Posts

Showing posts from May, 2020

Cobaan dalam kebersamaan.

Image
Selama ini aku agak tertutup bercerita tentang aku dan dia. Mungkin Yun, menjadi tanda tanya yang tak sudah bagimu. Mengapa aku begitu tegar besikap. Seakan bagaikan batu karang di tengah samudera yang tak pernah tergoyah walau di hantam ombak tiada henti. Baiklah aku ceritakan sedikit. Ketika menikah, aku hanyalah pria kampung yang miskin. Datang ke Jakarta tanpa skill, hanya berbekal keberanian atas dasar keimanan. Berawal dari sebuah rumah mungil di pinggiran barat Jakarta yang  kami sewa bulanan. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Dia berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Aku , seperti biasa, sibuk bersiap diri pergi ke kantor. Bukan orang kantoran tapi orang yang melapor ke kantor bahwa dia hadir untuk menjajakan barang dagangan. Tak ada gaji kecuali komisi.  Dasternya tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan tahi lalat di tempat tertutup. Hanya aku tentunya yang tahu persis letaknya. Rambut lebatnya dibiarkan memanja

Menciptakan pilihan sendiri

Image
Disuatu tempat berkelas, berada di financial center Hong Kong. Ada sebuah café yang aku gemar belama lama duduk sambil memonitor transaksi pasar melalui laptop kesayanganku. Mataku tertuju kepada wanita yang duduk tepat didepan mejaku. TIdak begitu jauh hanya 2 dua meja. Wanita berusia 30an tahun. Wajahnya oval. Lebih mirip wanita Indonesia dengan rambut hitam dan mata bulat. Baju yang dikenakannya adalah blazer hitam. Sangat sesuai sebagai wanita karir yang berkelas. Ketika mata kami beradu pandang, dia memalingkan wajahnya. Aku tersenyum didalam hati , karena begitulah wanita yang terlalu pandai berpaling dari sikapnya. Didepannya ada tas warna hitam. Tas yang biasa untuk menyimpan document sebagai standard para executive disini. Juga ada majalah Fortune tergeletak dimejanya. Dia tidak menyentuh majalah itu. Namun tangannya asik menulis diatas meja. Seakan menghitung angka karena kadang kepalanya terdongak keatas. Pertanda dia sedang berpikir. Barangkali.  Tak berapa lama ,

Mencintai Ibu

Image
Tahun 1980an saya bangkrut. Saya pun gunakan tenaga yang ada berdagang antar pulau. Target saya adalah pulau terluar yang tidak ada komunikasi dengan dunia luar. Kalau bisa pulau itu engga kenal uang. Sebelum berangkat saya sudah punya rencana apa saja komoditas yang menjadi target saya. Jadi dengan menyewa KLM ( kapal layar mesin), saya berlayar ke target setelah dapat informasi dari ABK tentang potensi pulau itu. Waktu berangkat, saya membawa kebutuhan pokok yang akan dibarter dengan komoditas dari penduduk pulau. Seperti Kopi bubuk, gula, garam, dan beras. Hampir pulau terluar pernah saya kunjungi. Tadinya saya sewa, akhirnya saya bisa punya sendiri dan menakhodai sendiri kapal itu. Sebetulnya inilah cara saya fundrasing untuk memulai business lagi. Untungnya sangat besar. Saya beli lola ( keong ukuran besar ) 3 kwintal di puluar terluar Enggano. Itu saya tukar dengan 10 KG gula pasir dan 2 kG Kopi bubuk ,dan Rokok Djambu satu pak. Tahu berapa saya jual lola itu sekilo ? Rp.

Rasa takut...

Image
Dulu tahun 1987 saya pernah pergi ke suatu daerah. Ketika sampai di daerah tersebut, saya menyaksikan orang kampung sangat mensakralkan bukit. Diatas bukit itu katanya ada kuburan kramat. Setiap malam jumat mereka memberi sesajian ayam dua ekor. Kadang ada juga memberi sesajian kambing. Entah kenapa baik ayam maupun kambing hilang begitu saja. Tanpa bekas. Rasa ingin tahu mengundang saya untuk naik keatas bukit tersebut. Saya perhatikan sekeliling bukit itu. Tidak ada yang aneh. Namun ketika senja datang, ada warna gelap bergerak arah bukit. Ternyata itu jutaan burung walet. Burung itu hilang tidak jauh dari tempat saya berdiri. Saya perhatikan ternyata ada lubang ukuran setengah meter. Ternyata burung tersebut masuk lewat lubang itu. Saya berkesimpulan bahwa lubang itu mengarah ke goa besar di bawah bukit. Ke esokannya, saya membeli tali panjang dan karung. Dengan tali itu saya masuk kedalam lubang. Setelah turun sepuluh meter dengan bergelantungan tali, saya gunakan senter unt

cinta itu memberi...

Image
Cinta ? Dimanakah cinta itu kini ? Lelah aku bertanya pada diriku sendiri. Kamu mungkin bertanya pula padaku, bagaimana mungkin seorang ibu, seorang istri bertanya dimana cinta ? Bukankah cinta itu sudah menjelma menjadi sebuah lembaga yang dirahmati Allah. Yang bernama Rumah tangga. Rumah yang ada tangganya. Tangganya itu adalah kekuatan hati untuk masuk kedalam. Kedalam mana ? Ya, dalam hati. Rumah adalah simbol sebuah ruang didalam hati. Di dalamnya ada mahligai untuk saling berbagi dalam susah maupun senang. Ah, bukan itu yang kumaksud. ! Jadi apa ? Itu , yang kumaksud , aku ingin Bang Udin ada di sampingku ketika dia melangkah. Aku ingin dia mengerti aku ketika aku tidak memahami. Kuingin dia menyediakan pundaknya ketika aku menangis dalam dekapannya. Kuingin dia ada seperti apa yang kumau. Itu aja. Tapi itu yang tidak kudapatkan. Bukankah keinginan ku sangat sederhana. Kalau keinginan ku itu adalah ujud cinta yang kuharapkan, seharusnya aku mendapatkannya. Tidak perlu sulit

Tanya?

Image
Subuh itu Udin datang ke Masjid. Lebih dari setengah abad dia tidak berkunjung ke masjid ini. Karena lama rantau di arungi, jauh langkah di tempuh, membuat dia hampir melupakan tempat dia mengenal hakikat kehidupan. Tidak ada yang berubah sesungguhnya dari Masjid ini. Kalaupun ada penambahan bangunan di belakang , itu hanya untuk tempat wudhu dan toilet. Maklum, dulu semasa kecilnya tempat wudhu berdekatan dengan air pincuran bambu yang airnya berasal dari pegunungan. Tapi sekarang, air pincuran di tampung kedalam Bak dan orang berwudhu melalui kran yang menempel di bak itu. Namun, ada perubahan yang sangat mencolok. Jamaah sholat subuh hanya ada dua shap. Itupun kebanyakan orang tua. Kemana anak muda?  " Lama tidak bersua. Kemana saja kau Din? Tanya teman sepermainannya. Yang kini tampak lebih tua dari usianya.  " Merantau, Man. " Kata Udin sambil memeluk sahabat masa kanaknya. " Kok sedikt sekali yang jadi makmun sholat subuh ini? Saya membayangkan seperti