Friday, May 28, 2021

Menjaga komitmen

 


“Temui  aku di Central Park pukul empat petang nanti, dear.”Kataku via telp kepada Wenny. Aku tahu Wenny baru tadi pagi mendarat di NY dari Dubai untuk urusan bisnis.  Dari Dubai dia harus terbang ke NY mendampingiku untuk menyelesaikan proses pendanaan proyek jalan Toll di Shandong.


“Ini hari terakhirku di New York. Besok pagi aku pulang ke Jakarta. Selanjutnya kamu proses penyelesaian transaksi sampai selesai.”


“ Secepat itukah? terdengar suara Wenny seperti menahan tangis.


“ Nanti kita bicara. See you then” kataku menutup telp.


Mungkin! Mungkin sekali Wenny memang mempunyai perasaan cinta terhadapku. Ia hanya tak pernah mengatakannya. Ia terlalu menghargai ikatan perkawinanku dengan istri di Jakarta sehingga ia tak akan pernah mengatakan apa pun yang dapat mencederai ikatan suci itu. Wenny adalah perempuan China yang selalu mampu menyublimasikan penderitaannya keberbagai bentuk penampilan yang indah.


Tetapi, Wenny juga tahu, hatinya bergetar keras setiap kali aku mencuri-curi mengelus jari-jemarinya. Wenny juga tahu, betapa ia menggigil lemas setiap kali aku memeluknya, tanda bahwa aku sangat peduli dia. Wenny selalu bisa berdamai dengan kesibukannya sebagai CEO holding. Walau karena itu kami jarang bertemu karena jadwal yang selalu tidak tepat. Kalaupun bertemu, itu karena proses bisnis saja. Namun aku tahu betapa kosong perasaannya setiap dia tidak bersamaku.


Aku kembali ke kamar hotel. Ada perasaan bersalah kepada Wenny. Selama ini aku seperti hidup di sebuah menara gading yang tak tersentuh persoalan. Bisnis lancar saja walau sering kena badai. Kehidupan rumah tanggaku tenteram. Lalu, sebuah persahabatan innocent dalam kemitraan bisnis membuat aku merasa nyaman. Hanya itu saja. Tetapi mengapa semakin lama persahabatan itu membuat Wenny jadi rapuh?


Benarlah. Saat menemuiku di Central Park tidak seperti biasanya. Wenny diam dan menunduk. Aku biarkan dia dengan suasana hatinya. Wenny mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajahku. Dibiarkannya aku melihat wajahnya tanpa berkedip. Ah, air matakah yang kulihat menggantung di sudut-sudut matanya? Sosok di hadapanku tiba-tiba tampak seperti sebuah bidang transparan. Begitu beningnya sehingga pandanganku seolah bisa menembus permukaan kulitnya yang ringkih di hadapanku. Di dalam raga rapuh itu, aku melihat sebuah cinta. Sebuah cinta yang teramat besar!


“Sudah lebih setahun kita tidak punya waktu bersama sama,” kata Wenny. Matanya menatap jauh ke arah puncak Belvedere Castle. Ia tak mengatakan apa-apa. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Dua butir air mata di sudut-sudut matanya yang bening adalah jawaban untukku. Ah, alangkah berbahagianya musim semi. Ketika bunga-bunga bermekaran, hati manusia pun menjadi bunga, dan menjadi lahan subur untuk menumbuhkan cinta.


“Kau tak akan pergi dari hatiku, dear. Kau adalah sahabatku. Apapun itu kita akan selalu bersama. ” kataku dalam hati. Langit bertabur bintang. Biru yang kelam menyungkup semesta. Kupandangi bulatan bundar di langit. Aku bahkan sudah tidak tahu lagi, apakah itu rembulan atau matahari. 


Ruang hatiku  sudah penu sesak oleh istri dan anak anakku. Otakku dipenuhi janji kepada investor dan hutang perusahaan. Aku ingin larut dalam suasana hati Wenny. Tapi tak bisa kumegerti. Namun pada moment itu, Wenny tersenyum.  “ Jaga diri kamu baik baik. Hubungan kita akan baik baik saja.” Kataku menghela tali pelana kuda jiwaku. Ragaku menjauhinya tapi jiwaku tetap bersamanya. Mengapa?


Masa remajaku tidak seperti pria kebanyakan.  Sebagai pria miskin, aku memang tidak beruntung dalam soal percintaan. Banyak sahabat tetapi tidak banyak yang siap diajak berkomitmen berumah tangga. Itu juga wajar. Siapa wanita yang mau bertaruh terhadap masadepanya kepada pria yang tidak sarjana, tidak punya pekerjaan tetap. 


Tetapi kalau akhirnya ada juga yang mau berkomitmen karena Tuhan, maka itu adalah istriku kini. Dia mungkin mau karena tidak punya pilihan kecuali patuh kepada orang tuanya untuk menjadikan aku suaminya. Akupun bersikap sederhana. Walau tak ada cinta pada awalnya, komitmen mau menikah menjadi istriku adalah berkah yang harus kusukuri. Perjalanan waktu berumah tangga , istriku mengorbankan segala galanya. Dia kehilangan sahabat masa remajanya demi keluarga. Dia harus tegar disaat ku kehilangan harapan. Dia harus tetap kuat disaat aku lemah. Dia harus terus meyakinkan diri bahwa aku adalah jodohnya. Diatas ketidak sempurnaan itu, aku harus rendah hati terhadap sikap Wenny, juga sahabat wanitaku yang lain. Ya rendah hati, untuk selalu menjaga komitmen kepada istri…Moga mereka paham.


Tuesday, May 11, 2021

Dialektika Udin pedagang sempak

 

Serial Udin itu diilhami oleh sosok Bejo. Bejo itu istilah orang Berani Jujur Ojo dumeh. Mungkin mayoritas populasi Indonesia itu adalah kelas Bejo. Dia paham agama tapi tidak hdup dari agama. Dia mendukung presiden tapi tidak numpang makan dari pilihan poltiknya. Dia setia dengan syariah dan patuh  kepada fikih tapi utamakan akhlak. Dia tidak tersinggung  dengan orang yang membencinya dan tidak bangga dengan pujian.

Bejo tidak marah ketika kakinya terinjak orang namun dia berani menegur “ maaf, tolong kakinya digeser.” Bejo setia kepada istrinya dan tidak merasa rendah diomelin istrinya. Dia mencintai istrinya dengan sederhana dan memperlakukannya juga dengan sederhana. Apapun disikapinya dengan sederhana. Dia setia kawan, bahkan kepada kawan yang selalu menyusahkannya. Dia tetap baik.

Udin adalah tipe Bejo di Sumatera. Mungkin di daerah lian ada nama lainnya. Besar dari didikan surau dan adat. Cerdas bersikap dan menghormati induk semang dan tahu berterimakasih. Hidup Udin tidak banyak warna. Datar saja. Kalau ketemu pasar, ya dia dagang. Ketemu sungai, ya dia buat rakit untuk menyeberang. Ketemu tanah, dia bertani. Ketemu pabrik, dia jadi buruh atau Manager. Ketemu bIrokrasi, dia jadi PNS. Ketemu uang dia berbagi. Apapun yang terjadi baginya baik. Kalau buruk dirasa, dia bersabar. Ketemu senang, dia bersukur. Yang jelas, dia tidak hidup menumpang dari orang lain.

Jadi kalau anda suka serial Udin maka anda termasuk Bejo. Yang kadang juga jadi bonek. Dan konyol. Berkat Bejo lah NKRI terjaga sampai kini. Nah Sukri ? Engga ada elo,  engga rame. Dah  gitu aja.


***

Bang Farhan adalah sepupuku. Ponakan abak. Sejak kecil aku sudah dijodohkan dengan Bang Farhan. Aku tidak bisa menolak tradisi adat. itulah takdirku sebagai wanita minang. Bang Farhan tamat SMA dia diterima di PTN di Bandung. Abakku membiayai kuliahnya. Karena ayah bang Farhan sudah meninggal. Abak sebagai paman yang harus bertanggung jawab terhadap kamakananya. Waktu aku kelas 1 Madrasah Aliyah Bang Farhan sudah ke Bandung. Jadi praktis hubunganku dengan Bang Farhan terkesan tidak dekat. Apalagi usia kami bertaut 4 tahun.

Di sekolah aku punya kakak kelas. Namanya Sabarudin. Aku panggil Bang Udin. Dia anak yang cerdas. Namun pendiam. Kharismanya membuat dia terpilih sebagai ketua OSIS. Bang Udin juga juara MTQ tingkat sekolan dan kecamatan. Dia juga pernah mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat khusus Al Quran dan hadith. Kalau aku dekat dengan bang Udin karena rumahnya bersebelahan dengan uni dari abakku. Aku sering ke rumah Maktuo ku. Aku juga sering belajar tarikh dari bang Udin. Dia pandai sekali bercerita tentang tarikh islam.  Aku juga belajar memahami dasar dasar tafsir Al Quran dari bang Udin.

Bang Farhan tamat kuliah aku sudah tamat Madrasah Aliyah. Dia kembali dan tinggal di kampung sebelum dapat kerjaan. Saat itu aku diminta Abak jangan lagi sering bertemu bang Udin. “ tak patut dilihat orang” Karena aku sudah dijodohkan dengan bank Farhan. Bagiku tidak ada masalah. Memang tidak ada hubungan istimewa dengan bang Udin. Tamat Madrasah ALiyah, bang Udin pergi ke kekabupaten. Dia bekerja di toko Babah Afin saudagar kaya di kabupaten. Akupun jarang bertemu dengan Bang Udin.  Apalagi dia pulang ke kampung sebulan sekali.

Satu saat aku datang ke rumah Maktuo, aku dapati Bang Farhan sedang bersama wanita di teras. Aku terkejut. Wanita itu aku kenal.  Habibah namanya. Lebih tua dariku 1 tahun. Kuliah di IKIP Padang. Kebetulan sedang liburan. Aku sempat tegur bang Farhan. Tapi bang Farhan diam saja. Seperti tidak peduli. Aku masuk ke dalam rumah. Maktuoku, sepertinya mendukung atau tidak berdaya terhadap sikap bang Farhan. Aku lebih baik pulang ke rumah. Namun di teras Habibah yang sedang bersama Bang Farhan menegurku. “ Upik, tak ada recana kuliah kau? 

“ Tergantung abak. Aku hanya patuh apa kata abak” Kataku.

“Oh rupanya kau berharap bang Farhan melamar kau ya?

“ Siapa yang berharap.? Aku tidak pernah berharap kepada manusia. Cukuplah kepada Allah aku  berharap.”

“Eh sombong sekali kau. “ Kata habibah menunjuk keningku “ Tak mungkin bang Farhan mau melamar kau. Soal biaya kuliah yang abak kau bayar, orang tuaku bisa ganti semua. Tinggal sebut berapa? lanjut habibah seraya mendorongku. Aku membalas. Tetapi bang Farhan malah ikut mendorongku. Aku terjatuh. Saat itulah Bang Udin datang. Dia mendirikanku. “ Bang, si upik ini adik abang. Mengapa tega sekali abang perlakukan dia begini? Kata bang udin.

Aku pulang diantar bang Udin. Selama di jalan aku menangis. Bang Udin menasehatiku. “ Upik boleh menangis. Itu manusiawi. Tetapi tak boleh meratap dan mengeluh. Sabar sajalah.” Kata Bang Udin.

“ Aku tak terima abakku dihina. Kalaupun abakku membantu uang kuliah Bang Farhan, itu karena dia melaksanakan tanggung jawab sebagai paman kepada kamanakan. Tidak pernah abak paksakan bang Farhan harus menikah denganku. Kalaupun  dia tidak suka, abak bisa maklum” kata upik.

Setahun setelah itu, bang Farhan bekerja di Riau. Diapun menikah dengan habibah. Waktu pernikahan,Abak paling repot mengurusnya. Akupun ikut senang. Tapi bang Farhan takut sekali berbaik hati kepadaku. Sepertinya dia takut dengan istrinya. Aku tetap sendiri. Usiaku sudah 20 tahun. Suatu sore, abak mengajakku berbicara. 

“ Pik, tadi paman Si Udin datang ke paman kau. Dia inginkan kau menjadi istri dari ponakannya si Udin. Kalau kau tak suka. Abak bisa maklum. Cobalah sebutkan siapa pria yang kau suka. Abak akan lamarkan”

Aku hanya diam.

Tapi setelah itu aku pergi ke kabupaten menemui bang Udin. Aku terkejut. Bang Udin tidak lagi kerja sama babah Afin. Tetapi sudah dagang sendiri walau di kaki lima. “ Hebat abang. Sudah dagang sendiri.” Kataku. 

“ Ya Pik. Dimodalin Babah Afin. “ Kata bang Udin dengan merendah. Dia memang lahir dari keluarga miskin. Tapi taat beragama.

“ Ya Bang. Itu berkat abang sabar dan jujur. Induk semang sayang ke abang” kataku. Aku sebenarnya ingin bertanya soal lamaran keluarga bang Udin. Tetapi aku malu. Bang Udin memang sahabatku sedari kecil. Apa salahnya aku bertanya.  “ Bang, tadi abak tanya Upik soal kedatangan paman bang Udin. Abang tahu soal itu? Kataku dengan hati hati.

“Ya. Minggu lalu, memang abang bicara dengan Paman idrus. Abang cerita soal keinginan melamar Upik. Tapi kalau Upik tak suka, ya tak apa. Maafkan abang ya Pik. “ Kata Bang Udin. Jantungku berdetak kencang. Aku berlari menjauh meninggalkan bang Udin. Langsung naik bus dengan hati berbunga. Bang udin tidak segagah bang Farhan. Kulitnya hitam. Badanya kurus. Tapi hidunya mancung. Walau tidak sarjana tapi dia berani melamarku. Padahal kami tidak pernah pacaran.

***

“ Pik, uang abang hanya ada Rp. 1 juta. Itupun uang hadiah dari babah Afin. Dia tahu abang mau menikah. Belum cukup untuk melamar upik.” Kata Bang Udin.

“  Bang, ingat engga kata guru madrasah kita dulu. Semakin murah mahar wanita semakin terhormat wanita itu dihadapan Allah. Upik engga akan terhina dapat mahar murah.”

“ Ya udah.  Abang kasih seperangkat alat sholat dan sempak aja ya Pik. Maaf.” Kata Udin malu malu.

“ Upik engga akan maafkan kalau abang beralasan menunda melamar karena uang tidak cukup.  Biaya pesta pernikahan, semua abak yang tanggung. Kan begitu adat kita. Apalagi.? Kataku.

“Siap Pik ! abang tak perlu ragu lagi untuk melamar Upik” kata bang Udin.

Benarlah. Bulan syawal  bang Udin resmi melamarku. Kini sudah 10 tahun pernikahan kami. Aku merasa bahagia, bukan karena harta berlebih. Tetapi mendapatkan suami pekerja keras, rajin sholat dan rendah hati.  Murah hati kepada siapa saja. Sayang kepada kedua orang tuanya dan santun kepada mertuanya.

Belakangan aku dapat kabar. Bang Farhan masuk pengajian LDII. Dia menikah lagi dengan  teman sepengajian dengannya. Habibah menolak dipoligami. Mereka pun bercerai. Habibah akhirnya menikah dengan Sukri. Jadi istri pertama. Belakangan Sukri menikah lagi. Habibah memilih pasrah


***

Herman datang ke lapau. Matanya merah. Sepertinya dia mabuk. Dengan jalan terhuyung. Dia duduk seraya memesan kopi. “ Dua gelas. Satu gelas berikan kepada Udin. “‘Katanya. Teman teman Udin menatap sinis kepada Herman. Namun mereka agak takut kalau  Herman mengamuk. Kemana dia pergi pisau belati ada di pinggangnya. 

Herman pesan indomi. Pemilik warung dengan ragu melayani. “ Buat dua, satu untuk Udin” katanya. Udin tersenyum saja. Usai makan, Herman pergi seraya berkata” Yang bayar Udin. “Katanya. Udin terkejut. 

“ Kenapa harus aku yang bayar. Bukannya kamu yang pesan ? Tanya Udin. 

“ Kau kan tahu aku tidak ada kerjaan. Hidupku dari orang orang seperti kalian ini. “ kata Herman dengan mata garang. 

Udin tersenyum “ Ya sudah aku bayar.  Tapi dengan syarat.”

“ Eh berani kau Din dengan aku”bentak Herman mengeluarkan belati dari balik bajunya. 

“ Tak usah belati kau keluarkan. Kita coba dengan silet saja. “ Udin mengeluarkan silet masih terbungkus dari kantongnya. “

Ini silet kau kunyah. Kalau kau berani. Aku beri kau uang Rp 200.000 dan termasuk makan gratis.”

“ Gila kau. Apa kau kira aku bodoh” Herman bersuara keras. 

Kemudian Udin mengunyah silet itu di depan Herman dan teman teman Udin.Terdengar seperti orang makan kerupuk. Kemudian Udin minum kopi dan menelan pecahan silet itu. Herman melotot melihat ulah Udin.  Dia mendekati Udin. “ maafkan aku Din. Makan hari ini aku bayar. Tapi ajari aku ilmu kebal itu. “ kata Herman.

“ Oh tak ada masalah. Tapi ada syarat”

“ Apa syaratnya Din?

“ Jangan tinggalkan sholat. Setelah 3 bulan. Kau datang lagi kepadaku. Aku ajarkan ilmu kebal. “

“ Benar din ?

“ Ya benar. ! Kata Udin 

“ Baik. Aku akan patuhi. “‘Kata Herman. Setelah itu Herman keluar dari lapau. 

Teman teman Udin menatap Udin dengan heran. 

“ Hebat kau din. Kau kebal ternyata” Kata Dulah.

“ Ah itu ilmu Sihir. Itu sesat” kata Sukri. Kemudian Udin menuangkan kopi kedalam piring. Nampak pecahan silet. “  Ah jadi tidak kau telan  pecahan silet itu? Tanya Dulah yang duduk disamping Udin. 

“ Ya tidaklah! Kata Udin tersenyum. “Aku buang pecahan silet itu waktu aku seruput kopi dan kemudian aku pura pura telan. “

Sambung Udin.

“ tapi silet itu kan tajam ? Kata Sukri masih tak percaya.

“ Ya aku tumpulkan sebelumnya. “

“ bagaimana kau tumpulkan silet itu? Tanya Bandi 

“ Aku gosok mata silet itu dikaca. Ya tumpulah. “ kata Udin. 

“ Jadi setiap hari kau selalu kantongi silet itu. Itulah senjata kau kalau kepepet menghadapi preman sok jagoan” kata Dulah. Udin tersenyum. 

“ Hidup berakal mati beriman. Setidaknya karena itu, preman bisa tobat. “ Kata Bandi mengacungkan jempol.

“ Menghadapi preman harus dengan cinta dan yakinkan kepadanya bahwa kita tidak membencinya dan jangan adili kesalahannya. Mereka hanya lupa. Tugaskan kita ingatkan dengan lemah lembut” kata Udin.


***

Hasiah datang ke rumah Udin malam hari. Udin sedang ngudut di teras. “ Bang Udin..bang.” terdengar teriakan suara Hasiah sampai di teras.. Udin segera berdiri. “ Ada apa, Asiah?

“ Bang Sukri sakit keras bang. Dia sudah buat wasiat segala. Sepertinya dia pasrah mau mati saja.” Kata istri Sukri.

Tak berapa lama istri Udin, Upik keluar dari dalam rumah “ Ada apa kau Siah?

“ Lakiku sakit keras Pik. Sepertinya dia pasrah mau mati saja.”

“ Udah berapa lama dia sakit ?Kata Upik kawatir.

“ Tadi sore. Sehabis makan lontong sayur. Tahu tahu dia keluar keringat dingin. Dia tersungkur di ruang tamu.” Kata Hasiah.

“ Udah berkali aku ingatkan. Sukri itu ada gula. Engga boleh makan lontong sayur. Dia tak berhenti rakus.” Kata Udin.

“ Ya bang. Kalau dinasehati,  dia lebih keras jawabnya. Katanya, eh bukan makanan yang membuat mati. Tetapi Allah.” Kata Hasiah dengan air mata berlinang.

“ Ya udah. Mari aku lihat. Aku bawa ke rumah sakit. Ada BPJS dia ?

“ Tak ada Bang”

“ Kenapa ?

“Katanya haram bang. “

“ Terus sekarang gimana mau ke rumah sakit.”

“ Itu sebabnya asiah datang ke abang. Bantu bang Sukir bang” 

Udin segera keluar rumah di ikuti oleh istrinya dan istri sukri. Sampai di rumah sukri.Udin perhatikan tubuh Sukri lemah. Udin segera pergi ke pagar rumah. Dia ambil beberapa lembar daun belimbing. " Masak daun ini bersama air. Kemudian setelah mendidih, airnya masukan ke dalam cangkir. Itu obat sementara untuk Sukri. " Kata Udin.  Istri sukri segera ke dapur.  Udin mengurut dibelakang lutut sukri. Dia lakukan berkali kali. Istri sukri datang membawa air hangat larutan  daun belimbing. Udin minumkan itu lambat lambat dengan sendok. Sampai habis.

Kemudian Udin berbisik ke telinga Sukri  seperti sedang berdoa. Tak berapa lama Sukri bangun dari tidurnya. Dia tersenyum kearah Istrinya. Istri Sukri memeluk sukri. “ Terimakasih ya Allah, engkau kembalikan suamiku. “ 

Udin tersenyum ke arah Asiah dan sukri. Tak berapa lama dia permisi pulang. Di jalan istrinya bertanya. “ Eh sejak kapan abang jadi dukun. Hanya dikasih air hangat rebusan daun belimbing. Terus didoakan Sukri bisa sembuh. Apa doanya bang?.  Ajarin upik ya.” 

“ Bukan doa itu.” kata Udin singkat.

“ Jadi apa yang abang bisikan?

“ Aku hanya bilang, Sukri, kau masih ada utang sama aku. Kalau kau mati , terhalang sorga bagi orang yang punya hutang. Batal kau masuk sorga. Kalau kau tak jadi mati, aku akan maafkan hutang mu. Bangunlah.”

“ Abang..tega  banget ya. Orang sakit masih aja dibecandain.”

“ Yang penting dia sembuh. Dan aku tidak perlu keluar uang untuk  bawa dia ke rumah sakit.”


***

Waktu aksi 411, Udin dipaksa ikut ke Jakarta oleh teman temannya. Udin ikut saja. Yang penting ongkos dibayar dan dapat uang saku Rp. 400.000 sebelum berangkat.  Rombonga  mereka satu bus berangkat ke jakarta. Sampai di lampung. Bus diberhentikan oleh petugas TNI. 

“ Sebaiknya kalian tidak perlu ke jakarta. “ Kata Petugas. 

“ Kami hanya melaksanakan perintah ulama dan membela Fatwa MUI” Kata Sukri sebagai ketua rombongan. 

“ Yakin tetap akan melanjutkan perjalanan ? Kata petugas.

“ Yakin pak. Kami siap mati sahid. “ 

“ Ya udah. Silahkan lanjutkan.” 

Setelah Bus masuk kapal feri, mereka semua turun dari kendaraan. Tetapi ketika kapal sampai di merak. Bus engga bisa berangkat. Di starter engga bisa. Setelah dibuka kap mesin. Ternyata, mesinnya udah engga ada.  Kemana mesin itu ? Satpam Kapal dan lainnya engga tahu. Siapa yang ambil mesin kendaraan itu. Mereka semua yakin yang ambil mesin itu adalah jin jahat, yang mau menghalangi mereka berjihad bela ulama. Padahal Udin tahu, itu ulah pasukan marinir. 

“ Sukri apa yang harus kita lakukan? tanya Dulah.
“ Ada uang kau untuk sewa bus lagi? tanya Udin.

“ Tak ada. Sponsor sudah terbang pakai pesawat ke jakarta.” Kata Sukri bingung.

“ Jadi gimana ? Desak Udin

“ Ini halangan kecil, Belum setara dengan mati sahid. Kita jalan kaki ke jakarta. “ Kata sukri. 

“ Kau sajalah yang pergi. Kita pilih pulang saja.  “ Kata udin. Teman temannya semua yang ada dalam bus memilih pulang, termasuk Sukri..


***

Udin datang ke lapau sehabis sholat isya. Dia masih berpeci hitam. 

“ Habis sholat kau, Din “ tanya Sukri

“ Ya. Aku jadi imam si Upik “

“ Engga afdol sholat di rumah kalau ada masjid. Ingat ! Itu hadith 

“ Sholat lima waktu itu hukumnya sunah kalau dilakukan berjamaah. Kalau engga, yang engga apa apa.”

“ Jadi kau engga suka dapat pahala Sunah? Pilih berjamaah sama si Upik daripada di masjid.?

“ Aku suka kali berjamaah sama si Upik. Diapun bilang yang bikin dia cinta sama aku karena suaraku merdu kali. Dan setelah sholat dia cium aku. Lembut kali tubuhnya. Tak ada sempak dan BH dibalik mukenanya” Kata Udin polos. 

“ Ah itu alasan kau saja malas ke Masjid.” Sukri.

“ Dan lagi kita semua punya istri, malah terpikir mau tambah lagi istri. Ini Udin, satu saja, seperti segala galanya. Tak ada bosan dia” Kata Dulah.

“ Aku tanya sama kau, Sukri.  “ Bagimana kalau di negara yang masjidnya engga banyak? Kan repot jadinya ? Apa Islam hanya ada di negara yang tiap gang ada masjid?

“ Dan kau Dulah, “ Udin meliat ke Dulah. “ cobalah liat wajah istri kau sehabis Sholat berjamaah. Senyumnya lebih indah dari bidadari. Dia cium punggung jari kau dan dia letakan tangan kau  di ubun ubunnya. Begitu indahnya. Begitu tulusnya dia mengharapkan ridho kau suaminya agar Allah juga meridhoinya.” Kata Udin. Dulah tersentak. Yang lain saling pandang. 

“ Benar juga ya. Kenapa kita tinggalkan saat terindah di rumah hanya karena mengejar sunah sholat di Masjid? Bukankah membahagiakan istri sebaik baiknya amalan.” Kata Mahmud. Dulah mengangguk. 

“ Sudaraku,  Islam itu agama yang mempermudah, bukan mempersulit. Kehidupan ini damai kalau kita tidak bikin repot aturan. Keluarga sakinah itu adalah sorga di dunia? Kata Udin tersenyum.


***

Udin datang ke Lapau. Sudah ada Sukri disana bersama teman temannya. Udin mengucapkan salam.” Assalamualaikum saudaraku”

“ Ah setan apa yang masuk dalam dirimu Din. Berubah laku kau? Pakai assalamualaikum” Kata Sukri.

“ Setan beragama islam yang masuk ya.” Kata Dulah. 

Udin senyum saja.

“ Tak apa dibilang apa. Suka suka kalian sajalah.” Kata Udin. Seraya pesan kopi.

Udin menyeruput kopinya. “ Alhamdulillah. Nikmat apa lagi kita dustakan. Secangkir kopi pekat, punya istri menyenangkan hati, punya sahabat yang suka begurau, walau kadang menyebalkan, cari rezeki mudah. ” Kata Udin tersenyum kepada semua sahabat masa kecilnya.

“Tuh kan benar. Berubah laku dia. Tapi tetap saja salah. Dia pengikut Jokowi bukan kepada sahabat empat rasul.” Kata Sukri.

“ Justru aku ini salafi sejati. Aku tiru keempat sahabat rasul. Jokowi itu perwujudan dari Usman, Pengusaha yang jadi Khalifah. Lah kau ? siapa yang kau tiru sukri? Itu Ustad kau, hidupnya menumpang dari orang banyak, Kalau tak dapat uang dari ceramahnya, tak makan dia. Hidup dari klik youtube...”

“ Eh kasar sekali muncung kau Din. Terus mengapa kau tidak sebut siapa itu Abu Bakar Sidiq ? Apa ada pada diri Jokowi.?
“ Kesabaran Abu Bakar Sidig ada pada Jokowi. Ustad kau? marah terus! Mengumpat terus. Bahkan provokasi orang mati sahid. Kan tolol itu”

“ Udinnnnn. “ Sukri mulai emosi “ Mati sahid itu perintah Allah. Itu sunah Rasul.” 

“ Rasul sendiri meninggal di tempat diur. Tidak dalam keadaan perang. Sunnah mana yang kau ikuti ?

“ Taek juga kau Din. Semakin bicara kau semakin sakit hatiku. Jihad itu dilaksanakan diserukan oleh empat khalifah sesudah Nabi. Itu kalau kau paham salaf.”

“ Tetapi empat sahabat Nabi itu meninggal tidak sedang berperang”

“ Ah sudahlah, Kau semakin sesat. Para pelaku bom bunuh diri itu bukan teroris. Istilah teroris hanya cara orang kafir menyudutkan perjuangan islam. Paham kau!

“ Aku akan lebih paham, kalau Ustad yang sarankan mati sahid  itu, duluan mati  sebelum dia suruh orang mati sahid.” kata Udin santai.  Dulah terpana. “ Eh benar juga Udin itu. Kenapa Ustad Nando terus teriak jihad, dia sendiri tak berani mati sahid. Malah istri diperbanyak.”

“ Bodoh sekali kau Dulah. Kenapa kau percaya dengan si Udin pedagang sempak. Ke masjid aja jarang dia.  Kepada istri takut sekali dia. Mana paham dia jihad.”

“ Sukri saudaraku. Berkeluarga itu sama dengan melaksanakan setengah agama. Kau jaga perasaan istri, itu sudah dapat angka 50 dihadapan Tuhan. Kau jaga ibu dan ayah kau, nambah lagi 50 angka kau. Jadi 100. Lulus kau beragama. Sorga kau dapat. Kan, bego cari jalan jihad membunuh diri dan orang lain. Padahal membunuh 1 orang manusia,  itu sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Paham kau ?

“ Lantas Nabi berperang dan membunuh itu. Salah???

“ Tidak. Karena untuk membela diri. Lah sekarang, apa ada yang ancam dan menyerang kita karena agama kita? Apa ada yang larang ustad yang berdakwah? Kan engga ada. Ngapain perang, ngapain cari cari mati sahid. Pahamkah kau saudaraku,…”


***

“Kadang aku kasihan. Kalau meliat orang tahlilan di tempat orang kematian. Itu jelas bida’ah. Setiap yang bida’ah itu sesat “ kata Sukri waktu di Lapau.

“ Bisa jelaskan dalilnya” Kata Mahmud.

“  Mengada adakan yang tidak dilakukan Nabi. Itu bid’ah. “ Kata sukri menjawab pertanyaan Mahmud.

“ Setiap yang membuat hukum sendiri itu lebih sesat “ kata Udin nyeletuk.

“ Kau sindir aku din? Apa kau kira aku asal bicara ?  Kata Sukri tersinggung.

“ Aku tidak sindir kau.”

“ aku tanya, menurut kau tahlilan di tempat orang mati, bid’ah atau tidak “ Kata Sukri

“ aku tanya balik. Apakah Membaca AL Quran, Yasin itu bid’ah ? Tanya Udin.

“ Baca AL Quran tidak bida’ah. Tetapi membaca AL Quran di tempat orang kematian itu bida’ah”

“ Apakah ada hadith dan Alquran menentukan tempat larangan membaca AL Quran ? Tanya Udin.

“ Ya tidak ada” kata Sukri tegas 

“ Kalau begitu mengapa di bilang bida’ah tahlilan ? Tanya Udin lagi 

“ Masalahnya tradisi tahlilan itu tidak ada zaman Nabi” kata Sukri berdalil. 

“ Apakah ada ceramah di YouTube di zaman Nabi ? Tanya Udin lagi. 

“‘tidak ada. “

“ Mengapa tidak dibilang caramah di YouTube itu bida’ah ? Bukankah tradisi itu tidak ada di zaman Nabi”

“ Duh pening kapalaku. Mengapa kau putar putar aku dengan pertanyaan. Kutanya kau balik tanya. “ kata Sukri gebrak meja. 

“ baiklah Din. Pendapat kau sendiri gimana ? Apa boleh tahlilan ditempat orang mati” tanya Dulah.

“ Pendapatku, ya boleh. Baca Alquran kok dilarang? Aneh!. Membaca AL Quran ditempat orang kematian bisa meningkatkan keimanan bagi yang ditinggalkan dan kita yang datang bisa mendapatkan hikmah tentang kematian pasti menjemput. Apakah ada hikmah yang lebih baik daripada pesan kematian? Hanya orang dungu yang tak bisa paham” kata Udin.

“ ah sudahlah Din. Kau sok paham agama. Padahal kau bukan ulama. Kau hanya pedagang sempak. “ kata Sukri 

“ apa urusanku dengan ulama? Kalau aku mati, Tuhan tidak tanya siapa ulamaku. Setiap orang menanggung dosa sendiri sendiri. Kalau salah karena salah ngaji, ya tanggung sendiri. Makanya gunakan akal. Jangan mudah ikut apa kata ustad” kata Udin seraya membayar minuman dan pergi dari lapau. Sukri meradang marah. Apalagi temannya sudah terpengaruh dengan kata kata Udin.


***

Pagi pagi sebelum Udin berangkat ke pasar.  Upik tak seperti biasanya. Wajahnya masam. Tak ada senyum seperti biasa. Udin bingung. Gerangan apa yang terjadi, sehingga bidadarinya bermuram durja.

“ Abang.” Seru Upik waktu udin usai mandi. 

“ Ya. “ Kata Udin sibuk ambil pakaian di lemari.

“ Tadi waktu abang tidur. Ada telp ke hape abang. Katanya celana dalam abang ketinggalan di tempatnya.” 

“ Yang telp siapa?

“ tertulis di hape abang, Amoy. Siapa itu? Teriak Upik.

Udin tersenyum. Barulah tahu mengapa mendung ada di rumah. Oh  ini sebabnya. Sekian tahun berumah tangga, baru sekarang upik cemburu. 

“Pik, bidadari abang. Kata Udin membelai kepada Upik. Tapi Upik menjauh. “ Tak usah dekat dekat “ Upik ketus. Udin tersenyum. 

“ Itu Amoy anak babah Afin. Dia yang kelola toko grosir. Kemarin abang beli barang dengan dia.”. 

“ Kenapa abang tidak ambil barang itu. ?

“ Abang memang titip barang ke dia. Setelah sholat ashar abang mau ambil. Tapi karena sudah sore, abang langsung pulang. “ 

“ Upik engga percaya. “

“ Jadi gimana buat upik percaya.?

“ Upik sudah dari kemarin kemarin curiga. Apalagi abang minta beliin sabun Camay. Itu kan sabun orang China. “

“ Oh itu hanya kebetulan. Kalau Upik tak suka abang pakai sabun Camay ya tak usah beli lagi. Buang saja.”

“Upik tahu selera abang. Abang suka dengan yang putih putih. Orang  buruk rupa dan hitam kaling seperti abang, kan suka perempuan putih. Ya si Amoy itu kesukaan abang”

“ Perempuan berkulit putih yang suka itu hanya Upik. “ Kata Udin tersenyum. “ Siapa yang suka dengan abang yang buruk dan hitam, tak berharta ini.?  Tak ada selain Upik. Cinta adinda adalah berkah kanda sepanjang usia. Itu akan kanda jaga sampai mati.” Lanjut Udin.  Upik tersenyum dan memeluk Udin. 

 “ Kalau abang tak suka hanya malam jumat, mengapa abang tidak bilang? Kata upik. 

“ Alhamdulilah, kalau upik bisa maklum” Kata Udin berbunga bunga. ini pasti ulah sukri cerita ke habibah. Jadi sampailah ke si  Upik.


***

“ Mau kemana abang ? Teriak istri Udin. “ Udah malam masih juga keluyuran. Pasti ketemu sukri ya “ Istri udin mulai merepet.

“ Sebentar Abang mau tengok Mahmud sakit. Sebentar ya.”

“ Eh Mahmud sakit. Lah tadi sore sebelum abang pulang dari dagang, dia datang. Dia tanyain Abang. “

“ Oh sudah sembuh dia? ya sudahlah. Tak jadi aku pergi. “Udin balik badan.

Sukri datang ke rumah bersama temannya.  Mereka datang berpakaian taliban. 

“ Din, aku sebagai sahabat kau, mau ajak kau bergabung dengan kami. Cobalah belajar mengaji dengan kami di masjid. Coba sekali aja. Agar kita bersama sama membangun negeri ini sesuai dengan syariah islam.” 

“ Hmm. Coba yakinkan aku dalam lima menit soal syariah islam dalam bernegara.  Kalau benar kau punya keyakinan itu bagus, atau lebih hebat dari Pancasila, aku ikut kau Sukri. “ Kata Udin tenang. 

“ Alhamdulilah. Mau kali ini kau mendengar ? Kata Sukri.

“Siap menyimak.” Kata Udin seraya melirik teman Sukri. Entah siapa yang dia bawa itu. Udin engga kenal. Katanya teman dari jauh.  Sama sama dalam lingkaran pengajian.

“ Baiklah Din. Ini ada ustad yang akan jelaskan. Kalau aku jelaskan. Mungkin kau tidak percaya. Silahkan Ustad “ kata Sukri.

“ Baiklah. Saudaraku..” Seru Ustad itu dengan lemah lembut. “ Negeri ini tidak akan mendapatkan rahmat Allah kalau tidak didirikan atas dasar Tauhid, " Lanjutnya. 

“Paham aku itu. Itu bukan hal baru. Itulah Ketuhanan Yang Maha Esa.” Kata Udin menyela.
“ Eh kau diam Din. Jangan kau potong ustad bicara.  Silahkan lanjut Ustad. “ kata Sukri. 

Udin tersenyum.

"Tapi antum juga harus paham landasan Tuhan harus teraktualkan dalam bentuk Kemanusiaan. Jadi agama dalam perbuatan akhlak mulia." Katanya Ustad itu berusaha memperjelas perbedaan dari Ketuahan Yang Maha Esa. 

" Paham aku.! Itulah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sama dengan Pancasila. Engga ada yang baru” kata Udin memotong.
“ Din! Diam kau. Kenapa terus dipotong ustad bicara? tak paham kau adab berbicara. ? 

"  Tidak cukup hanya itu. Tapi harus memastikan rasa aman dan damai bagi berbagai kaum dan kelompok. Karena Islam itu rahmatanlilamin yang menjamin mereka yang berbeda dapat bersatu tanpa berseteru.” kata ustad itu.

" Benar , antum. Itulah Persatuan Indonesia. Engga ada yang baru” Kata Udin menyimpulkan.

“ Eh Din. Mengapa kau potong terus, Kapan selesainya orang bicara kalu dipotong terus.? Seru Sukri

" Saudaraku. Bukan itu saja. Tapi ada lagi, bahwa kekhalifahan itu dasarya baiat dari rakyat dan dilaksanakan atas dasar musawarah bagi mereka yang berhikmah. Itulah ulama " kata ustad dengan retorika utopia.

" Ah paham itu aku. Itu sila keempat. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Ya kan? Bukan hal baru. " kata Udin.

" Tapi ..” Kata Ustad itu.

" Apalagi ..”Seru Udin.

" Tujuan akhirnya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Cara dekat kepada Allah adalah bersikap adil. Nah itu adalah keadilan. Adil yang bermartabat. Itu tujuan dari berdirinya khilafah islam sesuai syariah.

" Ah itu kata lain dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoensia. itu sila kelima. Bukan hal yang baru ..” Kata Udin. 

Sukri mulai berang. “ Selalu kau potong dan sok tahu. Selalu sebut sila pancasila. Ada aja alasan kau samakan dengan sila dari pacasila. Ini beda.! Teriak Sukri.

“ Ada lagi? kata Udin kepada Ustad tanpa peduli omongan Sukri.

" itu saja..” Kata Ustad bermuka masam

" Paham kan Din. Tak sampai lima menit tuntas. Jadi mau kau gabung? Kata Sukri memegang pundak Udin.

“ Gabung apa ? Dia bicara Pancasila. Dari SD aku sudah  paham itu. Engga ada yang baru. Ngapain gabung. Buang waktu.” Kata Udin. Ustad itu berdiri langsung permisi pergi. Udin mendengar di teras ustad itu bicara kepada Sukri. “ Salah kamar kita. Itu orang mada…” 

Udin hanya tersenyum.


***

Udin datang ke lapau selepas tarawih. Dia tersenyum ketika melihat Dulah berdebat dengan Sukri. Yang diperdebatkan soal Firman Allah soal Poligami. “ Dengar ini firman Allah dalam surat Annisa. Dengar!  maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. “ Kata Sukri menirukan firman Allah dalam bahasa Indonesia.

“ Tapi jangan kau potong itu firman Allah, Sukri.  Ada kelanjutan firman Allah, yaitu kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka  kawinilah seorang saja. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Artinya kalau tidak bisa berlaku adil maka kawin lagi itu aniaya sifatnya. Hukumnya dosa besar. Siapa sih di dunia ini bisa berlaku adil?” Kata Dulah.

“ Ah kau cemen sekali beragama. Masak tak bisa berlaku adil terhadap istri istri sendiri. Tak mau dia, ceraikan. " Kata Sukri.

“ Soal adil itu bukan aku yang bicara. Itu Allah sendiri yang berkata, dalam surat Annisa  129, Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri mu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Jadi kalau kau merasa mampu berlaku adil, itu artinya kau lebih hebat dari Allah.” Kata Dulah.

“ Terserah kau sajalah.  Susah kasih pengertian sama kau. Nanti bertengkar lagi kita. Kau sudah termakan sihir si Udin” Kata Sukri.

“ Sukri, Firman Allah itu sangat indah bahasanya. Allah maha bijaksana. Kepada manusia saja, Allah itu sopan sekali berbicara. Agar orang mendengar dengan akalnya dan menerimanya dengan hatinya. Surat Annisa itu tidak sulit dipahami kalau tidak menggunakan nafsu. Cobalah renungkan setiap firman Allah itu. Tidak ada kewajiban, apalagi sunah menikah lebih dari satu. Bahkan ancaman pasti kalau gagal berlaku adil. Dan pasti tidak akan mampu berlaku adil” kata Udin.

“ Menarik dengan istilah bahasa indah. BIsa kasih contoh yang lebih ekstrim soal bahasa indah Allah itu, Din.” kata Mahmud.

“ Contoh Surat Al Maun. Ada tujuh pesan yang Allah sampaikan dengan begitu indahnya. Perhatikan. Pertama. Allah bertanya kepada manusia ( muhammad), Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?  Hebat engga? Allah awali dengan tanya. Kemudia Allah jawab sendiri. 

“ Apa jawaban Allah?  Tanya Dulah.

“ itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. 

Nah Artinya sederhana sekali. Kau hardik anak yatim, apalagi tidak meberi mereka makan dan tidak mendorong orang lain memberi makan orang miskin, maka kau sama saja mendustakan agama. Paham kalian yang dimaksud mendustakan agama? Semua sholat sunah maupun wajib yang kalian lakukan, puasa, pergi haji, membaca duakalimasahadat, itu semua bohong. Engga ada nilainya di hadapan Allah. “ kata Udin 

“ lanjut din. “ Mahmud semakin semangat.

“ Kemudian kedua, Allah berkata lagi, maka celakalah orang yang shalat. “Kata Udin.

“ Eh, kenapa celaka orang sholat? tanya Mahmud.

“ Karena lalai terhadap shalat. “ Kata Udin.

“ Kenapa lalai? Tanya Dulah.

“ Bodoh kali kau Dulah. Lalai itu sama dengan malas sholat.” Kata Sukri.

“ Bukan malas sholat. Itu ditujukan kepada orang yang rajinn sholat. Dianggap lalai karena dia berbuat Riya. “Kata Udin.

“ Apa itu Riya? Tanya Dulah.

“ Sombong. Pakai baju gamis dan berjanggut merasa paling sholeh. Sholat teriak teriak dan kadang di tempat umum agar dilihat orang ramai. Berbondong di jalanan umum membaca takbir sehingga ganggu orang lewat. Paksa orang lain hormati dia lagi berpuasa dan lain sebagainya. Itu semua riya! Kata Udin. 

Mereka semua terdiam. 

“ Dan Ayat berikutnya, Allah tambahkan lagi yaitu enggan memberikan bantuan kepada orang lain. Artinya, kadang jangankan membantu orang lain, disuruh jangan ribut, bersabar atas sikap orang lain dan jangan menghujat saja kita tak mau, bahkan marah. Itu termasuk lalai dalam sholat. Paham kalian.”Kata Udin.

Semua terdiam. Sukri terpekur.

“ Ngeri kali ya? Selama ini kita anggap kita sudah benar beragama. Padahal kita termasuk orang yang mendustakan agama dan lalai terhadap sholat. Tapi yakin kali bakal masuk sorga dan berhak kafirkan orang lain.” Kata Mahmud. 

Udin tersenyum. 

“ Sudah hampir jam 10 malam. Aku harus pulang. Habis ramadhan selepas lebaran, aku dan si upik akan pindah ke Jakarta. Baik baik kalian semua di kampung. Kalian semua sahabatku. Sahabat masa kecilku yang akan selalu aku rindukan.” kata Udin. Sukri langsung mendekap Udin dan begitu juga semua sahabatnya mendekap dia. 

“ Kami akan kehilangan kau Din.” Kata mereka.


***

“ Rezim Jokowi itu zolim. Ulama berdakwah dicurigai” kata Sukri pas sampai di lapau. Kebetulan Udin sudah ada di lapau. 

“  Dicurigai kau bilang zolim. Istri kau curiga kau selingkuh dengan janda. Itu zolim ? 

“ Aku tidak selingkuh Din. Jadi aku tidak merasa dizolimi. Paham kau?

“ Nah samanya dengan pemerintah. Kalau ulama engga merasa salah, kenapa takut dicurigai. Santai aja “

“ Apa kau tidak baca berita. Banyak ustad yang ditangkap. Itu sudah kriminalisasi ulama “

“ Itu bukan ulama. Tapi kriminal. Jadi bedakan ya. Mana Ulama dan mana kriminal. “

“ Eh pandai sekali kau berdalih seakan paling tahu mana ulama dan mana kriminal. Hati hati bicara! 

“ Sukri, Yang kupahami, mana mungkin ada ulama  ceramah ditangkap.  Ulama yang benar itu, dia berdakwah dengan bil hikmah. Penuh kelembutan dan kebijakan mencerahkan orang. Bukan marah marah dan menuding orang lain sesat dan salah” 

“ Apa salah menuduh orang salah dan sesat kalau itu kebenaran bersumber dari AL Quran dan hadith?

“ Saya tanya kau sekarang. Apakah ayam baru lahir itu halal? Tanya Udin balik

“ Halal!  Sukri tegas menjawab

“ Mau kau makan anak ayam baru lahir ?

“ Ya tak mau aku. Ah pertanyaan apapula kau ini?

“ Itu artinya Walau halal sekalipun tidak harus kita makan. Walau kebenaran sekalipun tidak harus kita sampaikan kalau itu akan menyinggung perasaan orang lain. Kalau tetap ingin katakan, sampaikanlah dengan bijak. Kalau ingin tegas, cukup  diantara sepaham saja. Jangan sampai orang berbeda paham mendengar”

“ Lantas kenapa ? Takut orang Kafir mendengar ? Aku tak takut. “Kata Sukri garang.

“ Ya kalau mereka yang tak sepaham tersinggung, mereka bisa lapor ke polisi. Kena lah pasal pidana membuat orang lain tidak nyaman. Jangan pula bilang pemerintah zolim. Itu UU, yang membuatnya DPR, di dalamnya juga ada partai yang diakui Ulama. Paham kau”

“ Udahlah. Tak paham aku. Malas aku bicara dengan kau. Semakin bicara kau semakin pening kepalaku”


***

Karena sibuk melayani pembeli di pasar , Udin hampir telat sholat lohor. Dia bersegera ke mushola. Di depan mushola ada yang menegurnya" Bang, mau sholat ya" kata orang itu dengan senyum ramah.

" Ya." kata udin sambil membalas senyumnya.

" Boleh aku ikut sholat sama Abang" 

" Oh boleh..boleh. Ayo kita sholat berjamaah" kata Udin  sambil merangkulnya. Kebetulan hanya berdua yang sholat. Udin imam dan orang itu makmun. Seusai sholat, orang itu menyalami udin.

" Bang..”  orang itu  terdiam agak lama seperti ragu untuk berkata. " Aku  engga pernah bisa hapal bacaan sholat semuanya. Tapi aku selalu sholat. Aku  juga engga bisa membaca doa. Tapi aku ngomong aja ke Tuhan. Aku juga miskin, tak mampu bersedekah. “ katanya kemudian.Memang udin perhatikan orang ini agak "sedikit" kurang terdidik dan bicaranyapun agak telat dibandingkan pikirannya.

" Engga apa apa.Kalau kamu hanya bisa menyebut sepenggal bacaan sholat, bacalah itu. Seandainya untuk sholat kamu hanya mampu merangkak, maka merangkaklah, engga apa apa!. Jika kamu belum mampu berdoa dengan indah maka tetaplah persembahkan doa dengan bahasamu. Kalau tak ada uang bersedekah, senyum ikhlas juga sedekah. Karena Tuhan, dengan rahmatNya akan menyempurnakan semua itu."

" Aku engga pernah belajar tentang agama. Ilmu aku sedikit sekali Bang. Tapi aku tahu Tuhan sangat sayang denganku”

" Prasangkamu terhadap Tuhan, itulah ilmu sesungguhnya.Dengan prasangka itulah kamu dan Tuhan menyatu.Kamu akan selalu baik baik saja."

Dia peluk Udin dengan air mata berlinang. “Terimakasih Bang. Terimakasih.”

***

Selepas tarawih Udin bersama Sukri pergi ke lapau. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Dahlan. “ Ada apa kau Dahlan. Berwajah sedih kau nampaknya. Istri kau marah lagi ?  Kata Sukri.

“ Tadi sore petugas Satpol PP ambil gerobak daganganku. Habis modalku. Bagaimana aku menghidupi anak istriku.“ Kata Dahlan

“ Kau salah. Sudah tahu bulan puasa, kau dagang makanan. Itu bukan saja melanggar PERDA tapi juga tidak menghormati orang berpuasa.” Kata Sukri.

“ Berapa modal kau perlu, Dahlan ? Tanya Udin.

“ 400.000 Din.”

Udin langsung keluarkan uang dari dompetnya. “ Ini kau ambil uang. Kalau sudah longgar kembalikan uangku. Besok dagang malam aja. ‘ Kat Udin menyerahkan uang kepada Dahlan.

“ Barakallah Din. Terimakasih. “ Kata Dahlan. Kemudian Udin dan sukri meneruskan perjalanan ke Lapau.

“ Eh Din, kenapa kau bantu dia.  Sudah jelas dia tidak menghormati agama, kau bantu pula.  Aneh kau ini”

“ Aku melihat dia dizolimi oleh ulama dan PEMDA. Jadi aku bantulah.”

“ Zolim bagaimana? itu penghormatan kepada agama. Itu bagian dari  siar agama.  Membela agama.”

“ Agama tak perlu dibela. Itu urusan Tuhan. Tapi Dahlan harus aku bela. Itu perintah Tuhan kepada kita yang mampu. Kubantu Dahlan begitulah caraku menegakkan keadilan Tuhan kepada Dahlan.”

“ Bagaimana penghormatan kepada orang berpuasa? Tak paham kau aturan PEMDA itu?

“ Orang puasa tidak butuh hormat. Puasa itu ibadah antara kita  dengan Tuhan. Soal Pemda  aku tak mau pusing”

“ Tapikan menggangu orang berpuasa. Itu semakin berat cobaan bagi orang berpuasa. “

“ Cobaan itu bukan untuk  dihindari tetapi dihadapi dengan iman. Jangan cemen kau beragama.  Tidak sempurna iman tanpa cobaan. Paham kau? Kata Udin.

“Ah kenapa kau selalu tidak sejalan denganku.  Kau selalu bela Jokowi tetapi dengan pemda kau bilang zolim.”

“ Aku hanya membela kebenaran menurut hati nuraniku. Engga ada istilahnya aku  bela Jokowi atau tidak suka pemda. Kalau benar, aku bilang benar, kalau salah ya salah.”

“ Din, kalau ada lebih bantulah untuk program pasantren kilat masjid aku.” Kata Sukri.

“ Aku tidak ada uang. Uang daganganku dipegang Si Upik ” Kata Udin singkat

“ Tadi kau ada uang untuk bantu Dahlan”

“ Itu uang dari induk semang tempat aku ambil barang. Babah Afin. Dia kasih aku uang THR. “ Kata Udin.

“ Babah Afin kan orang China. Apa halal itu uang.?

“ Yang pasti uang itu sekarang bisa menyelamatkan ekonomi Si Dahlan.  Soal halal haram tak penting bagiku. “


***

Kadang kalau melihat perempuan sekarang tanpa jilbab dan baju gamis, sepertinya  kita terperangkap dalam zina mata.” Kata Sukri. 

“ Benar sekali, Sukri. ditengok dosa, engga ditengok barang bagus.” Kata Mahmud mengulang kata kata Ustad tenar.

“ Dulu pakaian adat minang untuk perempuan baju kurung. Sekarang pakaian anak perempuan sudah menyerupai laki laki” Kata Dulah. 

“Ah kalian ini. Pikiran kalian yang sakit, pakaian perempuan pula yang disalahkan. “ Kata Udin.

“ Eh sakit. Sakit apa pikiran kami ? Kata Sukri.

“ Mesum!. Pikiran ke dada dan bawah pusar saja. Padahal di rumah bisa liat tiap hari. Sama saja barangnya. Engga ada beda.” Kata Udin. 

“ Din, kami sedang membahas soal perintah agama. Perintah agar wanita mengenakan pakaian yang sesuai dengan syari”

“ Syari apa yang kau maksud ? Tanya Udin.

“ Pakain baju kurung dan jilbab lebar untuk wanita. Tidak boleh nampak rambut. Paham kau?. “

“ Ah itu bukan pakaian syari. Itu budaya saja. “ 

“ Itu ada hadithnya dan juga firman Allah.”

“ Hadith dan firman Allah itu sesuai dengan zamannya. Saat itu kan belum ada BH dan Celana dalam wanita. Makanya perlu jilbab lebar agar tak nampak mata sapinya. Perlu baju lebar, agar tak membayang brewoknya. Lah sekarang sudah ada BH dan CD. Perlu berapa aja, aku jual. Mau model apa saja ada. Ngapain pakai baju kurung dan jilbab lebar . Kalau kerena rambut wanita nampak kau nafsu, itu kau sudah bisa dianggap orang gila. Tak perlu agama bagi orang gila“ Kata Udin.

“ Gila? Emang aku orang gila. Jaga  muncung kau Din“ bentak Sukri.

“ lah liat rambut cewek nafsu kau ! Apa Engga aneh! Kalau liat mata sapi dan berewok cewek nafsu, itu normal. Makanya perlu BH dan CD”

“ Ah sudahlah. Apa apa selalu kau bilang sesuai zamannya. “ kata Sukri sinis

“ La iyalah. Zaman berubah, tapi hakikatnya tidak berubah. Hakikatnya jangan nampak mata sapi dan brewok. CD dan BH solusinya.“ kata Udin 

“ Bagaimana dengan janggut? bukan sunah lagi kau bilang! Kafir kau din.”

“ Ya iyalah. Itu bukan sunah. Pahami konteks saat hadith itu keluar. Saat itu belum ada penanda siapa Yahudi dan siapa muslim. Makanya Nabi sarankan agar orang muslim pelihara janggut untuk pembeda dengan Yahudi. Lah sekarang kan sudah ada KTP. Di kTP disebut apa agamanya. Ngapain lagi pakai janggut.” Kata Udin 

“Sudahlah. Pening bicara dengan kau Din.” Sukri kesal.

“ Eh Sukri, kenapa kau kesal dengan Udin. Dia ada benarnya.”Kata Dulah.

“ Kalian mudah sekali disesatkan sama pedagang sempak dan bodoh.” Kata Sukri kesal.

“ Udin memang tak ahli agama, tetapi apa yang dia cakap ada benarnya.” Kata Dulah.

***

Din aku percaya sama kau daripada dengan Sukri dan Datuk Mawardi. Apa yang dimaksud Khilafah oleh HTI” Tanya Dulah waktu bertemu di Lapau. Sukri hanya mencibir. Udin sebenarnya malas untuk menjawab tapi, Bandi ikut mendesak. “ Cobalah jelaskan. Kau kan tamatan Madrasah. Lebih paham dari kami yang tamatan sekolah umum”

“  Baiklah. Tapi tolong dengarkan baik baik. “

“ Siap Din” Kata Dulah.

“ Literatur tentang khilafah islamiah itu lebih banyak berasal dari HTI. Orang awam tahunya itu. Padahal dalam  konteks fikih juga tidak ada keseragaman ulama soal khilafah. Nah yang jadi masalah adalah HTI menganggap itu bukan dalil tetapi kewajiban beragama. Sudah sama dengan rukun islam. Tentu umat islam menentang HTI. Karena itu bukan lagi ajaran agama, tetapi sudah masuk ranah politik praktis.”

“ Ok lah. Tetapi bagaimana dengan konsep khilafah islamiah untuk menegakan syariah islam? Kata Sukri.

“ Sebagai metodelogi, boleh saja. Tidak ada umat islam berbeda sikap soal itu.”Kata Udin.

“ Tetapi kenapa pemerintah terkesan islamphobia.” Kata Sukri.

“ Kesan itu justru datang dari pengusung khilafah, terutama HTI dan PKS serta ormas lainnya yang anti pemerintah.. Pemerintah sendiri justru digaris depan melaksanakan syariah islam.” kata Udin.

“Apa buktinya ? Tanya Sukri dengan garang.

“ Pancasila itu adalah metodelogi menegakan syariah islam. Perhatikan, undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang peradilan agama. UU itu bukan hanya berwenang menyelesaikan sengketa di bidang perkawinan dan kewarisan, melainkan juga berwenang menyelesaikan sengketa antara nasabah dan lembaga jasa keuangan syariah yang oleh Otoritas Jasa Keuangan dibedakan menjadi Perbankan Syariah, Pasar Modal Syariah, dan Industri Keuangan Non- Bank Syariah. 

Bahkan spesifik di Aceh, kompetensi absolut Pengadilan Agama, yang disebut Mahkamah Syariah diperluas juga mengadili perkara pidana Islam. Itu buktinya.” Kata Udin

“ Oh baru tahunya aku. Jadi sebenarnya kita sudah menerapkan khilafah islamiah. Karena ada lembaga peradilan Islam yang diakui UU dan itu cakupannya luas.” Kata Bandi.

“ Bukan hanya soal itu. Bahkan ibadahpun pemerintah urus sesuai syariat islam. Seperti bangun tempat ibadah, pergi haji, pendidikan, zakat/wakaf, fatwa halal terhadap barang konsumsi publik, termasuk wisatapun ada program wisata halal.” Kata Udin

“ Bagaimana peran negara kita terhadap perjuangan menegakan khilafah islamiah di dunia international ? Kata Sukri.

“ KIta menjadi anggota OKI sedunia. Di OKI kita aktif memperjuangkan konsep perbankan syariah. Indonesia ada saham di Islamic Bank. Kita juga aktif memperjuangkan kemerdekaan palestina. Kita juga aktif menyuarakan kerjasama ekonomi sesama antara negara islam seperti, mata uang, sistem clearing bank islam. Suara Indonesia paling didengar dan dihormati oleh anggota OKI.” kata Udin.

“ Ya terus apalagi yang dimaui pengusung khilafah.?Kata Dulah.

“ Maunya mereka adalah kekuasaan itu tidak ditentukan oleh rakyat tetapi oleh ulama. Masalahnya, konsep kekuasan mereka itu sudah terbukti gagal seperti Khilafah Turki usmani, Abassaiah dan Usmaniah. Makanya dilarang oleh pemerintah.”Kata Udi

“ Mengapa ? Kata Bandi.

“ Ulama kan bukan nabi , bukan malaikat. Dia bisa saja salah. Bagaimana mungkin kita menyerahkan hak menentukan penguasa kepada segelintir orang. Itu jelas tidak sehat menurut akal dan agama juga tidak mengajarkan begitu.“ Kata Udin.

“ Tetapi kan kekuasaan khilafah seperti Usmani kan terbukti menjamin keadilan bagi pemeluk agama lain” Kata Sukri.

“ Adil menurut kekuasaan khilafah, bukan adil secara universal. Itu sesuatu yang berbeda. Pasti ditolak oleh agama lain.Nah hukum positip di negara kita menjamin prinsip  keadilan bagi semua agama. Paham ya. “ Kata Udin.

“ Darimana kau tahu itu semua, Din” Kata Dulah.

“ Ya dari media massa. Gratis. Cukup buka hape, aku bisa baca koran apa saja. Masalahnya kalian itu hape dipakai untuk tak bermanfaat. Anehnya sudah terbuka luas informasi, kalian masih saja mau dibodohi oleh petualang politik berbungkus agama” Kata Udin tersenyum. 

“ Paham Din. “ Kata Bandi. “ Terimakasih. Karena sudah mencerahkanku. Tadinya aku sempat aktif di HTI dan FPI. Sekarang aku lega, Keputusanku keluar tidak salah.” lanjut Bandi.

“ Ah bodohnya kau, Bandi. Sarjana tapi percaya dengan si Udin pedagang sempak. Dia sok tahunya saja. “


***

“ Din, sekarang sudah ramai pasar. Tak ada lagi orang atur jarak. Semua sudah berdesakan. Lumrah saja. Apa sudah selesai Corona? Tanya Dulah.

“ Sampai sekarang belum selesai. Masih harus tetap jaga kesehatan kita. Patuhi protokol kesehatan ya” Kata Udin.

“ Apa benar ada Corona itu, Din. Sepertinya hanya heboh di Jakarta dan jawa saja.Di kampung kita tak ada orang kena Corona. Jangan jangan ini hanya permainan pemerintah saja.” Kata Bandi.

“ Benar kau, Bandi. ini sudah pasti ulah pemerintah” Kata Sukri.

“ Corona itu memang ada. Tapi tidak perlu ditakuti berlebihan.” 

“ Mengapa Din ? Tanya Dulah.

“ Virus itu kan mahluk Allah. Sampai kapanpun virus itu akan selalu ada. Bahkan sampai hari kiamat. Artinya tubuh kita diracang Tuhan  memang beradaptasi dengan virus. “ Kata Udin

“ Eh gimana kita beradaptasi dengan Virus ? kata Sukri penasaran.

“ Di dalam tubuh kita ada antibodi. Itu sistem pertahanan tubuh kita dari serangan virus atau bakteri. Selagi kesehatan kita prima, ya sistem antibodi kita bisa menghalau virus itu. Jadi engga perlu ditakuti. Jangan sampai kita mati karena rasa takut berlebihan.” kata Udin

“ Maksud kau, tidak prima kesehatan  itu apa ? Kata Sukri.

“ Contoh Virus Corona itu kan hanya hidup dari inangnya. Nah inang Virus corona itu ada di saluran pernapasan, paru paru dan pangkreas. Selagi saluran pernapasan kita bagus, paru paru sehat, dan pangkreas sehat ya walau virus datang, walau kita sakit, itu akan pulih karena waktu. Dan setelah itu kita akan imun. Jadi selagi ketiga hal itu sehat, ya santai sajalah. Focus kerja dan cari uang” kata Udin.

“ Terus kenapa pemerintah begitu paranoid nya? Kata Bandi.

“ Kan udah dibilang tadi. Virus itu efektif menyerang orang yang punya penyakit tiga hal tadi. Bayangin, kalau tidak ada prokes, kan akan banyak yang masuk rumah sakit. Gimana kalau RS tidak cukup peralatannya? kan bisa banyak meninggal orang. Tapi dengan prokes, tingkat yang terinfeksi jadi rendah, dan RS tidak dibebani berlebihan. Sehingga dokter bisa kerja tenang. Nah secara bertahap pemerintah lakukan vaksin kepada mereka yang bersiko tinggi. “

“ Kenapa yang beresiko tinggi diutamakan? Tanya sukri.

 “ Agar yang sehat dapat melawan virus secara mandiri dan terjadi imunitas secara luas. Paham ya.” kata udin.

“ Darimana kau tahu itu semua Din? Tanya sukri.

“ Ya dari internet. Makanya kalian, biasakan gunakan internet mencari ilmu. Tapi lakukan itu dengan cerdas. Jangan dengar dari media massa saja. “ Kata udin tersenyum seraya menyeruput kopinya.


***

Waktu Udin datang ke Lapau, Bandi dan Sukri sedang berdebat. Apa pasal.? “ Jangan kalian tertawakan kalau aku bilang  bumi itu datar.  “ Kata Sukri. Mereka yang ada dalam Lapau itu terus tertawa.  Udin hanya tersenyum meliat Sukri kesal. 

“ Sukri, ongok berlapis koreng.” Kata Bandi menyindir kebodohan Sukri. “ Dengar ya. Bumi itu berasal dari nebula atau gas dan debu kosmik yang tersebar di tatasurya. Gas dan debu kosmik tersebut tertarik oleh medan gravitasi untuk berkumpul dan menghasilkan benda angkasa, salah satunya ya bumi. Karena tarikan gravitasi itulah membuatnya berbentuk bulat. Kenapa bulat? karena bentuk bulat adalah bentuk di mana semua unsur bisa sedekat mungkin dengan pusat gravitasi. Itu pelajaran SMP, Sukri. “ Lanjut Bandi yang memang lebih terpelajar dari semua mereka yang ada di Lapau itu.  

Sukri tak mau berdebat banyak. Dia mengalihkan pandangan ke Udin. “ Din, aku bicara atas nama Al Quran, tetapi mereka tertawakan dengan argumen kafir. Kasihan aku pada mereka. “ Kata Sukri.

“ Coba sebutkan, apa dalil Al Quran yang menyebut Bumi itu datar ? kata Udin.

“ Banyak Al Quran menyebut tentang bumi itu datar. Kau bisa baca Adz-Dzariyat (51): 48] Al-Baqarah (2): 22]. Al Hijr (15): 19] Juga di surat Ar-Ra’du (13):3 dan Qaf (50):7. [Nuh (71): 19]. [An-Naba’ (78): 6. [An-Nazi’at (79): 30].[Al-Ghasyiyah (88): 20] Asy-Syams (91): 6]. Semuanya Allah menyebut hamparan. Itu kan tidak perlu sekolah tinggi seperti Bandi untuk tahu hamparan itu adalah datar. “ Kata Sukri.

“ Ayat yang menyatakan bahwa bumi itu dihamparkan belum cukup menjadi bukti bahwa bumi berbentuk datar. “ Kata Udin.

“Eh mau bertafsir lagi kau. Itu kalimat jelas dan singkat. Tak perlu tafsir lagi “ Kata  Sukri keras.
“ Karena dalam ayat lain disebutkan, seperti pada Surat Az-Zumar ayat 5: "Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan  yang benar; Dia yukawwiru malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Kalau datar apa ada pergantian siang dan malam? Pikirlah.

Masih kurang paham. Nah perhatikan kalimat, ’yukawwiru' dalam ayat 5 Surat Az-Zumar. Itu artinya 'menggulung' atau 'membentuk lingkaran atau putaran'. Apakah  'yukawwiru' itu berarti datar ? ya terlalu kalau bilang itu datar. Anak kelas 2 Madrasah sanawiyah saja tahu kalau itu menunjukkan bentuk yang bulat dan bukan datar.” Kata Udin.

“ Ah bisa bisa kau saja, Din. Lebih dari satu ayat aku sampaikan, enak saja kau patahkan dengan satu ayat. “ Kata Sukri, Udin senyum saja.  

Tapi Bandi kembali dengan argumen sains nya.  “ salah satu bukti bahwa bumi bulat adalah saat terjadinya gerhana bulan. Saat gerhana bulan, posisi bumi berada di tengah-tengah di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama. Saat itulah, bayangan bumi di bulan akan terlihat melengkung. Nah ini membuktikan bahwa bumi tidak datar, melainkan melengkung atau berbentuk seperti bola," ucap Bandi. 

Sukri melengos ketempat lain. “ Susah bicara sama orang sudah condong ke dunia. Al Quran pun dia sanggah dan tertawakan. Kapan kalian tobat.” Sukri menggerutu. Semua temannya tersenyum. Tak ada lagi yang mau tertawakan.  Karena Udin tak mau ada teman ditertawakan karena kebodohannya. Biarlah waktu yang akan mengubah mereka jadi cerdas


***

Saat itu sedang Pilkada serentak. Banyak kader partai datang ke kampung kampung. Udin berkali kali diundang untuk acara partai tapi dia selalu menghindar. Itu bukan karena dia tidak mau, tetapi waktunya seharian habis di pasar jualan. Malamnya dia ada waktu. Itupun hanya sampai jam 10 malam. Di Lapau orang sedang ramai ketika Udin datang. Ternyata ada kader partai sedang berceramah. Biasalah kampanye dan tak lupa traktir minum semua orang yang hadir.

“ Hanya partai kita yang memperjuangkan syariat islam. Hanya partai kita yang tahu bagaimana negeri ini bisa maju dibawah lindungan Allah. Jadi kalian tidak perlu ragu untuk memilih partai dakwah. “ Kata Datuk Mawardi. Semua mengangguk. Apalagi kopi, ketan dan rokok gratis. 

“ Tak ada itu partai dakwah. Itu hanya cerita saja. “ kata Udin nyeletut. Orang semua memandang ke arah Udin.

“ Maaf, adinda Udin. Bisa jelaskan apa maksud adinda?Kata Datuk Mawardi.

“ Partai ini berdiri karena apa ? Tanya Udin.

“ Oh UU Pemilu. “Jawab Datuk Mawardi.

“ UU Pemilu itu dasarnya apa ?Tanya Udin lagi.

“ UUD 45 dan Pancasila” Jawab tegas Datuk Mawardi.

“ Lantas dimananya syariat agama yang kita perjuangkan? 

“ Oh itu ada dalam semangat partai. “

“ Apakah semangat partai lebih tinggi dari UUD 45?

“ Ya tidak. “

“ Jadi apa yang dimaksud memperjuangkan syariat islam? Tanya udi santai.

Datuk Darwin terdiam. Namun dia tersenyum. “ Adinda harus paham. Ini semua politik. “

“ Ya aku paham. Karena semua politik, tujuanya kekuasaan. Itu hanya untuk partai saja. Soal agama itu hanya alat kampanye  yang murah meriah. “ Kata Udin.

Semua mangguk mangguk saja. 

“ Diam kau Din. Mana paham kau Politik. Kau pandainya hanya jualan sempak.” Kata Sukri menimpali.

“ Yang aku tahu. Berkali kali pilkada. Nasip kalian semua tidak berubah. Yang berubah ya orang yang kalian pilih. Sekarang semua  kader partai datang ke kampung kita. Tapi setelah Pemilu,  mereka tidak nampak batang hidungnya. “

“ Maksud kau apa Din? Teriak Sukri.

“ Maksudku, tidak usahlah bicara agama selagi bicara politik.  Kita ini orang minang, Tidak mudah dibodohi. Sampaikan sajalah program partai itu apa?. Kalau ada partai yang mau bangun pasar dengan ongkos tebus kios bisa dicicil 10 tahun. Nah aku pilih Itu karena aku pedagang. 

Kalian yang petani, focus aja apa yang ditawarkan partai itu dibidang pertanian. Kalau masuk akal dan percaya ya pilih, kalau tak masuk akal ya jangan pilih. 

Dan pilih calon bupati atau gubernur yang hidupnya sederhana. Tak penting partai apa. Hidup sederhana itu pakaian orang beriman.  Dia akan dekat kepada orang miskin. Tirulah Jokowi“ Kata Udin.

“ Mantap Din. Setuju” Kata Dulah. Yang lain juga menjawab nada yang sama. Datuk Mawardi langsung keluar lapau. “ Eh siapa yang bayar ini semua? tanya pemilik lapau.

“ Aku bayar sendiri” Kata Udin. Setelah bayar dia pulang.

“ Udin kalera..gara gara dia kita tidak perai makan dan minum” Temannya menggerutu


***

“ Bagiku hukum Allah adalah final. Hanya itu yang harus kita imani.” Kata Sukri waktu bertemu di rumah Mahmud. Mereka di undang oleh Mahmud untuk buka bersama.

“ Kau paham apa yang dimaksud dengan hukum Allah.?

“ Ya itulah Alquran dan hadith” 

“ Baiklah.  Tidak perlu sampai kepada AL Quran dan hadith dulu. Coba jelaskan dengan bahasa sederhana, apa itu hukum alam atau sunnatullah? Tanya Udin. Sukri terdiam.  

“ Ah manapula Sukri paham pertanyaan kau Din. Dia kan soal agama seperti beo saja. Lanjut Din” Kata Mahmud.

“ Mengapa pertanyaan itu aku ajukan. Karena Al Quran berisi dua hal. Satu hukum soal Tauhid. Itu sudah tidak perlu dipertanyakan. Informasi tentang itu lengkap di Al Quran. Kedua, hukum ketetapan Allah. Itu tidak dijelaskan oleh Al QUran secara detail. Dua hal ini saling kait mengkait. Untuk memahami soal Tauhid, harus punya pemahanan tentang hukum ketetapan Allah. Begitupula sebaliknya. Artinya kalau kita beriman kepada Tuhan, kita juga harus beriman kepada hukum ketetapan Tuhan” kata Udin.

“ Ah cepatlah sampai kepada kesimpulan. Pening aku dengar kau berkata kata, Din “ Kata Sukri.

“ Contoh sederhana. Hukum tauhid dan Hukum ketetapan Tuhan. Itu ada penciptaan manusia.  Perhatikan dalam Alquran surat al-Mu'minun ayat 12-14.  

''Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu, segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain …."

Perhatikan firman Allah, disitu Allah tidak menyebut dirinya Aku tetapi Kami. “ Kata Udin.

“ Mengapa ?  Tanya Dulah.

“ Karena terciptanya manusia adalah bertautnya syriat dan hakikat. Kalau kau tidak berhubungan sex dengan wanita, tidak akan tercipta manusia. Dari hubungan sex itu terjadilah proses sunnatullah. Artnya kita bersama sama Tuhan menciptakan kehidupan. Nah ilmu sunnatulah itu yang harus kita pelajari. Al Quran tidak jelaskan itu.  Tapi alam mengajarkan itu. Makanya sains itu adalah juga ayat ayat Tuhan. Di balik sunnatullah itu kita mendapatkan hikmah, dan semakin meninggikan tauhid kita. “ Kata Udin.

“ Din, coba ceritakan hikmah terciptanya manusia itu ? Kata Mahmud.

“ Baik aku ceritakan. Agar mudah dipahami, AKu analogikan terlahirnya Sukri. Ketika kedua orang tua sukri berhubungan sex dan orgasme, itu ada sekiar 200 juta sel spema yang disemprotkan melalui Urethra. Kemudian sukri harus mencari aliran lendir alami di dalam vagina yang akan membawa dia ke mulut rahim. Setelah berhasil melewati leher rahim atau serviks uteri, dia  akan berenang di dalam rahim atau uterus sampai ke muara saluran telur atau tuba fallopi. Proses ini dia  lalui bersama jutaan saudara­ saudara dia  yang lain sesama sel sperma.

Tapi ingat jutaan Sukri bersama saudara yang berenang itu hanya akan menemui satu sel telur. Karena setiap bulan wanita hanya memproduksi satu butir sel telur saja. Ada dua saluran, yaitu kiri dan kanan. Sukri tidak tahu saluran mana yang berisi sel telur matang itu. Keputusan mengambil saluran kiri atau kanan adalah keputusan sangat penting dan ini benar benar gambling. Hebat kan Tuhan.! dari dini kita dilatih mengambil resiko. 

Apabila Sukri memilih saluran yang salah berarti perjalanan dia  akan sia­ sia karena energi yang dia miliki hanya cukup untuk menjelajah satu saluran. No way return.! Gagal berarti musnah. Sekarang, anggap bahwa sukri telah menentukan pilihan yang benar. Di sini sukri harus berenang melawan arus. Ingat melawan arus ! sulitkan ! karena sel­sel pada dinding saluran pelan­ pelan mendorong telur menuju ke rahim. Dalam situasi ini, Sukri menjadi bingung dan mulai berenang berputar putar tanpa tujuan. 

Perhatikan canggihnya Tuhan sedari dini menunjukan keperkasaannya dan kita nothing. Berkat kekuasaan Tuhan, sukri termasuk sperma yang telah di takdirkan untuk sukses sehingga tahu arah dan tujuannya. Akhirnya, Sukri berjumpa dengan telur yang sedang dalam perjalanan. Nah Sukri adalah salah satu di antara sekitar 300 peserta dalam petualangan mikroskopik selama beberapa jam yang berhasil sampai ke garis finish. 

Betapa pun besar kegembiraan yang sukri rasakan, namun perjuangan belum usai, Sukri masih harus menembus dinding telur. Sukri dan saudara saudaranya yang berkumpul di sekitar telur mulai membentur benturkan diri ke kulit luar sel telur. Akhirnya, hanya satu di antara 300 saudaranya ini yang diterima untuk membuahi telur. Dan juara itu adalah Sukri!. Sukri berhasil melalui semua perjalanan yang penuh resiko dan tidak pasti. Selanjutnya Tuhan sempurnakan dengan memberinya ruh dan kemudian lahir kedunia. Berkat cinta kedua orang tuanya, dia tumbuh menjadi manusia agar bisa memakmurkan bumi, dengan cinta juga.” Kata Udin. Dia tatap semua teman temannya. 

“ Din, apa hikmahnya ? “ Tanya Bandi.

“ Hidup adalah proses berkompetisi sepanjang usia. Setiap orang harus melewati kesulitan ,kelelahan, yang kadang berujung kegagalan. Tidak perlu takut akan resiko. Karena dengan sadar bahwa hidup ini penuh resiko maka akan membuat kita  semakin dekat kepada Tuhan, Tanpa pertolongan Tuhan kita  tidak akan bisa melewati semua hambatan itu. Karenanya berdoalah sebelum berjuang. Menyadari ini akan semakin membuat kita  rendah hati dan tahu artinya mecintai untuk berbagi.  Kita bisa jadi apa saja. Berjuanglah dapatkan itu semua. Setelah dapat, kembali kepada Tuhan“ Kata Udin. Semua temannya terdiam.

“ Baru paham bagaimana proses Sukri terlahir ke dunia. Tapi dia sendiri tak paham.  Bawaanya marah terus dan tak ada rendah hatinya.” Kata Dulah.

“ Ah kenapa pula aku dijadikan contoh. Udin dasar pedagang sempak yang tak suka aku dekat ke masjid.”  Kata Sukri.

Waktu maghrib sudah masuk. Mahmud menyediakan air minum. Masing masing segelas air putih. “ Kau undang kita buka bersama. Mana makannya? Tanya Sukri.

“ Aku undang kalian buka bersama. Bukan makan bersama. “Kata Mahmud.

“ Jadi, aku jalan kaki 3 km dari rumahku kemari. Hanya dapat air putih segelas. Keterlaluan kau Mahmud. Dasar mantiko kau “ kata Sukri.

“ Ya sudah. Lebih baik kita pergi ke masjid sholat. Kan sudah tahu Mahmud tak punya istri. Siapa yang mau masak.“ Kata Udin


***

“ Din, boleh aku minta pendapat.” Tanya sukri ketika bertamu ke rumah Udin.

“ Masalah apa ? 

“ Masalah keluarga. “ Kata Sukri. Udin melirik ke Upik. Dia mengibaskan tangan agar Upik jangan nguping.

“ Ceritakanlah. “Kata udin sambil menghisap Gudang garam nya dalam dalam dan kemudian menyeruput kopinya.

“ Istri pertamaku, sepertinya akan aku ceraikan. “ 

“ Janganlah.” Kata Udin 

“ Coba kau bayangkan Din. Aku datang kerumah dalam kelelahan cari uang, jangankan kopi, air putihpun tak dia sediakan. Kan itu istri durhaka.”

“ Ya kalau dia tak buatkan kopi. Kau buat sendirilah. Kalau tak dia sediakan air putih, kau pergi ke dapur ambil air minum sediri. Jangan bercerai.” 

“ Eh jangan lupa Din. Dia juga suka marah marah kalau uang belanjanya kurang. Harusnya kalau uang belanja kurang dia berdoa kepada Tuhan agar dicukupkan. Bukannya marah.”

“ Ya jangan kasih uang belanja kurang. Kan kalau cukup, dia engga marah marah lagi. Memang sumber reseki dari Tuhan, tapi Tuhan  tidak kirim uang ke ATM.  Jangan bercerai “ Kata Udin.

“ Duh, aku pening dengan dia Din. Selalu saja cemburu dengan istri keduaku. Apa engga durhaka itu.?

“ Ya sabar. Bukankah itu resiko punya istri dua.? Ka kau sudah sadari itu sebelum memutuskan untuk poligami. Jangan bercerai.”

“ Ah Udin. Macam mana pula kau ini. “ Sukri mulai kesal. “  Dia itu, bodoh. Aku jelaskan soal agama, dia tak pernah paham. Aku takut nanti diakhirat disalahkan Allah.” 

“ Kalau bodoh ya didik istri dengan sabar. Lama lama juga pintar dia.”
“ Din! “ Bentak Sukri. “Aku datang kemari minta empati kau. Bukan kau bela istriku. Kau kan sahabat sejatiku. Nah terakhir, dia itu tidak mau beresin rumah. Pening aku dirumah. Selalu berantakan.”

“ Ya kau laranglah dia dagang buku di masjid. Suruh dia di rumah agar dia punya waktu bereskan rumah. Atau kalau dia tetap kau suruh dagang, ya kau sendirilah beresin rumah. Jangan bercerai. “ Kata Udin.

“Ah sudahlah. Pening aku dengar usulan kau. Ada lagi Din. Dia malas dandan.  Semakin lama tak cantik lagi aku pandang. Padahal berhias itu adalah amal kebaikan kepada suami” Kata Sukri.

“ Ya kau berilah uang lebih agar dia bisa berhias. Kan semua itu butuh ongkos. Engga gratis. Jangan bercerai.” Kata Udin tersenyum.

“ Lebih baik aku pulang saja. “ Kata sukri langsung ngeloyor pulang. Upik keluar dari kamar dengan tersenyum kepada Udin.” Upik dengar semua yang abang bilang.”

“ Pik, sesuatu itu menjadi wajib bagi istri apabila suami sudah memenuhi tanggung  jawabnya. “ 

“ Apa tanggung jawab suami itu bang?
“ Berbuat baik tanpa syarat kepada istri. Nah kalau sudah dilaksanakan itu, maka kewajiban istri akan datang dengan sendirinya tanpa harus dipaksa. Ya kan.”

“ Makin jatuh cinta Upik ke abang. Pantas hati abang lapang sekali. Ternyata memang sikap abang begitu. Semua dibuat sederhana ya  bang


***

Sukri masuk lapau. Setelah menyeruput kopi. Terdengar celotehnya.”’Kalau idiologi tidak sesuai Islam, tidak akan makmur negeri ini”

“ Salah! Dulah berkomentar. “Kita makmur karena SDA dan ilmu pengetahuan. Lihatlah china, Eropa “ lanjutnya

“ Ah sok tahu kau Dulah. Ilmu itu kecil bagi Allah” Sukri mendebat.

Udin tersenyum mendengar mereka berdebat. 

“ Bukan soal SDA kemakmuran itu ada. Bukan pula karena Agama. Bukan pula karena ilmu pengetahuan. Bukan. " kata Udin menimpali.

" Jadi karena apa ? kata Sukri dan Dulah serentak.

" Karena Tuhan! Kata udin tersenyum

" Eh kenapa  begitu ? Mereka bingung.

" Karena Tuhan doyan becanda kepada manusia.  Kemakmuran seakan dipergilirkan ke setiap wilayah oleh Tuhan dari zaman ke zaman. Awalnya bangsa Semit pernah berjaya, kemudian muncul persia dan Romawi, selanjutnya bangsa Mongol, Mesir dan syiria, berlanjut Turki Ustmani. Majapahit di Indonesia, Kerajaan Gereja di Eropa, kerajaan Jepang. Paska perang dunia pertama dan kedua muncul Kekuatan Amerika dan Eropa. Nanti ada saatnya Eropa dan Amerika meredup. China berjaya lagi. Jadi begit aja “Kata Udin dengan tersenyum

Mereka semua saling tatap. 

" Jadi engga usah bawa perasaan seakan agama dan ilmu pengetahuan bisa menciptakan kemakmuran. Semua kehebatan itu memang pernah sukses tapi akhirnya jatuh juga. Apa yang terjadi sesungguhnya dalam hidup ini adalah permainan Tuhan” Kata Udin .

" Untuk apa? Tanya Mahmud.

" Agar manusia Tahu bahwa yang hebat hanya Tuhan. Tuhan mempertontonkan kebesaranNya  dari setiap kejadian. Kekuatan yang dibanggakan manusia, akhirnya hancur juga. Agama yang dibanggakan menguasai dunia , akhirnya ditumbangkan juga. Pengetahuan yang dibanggakan , akhirnya aka tumbang juga” Kata Udin.

" Jadi bagaimana seharusnya ? Tanya Bandi. 

" Tidak ada istilah seharusnya. Yang harus itu juga belum tentu benar. Manusia selalu punya pilihan. “Kata Udin.

“ Ah pening dengar kau bicara. “ Sukri mencibir.

" Apa saja pilihan itu ? Tanya Dulah.

" Ada dua pilihan, pertama , berubah karena pengaruh dari luar. Ini perubahan karena aturan yang dibuat manusia. Yang kedua , berubah dari dalam diri kita sendiri. Ini karena faktor keimanan mengikuti ajaran agama. “ Kata Udin .

" Mana pilihan yang tepat ?

" Engga juga ada yang tepat? kata Udin.

“ kan benar. Si Udin pedagang sempat buat kita semua pening” Sukri kesal..

" mengapa ? Tanya Dulah penasaran.

" Karena pengaruh dari luar itu juga ilmu Tuhan yang disampaikan lewat pemikiran manusia. Memang beda dengan pengaruh dari dalam , yang disampaikan Tuhan lewat rasul. Keduanya dari Tuhan juga. Ada yang berubah menjadi baik atau buruk karena pengaruh dari luar atau dalam. Dan itu bukan karena wahyu Tuhan atau pemikiran manusia yang salah. Yang salah itu pribadi manusia itu yang miskin cinta. “ Kata Udin.

" Cinta lagi, lagi  cinta ? Sukri makin kesal. 

“ Ya kenapa Din. “ tanya Dulah.

" Karena cinta adalah kasih sayang. Kasih sayang adalah kedamaian. Kedamaian bertumpu kepada Akhlak, kehalusan Budi perkerti. Bila cinta mulai pamrih maka apapun agama, apapun pengetahuan , dia akan hancur dengan sendirinya. Jadi kalau ingin makmur dan langgeng, pertebalah cinta. Hindari bertengkar, banyak berbagi, saling memaafkan dan saling bersilahturahmi dan hindari amarah murka...”Kata  Udin. 

Mantap


 Din. Itu aku suka. Jadi aku dan si Sukri dua duanya benar dan juga salah. Skors satu satu ya. “ kata Dulah. Sukri merengut melihat Udin. “ Semakin sering pedagang sempak berkata kata, semakin tak jelas otak kalian. “ Sukri melotot.


***

“ Kemarin Upi ketemu Si Ijah di pasar. Katanya abang bertengkar dengan si  Dulah suaminya. Minggu lalu, abang hampir berkelahi sama Sukri.  Sekarang, Upik engga izinkan Abang ke Lapau lagi. Malu bang. Semua tetangga bilang, abang itu sesat. “ Kata Upik istri Udin saat Udin siap siap mau ke pergi keluar rumah.

“ Sesat ? sesat apa aku? 

“ DI Surau, Ustad Nando dan Ustad Laweh cerita, kalau abang itu contoh orang salah jalan. Katanya penjilat Jokowi. Upik malu bang.!”

“ Eh penjilat Jokowi ? Aku pedagang sempak. Manapula ngerti aku soal politik. Mengapa kau percaya dengan ustad Nando dan Laweh, yang punya istri 3. Mau aku ikut dia?. Betambah biniku. Mau?

“ Abangggg. Bukan itu maksudnya. ?

“ Jadi apa ? kau jadikan alasan omongan ustad laweh untuk mengadili suamimu, ya?. Itu artinya kau percaya dia.  Ya sudah. Aku ikut ustad laweh. Hari ini aku ke Surau. Aku ikuti pengajiannya. Minggu depan, si Darsiah pemilik lapau,  aku jadikan istri keduaku.” Kata Udin, seraya ambil kopiah dan sarung. Upik memeluk Udin. “ Jangan ke surau. Engga penting Ustad Nando dan Laweh. Pergilah ke lapau. “ Kata Upik. Udin tersenyum melangkah pergi.

“ Jam 10 tak pulang. Abang tidur di teras. “ Upik teriak.

“ Ya pik. Jangan 9.30 udah pulang.” Kata udin seraya meraba kantongnya. Dia terkejut karena di kantongnya hanya ada uang Rp. 5000. Itu harga secangkir kopi.

“ Pik, mana uang abang? 

“ Rp. 5000 cukup. Mau lebih? Mau begaya depan janda pemilik lapau? Kata upik cuek. Udin hanya garuk garuk kepala.

Di surau. Udin bertemu dengan teman temannya. 

“  Din ada cerita baru.” Kata Dullah. Sukri hanya mencibir ketika Dulah bertanya ke Udin. Yang lain menatap Udin. “ Ceritalah Din. Seru kali kalau kau cerita.”

“ Ya udah. Aku mau cerita orang soleh. “ Kata Udin. Sukri langsung menatap Udin. “ Siapa namanya “ Kata Sukri.

“ Namanya al-Qamah. Dia seorang pria di zaman Nabi.” Kata Udin memulai cerita.

“ Ikut bertempur  dia bersama Rasul ?Tanya Sukri.

“ Oh digaris depan dia. “Kata Udin tegas.

“ Mantap. Terus Din. “ Sukri tersenyum.

“ Suatu saat dapat kabar  al-Qamah sakit keras.  Sudah berhari hari tidak bisa lepas nyawa dari raganya. Dia sangat menderita. Orangpun bingung. Mengapa orang sebaik Al qamah bisa begitu sulit menjelang ajal. Apa salahnya?

“ Ah tidak mungkin. Dia ikut berjihad bersama Rasul. Manapula sulit mati.” Kata Sukri.
“Diam kau Sukri” teriak yang lainnya.

“ Ternyata penyebabnya, setelah dia menikah, dia kurang perhatian kepada ibunya. Itu diceritakan oleh ibunya. Dia lebih memperhatikan istrinya daripada ibunya. Kemudian, rasul minta agar ibunya memaafkan anaknya.Ibunya menolak. Akhirnya Rasul, perintahkan agar Al Qamah dibakar “ 

“ Duh gawat kali ya. Dibakar. Perintah rasul lagi. Terus..” kata Sukri.

“ Ketika hendak dibakar. Ibunya tidak tega Al Qamah dibakar.   Ibunya mau memaafkan. Setelah itu Al Qamah bisa menghembuskan napas terakhir dengan damai. “ Kata Udin.

Semua terdiam. Satu satu mereka pergi meninggalkan Lapau. Udin heran. Ada apa ini? “Dulah mau kemana kau ?

“ Ke rumah amak.” 

Yang lain sepertinya sama. Pergi ke rumah ibunya. 

“ Din, aku juga mau ke rumah amak “ Kata Sukri.

“ Ya pulanglah.”

“ Bang Udin lain kali jangan buat cerita bikin orang merasa bersalah dan pulang semua.  Besok kalau lapauku sepi karena orang lebih suka di rumah amaknya. Gimana hidupku ? kata pemilik Lapau.

Udin garuk garuk kepala.

“ Bang Udin engga pesan kopi?

“ Tidak jadi.” Udin langsung pulang.


***

Udin dagang kaki lima. Dagangannya CD perempuan. Di lapak Dagangannya, Dia tulis pakai karton “ Kalau kemahalan balikin”. Tidak jauh dari tempat dia dagang. Ada toko yang jual sempak juga. Walau harganya lebih murah, orang tetap belanja pada Udin . Mengapa ? orang percaya bahwa barang dagangan udin murah.

Suatu saat datang perempuan ke tempat dagangnya . “ Ini dagangan lue. Mahal !“ Katanya dengan suara keras seraya melempar sempak yang tadi dibelinya ke muka Udin . “ balikin uang saya.” Katanya kepada Udin dengan marah.

“ Bu tenang jangan emosi. Baca baik baik tulisan di karton ini. Kalau kemahalan balikin” Kata Udin .

“ Ya balikin uang saya” Kata wanita itu lagi.

“ Maksudnya bukan uang dibalikin. Kalau merasa kemahalan ya sempak dibalikin. Dari side A ke B. Jadi ibu bisa pakai dua hari kalau ganti sempak setiap hari. Kan murah jadinya. “ Kata  Udin seraya mencotohkan bagaimana membalik sempak itu.”

“ Gua engga mau. Balikin  uang gua .” Teriak wanita itu. Mulai kesel.

“ Ya perjanjiannya engga ada kok. Salah saya dimana ? Kata Udin 

Salah satu pembeli melirik ke arah ibu itu. “ Bu, ditulisan karton ini engga ada bilang balikin uang. Kita semua tahu kok mana ada barang sebagus ini harga lebih murah dari toko. “ Kata ibu itu berusaha membantu  Udin. Ibu itu mungkin malu. Dia ngeloyor pergi. Salah udin dimana? Emang orang Yaman doang jago ngeles...

***

Udin datang ke acara selamatan lahirnya anak Mahmud. Banyak orang datang. Udin duduk bersila dekat Sukri. Sebelum acara wiridan dimulai mereka ngobrol.
“ Yang akan pimpin wiridan nanti. Angku Muhlis. Dia orang hebat. Terkenal kharomahnya.” kata Sukri. Mahmud membenarkan dan merasa bangga bisa mendatangkan Angku Muhlis.

“ Apa kharomahnya “ Tanya Udin.

“ Dia bisa berjalan diatas air. “ Kata Sukri. Mereka yang hadir menampakan wajah kagum.

“ Ah apa hebatnya. Kalau hanya berjalan diatas air, Itik juga bisa.” Kata Udin santai. 

“ Eh kau terlalu merendahkan orang. “ Sukri sewot. “ Bukan hanya itu. Dia juga bisa terbang keatas pohon.” 

“ Ah kalau hanya terbang, capung juga bisa. Apa hebatnya” Kata Udin santai sambil isap rokok gudang garamnya.

“ Din, hati hati kau bicara. Kenapa kau sinis sekali dengan orang yang punya karomah? Iri kau? Itu karena orang itu soleh.”

“ Aku tidak iri. Apa urusanku? Kalau karamah jadi itik dan capung. Tak mau aku.”

“ Dia juga pernah dikubur hidup hidup selama 10 menit. Dibuka kuburnya. Dia masih hidup. Malah dia tetap tersenyum sambil berzikir.”

“ Ah apa hebatnya? Cacing saja bisa tinggal dibawah tanah. “

“ Jadi karomah apa yang menurut kau hebat. Coba katakan. Aku mau dengar. “ Kata sukri. Teman teman lainnya yang hadir dalam acara itu mulai larut dalam debat antara Udin dan Sukri. Mereka ingin dengar apa yang hebat menurut Udin.

Udin mengeluarkan uang dari dompetnya. Uang Rp. 100.000. 

“ Inilah karomah. Inilah yang hebat. “ Kata Udin tersenyum. 

“ Apa maksud kau dengan sebut uang itu karomah?

“ Coba kau pikirkan. Apa ada urusan di dunia ini yang bisa selesai tampa uang? Tak ada uang, tak ada mahar untuk melamar istri. Batal kawin kau. Setelah menikah, tak ada uang, bubar rumah tangga. Mau sholat, tak ada uang tak khusuk sholat.  Masjid tidak terbangun tanpa uang. Ustad tidak akan bisa makan dan kawin lagi kalau tak ada orang bayar dakwahnya pakai uang. “ Kata Udin berusaha mencerahkan. Teman temanya yang ada dalam acara itu mengangguk ngangguk. Tanda mereka paham.

“ Tapi apa bisa terbang karena uang ? kata Sukri berusaha memojokan Udin.

“ Jangankan terbang keatas pohon. Berkat uang, orang bisa terbang mendekati angkasa. Naik pesawat. “

“ Din..” Kata Mahmud. “ Karomah siapa uang itu. Siapa yang ciptakan?

“ Itu orang yahudi. “

“ Eh benarkan. Kau itu jadi penyambah Yahudi. Makanya kau puja uang. Bagiku uang bukan segala galanya.” Kata sukri teriak emosi.

“ Sukri, kau boleh bilang uang bukan segala galanya, tetapi pastikan ketika kau omong itu, kau punya uang berlebih. Kalau bokek, omong itu, kau menyusahkan orang lain. Karena apa apa kau minta perai. Apa apa minta donasi amal orang lain. Apa apa minta subsidi. Malu maluin. Beradat kau? tahu malu?

“ Tapi uang itu riba. Yahudi itu Kafir “

“ Istri yang kau nikahi pakai mahar yang kau beli pakai uang, itu riba? kafir ?
“ Diam kau Din. Semakin banya bicara. Makin pening kepalaku. “  Sukri mulai emosi. Udin ngeloyor  pulang setelah lempar uang di baskom untuk hadiah anak mahmud yang baru lahir.


***

Udin datang ke lapau selepas tarawih. Dia tersenyum ketika melihat Dulah berdebat dengan Sukri. Yang diperdebatkan soal Firman Allah soal Poligami. “ Dengar ini firman Allah dalam surat Annisa. Dengar!  maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. “ Kata Sukri menirukan firman Allah dalam bahasa Indonesia.

“ Tapi jangan kau potong itu firman Allah, Sukri.  Ada kelanjutan firman Allah, yaitu kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka  kawinilah seorang saja. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Artinya kalau tidak bisa berlaku adil maka kawin lagi itu aniaya sifatnya. Hukumnya dosa besar. Siapa sih di dunia ini bisa berlaku adil?” Kata Dulah.

“ Ah kau cemen sekali beragama. Masak tak bisa berlaku adil terhadap istri istri sendiri. Tak mau dia, ceraikan. " Kata Sukri.

“ Soal adil itu bukan aku yang bicara. Itu Allah sendiri yang berkata, dalam surat Annisa  129, Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri mu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Jadi kalau kau merasa mampu berlaku adil, itu artinya kau lebih hebat dari Allah.” Kata Dulah.

“ Terserah kau sajalah.  Susah kasih pengertian sama kau. Nanti bertengkar lagi kita. Kau sudah termakan sihir si Udin” Kata Sukri.

“ Sukri, Firman Allah itu sangat indah bahasanya. Allah maha bijaksana. Kepada manusia saja, Allah itu sopan sekali berbicara. Agar orang mendengar dengan akalnya dan menerimanya dengan hatinya. Surat Annisa itu tidak sulit dipahami kalau tidak menggunakan nafsu. Cobalah renungkan setiap firman Allah itu. Tidak ada kewajiban, apalagi sunah menikah lebih dari satu. Bahkan ancaman pasti kalau gagal berlaku adil. Dan pasti tidak akan mampu berlaku adil” kata Udin.

“ Menarik dengan istilah bahasa indah. BIsa kasih contoh yang lebih ekstrim soal bahasa indah Allah itu, Din.” kata Mahmud.

“ Contoh Surat Al Maun. Ada tujuh pesan yang Allah sampaikan dengan begitu indahnya. Perhatikan. Pertama. Allah bertanya kepada manusia ( muhammad), Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?  Hebat engga? Allah awali dengan tanya. Kemudia Allah jawab sendiri. 

“ Apa jawaban Allah?  Tanya Dulah.

“ itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. 

Nah Artinya sederhana sekali. Kau hardik anak yatim, apalagi tidak meberi mereka makan dan tidak mendorong orang lain memberi makan orang miskin, maka kau sama saja mendustakan agama. Paham kalian yang dimaksud mendustakan agama? Semua sholat sunah maupun wajib yang kalian lakukan, puasa, pergi haji, membaca duakalimasahadat, itu semua bohong. Engga ada nilainya di hadapan Allah. “ kata Udin 

“ lanjut din. “ Mahmud semakin semangat.

“ Kemudian kedua, Allah berkata lagi, maka celakalah orang yang shalat. “Kata Udin.

“ Eh, kenapa celaka orang sholat? tanya Mahmud.

“ Karena lalai terhadap shalat. “ Kata Udin.

“ Kenapa lalai? Tanya Dulah.

“ Bodoh kali kau Dulah. Lalai itu sama dengan malas sholat.” Kata Sukri.

“ Bukan malas sholat. Itu ditujukan kepada orang yang rajinn sholat. Dianggap lalai karena dia berbuat Riya. “Kata Udin.

“ Apa itu Riya? Tanya Dulah.

“ Sombong. Pakai baju gamis dan berjanggut merasa paling sholeh. Sholat teriak teriak dan kadang di tempat umum agar dilihat orang ramai. Berbondong di jalanan umum membaca takbir sehingga ganggu orang lewat. Paksa orang lain hormati dia lagi berpuasa dan lain sebagainya. Itu semua riya! Kata Udin. 

Mereka semua terdiam. 

“ Dan Ayat berikutnya, Allah tambahkan lagi yaitu enggan memberikan bantuan kepada orang lain. Artinya, kadang jangankan membantu orang lain, disuruh jangan ribut, bersabar atas sikap orang lain dan jangan menghujat saja kita tak mau, bahkan marah. Itu termasuk lalai dalam sholat. Paham kalian.”Kata Udin.

Semua terdiam. Sukri terpekur.

“ Ngeri kali ya? Selama ini kita anggap kita sudah benar beragama. Padahal kita termasuk orang yang mendustakan agama dan lalai terhadap sholat. Tapi yakin kali bakal masuk sorga dan berhak kafirkan orang lain.” Kata Mahmud. 

Udin tersenyum. 

“ Sudah hampir jam 10 malam. Aku harus pulang. Habis ramadhan selepas lebaran, aku dan si upik akan pindah ke Jakarta. Baik baik kalian semua di kampung. Kalian semua sahabatku. Sahabat masa kecilku yang akan selalu aku rindukan.” kata Udin. Sukri langsung mendekap Udin dan begitu juga semua sahabatnya mendekap dia. 

“ Kami akan kehilangan kau Din.” Kata mereka.


***

Udin datang ke lapau sehabis sholat isya. Dia masih berpeci hitam. 

“ Habis sholat kau, Din “ tanya Sukri

“ Ya. Aku jadi imam si Upik “

“ Engga afdol sholat di rumah kalau ada masjid. Ingat ! Itu hadith 

“ Sholat lima waktu itu hukumnya sunah kalau dilakukan berjamaah. Kalau engga, yang engga apa apa.”

“ Jadi kau engga suka dapat pahala Sunah? Pilih berjamaah sama si Upik daripada di masjid.?

“ Aku suka kali berjamaah sama si Upik. Diapun bilang yang bikin dia cinta sama aku karena suaraku merdu kali. Dan setelah sholat dia cium aku. Lembut kali tubuhnya. Tak ada sempak dan BH dibalik mukenanya” Kata Udin polos. 

“ Ah itu alasan kau saja malas ke Masjid.” Sukri.

“ Dan lagi kita semua punya istri, malah terpikir mau tambah lagi istri. Ini Udin, satu saja, seperti segala galanya. Tak ada bosan dia” Kata Dulah.

“ Aku tanya sama kau, Sukri.  “ Bagimana kalau di negara yang masjidnya engga banyak? Kan repot jadinya ? Apa Islam hanya ada di negara yang tiap gang ada masjid?

“ Dan kau Dulah, “ Udin meliat ke Dulah. “ cobalah liat wajah istri kau sehabis Sholat berjamaah. Senyumnya lebih indah dari bidadari. Dia cium punggung jari kau dan dia letakan tangan kau  di ubun ubunnya. Begitu indahnya. Begitu tulusnya dia mengharapkan ridho kau suaminya agar Allah juga meridhoinya.” Kata Udin. Dulah tersentak. Yang lain saling pandang. 

“ Benar juga ya. Kenapa kita tinggalkan saat terindah di rumah hanya karena mengejar sunah sholat di Masjid? Bukankah membahagiakan istri sebaik baiknya amalan.” Kata Mahmud. Dulah mengangguk. 

“ Sudaraku,  Islam itu agama yang mempermudah, bukan mempersulit. Kehidupan ini damai kalau kita tidak bikin repot aturan. Keluarga sakinah itu adalah sorga di dunia? Kata Udin tersenyum


***

Udin datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut. Tukang cukurnya cantik dan bohai. Selama cukur Udin berusaha ajak ngobrol wanita itu. 

“ Saya tidak percaya kalau TUHAN itu ada.” Kata tukang cukur. 

“ Kenapa kamu berkata begitu?”kata Udin 

“ Begini, coba kamu perhatikan di depan sana, di jalanan. Ada banyak orang miskin dan kelaparan. Kalau benar Tuhan itu ada. Maha pengasih penyayang. Mengapa Tuhan tidak tolong mereka semua ?

Udin diam saja. Setelah cukur Udin cium wanita itu. “ mau ngapain ? Kata wanita itu kaget dapat serangan mendadak. 

“ Mau ngapain? Kiss lah . “ kata Udin. 

“ Engga mau! Kata wanita itu.

“ Hayoooo” Udin terus menjulurkan mulutnya. Tapi wanita itu menahan mulut Udin dengan telapaknya.. “ Ada apa sih? Kata wanita itu. 

“ Kamu wanita  ? 

“ Ya lah. Emang kamu pikir apa ?“ kata wanita itu.

“ Saya pria. Kamu wanita.. Apa salah kita ciuman? 

“ Eh bego lue. Lue bukan pilihan gua! Kata wanita itu kesel.

Udin tersenyum. “ ada banyak wanita diluar sana. Banyak yang tak mau saya cium, termasuk kamu. Apakah karena itu saya tida ada. Tidak pernah menawarkan? Engga kan. Saya ada.  Hanya saja yang mau di kiss atau tidak, Itu soal pilihan. Jadi kalau kamu bilang Tuhan tidak ada hanya karena banyak orang miskin tidak ditolong Tuhan, itu jelas salah. Kaya miskin itu soal pilihan. Paham! Kata Udin. Sambil ngeloyor pergi.


***

Pagi pagi sebelum Udin berangkat ke pasar.  Upik tak seperti biasanya. Wajahnya masam. Tak ada senyum seperti biasa. Udin bingung. Gerangan apa yang terjadi, sehingga bidadarinya bermuram durja.

“ Abang.” Seru Upik waktu udin usai mandi. 

“ Ya. “ Kata Udin sibuk ambil pakaian di lemari.

“ Tadi waktu abang tidur. Ada telp ke hape abang. Katanya celana dalam abang ketinggalan di tempatnya.” 

“ Yang telp siapa?

“ tertulis di hape abang, Amoy. Siapa itu? Teriak Upik.

Udin tersenyum. Barulah tahu mengapa mendung ada di rumah. Oh  ini sebabnya. Sekian tahun berumah tangga, baru sekarang upik cemburu. 

“Pik, bidadari abang. Kata Udin membelai kepada Upik. Tapi Upik menjauh. “ Tak usah dekat dekat “ Upik ketus. Udin tersenyum. 

“ Itu Amoy anak babah Afin. Dia yang kelola toko grosir. Kemarin abang beli barang dengan dia.”. 

“ Kenapa abang tidak ambil barang itu. ?

“ Abang memang titip barang ke dia. Setelah sholat ashar abang mau ambil. Tapi karena sudah sore, abang langsung pulang. “ 

“ Upik engga percaya. “

“ Jadi gimana buat upik percaya.?

“ Upik sudah dari kemarin kemarin curiga. Apalagi abang minta beliin sabun Camay. Itu kan sabun orang China. “

“ Oh itu hanya kebetulan. Kalau Upik tak suka abang pakai sabun Camay ya tak usah beli lagi. Buang saja.”

“Upik tahu selera abang. Abang suka dengan yang putih putih. Orang  buruk rupa dan hitam kaling seperti abang, kan suka perempuan putih. Ya si Amoy itu kesukaan abang”

“ Perempuan berkulit putih yang suka itu hanya Upik. “ Kata Udin tersenyum. “ Siapa yang suka dengan abang yang buruk dan hitam, tak berharta ini.?  Tak ada selain Upik. Cinta adinda adalah berkah kanda sepanjang usia. Itu akan kanda jaga sampai mati.” Lanjut Udin.  Upik tersenyum dan memeluk Udin. 

 “ Kalau abang tak suka hanya malam jumat, mengapa abang tidak bilang? Kata upik. 

“ Alhamdulilah, kalau upik bisa maklum” Kata Udin berbunga bunga. ini pasti ulah sukri cerita ke habibah. Jadi sampailah ke si  Upik.


***

Di lapau, Dulah sedang cerita soal Udin. “ Udin itu seperti punya karamah. Pernah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Bahkan orang sepasar jadi saksi. Preman pasar mencari dia. Mau bunuh dia. Karena Udin tidak mau bayar uang preman. Dari jauh nampak preman pasar berlari kearah si Udin dengan pedang panjang terhunus. Udin, diam saja. Tidak lari. Semua orang di pasar berteriak ketakutan. Mereka berlari menjauh dari dekat Udin. Tapi beberapa meter sebelum sampai di tempat Udin dagang, preman pasar itu tersungkur. Pedangnya lepas. “

“ Hah..terus ceritanya Dulah “ Kata Mahmud. Yang lainnya terpukau dengan cerita Dulah.

“ Ternyata prema pasar itu terpeleset kulit  pisang. Si Udin tersenyum sambil mendekat. Dia bantu preman pasar itu berdiri. Kemudian dia ambil pedang yang terlempar jatuh itu. Dia serahkan lagi pedang itu kepada preman pasar.  Preman pasar itu terdiam. Tak sanggup memandang wajah si Udin. Kemudian, Udin rangkul preman pasar itu.”

“ Terus, Dulah. “ Tanya Sukri.

“ Kini preman pasar itu rajin sekali sholat. Dagang ikan di  pasar dia. Tak mau lagi meras uang dari pedagang kaki lima. “

Mereka semua salng pandang. “ tak sangka ya si Udin besar kali karamahnya.” Kata Mahmud.

Udin datang ke lapau. “ Nah baru saja orang cerita tentang Bang Udin. Panjang umur bang Udin. “ Kata janda pemilik lapau. Udin tersenyum dan pesan kopi.

“ Udin ini sangat patuh kepada hadith. Liat saja. Dia hanya gauli istrinya malam jumat. Tak banyak orang seperti dia.”Kata Sukri.

“ AKu sebenarnya tidak begitu peduli soal hadith malam jumat. Bagiku semua hari sama. Tapi karena si Upik maunya malam jumat, ya aku turut saja.” Kata Udin

“ Terus, kenapa si Upik setelah menikah badannya gemuk. Dulu waktu belum menikah kurus. Apa kau suka  istri badan gemuk? Kata Dulah.

“ Ah bagiku tidak penting gemuk atau kurus. Suka suka si upik saja. Dia suka gemuk, ya aku juga suka. Yang penting sehat.” Kata Udin.

“ Kalau semua apa sukanya si Upik. Kapan kau bersikap sebagai suami?. Jadilah pemimpin yang menentukan rumah tangga. “ kata Sukri. Udin hanya tersenyum.

“Udin itu di rumah lembut tapi di luar rumah dia berani sekali. Tak seperti Sukri. Begitu jagoan sama istri, tapi digertak sama preman pasar, lari dia.” Kata Dulah.

“ Jaga muncung kau Dulah. Aku bukan takut tetapi menghindari keributan sama orang gila” Kata Sukri. Semua tertawa.


***

Sehabis sholat Tarawih. Udin keluar rumah. Di jalan dia lihat ada orang ramai di rumah Rahmat. Mengundang rasa ingin tahu Udin untuk mampir. “ Ada apa ? tanya Sukri kepada Dulah yang baru keluar  dari dalam rumah. 

“ Kau tahu si Herman? 

“ Ya tahulah.Itu kan adik si Rahmat. Ada apa ? 

“ Dia baru datang dari Jakarta. Si Herman itu insinyur. Dia kerja di PT di jakarta. Sudah kaya dia.  Liat tuh mobilnya, bagus.” kata Dulah.  Udin masuk ke dalam rumah. Menemui Herman. Udin beramah tamah sebentar dengan Si Herman. Setelah itu dia keluar. Ternyata orang ramai datang, hanya berharap rokok sebungkus dari Herman. Dia memang bawa rokok satu kardus.

“ Tak silau aku dengan insinyurnya si Herman. Negari ini akan makmur bila dipimpin oleh hafid Al Quran.” Kata Sukri di lapau setelah pulang dari rumah Rahmat.

“ Ya hancurlah negeri ini.” kata Udin nyeletuk. 

“ Din, ada apa kau? kenapa sinis sekali kau dengan Islam? Bukankah kau islam? Sadarlah. Pening kepalaku kalau kau bicara” Kata Sukri.

“ Orang hafal Al Quran itu membuat cahaya di bumi dan Allah menjamin keselamatan bagi negeri kalau ada orang hafal Al Quran.” Lanjut  Sukri.

“ Sukri, ingat engga pelajaran kita waktu di madrasah. Ilmu dalam islam itu ada dua. Satu, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia atau disebut juga ilmu laduni. Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia atau dinamai ilmu kasbi atau sains. Coba kau baca Al Quran.  Kata ilmu dengan berbagai bentuk terulang 854 kali dalam Alquran. Itu semua lebih banyak tentang ilmu kasbi atau sains. Artinya, ilmu sains lebih diutamakan dari ilmu AL Quran, apalagi hafalan. Apa jadinya kalau pemimpin hanya mampu menghafal tanpa paham sains”

“ Contoh sains itu apa Din” Tanya Mahmud.

“ Lampu. Tanpa lampu kita gelap gulita. Piring, tanpa sains mana bisa pasir jadi kaca. Hape, tanpa sains fisika, tidak mungkin gelombang suara, gambar, vidio bisa sampai ditangan kita. Masih banyak lagi contoh.”

“ Ah pahamnya aku itu. “ Kata Mahmud.

“ Jadi ilmu agama tidak penting?Tanya sukri dengan emosi.

“ Pentinglah. Hanya bukan yang utama. Agama itu jangan berlebihan. Sederhana saja. Yang berlebih itu harus sains. Karena itu mendatangkan uang dan kemajuan zaman. Kalau agama, itu uang keluar aja” Kata Udin.

“ Dasar pedagang sempak. Diotaknya hanya uang saja.”

“ Yalah Sukri, kalau tak ada uang, tak ada orang mau ceramah.” Kata Dulah. 

“ Din, yang kau pahami, sumber ilmu itu darimana saja ?” kata Bandi.

“ Yang kutahu waktu sekolah di Madrasah. Ada tiga sumber ilmu. Pertama. sumber ilmu yang berasal dengan ayat-ayat qauliyyah atau wahyu Tuhan. Kedua, sumber ilmu yang terkait dengan ayat-ayat kauniyyah atau alam semesta, dan ketiga, sumber ilmu yang berhubungan dengan ayat-ayat insâniyyah atau diri manusia. Jadi hanya 1/3 saja ilmu agama. 2/3 ilmu dunia. Kemana saja wajah kita hadapkan, ada ayat ayat Tuhan. Kan ongok kalau bangga dengan 1/3 sementara 2/3 dipunggungi.” kata Udin.

“ Sudah Din. Marah nanti aku. Berdosa pula nanti aku.” Kata Sukri.

Udin menyeruput kopi dan tersenyum. “  Bu, ini ada hadiah dari si Upik. “ kata Udin menyerahkan bungkusan BH kepada pemilik Lapau. Setelah itu udin permisi pergi


***

“ Sukri mengapa kau  terus merepet soal haramnya Miras? Suka suka orang lah. Yang penting engga ganggu kau. Udin pula kau singgung. “ kata Dulah.  

“ Udin itu berteman dengan babah afin yang suka minum bir. “ kata Sukri. Jangan jangan diapun ikut minum bir. “ lanjut sukri. 

“ Aku tiada mau berdebat soal haram  itu. Pasti tidak akan  ada ujungnya. Dan akhirnya bertengkar. Apapun itu, bahkan soal agama kalau kita bertengkar, yang kita dapat bukan pahala tapi dosa. Padahal tidak ada yang 100% benar. Tidak juga ada yang salah. “

“ Baiklah. Apa keyakinan kau soal miras itu.” Desak Dulah 

“ Di Islam pemahaman agama itu berdasarkan Mahzab.  Fatwa Syekh Yusuf Qardhawi tentang minuman berenergi yang mengeluarkan fermentasi 0,5 persen boleh diminum. Dia bermazab Hanafi.”

“ Maksud kau Din? Teriak Sukri 

“ Kalau tidak memabukkan, ya tiada  apa-apalah. Kecuali sesuatu yang sudah qoth'i atau sesuatu yang sudah pasti hukumnya dalam Al quran dan hadist. Bahkan Hanafi, bilang, bir dan arak itu bisa untuk wudhu atau mandi junub. Mau bungkam mulut Syekh Yusuf Qardhaw? Ya tak  bisa. Dia menganut mahzab Hanafi. Kau yang syafii, itu terserah kau juga. “ kata Udin.

“ Ah mahzab Hanafi memang menggampangkan urusan agama. Mau enaknya saja. “ kata Sukri 

“ Engga juga. Perhatikan urusan zakat. Hanafi sangat ketat. Semua hasil bumi termasuk bayam harus dizakati. Tapi  bagi syafii, oh engga begitu. Yang dizakati itu hanya makanan pokok aja. Enak ya Syafii. Engga enak Hanafi. Bahkan zakat maal, Hanafi sangat ketat. Setiap pendapatan harus dizakati langsung. Kalau kau mendapatkan rezeki Rp 10 juta saat itu harus keluar zakatnya. “ kata Udin. 

“ Syafii gimana Din? Tanya Mahmud.

“ Syafii, oh engga begitu.  Bayar zakatnya tunggu setahun aja ya. Di China suku Hui tidak ada yang miskin. Karena berkat sistem zakat itu distribusi modal terjadi efektif. Akibatnya orang pada makmur semua. Bahkan mereka bingung sekarang. Cari orang yang mau dizakati engga ada. Kebalik dengan yang bermahzab Syafii.” Kata Udin. 

“ Jadi gimana menyikapinya Din ? Tanya Dulah. 

“ Engga usah dipikirin soal perbedaan itu. Masalah fatwa masalah khilafiyah. Itu biasa saja. Suka tidak suka, itu soal pilihan. Mau diberdebatkan, tiada apa. Tapi jangan maksakan kau paling benar. Pemaksaan itu justru anti Al Quran. Paham kalian? Kata Udin.

“ Bagi Udin, selalu ada alasan membenarkan sikapnya. Mana paham dia soal fikih. Dia hanya pedagang sempak.” Kata Sukri. Udin hanya tersenyum. 

“ Kalau aku punya suami sepeti bang Udin, pasti bahagia sekali. Sangat bepaham. Tak seperti uda Sukri“ kata janda  pemilik warung. 

“ Jangan terlalu bermimpi kau Minah. Udin itu takut sama si Upik. Mana berani dia punya istri lebih dari 1. Dia pengecut sama istri “ kata Sukri 

“ aku bukan takut sama istri. Aku takut kepada Allah. Karana kawatir tidak bisa berlaku adil bila beristri lebih dari 1. Aku tidak mau rumah tangga jadi sumber fitnah hanya karena gagal adil. “ kata Udin sambil menyeruput kopinya


***

Selepas Sholat Tarawih, Udin dan kawan kawan duduk di teras masjid. “ Kenapa cara orang beragama itu berbeda beda. Ada yang nampak taat sekali. Ada yang biasa saja. Ada yang banyak ilmu  agamanya tetapi  cara beragamanya sederhana. Tetapi ada yang ilmu tak seberapa, gayanya seperti orang Arab agar serupa Nabi.” Tanya Dulah. 

“ Islam itu satu. Tidak ada bedanya. Yang berbeda itu orang kafir. Kau ikuti sajalah guru ngaji kau, sorga hadiahnya. Tak usah perhatikan pendapat orang lain seperti si Udin. Itu syihir yang mengubah keimanan kau.” Kata Sukri. Udin hanya tersenyum mendengar disindir itu.

“ Kenapa Din? Tanya Dulah. Tak peduli apa kata Sukri.

“ Dalam beragama itu memang ada tingkatannya. Sama saja dengan orang sekolah. Ada yang SD dan ada yang sarjana. Tiap tingkatan  pemahaman agama berbeda.” Kata Udin.

“ Menarik ini Din. Apa saja tingkatan itu. “ Kata Bandi.

“ Tingkatan pertama adalah syariat. Pada tingkat syariat ini, beragama masih sebatas ritual saja dan pemahaman rukun iman dan rukun islam. Singkatnya setiap hari yang dibahas soal halal dan haram. Boleh dan tidak. Yang dituju dalam beragama adalah hadiah pahala dan sorga. Itu aja.

Tingkatan kedua, adalah hidayat. Kalau syariatnya bagus, maka dia akan sampai pada tingkat hidayat. Pada tingkat ini, mereka tidak lagi bicara soal halal dan haram. Boleh dan tidak. Sorga atau neraka. Pahala atau dosa.  Tidak lagi merasa paling benar. Mereka lebih rendah hati dan mau mendengar perbedaan namun tetap istiqamah. 

Tingkat ketiga adalah hakikat. Kalau hidayat sudah didapat, maka manusia akan masuk tingkatan hakikat. Mereka beragama sudah berdimensi cinta dan kasih sayang. Dia pemurah dan pemaaf, bukan saja kepada orang yang baik kepadanya, tetap juga kepada yang tak suka kepadanya. Nilai kemanusiaannya sangat menonjol.

Tingkat keempat adalah ma’rifat. Nah bila manusia sudah mendapat hakikat maka dia  masuk ketingkat Ma’rifat. Dia sudah menjadi pemimpin bagi jiwanya sendiri. Dimanapun dia berada akan menjadi pencerah yang mendamaikan bagi siapapun. Kekuatan cahaya hatinya bersumber dari kekuatan cinta. Cahaya cinta itu memancar dari nur illahiah dan memberikan magnit untuk cinta bagi semua. Ia menjadi rahmat bagi alam semesta karena kehadirannya menentramkan siapapun. Ia adalah bayang bayang Allah , ia disebut sebagai Insan Kamil. “ Kata Udin.

“ Oh paham aku sekarang. Mengapa kau dan Sukri berbeda dalam beragama. Karena beda kelas ya Din.” Kata Bandi.

“ Apa kau Bandi!!??. Kau anggap kelasku lebih rendah dari si Udin pedagang sempak ? “ Kata Sukri emosi.

“ Kau nilai sendirilah siapa kau. “ Kata Dulah


***

“ Din, seru Sukri. “ ketidak adilan itu karena kapitalisme.  Islam menentang kapitalisme.” Kata Sukri waktu bertemu dengan Udin di lapau sehabis sholat tarawih. 

“ Nabi itu awalnya pedagang. Pedagang itu ya bagian dari kapitalis. Apalagi beliau menjual barang milik orang lain, bukan modal sendiri. Dalam bahasa sekarang namanya Sales agent. Beliau jadi mesin laba dari pemilik modal” 

“ Pemilik modal itu kan istri Nabi sendiri, Khadijah”

“ Ya setelah Nabi sukses sebagai Sales dan mitra agent, Khadijah jatuh cinta kepada Rasul. Itu juga bagian dari kapitalisme. Pemodal jatuh cintai kepada mitra karena bisa mendatangkan laba dan jujur. “ kata Udin.

“ Ah sok tahu kau Din”

“ Ya sejarah yang ku tahu begitu”

“ bagaimana dengan komunis? Kau bilang itu sesuai Islam? Kafir kau! 

“ Komunis itu kan ajaran sosialis. Islam itu mendidik orang berjiwa sosial. Contoh mengenai zakat mal, itukan sosialisme.  Sumber daya dikuasai negara untuk orang banyak. Apa bukan sosialis komunis?

“ Kau harus banyak belajar ngaji dengan ustad kondang biar kau paham apa itu kapitalisme dan mengapa dilarang”

“ Gimana aku mau belajar dari ustad kondang? Mereka sendiri melaksanakan kapitalisme berdakwah. Kalau tidak ada sistem kapitalisme, tidak mungkin ustad dapat uang sebagai YouTuber, dari iklan, dari media TV dan dari panitia acara, dari jualan baju gamis dan jilbab. Lihatlah hidup mereka kaya raya. Motornya saja harga ratusan juta, belum lagi mobilnya, rumahnya. “ kata Udin. 

“ Eh benar juga si Udin. Baru paham aku. “ kata Dulah.

“ Ah kau Dulah mudah sekali kau sesat oleh cakap pedagang sempak.” Kata Sukri


***

“ Din, mengapa orang  ragu atas seruan menjadikan Islam sebagai pondasi negara ? Tanya Sukri waktu usai sholat tarawih. Mereka bicara di teras masjid.

“ Sebetulnya yang menyerukan itu sendiri ragu dengan seruannya” 

“ Eh kenapa kau bilang  tokoh agama itu ragu? 

“ Di era sekarang memang perjuangan syariat Islam dalam konteks politik tidak bisa lepas dari pragamatisme. Coba perhatikan, pemberontakan di Mesir dan  revolusi Khomeini di  Iran. Keduanya menggunakan sekularisme untuk bisa menang. Di Mesir Ikhwanul Muslimin, menggunakan narasi sekuler menjatuhkan Hosni Mubarak. Di  Iran , Islam menggunakan narasi kaum kiri menjatuhkan shah Reza pahlevi yang didukung AS.

Di Indonesia juga pernah era kolonial Belanda, paham komunis digunakan tokoh Islam untuk mencapai tujuan perjuangan menjatuhkan Belanda . Walau akhirnya gagal, toh akhirnya tokoh Islam tetap saja menggunakan Sekulerisme yaitu Pancasila untuk mencapai tujuan merebut dan mempertahankan kemerdekaan “ kata Udin 

“ Menurutku mengapa tidak menerapkan sistem khilafah Islam yang jelas menjadikan Islam sebagai dasar negara? Sukri tetap ngotot dengan sikapnya.

“ Aku paham sikap kau itu. Itu pengaruh dari narasi ideolog Islamisme. Tetapi mereka hanya melihat masa lalu seperti langit jernih penuh bintang. Seakan-akan di sana tak pernah ada prahara, bahkan hujan darah. Seakan-akan tak pernah ada Murad III  yang punya 103 anak dari sederet istri, yang membingungkan sesoal kekuasaan dalam khilafah Usmani. Perhatikanlah, Anaknya, Muhammad III memulai bertakhta dengan membunuh 19 orang saudaranya sendiri. Murad IV melakukan hal yang sama, dan hanya membiarkan seorang adik hidup hanya karena si adik lemah mental.

Dalam sejarah Konsep khilafah itu sudah terbukti gagal. Kan engga mungkin jualan produk expired. Ya harus yang update. Politisi paham sekali itu. Makanya politisi islam cenderung kepada pemikiran Sekularisme namun dikemas dalam bahasa agama lengkap dengan dalil AL Quran dan hadith. Contoh, dalam Islam konsep bank tidak ada. Yang ada baitul maal. Tokoh Islam tahu bahwa bank itu adalah sekularisme namun dia tambah label jadi bank syariah atau bank Islam. Paham kau Sukri. 

“ Tetapi bagaimanapun Islam itu sebagai jawaban yang sempurna untuk membangun sebuah masyarakat yang sempurna. Soal hal tragis yang terjadi era khilafah itu tidak ada kaitannya dengan Islam “

“ Justru yang tragis, yang kurang, yang negatif, itu karena  peran dalam politik khilafah. Inti kesalahan itu adalah karena khalifah dipilih tanpa melibatkan rakyat banyak. Hanya berdasarkan kesepakatan oleh segelintir ulama yang patuh kepada khalifah”

“ Jadi konsep khilafah itu bagaimana sampai ada? 

“ Ceritanya, setelah  Nabi wafat, terjadi kekosongan kekuasaan. Sementara untuk mengisinya tak seorang pun yang akan setara Rasulullah. Tak seorang pun, tak satu golongan Islam pun, yang dapat mengartikulasikan ke-Islam-an secara sempurna. Otomatis pengganti Nabi  harus bersedia diganti, atau akan terpaksa diganti. Yang jadi masalah setiap yang jadi khalifah merasa lebih Nabi daripada nabi. Bahkan secara tidak langsung orang lebih takut kepada khalifah dari pada ke Tuhan. Mereka tidak mau diganti kecuali mati atau dipaksa jatuh dan selalu bau amis darah

Nah setelah khilafah Islam terakhir Ustmani tumbang, munculah ide dari Taqiuddin al-Nabhani, seorang qadi dari Yerusalem, pada tahun 1953, menampik demokrasi. Dia mendirikan Hizbut Tahrir. Bermimpi menjadi khalifah dengan modal muncung saja. Ya jelas jadi bahan lelucon abad 20. Makanya sampai sekarang konsep khilafah itu tidak pernah diterima oleh negara manapun.”

“‘ Oh begitu ya Din. Jadi bagaimana seharusnya menyikapinya untuk kita yang Islam ini?

“ Hidup memang tak cocok buat politik islamisasi. Jadi sikapi  politik itu dengan tawakal dan tak cepat marah. Manusia berubah tapi keterbatasan menyertainya. Ia makhluk yang dilahirkan kurang. Tapi peradaban justru lahir dari keadaan yang kurang itu. “

“ Kenapa Din?

“ Agar kita rendah hati dan ikhlas ! Paham ya sayang. Memang kalau mereka berdua berbicara, Sukri lebih banyak bertanya dan mendengar dari Udin. Tapi kala di hadapan orang ramai sukri menunjukan identitasnya sebagai pejuang syariat islam


***

Sukri masuk lapau bersama istri pertamanya. Berpakaian gamis warna hitam dan jilbab lebar juga warna hitam. Tak lupa pakai burka. Jadi tak nampak wajah istri Sukri. 

“ Pemerintah sekarang sudah ingkar dengan rencana awal kemerdekaan. Seharusnya Pancasila itu pada sila pertama mencantumkan syariat islam bagi pemeluknya. Nyatanya dalam  makadimah UUD 45, 7 kata dihapus tentang syariat islam. Dan itulah yang kini diperjuangkan oleh Habib riziq di Jakarta. “ Kata Sukri. 

“ Sukri, Yang pasti apa yang telah terjadi kini harus kita terima sebagai sebuah takdir. Paham ya sayangku Sukri” Kata Udin.

“ Engga bisa begitu Din. Kita harus mengubah takdir itu dengan meluruskan sejarah. Agar hak kita sebagai orang islam terpenuhi.”

“ Apa yang terjadi pada tahun 1945 itu kita tidak tahu pasti sejarahnya. Mungkin kita bisa baca sejarah, tetapi apakah kita pahami suasana hati mereka ketika itu?

“ Maksud kau ? 

“ Cobalah perhatikan sejarah. Ketika diminta oleh Hatta agar semua perserta rapat PPKI menandatangani naskah proklamasi,  ternyata semua menolak. Termasuk utusan dari golonga islam. “

“Eh kenapa mereka takut teken Din? tanya Dulah

“ Ya takut sama Jepang. Kalau proklamasi itu sukses, ya bagus. Kalau gagal? mereka semua akan digantung oleh Jepang yang dapat tugas menyerahkan Indonesia kepada sekutu.”

“ Terus ..” Kata Dulah.

“ Ya mana pula mau banyak cakap soal Sila Pertama yang tidak ada syariat islam” Kata Udin. “ Dan lagi Belanda udah di dapur. Ngapain ribut ribut soal sila pertama. Mending lupakan aja soal sila pertama yang tidak sepaham itu, focus kepada membela kemerdekaan” Kata Udin.

“ Kenapa setelah Belanda terusir dari Indonesia, Soekarno batalkan tugas konstituante menyusun UUD? Padahal mereka terpilih lewat pemilu 1955. Kalau tidak dibubarkan kostituante, pasti yang lahir UUD syariat Islam” Kata sukri

“ Ah makanya waktu pelajaran sejarah di sekolah dulu jangan banyak ngelamun kau Surki. Engga mungkin UUD 45 syariah terbentuk. Suara partai islam waktu itu tidak lebih 50%.”  Kata udin tersenyum menatap istri Sukri. 

“ Din, kenapa kau pandang istriku.? Dosa tahu! Teriak sukri.

“ Mau pandang apa ? Wajahpun tak nampak.”

“ Lantas kenapa kau pandang? Desak Sukri.

“ Aku sedang berpikir. “

“ Eh apa yang kau pikirkan terhadap istriku? 

“ Apa dia pakai sempak dan BH? Tanya Udin polos. “ Kalau tak ada , aku mau tawarkan daganganku.”

“ Dasar pedagang sempak kau


***

Sukri bersuara keras. Adu mulut dengan Dulah. Masalahnya  Dulah tidak terima Jokowi disalahkan terus. Sukri maunya Jokowi disalahkan terus. “ Kau itu sama seperti setan. Dilaknat Allah. Karena kau selalu mengejek ulama dan umat islam” Kata Sukri dengan suara keras.

Dulah balas dengan keras. “ Sepi orang sumbang yayasan kau, jokowi disalahkan. Istri kau tidak mau kau tambah istri, Jokowi lagi kau salahkan. Kemarin kau ribut dengan si Udin, Jokowi lagi kau salahkan. Aku selama ini diam saja, Sukri. Aku hormati kau sebagai sahabat .Tetapi lama pening aku. Muak ! 

“ Heh, aku lebih muak dengan kau. “ Kata sukri. Udin yang tadinya diam, mulai terpanggil untuk melerai mereka. 

“ Sudahlah. Mengapa kalian bertengkar. Tadi kita sholat sama sama tarawih. Kita ucapkan salam ke kiri dan kekanan. Itu artinya kepada yang dikiri maupun kanan kita doakan. Bukan berjarak secara batin. Berbeda pendapat itu biasa. Bahkan menjadi rahmat kalau kita bisa saling memaklumi perbedaan itu.” Kata Udin.

Sukri tetap saja melotot matanya kepada Dulah.

“ Tahukah kalian? Jokowi itu, untuk menentukan Gubernur BI, ketua MA, Ketua MK, Kapolri, Dubes, Pangab, KPK. Harus persetujuan DPR. Gubernur, Bupati, Lurah bukan dia yang pilih tapi rakyat. Bahkan untuk jabatan menteripun, walau president punya hak khusus, tetap harus mempertimbangkan kepentingan dari Partai. Ia tidak seperti Imam Sholat yang satu tanpa dipersekutukan. Tidak seperti seperti Soeharto yang INPRES nya lebih ditakuti dibandingkan UU. Tidak seperti Soekarno yang kata katanya lebih ditakuti dibandingkan UU.” Kata Udin.

“ Bagaimana dengan korupsi ? Tanya sukri

“ Itu diluar kendali Jokowi. Karena hak kekuasaan lembaga peradilan tidak di tangan Jokowi.

“ Bagaimana dengan hutang menggunung” Kejar Sukri.

“Soal hutang , Jokowi tidak bisa menentukan sendiri tanpa UU APBN yang mengatur pagu hutang. UU APBN itu yang tentukan DPR ”Kata Udin.

“ Bagaimana soal keadilan ekonomi di daerah? Tanya Bandi.

“ Soal keadilan ekonomi itu ada ditangan Daerah sesuai undang undang otonomi daerah , UU Perimbangan Pendapatan Pusat daerah. Tidak ada lagi kanwil Kementrian di setiap daerah. Itu semua sudah diserahkan kepada Pemda, seperti Dinas perindustrian, Dinas Perdagangan, Dinas Kehutanan, Dinas Kependudukan. Dan lain lain. Jadi kalau kalian merasa  diperlakukan tidak adil, yang dimarahi itu Pemdanya, bukan Jokowi“ Kata Udin.

“ Mengapa Jokowi tidak mau bergabung dengan pasukan liga Arab atas dasar keputusan OKI untuk menjatuhkan Bashar al-Assad?  kata Sukri.

“ Itu tidak bisa disalahkan Jokowi.  Karena berdasaran UUD , politik luar negeri kita adalah politik bebas aktif dan hanya terlibat mengirim pasukan ke luar negeri untuk tujuan damai dibawah PBB. Kalau Jokowi melanggar UUD 45 dia bisa dijatuhkan. Paham?

Nah dengan mengetahui sistem kekuasaan dinegeri ini, aku berharap kita lebih bijak bersikap. Kebobrokan negara kita bukanlah kerja tangan seorang presiden. Ini kesalahan UU. Kebobrokan UU. UU dan aturan lah yang harus dirubah. Pilihlah anggota dewan bukan karena emosi agama atau apalah. Pilih mereka karena akhlaknya. Begitu juga memilih kepala Daerah dan presiden “  Kata udin. 

“ Benar juga ya Din” Kata Dulah.

“ Senang kau dibela sama si Udin? Lebar lubang hidup kau. Dulah?” Kata Sukri

‘ Nah sekarang, lebih baik kalian fokus dengan hidup kalian masing masing. Kalau ingin jadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur. Kalau ingin jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang amanah. Kalau ingin jadi suami dan ayah, jadilah yang bertanggung jawab. Kalau ingin jadi ustad, jadilah ustad yang mencerahkan dengan bahasa hikmah. Sudahilah marah marah di luar diri kalian. Tidak akan selesai urusan dunia ini kalau kalian pikirkan apalagi perbincangkan dengan amarah. “ Kata Udin. Semua mereka terdiam. 

“ Jadi gimana tahu nya Jokowi salah? Tanya Mahmud.

“ Kalau dia melanggar UUD. Apakah dia langgar? Kan engga. Kalau dia korupsi? Kan engga. Kalau dia berbuat amoral. Contoh dia selingkuh dan tidak tanggung jawab. Apakah Jokowi lakukan itu? Kan tiada. Justru dia sangat setia dengan satu istri” Kata Udin.

Tak berapa lama ada telp masuk. Udin segera terima telp “ Ya Pik, ya yaa abang pulang sekarang. “ Kata Udin. 

“ Maaf , aku harus pulang. Udah jam 10. Malam jumat lagi. Seprei  bersih dan sarung bantal harum menantiku.  Si Upik sudah mandi bersih. “ Udin segera berlalu setelah bayar minuman untuk dia dan sukri.


***

Di lapau, sukri nampak uring uringan terus. Banyaklah yang bikin dia terus merepet. Sepertinya tak ada yang beres urusan dunia bagi dia. Di kepalanya semua hal salah. Yang benar hanya dia. Udin tersenyum memperhatikan Mahmud semakin terpukau. “ Hebat kali kau Sukri.  Pantasnya kau jadi Bupati. Selesai semua urusan.”  Katanya. Sukri semakin semangat saja bicara. Si Fakri apalagi. Terus semangati dia “ Ah Bupati kecilnya itu. Pantasnya Sukri jadi presiden, menurutku. Katanya. Yang lain magut magut.

“ Din, kau senang ya dapat kredit dari BPR.” Kata Sukri.

“ Ya lah. Tambah barang daganganku. Bukan hanya jual sempak. Sekarang juga jual BH. “Kata Udin

“ Apa kau tidak tahu?. Pakai uang riba itu sama dengan berzina dengan ibu kandung.Itu sama saja berperang dengan Allah. Engga takut kau ?

“Tak takut aku.”Kata Udin cuek.

“ Eh beraninya kau. Apa sejago itu kau?

“ Eh Sukri. Itu Tuhan kau. Bukan Tuhanku. Kenapa pula aku harus takut. Tuhanku, beda.”

“ Tetapi itu sudah dosa besar. Makan uang riba.”
“ Makanya kubilang. Tuhan kau dengan Tuhanku beda. Tuhanku bilang engga riba. “ 

“ Tapi tetap aja bodoh. 

“ Coba kau dengar. Tadinya aku hanya bisa jualan sempak. Dengan berhutang Rp 3 juta, modalku bertambah. Aku bisa juga jualan BH. Kalau tadinya untung sehari hanya Rp. 100.000, sekarang jadi Rp. 300.000, kubayarkan bunga Rp. 3.000 sehari. Siapa yang bodoh ? Tuhan kau atau Tuhanku?

“ Ah itu godaan iblis. “

“ Menurut Tuhanku, godaan iblis itu adalah selalu nyalahkan istri kalau minta uang belanja. Selalu bilang istri durhaka kalau tidak mau dipoligami. Selalu salahkan pemerintah karena bokek. Selalu minta prey minum kopi di lapau. Suruh istri dagang buku di masjid.”

“ Eh kau sindir aku Din? Berani kau ? Sukri melotot.

“ Kalau kau merasa ya maafkan daku. “

“ Din, aku ajarkan kau tanpa riba. Mau ? Kau kan sahabatku. “ Sukri mulai reda marahnya.

“ OK lah. Yang penting dapat uang. Setanpun kasih nasehat aku dengar. Apa ?

“ Tirulah si Dulah. Dia tidak pakai uang Riba. Tetangga sebelahnya memberi dia uang mudarabah. Ambil uang 10 kembalikan 12 sebulan.”

“Ah itu sama saja 20% sebulan bunganya. Lah aku hanya 3% sebulan, kau bilang riba.” Kata Udin seraya tertawa.

“ Eh mana ada aku bilang bunga?. Mudharabah! Dengar! Mudharabah! Sukri keliatan emosi. Marah lagi. Sejak dia mengaji dengan Ustad Laweh mudah sekali dia marah.

“ Ya sudahlah. Lebih baik dibilang  kafir, daripada islam seperti kau jadi tekor dan bego. Udah ah. Pulang aku. Si upik tunggu aku. Ini malam jumat. Malam indehoi. Moga tahun depan betambah anakku. Karena uangku juga bertambah akibat riba” Kata Udin berlalu


***

“ Bagiku hukum Allah adalah final. Hanya itu yang harus kita imani.” Kata Sukri waktu bertemu di rumah Mahmud. Mereka di undang oleh Mahmud untuk buka bersama.

“ Kau paham apa yang dimaksud dengan hukum Allah.?

“ Ya itulah Alquran dan hadith” 

“ Baiklah.  Tidak perlu sampai kepada AL Quran dan hadith dulu. Coba jelaskan dengan bahasa sederhana, apa itu hukum alam atau sunnatullah? Tanya Udin. Sukri terdiam.  

“ Ah manapula Sukri paham pertanyaan kau Din. Dia kan soal agama seperti beo saja. Lanjut Din” Kata Mahmud.

“ Mengapa pertanyaan itu aku ajukan. Karena Al Quran berisi dua hal. Satu hukum soal Tauhid. Itu sudah tidak perlu dipertanyakan. Informasi tentang itu lengkap di Al Quran. Kedua, hukum ketetapan Allah. Itu tidak dijelaskan oleh Al QUran secara detail. Dua hal ini saling kait mengkait. Untuk memahami soal Tauhid, harus punya pemahanan tentang hukum ketetapan Allah. Begitupula sebaliknya. Artinya kalau kita beriman kepada Tuhan, kita juga harus beriman kepada hukum ketetapan Tuhan” kata Udin.

“ Ah cepatlah sampai kepada kesimpulan. Pening aku dengar kau berkata kata, Din “ Kata Sukri.

“ Contoh sederhana. Hukum tauhid dan Hukum ketetapan Tuhan. Itu ada penciptaan manusia.  Perhatikan dalam Alquran surat al-Mu'minun ayat 12-14.  

''Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu, segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain …."

Perhatikan firman Allah, disitu Allah tidak menyebut dirinya Aku tetapi Kami. “ Kata Udin.

“ Mengapa ?  Tanya Dulah.

“ Karena terciptanya manusia adalah bertautnya syriat dan hakikat. Kalau kau tidak berhubungan sex dengan wanita, tidak akan tercipta manusia. Dari hubungan sex itu terjadilah proses sunnatullah. Artnya kita bersama sama Tuhan menciptakan kehidupan. Nah ilmu sunnatulah itu yang harus kita pelajari. Al Quran tidak jelaskan itu.  Tapi alam mengajarkan itu. Makanya sains itu adalah juga ayat ayat Tuhan. Di balik sunnatullah itu kita mendapatkan hikmah, dan semakin meninggikan tauhid kita. “ Kata Udin.

“ Din, coba ceritakan hikmah terciptanya manusia itu ? Kata Mahmud.

“ Baik aku ceritakan. Agar mudah dipahami, AKu analogikan terlahirnya Sukri. Ketika kedua orang tua sukri berhubungan sex dan orgasme, itu ada sekiar 200 juta sel spema yang disemprotkan melalui Urethra. Kemudian sukri harus mencari aliran lendir alami di dalam vagina yang akan membawa dia ke mulut rahim. Setelah berhasil melewati leher rahim atau serviks uteri, dia  akan berenang di dalam rahim atau uterus sampai ke muara saluran telur atau tuba fallopi. Proses ini dia  lalui bersama jutaan saudara­ saudara dia  yang lain sesama sel sperma.

Tapi ingat jutaan Sukri bersama saudara yang berenang itu hanya akan menemui satu sel telur. Karena setiap bulan wanita hanya memproduksi satu butir sel telur saja. Ada dua saluran, yaitu kiri dan kanan. Sukri tidak tahu saluran mana yang berisi sel telur matang itu. Keputusan mengambil saluran kiri atau kanan adalah keputusan sangat penting dan ini benar benar gambling. Hebat kan Tuhan.! dari dini kita dilatih mengambil resiko. 

Apabila Sukri memilih saluran yang salah berarti perjalanan dia  akan sia­ sia karena energi yang dia miliki hanya cukup untuk menjelajah satu saluran. No way return.! Gagal berarti musnah. Sekarang, anggap bahwa sukri telah menentukan pilihan yang benar. Di sini sukri harus berenang melawan arus. Ingat melawan arus ! sulitkan ! karena sel­sel pada dinding saluran pelan­ pelan mendorong telur menuju ke rahim. Dalam situasi ini, Sukri menjadi bingung dan mulai berenang berputar putar tanpa tujuan. 

Perhatikan canggihnya Tuhan sedari dini menunjukan keperkasaannya dan kita nothing. Berkat kekuasaan Tuhan, sukri termasuk sperma yang telah di takdirkan untuk sukses sehingga tahu arah dan tujuannya. Akhirnya, Sukri berjumpa dengan telur yang sedang dalam perjalanan. Nah Sukri adalah salah satu di antara sekitar 300 peserta dalam petualangan mikroskopik selama beberapa jam yang berhasil sampai ke garis finish. 

Betapa pun besar kegembiraan yang sukri rasakan, namun perjuangan belum usai, Sukri masih harus menembus dinding telur. Sukri dan saudara saudaranya yang berkumpul di sekitar telur mulai membentur benturkan diri ke kulit luar sel telur. Akhirnya, hanya satu di antara 300 saudaranya ini yang diterima untuk membuahi telur. Dan juara itu adalah Sukri!. Sukri berhasil melalui semua perjalanan yang penuh resiko dan tidak pasti. Selanjutnya Tuhan sempurnakan dengan memberinya ruh dan kemudian lahir kedunia. Berkat cinta kedua orang tuanya, dia tumbuh menjadi manusia agar bisa memakmurkan bumi, dengan cinta juga.” Kata Udin. Dia tatap semua teman temannya. 

“ Din, apa hikmahnya ? “ Tanya Bandi.

“ Hidup adalah proses berkompetisi sepanjang usia. Setiap orang harus melewati kesulitan ,kelelahan, yang kadang berujung kegagalan. Tidak perlu takut akan resiko. Karena dengan sadar bahwa hidup ini penuh resiko maka akan membuat kita  semakin dekat kepada Tuhan, Tanpa pertolongan Tuhan kita  tidak akan bisa melewati semua hambatan itu. Karenanya berdoalah sebelum berjuang. Menyadari ini akan semakin membuat kita  rendah hati dan tahu artinya mecintai untuk berbagi.  Kita bisa jadi apa saja. Berjuanglah dapatkan itu semua. Setelah dapat, kembali kepada Tuhan“ Kata Udin. Semua temannya terdiam.

“ Baru paham bagaimana proses Sukri terlahir ke dunia. Tapi dia sendiri tak paham.  Bawaanya marah terus dan tak ada rendah hatinya.” Kata Dulah.

“ Ah kenapa pula aku dijadikan contoh. Udin dasar pedagang sempak yang tak suka aku dekat ke masjid.”  Kata Sukri.

Waktu maghrib sudah masuk. Mahmud menyediakan air minum. Masing masing segelas air putih. “ Kau undang kita buka bersama. Mana makannya? Tanya Sukri.

“ Aku undang kalian buka bersama. Bukan makan bersama. “Kata Mahmud.

“ Jadi, aku jalan kaki 3 km dari rumahku kemari. Hanya dapat air putih segelas. Keterlaluan kau Mahmud. Dasar mantiko kau “ kata Sukri.

“ Ya sudah. Lebih baik kita pergi ke masjid sholat. Kan sudah tahu Mahmud tak punya istri. Siapa yang mau masak.“ Kata Udin


***

Di Lapau, Sukri asyik dengan hapenya. Mukanya nampak keruh. Dulah mendekatinya. “ tak ada kerjaan kau. Mau tahu aja urusan orang” kata Sukri melotot.  Teman teman yang lain tersenyum. 

“ Sedang apa kau Sukri? tanya Bandi.

“ Aku sedang marah sama Cebong. Sombong kali mereka itu banggakan China. Mau jadi komunis apa negara kita” Kata Sukri melanjutkan bersibuk dengan hapennya.

“ Dulah, kita ini aneh. Orang AS pionir datang ke bulan. Orang Rusia sedang bangun laboratoriun di Bulan. Orang China akan menambang di Bulan. Lah kita ? Masih sibuk bicara idiologi agama. Kapan majunya.” Kata Bandi.

“ Kita juga sudah mengenal bulan dalam keseharian. Setidaknya penghasilan hanya cukup dari bulan ke bulan.” Kata Udin tersenyum.

“ Itu namanya lapeh makan, Din. “ Kata Mahmud. Mereka semua tertawa. 

“ Eh kalian juga sama. Kalau sudah bicara dunia, seenaknya kalian rendahkan agama kalian. Tuh liat. Kapal selam tenggelam karena ulah China.  Di pelosok kalimantan ditemukan senjata China. Banyak orang China masuk dengan alasan kerja, sebenarnya mereka tentara komunis.”

“ Ah Sukri. Terlalu jauh prasangka buruk kau. Itu sama saja kau merendahkan TNI kita. Kau lihat, di kampung kita saja ada tentara.  Terbakar ladang di atas bukit, tak sampai sejam sudah ada tentara datang. Apalagi soal tentara asing masuk. Di laut ada kamla. Tidak ada kapal yang keluar masuk tanpa mereka tahu. 

Belum lagi semua rakyat itu jadi agent tentara. Tahun lalu kemanakan Palimo, ditangkap oleh polisi. Padahal kita tidak pernah tahu dia itu teroris. Darimana polisi tahu? Ya dari rakyat. Tak ada gerakan apaun, bahkan jarum jatuhpun aparat tahu. Termasuk ulah kau sering menghujat pemerintah di sosmed “ kata Bandi.

Sukri melirik kepada Bandi. “ Jadi pemerintah tahu aku marah marah di Sosmed.? Sukri nampak kawatir. “ Din, kan kau bilang kritik pemerintah boleh. Tak ada masalah kan Din” Kata Sukri mendekati Udin dengan wajah kawatir.

“ Coba aku lihat tulisan kau “ kata Udin. Sukri perlihatkan.

 “ Sebaiknya kau hapus. Bila perlu tutup akun kau. Bisa ditangkap kau nanti. Mau masuk penjara? Habibah diambil si Dulah. Mau?” kata Udin.

Sukri langsung hapus tulisannya dan tutup akunnya. Matanya melotot melihat teman temannya. “ jadi apapun pemerintah tahu. Buruk sekali nasip tinggal di Indonesia.” Kata Sukri.

“ Kau tiru sajalah hidup seperti kami ini, Kri. Aman. Tidak perlu takut apapun. Tak perlu sibuk soal politik. Kalau tak nyaman hidup seperti kami, ya pindahlah negara lain yang sesuai kau mau.” Kata Bandi. Udin tersenyum


***

Di lapau, teman teman Udin sedang asik mendengar tausiah dari Sukri. Udin datang ke Lapau itu langsung pesan Kopi. 

“ Bang Udin tadi taraweh di mana? Tanya penjaga warung.

“ Di rumah. Sama si Upik.  “

“ Din “ seru Sukri. “ Entah berapa kali aku ingatkan kau. Tidak boleh takut istri. Yang perlu ditakuti itu Allah. Jangan sampai kau sirik karena terlalu takut dengan istri daripada Allah.” Lanjut Sukri.

“ Ya aku tahu. Kau sering nasehati aku. Tapi aku diam saja. Karena kuanggap kau berkicau seperti burung beo. Coba kau sebutkan apa dalilnya?

“ Kau baca surah  Annisaa Q 4:34. Ada empat pesan dari Surat annisa ini. “ Kata Sukri. Semua temannya di lapau menyimak. “ Diataranya adalah pertama Suami itu pelindung bagi istri. Kedua, Istri yang sholeh adalah yang taat kepada suami. Ketiga, kelau istri selingkuh engga bisa dinasehati, usir dari rumah. Keempat, Boleh memukul istri kalau bandel.  Itu firman Allah, nah hadith Nabi sendiri berkata, Lau kuntu aamiran ahadan an yasjuda liahadin, la amarty al mar ata n tasjuda lizaujiha” Kata Sukri dengan logat Arab.

“ Kalau sekiranya Allah izinkan aku memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri agar sujud kepada suaminya. Perhatikanlah firman Allah dan hadis menguatkan betapa pria itu bergitu istimewanya dihadapan agama. Sehingga suami punya dasar memaksa istri patuh tanpa syarat kepada suami. Harus melayani seperti yang suami suka. Harus menjadikan suami sebagai prioritas.” Lanjuk Sukri. Teman temannya di lapau terpesona dengan luasnya ilmu Sukri.

“ Tapi dalil itu tidak pernah kujadikan pegangan dalam memimpin rumah tangga. Tidak pernah ! Aku punya dalil sendiri. “ Kata Udin santai.

“ Emang pakai dalil apa? Jangan ngarang kau Din.“ Kata Sukri.

“ Dalil yang aku gunakan adalah Al Jannatu tahta aqdaamil ummahaat. Surga dibawah telapak kaki ibu. Si Upik itu adalah ibu dari anak anakku. Ia adalah manusia yang sangat dihormati di dunia ini oleh anak anaknya dan kewajiban anak anak kepada ibumya jauh lebih banyak dibandingkan kepadaku ayahnya. Apakah pantas aku perlakukan si Upik seperti dalil kau? Engga mugkinlah. Upik itu  begitu dimuliakan oleh anak anakku ?” Kata Udin.

“ Kalau begitu pantas kau jadi inkar Allah. Pastas saja kau takut melaksanakan surat An-Nisa (4):3, takut poligami,  padahal itu dihalalkan Allah? Kata Sukri dengan sinis.

“ Ya, aku tahu Surat An-Nisa (4):3. Namun itu tidak pernah kugunakan atau jadi peganganku beragama. Aku gunakan dalil yang juga bersumber dari hadith, Akmalul mukminiena iemaanan ahsanuhum khusluqan wakhiyaarukum khiyaarukum linisaaihim. Mu’min terbaik adalah yang terbagus akhlaqnya. Yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya. Apakah ada yang lebih baik selain menjaga perasaanya? kata Udin. 

“ Ah Din, kau itu paling pintar berdalih untuk jadi sesat. “ Kata Sukri.

“ Ya terserah kau, Sukri. Yang jelas dalil kita bersumber dari Nabi yang sama. Salahku dimana? Kata Udin.

“ Mantap kali kalian ini. Tak sangka. Udin pedagang sempak hafal hadith. “ Kata Mahmud. 

“ Mereka berdua lulusan Madrasah. 12 tahun mereka satu sekolah. Wajarlah. “ Dulah nyeletuk

“ Tapi aneh ? mengapa satu perguruan berbeda paham? Kita kita yang tak pernah sekolah agama jadi bingung” Kata Mahmud. 

“ Masalahnya Udin cari uang dari jualan sempak, si Sukri cari duit dari jualan ayat. Wajar berbeda pendapat. Tetapi perbedaan itu tidak membuat mereka berjarak. “Kata Dulah


***

Dulah nampak murung di Lapau. Sukri mendekatinya. “ Ada apa kau Dulah?. Sedih sekali nampaknya kau..”

“ Parhatian kali kau, Sukri. Padahal kalian berdua seperti air dengan minyak. “ Kata Mahmud.

“ Diam, kau Mud. Di hati kau mana ada peduli teman. “ Kata Sukri ketus. Dulah menengok ke arah Sukri yang ada di sampingnya. 

“ Kri, kau kan paham ilmu Agama. “

“ Oh jelas itu. llmuku lebih murni dan lebih sahih daripada si Udin. Ada apa ?

“ Aku mau tanya dan minta pendapat. “ kata Dulah.

“ Silahkan.” Sukri mengelus janggutnya. Namun matanya mulai keliatan menyipit ketika melihat Udin masuk Lapau. Udin langsung duduk bersama mereka di meja yang sama. “ Din, kita harus diam. Ini Dulah sedang konsultasi syariah ke Sukri. Kita nyimak aja.” Kata Mahmud.

“ Istriku sering menolak aku gauli. Gimana itu ? Kata Dulah.

“ Kawin lagi atau ceraikan dia. “ Kata Sukri singkat.

“ Hukum agamanya gimana Kri. “

“ Kalau aku sarankan itu, itu bisa aku pertanggung jawabkan secara agama. “ Kata Sukri melotot. 

“ Kau jawab aja pertanyaan Dullah itu. Dalilnya apa.  “ Kata Udin tersenyum.

“ Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan laki laki atas wanita. Itu Al Quran, QS an-Nisaa’ 4: 34. Nah hadithnya, Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, hak siapakah yang harus diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab, hak  suaminya. Paham kau. Jelas ya tak perlu didebat lagi” kata Sukri.

“ Benar begitu Din.? Kalau istriku tidak mau digauli maka ceraikan atau kawin lagi. Itu kata Sukri. “ Tanya Dulah.

“ Eh kenapa kau tanya lagi ke si Udin.” Kata Sukri. 

“ Ya tak apalah bang Sukri. Kan kita semua teman” Kata Dulah.

“ Dulah, sebelum aku jawab, aku tanya dulu, istrimu kan kerja di Pemda. Apakah kau izinkan?

“ Ya tentu aku izinkan. Kalau tak izinkan darimana kami makan. Aku kan, kadang ada kerjaan, kadang tidak. Ya kotraktor musiman.“Kata Dulah.

“ Apakah ia selalu menolak digauli ? tanya Udin.

“ Ya tidak. Tapi pas aku lagi pengen, dia tolak. Kalau dipaksa, balik dia marah. Itu sering.” Kata Dulah sedih.

“Kalau begitu, jangan kau ceraikan atau berdalih mau kawin lagi hanya karena dia menolak kau gauli. Sabar aja” Kata Udin.

“ Eh Sempak, kau ngarang aja ? Sukri menyela Udin bicara. “ Apa dalil agamanya? Teriak sukri.

“Baca surat surat an-Nisa ayat 19. Makna tersirat, memaksa wanita itu hukumya haram walau istri itu statusnya halal. Jadi kalau ditafsirkan bebas, memaksa itu tidak boleh. Bahkan paksaan secara halus misal ancaman cerai atau mau kawin lagi atau tidak akan memberi uang belanja, itu juga tidak boleh.”

“ Jadi gimana Din? Tanya Dulah.

“ Sabar. “

“ Sampai kapan?Kejar Dulah.

“ Ya sampai dia mau kau gauli. “kata Udin.

“ Jadi harus tunggu dia mau?  Buruk sekali nasip pria.” Kata Dulah.

“ Baca Surat An-Nisa ayat 19. Perhatikan firman Allah itu, tidak ada solusi ceraikan atau nikah lagi kalau istri nolak digauli. Solusinya hanya satu, yaitu bersabar.. “ Kata Udin.

“ Lantas bagaimana dalil bahwa istri harus patuh kepada Suami. Dan  suami pemimpin keluarga” Kata Dulah. “ ya benar kau, Dulah.”Kata Sukri.

“Hak suami terhadap istri dan kewajiban istri kepada suami,  itu baru berlaku apabila suami sudah tunaikan kewajibannya.”

“ Apa kewajiban suami? tanya Dulah.

“ Berlaku ma’ruf kepada istri. “

“ Ma’ruf itu apa, Din? Kata Bandi yang dari tadi hanya menyimak.

“ Ma’ruf artinya berbuat baik. Tapi berbuat baik tanpa syarat. Lebih luas  lagi ma’ruf itu maknanya,  kita berbuat baik bukan hanya karena ketertarikan istri yang cantik, tetapi juga ketika dia tidak lagi  cantik karena sebab penyakit atau menua. Kita berbuat baik bukan hanya karena istri yang menyenangkan hati, penurut dan penyabar,  tetapi juga sifaat istri yang sering bikin kesal terus , misal pemalas, pemarah, pencemburu.” kata Udin.
“ Mengapa sudah jelas istri sudah tidak patuh, tidak menarik, kita harus pertahankan?. Ceraikan saja “ Kata Mahmud. 

“Karena bisa jadi satu sisi dia buruk namun pada sisi lainnya banyak kebaikan-kebaikannya untuk kita. Jadi bersabar. Itu makna dari surat an-Nisa ayat 19..” Kata Udin

“ Selama ini banyak perceraian terjadi karena tidak ada ma’ruf itu. Bahkan sekelas ustadpun lupa ma’ruf itu. Berkali kali ceraikan istri tanpa merasa berdosa. “ Kata Mahmud.

“ Jadi apa dalil yang kuat  kita boleh menceraikan istri? Tanya Bandi.

“ Ya kalau dia tidak suka lagi dengan kita dan menjalin hubungan dengan pria lain atau selingkuh. Itupun tidak bisa langsung ceraikan. Kita harus nasehati dia. Kalau tidak bisa juga dinasehati, ya ceraikanlah. Itu bukan benci, tetapi agar dia bisa bebas memilih pria yang dia sukai.”

“ Din, terlepas soal agama. Bagaimana istri mau kita gauli saat dia malas digauli. Gimana tanpa dipaksa, dia langsung mau” kata Dulah.

“ Buka pakaian kau terlebih dahulu. Pura pura acuh saja ditempat tidur. Coba aja praktekan. Tak lebih 10 menit, istri pasti melirik dan akhirnya mendekat. Kalau sudah dekat, gunakan lidah kau, biar dia nyaman. Setelah banjir dia, tak perlu lagi dipaksa… Paham? kata Udin.
“ Masuk tu barang.” kata Bandi. Mahmud dan Dulah tertawa. Sukri merengut.


***

Setelah gagal pergi ke jakarta dalam misi bela ulama. Sukri dan rombongan naik bus pulang. Sebelum bus berangkat, kondektur berkata kepada penumpang “ Dengan 10 jari saya memohon kepada tuan tuan semua. Jangan ada yang bawa durian. Mabuk kita semua nanti. Apakah ada yang bawa durian?”

“ Tidak ada.” teriak Sukri.

“ Yakin! “ Kata kondektur.

“ Kamu ragukan kesolehan saya.? Liat peci putih dan sorban saya. Apakah kurang itu untuk yakinkan kamu? Teriak Sukri. Teman temannya kagum dengan sikap Sukri. 

“ Ya sudah. “ Kata kondektur seraya melangkah mendatangi semua tempat duduk. Penciuman dipertajamnya. Untuk mencari durian di bawah tempat duduk penumpang. Ketika sampai kursi Sukri, kondektur melongok kebawah kursi “ Nah ini apa? “ kata Kondektur menunjuk durian. 

“ Ya. Ah cuma satu “ Kata Sukri santai.

“ Pilih durian tapi keluar dari bus, Atau buang durian, tetap di bus.” Kata Kondektur.

“ Kau ambil sajalah. “ kata Sukri kesal.
Kondektur itu turun dari bus membawa durian. Sukri liat kondektur itu makan durian miliknya.

“ Din, ini benar benar zolim. Dia larang kita bawa durian , eh durian kita dia makan. Samanya dengan rezim Jokowi.”

“ Kondektur itu wakil penguasa di bus ini. Suka suka dialah. Kalau kau tak suka, tak usah naik bus ini” Kata Udin

“ Maksud kau ? Sukti emosi.

“ Ya kalau kau tak suka rezim jokowi, kau bisa keluar dari Indonesia. Mudah kan? Kata udin tersenyum.

“ Ah kau samanya”


***

“ Kalau negeri ini dipimpin oleh orang kafir, murka Allah akan datang. Yakinlah ! Kata Sukri di Lapau. 

“ Eh ada gerangan apa kau ini sukri.  Seperti tak ada badai dan angin, hujan pun datang” Kata Dulah

“ Kudengar dari ustad tadi waktu tarawih, katanya si Ahok mau dinaikan jabatanya.” Kata Sukri

“ Terus apa masalah kau? tanya Mahmud

“ Eh apa kau tidak sadar. Kita islam harus berjuang membela agama kita. Jangan sampai negeri ini kuasai orang kafir” Sukri mulai kencang bicaranya. Mereka terdiam. Tak berapa lama, Udin masuk ke lapau. “ Mantap, Udin datang. Mari kita tanya. ? Tanya Dulah.

“ Din, kata sukri kalau negeri ini dipimpin oleh orang kafir, murka Allah akan datang. Benar Din?  Kata Mahmud. Udin melirik ke Sukri.

“ Jangan kau bela lagi itu si Ahok seperti Pilgub DKI. Engga malu kau dengan sholat kau ? Kata Sukri. Udin tersenyum.

“ Atie’ullah wa athie ur rasuula wa ulil amri minkum. Kata Sukri dengan lidah Arabnya.”  Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada RasulNya dan kepada para pemimpin diantara kalian. Tahu kalian maksudnya ? patuh kepada pemimpin sama saja patuh kepada Allah dan Rasul. Makanya pemimpin itu harus di akui ulama dan tentu harus islam.” Lanjut sukri.

“ Maaf, kata kata Sukiri tiadalah benar 100%. Karena ada dalil lain yang juga berdasarkan firman Allah surah Shad ayat 26, Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (pemimpin) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” Kata Udin.

“ Maksud dalil itu apa Din ? Tanya Dulah

“  Kepemipinan itu adalah pemberian dari Allah, atau amanah Allah. Caranya hanya dua “berlaku adil dan tidak mengikuti hawa nafsu”. Jadi siapapun itu, islam atau non islam , apapun level kepemimpinannya bila dia berlaku adil dan tidak mengikuti hawa nafsu  maka itu pemimpin yang harus dipilih.”

“ Ah sudahlah. Terlalu jauh kau sesat beragama, Din, Din. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kau. Setidaknya aku ingin bersama sama kau di Sorga nanti” Kata sukri

“ Amin Ya Allah.” Kata Udin.

“ Sukri, mentang mentang Udin sering traktir kau, kau doakan.Kami kau lupakan. “ kada Mahmud.

“ Orang seperti kalian memang sebaiknya membusuk di Neraka.” Kata Sukri

“ Ya sudah. Biar aku doakan kalian semua” Kata Udi


***

Kadang kalau melihat perempuan sekarang tanpa jilbab dan baju gamis, sepertinya  kita terperangkap dalam zina mata.” Kata Sukri. 

“ Benar sekali, Sukri. ditengok dosa, engga ditengok barang bagus.” Kata Mahmud mengulang kata kata Ustad tenar.

“ Dulu pakaian adat minang untuk perempuan baju kurung. Sekarang pakaian anak perempuan sudah menyerupai laki laki” Kata Dulah. 

“Ah kalian ini. Pikiran kalian yang sakit, pakaian perempuan pula yang disalahkan. “ Kata Udin.

“ Eh sakit. Sakit apa pikiran kami ? Kata Sukri.

“ Mesum!. Pikiran ke dada dan bawah pusar saja. Padahal di rumah bisa liat tiap hari. Sama saja barangnya. Engga ada beda.” Kata Udin. 

“ Din, kami sedang membahas soal perintah agama. Perintah agar wanita mengenakan pakaian yang sesuai dengan syari”

“ Syari apa yang kau maksud ? Tanya Udin.

“ Pakain baju kurung dan jilbab lebar untuk wanita. Tidak boleh nampak rambut. Paham kau?. “

“ Ah itu bukan pakaian syari. Itu budaya saja. “ 

“ Itu ada hadithnya dan juga firman Allah.”

“ Hadith dan firman Allah itu sesuai dengan zamannya. Saat itu kan belum ada BH dan Celana dalam wanita. Makanya perlu jilbab lebar agar tak nampak mata sapinya. Perlu baju lebar, agar tak membayang brewoknya. Lah sekarang sudah ada BH dan CD. Perlu berapa aja, aku jual. Mau model apa saja ada. Ngapain pakai baju kurung dan jilbab lebar . Kalau kerena rambut wanita nampak kau nafsu, itu kau sudah bisa dianggap orang gila. Tak perlu agama bagi orang gila“ Kata Udin.

“ Gila? Emang aku orang gila. Jaga  muncung kau Din“ bentak Sukri.

“ lah liat rambut cewek nafsu kau ! Apa Engga aneh! Kalau liat mata sapi dan berewok cewek nafsu, itu normal. Makanya perlu BH dan CD”

“ Ah sudahlah. Apa apa selalu kau bilang sesuai zamannya. “ kata Sukri sinis

“ La iyalah. Zaman berubah, tapi hakikatnya tidak berubah. Hakikatnya jangan nampak mata sapi dan brewok. CD dan BH solusinya.“ kata Udin 

“ Bagaimana dengan janggut? bukan sunah lagi kau bilang! Kafir kau din.”

“ Ya iyalah. Itu bukan sunah. Pahami konteks saat hadith itu keluar. Saat itu belum ada penanda siapa Yahudi dan siapa muslim. Makanya Nabi sarankan agar orang muslim pelihara janggut untuk pembeda dengan Yahudi. Lah sekarang kan sudah ada KTP. Di kTP disebut apa agamanya. Ngapain lagi pakai janggut.” Kata Udin 

“Sudahlah. Pening bicara dengan kau Din.” Sukri kesal.

“ Eh Sukri, kenapa kau kesal dengan Udin. Dia ada benarnya.”Kata Dulah.

“ Kalian mudah sekali disesatkan sama pedagang sempak dan bodoh.” Kata Sukri kesal.

“ Udin memang tak ahli agama, tetapi apa yang dia cakap ada benarnya.” Kata Dulah.


***

“ Sukri, kalau kau masih terus bicara tentang langit kau akan terpuruk di tengah nikmat Allah. Kini berkat tekhologi IT, informasi berupa gambar dan data,  bisa bergerak berkecepat cahaya. Kita bisa tahu informasi dari belahan dunia manapun secara real time. Berkat tekhnologi energi, roketpun tercipta.  Manusia bisa pergi ke luar anggkasa dengan pesawat ulang alik.  Kapal laut modern  dan pesawata terbang tercipta mengangkut logistik lintas benua. Kendaraan tercipta untuk orang mobile. Dan tidak ada kehidupan modern tanpa sentuh tekhnologi energi” kata Bandi dengan pencerahannya sebagai seorang terpelajar. 

“ Tak paham apa yang kau kata, Bandi. Bagiku itu semua kafir kalau mereka tidak beriman kepada Allah.” Kata Sukri.

“ Bagiku kehebatan tekhnologi manusia itu sebagai bentuk lain cara manusia bertasbih. Memuji kebesaran Allah. Namun tetap tidak akan bisa melewati ilmu Allah.” 

“ Kenapa Din? Tanya Bandi.

“ Tahukah kau, Bandi’ Kata Udin. “ Bahwa energi raksasa yang tak tertandingi itu ada pada tubuh kita. Bagaimana tidak? Kalau dibantangkan pembuluh darah itu panjangnya 2,5 kali bumi atau 60.000 mil. Pembuluh darah itu adalah jalan toll tercanggih. Mengantar darah mengangkut logistik berupa oksigen dan nutrisi bagi setiap sel tubuh. Mau tahu berapa banyak sel dalam tubuh kita ? berkisar 30-40 triliun sel. Bayangkan oleh kau,  panjang pembuluh darah 2,5 kali bumi dan dengan jumlah 30-40 triliun sel, kecepatan sistem logistik itu hanya satu detik saja. Itu berkat daya dorong mesin pompa super canggih, yang bernama Jantung.

Nah, jantung itu beratnya hanya 10% dari berat tumbuh normal manusia saja. Kecil ya. Tapi powernya dahsyat. Engga ada mesin trasfortasi yang bisa tandingi jantung. Dalam setiap 36 kali detak kapasitas mesin pompa itu 3/4 galon darah. Bukan hanya mengangkut darah tetapi juga membawa kembali darah. Kecepatan angkut mengantar setara dengan kecepatan kembalinya. Jadilah jantung sistem pompa circle yang super canggih. Circle itu terjadi sepanjang kita hidup. Itu berkat sistem pembuluh darah yang apik yang terdiri dari arteri, vena, dan kapiler.

Perhatikan cara kerjanya, ketika jantung berkontraksi, darah dipompa ke arteri yang membawanya pergi dari jantung. Arteri terhubung ke pembuluh yang lebih kecil dan berdinding tipis yang disebut kapiler. Di kapiler, oksigen berpindah dari darah ke dalam sel-sel tubuh. Kemudian vena membawa kembali darah yang sudah terdeoksigenasi ke jantung. Keren ya. Mereka kerja sangat on time dan engga pernah delay satu detikpun. Kalau telat, akan terjadi stroke. Sistem terganggu. Hanya masalah waktu kita dipanggil Tuhan.

Kalau energi pada sistem diluar tubuh kita berasal dari listrik. Nah tubuh kita darimana ? Ya dari makanan. Makanan yang kita konsumsi itu kita bakar di dalam tubuh dengan reaksi respirasi. Hebatnya pada sel yang berjumah 30-40 triliun itu masing masing terjadi respirasi atau lebih tepatnya di mitokondria untuk menghasilkan energi. Energi itu bukan hanya untuk memompa darah tetapi juga untuk memecah rantai ikatan kimia, membentuk molekul, menggerakan otot rangka. 

Mau tahu berapa satuan besar energi itu ? Setara 100 watt listrik. Untuk menghasilkan daya listrik 100 watt itu diperlukan makanan sebanyak 2000 kalori sehari atau takaran makan orang diet. Makanan itu tidak akan tercipta tanpa energi matahari yang melahirkan proses photosintesa.

Sehebat apapun manusia bisa membuat roket pendorong pesawat ruang angkasa, tidak ada artinya dibandingkan kekuatan dorong jantung memompa darah. Sehebat apapun manusia membuat sistem logistik berbasis IT pada seluruh penduduk planet, belum secuil kehebatan logistik tubuh manusia yang melayani 30-40 triliun sel. Sehebat apapun manusia bisa menciptakan energi listrik namun daya efektifnya hanya secuil dari energi yang dihasilkan tubuh manusia. Keren ya Tuhan mendesain tubuh kita begitu sempurna. “ Kata Udin. Semua temannya terdiam. 

“ Jadi saudaraku..janganlah silau dengan dunia. Orang bijak berkata “ Jangan melihat keluar tetapi melihatlah ke dalam. Melihat keluar kelua jadi orang buta, dan pasti tersesat. Melihat kedalam kalian tercerahkan. Pandai pandailah bersukur kepada Tuhan. Tuhan engga minta banyak. Tuhan hanya ingin kita jadi orang baik menyayangi  sesama. Kemajuan tekhnologi itu jangan dikutuki tetapi justru semakin memperkuat iman kita. Bahwa kekuasaan Tuhan itu nyata adanya” Kata Udin.

“ Hebat kau Din, Dari mana kau tahu itu semua?Kata Bandi.

“ Dulu di Madrasah Aliyah aku belajar Pengetahuan Alam. Dari sanalah aku tahu.” Kata Udin.

“ Udin, tak salah aku berteman dengan kau Din. Kau jadi pembela agama dan Tauhid. “ Kata Sukri, kemudian dia melotot kepada Bandi. “ Paham! Jangan terlalu bangga dengan ilmu dunia. Tak secuil dengan llmu Allah. Jadi mari mengaji di masjidku” lanjut Sukri.

“ Kalau mengaji ketempat kau, kami makin pandir, Sukri. “ Kata Dulah


***

“ Mengapa sekarang orang tidak suka suara keras Toa masjid. Tadinya tidak pernah dipermasalahkan. Hanya di era Jokowi, Toa dipermasalahkan.” Kata Sukri waktu di Lapau. Wajahnya nampak kesal. 

“ Ya lama lama orang yang tidak suka juga bisa protes. Wajarlah. “ Kata Mahmud, “ Akupun terganggu.  Itu tadarusan pakai toa lagi. Gimana kita mau istirahat.” 

“ Yang terganggu itu orang yang munafik. Di bibirnya islam, tetapi sebenarnya musuh islam” Kata Sukri.

“ Eh enak sekali kau bilang aku musuhi islam. Jangan mentang mentang kau pakai baju gamis dan berjanggut, semua orang yang berbeda, kau anggap musuh islam” 

“ Lantas apa lagi julukan yang pantas. Sudah jelas memeriahkan masjid itu harus pakai Toa.  Kau tak suka itu.”  Sukri. Udin diam saja. Tak mau ikut berdebat. Tetapi karena sudah mengarah kepada bertengkar Udin berusaha melerai.

“ Sukri, jangan mudah sekali kau tersinggung. Sabar. Kalaulah Nabi mensiarkan islam seperti kau ini tidak ada yang mau masuk islam. Maklumi keluhan orang dari sisi orang lain. Jangan dari sisi kau.”  Kata Udin.

“ Eh kau bela lagi. AKu sedang memperjuangkan syariat islam, sementara kau bela mereka yang anti islam.” Kata Sukri geram.

“ Dalam islam tidak ada syariat untuk Toa. Bahkan suara Azan itu bukan ashlun min ushuluddin, bukan pokok-pokok ajaran agama . Apalagi pakai Toa.” Kata Udin.

“ Nah dengar itu Sukri. Jangan semua kau angga syariah.  Rusak cerita jadinya. “ Kata Dulah. Sukri terdiam

“ Bagaimana dengan di Arab, Din ? Tanya Dulah.

“ Yang kudengar dari Datuk Darwis, Sejak 2015 silam Kementerian Agama Islam di Arab Saudi melarang masjid menggunakan pengeras suara di bagian luar, kecuali untuk adzan, sholat Jumat, sholat Idul Fitri dan Idul Adha, serta sholat minta hujan. Jadi tidak untuk sholat lima waktu. Bahkan selain masjidill Haram dan Masjid Nabawi, semua masjid harus lepas Toa nya. “

“ Kenapa Din?

“ Karena banyak keluhan warga ihwal volume pengeras suara yang terlalu besar.” Kata Udin

“ Wah baru tahu kita. “ kata Mahmud.

“ Apa dalilnya melarang pakai Toa? Tanya Sukri.

“ Dalam hadith yang dirawikan Abu Dawud, bahwa Rasulullah SAW melakukan itikaf di masjid. Di tengah itikaf ia mendengar jamaah  membaca Al-Quran dengan lantang. Rasulullah kemudian menyingkap tirai dan berkata, ‘Ketahuilah, setiap kamu bermunajat kepada Tuhan. Jangan sebagian kamu menyakiti sebagian yang lain. Jangan juga sebagian kamu meninggikan atas sebagian lainnya dalam membaca. Paham ya Sukri. “ Kata Udin.

“ Tapi Toa itu syiar islam” Kata Sukri.

“ Syiar yang baik itu bukan dengan suara keras tetapi dengan perbuatan cinta, menjaga perasaan orang lain dan saling berbagi.” Kata Udin. Semua tersenyum. Sukti terdiam dengan wajah masam


***

 Din, apa bisa bantu? Tanya Sukri waktu ketemu Udin di jalan. 

“ Bantu apa ? 

“ Aku mau tambah istri. “

“ Emang kenapa istri kau sekarang ? Sakit ? Tanya Udin 

“ Bukan. Dia sehat dan sayang aku”

“ Jadi kenapa mau nikah lagi ?

“ Mau melaksanakan sunah rasul”

“ Maksud kau ?

“ Selama ini kan aku menafkahi istri dengan pendapatan amilin ormas dan uang ceramah dan ngajar ngaji di masjid. Itu lebih dari cukup untuk dua istri, tigapun bisa”

“ Oh hanya karena itu alasannya?

“ bukan itu aja Din. Aku mau punya istri yang putih. Ya seperti  si Upik istri kau “ kata Sukri dengan wajah malu. 

“ Eh sudah dua istri kau punya, istrikupun kau lirik juga! “ Udin emosi. 

“ Aku engga lirik. Aku bilang aku ingin punya istri seperti si Upik putihnya . Jangan cepat tersinggung kau! 

“ Terus,  kau bilang burung kau tak lagi berkicau karena gula darah. Kenapa mau tambah lagi?

“ Itulah masalahnya. Burung tak berkicau tapi birahi terus meningkat, apalagi lihat perempuan putih. Dari pada aku berzina mata terus, kan lebih baik aku nikah lagi. Cari yang putih. “

“ Kalau istri kau engga setuju?

“ Ya kalau udah pasti dapat perempuan putih yang mau jadi istriku, ya kalau Istri engga setuju aku nikah lagi ya aku ceraikan.”‘kata Sukri 

“ Kejam sekali kau Sukri “

“ Aku engga kejam. Itu perintah agama. Ceraikan istri yang tidak patuh. “

“ Sukri, nafsu itu cobaan kita. Nafsu adalah musuh kita yang paling besar. Perang melawan nafsu adalah perang akbar sepanjang usia. Jadi jangan kau turutkan nafsu dengan dalih mengikuti sunah nabi. Apalagi dengan dalih menghindari zina. Jangan. Saranku, lupakan soal wanita putih. Putih atau hitam itu engga penting. Yang penting istri sayang kita. “

“ Ah sudahlah. Kau memang begitu. Tak suka lihat aku senang


***

“ Bencana dan musibah itu karena Allah murka.” kata Sukri dengan nada geram di lapau. Entah apa yang membuat dia geram. Yang jelas teman temannya diam saja. Sudah maklum sifatnya. 

“ Liatlah akan terus ada bencana datang kalau rezim thogut ini masih bertahan” Kata Sukri, dan teman temannya melihat kearah dia “ Ada apa kau, Sukri? tanya Dulah. “ Kapan kau tidak kesal. Cobalah sehari saja kau damai. Pasti bertambah muda kau” Kata Dulah.

“ Orang orang seperti Udin yang membuat rezim sekarang tidak merasa bersalah. Penat kita ingatkan, tetapi selalu dibela oleh orang semacam Udin” kata Sukri.

“ Sukri, yang benar dan salah itu sudah jelas. Tapi karena politik, yang salah jadi benar dan benar jadi salah. Termasuk kalau agama masuk ke politik, tak ada bedanya. Agama dipermainkan untuk mencari cari kesalahan dan melakukan pembenaran.” Kata Udin

“ Apakah bencana itu bukan bukti murka Allah.”

“ Pahami AL Quran Surat Al Baqarah 156. Disitu kita diminta untuk sabar dan tawakal. Kasih Tuhan itu lebih dulu dari murkaNYA. Artinya dibalik musibah itu ada pesan cinta dan kasih dari Allah.  Mengapa kita harus berburuk sangka kepada Allah, saudaraku.”

“ Kenapa Din? tanya Mahmud.

“ Karena mengapa bencana itu terjadi, kita tidak tahu pastinya. Kita haya menduga duga saja. Tugas kita adalah mendapatkan hikmat dari peristiwa iagar kita lebih bersabar dan semakin berserah diri kepada Allah. Karena bisa saja itu terjadi pada kita. “

“ Ya makanya ubahlah cepat sistem negara ke khalifah islam, agar bencana tidak ada.” Kata Sukri tegas.
“ Sukri, bicara politik yang kau banggakan.  Cobalah perhatikan. DI Suriah itu semua mahzab melawan rezim Bashar. Dari Suni, Salafi, wahabi, ISIS, IM, bersatu. Kalah juga. Bahshar tetap berkuasa sampai sekarang. Justru yang jadi pengungsi dan pecundang adalah pendukung ISIS, Suni, Wahabi dll. Kalaulah benar gerakan politik mereka itu di ridhoi Allah, mengapa kalah? Pahami dengan hati bersih, saudaraku.” Kata Udin.

“ Mengapa mereka kalah? apakah islam yang mereka perjuangkan salah ? Tanya Mahmud.

“ Islam sebagai agama itu bersih dan suci. Tetapi niat umatnya  beragama belum tentu bersih. Apalagi kalau sudah membawa agama dalam politik kekuasaan, itu pasti korup. Kurang apa sejarah membuka kita. Usmaniah berkuasa 100 tahun. Tumbang karena korup. Abassiah juga tumbang karena rakus. Turki usmani juga tumbang karena korup. Masih mau ditambah lagi sejarah itu? Ya itu sama saja kita dengan Kabau. ” Kata Udin seraya menyeruput kopinya.

“ Ah sudahlah Din. Pandai kali kau cerita bela Jokowi.” Sukri geram.

“ Aku tidak bela Jokowi. Aku coba membuka pikiran kau. Cobalah kau lihat kehidupan tokoh agama yang berpolitik di partai maupun di ormas. Semua hidup mereka bergelimang harta. Nah daripada kau sibuk urus dakwah, hanya jadi hulubalag mereka saja , mengapa kau tidak ikuti nasehat ayah si habibah untuk kelola tokonya. Kau bisa berharga.  Daripada sekarang yang hanya hidup dari amilin sedekah orang banyak.” Kata Udin.

“ Diam kau, Din. Tidak usah nasehati aku. Urus saja dagangan sempak kau.” kata Sukri, teman temannya hanya tersenyum


***

“ Takutlah kepada Allah. Jangan berbuat maksiat. Kalian langgar itu, kalian masuk neraka. Kalian patuhi itu, kalian masuk sorga ” kata Sukri di lapau. Semua tersenyum.

“ Bagaimana pendapat kau Din? Tanya Mahmud.

“ Kalau orang beragama karena rasa takut. Itu boleh saja.  T etapi aku beragama karena cinta. “ kata Udin. 

“ Eh sejak kapan islam itu agama Cinta.? jangan ngarang kau Din.” Kata sukri.

“ Jadi gimana dengan sorga dan neraka Din?

“ konsep sorga dan neraka itu konsep paling terbelakang dalam beragama. Secara metodik, konsep sorga neraka ini lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Sangat mudah membuat orang terjangkit wabah ‘neurosis’; hidup dalam fatamorgana, ingin mati sahid agar dapat sorga dengan cara mudah. Lemah etos kerja, lemah berkompetisi. Dampak lebih buruk adalah kehilangan kemuliaan dia sebagai manusia, mahluk berakal, yang punya kebebasan berpikir dan hati.”

“ Jadi bagaimana seharusnya konsep sorga neraka itu? tanya Dulah

“ Konsep sorga neraka itu bukanlah “tempat”. Tetapi itu dipahami sebagai “kondisi”, dan itu bukan hanya di akhirat tetapi juga di dunia. “ Kata Udin.

“ Apa itu? kejar Mahmud.

“ Sorga itu di mana kondisi kita sangat dekat dengan Tuhan. Kondisi yang selalu prasangka baik dan berpikir dan berbuat hal yang positip. Karenanya, hidup kita jadi nyaman dan aman. Apapun nasip kita. “

“ Kalau neraka gimana ?Kata Dulah.

“ Sedangkan neraka itu dimana kondisi kita sangat jauh dengan Tuhan. Selalu berprasangka buruk. Berpikir dan bersikap serta berbuat hal yang negatif. Ya, semua hal dibuat negatif. Memang faktanya secara kejiwaan, apapun entah kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, tetap tidak nyaman apabila jauh dari Tuhan.

“ Jadi apa kesimpulannya. Cepat sajalah, Tak usah berputar putar jawaban kau Din.” Kata Sukri.

“ Nah, bila di dunia sudah menemukan sorga, hidup bahagia lahir batin, penuh ikhlas maka dalam kehidupan dimensi akhirat akan sama saja. Soal “tempat” engga penting lagi. Begitupula bila di dunia merasakan neraka, maka di akhirat tidak akan jauh beda. Karena perpindahan dari dunia ke akhirat hanyalah perubahan dimensi ruang waktu. Sementara Tuhan, Sang Pencipta kan tidak berubah. Tuhan tetap dan abadi dalam ujudnya yang tak terdefinisikan. “

“ Gimana cara terbaik dan mudah melatih menciptakan sorga? Kata Dulah.

“Ya di rumah tangga. Menikahlah. Kalau bahagia, maka separuh sorga sudah ditangan kita. Selebihnya bagaimana kita bisa berguna bagi orang banyak, setidaknya berbakti kepada kedua orang tua.” Kata Udin.

“Soal sorga, sebaiknya  kau baca Kitab Hadil-Arwah, penulisnya Ibnu Qayyim . Buku itu ditulis dari tradisi ahli hadis, sehingga mayoritas hal yang ditulisnya memiliki landasan tekstual yang cukup ketat. Sebagian besar isi kitab Hadil-Arwah itu memang berupa nukilan ayat dan hadis. Jadi tidak seenaknya kau bicara konsep soal Sorga “ kata Sukri.

“ Ah itu kitab  kita di madrasah dulu. Tentulah pernah baca kitab itu. Namun kalau pelajari dengan seksama, semua itu bukanlah ujud dari sorga sesungguhnya . Itu hanyalah gambaran dalam bentuk contoh perumpamaan. Makanya nilaiku waktu kajian kitab itu 10, dan kau dapat 5 kan Sukri. Aku tidak pernah lupa itu. Kita kan satu sekolah. Sukri “ kata Udin 

“ Mantap Din. Kalau orang masih sibuk bahas sorga neraka, bahas orang lain,  sibuk beghibah, sibuk mengkafirkan orang lain. Sibuk merasa paling benar dan pantas masuk sorga. Itu artinya dia tidak ada sorga di rumah dan pasti diluar rumah hidupnya meradang terus karena kantongnya kempes. Hidup terasa seperti di neraka.” Kata Dulah.

“ Ah kau Dulah. Bisa apa kau? Jaga muncung kau.”  Kata sukri


***

“ Din, saya marah sama orang yang merendahkan islam di sosmed. mengapa mereka terus mengejek keyakinan kita beragama” Kata Sukri dengan sorot mata marah. Itu sampaikannya kepada teman temanya ketika jalan ke lapau. Apalagi ceramah setelah sholat tarawih itu sangat keras mengecam berbagai kebijakan Jokowi.

“ Ah tidak ada yang menyerang islam sebagai agama. Kalau ada yang membuat kau tersinggung itu karena persepsi beragama kau sudah masuk ke ranah politik. Ya jelas saja terkesan marah dan tidak suka kepada mereka yang berbeda. Itu aku maklumi. “ Kata Udin.

“ Apa kau sendiri ragu?  bahwa tegaknya syariah islam adalah kunci  kemakmuran dan berkurangnya kemaksiatan.” Kata Sukri. Teman temannya melihat ke Udin.

“ Aku tidak meragukan soal syariah islam. Tetapi kalau masuk ke politik, itu terlalu utopia. Cobalah liat data BPS Provinsi Aceh tahun lalu. Aceh merupakan daerah termiskin di Sumatera. Kalau secara nasional, Aceh berada di urutan ke-6 termiskin.” Kata Udin.

“ Eh kenapa Din?  Bagaimana mungkin Provinsi yang kaya SDA dan berjalan diatas hukum Syariah, tetapi tak mampu meningkatkan kesejahteraan Rakyat. “ Tanya Bandi. 

“Ya Dulu Aceh ngotot ingin ada UU khusus Aceh yang berhak melaksanakan hukum syariah dengan tujuan agar kehidupan keagamaan bisa menjadi kekuatan untuk menjadikan Aceh makmur dibandingkan daerah lain. Tetapi mengapa lebih 10 tahun penerapan hukum Syariah malah membuat Aceh semakin mundur? Kata Dulah.

“ Ya, Aceh berbanding terbalik dengan Bali yang mayoritas beragama Hindu. Walau Bali tidak menerapkan UU khusus agama Hindu, namun budaya masyarakat Bali yang merupakan ajaran Hindu, mampu mensejahterakan rakyatnya dengan tingkat kemiskinan terendah nomor dua di Indonesia. Padahal Bali tidak punya kebun sawit seluas Aceh. Tidak punya lapangan Gas seperti di Aceh. Secara nasional tingkat korupsi Bali adalah nomor 4 terendah di Indonesia. Sementara, menurut KPK, Aceh menempati urutan pertama tingkat korupsi tertinggi disamping  Sumatera Utara, Riau, Banten, Papua dan Papua Barat.” Kata Mahmud.

“ Dulu waktu Anies kampanye Pilgub DKI, orang berharap bila Jakarta dipimpin oleh orang yang direstui Ulama, akan menjadikan Jakarta bersyariah, keadilan dan kemakmuran terjadi. Setidaknya angka kemiskinan jakarta dapat diturunkan lebih banyak dibadingkan daerah lain. Tetapi apa yang terjadi? Walau Jakarta termasuk daerah terendah angka kemiskinan, ya maklum 60% uang RI beredar di DKI secara nasional, namun berdasarkan data BPS per 15 Januari 2020 dalam hal angka penurunan kemiskian kalah dengan Jawa Tengah yang dipimpin oleh Kader PDIP. Bahkan Jawa Tengah mendapat record provinsi paling banyak jumlah penurunan kemiskinan dibandingkan 33 provinsi lain se-Indonesia.” Kata Mahmud. 

“ Eh mengapa kalian semua serang aku.Sudah jadi penjilat pantat jokowi semua kalian?  Sukri marah. 

“ Sukri, mereka ungkapkan data tersebut, tak lain hanya ingin menyimpulkan secara sederhana. Bahwa kemakmuran suatu wilayah tidak ditentukan oleh sistem syariah atau tidak. Tidak ditentukan pemimpinnya direstui ulama atau tidak. Tidak ditentukan oleh hebatnya dalam hal retorika agama. Tetapi ditentukan oleh  akhlak atau sikap mental dari pemimpin dan rakyatnya sendiri.  Agama dalam dimensi politik , pada umumnya tidak ubahnya dengan idiologi sekular yang tujuannya hanyalah mengejar kekuasaan, bukan mengejar nilai nilai agama. “ Kata Udin. 

“ Jadi bagaimana seharusnya Din?

“ Ya, yang harus diperjuangkan itu bukan mengubah sistem dari sekular ke syariah atau sebaliknya. Tetapi perubahan mental dari korup menjadi amanah. Dari pemalas, menjadi pekerja keras dengan passion tinggi. Dari pengeluh menjadi berpikir positip. Dari lemah bersaing menjadi kreatif. Mau islam, hindu, budha, kristen, katolik atau idiologi sekular atau agamais,  pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana kita mampu  bekerja keras, amanah, kreatif, dan punya passion tinggi untuk bersaing. 

Kalian boleh berkata agama kalian hebat. Idiologi sekular kalian hebat. Tetapi orang lain engga paham kehebatan itu, kecuali mereka melihat apa yang kalian perbuat. Samahalnya Anies boleh berkata dia hebat dalam hal konsep tetapi orang menilainya dari perbuatannya. Kalau orang kritiik bukan mengkritik agamanya tetapi perbuatannya, yang memang hanya omong doang.” Kata Udin berusaha mencerahkan.

“ Ah kau Din, termasuk berdosa besar merendahkan ulama. “ Kata Sukri. Udin tersenyum.


***

Di lapau Sukri sedang asyik meyakinkan teman temannya tentang sejarah Pancasila . “ Oh kalau begitu, Pancasila itu hanya di peruntukan untuk umat islam.Ya Kri? Tanya Dulah. Sukri mengangguk senang. Karena Dulah paham penjelasannya.  

" Kenapa kau iya kan Sukri. Itu jelas salah. “ Kata Udin yang baru saja masuk Lapau. 

" Eh jangan belagak ngerti kau Din. Tuhan yang maha Esa itu kan artinya Tuhan Maha Satu. Agama lain kan Tuhannya banyak. Paham kau? “ kata Sukri.

" ESA kan bukan Eka. Kalau satu dalam bahasa sansekerta adalah EKA. "Kata Udin. 

" Jadi artinya apa ESA itu ? Tanya Mahmud.

" Dalam bahasa sansekerta , itu hanya kata keterangan menjelaskan kata di depannya . Contoh Tuhan yang Maha Esa. Itu artinya Tuhan yang, semacam itu"  Kata Udin.

" Tak paham aku, Din! Dalam Islam, Tuhan itu satu. Baca surat AL ikhlas ? Kata Sukri.

“ Dalam surat Ak ikhlas, Tuhan tidak mendefinisikan siapa dia. Tetapi membedakan dia dengan makhluk”

“ Yang dimaksud Tuhan yang maha esa itu apa ? Kata Dulah.

" Ya, Tuhan semacam Tuhannya orang Islam atau Kristen , atau Katolik, atau Hindu, atau Buddha, atau Kong Hu Cu" kata Udin 

" Kenapa Esa bisa berarti macam macam begitu ?  Aneh kalau dengar penjelasan kau. “ kata Bandi.

" Tuhan tidak bermacam macam. Yang macam macam itu pemahaman tentang Tuhan." Udin mencerahkan.

" Mengapa ?  Sela Dulah 

" Karena Tuhan itu sesuatu yang tak bisa dilihat. Tak ada definisi yang pasti. Tuhan hanya ada untuk diimani saja. Nah , masing masing agama itu lahir dengan jarak rentang waktu ratusan tahun. Makanya wajar kalau terjadi pebedaan sebutan dan pengertian tentang Tuhan. Namun bagi semua agama, hakikat tentang Tuhan sama.." Kata Udin 

" Ya. Walau berat untuk dipahami tapi sekarang aku paham kalau ESA itu bukan EKA. Hanya orang bego yang bilang ESA itu EKA." Kata Dulah.

“ Hati hati muncung kau Dulah. Udin belum tentu benar. Jangan pula kau simpulkan aku bego 


***

“Kadang aku kasihan. Kalau meliat orang tahlilan di tempat orang kematian. Itu jelas bida’ah. Setiap yang bida’ah itu sesat “ kata Sukri waktu di Lapau.

“ Bisa jelaskan dalilnya” Kata Mahmud.

“  Mengada adakan yang tidak dilakukan Nabi. Itu bid’ah. “ Kata sukri menjawab pertanyaan Mahmud.

“ Setiap yang membuat hukum sendiri itu lebih sesat “ kata Udin nyeletuk.

“ Kau sindir aku din? Apa kau kira aku asal bicara ?  Kata Sukri tersinggung.

“ Aku tidak sindir kau.”

“ aku tanya, menurut kau tahlilan di tempat orang mati, bid’ah atau tidak “ Kata Sukri

“ aku tanya balik. Apakah Membaca AL Quran, Yasin itu bid’ah ? Tanya Udin.

“ Baca AL Quran tidak bida’ah. Tetapi membaca AL Quran di tempat orang kematian itu bida’ah”

“ Apakah ada hadith dan Alquran menentukan tempat larangan membaca AL Quran ? Tanya Udin.

“ Ya tidak ada” kata Sukri tegas 

“ Kalau begitu mengapa di bilang bida’ah tahlilan ? Tanya Udin lagi 

“ Masalahnya tradisi tahlilan itu tidak ada zaman Nabi” kata Sukri berdalil. 

“ Apakah ada ceramah di YouTube di zaman Nabi ? Tanya Udin lagi. 

“‘tidak ada. “

“ Mengapa tidak dibilang caramah di YouTube itu bida’ah ? Bukankah tradisi itu tidak ada di zaman Nabi”

“ Duh pening kapalaku. Mengapa kau putar putar aku dengan pertanyaan. Kutanya kau balik tanya. “ kata Sukri gebrak meja. 

“ baiklah Din. Pendapat kau sendiri gimana ? Apa boleh tahlilan ditempat orang mati” tanya Dulah.

“ Pendapatku, ya boleh. Baca Alquran kok dilarang? Aneh!. Membaca AL Quran ditempat orang kematian bisa meningkatkan keimanan bagi yang ditinggalkan dan kita yang datang bisa mendapatkan hikmah tentang kematian pasti menjemput. Apakah ada hikmah yang lebih baik daripada pesan kematian? Hanya orang dungu yang tak bisa paham” kata Udin.

“ ah sudahlah Din. Kau sok paham agama. Padahal kau bukan ulama. Kau hanya pedagang sempak. “ kata Sukri 

“ apa urusanku dengan ulama? Kalau aku mati, Tuhan tidak tanya siapa ulamaku. Setiap orang menanggung dosa sendiri sendiri. Kalau salah karena salah ngaji, ya tanggung sendiri. Makanya gunakan akal. Jangan mudah ikut apa kata ustad” kata Udin seraya membayar minuman dan pergi dari lapau. Sukri meradang marah. Apalagi temannya sudah terpengaruh dengan kata kata Udin


***

“ Pemerintah ini sudah gagal. Korupsi dan kemaksiatan terus terjadi. Solusinya hanya kalifah “ Kata Sukri dengan geram. 

“ Rakyat juga korup dan melakukan maksiat. “ kata Udin nyeletuk ketika mereka sedang asik di Lapau.

“ Rakyat apa yang kau maksud. Kami ? Aku? atau kau ?

“ Yang jelas aku. Kuambil sebagian ruas jalan untuk dagang kaki lima. Itu sama saja dengan korupsi. Kau, Sukri, kau amilin Masjid dan Yayasan. Apakah kau jujur melaporkan pendapatan sadakah ke BAZIZ? 

“ Jujur, Pasti jujur. “ kata Sukri. 

“ Lantas darimana kau biayai dua istri kau ? dagang engga? kerja engga ? 

“ Jangan fitnah kau, Din. !!” teriak Sukri.

“ Aku tidak fitnah. Aku hanya tanya. Kalau memang jujur ya sudah. “ Kata Udin

“ Dan kau Dulah. Padahal kau bukan petani. .Tapi keluarga kau ada yang kerja di pemda, kau dapat jatah pupuk. Jatah itu  kau jual ke orang.  Uang itu kau pakai untuk memanjakan keluarga. Kau, Mahmud, kau tukang bangunan. Udah kenyang kau makan semen dan pasir.  Lihatlah perut kau terus buncit. Semua anakmu punya motor. Kalau mau dicari cari, kalian semua yang ada diruangan ini pasti korup. “ Kata Udin tersenyum seraya menyeruput kopi.

“ Eh tidak semua rakyat Korup. “ kata Mahmud.

“ Benar. Tentu tidak semua pejabat pemerintah itu korupsi. Ada juga orang baik. Jadi engga bisa dijadikan alasan korupsi dan khalifah solusinya.”

“ Jadi dimana salahnya? Kata Bandi. “ Coba aku mendengar alasan Udin.” Lanjut Bandi yang dikenal terpelajar.

“ Ya karena Setan tidak Tuhan musnahkan. Selagi setan tetap ada, jahat dan baik akan selalu bersanding sampai hari kiamat. Itu juga jadi ujian bagi orang beriman. Agar focus kepada diri sendiri, memperbaiki diri terus. Jangan sibukan diri urus yang bukan urusan kita. “ Kata Udin bijak. Semua mengangguk.

Udin dan sukri pulang. Mereka jalan bersama. “ Din, kau sahabatku dari kecil. Bisa bantu aku”  Kata Sukri. 

“ Kapan aku tidak bantu kau, Sukri.”

“ Din, aku kan ada gula. “

“ Ya tahu. Terus kenapa? ”

“Kata dokter, burungku tak bisa berkokok karena gula darahku. Bagaimana caranya membuat istriku senang.” 

“ Gunakan lidah kau. “ Kata Udin. 

“ Apa engga haram Din.”

“ Setiap yang Allah ciptakan itu walau ada yang diharamkan, akan halal  kalau dalam keadaan darurat.”

“ Oh gitu din. Terimakasih.”


***

“ Mengapa orang kafir itu engga juga insyaf? Apakah mereka tidak takut masuk neraka?. “Kata Sukri waktu di Lapau. 

Udin tertawa kencang. 

“ Eh kenapa kau Din. ? Sukri bingung. “ Kau ejek aku ? 

“ Aku tidak ejek kau Sukri. Aku tertawa karena kau sedang mempertanyakan hak Allah. “ 

“ Kenapa kau berkata begitu. ?  Bukankah islam itu agama yang diridhoi Allah. Pasti benar.” 

“ Benar. “

“ Terus kenapa kau tertawa.” Sukri mengerutkan kening.

“ Karena agama lain juga benar kata pemeluknya” Kata Udin tersenyum.

“ Ah bisanya kau.  Tak jelas aqidah kau, Din.” Sukti mencibir.

“ Dengar ya Sukri. Engga ada manusia yang berhak menentukan seseorang itu agamanya apa. Dan juga tidak ada hak manusia mempertanyakan keimanan orang lain.” 

“ Mengapa, Din ? kata Mahmud.

“ Karena yang tahu kualitas iman seseorang hanya Allah. Kalau manusia merasa mampu menilai keimanan seseorang maka dia sudah jadi Tuhan atau ingin kudeta Tuhan. Apalagi hanya mengandalkan hal yang tampak, lantas punya hak mengadili keimanan orang lain. Itu lebih sesat  daripada setan.” Kata Udin. Sukri melotot. Namun belum sempat dia mau berkata, Mahmud sudah bertanya lebih dulu “ Jadi agama itu apa Din?

“ Agama itu bukan tujuan tapi metodelogi manusia mencapai Tuhan. Yang namanya metodelogi itu tergantung orang masing masing dan Tuhan lebih tahu mengapa orang itu memilih agama yang dianutnya. Kalau dianalogikan agama itu adalah kendaraan menuju Jawa. Ada yang suka bus ,ya silahkan. Ada yang suka naik pesawat ya silahkan. Ada yang suka naik kapal, ya silahkan. Bahkan ada yang mau naik sepeda , ya silahkan. Itu tidak perlu diperdebatkan. Masalahnya menjadi lain kalau engga berangkat berangkat. Hanya memelototi kendaraan tanpa ada kemauan naik.” Kata Udin.

“ Maksud kau apa ? Sukri sewot.

“ Agama itu bukan retorika tapi perbuatan. Kalau metodelogi hanya selesai dalam retorika dan hapalan, maka ia hanya jadi dongen anak Balita. “ Kata Udin.

“ Kan setiap agama berbeda beda. Kenapa semua sama.? Kata Mahmud.

“ Ya jelas beda. Namun hakikatnya sama. Sama sama mendekatkan diri kepada Tuhan lewat perbuatan. Ukuranya ikhlas” 

“ Kalau engga ikhlas gimana? Tanya Dulah.

‘ Itu pamrih. Berharap sorga. Agama jadi motive mencari uang mudah. Semakin banyak kotbah, semakin banyak berkoar, semakin jauh dari perbuatan. Hasilnya hanya omong kosong.”

“ Yeh. Mengapa ? Tanya Sukri.

“ Kau bisa saja bicara Nabi itu hebat, ya itu Nabi, bukan kau. Kau bisa saja bilang Kitab Mulia itu hebat, ya itu Kata Allah, bukan kau. Lah kau siapa ? Nothing kalau tidak berguna bagi orang lain. “Kata Udin.

Mereka semua terdiam. “ Terlalu tinggi ilmu kau, Din. “Kata Bandi.

“ Saudaraku, memahami hakikat Tuhan sebagai hal yang transenden dan agama sebagai  metodelogi, akan menempatkan kita pada ruang: antara kita dan Tuhan saja. Tida ada lagi simbol agama, pengharapan sorga atau takut neraka. Tidak ada. Kita akan sibuk berbuat dan berbagi memastikan orang terdekat merapat dan yang jauh mendekat. Agar bumi ini tempat yang damai bagi siapa saja, agama apa saja, etnis apa saja. Karena semua manusia berasal dari Tuhan yang sama. Paham ya saudaraku.” Kata Udin.

“ Jangan dengar omongan si Udin pedagang sempak. Sesat nanti kalian.” Kata Sukri melotot kepada Dulah, Mahmud dan Bandi. Mereka semua tersenyum


***

 Sukri mengapa kau  terus merepet soal haramnya Miras? Suka suka orang lah. Yang penting engga ganggu kau. Udin pula kau singgung. “ kata Dulah.  

“ Udin itu berteman dengan babah afin yang suka minum bir. “ kata Sukri. Jangan jangan diapun ikut minum bir. “ lanjut sukri. 

“ Aku tiada mau berdebat soal haram  itu. Pasti tidak akan  ada ujungnya. Dan akhirnya bertengkar. Apapun itu, bahkan soal agama kalau kita bertengkar, yang kita dapat bukan pahala tapi dosa. Padahal tidak ada yang 100% benar. Tidak juga ada yang salah. “

“ Baiklah. Apa keyakinan kau soal miras itu.” Desak Dulah 

“ Di Islam pemahaman agama itu berdasarkan Mahzab.  Fatwa Syekh Yusuf Qardhawi tentang minuman berenergi yang mengeluarkan fermentasi 0,5 persen boleh diminum. Dia bermazab Hanafi.”

“ Maksud kau Din? Teriak Sukri 

“ Kalau tidak memabukkan, ya tiada  apa-apalah. Kecuali sesuatu yang sudah qoth'i atau sesuatu yang sudah pasti hukumnya dalam Al quran dan hadist. Bahkan Hanafi, bilang, bir dan arak itu bisa untuk wudhu atau mandi junub. Mau bungkam mulut Syekh Yusuf Qardhaw? Ya tak  bisa. Dia menganut mahzab Hanafi. Kau yang syafii, itu terserah kau juga. “ kata Udin.

“ Ah mahzab Hanafi memang menggampangkan urusan agama. Mau enaknya saja. “ kata Sukri 

“ Engga juga. Perhatikan urusan zakat. Hanafi sangat ketat. Semua hasil bumi termasuk bayam harus dizakati. Tapi  bagi syafii, oh engga begitu. Yang dizakati itu hanya makanan pokok aja. Enak ya Syafii. Engga enak Hanafi. Bahkan zakat maal, Hanafi sangat ketat. Setiap pendapatan harus dizakati langsung. Kalau kau mendapatkan rezeki Rp 10 juta saat itu harus keluar zakatnya. “ kata Udin. 

“ Syafii gimana Din? Tanya Mahmud.

“ Syafii, oh engga begitu.  Bayar zakatnya tunggu setahun aja ya. Di China suku Hui tidak ada yang miskin. Karena berkat sistem zakat itu distribusi modal terjadi efektif. Akibatnya orang pada makmur semua. Bahkan mereka bingung sekarang. Cari orang yang mau dizakati engga ada. Kebalik dengan yang bermahzab Syafii.” Kata Udin. 

“ Jadi gimana menyikapinya Din ? Tanya Dulah. 

“ Engga usah dipikirin soal perbedaan itu. Masalah fatwa masalah khilafiyah. Itu biasa saja. Suka tidak suka, itu soal pilihan. Mau diberdebatkan, tiada apa. Tapi jangan maksakan kau paling benar. Pemaksaan itu justru anti Al Quran. Paham kalian? Kata Udin.

“ Bagi Udin, selalu ada alasan membenarkan sikapnya. Mana paham dia soal fikih. Dia hanya pedagang sempak.” Kata Sukri. Udin hanya tersenyum. 

“ Kalau aku punya suami sepeti bang Udin, pasti bahagia sekali. Sangat bepaham. Tak seperti uda Sukri“ kata janda  pemilik warung. 

“ Jangan terlalu bermimpi kau Minah. Udin itu takut sama si Upik. Mana berani dia punya istri lebih dari 1. Dia pengecut sama istri “ kata Sukri 

“ aku bukan takut sama istri. Aku takut kepada Allah. Karana kawatir tidak bisa berlaku adil bila beristri lebih dari 1. Aku tidak mau rumah tangga jadi sumber fitnah hanya karena gagal adil. “ kata Udin sambil menyeruput kopinya

***

“ Agama itu fiksi “ kata Bandi waktu di lapau selepas isha. Sukri mendengar itu. Langsung emosi. “ jaga muncung kau, Bandi. Jangan mentang  kau sarjana, seenaknya cakap. Kalau kau pintar, tak mungkin hidup menumpang di rumah mertua”

“ Eh kenapa kasar sekali cakap kau! Bandi Emosi. Merasa terhina. Berdiri mau pukul Sukri. Udin langsung tengahi. “ Kenapa kalian mau berkelahi hanya karana omongan. Sabar. Kita semua teman” 

“ lama lama kesal aku sama Sukri. “Kata bandi dengan mata merah. 

“ Eh akupun muak dengan kau Bandi. “

“ Ya udah. Boleh aku bertanya kepada kau Bandi ? Kata Udin. 

“ silahkan. Aku siap jawab. “ kata Bandi mulai tenang.

“ fakta itu apa menurut kau ?

“ Yang bisa dilihat dan dirasa, diraba dan didengar”

“ Ok. Kita ambil contoh buah jeruk” kata Udin 

“ Nah itu fakta” kata Bandi. Semua taman Udin di lapau menyimak.

“ Warna kulitnya apa? Tanya Udin.

“ kuning kalau lagi masak.” Jawab cepat Bandi.

“ Rasanya?

“ Manis”

“ Kalau dibanting apa yang terdengar?

“ Buk! 

“ Ok. Sekrang aku mau tanya. Kalau kau tidak ada mata, apakah ada warna ? Tanya Udin.

“ Ya engga” Bandi bengong.

“ Artinya warna itu ada pada mata, bukan pada kulit jeruk” Udin simpulkan.

“ Ya”

“ Sekarang, kalau kamu engga ada lidah. Apakah kamu bisa merasakan manis jeruk ?

“ Ya engga “

“ Artinya manis itu ada pada lidah. Bukan pada jeruk”

“ Ya”

“ kalau kamu tidak ada telinga, apakah kamu bisa mendengar suara buk ketika jeruk dibanting?

“ Ya engga “

“ Artinya suara itu bukan dari jeruk tetapi oleh telinga. “

“ Ya”

“ kalau begitu dimana jeruknya? Kata kamu jeruk itu fakta ? Kata Udin tersenyum.

“ Ya ya gimana. “ Bandi tersudut.

“ Baiklah. Mata, telinga, lidah ada semua. Gimana kalau tidak ada fungsi otak, tetap saja tidak akan ada fakta yang kau sebutkan itu”

“ Paham aku. Ujungnya akan sampai nihilisasi”kata Bandi.

“ Tepat. Artinya yang kau  sebut fakta itu ternyata hanya sebuah konsepsi. Contoh tadi konsepsi tentang jeruk  yang manis.”

“ Jadi apa itu fakta ? Tanya  Sukri 

“ fakta tidak ada. Karena kita dan semesta ini buka fakta tetapi konsepsi. “ jawab Udin tersenyum.

“ Lantas siapa yang membuat konsepsi itu? Tanya Dulah 

“ Itulah Tuhan. . “ kata Udin.

“ tetapi kok engga bisa dilihat ? Tanya Bandi.

“ Bagaimana kita bisa lihat. Lah Kita hanya konsep. Bukan eksistensi . Yang bisa melihat hanya  yang eksis. Dialah Tuhan” kata Udin. Semua temannya mengangguk. Hening saling pandang antara Sukri dan Bandi. Udin seruput kopi dan isap rokok gudang merah dalam dalam.


***

“ Din, saya marah sama orang yang merendahkan islam di sosmed. mengapa mereka terus mengejek keyakinan kita beragama” Kata Sukri dengan sorot mata marah. Itu sampaikannya kepada teman temanya ketika jalan ke lapau. Apalagi ceramah setelah sholat tarawih itu sangat keras mengecam berbagai kebijakan Jokowi.

“ Ah tidak ada yang menyerang islam sebagai agama. Kalau ada yang membuat kau tersinggung itu karena persepsi beragama kau sudah masuk ke ranah politik. Ya jelas saja terkesan marah dan tidak suka kepada mereka yang berbeda. Itu aku maklumi. “ Kata Udin.

“ Apa kau sendiri ragu?  bahwa tegaknya syariah islam adalah kunci  kemakmuran dan berkurangnya kemaksiatan.” Kata Sukri. Teman temannya melihat ke Udin.

“ Aku tidak meragukan soal syariah islam. Tetapi kalau masuk ke politik, itu terlalu utopia. Cobalah liat data BPS Provinsi Aceh tahun lalu. Aceh merupakan daerah termiskin di Sumatera. Kalau secara nasional, Aceh berada di urutan ke-6 termiskin.” Kata Udin.

“ Eh kenapa Din?  Bagaimana mungkin Provinsi yang kaya SDA dan berjalan diatas hukum Syariah, tetapi tak mampu meningkatkan kesejahteraan Rakyat. “ Tanya Bandi. 

“Ya Dulu Aceh ngotot ingin ada UU khusus Aceh yang berhak melaksanakan hukum syariah dengan tujuan agar kehidupan keagamaan bisa menjadi kekuatan untuk menjadikan Aceh makmur dibandingkan daerah lain. Tetapi mengapa lebih 10 tahun penerapan hukum Syariah malah membuat Aceh semakin mundur? Kata Dulah.

“ Ya, Aceh berbanding terbalik dengan Bali yang mayoritas beragama Hindu. Walau Bali tidak menerapkan UU khusus agama Hindu, namun budaya masyarakat Bali yang merupakan ajaran Hindu, mampu mensejahterakan rakyatnya dengan tingkat kemiskinan terendah nomor dua di Indonesia. Padahal Bali tidak punya kebun sawit seluas Aceh. Tidak punya lapangan Gas seperti di Aceh. Secara nasional tingkat korupsi Bali adalah nomor 4 terendah di Indonesia. Sementara, menurut KPK, Aceh menempati urutan pertama tingkat korupsi tertinggi disamping  Sumatera Utara, Riau, Banten, Papua dan Papua Barat.” Kata Mahmud.

“ Dulu waktu Anies kampanye Pilgub DKI, orang berharap bila Jakarta dipimpin oleh orang yang direstui Ulama, akan menjadikan Jakarta bersyariah, keadilan dan kemakmuran terjadi. Setidaknya angka kemiskinan jakarta dapat diturunkan lebih banyak dibadingkan daerah lain. Tetapi apa yang terjadi? Walau Jakarta termasuk daerah terendah angka kemiskinan, ya maklum 60% uang RI beredar di DKI secara nasional, namun berdasarkan data BPS per 15 Januari 2020 dalam hal angka penurunan kemiskian kalah dengan Jawa Tengah yang dipimpin oleh Kader PDIP. Bahkan Jawa Tengah mendapat record provinsi paling banyak jumlah penurunan kemiskinan dibandingkan 33 provinsi lain se-Indonesia.” Kata Mahmud. 

“ Eh mengapa kalian semua serang aku.Sudah jadi penjilat pantat jokowi semua kalian?  Sukri marah. 

“ Sukri, mereka ungkapkan data tersebut, tak lain hanya ingin menyimpulkan secara sederhana. Bahwa kemakmuran suatu wilayah tidak ditentukan oleh sistem syariah atau tidak. Tidak ditentukan pemimpinnya direstui ulama atau tidak. Tidak ditentukan oleh hebatnya dalam hal retorika agama. Tetapi ditentukan oleh  akhlak atau sikap mental dari pemimpin dan rakyatnya sendiri.  Agama dalam dimensi politik , pada umumnya tidak ubahnya dengan idiologi sekular yang tujuannya hanyalah mengejar kekuasaan, bukan mengejar nilai nilai agama. “ Kata Udin. 

“ Jadi bagaimana seharusnya Din?

“ Ya, yang harus diperjuangkan itu bukan mengubah sistem dari sekular ke syariah atau sebaliknya. Tetapi perubahan mental dari korup menjadi amanah. Dari pemalas, menjadi pekerja keras dengan passion tinggi. Dari pengeluh menjadi berpikir positip. Dari lemah bersaing menjadi kreatif. Mau islam, hindu, budha, kristen, katolik atau idiologi sekular atau agamais,  pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana kita mampu  bekerja keras, amanah, kreatif, dan punya passion tinggi untuk bersaing. 

Kalian boleh berkata agama kalian hebat. Idiologi sekular kalian hebat. Tetapi orang lain engga paham kehebatan itu, kecuali mereka melihat apa yang kalian perbuat. Samahalnya Anies boleh berkata dia hebat dalam hal konsep tetapi orang menilainya dari perbuatannya. Kalau orang kritiik bukan mengkritik agamanya tetapi perbuatannya, yang memang hanya omong doang.” Kata Udin berusaha mencerahkan.

“ Ah kau Din, termasuk berdosa besar merendahkan ulama. “ Kata Sukri. Udin tersenyum


***

“ Din, sebelum ada perintah Sholat, apakah Nabi Muhammad Sholat?  Tanya Mahmud ketika berangkat ke Lapau dari Masjid selepas sholat tarawih.

“ Ya Sholat. Namun tidak seperti kita Sholat sekarang. Cara ritual juga berbeda.” Kata Udin

“ Berbeda gimana? Tanya Mahmud dengan rasa ingin tahu.

“ Ya engga tahu. Bisa saja beliau mengikuti rasul sebelum beliau.”

“ Seperti ajaran Nabi Isa atau lainnya.” Tanya Dulah.

“ Bisa jadi.” Kata Udin.

“ Makanya kalian itu harus banyak baca. Firman Allah pertama kali adalah Iqra. Itu artinya bacalah. Harus sering baca Al Quran dan hadith”  Kata Sukri.

“ Baca bagaimana, Sukri ? Bukankah waktu pertama wahyu disampaikan, belum ada kitab Al Quran dan hadith. Apanya yang dibaca ? Tanya Mahmud.

“ Itulah masalah kalian. Di suruh membaca, tanya diperbanyak. Engga usah tiru kelakuan si Udin, apa saja dipertanyakan.” Kata sukri kesal.

“ Ya, kita kan orang awam beragama. Bolehlah kita bertanya kepada yang tahu. “ Kata Dulah.

“ Tak penting kalian tahu. Imanin sajalah Al Quran dan hadith itu. Cukup. Paham! Kata Sukri tegas.

“Tak paham aku.” Kata Dulah.

“ Memang manapula kau paham. Otak kau hanya sekolam.” Kata sukri sinis. 

“ Dulah, “ Udin mulai terlibat dalam diskusi “ Iqra itu yang dimaksud adalah agar kita membaca tanda tanda kebesaran Allah. Membaca tanda tanda kehadiran Allah. “ Kata Udin.

“ Bagaimana caranya membaca tanda tanda itu ?

“ caranya? Pertama. lewat perasaan. Kedua, lewat pikiran dan ketiga, pengalaman. Kata Udin

“ Bisa jelaskan ketiga hal itu Din? Tanya Mahmud.

“ Pertama, perasaan adalah bahasa jiwa. Jika kita ingin tahu apa yang benar tentang sesuatu, lihatlah bagaimana perasaan kita terhadap sesuatu itu. Perasaan itu ada di dalam nurani kita. Sakit diorang, sakit pula dikita. Senang diorang, senang dikita. Satu tunjuk jari kepada orang, empat jari kekita. Artinya semakin pintar kita salahkan orang lain,  semakin banyak kita salah.  Rendah hatilah, bijaklah.

Kedua, Membaca lewat pikiran, kita menggunakan media hayalan dan gambaran. Karenanya, pikiran lebih efektif daripada menggunakan kata atau hapalan. Dengan pikiran, Tuhan ajarkan kita mandiri. Ketiga, Pengalaman. Banyak berjalan banyak dilihat. Lama hidup banyak dirasa. Banyak mendegar banyak ilmu. Itu semua adalah Ayat ayat Allah. Biasakanlah membaca itu.”

“ Kau dengar itu sukri” Kata Dulah.  “ Jangan kau paksa orang menghapal Al Quran dan hadith.  Semetara perasaan kau tumpul. Pikiran kau mati. Pengalaman kau, hanya dari surau ke rumah. Paling jauh ke lapau. Angan angan setinggi langit mau dirikan khilafah” Lanjut Dulah.

“ Eh beraninya kau mengadiliku.! “ Bentak Sukri. “ Aku berdakwah agar kalian masuk sorga. Aku sayang kalian. Tak mau aku masuk sorga sendiri” 

“ Dulah, Mahmud, dengar ya. “ Kata Udin serius. “ Setiap orang punya jalan hidup masing masing dan itu soal pilihannya. Engga usah kalian adili sikap orang lain, termasuk sikap Sukri. Apapun orang bersikap, apalagi soal agama, engga usah ditanggapi serius. Itu tidak ada pengaruhnya dengan hidup kalian sendiri. Engga penting dibahas.” 

“ Yag serius apa Din? Kata Sukri sinis.

“ Uang! Tak ada uang nah itu baru masalah. Dengan uang ditangan, yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Cinta terasa indah. Senyuman istri selalu ada. Sholatpun jadi khusu. Berzakat mampu. Pergi hajipun mampu. Sempurnalah rukun islam kita. “ kata Udin tersenyum.
“ Dasar pedagang sempak. Dikepalanya hanya uang, uang” Bentak Sukri.


***

“ Din, apa sih manfaat agama itu?  Tanya Bandi di Lapau.

“ Mengapa kau tanyakan itu ? Kata Udin mengerutkan kening.

“ Karena lihatlah setiap ustad bicara selalu mengatakan islam solusinya kalau ingin makmur dan hidup terhindar dari maksit, negara bebas dari korupsi. Sementara sampai sekarang tidak ada bukti negara islam makmur dan bebas dari maksiat. “ Kata Bandi melirik ke Sukri.

“ Itu tidak cukup alasan mempertanyakan apa manfaatnya agama.” 

“ Maksud aku, Din, bagaimana menempatkan agama dalam membangun peradaban “ Tanya Bandi yang lebih intelek. Udin tersenyum.
“ Ya agama harus diterima sebagai faktor pemadu, menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat. Tapi kalau agama sebagai jalan berpolitik, outputnya adalah kebencian, iri hati, dan fitnah, munafik, anti perbedaan. “

“ Mengapa?
“ Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama. Ia puasa, Sholat, naik haji dsb, tetapi tidak di dalamnya. Imam Al-Ghazali, menyatakan bahwa beragama seperti ini adalah beragama yang ghurur atau tertipu. Tertipu, karena dikira sudah beragama, ternyata belum. Tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang.

“ Lantas apa agama itu sendiri? Tanya Bandi. 

“Akhlak yang baik.” Kata Udin dengan tersenyum.

“ Maksudnya? Tanya Sukri.

“Belum jugakah engkau mengerti? Sebagai misal, janganlah engkau marah, apalagi mudah marah dan tersinggung.” Kata Udin.

" Jadi paham akunya. .Yang bikin rusak nilai nilai islam ini karena agama diselewengkan sebagai narasi politik." Kata Dulah menyimpulkan. 

" Diam, kau Dulah !! Bentak Sukri


***

“ Din, sudah jelas masuk ketempat ibadah agama lain itu haram. Mengapa masih ada saja orang mengatakan boleh. Aku tak ada habis pikir. Kemana aqidah mereka itu.” Kata Sukri waktu di Lapau.

“ Haram itu bagi kita kalau masuk tanpa izin. Misal, kau masuk Gereja   berpakaian jubah putih atau bertopi haji, ya kau harus dapat izin terlebih dahulu dari pengurus Geraja. Kalau mereka tidak izinkan dan kau tetap masuk, nah itu haram“ 

“ Kenapa Din? Tanya Bandi.

“ Ya bisa saja ganggu orang lain yang sedang beribadah. Mereka sedang khusus tahu tahu kita datang,  kan suasana tidak lagi nyaman. Apalagi  masuk dengan niat buruk. “

“ Jadi kalau dapat izin boleh masuk tempat ibadah manapun.” Kata Bandi. 

“ Yaa boleh lah. Di Kudus, jawa Tengah, sebagian korban banjir mengungsi di gereja dan kelenteng. Boleh. Di jakarta timur, Gereja Santo Agustinus, di Kebon Pala dijadikan tempat mengungsi korban banjir. Masih banyak lagi. Pemimpin bergama muslim masuk tempat ibadah non muslim untuk memberikan arahan, ya boleh. Apalagi datang di undang. Apakah semua mereka itu haram?  Kan engga. 

Bahkan kalau Gereja adakan bashar murah, pedagang kecilnya yang jualan lebih banyak orang islam. Apa itu juga haram? Kan tidak. Bahkan bila waktu sholat masuk, tidak ada tempat bersih sholat, daripada sholat di jalan umum, sholat di gereja atau kelenteng jauh lebih baik kalau diizinkan oleh mereka. Janganlah terlalu kecil otak dan hati menafsirkan al quran dan hadith.

“Jangan terlalu kau mudahkan beragama. Dasar pedagang sempak. Dalil nya apa?” Kata Sukri kesal.

“ Kau baca khitap, Ibnu Muflih, Al-Adab Al-Syariyyah, juz 4.  Baca juga khitab, Muhammad bin Khatib As Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz 4.  Disitu dijelaskan apa dasar aku bilang boleh atau engga haram." Kata Udin

“ Eh kau baca kitab  Al-Qalyubi, Hasyiyatal Qalyubi wa Umairah, juz 4. Disitu dibilang tidak boleh masuk tempat ibadah non muslim kalau di dalamnya ada gambar. “ Kata Sukri.

“ Memang para ulama berbeda pendapat tentang hukum memasuki tempat ibadah non-Muslim. Tapi kan di kitab itu juga dikatakan oleh Syekh Al-Qalyubi, dibolehkan kalau masuk seizin mereka, pengurus tempat ibadah. Soal gambar itu masih debatable. Tidak mutlak.  “ Kata Udin.

“ Mantap Din. Ini aku suka. Berdebat secara terpelajar, tanpa memaksakan kehendak. Aku padamu Din.”Kata Bandi


***

“ Assallamualaikum ? Kata Datuk Mawardi masuk surau. Semua menjawab salam itu serentak. Mata Datuk Mawah menyapu ruang Lapau, matanya terhenti waktu bertatap dengan Udin. “ Hah, ketemu juga sama Adinda Udin. Ada yang penting mau dibicarakan, Din” Kata Datu Mawardi.

“Apa kira kira Datuk. “ Kata Udin dengan ramah. Temannya melirik dan siap mendengar apa gerangan yang dibicarakan oleh Datuk.

“ Gini, Din. Kau kan hafid Al Quran dan lulusan Madrasah. Kami mengorgaisir kegiatan dakwah seluruh kabupaten. Pemda memberi anggaran untuk itu. Kami petugas untuk mengatur jadwal ustad atau dai ceramah. Apa bisa kau jadi sekretariat dewan ormas kami. Ada honor. Gimana? 

“ Ambo tak ada waktu, Datuk. Ambo  pedagang kaki lima. Hanya ada waktu malam hari. Itupun dibatasi oleh si upik sampai jam 10 sudah harus di rumah. Tapi bagaimanapun terimakasih sudah tawarkan amanah kepada aku.“ Kata Udin. 

“ Din, berapalah pendapatan dagang kaki lima. Honor jadi sekretaris lebih dari dagang kaki lima” Kata Datuk mawardi memprovokasi Udin “ Apalagi pekerjaan ini bagian dari syiar islam. Pahala dapat, penghasilan juga dapat.”  Lanjut Datuk.

“Di otakku hanya dagang yang bisa mendatangkan uang. Kerja? engga paham aku. Apalagi berharap dapat pahala dari pekerjaan. Tak paham aku, Datuk. AKu orang kampung dan bodoh. Yang lain sajalah.Itu Sukri juga tamatan madrasah. Dia sajalah.” Kata Udin.

Datuk Mawardi terdiam. Dia perhatikan Udin yang tampak tak terpengaruh dengan tawaran itu. 

“ Din, orang dakwah itu penting untuk memberi ilmu kepada orang dan akhirnya mereka bisa masuk sorga.” 

“ Paham aku, Datuk. Tapi tidak menjamin orang berilmu masuk sorga. Bahkan banyak orang berilmu justru berbuat dosa tanpa disadarinya.” 

“ Kenapa kau simpulkan begitu ? Tanya Datuk.

“ 'Mereka menyibukkan diri dengan ilmu agamanya. Karena ilmu agamanya itu membuat dia merasa lebih tinggi dari orang lain.  Merasa telah mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah. Timbul sipat sombong. Mudah mengkafirkan orang lain. Mudah berdalil untuk menyalahkan orang lain. Namun mereka lupa pada dirinya sendiri sehingga lalaian melakukan amal saleh. Itu sama saja mereka orang berilmu yang bangkrut. “ Kata Udin.

“ Terlalu jauh kau Din dalam berprasangka. Dakwah itu mengajarkan orang melakukan rukun islam dengan benar dan rukun iman dengan istiqamah.” Kata Datuk

“Banyak juga orang yang rajin shalatnya baik wajib maupun sunah, bacaan Alqurannya bagus, hajinya berkali kali, jihadnya selalu ingin  di garis depan. Namum mereka terlalu berlebih-lebihan dalam hal ibadah. Mereka memperberat urusan dalam hal ibadah. Apapun dianggapnya lebih banyak haramnya daripada halalnya. Tanpa disadari mereka tidak membuat kedamaian tetapi menimbulkan permusuhan kepada yang berbeda. Mereka bisa disebut ahli ibadah yang bangkrut keimanannya.” Kata Udin

Datuk terdiam. 

“ Bagaimana dengan orang berharta yang rajin sedekah, membangun masjid, panti asuhan, dan lain amal soleh. “ Tanya Mahmud.

“ Itu bagus. Tapi banyak juga diantara mereka melakukan  semua itu  karena rasa bangga diri agar dipuji orang. Karena motive berharap status sosial di masyarakat. Mereka adalah orang bangkrut beragama. “ Kata Udin.

“ Eh kenapa kau selalu berprasangka buruk, Din” tanya Sukri kesal.

“ Aku tidak berprasangka buruk. Aku tak ingin kegiatan dakwah itu diorganisir segala. Biarkan sajalah berkembang di masyarakat atas dasar ikhlas. Akan selalu ada ustad yang ikhlas jadi penceramah di masjid. Itu Allah jamin. Hanya Allah yang akan menjaga agama ini tetap hidup.  Tak perlulah merasa jadi pembela agama segala sampai harus diorganisir.“ 

“Eh kenapa Din” tanya Mahmud.

“ Karena apapun kalau sudah teroganisir, apalagi melibatkan dana Pemda, dan publik, sulit menghindari fitnah. Suka tidak suka,  itu sudah politik. Yang kaya duluan ya  pengurus ormasnya.” 

“ Tapi tanpa terorganisir gerakan dakwah bagaimana bisa berkembang? Tanya Datuk Mawardi

“ Datuk, dulu di kampung kita, tanpa terorganisir, selalu ada ustad datang berceramah. Padahal mereka tidak dibayar. Selalu ramai surau orang belajar mengaji dan sholat berjamaah. Selalu damai kampung ini. Tapi sejak terorganisir gerakan dakwah itu, kita terbelah. Antar mahzab saling curiga. Masalah sepele dibesarkan besarkan. Peletakan batu pertama pembangunan masjid, ada upacara. Selesai, ada lagi upacara. Dulu kita membangun masjid bergotong royong selesai juga masjid walau tanpa upacara, tanpa uang dari pemerintah“ Kata Udin mencerahkan.

“ Ya udah. Tak perlu banyak cakap kau. Kalau tak mau terima tawaran datuk Mawardi, ya sudah. “ kata Sukri kesal. “ Bagaimana kalau aku saja Datuk? Sukri menawarkan diri. 

“ Ah tak pantas kau jadi sekretariat. ‘ Kata Datuk berlalu dari lapau


***

“ Kita perlu sholad ied di ruang terbuka. Sebagai bentuk syiar agama. Sebagai bentuk syukur kepada Allah karena kita telah melewati bulan ramadhan dengan kemenangan. Sebagai cara kita melantunkan keagungan Allah, maha besar, maha bijak, maha segalanya. Tapi kalau karena prokes sholat eid dilarang di lapangan terbuka atau di masjid dan pemerintah sarankan sholat di rumah. Lantas dimana nilai nilai agama kita “ Kata Sukri di Lapau. Teman temannya mengangguk dan menyimak. 

“ Islam kali pertama diperkenalkan Allah kepada Muhammad, tidak lewat upacara keramaian. Justru wahyu pertama turun sebagai pengangkatan Muhammad sebagai Rasul dilakukan di tempat sunyi, di sebuah Goa berama Hira. Saat itu hanya Muhammad dan Malaikat yang bertugas menyampaikan firman Allah, tentang Iqra.” Kata Udin.

“ Agama lain bagaimana Din ? Tanya Bandi.

“ Agama lain juga sama. Pada malam hari Budha di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya. Setelah enyah balatentara Mara, gergasi gaib yang mencoba mengusiknya, Budha melanjutkan meditasi. Akhirnya sampailah ia pada “ empat kebenaran luhur….” Setibanya di “Thur Sina” Musa kehilangan pedoman dan bingung manakah yang harus ia tempuh. Jauh dari keramaian. Kesunyian malam, perintah kepada Musa datang kali pertama sebagai Messenger.” 

“ Tapi mengapa selanjutnya agama jadi ramai dan perlu ritual dalam keramaian. “ tanya Bandi.

“ Ya memang begitu. Berabad-abad setelah sang mesennger wafat, kita pun menyaksikan agama tidak lagi soal keheningan. Tidak ada lagi bersahaja. Tidak ada lagi ruang privat. Di hadapan kita kenisah yang megah, mesjid yang agung, gereja yang gigantis, patung emas yang terbujur 14 meter, pagoda dengan pucuk yang berkilau – dan umat yang makmum, berdesak. Tampaknya dalam kemegahan itu. Berhala baru diciptakan. Tuhan ditempatkan dalam keramaian. 

Fantasi terbangun. Tentang yang agung, untuk dimintai apa saja. Tuhan Penghukum yang bengis. Rasa kalah dalam gelut kompetisi kehidupan, tersalurkan dalam doa agar Tuhan mengutuk mereka yang berbeda. Tuhan juga sumber euforia tentang janji sorga. Dari sana tempat ibadah berubah jadi mesin kapitalis. Terorganisir mendatangkan uang mudah bagi pengelolanya. Akses mendapatkan kekuasaan bagi para politisi culas. “ Kata Udin.

“ Ya mengapa ? tanya Bandi lagi.

“ Kita hidup dalam hasrat memiliki. Menjadikan nafsu sebagai Tuhan. Padahal agama dimaksudkan untuk membebaskan kita dari semua itu. Tapi apa lacur,  agama, yang bermula lahir dari keheningan, berakhir menjadi alat propaganda sosial dan politik, juga tentunya berujung pada bisnis. Agama di era sekarang wajah lain dari sekularisme. Orang menghitung abad, mendepa seculum. Waktu, seperti jabatan dan  harta yang harus dikuasai dan dipunyai.” Kata Udin.

“ Din, walau engkau sibuk dagang kaki lima. Namun engkau taat beragama, rajin sholat, puasa, sayang kepada keluarga, santun kepada teman. Mengapa engkau selalu sinis kepada gerakan islam? “ Tanya Sukri.

“ Aku tidak sinis. Ketika aku berdiri di depan Tuhan, aku adalah seorang Muslim. Tetapi ketika aku berdiri di depan banyak orang, aku hamba Tuhan, bukan hamba agama. Karena sebaik baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Kita berbeda namun dipersatukan dalam Ketuhanan. Itu sebabnya aku tidak suka kalau Ketuhanan itu disekat karena perbedaan”  Kata Udin.”  Kata Udin.

“ Mantap Din.” kata Dulah. Sukri melengos.