme seperti buku berasal dari asing dia bakar, tempat ibadah dia tutup, kitab suci, dia bakar. Para patron atau tokoh masyarakat, kaum terpelajar, dia giring ke kamp kerja paksa. Bekerja di pusat pertanian dan industri. Selema revolusi kebudayaan, China diliputi kegelapan. Itu berakhir tahun 1975 setelah Mao wafat dan kelak kemudian digantikan oleh Deng Xio Ping. Jiang Ching dengan kelompok empatnya ditahan. Tapi tidak pernah diadili. Dia tidak pernah mau mengaku bersalah. Dia terlalu kuat untuk dikalahkan.


“ Ibu bukan seorang Pahlawan ! Putrinya berteriak ketika menemuinya di rumah tahanan. Dia merasakan siksaan pendih. Lebih sakit dari jutaan peluru menghantam dadanya ” Ibu adalah wanita yang malang, sakit dan gila. Ibu menggali begitu banyak liang kubur namun tetap tidak cukup untuk mereka yang jadi korbanmu.” lanjut putrinya.

“Mengapa Nak kamu berpikir seperti itu ?


“Ayah mengatakan kepadaku.”


“Kamu tidak tahu bahwa Ayahmu terlalu lemah bersikap kepada musuhnya dan ayahmu mendapatkan kekuatan dari diriku. Aku membunuh untuk mimpi Ayahmu, untuk china tentunya. Kamu tidak melihat fakta nak. Kini 90% rakyat melek baca. Mereka tidak bisa lagi dibodohi oleh siapapun. China bisa swasembada pangan, Kalau rakyat kenyang. Mereka akan mampu memerdekakan dirinya sendiri untuk memperjuangkan keadilan ekonomi dan sosial. Paham kamu nak.” Katanya dengan linangan airmata.


“ Tetap saja ibu tega membunuh 25 juta orang. Ibu mosterr. Gila!”


“ Masalah bangsa kita nak, adalah penjajahan feodalisme. Kaum bangsawan. Selagi mereka tidak dimusnahkan, China tidak akan pernah bisa menghilangkan perbudakan atas nama kekuasaan. Rakyat akan terus miskin dan dibodohkan. Masa depan china akan kelam. Hanya berpindah dari jajahan asing ke bangsa sendiri.”


“ Aku benci Ibu “ Kata putrinya berteriak.


“ Kau tidak dapat mengingkari ibumu. Aku yang melahirkanmu dengan susah payah. “ Katanya dengan penuh harap agar putrinya mengerti. Tetapi putrinya tidak bisa menerima alasannya. Pergi dari hadapanya dengan membawa kebencian.


Jiang Ching pun sadar bahwa seluruh harapannya telah lenyap. Batas akhir dari sisa kekuatannya bertahan hidup telah sirna. Putrinya tidak menghargainya. Hal yang sangat menyedihkan adalah “ Putriku telah membuatku lemah. Dia telah membunuhku tanpa memberi kesempatan bagiku untuk mengatakan bahwa Ayahnya tak pernah sesungguhnya mencintai ibunya. Ayahnya hanya mencintai China dan kekuasaan. Aku hanyalah wanita malang , seorang artist teater yang berusaha untuk menjadi ayam merak diatara ayam kampong. Tapi tidak pernah berhasil. “ katanya lirih dalam kesepian dibalik jeruji besi.


Keesokan paginya tanggal 14 Mei 1991, Jiang Ching membeku karena gantung diri. Bunuh diri bukan karena alasan kehilangan kebebasannya, tetapi kehilangan cinta dari putrinya. Suaminya berhasil meracuni putrinya untuk membencinya. Dia korban politik. Karena itu, China mendapatkan jalan bersih tanpa duri. Deng mulai membangun peradaban China baru. Baru dalam segala hal. Restore system telah dilakukan Mao. China kini menjadi kekuatan ekonomi dunia.” Akhir cerita Wanny.


“ Malang sekali nasip Jiang Ching.” kataku


“ Itulah harga dari sebuah perubahan. Tanpa itu China akan tetap seperti korea utara dan negara lain yang menjadikan agama dan idiologi sebagai Tuhan untuk menjajah dan memperbodoh. Pria china kini seperti kamu. Walau boss namun tetap menghormati wanita. Penuh kehangatan dan selalu ada disaat tersulit bagi wanita.." Kata wenny tersenyum. Saya genggam jemarinya. Dia merebahkan kepalanya dipundakku dan setelah itu tertidur


Saturday, September 25, 2021

Lumpur kesengsaraan.


 

Aku terjatuh. Batu kapur yang ada di pikulanku juga terjatuh. Sementara tubuhku berguling guling menuruni tebing. Tidak ada yang memar pada tubuhku. Karena memang tempat pijakanku tanah becek yang habis disirah hujan. Namun kaki dan bahuku lecet walau tak berdarah. Ini cukup membuat aku meringis. Sementara teman temanku yang melihat kejadiaan itu tertawa terpingkal pingkal. Hidup memang ironi. Kadang penderitaanpun layak jadi ketawaan.


“ Makanya , pikiran kamu jangan kerumah terus. Engga usah dipikirin rumah. Kita disini kerja aja. “ Kata temanku sambil berteriak. “ Dan lagi apa yang mau dipikirin , wong kerja sekeras apapun, tetap aja tidak cukup untuk makan sehari. “ Kata temanku yang lain. Mereka mengetahui bahwa aku sedang dirudung masalah keuangan. Istriku sedang hamil tua dan aku bingung mendapatkan uang untuk membawa istri kerumah sakit atau kebidan atau kedukun.


Tapi sebetulnya bukan itu yang kupikirkan. Aku sedang bingung mendapatkan uang untuk rencananya pergi menjadi TKI. “ Wah…mahal sekali biayanya !” Kataku mengerutkan kening, ketika mengetahui biaya yang harus disediakan untuk mengurus keperluaan berangkat ke luar negeri sebagai TKI. “ Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu,?.Tanyaku kepada teman.


***

Waktu istirahat kerja aku hanya makan ubi rebus. Aku melamun. Memikirkan tentang hidupku. Terlahir dari keluarga miskin. Tahun 1959. Namun kemudian organisasi Tani sayap kiri merampas tanah tuan tanah, Kemudian ayahku dapat kebagian tanah itu 1 hektar. Bukan hanya ayahku, tapi ada ratusan kuli tani dapat tanah gratis dari organisasi tani. Karena itu kehidupan berubah. Ayahku tidak lagi bekerja di lahan orang tetapi di lahan sendiri. Itulah kemerdekaan yang seharusnya setiap orang bekerja diatas lahannya sendiri.


Namun terjadi pergolakan politik paska 1965. Ayahku bersama ratusan petani yang dapat tanah dari Organisasi tani ditangkap. Sementara pimpinan Organisasi Tani dikirim ke Pulau Buru. Maklum mereka itu bukan orang biasa. Mereka adalah guru, tokoh masyarakat dan orang cerdik pandai. Sementara Ayahku dan kawan kawan dibawa ke pinggir laut oleh Tentara. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengah ayahku. Yang aku tahu, pagi hari orang kampung geger. Karena disuruh gotong royong menyeret  ratusan mayat yang bergelimpangan ke dalam lubang. Saat itu aku meraung. Ibuku hanya terdiam menahan getir ketika melihat salah satu mayat yang diseret itu adalah ayahku. 


Satu saat ibuku dijemput tentara. Setelah itu tidak pernah kembai lagi. Usia 6 tahun, Pamanku yang mantri guru membawaku dari jawa  ke Sumatera. Usia 12 tahun paman meninggal. Tetanggaku mengajakku bekerja sebagai anak bagan. Berada di tengah laut dalam kesendirian dan kerja keras sepanjang musim.  Usia 16 tahun aku pindah kerja di darat. Pekerjaan yang kudapat adalah sebagai buruh di perkebunan milik negara.  


Dua tahun bekerja di perkebunan, aku berkenalan dengan Sumiati yang bekerja sebagai anak bedeng. Sebenarnya anak bedeng kata lain dari pelacur. Aku mencintai Sumiati dan ingin membahagiakannya. Akupun menikahinya. Usia kami bertaut 4 tahun. Sum lebih tua dariku. Akupun  pindah ke Lampung, dekat dengan keluarga Sumiati. Aku ingin memulai kehidupan sebagai keluarga kecil. Aku bekerja sebagai buruh di tambang kapur milik pak Haji, yang juga tokoh masyarakat. Setiap tahun pak Haji pergi ke makkah, sementara kami buruhnya tidak pernah dinaikan upah.


*** 

Pikiranku selalu kepada Bejo. Lima tahun lalu Bejo pergi ke luar negeri menjadi TKI dan sekarang kehidupan keluarganya telah berubah. Rumahnya sudah berdinding beton. Televisipun sudah menyala di rumah. Istrinya sudah pula mengendari motor sendiri dan tidak perlu berjalan kaki kepasar. Anak anaknya juga dapat bersekolah dengan pakaian bagus. Sementara aku masih terjepit dengan kesulitan hidup dan tidak pernah dapat merasakan makan cukup setiap harinya. Berganti tahun, tidak ada kemajuan , kecuali anak yang dilahirkan terus bertambah.


Aku kadang mendengar cerita tentang penderitaan para TKI di negeri jiran itu dari teman temanku. Bekas guratan pecutan di punggung dari para TKI yang baru datang menjadi cerita seram bagi siapa saja yang ingin mencoba merubah nasip di negeri orang. “ Hidup di negeri sendiri jauh lebih enak. Makan ora makan yang penting kumpul. “ Demikian temanku yang lain mengomentari penderitaan para TKI diluar negeri. Tapi bagiku ,masalahnya adalah ora makan ya mati !. 


Semua orang di negeri ini senang dengan dirinya sendiri. Yang miskin , semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Seperti halnya Pak Haji pemilik tambang kapur itu , andai dapat menghentikan kebiasaan pergi haji tiap tahun dan membagikan uang pergi haji itu untuk menaikkan penghasilan buruhnya tentu akan sangat berarti bagi buruhnya. Tapi , kenyataanya Pak haji lebih doyan jalan jalan ke mekkah daripada berbagi.


Aku memikirkan nasipku dan tentu juga nasip masa depan anak anakku. Anakku yang tertua sudah berangkat menjadi wanita belia. 17 tahun usianya. Yang nomor dua juga wanita, berumur 14 tahun. Yang terakhir sekarang masih dalam kandungan istriku. Inilah yang menyesakkan hatiku. Ada pria dari kota berjanji akan membantu mengurus segala sesuatunya untuk aku dapat bekerja sebagai TKI. Syaratnya ya , aku harus rela menyerahkan anak gadisku dibawa oleh pria itu. Aku menolak. Aku tahu bahwa cerita duka para wanita yang bekerja di kota di negeri ini jauh lebih seram dibandingkan cerita duka para TKI diluar negeri.


Hari telah berangkat sore. Ditanganku ,tergenggam uang Rp. 30,000 sebagai upah kerja kerasku seharian menjadi kuli penambang batu kapur. Setelah dipotong ongkos ojek dan angkutan umum maka yang tersisa sampai dirumah hanyalah Rp. 20,000. Itupun kalau aku  tidak makan siang. Bila aku harus makan siang maka yang tersisa hanyalah Rp. 15.000. Agar dapat menghemat uang, akupun terpaksa pulang seminggu sekali dan makan sekali sehari. 


Kemana harapan akan dijemput untuk masa depan keluargaku? Ya bila malam datang ,  selalu ada agent togel yang datang kebarak. Tapi aku memilih tidak mengadu nasip lewat kupon togel. Mungkin aku termasuk orang yang pengecut menghadapi ketidak pastian walau harapan besar. Beda dengan teman temanku ,yang tidak peduli dengan resiko kalah. Bagi mereka selagi ada harapan maka togel adalah hiburan tersendiri. Setidaknya mereka masih dapat hidup dalam harapan untuk besok dan besok. Walau besok tidak pernah datang.


Ini akhir minggu. Jadwalku harus kembali ke rumah. Ditangaku ada uang tidak lebih Rp. 150,000 dan tentu setelah dipotong ongkos maka akan sampai di tangan istri tidak lebih Rp. 125,000. Itulah uang yang harus dihemat istriku untuk makan selama seminggu lagi. Terlalu sulit dikatakan cukup dan terlalu jauh disebut manusiawi. Tapi itulah nasip yang harus ditanggungnya. 


Aku harus berbuat sesuatu untuk merubah nasipku. Bayangan tentang keberhasilan Bejo sebagai TKI telah membakar semangatku bahwa saatnya aku harus hijrah mencari ruang yang bisa membayarku dengan manusiawi. Tapi, membayangkan nasip anak gadisku , akupun menjadi ngeri.


Ketika aku sampai di rumah, kudapati istri sedang terduduk muram dibale bale. Nampak mata istriku sembab oleh airmata.


“ Apa yang terjadi , Sum ? “ Kataku lembut.


Sumiati langsung menghambur memeluknya“ Maafkan aku, Mas..Murni sudah pergi kemarin.” Kata istriku


“ Pergi kemana ? “ Aku terkejut dan terus berlari keluar kamar dan berteriak teriak memanggil nama anak gadisku.


“ Mbak Mur, sudah pergi ..” Anak gadisku yang nomor dua menatap kosong kearahku. Aku terduduk lemas.


“ Mas, Dia sendiri yang maksa untuk ikut kerja kekota. Aku sudah berusaha melarangnya tapi dia tetap maksa…” aku melirik kearah istriku. “ Ini ada surat dari Murni. “ Lanjut istriku sambil menyerahkan surat itu.


Ayah..Kita miskin. Setiap hari aku melihat kita selalu kekurangan. Adik sudah lama berhenti sekolah dan nasipnya tidak lebih sama dengan aku. Kelak , sebentar lagi adik akan lahir lagi. Tentu nasipnya akan sama dengan kami. Tidak ada pendidikan, kurang gizi dan tidak ada masa depan. Kita tidak punya apa apa lagi untuk kita jual agar memberikan kesempatan bagi Ayah dapat hijrah bekerja di tanah Jiran. 


Pergilah , Ayah…kita sekarang sudah punya cukup uang. Pak Darto memberikan uang kepada Ibu. Aku rasa itu cukup untuk mengurus segala sesuatunya yang Ayah perlukan untuk menjadi TKI.


Ayah..Kalau ayah sudah berhasil di tanah Jiran, kirimilah kami uang agar kita bisa membayar hutang kepada Pak Darto. Aku ingin di kampung menemani Ibu dan mendidik adik adiku. Maafkan aku Ayah bila lancang berbuat tanpa restu ayah. Namun itulah mungkin yang bisa aku lakukan untuk Ayah, untuk keluarga kita. Aku akan baik baik saja. Doakan Aku ya Ayah…


Aku tak bisa menahan tangis. Terlalu mahal harga yang harus aku bayar, hanya karena ingin dihargai sebagai manusia di negeriku sendiri dan mendapatkan bayaran dari tenagaku di negeri orang. Aku hanya dapat berdoa , semoga Murni akan baik baik saja. Besok, ya tentu besok, Istriku akan melepasku pergi ke tanah Jiran untuk menjadi kuli di negeri orang dan sementara anak gadisku sudah lebih dulu pergi ke kota untuk menjadi pelacur di negerinya sendiri.


***

"Kita benamkan mereka ke dalam lumpur kesengsaraan, sampai ke batang lehernya. Pemerasan kepada orang yang tidak punya apa-apa selain tenaga.” Brooshoft, De Etische Koers in de Koloniale Politiek" hal. 65). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, jumlah penduduk miskin dengan pengeluaran kurang dari Rp. 500.000 perbulan pada Maret 2021 mencapai 27,54 juta orang.



Friday, September 24, 2021

Dendam karena cinta.

 



“ Ale, saya udah cerai dengan istri bulan lalu “ Kata Ali. Saya senyum aja.  Mengapa? itu istri yang ke 7. Waktu pernikahan pertama, saya ikut sedih. Temannya semua ikut prihatin dengan nasipnya. Apalagi dia sudah punya anak 1, perempuan. Kami memberi semangat kepada Ali agar menikah lagi. Selalu ada harapan untuk kedua. 


Tak berapa lama dia menikah lagi. Gadis cantik dari pontianak. Tak lebih 1 tahun dia  bercerai. Kami mulai berpikir. Ada yang salah pada Ali. Tetapi kami tidak nampakan kecurigaan itu. Tetap berharap dia bisa move on, apalagi perceraian kedua ini tanpa anak. Setelah itu, dalam rentang 15 tahun Ali menikah, bercerai, dan menikah, bercerai. Sampai 7 kali.


***


Ali saya kenal tahun 90an. Dia terlahir dari keluarga kaya raya. Walau dia etnis Tionghoa, tetapi ayahnya dapat bintang Grilya dari Pemerintah. Karena pernah ikut berjuang melawan Belanda. Peran ayahnya sebagai pamasok logistik bagi tentara. Setelah tahun 1956, mereka pindah dari Medan ke Jakarta. Berkat koneksi kuat di TNI, ayahnya dapat fasilitas impor komoditas. Dari situlah keluarga Ali jadi kaya.


Era Soeharto, usaha ayahnya semakin cepat berkembang. Maklum hampir semua ring kekuasaan Pak Harto , adalah TNI dan pejuang yang dikenal baik oleh ayahnya. Berkat koneksi kepada kekuasaan, tidak sulit bagi ayahnya mengembangkan usah ke beragam bidang.  Tahun 1985, Ayahnya meninggal. Ali saat itu masih berusia 35 tahun. Dia tidak menyangka ayahnya  berpulang begitu cepat. Selama ini dia tidak pernah mau terlibat dalam bisnis ayahnya. Itu karena kesibukannya dengan kehidupan glamour. Saat itu siap tidak siap, sebagai anak tertua,  dia harus tampil sebagai kepala keluarga.


Setelah ayahnya meninggal, Ali tidak juga berubah kelakuannya. Dia serahkan semua pengelolaan bisnis kepada profesional, dan itu kebanyakan adalah teman temannya sendiri. Fungsi pengawasan dia percayakan kepada sepupunya. Dia sendiri sibuk dengan  pergaulan jetset.  Saya berkali kali ingatkan dia untuk focus kepada bisnisnya. Dia hanya senyum saja. Tapi secara pribadi dia orang baik. Saya pernah dapat pinjaman modal dari dia. Ketika saya lunasi, dia sendiri lupa bahwa saya pernah pinjam uang kedia. 


Tahun 1998 satu adik perempuannya meninggal karena chaos Mei 1998. Tiga orang adiknya dia ungsikan ke AS. Semua asset keluarga dia jual. Dia sendiri tinggal di Jakarta, tidak ikut ke AS. Tapi dia sempat menikah lagi dengan gadis philipina. Itu pernikahan ke 7 nya. Dan akhirnya hanya setahun  bercerai.  Karena kesibukan setelah tahun 2000 saya sudah jarang ketemu dia. Apalagi tahun 2004 saya hijrah ke China.


***


Ali punya anak perempuan. Namanya Heni. Itu hasil perkawinan dia yang pertama. Setelah bercerai, Anak perempuannya tinggal dengan Lona, mantan istrinya. Tahun 1996 saya meliat dengan mata kepala Ali mengusir Lona karena minta uang untuk biaya sekolah Heni. Saya sempat terkejut. Karena pertengkaran itu dilakukan depan  Heni yang masih remaja. Saya bisa maklum kamarahan Ali lebih kepada dendam. Perceraian terjadi karena Lona terbukti selingkuh. 


“ Saya engga yakin itu anak saya.” Kata Ali. “ Engga ada miripnya dengan saya.” Lanjutnya. Wajah Heni memang mirip sekali dengan Lona.  


Saya menemui Lona, saya berjanji akan biayai sekolah Heni, yang berencana melanjutkan ke Singapore. Waktu itu saya berpikir sederhana. Ali pernah bantu modal untuk saya bisnis tanpa  bunga dan tanpa collateral. Kalaulah bukan nilai persahabatan engga mungkin dia percaya kepada saya. Saya tidak mendukung sikap Ali yang salah, tetapi sebagai sahabatnya saya harus ambil bagian mengkoreksinya tanpa menyudutkan dia. Itu sebanya bantuan biaya pendidikan Heni tidak pernah saya ceritakan kepada Ali. Biarlah waktu yang nanti bercerita.


Dua tahun di Singapore, Heni dapat jodoh. Pacarnya adalah putra dari pengusaha pabrikan di Indonesia. Mereka menikah tanpa dihadiri Ali. Saat itu saya hadir di undang oleh Lona. 


Setelah itu saya kabarkan kepada Ali bahwa Heni sudah menikah.“ Saya ceraikan Lona bukan karena rumor. Saya pergoki dia di kamar hotel di Hong kong bersama pria lain. Bukan rumor dia selingkuh. “ Kata Ali, dengan wajah dingin. Masih dendam dia. Masih ragu dia bahwa Heni anak kandungnya.


“ Setelah itu saya menikah 6 kali, itu bukan cinta. Itu hanya sekedar memperlihatkan kepada Lona bahwa bukan dia saja wanita cantik.” Lanjut Ali. Dari sikapnya saya tahu  bahwa Lona adalah cinta pertama Ali dan wajar kalau dia sulit berdamai dengan kenyataan atas perselingkuhan Lona. Saya bisa maklum.


***

Tahun 2008 saya dapat telp  dari teman. “ Kamu masih ingat kan dengan Ali teman lama kita? 

“ Tentu kenal.”

“ Sebaiknya kamu temui dia, Kasihan. Dia tinggal di rusun Penjaringan. Usianya sudah kepala 6. Tinggal sendirian tampa anak dan tampa teman.” 

“ Bukankah uangnya banyak hasil penjualan aset tahun 1998.” Kata saya.

“ Uang itu habis untuk ongkosi adiknya di Amerika, Semua mereka hidup glamour, Sama aja dengan dia. Ya berapapun uang kalau tidak pernah ditambah, diambil terus ya habis lah.”


***


Tahun 2008, pagi pagi saya datang ke Pantai Mutiara ke rumah Heni. “ Eh om, Ale, Apa kabar” Kata Heni menerima saya di ruang tamu. “ Dengar kabar sekarang bisnis di Hong Kong ya.” Katanya.

Tak berapa lama ada ABG cantik masuk ke ruang tamu. “ Ini loh om  yang sering mama ceritain ke kamu.” Katanya kepada ABG itu. Saya tersenyum. Wajahnya ada mirip Ali. Ah ini dia. Saya tidak salah dengan sikap saya.  Ternyata benar Ali salah dengan sikapnya. 


“ Mirip kakeknya ya. “ Kata saya spontan.


“ Ya semua teman teman kakeknya cerita begitu.” Kata Heni. Tak berapa lama wajahnya mendung. “ Mama larang aku ketemu papa”


“ Mama dimana sekarang ?


“ Ada di lantai atas, Yuk kita keatas ketemu mama. Udah lebih 10 tahun ya engga ketemu. Suprise pasti nih. “ Kata Heni tersenyum. Benarlah, ketika pintu kamar terbuka. Lona terkejut melihat kedatanganku. “Ale, kamu!! serunya. Dia menghambur dalam pelukanku. “ Kok kamu putihan sekarang, Ale?  “ Katanya menatap wajah saya lama.


“ Kelamaan di China mah..” Kata Heni. Setelah acara kangenan selesai, saya mulai bicara soal misi saya datang. Saya ceritakan keadaan Ali yang tinggal sendiri dan miskin. 


“Ale, saya tidak akan pernah lupa diusir dia dan dimaki maki dia.  Saya salah dan itu sudah saya tebus dengan perceraian. Berat sekali. Tetapi dia tidak mengakui Heni sebagai anaknya, itu saya engga terima. “ Kata Lona dengan nada emosi.


“ Lona, Ali itu hanya emosi sesaat. Dia akui Heni sebagai anaknya. Butkinya biaya pendidikan Heni di Singapore, itu dari dia.”


“ Bukannya kamu yang biayai ?


“ Bukan, itu uang dari Ali. “ Kataku tersenyum. 


Lona terdiam. Tak berapa lama dia menangis. “ Mengapa Ali tidak terus terang Ale? 


“ Butuh waktu untuk membunuh ego,. Semua ada prosesnya sampai kepada kesadaran diri. Tetapi hubungan anak dan ayah itu ikat batin yang tak bisa dipisahkan oleh apapun. “Kata saya. 


***

Sore hari saya datang ke rusun penjarangin. Ali senang dengan kehadiran saya. “ Seharusnya kamu sering tengok saya. Kan saya kakak kamu. “ Katanya.


“ Saya banyak di luar negeri, Koh.” saya merangkul dia.


“ Heni udah punya anak. Cantik lagi. “ Katanya dan wajahnya mendung. “ Saya tahu itu dari Awi. Dia perlihatkan photo. Mirip gua , Le..” 


Saya diam saja. Terus perhatikan wajah tuanya yang nampak menderita. Saya juga ceritakan kedatangan saya ke rumah Heni dan bertemu dengan Lona. “ Jadi kamu yang biayai Heni kuliah di Singapore“ 


“ Ya. “


Ali kembali memeluk saya. " Kamu bukan hanya sahabat tetapi juga sudah menjadi keluarga saya. Sementara banyak sahabat pergi dan melupakan saya setelah saya jatuh miskin. Padahal tadinya mereka banyak saya tolong.” Kata Ali. 


“ Saya ingin peluk cucu saya. Sekali aja Ale, . “  Lanjutnya 


“ Koh Ali, kita pergi keluar, ya. Cari makan enak.” Kata saya.  ALi senang. Saat itu juga saya SMS Heni untuk ketemu di restoran Akha di Majapahit. Sedang asik makan, Heni, Lona dan anaknya datang. Ali terkejut ketika melihat Lona.


“ Maafkan saya Lona, maafkan saya. Heni, maafkan papa yaa” Ali berlutut di hadapan Lona dan Heni dengan airmata berlinang  Heni langsung memeluk papanya. “ Lina, kemari sayang, peluk kakek kamu. “ kata Heni kepada putrinya yang nampak bengong. Hari itu mereka berempat saling berpelukan dalam haru. Saya ikut terharu. Saat itu saya merasa sangat bahagia.***


Source “ MyDiary.

Disclaimer : Nama dan tempat fiksi belaka.

Thursday, September 23, 2021

Kedua tangan dirantai

 




Ada perasaan ganjil yang aku rasakan. Sepertinya ada yang aneh di desa ini. Tak henti aku bertanya dalam hati, ada apa gerangan dengan desa ini? Kehidupan sebuah desa yang seharusnya ramai, bersemangat dan penuh wajah sumringah, kini nampak murung. Mentari, kabut bahkan dedaunan perkebunan seolah ikut bermuram durja. Sepertinya mereka sedang berempati pada para petani. 


Esther menatapku seperti ada yang ingin dia sampaikan“ Inilah potret sebuah desa yang sengaja diciptakan untuk menampung warga kelas teri dari Jawa. Kumpulan manusia malas yang tersingkir dari kampung halamannya sendiri. Tergerus dan terpaksa menyingkir demi percepatan pembangunan. Mereka harus rela dikirim ke pulau lain untuk mengukuti program transmigrasi. Sebuah kata yang tampak modern namun menjerumuskan. Tujuannya untuk mengurangi penduduk dari wilayah padat ke wilayah jarang. Solusi instan dan cerdas. Namun pola pikir instan ini yang membuat segalanya jadi kacau.


Alih-alih memberdayakan wilayah mati, yang terjadi justru penyebaran semangat kemiskinan dan genetika pecundang ke wilayah lain. “ Kata Esther mengekpresikan sketsa  desa dengan persepsi dia. 


“ Mereka bukan pemalas. Buktinya mereka rela pergi dari kampung halaman. Mereka juga pekerja yang cerdas. Sekali lagi, mereka cerdas! Buktinya mereka  menolak bertani karena hasilnya tidak lebih baik dari pada menjadi kuli. Kalau benar pemerintah ingin mereka giat bertani, sudah seharusnya pemerintah juga menjamin harga jual panen mereka, bukan?” Kataku.

 

Perlahan-lahan pagi bergulir, merangkak menjemput siang. Kami  masih berjalan menyusuri jalan-jalan setapak. Dari kejauhan nampak sebuah warung kopi yang penuh oleh pengunjung. Mereka adalah kumpulan para kuli dan buruh tani. Warung kopi adalah tempat mereka bergabung membunuh hari. Masa bodoh dengan waktu. Di warung kopi mereka asik main domino, berkelakar dan bertukar cerita dengan beragam obrolan kosong. Ada juga yang hanya diam, larut menyaksikan keasikan orang-orang pinggiran. Khusyuk menikmati kopi hangat. 


“ Para kuli dan buruh tani itu menciptakan surga sendiri, di warung kopi! “ kata Esther.


“ Ya, Tempat di mana mereka menemukan sebuah keluarga yang di bangun atas dasar kesamaan nasib. Tempat mereka kembali bertemu untuk mengumpulkan cerita tentang kejenuhan hidup. Bukankah surga dapat dibangun di mana saja dan dihuni oleh siapa saja? kataku. Kami memilih duduk agak jauh dari mereka yagn sedang main kartu. 


“ Mereka memilih jadi kuli sama seperti nenek moyang mereka dulu yang terjajah. Memilih nasib menjadi wong cilik adalah lebih baik, lebih nyaman dan aman dari pada membebani pikiran dengan hal-hal rumit. Menjadi kuli dan buruh tani juga pilihan untuk menjauhkan diri dari godaan berbuat buruk. Setidaknya menjadi kuli atau buruh tani jauh lebih baik daripada menjadi  pencuri atau koruptor. 


Mereka percaya itu. Meski mereka juga sadar, bahwa status mereka sangat rendah dibandingkan yang lain. Hanya sedikit lebih baik di atas budak. Itu pun karena perbudakan sudah dihapuskan secara nama. Meski prakteknya masih sering terlihat dan terasa. Pun mereka tak peduli dan tak perlu tahu soal menyoal perbudakan itu. Waktu mereka terlalu berharga untuk memahami dan mengerti tentang status juga tentang kedudukan. Sebutan kuli atau buruh sudah sangat cukup memberi mereka kepercayaan diri. Bukankah kuli dan buruh tani jauh lebih baik daripada seorang gelandangan atau pengangguran? Jadi, tidak ada alasan apa pun untuk merasa rendah diri.


Ini adalah negeri kuli. Di setiap sudut kota, di kampung-kampung, di mana pun, jabatan kuli menyesaki rumah penduduk di sana-sini. Tidak percaya? Ribuan kuli kita di negeri jir, an, Hong Kong, Makau, Arab  adalah akibat melimpah ruahnya jumlah kuli di negeri ini. Dan mereka, yang kini duduk di warung kopi, tidak sudi jadi kuli di negeri orang. Mereka seolah tak menghiraukan kawannya yang dengan semangat membara bersusah payah untuk bisa jadi kuli di negeri orang. Sesekali mereka hanya mencibir, "kalian tak malu jadi kuli di negeri orang


Masa lalu telah membuang mereka. Kini mereka tak punya pilihan. Dengan hati lapang mereka berusaha untuk  terlihat wajar dan menerima masa lalu sebagai sebuah keputusan yang tak salah. Di telikung nasib, ditransmigrasikan dan akirnya kini menjadi kuli perkebunan. 


Mereka sengaja membuang jauh ingatan masa lampau. Seperti seseorang yang membuang sauh ke dasar laut. Bahkan kalau perlu, melarung dan membiarkannya hilang ditelan ombak. Orang tua, kakak, adik, abang, saudara-mara adalah wajah-wajah yang tak seharusnya hidup dalam ingatan mereka saat ini. Sebab kehadiran wajah-wajah itu hanya akan membuat kebebasan hidup mereka jadi terkekang dan penuh beban. Hanya akan menegaskan kembali rasa kehilangan dan kekalahan. Ini memuakkan!. Sama memuakkannya dengan wajah kampung-kampung tempat kelahiran mereka di tanah Jawa. Kampung yang membuat penghuninya merasa terbuang. Merasa tak punya nilai. 


Anak-anak yang terlahir dari sana adalah anak-anak yang menderita, ketakutan dan trauma akan masa depan. Anak-anak yang setiap subuh bertelanjang dada, bermain congkak  di bawah asuhan beruk-beruk  di hutan karet. Anak-anak yang pandai memanjat batang kelapa melebihi tupai. Anak-anak yang tahan berendam dalam lumpur gambut di akar-akar bakau untuk berburu ketam  atau siput. Anak-anak yang tiba-tiba tumbuh oleh seleksi alam dan kini siap dipekerjakan sebagai kuli. Atau menjadi anak buah tongkang yang berlayar dalam gelap ke negeri orang.


Hal-hal memuakkan inilah yang kini harus mereka tanggung. Mereka tertawa terbahak-bahak menertewakan kekalahan. Menertawakan segerombolan masyarakat yang tak punya masa depan. Masa bodoh dengan pecundang! Pekik mereka berusaha melepaskan masa lalu. Dan mereka pun terkekeh, seperti seseorang yang baru saja mencebur ke sungai dan meninggalkan karung berat di punggungnya. Lalu berendam dan bermandi air kebahagiaan. “ Kata Esther. Dia tidak mau menyentuh kopi yang dipesannya. Abu rokok bertebaran di sekeliling lantai. Bercampur ludah di sana-sini. Ludah yang di keluarkan bersama umpatan memuakkan yang mereka buang di tanah itu. 


Satu per satu para kuli datang ke sini. Mereka seperti memiliki waktu khusus untuk sepakat bertemu, berkumpul di warung kopi. Dengan sigap dan terlatih, mereka menggelar pesta judi kelas kampung. Membanting angka-angka keberuntungan. Beragam jenis minuman alkohol murahan pun jadi taruhan. Kata-kata yang membaur adalah lintasan-lintasan pikiran yang tak santun. Ruwet. Seronok. Jorok. Jauh dari norma dan tata krama.


Bagi para kuli, hari-hari begitu mudah terlewati dan kehilangan makna. Warung kopi di pinggir kebun sawit ini seolah menjadi pereguk kegalauan dan harapan.  Dan membiarkan sesuatu yang buruk itu berlalu begitu saja.  Hidup seorang kuli adalah hidup yang terbatas. Mereka tak terlalu berkeinginan untuk merespons sesuatu yang sedang bergerak di luar mereka. BBM, korupsi, asap hutan, demonstrasi, amuk massa, tawuran antar suku, penculikan, pembunuhan, kemiskinan dan segala macamnya sudah terlampau akrab di telinga mereka. 


Mereka tak ambil pusing dengan permasalahan dunia karena hidup sudah teramat pusing. Dan kini tak ada urusan selain menghitung keberuntungan dari meja judi. Urusan di luar diri mereka adalah urusan di dunia lain. Mencampurinya hanya akan membuat mereka tak bisa bebas berpikir tentang bagaimana memenangkan taruhan saat bermain di meja judi. Dan tentu, tak bisa membuat mereka bebas tertawa.


Kemudian kami melangkah keluar. Meninggalkan kedai kopi dan meneruskan perjalanan ke tempat lain. Dalam dandanan yang tidak formal, tentu tak ada satu pun dari mereka yang mengenal kami. Kami pun bebas menyusuri kehidupan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kehidupan yang tak pernah ditemukan dalam seminar atau laporan dari para ahli ekonomi.


Di suatu rumah yang kami lewati terdengar suara berteriak. Keterkejutan memaksa kami untuk mendekat. Lelaki penghuni rumah tak mempedulikan kehadiran kami. Begitu pula dengan wanita yang berusaha melepaskan pukulan dengan  kayu besar di tangan.


“Bangsat ya, kamu! Udah miskin, engga tahu diri. Gaji mingguan yang tak seberapa, kamu habiskan di meja judi dan melacur. Ini anak yang akan lahir mau diapain?!” Teriak wanita itu sambil mengarahkan kayu  kepada seorang pria di depannya. 


Dengan tangkas lelaki itu menangkis lalu melepaskan kepalan tangan hitamnya ke dagu si wanita. Pukulan telak mengenai dagunya dan wanita itu jatuh terjerembab. Dengan santai, pria legam itu berlalu  tanpa mepedulikan wanita  yang mungkin saja tengah pingsan.


Sekelompok pemuda kekar menghadang langkah pria itu di ujung jalan. Kami tak begitu paham apa yang selanjutnya terjadi. Yang pasti, sekilas kemudian pria itu sudah menjadi bulan-bulanan dan tersungkur ke tanah setelah para pemuda kekar selesai menghajarnya.


“Awas, ya! Kalau sampai minggu depan kamu masih menempati rumah itu, maka nyawamu sebagai gantinya. Segera lunasi hutangmu!” Kata salah seorang pemuda yang nampak parlente. Berwajah khas orang kota.


Kami tak ingin terlalu lama menyaksikan peristiwa demi peristiwa. Sebaiknya kami terus melangkah dan menjauh dari tempat itu. Kamipun sampai di rumah lain di pinggir kebun, yang sebenarnya tak layak disebut rumah. Ini  tak lebih baik  kandang kambing. Namun disinilah sebuah keluarga tinggal. Mereka adalah sepasang suami istri dan dua orang anak gadisnya. Keduanya masih terlalu muda dengan wajah yang nampak dipaksa dewasa. Inilah potret kehidupan lain yang juga sulit kumengerti.


Dengan ramah, mereka  mempersilahkan kami masuk. Di dalam kami tak melihat perabot apa pun kecuali sebuah dipan reot dan suasana rumah yang kotor. Ketika mereka menghidangkan minuman, ada perasaan sungkan untuk meminumnya. Kami mencium masih ada aroma sabun yang melekat pada gelas. Mungkin mereka tidak mencuci dengan bersih. Maklum, air bersih memang tidak mudah di sini.


“ Saya akan pindah kerja. Penghasilan sebagai kuli kebun di sini tak banyak yang bisa diharapkan,” kata sang suami.


“ Mau kerja di mana?” Tanyaku.


“ Saya akan melamar jadi TKI ke tanah Jiran. Katanya penghasilan di sana cukup baik. Banyak teman yang kembali membawa uang banyak dan bahkan dapat membeli kebun. Sementara di sini, tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Kita bekerja karena tidak ada pekerjaan lain dan terpaksa menerima gaji sedikit yang tidak cukup untuk menutup kebutuhan harian. Terpaksa hidup kekurangan tanpa masa depan. Semua kami lakukan dengan terpaksa walau juga tidak ada yang memaksa. Mungkin nasib yang memaksa kami untuk menerima kenyataan, tidak dimanusiakan oleh bangsa sendiri. Untuk itu saya berkeinginan merantau saja. Gaji sebagai kuli di negeri orang cukup membuat kita dihargai sebagai manusia,” kata pria kurus itu bersemangat.


Sementara sang istri hanya diam dan menunduk pasrah. Dia tak kuasa menahan mimpi sang suami yang menggebu. Raut wajahnya terlihat sangat tertekan. Seakan dia ingin cepat-cepat keluar dari masalah yang melilit keluarganya. Kukira dia terlalu risau karena sebentar lagi suaminya akan pergi jauh dan mereka tidak akan berjumpa untuk beberapa lama. Tapi kenapa harus risau bila kepergian suaminya akan membawa perubahan besar bagi keluarga? Ternyata dugaanku keliru. Dan kekeliruanku terjawab ketika beberapa saat kemudian, ada suara mobil mendekat dan berhenti tepat di depan rumah. 


Seorang pria keluar dari dalam mobil yang langsung di sambut dengan antusias oleh sang suami. Sedang sang istri hanya bisa menggigit bibirnya  dan segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan suami yang asyik bicara di luar dengan pria kota itu. Tak berapa lama istrinya keluar lagi bersama dua orang anak gadisnya. Pria itu lalu menuntun kedua gadis,  masuk ke dalam mobil sambil diiringi senyum srigala. Senyum yang licik dan culas. Sang suami hanya menyipitkan mata ketika mobil itu bergerak menjauh, membawa kedua putrinya dari tempat tinggal mereka.


“Suami saya butuh uang untuk mengurus segala sesuatunya demi bekerja di tanah Jiran. Pria itulah yang memberi pinjaman uang kepada suami saya. Kedua anak gadis kami akan berkerja dengan pria itu untuk membayar hutang kami,” hanya itu yang keluar dari mulut sang istri ketika kembali masuk dan menemuiku.


Aku mengerti betul arti ‘bekerja’ di sini. Namun apa yang bisa dilakukan oleh sepasang suami istri itu? Tak ada yang bisa dijadikan jaminan oleh keluarga yang tak punya kejelasan masa depan, kecuali anak gadisnya.  Besok sang suami akan pergi meninggalkan dirinya dalam kesendirian. Habis sudah harapan wanita paruh baya itu. Dia harus merelakan kepergian suaminya untuk menjadi kuli di negeri orang dan anak gadisnya menjadi pelacur di negerinya sendiri. Tragis! 


***


Hanya semalam di Kawasan Kebun Sawit, keesokannya Esther sudah berkemas di Mess. “ Pulang kita. “ katanya tegas.


“ Loh katanya mau liburan.? Kataku.


“ Sebaiknya cepat pergi dari sini. “ katanya terus memasukan pakainya ke dalam tas. Aku hanya tersenyum. Kenal betul sifatnya.


“Di dalam pesawat menuju Jakarta, “ Aku baru paham tentang hegemoni modal yang bagaimanapun tidak sehat untuk tujuan membangun peradaban. Entahlah. Sebagai banker aku sesak melihat realita dihadapanku kemarin.” Kata Eshter.


“ Sebetulnya hegemoni modal bukan hanya terjadi pada rakyat lapisan bawah. Pada lapisan atas juga sama. Bahkan negara juga terpasung dengan hegemoni modal. SBN tidak akan dipercaya kalau tidak ada underwrite dari lembaga keuangan papan atas. Dan tidak ada underwrite itu yang gratis. Ada standar kepatuhan yang harus dipenuhi oleh pemeritah, yang diantaranya  memberikan kebebasan modal menguasai sumberdaya negara.


Semua investasi asing maupun swasta yang sumber dananya dari luar negeri, entah melalui direct investment, atau penerbitan obligasi, sama saja. Tanpa dukungan investment banker dan underwriter first class, tidak akan ada sumber daya keuangan mengalir,. Tidak akan ada proyek terbangun. Semua dukungan modal itu dengan syarat yang merantai tangan negara.  Setelah proyek beroperasi, semua hasil produksi dikuasai oleh kartel perdagangan, yang mengontrol demand and supply, harga, yang pada waktu bersamaan arus kas korporat mereka kendalikan, termasuk pemasuk pajak untuk negara mereka yang kendalikan. “ Kataku.


“ Jadi, hidup mati korporate dan negara di tangan pemodal. Korporat dan negara sebagai sumber kemakmuran adalah omong kosong. Ya bagaimana negara dan korporat akan berpikir untuk kesejahteraan rakyat, sementara kedua tangan mereka dirantai?  “ Kata Esther dengan mimik dingin. Aku diam dan membiarkan Eshter berpikir sendiri dengan dirinya. 


***


" Mengapa kita harus merdeka, kalau akhirnya berhadapan dengan realita dimanana sistem terbangun tidak membuat kita merdeka secara ideal. “ Tanya Esther kemudian. Padahal saya sudah siap siap mau tidur.


“ Sebetulnya istilah merdeka itu konsep idealisme dari para kaum republikan. Mereka segelintir saja. Sebelum Jepang masuk tahun 1942, di Nusantara ini sudah ada kerajaan atau kesultanan. Keberadaan mereka di bawah koloni Belanda. Awalnya kehadiran PMA ( VOC) dilegitimasi oleh kerajaan atau kesultanan yang ada di Nusantara. Dari abad 17 dan 18, Belanda merupakan republik. Kemudian Belanda dijajah oleh Prancis, di bawah Napoleon. 


Ketika Belanda merdeka dari Prancis dan mendirikan sistem monarki, VOC bankrut dan diserahkan kepada Belanda. Belanda resmi menjadikan nusantara sebagai koloninya tahun 1813. Itupun tidak semua wiilayah yang jadi koloni Belanda. Aceh hanya jadi koloni Belanda selama 38 tahun dan Bali selama 36 tahun. Yang sampai 340 tahun jadi koloni Belanda hanya Maluku dan Banten/Jakarta.  


Selama 340 tahun Belanda di Indonesia lebih kepada kepentingan bisnis dan kebetulan para keluarga kerajaan dan bangsawan memberikan dukungan secara langsung. Ya mutual simbiosis. Kadang kerajaan membutuhkan perlindungan dari Belanda atas serangan dari kerajaan lain. Atau Belanda ikut membantu proses suksesi pengeran, yang kadang berujung perang saudara. 


Ya seni adudomba agar hanya pengeran yang loyal ke Belanda saja yang naik tahta. Situasi inilah yang membuat kaum terpelajar geram. Mereka bukan hanya tidak suka dengan Belanda tetapi juga tidak suka dengan kaum bangsawan dan kerajaan yang berkolaborasi dengan Belanda, yang membuat rakyat semakin miskin “


“ Lantas siapa dan bagaimana sampai muncul gerakan kemerdekaan? Bukankah sebelumnya keberadaan kerajaan atau kesultanan menerapkan sama dengan sekarang. Kerjasama ekonomi dengan asing untuk kepentingan mereka. Kerjasama itu dilegitimasi oleh hukum juga. "


“ Sebetulnya gerakan kemerdekaan itu bukan hanya sekedar mengusir kolonial tetapi gerakan melawan sistem feodalisme dari kerajaan yang bertaut dengan kolonialisme. Ini soal keadilan, dan islam punnya misi untuk itu. Itu sebabnya gerakan kemerdekaan secara politik kebangsaan pertama kali oleh Sarekat Islam dari seorang HOS Tjokroaminoto.  Sementara Tjokroaminoto sendiri terinspirasi oleh paham pembaharuan islam dari KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari”


“ Siapa yang menginspirasi KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari itu ?


“ Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah. Ia adalah seorang ulama Indonesia asal Minangkabau. Ia lahir di Koto Tuo, Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Jadi kalau boleh disimpulkan, arsitek pembaharu politik di Indonesia adalah Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi. 


“ Mengapa sampai Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi Rahimahullah bisa menginspirasi mereka “


“ Ya karena mereka berdua adalah murid kesayangan dia waktu mereka belajar di Makkah.”


“ Tapi itu kan soal agama. Bukan Politik.” Tanya Eshter antusias ingin tahu.


“ Islam bukan hanya urusan ritual tapi juga harus bertanggung jawab melakukan perubahan politik untuk tegaknya kalimah Allah. Itu sama dengan ajaran Tauhid.”


“ Gimana ceritanya sehingga pemikiran itu bisai meluas dan menjadi api revolusi terhadap status quo ?


“ Sepulang KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari dari Makkah, mereka didatangi oleh HOS Tjokroaminoto. Sejak itu mereka berkenalan dan akrab. Sering diskusi. Sejak itu HOS Tjokroaminoto terinspirasi dengan pemikiran KH Ahmad Dahlan  dan Kh Hashim Ashari” 


“ Terus..”


“ Kebetulan HOS Tjokroaminoto punya rumah kos yang menampung para pelajar dari luar kota. Diantara pemuda yang ngekos itu adalah Sukarno, Alimin, Musso, Suherman Kartosuwiryo, dan Soemaoen. Selama ngekos itu mereka sering mendengar diskusi antara Tjokro dengan tokoh nasional seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Ashari, KH Mas Mansyur. Dari diskusi ini para pemuda itu tahu bagaimana menggunakan politik sebagai alat mencapai kesejahteraan rakyat. 


Mereka belajar tentang bentuk-bentuk modern pergerakan seperti pengorganisasian massa dan perlunya menulis di media. Mereka juga belajar bagaimana berorasi mempengaruhi massa dari atas panggung. Setiap hari diantara mereka sering terlibat diskusi cerdas. 


Dari tempat kos di rumah Tjokroaminoto itulah lahir tiga golongan dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Satu, gerakan Darul Islam oleh seorang Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Yang sampai sekarang basis pengikutnya masih kuat di Aceh, Sulawesi, Jawa Barat. Kedua, gerakan Komunis oleh pemikiran seorang Samaoen, Musso. Yang kini ajarannya dinyatakan terlarang oleh UU. Ketiga, sosio-nasionalisme dari pemikiran seorang Soekarno. 


Hebatnya ketika menghadapi Belanda mereka kompak. Bahkan Tjokroaminoto sendiri di era Kolonial pernah aktif dalam PKI. Dalam perkembangannya Seokarno sendiri pernah menggabungkan pemikiran tiga sahabatnya itu dalam front nasional bernama NASAKOM. Tetapi kemudian mereka bertiga itu berpisah jalan. 


“ Mengapa mereka bertiga itu sampai terbelah pemikirannya? 


“ Karena politik feodalisme dan kebangsaan. Setelah merdeka, walau ada UUD, namun phalsafah hukum yang tersurat maupun tersirat, tetap saja hukum Kolonial Belanda. Ya hukum berpihak kepada kekuasaaan dan kekuasaan berpihak kepada pemodal."


“ Gimana dengan sekarang. Apakah golongan islam masih kuat dan diperhitungkan dalam sistem politik?


“ Ya. Masih sangat kuat. Walau sejarah paska kemerdekaan mencatat, Darul Islam atau Khilafah atau NI sudah terlarang, dan Komunis juga terlarang. Namun pemikiran mereka tidak pernah hilang. Mau bukti? liat aja soal RUU Haluan Indiologi Pancasila, yang kandas disahkan DPR. 


“ Mengapa? 


“ Kalau ada Haluan idiologi Pancasila, maka definisi idiologi Pancasila menjadi definisi kaum sekular. Golongan islam engga percaya dengan kaum sekular. Mereka inginkan Pancasila dimaknai secara bebas oleh setiap golongan. " Kataku.


" Bukankah sekarang parlemen dikuasai oleh kaum sekular?. Paksa saja lewat voting"


"Kaum nasionalisme sendiri tidak punya reputasi untuk memaksakan kehendak atas nama Pancasila. Lah mereka gagal kok dengan nasionalisme. Gagal mendistribusikan keadilan ekonomi kepada rakyat karena kalah oleh kepentingan pemodal. Ya terpaksa kompromilah. “ Kataku. 


" Jadi kalau ingin mempersatukan, pastikan pemodal dibawah kekuasaan agar distribusi sumber daya sesuai dengan sila ke lima, ya keadilan sosial bagi semua. Itulah spirit cinta untuk bisa kokohnya persatuan" Kata Esther menyimpulkan. Cara banker bertanya kepada calon debitur dia pakai untuk mengetahui jalan pikiranku dan persepsiku. Dengan cepat dia dapat menyimpulkan, dan  kesimpulanya yang indah : Cinta.


" Tepat. Hanya cinta yang bisa mempersatukan, bukan jargon atau apalah. Hanya cinta yang membebaskan kita dari nafsu berkuasa dan kemaruk harta. Ya keadaan kini, sayang, sumber masalah karena miskin Cinta. Saling curiga, membenci, hedonisme, individualisme, itu karena miskin cinta. " Kataku. Esther tersenyum dan dia kemudian tertidur merebahkan kepalanya di bahuku.



***