Friday, May 15, 2020

Tidak ada hubungan yang sempurna.



Hanseperti biasa, ia tak menoleh ketika aku menggeliat mengeluarkan suara manja. Akupun bangkit. Kubiarkan selimut yang semula menempel di dada akhirnya terjatuh. Dingin memang. Tapi itu justru memberiku cukup alasan untuk bersegera merangkak mendekatinya dan menekankan payudaraku ke punggungnya. “Sudah terbangun cukup lama?” tanyaku. Ia masih saja tak menghiraukanku dan tampak asyik membaca buku tebal. 

***

Han, entah mengapa aku ingin berkirim surat kepadamu. Lewat email ini segala hal mudah di sampaikan, dan kali ini aku tidak akan menyebut “ Uda” tapi Han. Ya cukup Han saja. Karena kamu sekarang benar benar sudah jadi sahabatku. Tidak ada ikatan apapun secara bisnis. Secara emosi ada dinding tebal memisahkan kita karena statusku sebagai istri orang. Sehingga tidak memungkinkan kita bersedekat seperti dulu, tidak mungkin lagi ya kan, Han

Han, Aku dan Andi Ng pertama kali bertemu dua tahun yang lalu. saat itu aku sedang galau karena keputusanmu Han, menempatkan Yuli ke asrama di Singapore. Dalam keadaan seperti itu, di dalam pesawat , sang pilot dengan simpati menyampaku. Dan aku lebih senang lagi, karena rupanya pilot itu tertarik kepadaku—bisa kupastikan itu dari tatapan matanya. Ia  meminta nomor hapeku yang bisa ia hubungi. Kuberikan Business card ku.

Beberapa jam setelah kami berpisah malam itu, ia mengirimiku SMS. Dua hari kemudian, ia meneleponku. Lima hari setelahnya, ia mengatakan ingin sekali bertemu denganku. Maka kubilang, “Ke sinilah. Mungkin kita bisa sekalian ngobrol-ngobrol dan kamu bisa memberitahuku bagaimana caranya mengendalikan pesawat di tengah badai.” Rupanya, ia menanggapi perkataanku itu dengan serius. Pada hari kedelapan belas sejak pertemua  itu kami bertemu di Cafe, plaza Senayan. Ada rasa tersengat, tentu saja, melihat sosoknya itu berdiri di hadapanku. Singkat kata kami pun berbicara tentang berbagai hal 

“Aku menyukaimu dan ingin kembali bertemu denganmu,” katanya esok harinya, Aku tersenyum. Dua bulan setelah saat itu ia datang lagi, dan kami berdiskusi banyak hal. Mungkin yang tak dia minati adalah business. Selebihnya dia menyenangkan, Han. Di salah satu malam yang kami lalui bersama, aku pernah menanyakan padanya bagaimana sesungguhnya perasaannya padaku. 

Ia bilang, ia menyukaiku, tapi tak lebih dari itu. Tak bisa. 
“Kenapa?” tanyaku. 
“Karena aku sudah memiliki seseorang,” jawabnya. “Dan dia adalah istriku dengan dua anak,” lanjutnya. 
Aku pun mengerti. Ia sempat cemas dan bertanya apakah kejujurannya itu mengusikku. Kujawab dengan senyum percaya diri. Pada malam selanjutnya ia memberiku sebuket mawar merah dan beberapa buku. “Ini untuk mengurangi rasa bersalahku,” katanya. Kukatakan bahwa itu tak perlu, sebab aku sama sekali tak pernah menganggap ia bersalah. “Tapi aku merasa bersalah,” desaknya. Jadi kuterima saja. 

Namun rupanya itu memberinya peluang untuk menciumiku di bibir, aku mengelak. Di pipi, akupun mengelak. Di leher, di bahu, aku mundur dengan perasaan tersinggung. Sangat beda dengan kamu, Han. Setahun kita kenalan, barulah kamu kiss wet aku, itupun karena aku yang memulai. Sebelumnya jangankan maksa kiss, tanda tanda mau kiss aja kamu engga ada. 
 “Kamu tahu, kurasa aku mulai mencintaimu,” ucapnya. 
“Apakah itu berbahaya?” tanyaku. 
“Sangat,” jawabnya. 
Namun lagi-lagi rupanya itu tak menghentikannya untuk mencoba menciumiku tapi tetap aku tolak, yang akhirnya aku kehilangan respect terhadapnya. Bukannya aku munafik melepaskan kesempatan dicumbui pria hebat, apalagi aku sudah menjanda lama. Bukan, Han. Aku hanya ingin hubungan yang tulus, bukan karena kencantikan wajah atau kulitku yang putih bersih, Bukan. Tapi aku tidak melihat ketulusan itu. 

 ***
Berbulan bulan lamanya sejak saat itu kami tak berkomunikasi melalui telepon maupun SMS. Kukira saat itu ia akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mulai sepenuhnya mempersiapkan diri untuk membangun kembali rumah tangganya yang retak berderak. Akan tetapi, suatu pagi, ia membangunkanku, dan mengatakan betapa ia merindukanku dan tak bisa berhenti memikirkan ku. 

“Aku juga,” kataku, yang kemudian kusesali. 

Beberapa hari setelahnya kami kemudian bertemu. Kali itu aku yang mendatanginya di Singapore. Konyolkan, Han. Hanya sejengkal dengan apartement tempat istri dan anak anaknya tinggal. Dalam pertemuan di sebuah cafe di Mandarin Hotel, awalnya kami berdiskusi hal yang sederhana. Tapi akhirnya aku meminta pendapatnya tentang pria yang punya karakter seperti kamu , Han. Kamu tahu Han, apa pendapatnya? Dia mengatakan bahwa pria tersebut secara GEN tidak punya sifat pendendam, yang tentunya tidak bisa membeci, apalagi sakit hati. Pria seperti ini, dia tidak akan paham arti mencintai seperti yang kita persepsikan. Dia tidak akan merindukan siapapun, dan tidak merasa takut kepada siapapun. Kalau dia memberi, karena itu memang secara pantas dia harus memberi. Kalau dia melindungi , itupun biasa saja. Tidak ada alasan melodrama yang kita harapkan dari sikap kelembutan kasihnya.

Kalaupun dia menikahi wanita , itu bukan karena dia ingin memiliki wanita seperti pria lainnya yang merasa unggul menaklukan hati wanita dengan kegantengan dan harta, atau kata kata. Baginya menikah adalah perintah Tuhan. Itu saja. Apapun yang dia lakukan kepada istri dan anak anaknya  , itupun karena alasan Tuhan. Dia tidak akan memanjakan mereka, namun selalu ada ketika hal yang penting harus di adakan. Dia tidak perlu merindukan semua hal sehingga merasa kawatir berlebihan. Hidupnya terkesan datar saja. Tanpa gelombang. Dalam bisnis juga begitu. Tak lebih. Kalau deal menguntungkannya , tidak akan membuat dia euforia. Kalau rugi , atau bahkan bangkrut , tidak akan membuat dia hancur. Mengapa ? Berapapun laba bertambah, tidak akan membuat dia kehilangan dirinya. Harta dia perlukan tapi itu hanya option. Sama halnya dengan sex, itu juga option. Kalau ada , yang di pakai seperlunya dan kalau engga ada, diapun bisa melupakan, Namun caranya selalu menurut standar nya sendiri sesuai agama yang dia yakini. Jangan kamu bayangkan dia bisa membeli sex untuk kepuasannya dan membeli barang bermerek untuk memuaskan egonya. Tidak mungkin.

“ Begitukah pemahamanmu tentang pria yang kumaksud” Tanyaku kepada Andi.

“ Ya. Aku pernah baca buku psikologi tentang manusia yang punya kepribadian seperti itu. Kadang orang salah duga bahwa dia punya ke pribadian ganda, seperti bunglon. Karena dia bisa bersikap humanis sebagai sahabat dan bisa juga sebagai petarung ketika berbisnis. Sebenarnya, karakternya satu saja. Dia menggunakan akal dan hatinya ketika bersikap. Yang membuat dia terkesan aneh, adalah di akalnya tidak ada storage informasi tentang dandam dan benci. Memang GEN sebagai cetak biru kehidupannya tidak ada buku yang memuat bagaimana membenci dan dendam. Ya semacam kelainan jiwa. Kalaupun ada orang seperti itu, pasti tidak banyak, atau mungkin tidak ada.” 

Jangan marah ya Han. Aku tidak bilang bahwa itu karakter kamu. Aku berusaha mendebatnya, namun akhirnya semakin membuat aku tercerahkan, tentang alasan dibalik kebaikan demi kebaikan kamu kepadaku. Aku mengangguk-angguk saja meski sesungguhnya begitu dongkol dan dalam hati terus bergumam: orang yang teguh dengan prinsipnya memang terkesan kelainan jiwa. Tapi sebetulnya kita sendiri yang tidak punya prinsip. Pragmatis. Sehingga menilai orang seperti itu, punya kelainan jiwa.”  Ketika ketegangan sudah benar-benar menghilang, ia akhirnya tersenyum, meraih tanganku, dan berkata, “Aku merindukanmu beberapa hari ini. Sangat.”

 ***
Han, Sejauh itu hubungan ku dengan Andi terkesan hambar. Namun ketika dia sedang off,  selalu sepanjang waktu itu ia habiskan berdua saja denganku. Kadang itu membuatku bertanya-tanya, apakah ia dan istrinya masih hidup serumah?

Suatu saat akhirnya kuutarakan keherananku itu padanya dan ia menjawab cepat, “Masih kok.” Sambil sesekali menatap mataku ia menjelaskan bahwa apapun yang telah terjadi di antara kami, ia tak akan mengubah keputusannya untuk menceraikan istrinya. 
“Apakah kamu mencintainya?” tanyaku. 
“Tentu saja,” jawabnya, dengan raut muka seperti awan gelap yang memadat. Ketika kuungkapkan keherananku dengan sikapnya itu, betapa ia mengakui pernikahannya adalah takdir yang tidak sanggup dia pikul, dan karena kasih Tuhan mengirim aku kepadanya. Ini pengkhiatan halal dan harus di maklumi sebagaimana ia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam, “Ia tahu kok hubungan kita ini.” Lima detik, dua belas detik, kuhabiskan dengan ternganga. 

“Benarkah itu?” tanyaku. 

“Ya,” jawabnya. 

Di setiap malam aku terus memikirkannya dan akhirnya aku jadi tak bisa benar benar mencintainya. Dua minggu setelah saat itu, aku memberanikan diri untuk menemuimu Han, Ingat engga ketika kita di cork and screw, Plaza Indonesia, membicarakan soal hubunganku dengan Andi Ng. Sebenarnya, Andi sudah sejak lama mewanti-wanti agar aku tak mencoba-coba menemuimu membicarakan hubungan dengannya. Tapi aku sudah memikirkannya masak-masak selama dua minggu dan kusimpulkan bahwa hari-hariku tak akan tenang jika aku dan kamu tak bertemu. Maka, ketika pertemuan riskan itu terjadi, besar harapanku kamu memberikan pernyataan yang entah bagaimana bisa menghapuskan kegelisahanku.

Ternyata, yang terjadi adalah benar adanya. Kamu menasehatiku untuk tabah dengan penuh maklum bahwa aku bukanlah wanita pertama yang pernah di cintai Andi Ng. Sebetulnya jawabmu tidak begitu penting. Namun, Han, ketika itu aku membayangkan kamu menasehatiku untuk tahu resiko mencintaimu dan berharap menjadi istrimu. Yang jelas aku tak akan sanggup memenuhi syarat seperti yang kamu tetapkan. Kamu jujur tapi Andi Ng, tidak bisa jujur. 

Sejak saat itu, aku sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Andi Ng. Alasan demi alasan kuberikan. Rindu demi rindu aku simpan. Hingga akhirnya, pertemuan kembali tak terhindarkan.
“Menurutmu, apakah aku ini orang yang setia?” tanyanya.
Aku terpaku, lantas menggeleng.
“Entahlah,” kataku. “Kau bilang apapun yang terjadi di antara kita, istrimu akan diceraikan. Kurasa, itu suatu wujud ketidak kesetiaanmu “. Tapi kamu…”
“Terus meyakinkanmu ?” potongnya.
“Ya,” jawabku.
Ia diam, beberapa detik.
“Bukankah itu suatu wujud kesetiaanku padamu, bahwa perceraian itu terjadi karena tekadku memberikan diriku padamu?”
Giliranku yang terdiam. Benarkah itu? pikirku. Dan senyum di wajah Andi Ng itu seperti berkata, “Ya.”

Maka aku pun tak lagi ambil pusing dengan semua itu. Biarlah ia kelak bercerai dan kami akan menikah. Biarlah ia terus mengatakan padaku bahwa seseorang itu baik-baik saja dan perkawinan kami tak akan melukai siapapun. 

***

Satu hal kutanyakan, “Tidak kah kamu ingat kenangan malam pertama dengan istrimu. Menerobos selaput virgin nya. Apakah itu tidak ada artinya lagi kini?” Ia menjawab, “Malam itu, kami sama sama menikmati.Biasa saja” Oh.. Aku pun sepertinya mengerti mengapa setelah malam pertama dengannya , ketika aku terbangun dia asyik dengan bukunya. Sepertinya tidak ada arti hubungan intim suami istri ini. Atau mungkin baginya hubungan intim adalah mutual benefit karena mutual orgasm. Artinya dia hanya anggap hubungan intim itu hanyalah bisnis. Kalaupun itu hanya bisnis, jelas dia bukan pebisnis yang hebat. Sex nya sangat buruk. Easy come easy go. Padahal banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya , tentang rencana kesibukanku selama dia terbang, tentang Yuli yang terus kamu tanggung biayanya. Apalagi Han, setelah bosan membaca dan matanya mengantuk, dia mematikan lampu, tidur memunggungiku. Itu kehidupan perkawinanku kini, Han.

Kalau ingat kamu, kadang aku menangis. Persahabatan kita memang indah. Aku bisa sepanjang malam merebahkan kepalaku di dadamu dan kamu mendekapku. Dan ketika pagi bangun, hanya wajahmu yang aku lihat. Kamu begitu lembut memperlakukanku, dan tidak akan berhenti sebelum aku selesai dan puas. Ya benar kata kamu Han, manusia hanya butuh cinta. Dengan cinta semua keinginan  dimaknai. Tapi tanpa cinta, semua keinginan dinafsui. Cepat hambar tanpa makna. Easy come easy go.

Benar katamu, Han, memang tidak ada hubungan yang sempurna namun rasa hormat tidak boleh hilang. Bukankah kita hidup berjuang untuk kehormatan diri di hadapan manusia dan Tuhan. Rasa hormat itu tidak kutemukan dari Andi Ng. Sementara bertahun tahun aku bersama mu, Han, walau bukan istrimu aku mendapatkan rasa hormat. Persahabatan yang kamu maknai memang menempatkan rasa hormat yang harus dibayar dengan kelapangan hati untuk mengerti satu sama lain. 

Tidak, Han, aku harus akhiri perkawinan ini. Andi tidak pernah mencintai aku. Dia hanya mencintai dirinya sendiri. Apa masih boleh aku kembali ke perusahaan kamu? kerja seperti dulu lagi...berteman seperti dulu lagi...

Cobaan dalam kebersamaan.

Selama ini aku agak tertutup bercerita tentang aku dan dia. Mungkin Yun, menjadi tanda tanya yang tak sudah bagimu. Mengapa aku begitu tegar besikap. Seakan bagaikan batu karang di tengah samudera yang tak pernah tergoyah walau di hantam ombak tiada henti. Baiklah aku ceritakan sedikit. Ketika menikah, aku hanyalah pria kampung yang miskin. Datang ke Jakarta tanpa skill, hanya berbekal keberanian atas dasar keimanan. Berawal dari sebuah rumah mungil di pinggiran barat Jakarta yang  kami sewa bulanan. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Dia berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Aku , seperti biasa, sibuk bersiap diri pergi ke kantor. Bukan orang kantoran tapi orang yang melapor ke kantor bahwa dia hadir untuk menjajakan barang dagangan. Tak ada gaji kecuali komisi. 
Dasternya tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan tahi lalat di tempat tertutup. Hanya aku tentunya yang tahu persis letaknya. Rambut lebatnya dibiarkan memanjang sebatas bahu. Hidungnya yang tak mancung kerap mengundang godaan ku. " Tak apa-apa hidungmu tak mancung. Lebih baik berhidung seperti itu tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya,” kata ku meyakinkan bahwa dia adalah pilihanku dan itulah yang terbaik bagiku. 
”Lebih baik daripada apa…?” selanya yang kadang merajuk.
”Ya…, lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus di bawahnya.”
Aku tergelak. Dia hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu seperti inilah yang sangat kusukai. Karena diapun punya cara menertawakan kekuranganku. Kulit hitam, muka kasar dan pendengkur. Karena itu, kami gemar saling menggoda terutama pada setiap pagi yang jadi milik kami. Kadang-kadang aku  berpikir bahwa kami memang ditakdirkan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Tergelak dan tersipu. Keliaran seorang penyerang dan kelembutan sang penenang. Keberingasan seorang pemburu dan kepasrahan korban buruan.

Yun, dia adalah perempuan bersahaja. Selalu nrimo. Dalam banyak hal ia bahkan cenderung naif. Yang pasti, ia sungguh rajin mengerjakan setiap pekerjaan yang tersedia di rumah. Tak ada bagian rumah yang tak terjamah olehnya. Setiap hari. Sepanjang minggu. Sepanjang tahun. Anak anak terurus dengan baik. Semua sehat dan pintar pintar. Aku membayangkan. Seperti itulah ibuku dulu selagi muda bekerja di rumah masa kecilku di Kampung. Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan tertata. Mengurus suami, ayahku, yang lumayan banyak urusan. Dan mendidik 7 orang anak yang sungguh merepotkan. Tanpa pernah mengeluh. Satu kali pun.
Yun, lima tahun pertama pernikahan kami. dia tampil sebagai tiang rumah tanggaku. Diapun tak banyak menuntut dari seorang pengusaha pemula. Rumah tangga kami tanpa servant. Menyangkut materi, permintaannya selalu sederhana. Pakaian yang tak perlu bermerek , rumah mungil di pinggir kota, sebisa mungkin menabung berapapun untuk biaya sekolah anak. Tak pernah dia menuntut dan bermimpi rumah mewah, dan segala standar kehidupan orang kaya. Aku ingat Yun, dari sisa uang belanja , dia tabung dan di belikan emas . Emas itu di jualnya.  Ia dengan bangga berkata kepadaku " pakailah uang ini untuk ibumu pergi ke tanah suci." Padahal ketika itu hidup kami belum mapan. Namun dia tak ragu mengorbankan tabungan sekolah anak untuk kepergian ibuku ke Tanah Suci.

" Mengapa ? Bukankah kamu sangat menginginkan pergi haji. Mengapa kamu lebih utamakan ibuku" Kataku. Kamu tahu Yun, apa katanya " cinta papa yang paling tulus adalah kepada orang tua. Aku mengutamakan ibu karena aku berharap Tuhan mengkokohkan cinta kita. Bukankah ridho Ibu, juga adalah ridho Tuhan. " rasanya aku ingin menangis mendengar kata katanya Yun. Begitu rendah hatinya dia mengungkapkan cintanya kepadaku. Bahwa sebesar apapun cintanya kepada ku tetap tidak akan bisa mengalahkan cinta ibuku kepadaku. Dia tidak cemburu karena itu. Tidak juga menggunakan senjata merayu berwajah penuh make up tapi dengan memuliakan ibuku. Dia percaya bahwa pada ibuku ada Tuhan dan doa ibu selalu di kabulkan Tuhan. Ya kan.

Hanya satu permintaannya yang kadang di sampaikannya dengan malu malu" kalau Tuhan kasih rezeki kita berlebih , ajaklah aku ke Baitullah. Itu keinginanku yang tak pernah kusebut ketika masih di bangku Madrasah Sanawiyah. Aku ingin di peluk suamiku ketika usai mencium ajar aswad. " Alhamdulilah, 15 tahun setelah itu, aku bisa mengabulkan permintaannya. Aku tidak pernah melhat wajahnya begitu bahagia kecuali ketika usai mencium azwar aswad, sambil memelukku " Puja Puji kepadaMu ya Allah, engkau kabulkan doaku untuk bisa datang ke RumahMu bersama suamiku. Papa, terimakasih sudah memenuhi impianku di masa remaja"
Dengan berjalannya waktu , ekonomi ku semakin membaik. Untuk banyak alasan, yang tentu saja kusetujui, dia memang tak pernah memamerkan berlebihan barang-barang berharga pemberianku. Kendaraan yang di pilihnya bukan yang bermerek hebat tapi yang kuat dan efisien untuk antar jemput anak sekolah. Ia menyimpan dengan rapi setiap pemberianku , serapi menyimpan cintanya untuk satu-satunya lelaki yang pernah menjamah tubuhnya itu.
Waktu berlalu, aktifitas ku sebagai pengusaha semakin sulit dia pahami. Aku menjelma menjadi elang yang bisa terbang melintasi pulau dan benua. Namun aku selalu pulang. Kebersamaan dengannya adalah recharge power ku untuk tegar menghadapi ketidak pastian hidup. Dia maklum akan hidupku seperti dia bisa berdamai menjadi istri pengusaha, yang bisa kapan saja bangkrut, yang bisa berteman dengan siapapun, yang bisa terjerumus dalam pergaulan. Karenanya doanya tiada henti siang malam ketika aku ada di luar rumah. Ketika aku tanya , apa doanya, dia berharap agar aku selamat di luar, bertemu dengan orang orang baik , menjaga persahabatan dengan tulus, sabar dari segala kesulitan, dan tidak membuat aku kikir untuk berbagi.

Oh ya Yun, untuk kamu ketahui bahwa setidaknya dua kali dalam usia perkawinan kami , aku jatuh bangkrut. Kami  tidak punya uang sama sekali tapi kami tidak pernah mengemis dan mungkin tidak banyak orang tahu kami sudah jatuh miskin. Karena dia memang pandai mengambil peran untuk menjadi penyanggaku ketika aku oleng. Dia bisa trampil dan gesit mendatangkan uang untuk sekedar dapur kami mengepul. Dengan sikapnya mendorong aku produktif dan doyan kerja keras, tidak ragu mengambil resiko atas keyakinanku. Ingat ketika paska krismon , dalam keadaan bangkrut aku hijrah ke China, di  Bandara ketika mengatarku, dia berkata " Jangan pikirkan Rumah. Jangan nampak kan Papa lemah di hadapan anak anak. Papa akan selalu jadi idola mereka. Apapun itu. Anak anak akan baik saja denganku. Jangan ragu karena Papa yang terbaik Tuhan beri kepadaku."  Kata katanya membuatku menjadi petarung tanpa lelah. Kalaulah boleh meminta seperti yang aku mau kepada Tuhan, aku lebih memilih di beri waktu 36 jam sehari daripada harta melimpah. Sehingga aku bisa bangkit lagi.

Dengan kebangkrutan itu , aku semakin menyadari bahwa Tuhan tidak hanya mengirim wanita untuk menjadi istriku tapi juga seorang sahabat. Bahkan Yun, aku menemukan kesejatiannya sebagai wanita ketika aku jatuh bangkrut. Sabarnya bisa membuat aku nyaman menghadapi kemiskinan dan tegar untuk bangkit kembali. Walau tanpa kata kata seperti layaknya sang motivator , sikap hidupnya telah menjadi buku besar untuk aku belajar bijak. Jadi kalau kamu mengenal seorang Burhan hari ini , maka itulah cermin dari kekuatan istrinya. Dialah mentor ku , tentu dengan caranya yang kadang membuat aku stress. Ia bisa dengan keras menyalahkan aku untuk aku sadar dan berubah namun diapun takut untuk memujiku karena kawatir aku lupa bersyukur. Dia melarang aku untuk menulis buku dan di terbitkan.  Selalu dia lakukan dengan niat baik. Aku tahu itu. Bukan karena dia melarang aku menyalurkan hobiku tapi dia tidak ingin aku di puji orang , yang bisa melemahkan aku karena sifat sombong. Aku pernah jatuh tapi bukan karena kesombongan dan itu artinya secara spritual aku tidak pernah bangkrut. Maka akan selalu ada cara untuk bangkit.

Aku menghabiskan sebagian besar pikiranku ke bisnis , rapat bisnis, di Cafe menjamu clients, business trip melintasi banyak negara, Hidupku seperti lalu lintas di antara business yang melelahkan dan di rumah yang hanya hitungan jam. Kadang aku sering mengeluh tentang bisnisku tapi aku tidak pernah mendengar dia mengeluh mengurus rumah dan anak anak. Bagi sebagian orang uang memang kadang-kadang jadi persoalan. Aku sendiri tak pernah mau pusing soal keuangan. Aku tak terlalu peduli apakah uang kami sedang melimpah atau kami sedang bangkrut. Dari dulu aku hidup mengambil resiko. Mungkin itu karena di rumah aku tak pernah mendapat keluhan-keluhan berarti soal uang. 

***
Kini , di usia diatas setengah abad, aku dan dia semakin saling mengkawatirkan. Saling merindukan dan menjaga. Dia tidak ingin aku terus di sibukan dengan bisnis. Dia tahu aku lelah dan tahu aku tidak begitu menyukai kehidupan ku sebagai pengusaha. Dia hanya tahu aku hanya bertahan hidup dengan apa yang aku bisa, sebagai orang yang tak pernah berhasil masuk PTN, dan gagal menjadi profesional yang bergengsi seperti cita cintaku waktu kecil. 
Walau hidup kami tetap  bersahaja, kami merasa hidup kami lebih dari cukup. Memiliki sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta adalah sebuah kemewahan. Terlebih-lebih, buat dia, ternyata rumah mungil itu adalah sebuah istana besar yang megah. Aku bisa  mengatur sendiri hidupku, tanpa terikat oleh jam kerja atau jadwal-jadwal rutin lain, pergi sholat subuh ke masjid sambil bergandengan tangan  dengannya adalah kemewahan lain yang kumiliki. Aku merasa hidupku sudah selesai dengan dua kemewahan yang sudah digenggamanku, apalagi kedua putra putri kami sudah menikah dan mandiri.
Yun, pernah aku bilang kepadamu bahwa tidak ada perkawinan yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Aku tahu kamu melihatku sebagai pria sejati menurut ukuranmu. Pria sejati tidak akan kamu temukan di etalage, Yun. tidak ada. Tidak juga pada diriku. Aku adalah repliksi istriku yang dengan kedua tangannya bersusah payah menjadikan pria kampung yang pemalu  untuk tampil di panggung dunia menjadi elang. Temukanlah pria yang karenanya membuat kamu nyaman untuk melabuhkan cintamu, kemudian berjuanglah untuk menjadikan ia pria sejati. Pria sejati tidak tersedia di luar sana tapi kamulah yang harus menjadikannya pria sejati. Pria itu akan menjadi cobaan mu sepanjang usia, untuk kamu memakluminya. Mencintainya bukanlah dengan kata kata tapi bagaimana sikapmu untuk mempercayainya dan memahaminya sepanjang waktu. Itulah yang di lakukan istriku terhadapku. 

Mungkin aku pria yang beruntung karena aku bisa berkembang tidak dengan kemanjaan dan pujian wanita , tidak dengan rongrongan wanita yang gila harta, tidak dengan kecantikan bidadari. Aku mendapatkan seorang istri yang sebetulnya ia adalah sahabatku, mitra ku , kelengkapan jiwaku. Sepanjang hidupku banyak keputusan yang aku buat dan kalau ada keputusan terbaik adalah ketika aku melamarnya menjadi istriku. Mengapa? kami mengawali dengan ketidak sempurnaan dan kami lewati hidup dengan sadar bahwa kami tidak akan pernah sempurna. Hubungan kami adalah cobaan untuk menguji keimanan kami kepada Tuhan. Bukankah menikah adalah ibadah untuk menguji ke imanan kita. Belum di katakan beriman sebelum di uji, ya kan.

***
Seperti biasa aku masih berkutat dengan data di komputer ku. Memonitor perkembangan portofolio bisnis secara online . Kadang aku tersenyum , kadang merengut tapi aku nikmati saja pagi itu sambil melepas ketegangan lewat facebook. 
”Hayuu sarapan. Aku sudah masak kesukaan papa “ Tiba-tiba suaranya menyereruput punggung telingaku. Dua bilah tangan putih melingkari dipinggang ku.  Dia merapatkan badannya di punggungku. Wangi-pagi-hari tubuhnya yang khas membuat pagiku begitu sempurna, selalu. Kebersamaan dan kebahagian kecil seperti inilah yang tak ingin aku korbankan hanya karena ego pribadiku. Kini kusadari , dia telah menua , aku juga , memang sudah banyak yang kurang dari dia karena usia namun ia tak mungkin kuduakan. Tidak mungkin, Yun, dan kamu tetap sahabatku. Semoga kamu maklum. 

Sunday, May 10, 2020

Menciptakan pilihan sendiri

Disuatu tempat berkelas, berada di financial center Hong Kong. Ada sebuah café yang aku gemar belama lama duduk sambil memonitor transaksi pasar melalui laptop kesayanganku. Mataku tertuju kepada wanita yang duduk tepat didepan mejaku. TIdak begitu jauh hanya 2 dua meja. Wanita berusia 30an tahun. Wajahnya oval. Lebih mirip wanita Indonesia dengan rambut hitam dan mata bulat. Baju yang dikenakannya adalah blazer hitam. Sangat sesuai sebagai wanita karir yang berkelas. Ketika mata kami beradu pandang, dia memalingkan wajahnya. Aku tersenyum didalam hati , karena begitulah wanita yang terlalu pandai berpaling dari sikapnya.

Didepannya ada tas warna hitam. Tas yang biasa untuk menyimpan document sebagai standard para executive disini. Juga ada majalah Fortune tergeletak dimejanya. Dia tidak menyentuh majalah itu. Namun tangannya asik menulis diatas meja. Seakan menghitung angka karena kadang kepalanya terdongak keatas. Pertanda dia sedang berpikir. Barangkali. 

Tak berapa lama , wanita itu berdiri meninggalkan meja dengan tas dan majalah yang tergeletak begitu saja. Kemana wanita ini pergi ? mengapa dia membiarkan tasnya tertinggal. Mungkinkah dia pergi ke toilet ? Aku hanya diam , menanti harap agar dia kembali. Benarlah, tidak lebih limat menit dia kembali melangkah menuju mejanya. Langkahnya sangat anggun. Sangat sempurna. Ketika dia melewati mejaku , aku mencium aroma perfume lembut. Entah kenapa mata kami kembali beradu pandang. Aku mengangguk dan tersenyum. Dia membalasnya dengan simpatik.

‘’ Saya pikir anda sudah pergi dan lupa dengan tas anda ‘’ kataku dalam bahasa indonesia. Mata dan perasaan ku mengatakan hal yang sama bahwa dia adalah wanita indonesia.
‘’ Sorry. say again‘’ katanya dalam kebingungan namun senyumnya tetap membayang. Maka tahulah bahwa mata dan perasaanku tidak tepat. “ I am from Nepal ” sambungnya.
“ Oh sorry. I guess you are from Indonesia. ‘’ kataku . Seketika tanganku tergerak , mengulurkan tangan untuk berjabat tangan , dia menanggapinya dengan hangat. Kamipun berkenalan.
“ Saya pikir tadi anda mau pulang “ Kataku
‘’ Belum. Saya masih senang disini. “ Mata bulatnya nampak semakin indah.
“ Anda nampak asik nulis tadi. Nulis apa? ‘’ Tanyaku
‘’ Anda juga asik dengan laptop mu. Ngetik apaan ? Dia balik tanya.
‘’ Ya , Saya hanya monitor harga dibursa London dan sebentar lagi Wallstreet buka , makanya saya suka berlama lama disini....’’
‘’ Anda pialang ? “ Sergahnya dengan cepat.
‘’ engga juga. Anda ? “ Aku mengangkat bahu.
‘’ Konsultant “ Jawabnya dengan tegas.
“ Bidang apa ?“
“ Finance “ jawabnya dengan raut anggun berwibawa.
Kemudian pelayan cafe datang menghampiri wanita itu ‘’ maaf , apakah pesanan anda saya antar ke meja anda ? “ wanita itu terdiam sambil menatapku “ bagaimana kalau anda gabung dengan meja saya “ aku menawarkan diri. Dia tersenyum dan mengangguk “ Ya , sudah tarok disini saja “ katanya kepada pelayan. Kemudian dia berjalan kearah mejanya untuk mengambil barang barangnya dan kembali kemejaku dengan tersenyum,
“ Saya memperhatikan anda dari tadi “ kataku.
“ Saya juga “ Jawabanya.
“ saya melihat anda menulis sesuatu dengan sangat serius “ Kataku.
« Saya melihat anda memelototi screen komputer dengan serius « Katanya.
‘’ dan anda ke toilet “ Kataku lagi.
‘’ anda berdiri sambil memperhatikan langkah saya ‘’. Katanya tangkas.
‘’ anda tersenyum kearah saya.’’ Kataku tidak kalah tanggap.
‘’ anda mengangguk dan mengajak saya bergabung dengan meja anda“
Katanya enteng menunjukan kelasnya sebagai negosiator piawai. Kamipun akhirnya tertawa. Dia cantik sekali kalau tertawa. Suasana menjadi lebih santai.
“ Ceritakan padaku apa yang kamu cari dalam hidup ini “ Kataku
“ Aku mencari laki laki sejati."
Kamipun tertawa lagi.
‘’ Serius ? Kataku
‘’ ya serius. Aku mencari pria sejati untuk mendampingi hidupku. ‘’
‘’ Apa kriterianya ‘’
‘’ Hem...." matanya menerawang seakan sedang membayangkan sesuatu yang diidamkannya. " Seorang laki-laki sejati. Seseorang yang dapat melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan Bila aku menemukannya maka aku akan berkata terus-terang, bahwa aku mencintainya. 

Aku tidak akan malu-malu untuk menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku, menjadi bapak dari anak-anakku, Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua. Menjadi orang yang akan memijit kakiku kalau semutan, menjadi orang yang membesarkan hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku pagi-pagi kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya untuk menjadi suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi suamiku , kenapa tidak, aku akan merebutnya, aku akan berjuang untuk memilikinya”

Aku tercengang terlalu ideal dan hampir tidak mungkin anda dapatkan pria seperti itu didunia ini..Kalau anda berharap maka harapan itu akan berakhir dengan kesia siaan. Kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua. Lebih baik hentikan mimpi yang tak berguna itu. “ Kataku yang membuat dia tercengang. 

" Mengapa kamu katakan ini. Bukankah kamu juga seorang laki laki ?
“Aku ingin kamu menyadari kenyataan. “

“ lantas bagaimana saya harus bersikap. Usia saya tidak muda lagi..” Sekarang dia mulai tergiring dengan emosinya. Ada kecemasan diwajahnya. Namun aku berusaha untuk tetap tersenyum.

“ Jangan tempatkan kriteria dan harapan ketika kamu memilih pria. Raihlah ketulusan cinta seorang pria dimana kamu dapat merasa nyaman untuk menempatkan cintamu. Setelah itu berjuanglah untuk menjadi belahan jiwanya. Ditangan mulah kelak pria itu akan menjadi apa. Dia akan menjadi beban atau pelindungmu ? kamulah yang membentuknya. Siapapun wanita , akan mampu membentuk pria menjadi laki laki sejati. Kenalilah kekuranganmu dan temukan pelengkapnya pada pria pilihanmu. Kenalilah kelebihanmu dan lengkapilan kekurangan pria pilihanmu.Jadi berhentilah mencari yang sempurna tapi berusahalah menciptakan sendiri kesempurnaan itu. Bukankah hidup adalah perjuangan dan proses itu harus kamu lalui agar kelak kamu mendapatkan kebijakan dan menghargai setiap hasil yang di peroleh.Maka hidupmu akan lebih berarti ”
“ Kamu benar. Kamu telah menyadarkan saya. Ini kali pertama saya mendapatkan nasehat terbaik dalam hidup saya. Pengalaman saya mengajarkan itu semua. Saya lelah mencari dan saatnya sekarang saya harus menciptakan laki laki sejati bagi diri saya sendiri. Siapapun dia , asal dia mencintai saya dan saya mencintainya maka selanjutnya saya akan berjuang menjadikannya sesuai apa yang sesuai untuk saya. Mungkin inilah kesempurnaan yang sesungguhnya."
Hari mulai berangkat malam. Suasana cafe semakin ramai. Tua dan muda mulai berdatangan. Group band yang mengiringi penyanyi dari philipina melantunkan lagu begitu apiknya. Kemudian dia terkejut ketika telp selularnya bergetar. Ada keraguan diwajahnya untuk menerima telp tersebut. " Ya..Baik. Kamu boleh jemput saya sekarang. " Kata wanita itu dengan senyum penuh keyakinan.
" Ada apa ? " Entah mengapa kuberanikan untuk bertanya padahal bukan urusanku.

" Berkat kamu , berkat pertemuan malam ini. Saya telah mengambil keputusan. Sebentar lagi ada pria yang akan menjemput saya dan inilah awal walau tidak mudah namun saya akan berjuang menciptakan laki laki sejati bagi diri saya sendiri...

Mencintai Ibu


Tahun 1980an saya bangkrut. Saya pun gunakan tenaga yang ada berdagang antar pulau. Target saya adalah pulau terluar yang tidak ada komunikasi dengan dunia luar. Kalau bisa pulau itu engga kenal uang. Sebelum berangkat saya sudah punya rencana apa saja komoditas yang menjadi target saya. Jadi dengan menyewa KLM ( kapal layar mesin), saya berlayar ke target setelah dapat informasi dari ABK tentang potensi pulau itu. Waktu berangkat, saya membawa kebutuhan pokok yang akan dibarter dengan komoditas dari penduduk pulau. Seperti Kopi bubuk, gula, garam, dan beras. Hampir pulau terluar pernah saya kunjungi. Tadinya saya sewa, akhirnya saya bisa punya sendiri dan menakhodai sendiri kapal itu. Sebetulnya inilah cara saya fundrasing untuk memulai business lagi.

Untungnya sangat besar. Saya beli lola ( keong ukuran besar ) 3 kwintal di puluar terluar Enggano. Itu saya tukar dengan 10 KG gula pasir dan 2 kG Kopi bubuk ,dan Rokok Djambu satu pak. Tahu berapa saya jual lola itu sekilo ? Rp. 7.500. jadi 3 kwintal seharga Rp. 22 juta. Belum lagi komoditas lain seperti damar mata kucing , rumput laut, batu apung.

Suatu hari, ketika kapal memasuki teluk Jakarta, setelah berlayar dari Pulau Pagai, saya serahkan kemudi kepada ABK, untuk siap siap ganti pakaian. Karena sebentar lagi akan ada pedagang China yang akan datang kekapal untuk meriksa muatan kapal dan transaksi di lakukan diatas kapal. Ketika itu jam 2 pagi. Terdengar suara keras dari lambung kapal, Saya sempat terhuyung. Segera saya naik keanjungan. Mesin kapal kehilangan daya dorong. Saya sadar kapal duduk diatas batu karang. Saya menghela nafas. Segera saya perintahkan kepada ABK untuk segera lompat ke laut. Karena sebentar lagi kapal akan pecah dihantam gelombang. Itu akan berbahaya kalau kami masih di dalam kapal.

Saya memasukan surat kapal kedalam dompet yang melekat dengan ikat pinggang dan Wesel ( bank draft ) sebesar Rp. 50 juta. Terasa dingin menusuk ketika menyentuh air laut. Tak berapa lama, kami bisa menjauh dari kapal, dan menyaksikan kapal pecah. Kami menggunakan pecahan kapal untuk bertahan di laut. Namun saya mulai kawatir karena terasa arus menyeret kami ke tengah laut. Benarlah, nampak teluk jakarta semakin menjauh dan akhirnya tak nampak lagi. Kami berempat bersedekap dengan sebilah papan mengapung ditengah laut. Pagi datang menuju senja dan malam kembali datang. Kami terus terapung. Untuk bertahan hidup, kami makan dari sampah laut seperti rumput atau apa saja. Kalau hujan kami menengadahkan kepala keatas untuk minum.

Saya tidak tahu berapa lama kami di laut terapung apung. Salah satu ABK nampak sudah makan jempolnya sendiri. Saat itulah saya kehilangan harapan. Saya merasa maut sudah sangat dekat. Apalagi berkali kali ABK terlepas dari pagutannya dipapan. Saya berusaha menariknya kembali ke papan dengan memaksanya sadar. Ketika sampai pada puncak kehilangan harapan dan kekuatan, saya berdoa atau tepatnya berbicara kepada Tuhan,

 “ Tuhan, aku berniat akan mengirim ibuku ke Makkah. Beri kesempatanku untuk berbakti kepada ibuku, Ya Tuhan. Kalau niat dan tekadku untuk berbakti kepada IBuku adalah kebaikan di sisiMu, selamatkan kami ya Tuhan. “

Entah mengapa, tak berapa lama, ketika itu matahari baru saja tergelincir menuju malam, nampak cahaya putih tak begitu jauh dari kami. Kapal besar mendekati kami.Terasa gelombang menghentak kami sehingga kami terlepas satu sama lain dari pagutan pada papan. Tapi ada cahaya kearah kami. Tak berapa lama, nampak sekoci diturunkan. Satu satu kami dinaikan kedalam sekoci. Ketika sampai di deck kapal itu, saya langsung tidak sadarkan diri.

Saya perhatikan ruangan semua serba putih.Ada salip Yesus. Saya bingung. Mengapa saya ada diruangan ini. Tak berapa lama, datang suster berbaju serba putih “ Kamu di RS Charitas palembang. Kamu tidak siuman 8 hari. Saya akan panggil dokter. “ Katanya.
“ Mana ABK saya ?“
“ Teman kamu sudah keluar dari rumah sakit. Mereka semua sehat. Hanya dua hari di rumah sakit. “

Saya kembali ke Jakarta. Semua hasil yang saya peroleh dari bisnis ini habis, Untunglah saya tidak ada hutang apapun, karena kapal saya beli dari laba yang saya kumpulkan. Beberapa tahun kemudian saya berhasil mengirim ibu saya ke makkah.

Pesan moral : Bila ada niat baik untuk berbakti kepada orang tua, maka Allah akan selamatkan kita dari prahara. Kalau ingin mendapatkan sorga di dunia maka berbaktilah kepada Ibu. Ada banyak sekali ulama dibelakang Prabowo.Para ulama itu bukan hanya mendoakan tapi juga mendukung tolal PS. Tetapi seorang ibu yang tak henti berdoa untuk seorang Jokowi, bisa membuat Jokowi sebagai pemenang. Yang dibela ulama malah jadi pecundang. Doa ibu sangat dahsyat namun semakin dashyat apabila anak itu menjadi anak yang soleh…

Rasa takut...


Dulu tahun 1987 saya pernah pergi ke suatu daerah. Ketika sampai di daerah tersebut, saya menyaksikan orang kampung sangat mensakralkan bukit. Diatas bukit itu katanya ada kuburan kramat. Setiap malam jumat mereka memberi sesajian ayam dua ekor. Kadang ada juga memberi sesajian kambing. Entah kenapa baik ayam maupun kambing hilang begitu saja. Tanpa bekas. Rasa ingin tahu mengundang saya untuk naik keatas bukit tersebut. Saya perhatikan sekeliling bukit itu. Tidak ada yang aneh. Namun ketika senja datang, ada warna gelap bergerak arah bukit. Ternyata itu jutaan burung walet.

Burung itu hilang tidak jauh dari tempat saya berdiri. Saya perhatikan ternyata ada lubang ukuran setengah meter. Ternyata burung tersebut masuk lewat lubang itu. Saya berkesimpulan bahwa lubang itu mengarah ke goa besar di bawah bukit. Ke esokannya, saya membeli tali panjang dan karung. Dengan tali itu saya masuk kedalam lubang. Setelah turun sepuluh meter dengan bergelantungan tali, saya gunakan senter untuk melihat sekeliling gua. Ternyata ada jutaan burung walet bersarang. Ahaaa..ini rezeki. Dengan berayun ayun saya menjangkau tebing gua , sambil mengambil sarang burung walet. Itu saya lakukan berkali kali. Walau burung walet berharburan kearah saya, saya tidak peduli. Ini uang!

Setelah dapat satu karung terigu sarang burung walet,saya memutuskan untuk masuk lagi kedalam lubang itu dengan tali yang ukuran lebih panjang. Saya yakin kalau agak kebawah mendekati dasar goa akan semakin banyak sarang burung walet. Benarlah , semakin mendekati dasar goa semakin banyak sarang burung walet. Udara terasa pengap ketika kaki saya menyentuh lantai goa. Tapi anehnya terasa empuk pijakan di kaki saya. Ketika saya senter, tempat pijakan saya bergerak. Saya gunakan senter untuk melhat arah gerakan itu dengan jelas. Ternyata bergerak sampai keatas bebatuan di pinggir goa. Nampak agak jauh dari saya berdiri ada kepala ular besar sekali. Tapi matanya nampak tertidur. Wah saya berdiri diatas tubuh ular.

Dengan lambat lambat saya mundur dan melompat kearah samping agar tidak menginjak tubuh ular itu. Saya kembali keatas.Ke esokannya saya membeli karbit. Saya isi kedalam botol. Kemudian saya turun kembali kedalam goa. Dengan obor di tangan saya pancing agar ular itu bangun. Benarlah ular itu terbangun dengan bergerak lambat. Saat ular itu menggerakan kepalanya kearah saya, dengan cepat saya bergerak kesamping melempar botol itu kedalam mulut ular raksasa itu. Ular itu menelan karbit itu dan berusaha turun dari batu tempatnya bergelantung. Saya segerak naik keatas dengan cepat untuk menyelamatkan diri.

Keesokannya saya kembali ke bukit itu dan masuk kedalam goa sambil menyenter kearah ular itu. Nampak ular itu sudah terkapar tak bernyawa. Dengan tali saya dan teman teman tarik ular keatas. Hampir dua jam saya kuliti ular itu. Dalam dua hari saya dapat sarang burung walet hampir 200 kilo dan kulit ular. Keduanya laku di jual. Orang kampung menjadikan bukit itu kramat dan menakutkan tapi saya tidak melihat itu. Rasa ingin tahu saya menemukan rahasia bahwa ular itulah yang selama ini memakan sesajian dan membuat bukit itu kramat.. Bagi saya, ketika resiko datang saya hadapi dengan tenang untuk mencari tahu dan mendapatkan solusi , dan rezeki pun didapat…

Pesan moral cerita : Ketakutan adalah kegelapan dan kebodohan.


Friday, May 08, 2020

cinta itu memberi...

Cinta ? Dimanakah cinta itu kini ? Lelah aku bertanya pada diriku sendiri. Kamu mungkin bertanya pula padaku, bagaimana mungkin seorang ibu, seorang istri bertanya dimana cinta ? Bukankah cinta itu sudah menjelma menjadi sebuah lembaga yang dirahmati Allah. Yang bernama Rumah tangga. Rumah yang ada tangganya. Tangganya itu adalah kekuatan hati untuk masuk kedalam. Kedalam mana ? Ya, dalam hati. Rumah adalah simbol sebuah ruang didalam hati. Di dalamnya ada mahligai untuk saling berbagi dalam susah maupun senang. Ah, bukan itu yang kumaksud. ! Jadi apa ? Itu , yang kumaksud , aku ingin Bang Udin ada di sampingku ketika dia melangkah. Aku ingin dia mengerti aku ketika aku tidak memahami. Kuingin dia menyediakan pundaknya ketika aku menangis dalam dekapannya. Kuingin dia ada seperti apa yang kumau. Itu aja.

Tapi itu yang tidak kudapatkan. Bukankah keinginan ku sangat sederhana. Kalau keinginan ku itu adalah ujud cinta yang kuharapkan, seharusnya aku mendapatkannya. Tidak perlu sulit atau memohon darinya. Ya. Kan. Aku mulai berpikir Bang Udin hanya mempermainkanku, mempermainkan aku sebagai ibu dari anaknya dan juga istri yang di nikahinya secara syah dihadapan Tuhan. Betapa tidak ? Setiap hari yang kurasakan, tidak ada lagi respect. Bila dia pergi , dia akan pergi begitu saja. Beli dia ada janji untuk pulang cepat , semudahnya dia melupakan. Bila aku ingin pergi keluar dan berharap di antarnya, seenaknya dia bilang sibuk. Ketika aku sakit perut, seenaknya dia bilang, cepat kedokter sambil melotot. Ketika aku lelah dengan anak anak di rumah, dia malah minta di pijit sepulang kerja dari Kantor. Bah, bukankah ini penjajahan era baru dari sebuah lembaga bernama Rumah tangga.

Kemarin , hari ini, dan mungkin besok aku akan tetap seperti ini. Selalu merasa kalah dan di kalahkan olehnya. Ingin aku marah tapi kepada siapa?. Tidak ada yang salah dari bang Udin. Dia setia dan tidak pernah selingkuh. Aku yakin betul itu. Karena aku tidak terlalu tolol untuk mengetahui dia selingkuh atau tidak. Selama pra nikah, aku mengenal Bang Udin dengan baik. Setelah menikah , aku hapal setiap gerak tubuhnya dan bahasa tubuhnya. Juga bahasa matanya. Aku tahu segala galanya untuk mengetahui pasti apa yang tidak terungkapkan dengan kata kata. Yang jadi masalah, Bang Udin terlalu bodoh mungkin. Ya bodoh, itu yang kumaksud. Dia tidak tahu bagaimana bersikap untuk sebuah cinta dan memahami arti di balik cinta itu. Dan menganggap cinta selesai ketika diucapkan ketika melamarku sebagai istrinya. Setelah itu , yang ada hanya rutinitas yang membosankan.

Bahwa aku ingin Bang Udin bersikap layaknya Romeo yang berhati lembut memahami aku. Membiarkan tangan kokohnya kupeluk. Membiarkan tubuhnya ku dekap manja dihadapan setiap orang. Membiarkan waktu sibuknya terluangkan untuk bersamaku pergi belanja dihari libur. Pergi kedokter untuk memeriksa kehamilanku. Mendengarkan keluhanku , kelelahanku dirumah, Tapi memang itu terlalu mahal baginya. Kini, sekarang, aku harus menentukan sikap. Aku harus menuntut hakku. Hak sebagai  orang yang katanya di cintainya. Hak untuk diperlakukan layak sebagai istri, sebagai mitra dan juga saebagai kekasih. Harus. Suka tidak suka harus dia hadapi sikapku ini. Agar aku tidak merasa kalah dan dikalahkan.Agar aku merasa ada equality.

Malam itu seperti biasa setelah Bang Udin lelah dengan kerjaanya yang di bawanya dari kantor. Setelah bercengkrama di depan Notebooknya. Bang Udin langsung ketempat tidur. Aku memunggunginya. Dalam beberapa detik ” Mah, urut dong” Bah, benarkan, Kebiasaan jelek penjajah datang lagi.

” Ogah. Aku capek ” Jawabku ketus sambil tetap memunggunginya.

” Tolong dong, ”

” Ogah.”

” Eh, kenapa sih. Ketus amat. ” Katanya sambil berusaha membalikan tubuhku menghadap kearahnya. Aku tetap bersikeras untuk memunggunginya. Tapi tangan kokohnya memang perkasa dibandingkan tubuhku yang mungil.

” Loh..kenapa ? mah ” Katanya dengan terkejut karena melihat airmataku berlinang. ” Kamu ada apa ?”

” Aku bosan, Bosan. ” Suaraku agak keras. Aku bangkit dari tidurku. Aku duduk menghadap kearahnya yang tetap rebahan dan kebingungan ” Setiap hari kamu perlakukan aku dengan seenaknya. Aku capek urus anak anak tadi siang, Aku capek urus rumah. Aku capek melayani Rini yang terus rewel. Aku capek antar pulang pergi Riki kesekolah dan kursus. Sementara kamu enak aja suruh aku mijit. Seenaknya sibuk dengan urusan kamu. ” Kataku dengan airmata berlinang.

Eh , Bang Udin malah bingung mendengar kata kataku. Kan benar, dia memang bodoh. Engga paham perasaanku. ” Oh itu. Ya aku tahu kamu capek. Ya udah. Kalau engga mau ngurut ya bilang aja. Aku mau tidur ah. ” Katanya sambil tengkurap. Benar benar ini orang tidak punya hati.

” Bangun ! Kataku sambil menarik tubuhnya dari telungkup paus. Tapi tubuhnya memang kokoh, Tak berdaya aku membalikan tubuhnya. ” Aku mau tidur, mah, Besok pagi aku harus datang lebih awal di kantor untuk persiapan rapat. ”

” Aku mau bicara ! Sentakku.

” Besok aja ya bicaranya. ”

” Sekarang ! Kataku berusaha membalikan tubuhnya

” Ya, Ya.. ” Dia kembali telentang. Rasanya aku ingin marah dan memukul tubunya sekencang kencangnya. Tapi senyumnya membuat aku luluh,. Oh Tuhan, ya senyum inilah yang membuat aku jatuh cinta. Senyum yang ringan tanpa beban apapun. Kadang terkesan manja di hadapanku. ’ Mau bicara yaaaa. Apaan sih ” katanya sambil berusaha menciumku. Tapi aku cepat mengelak. Bibirnya terus di mancungkan kearahku dengan mata terpejam. Terkesan lucu bagiku. Aku tak bisa meneruskan kata kataku. Tak terasa , entah kenapa akupun tersenyum sambil memeluknya. ” Eh udahan ya marahnya.” Katanya sambil membalas pelukanku. Dengan lembut dia berkata :

” Aku tahu kamu lelah dengan segala keseharian kamu. Aku tahu kamu inginkan kelembutan seperti ketika kita pacaran dulu. Aku tahu kamu inginkan kehangatan seperti ketika kita bulan madu dulu. Aku tahu itu. Tapi berjalannya waktu, bagi ku cinta bukan hanya sekedar kata kata, tapi perbuatan. Setiap hari aku bekerja keras, Itulah caraku mengungkapkan cinta itu. Bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Marriage is not a noun. it's a verb. It isn't something I get. It's something I do. It's the way i love you every day

Aku tersentak...

Di hadapanku kini ada pria yang kokoh sebagai pelindungku, sebagai imamku dan juga belahan jiwaku. Tentu tidak mudah baginya untuk membuat rumah tangga utuh di tengah situasi dunia seperti sekarang. Aku tersenyum di hadapannya. Memberikan senyum terindah baginya, sebagai ujud keikhlasanku mendampinginya untuk menjaga amanahnya, menjaga hartanya, menjaga anak anak yang lahir dari rahimku. Itulah harus kulakukan kini dan besok. Cinta yang dulu kumaknai ketika awal bertemu dengannya harus ku defenisi ulang agar aku tak perlu lagi kecewa dan merasa kalah. Aku ingin menjadi pemenang dalam diriku dan untuk itu harus kuperjuangkan dengan segala susah payah sebagaimana suamiku berjuang memenuhi kebutuhan hidup yang tak ada lagi yang gratis…