Posts

Showing posts from October, 2021

Titipan terindah

Image
  Kupandangi Mia dalam tidur pulasnya. Kucium lembut keningnya. Airmataku menganak di tubir mata. Di samping nampak suamiku memperhatikan. “ Maafkan bunda, Ya Mia.” Kataku dengan suara sesal dan tahan isak tangis. Tadi siang aku sempat marah besar kepada Mia karena entah kenapa dia tidak mau pergi sekolah. Dengan segala macam cara aku membujuknya tapi Mia tetap tidak mau kesekolah. Tak disengaja aku meletupkan amarahku sampai memukul kakinya. Mia menangis “ Bunda, sakit …” aku terdiam seketika ketika melihat wajah takutnya memandangku. Segera aku merangkulnya. “ Sekolah ya nak. Mia kan mau jadi orang pintar. Sepintar ayah Mia , yak an” “ Mia, engga mau sekolah bunda” katanya dengan pandangan kosong. “ Kenapa , sayang “ “ Mia, takut sama Bobi. “ “ Siapa itu ? “ Anak laki laki” “ Emang kenapa “ “ Dia sering ganggui Mia. Mia benci Bobi..” katanya meninggi. “ Gimana kalau bunda antar Mia kesekolah “ Matanya memancarkan satu keyakinan dan kekuatan “ benar , bunda mau antar Mia kesekolah” Ak

Menari dibalik kabut...

Image
  Hong Kong. Sore itu saya datang ke tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan seseorang. Karena teman yang rekomendasi, saya penuhi pertemuan itu. Bertempat di restoran kecil di pojok jalan. Memang ini lingkungan cafe di kawasan central Hong Kong. Walau tempatnya kecil tetap saja sewanya mahal. Harga menu engga murah. Belum sempat pesan menu, seorang wanita usia empat puluhan mendekati saya. “ Saya dari Pak Denny. Saya baru sejam lalu mendarat dari NY “ Katanya dengan wajah dingin. “ Duduklah.” Kata saya cuek sambil pilih menu. Pelayan restoran datang. “ Ayam Hainan.” kata saya.  “ Dan anda “ kata pelayan itu kepada wanita depan saya duduk. “ Kopi saja.”  Pelayan berlalu. Wanita itu mengeluarkan amplop warna kuning. Saya membuka amplop itu. Setelah membaca sekilas. Saya masukan kembali dokumen itu kedalam amplop. Saya mengambil cheque dari balik saku jas saya. Menyerahkan ke wanita itu. Tampa melihat jumlah tertera di cheque itu, wanita itu pergi dari hadapan saya.  *** Singapore Sa

Merebut hati orang

Image
  Tahun 1987 saya pertama kali bersentuhan dengan Bank untuk jadi debitur. Waktu tiu usia saya 24 tahun. Collateral engga ada. Tapi saya ada long term kontrak ekspor keranjang Rotan. Semua bank minta collateral. Rekening saya untuk dijadikan Personal gurantee engga cukup. Saya bertemu dengan mentor saya. Dia orang Tionghoa. Setelah saya ceritakan masalah saya, dia tersenyum.  “ Kamu harus ketemu dengan Dirut Bank langsung. Hanya dia yang bisa mengerti rencana kamu dan berani ambil resiko. “ Kata mentor saya. Siapa saya yang bisa bicara dengan dirut bank. Usia masih muda. Business masih kelas gurem.  “ Kamu dan dia sama saja. Sama sama dirut perusahaan dihadapan UU. Jangan takut. Temui dia. Kalau ketemu, pastikan dalam 3 menit dia tertarik dengan rencana kamu” Nasehat mentor saya.  Saya datang ke kantor pusat Bank itu di kota. Jam 7 pagi saya sudah ada di ruang tunggu dirut itu.  Jam 7.30 dirut bank itu masuk ke kamar kerjanya. Saya membungkuk memberikan hormat. Dia tersenyum. “ Ada apa