Saturday, February 11, 2023

Aku mengkawatirkan kamu...

 




Dulu waktu SMA tahun 1980. Aku punya tetangga wanita. Dia juga SMA tapi sekolah Madrasah. Aku suka dia. Tapi dia cuek saja. Mungkin karena sangat cantik. Aku tidak pede dekatin dia.  Kalau pergi sekolah aku jalan kaki dan dia juga jalan kaki. Sekolahnya satu arah dengan sekolahku. Tetapi lebih jauh sekolah aku. Jadi kami pasti pagi jalan beriringan. Bertahun tahun, aku tidak tegur dia.


Pada satu waktu. Saat aku jalan di depannya. Dia terhenti. Berusaha menutupi pantatnya. Roknya sampai mata kaki. Dia menoleh kepadaku yang ada di belakang. Wajah putihnya bersemu  merah. Berusaha ditutupi wajahnya dengan jilbabnya. Saat aku akan melewatinya. Aku mau bertanya. Tapi ragu. Ah lewat aja. “Ale..” terdengar suara memanggil.


“ Ya Ria. Ada apa ?


Dia terdiam. Tapi dia berusaha menutupi pantatnya terus. Aku melihat dari dekat ada apa di pantatnya. “ Oh..darah.” kataku. “ Kamu datang bulan? kataku. Dia mengangguk. 


“ Ale, bisa bantu ke rumah aku. Bilang ke  bunda, aku datang bulan pas di tengah jalan.” Katanya menunduk “ Aku tunggu di rumah itu. " Katanya menunjuk rumah. " Aku akan minta izin sama yang punya rumah untuk ganti “ Katanya. Tanpa banyak tanya aku langsung jalan. Sampai di rumahnya aku ceritakan keadaan Ria.  Ibunya segera masuk ke rumah dan serahkan kantong plastik. Aku kembali lagi ke Ria. Dia tersenyum ” terimakasih Ale” Katanya. Aku mengangguk.


“ Aku duluan ya. Kawatir telat masuk kelas. Sekolah aku masih jauh” Kataku. Dia mengangguk.


Setelah itu walau kami sering jalan beriringan namun kami tidak pernah saling bersapa.  Di rumahpun aku jarang ketemu dia. Dan lagi akupun setelah pulang sekolah dagang di pasar. Hanya kalau pergi solat Magrib ke Masjid, saat melintasi rumahnya, aku sempatkan melirik ke dalam rumahnya. Dia lebih banyak di dalam rumah. 


Setamat SMA aku putuskan pergi merantau ke Jawa. Saat aku melintasi depan rumahnya dengan ransel besar dipunggungku. Ria berlari dari dalam rumah sampai depan teras “ Ale jadi juga pergi merantau ke jawa ? Tegurnya.


“ Ya Ria. “ Kataku. Jarak ku dengan dia sekitar 2 langkah.  Dia terdiam menatapku.  Tanpa ada kata kata.  Loh selama ini dia tidak pernah menatapaku langsung. Selalu menghindar. “ Ale hati hati ya.” Katanya dengan wajah kawatir. Aku lihat air matanya mengambang. Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Aku terus melangkah.  Dari jauh aku lihat ke belakang. Dia masih di teras. Dia lambaikan tangan ke arahku. Aku balas lambaian tangannya.


Dua tahun aku dirantau, aku dapat kabar Ria sudah menikah. Tentulah mudah jodoh untuknya. Dia cantik. Aku berdoa semoga dia bahagia dengan hidupnya. Akupun sibuk dengan hidupku.


***


Tahun 2008, aku dapat undangan untuk ikut rombongan presiden kunjungan kerja ke Pulau Bintan meresmikan proyek Pariwisata. Dari Hong Kong aku terbang ke Singapore dan pakai fery ke Pulau Bintan. Di Pelabuhan fery badanku sudah terasa meriang. Karena sudah lebih 3 bulan aku kurang tidur. Maklum penghujung tahun 2008 adalah hari hari yang berat. Instrumennt pasar uang jatuh semua. Bursa juga pada rontok. Sebagai pengelola portfolio investasi, aku berusaha berselancar di gelombang pasar yang tidak bersahabat itu. 


Dalam perjalanan asam lambungku kumat. Aku berusaha tenangkan diri. Sampai di demarga Tanjung Pinang. Aku pesan aqua di warung yang ada di dermaga. Saat mataku menatap penjual itu, aku merasa melihat masa ramajaku. Wanita penjual itu tersenyum. “ Ale..” Tapi badanku terhuyung. Keringat dingin membasahi tubuhku. Wanita itu menahan tubuhku agar tidak jatuh. Dia dudukan aku kursi. Dia beri aku air hangat. Itu sangat membantu mengurangi asam lambungku. Aku bisa tegar kembali.  


“ Ale demam.” Katanya.


“ Aku engga apa apa Ria. Kamu mau kemana ?


“ Aku tinggal di Tanjung Pinang. Aku kerja di warung itu” Katanya menunjuk warung. “ Ale ada apa ke Tanjung Pinang?


“ Aku mau menghadiri undangan peresmian proyek Wisata di Pulau Bintan. Aku nginep di Hotel Nirwana bersama rombongan presiden” Kataku dengan keadaan masih lemas. Tidak berapa lama jemputan dari hotel datang. Ria antar aku sampai ke kendaraan. Aku pegang lengan Ria “ Jangan tinggalkan aku, Ria. “ Kataku dengan suara lemah saat mau masuk ke dalam kendaraan.


“ Ya Ale, aku akan ikut kamu. “ Kata Ria. Dia duduk di sebelahku. Entah mengapa aku tertidur. Baru aku sadari ketika sampai di hotel, aku tertidur dipundaknya dan dia tahan dengan tangannya selama dalam perjalanan.


“ Terimakasih. Setelah acara aku kembali ke dermaga dan terus pulang ke Jakarta lewat Singapore. “ Kataku salah tingkah. Tapi Ria tersenyum. 


Sampai di hotel. Staff ku dari kantor di Singapore yang sudah tunggu di loby hotel. “ Pak sakit apa ? Katanya menyerahkan kunci kamar. Ria antar aku ke kamar bersama staf ku. 


“ Pak acaranya besok pagi. Apa bapak mau kembali hari ini dan batalkan hadir dalam acara atau tetap tinggal di sini ? Saya panggilkan dokter?


“ Panggil dokter sekarang” kataku


“ Siap pak.” 


Kakiku terasa dingin. Aku sempat muntah di kamar mandi. Ria bantu aku bawakan air hangat. Wajahnya keliatan kawatir. Tetapi aku tetap senyum.” Engga apa apa. Sebentar lagi dokter datang. “ kataku.


Tak berapa lama dokter datang ke kamar hotel. Setelah makan obat. Aku sholat Lohor dan Asahar digabung. Terasa  ngantuk sekali dan tertidur. Ketika terjaga, aku lihat Ria tertidur di Sofa. Aku lirik jam di meja lampu kamar tidur. Jam menunjukan pukul 3.40 pagi. Oh artinya aku tertidur lebih 12 jam. Badan terasa bugar. 


Pikiranku langsung ke Laptop. Bersegera aku sambar tas untuk ambil komputer. Buka akses ke jaringan Safenet. Aku terkejut.  Reposisi aset yang aku rancang sebelumnya, semua recovery bahkan lebih solid dibandingkan sebelum kejatuhan Lehman. 12 jam lebih berlalu dalam diam, tanpa aku kawatirkan apapun, telah menyelamatkan aku dari prahaha selama 3 bulan.  Terimakasih Tuhan. Kadang kita perlu menjauh dari kerusuhan dan berhenti barang sejenak. Selanjutnya biarkan waktu yang menyelesaikan. 


Aku ke toilet dan berwudu. Sholat jama’a Maghrib dan Isya dan kemudian di lanjutkan dengan sholat Tahajud.  Usai sholat Tahajud aku lihat Ria sudah bangun. Dia duduk di sofa tersenyum kearah aku. “ Ria engga pulang? 


“ Aku kawatirkan Ale. “ Katanya. “ Ale, sudah sehatan ?


" Ya Alhamdulilah. Sudah sehat. "Kataku tersenyum. " Ria udah makan? 


" Kamarin staff Ale pesankan makanan ke room service. Dia temanin aku makan di kamar. Dia cerita, Ale boss yang jarang bicara dengan staff. Tapi baik. " Kata Ria tersenyum.  Tapi aku baru sadar. Wah dia kan istri orang. Gimana dengan suaminya kalau tahu dia tidur di kamar bersama pria lain. “ Duh maafkan aku Ria. Seharusnya sebelum tidur, aku titipkan kepada staff ku antar kamu pulang. Apa kata suami kamu, kalau tidak pulang?


“ Suamiku sudah meninggal. Aku sudah telp ke anakku. Dia sudah tahu aku tidak pulang. “


“ Oh..” aku ikut berimpati dengan keadaanya yang menjanda.


“ Engga apa apa. Aku sudah 10 tahun hidup sendiri.” Katanya tersenyum. 


Subuh masuk, kami sholat berjamaah. Ria selalu menggunakan baju kurung dan berhijab. Jadi tanpa mukena dia tetap sholat. " Dulu waktu kita di Lampung, setiap maghrib aku selalu menanti suara Azan Ale di Masjid. Kalau bulan puasa aku sering dengar  lewat speaker suara Ale tadarusan. Suaranya merdu sekali. " Kata Ria usai sholat. " Kini aku kesempatan sholat berjamaah dengan Ale...Duh puja puji Allah." Lanjut Ria. Aku tatap dia sekilas. Aku tersenyum dan melangkah kearah meja. " Kini Ria jaga kesehatan ya. Kalau ada apa apa telp aku. Janji ya." kataku. Dia menatapku dan cepat menundukkan kepala.


Aku kembali ke laptop. Aku sedang euforia. Aku sibuk telp semua team ku yang ada di Hong Kong dan Eropa untuk focus jaga posisi. Selama itu, mungkin Ria perhatikan aku. Setelah selesai koordinasi. Aku kembali ke Sofa. " Hebat Ale. Enga kebayang kalau Ale yang aku kenal semasa remaja.  Pria yang sholeh, patuh kepada kedua orang tua, sudah mandiri sejak SMA. Kini jadi orang hebat. Tinggal di holel mewah. Ikut rombongan presiden. Tapi tetap menjaga sholatnya. Tetap rendah hati " Kata Ria. Aku tatap dia tapi dia cepat menundukkan kepala. Akhirnya aku hanya senyum.


Jam 7 pagi. Aku minta staf ku antar Ria  pulang. Sebelum masuk kendaraan aku serahkan amplop. “ Beri kesempatan aku mencintai anak yatim bersama kamu. Jaga diri baik baik ya Ria” kataku. 


“ Ale, tidak perlu. Aku baik baik saja.” Katanya. Aku tetap sorongkan uang ketangannya. Akhirnya dia terima juga. 


“ Terimakasih Ale.” 


Semua dollar yang ada di tas selempangku aku serahkan semua ke Ria. Ada lebih USD 10,000. Uang itu tidak ada artinya ketika dia berkata “ aku kawatirkan, Ale”. Tanpa ketulusan cinta, dia tidak mungkin mengatakan itu dan mau tinggal di kamar menjagaku.  


Sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Ria, namun doaku selalu ada untuknya.  Belakangan tahun 2013, Aku minta Florence mencari tahu tentang Ria. Karena Florence tinggal di Batam. Dari Florence aku dapat kabar Ria tinggal bersama putri dan menantunya di Pakan Baru. 


“ Berkat uang dari kamu, Ria bisa buka toko di Pakan Baru, dan berkembang. Kini usaha itu dilanjutkan oleh Anak dan menantunya. “ kata Florence. “ Tapi dia malu untuk telp kamu. Katanya dia sudah senang bisa ketemu sekali dengan Ale-nya. Dia akan selalu doakan kamu, Ale.” Lanjut Florence.



Saturday, February 04, 2023

Idealisme ?


Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata rata lepas makan alias sekedar naik kelas. Walau rumahku dinding gribik dan rumahnya berdinding beton, tidak menghalangi keakraban kami. Dia lemah dalam hal matematika. Dan aku suka matematika. Mungkin karena alasan itu dia ingin berteman denganku. Entahlah. Yang pasti dia suka ke rumahku. Selalu memuji masakan ibuku enak katanya.


Akupun sering ke rumahnya. Ayah nya nasehati kami agar belajar keras dan cita cita harus tinggi. “ negeri ini perlu para sarjana hebat untuk membangun negara. Mengangkat mereka dari kubangan kemiskinan. Pak Harto punya mimpi menjadikan Indonesia macan Asia. Kehebatan sarjana kalau mereka berakhlak mulia. Tulus mengabdi kepada tugas yang diemban.” Nasehatnya kepada kami. 


“ Ale punya cita cita apa ? Tanya ayahnya


“ Saya tidak tahu pak. Keluarga kami miskin. Mau berharap beasiswa aku tidak pantar."


Setelah tamat SMP kami berpisah. Beda SMA. Tapi kadang dia datang main ke rumahku. Di kamarku, kami cerita tentang teman teman kami di sekolah. Dia sekolah Kristen dan aku sekolah negeri.


“ Ini radio rongsokan. Untuk apa, Ale.? Katanya melihat ada rongsokan radio tanpa casing di laci meja belajarku.


“ Itu bukan rongsokan. Itu radio aku buat sendiri.” 


“Eh dulu kan waktu SMP kita punya pelajaran prakarya elektronik. Aku tidak paham. Sepertinya kau pun tidak paham. Waktu praktek, kau hanya bisa buat bel. Kenapa sekarang kau bisa buat Radio “ Katanya.


“Aku hanya ciplak design di buku prakarya elektronik. Aku beli papan transistor dan transistor nya, termasuk speaker dan baterai. Kemudian aku susun transistornya dengan las timah. Jadilah radio. Sekedar menangkap saluran BBC london, lumayanlah “


“ Untuk apa BBC London “


“ Aku perlu belajar bahasa inggris dari radio. “ 


“ Mau keluar negeri kau ? 


“ Nanti kalau aku merantau ke Jakarta, aku bisa cari makan dari touris guide. Setidaknya skill ku bertambah. Bukan hanya skill masak, menjahit dan perbaiki jam. Dengan skill itu aku bisa bertahan hidup di rantau.” kataku. Dia tersenyum dan sepertinya dia tidak antusias mendengar alasanku. Dia justru minta aku mendengar mimpinya untuk jadi insinyur dan setelah itu kuliah di luar negeri.


“Mengapa kamu tidak bercita cita?


“Aku hanya ingin merantau. Setelah di rantau entah lah. Yang penting merantau saja.”


“ Aku mau masuk universitas di Jawa” katanya. 


Kelas 3 SMA kami sudah jarang bertemu. Pernah malam minggu dia jalan bersama Amoy cantik di depan aku dagang kaki lima di pojok pasar. Aku berusaha menegurnya, tapi dia melengos seperti tidak kenal. Aku maklum. Dia asik dengan pacarnya. 


Tamat SMA sebelum pergi merantau ke Jakarta, aku bertemu dengan Rahmat di kios photo copy. “ Aku mau ke Bandung, ale” katanya. “ Gimana dengan kau? tanyanya.


“ Aku ke Jakarta. “


“ Kuliah dimana ? 


Aku menggeleng.. “ Aku doakan saja semoga cita cita mu terkabulkan” kataku.


“ Terimakasih Ale. Niatku sekolah tinggi agar aku bisa jadi PNS dan bisa membantu orang miskin seperti kamu.”


“ Amin Ya Allah “ 


***


Tahun 87 aku dapat cerita dari teman SMP ku. Rahmat bekerja sebagai PNS setelah meraih gelar insinyur pertanian di Bogor. Tahun 87 aku sudah punya pabrik carrugated box.  Aku sudah mengikuti kursus singkat Akuntansi management. Karena aku perlu pengetahuan menganalisa laporan keuangan perusahaan. Aku juga kursus Management Usaha Baru agar aku mengerti bagaimana mengelola manufaktur. Ikut program pendidikan dan pelatihan ekspor yang difasilitasi pemerintah. Tahun 90 aku dapat cerita lagi, Rahmat dapat beasiswa ambil S2 dan Phd di AS. Aku senang. Karena cita citanya terkabul. 


Tahun 2002 aku dapat kabar , posisi rahmat sudah eselon di kementrian. Tahun 2004 aku hijrah bisnis ke China. Tahun 2006 pada satu acara seminar di Hong kong tentang Trade agriculture aku bertemu dengan Rahmat. Saat itu aku sedang mengembangkan bisnis Maklon.


“Ale ! Sapanya, tapi kesannya terkejut ketika melihatku hadir dalam seminar itu.” Ale kerja dimana ?


“ Aku engga kerja. Tapi dagang, Mat.” 


“ Alumni universitas apa ?


Aku menggeleng.


“ Kenapa ikut seminar ini ?


“ Ya inikan seminar tentang international trade bidang agriculture. Aku ingin tahu kuridor WTO. Ini penting untuk wawasan bisnis international ku.” Kataku.


“Ale apa ngerti materi seminar yang disampaikan? katanya dengan senyum satire.


Aku mengangguk. Tapi Rahmat tidak merindukan aku teman semasa remajanya. Dia cepat berlalu bergabung dengan teman temannya. Aku maklum. Walau sebenarnya aku merindukannya.


***

Tahun 2012.Bersama dengan mitra globalku dari China, AS dan Hong kong, aku sudah punya Holding international di Hong Kong. Di Indonesia aku juga punya holding bidang perkebunan, perikanan, manufaktur, Trading, Agro Industri. Saat itu unit bisnisku bidang pengolahan makanan kemasanku semakin sulit berkembang. Karena bahan baku gula dan garam yang semakin mahal. Kalau aku tidak cari akal, bisnisku terancam bangkrut akibat rente impor. Aku harus berusaha surival. Aku cukup punya pengalaman  berbisnis jatuh bangun akibat bisnis rente dari pesaingku.


“ Wi, cari orang yang sering diakses diam diam oleh pejabat. Ada tapi tiada. “ Kataku kepada asisten bisnisku.


“ Untuk apa ?


“ Gua mau ambil quota impor. Ini udah engga fair mainnya. Kalau kita ngalah, kita hanya jadi penonton bego. Pabrik makanan kita bisa tutup karena itu. “


“ Siap Bro. Paham gua”


Seminggu kemudian Awi ketemu aku. “ Ini orang nya yang kamu maksud itu” katanya memperlihat photo di gadget dia. “ Namanya Dewi. Dia punya stok cewek sekelas seleb. Bukan hanya sekedar goyang ditempat tidur tapi juga enak dianjak kencan. Ngomong pinter dan wawasan ok punya. Pelanggannya semua AAA rate punya” Kata Awi. AAA yang dimaksud adalah pejabat level tinggi.


Sebulan kemudian Dewi kena kasus dan diberitakan secara nasional. Kasus mucikari artis. “ Bro, dia udah gua bebaskan. Dia mau kerja untuk kita” Kata Awi.


“ OK, coba test. Gua mau lihat pejabat ini makan malam di Singapore dengan anak  buah dia. Kalau benar dia bisa atur, ya udah. Kita lanjut pekerjakan dia” Kataku sebutkan nama pejabat yang aku maksud.


“ Siap Bro.”


Benarlah. Satu waktu aku dan Awi ke Singapore. Kami makan di marina bay. Sesuai jadwal yang ditentukan. Aku lihat dari table lain. Anak buah Dewi masuk bersama pejabat yang aku maksud.


“ Top punya anak buah dia Wi. Ok kita perkerjakan dia. “ Kataku “ Jangan lupa training Dewi bagaimana berbisnis dengan benar dan formal. Pastikan kita tidak terhubung secara legal dengan dia. Jangan pernah sebut nama saya, apalagi kenalkan dengan saya“ Lanjutku.


“ Siap Bro, Kata Awi.


Selanjutnya Dewi di create oleh Awi jadi business lady yang terhormat. Termasuk siapa saja yang harus di lobinya untuk melancarkan bisnis kami. Menentukan anggaran lobi. Para anak buahnya tidak lagi jadi komoditi tapi jadi PR high class. Awi jadi malaikat mereka. Kerjaannya mengurus quota impor komoditi. Ya dapat remah remah aja. Bisnis Quota kelas capung aja. Tapi lumayan untuk mempertahankan pabrik makananku tidak nyunsep karena kartel impor.


***

Januari 2023, aku tidak lagi bergitu aktif dalam management perusahaan. Semua unit business dikelola oleh profesional. Awi datang kepadaku. “ Ale, ini ada pensiunan pejabat. Dia cocok jadi Komut untuk perusahaan Dewi. Dia bisa jadi mentor dan sekaligus memperlancar kerjaan Dewi. “ Kata Awi. Tapi karena aku sibuk, aku diamkan saja. Sebulan kemudian, aku minta Awi atur aku bertemu dengan calon komut. Pertemuan di apartement khususku menerima orang yang terkait dengan business informalku.


Ketika pintu apartement terkuak, pria yang tidak asing melangkah mendekatiku yang menanti di sofa ruang tengah. “ Rahmat ! Kataku terkejut. 


“ Ale..” 


Rambutnya sudah memutih sebagian. Dia memelukku. Kemudian dia merasa kikuk.  Dia lama menatapku  “ Ale, benar ini Ale yang aku kenal ? 


Aku mengangguk.  Dia rangkul aku lagi. 


“ Aku pensiun tahun kemarin. Posisi terakhirku sebagai pejabat membidangi bantuan international  berkaitan dengan FAO..” Katanya. “ Boleh tanya. Apa hubungan Ale dengan perusahaan Ibu Dewi?


“ Engga ada hubungan. Itu perusahaan pemegang saham pengendali adalah Pak Awi ini.” kataku menunjuk Awi yang duduk di depanku. “ Kebetulan kantor tempatku kerja diminta sebagai konsultan rekrutment. " 


Rahmat mengangguk." Aku dapat informasi dari Bu Dewi, bisnis PT dia  kan bidang impor pangan. Gula dan Garam ya ? Kata Rahmat.

Aku menganguk.


“ Bisa jelaskan keuntungan bisnis itu ? Kata Rahmat. Aku mempersilahkan Awi untuk jelaskan.


“ Hitung aja  cost struktur impor. Harga gula mentah di pasar New York pada 31 desember 2022 tercatat sebesar US¢20,89  per pound atau US$420 per ton.  Ditambah dengan ongkos transport, asuransi, dan pengolahan senilai US$200 per ton,  maka harga di pabrik gula rafinasi menjadi US$629 per ton. Dengan kurs tengah BI 32 januari Rp. 15.000. Maka harga pokok siap jual Rp. 9.435. Ada disparitas yang sangat lebar antara harga luar negeri dan lokal. Sekitar Rp 2000. Inilah untungnya. Hitung aja berapa uang didapat kalau dapat quota 100.000 ton saja. “ kata Awi.


“ Kalau garam impor ?


“ Hitung aja. Harga impor sampai di pelabuhan Rp 1300/kg. Harga Distributor tebus garam  Rp 3000/ kg. Minimal Quota ya 60.000 ton untuk satu shipment. Itu untung Rp 1700/kg, itu kan Rp 100 miliar per kapal. “ kata Awi. Rahmat diam tanpa reaksi. 


“ Gula impor setahun hampir 4 juta ton. Dan garam sekitar 2 juta ton setahun. Yang saya tahu total impor garam mencapai lebih 2 juta ton setahun” Kata Rahmat. Aku mengangguk. Karena jelas Rahmat sangat paham bisnis dan kebijakan pemerintah soal impor. Rahmat lama terdiam, seakan berpikir. 


“ Ale,” Seru rahmat”  dari sejak aku jadi PNS, aku tidak suka dengan pengusaha pemburu rente. Karena mereka merugikan petani. Melemahkan daya saing. Aku ingin berbakti dengan pengetahuanku untuk bangsa dan negara. Aku ingin menjadikan petani sebagai profesi yang bergensi di republik ini.Tapi sejak era Soeharto sampai kini, tidak ada perubahan. Bahkan kini pengusaha sudah bisa dikte menteri. Seenaknya perintah Dirjen. Mungkin karena aku selalu berseberangan dengan kebijakan pemerintah, jabatanku mentok sebagai pejabat fungsional saja. Sampai pensiun.” Katanya.


“ Jadi…” Kataku.


“ Selama di PNS idealisme ku tidak tersalurkan. Kalau aku mau menerima posisi Komut. Itu karena aku bukan lagi PNS. Kini aku jadi orang swasta. Tidak ada salahnya aku mendapatkan uang tanpa idealisme. Aku butuh biaya. Dua anakku semua masih kuliah. Aku menikah telat Ale.“ Kata Rahmat. 


Aku tersenyum dan mengangguk. 


Usai meeting, Aku bisikan Awi untuk pulang sendiri. Sementara aku keluar dari apartemen bersama Rahmat. “ Kau bawa kendaraan Ale.?

“ Aku engga punya kendaraan Mat’

“ Kalau begitu aku turunkan kau dimana ?

“ Arah kau kemana ?

“ Ke Depok.”

“ Ya udah turunkan aku di Pancoran. Nanti dari sana aku naik taksi. “ kataku.


Dalam kendaraan rahmat cerita tentang pengalamannya ambil S2 dan S3 di AS. Lingkungan pergulannya dengan teman temannya di kementerian yang sama sama dapat program beasiswa ke luar negeri. Aku menyimak saja. Dalam hati aku berkata. Pada akhirnya Rahmat harus berdamai dengan kenyataan. Dia memang pintar tapi tidak cukup cerdas. Mungkin banyak PNS dan pejabat yang merasa idealis namun tanpa disadari mereka terjebak dalam intrik bisnis yang berkompetisi menguasai sumber daya negeri ini. Banyak  regulasi dan tata niaga lahir dari ruang legislatif atas pesanan pengusaha, di create oleh mereka yang terpelajar atas beasiswa negara.  Sehingga peran orang seperti Rahmat hanya jadi boneka sistem yang berpihak kepada mereka yang menguasai 2/3 sumber daya nasional.


Di usia senja Rahmat harus focus kepada masa depan anak dan keluarganya. Mungkin idealisme seperti itulah kemampuannya. Walau dia bangga dengan pencapaian dan niat besarnya, namun dia tak lebih pecundang di hadapan politik kapitalisme. Sementara aku yang tidak terpelajar berusaha menjadi bapak bagi ribuan karyawanku. Walau karena itu aku berada diantara hitam dan putih.  Hidup dalam posisi volatile. Seperti orang menari dan menyanyi diatas panggung. Tanpa tepukan, tanpa kebanggaan. Soal masa depan negeri ini, itu urusan Tuhanku. Merahasiakan pencapaianku jauh lebih baik agar Rahmat tidak terintimidasi dengan nasibnya..

Friday, February 03, 2023

Saling Mengerti.


 


Nama istriku Maryati. Dia menyebut dirinya Mar. Tapi aku tetap memanggil nama sayang dia semasa little girls,  Upik.  Dia wanita tercantik yang pernah kukenal dan walaupun aku banyak mengenal wanita yang menawan, tapi hanya dia yang lulus ujian sebagai perempuan walaupun dengan pengujian yang paling kritis sekalipun. Tadi pagi sebelumk ekantor aku tahu dia kurang sehat. Tapi dia tetap mengantarku sampai masuk dalam kendaraan dengan senyumnya.


Sore aku pulang ke rumah. Di ruang tengah rumah kudapati Mar tidur tak bergerak di sofa. Napasnya halus, lunak. Dadanya bak tak beriak. Wajahnya bersih, putih. Atau, pucat? Tidak. Kulit Mar memang putih dan saat tidur mukanya kelihatan semakin bersih. Aku mendekat, kurapikan kakinya hati-hati. Aku tersenyum lega merasa kehangatan mengalir di sana.


Di luar, hari berlayar menuju petang seperti usia. Bayang pohon memanjang di halaman berlawanan dengan bayang pagi. Suara-suara pembantu senyap di belakang. Telepon bisu di sudut ruang. Di jalan agak jauh di depan rumah kendaraan lalu-lalang, bunyinya menyusup masuk usai berenang meniti daun dan bunga-bunga di halaman. Dibawanya juga harum kenanga ke dalam ruangan.


Kuamati wajah Mar sekali lagi, balik ke kursi, menonton tivi. Tidak ada yang patut. Pisah-cerai artis. Heboh, aneh, bagai pasangan hidup hanya mainan. Atau baju, sepatu, dapat kau ganti kapan mau. Tapi aku terus menonton. Di saluran lain film kartun, masak-memasak. Ah. Masakan Mar tentu mampu bersaing kalau tak lebih sedap. Tiga puluh delapan tahun seleraku dimanja, asam urat kolesterol pun tak singgah. Cuma umur, terus menjulur; meretas garis dekat ke batas.


Walau usianya menjelang 60 tahun. Namun cinta dan sayangku semakin bertambah. Kami menikah dalam usia yang sama dan tentu menua bersama. Dulu waktu anak anak masih tinggal di rumah. Mar sibuk dengan anak anak. Hari hari nya selalu bergerak. Siapkan sarapan pagi anak anak. Antar mereka ke sekolah. Mengingatkan PR mereka. Kadang ikut pula antar mereka pergi Les dan tentu menjemputnya pulang. 


Setahun kami menikah. Tuhan beri kami bayi. Setelah itu setiap dua tahun lahir anak satu, sampai empat. Usia 30 tahun. Mar tidak lagi hamil. Dia telaten mengurus rumah dan anak. Mengawasi semua aktifas anak anak, termasuk keperluan mereka, bahkan mengatur uang kebutuhan mereka ketika kuliah di luar kota. Dia selalu mengkawatirkan anak anak. Karenanya doanya sangat khusuk kepada Tuhan agar mereka baik baik saja. Aku tahu memang hidupnya hanya untuk anak anak dan aku. Walau aku hanya memberi uang, namun aku tahu betapa repotnya Mar mengurus anak anakku. Tapi Mar tidak pernah mengeluh kepadaku. Sepertinya dia nikmati kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga. Padahal ketika aku nikahi dia sudah bekerja di BUMN. Hamil anak pertama, dia ikhlas berhenti kerja. Aku tidak pernah provokasi dia berkarir penuh sebagai ibu rumah tangga. Yang penting Mar bahagia dengan pilihannya.


Satu demi satu anak menikah dan pergi dari rumah. Masuk usia 56 tahun. 4 anak kami sudah menikah. Kami kembali tinggal berdua di rumah. Yang tertua anak kami, Herman. Dia jadi pengusaha. Nomor dua, Ilham, bekerja pada BUMN. Nomor tiga Ani, dan Dewi nomor 4.  Kedua anak  perempuan kami berprofesi sama dengan ibunya. Menjadi ibu rumah tangga.


“ Uda, sudah datang ? kenapa engga bangunkan Mar? kata Mar. Dia mau berdiri. Tentu dia akan buatkan teh pahit untuku ku. “ Tidur ajalah Pik. Katanya sakit.” 


“ Mar masih bisa buatkan teh untuk Uda.”


“ Biar uda buat sendiri ya.” kataku pergi melangkah. Tapi Mar, pegang lenganku. “ Jangan halangi aku mencintai Allah. Melayani suami adalah pahala tak terbilang, uda.” Kata Mar tersenyum. Itulah Mar ku. Dan karena itulah aku berkali kali jatuh cinta kepadanya. Setiap persoalan hidup menderaku dalam bisnis, Mar selalu setia bersamaku. Dia tidak mengeluh ketika aku jatuh bangkrut. Tidak juga bermewah hidup dikala ekonomi lapang. 


Mar letakan cangkir teh dihadapanku. Dia termenung. Sepertinya ada yang dia pikirkan. Aku dekati dia. Duduk di sampingnya. Kurangkul pundaknya. “ Cerita lah Pik. Apa  ada masalah ? Aku yakin ini pasti masalah anak anak. Dia berusaha menyimpan masalah anak anak di hadapanku. Dia berusaha selesaikan sendiri. Dan kalau sudah tidak bisa diatasi dia akan bergantung kepadaku untuk menyelesaikan. Itupun diiringi dengan minta maaf terlebih dahulu. Itulah kebiasaannya yang tak lekang.


“ Tapi uda maafin Mar ya. “ 


“ Uda sayang Upik. Apa pernah Uda marah ?


Mar terdiam lama. Aku biarkan dia dengan suasana hatinya. Akhirnya dia bicara juga “ Tadi siang Mar  ke rumah Ilham. Dia adakan pesta kecil kecilan. Dia naik pangkat. Mantu kita suami Dewi dan Ani bertengkar hebat dengan Ilham dan Herman ikut campur pula bela adik adiknya. Sampai mereka bertiga keluar dari Rumah Ilham. Keluar dalam kadaan marah, Uda. " Mar belinang airmatanya. 


“ Apa masalahnya ? tanyaku.


“ Ilham hadiahkan istrinya kalung dan jam tangan. Mahal katanya. Tapi oleh suami Dewi dibilang, aku engga yakin itu uang membeli perhiasan uang halal. Berapa gaji kau sebagai pegawai BUMN. Mana pula bisa beli perhiasan semahal itu.Dan lagi kerja di Bank itu haram. Riba. Istri Ilham tersinggung. Marah dia. Suami Ani ikut bela suami dewi. Semakin keras pertengkaran. Apalagi Ilham ikut campur dan mereka bicara politik. Suami dewi dan ani itu aktifis dakwah. Dewi dan Ani juga akftif majelis taklim.”


“ Kenapa Herman sampai tidak bisa selesaikan masalah adik adiknya? Tanyaku.


“ Herman sudah lerai mereka. Dan dia marah besar ke Ilham karena kasar ke Dewi dan Ani. Uda kan tahu. Herman itu sangat proteksi ke adik perempuannya.” 


Aku terdiam dan berpikir.


“ Uda..” Mar menangis. “ Mengapa ketika mereka bicara politik tak lagi aku dihargai sebagai ibunya. Kasar sekali mereka uda.” Airmata jatuh. Aku peluk Mar, “ Upik tenang aja. Aku akan selesaikan masalah mereka. Bagaimanapun mereka anak anak kita. Mereka kebanggaan kita. Itu perjuangan yang panjang. Akan selalu jadi cobaan kita. Selagi hayat dikandung badan,  mereka tetap beban kita. Tangung jawab kita dihadapan Allah.“ kataku menenangkan.


Aku kirim WA kepada anakku untuk datang ke rumah. Makan malam di Rumah kami. Mereka semua menjawab ya Ayah. Aku memang tidak begitu dekat dengan anak anak. Mereka lebih dekat kepada ibunya. Tetapi mereka sangat respect kepadaku.  Sangking respeknya, terkesan mereka takut. Padahal aku tidak pernah bentak mereka. 


Aku katakan kepada Mar bahwa anak anak akan datang ke rumah besok hari sabtu.  Mar senang sekali. Sakitnya hilang seketika. keesokan paginya dia sibuk di dapur masak bersama ART. Untuk menyambut anak dan menantunya.


***


Benarlah. Sore mereka sudah datang satu persatu. Pertama datang Dewi bersama suaminya. Kemudian, Ilham bersama istrinya.  Disusul Ani datang bersama suaminya, dan terakhir Herman bersama istrinya. Aku memang minta mereka datang tidak membawa anaknya. Karena ada hal penting yang mau aku bicarakan. Sepertinya mereka sudah paham pokok masalah. Terutama Herman.  Dia tak sanggup memandang wajahku. Dia merasa bersalah dan gagal menjadi kakak tertua.


Kami duduk di sofa. Mar duduk disebelahku. 


“ Bicaralah Herman. Ayah mau dengar langsung dari kau. Karena kau anak ayah tertua. “ 


Herman diam saja. Tak sanggup dia bicara. “ Ayah, maafkan aku. Sebaiknya ayah tanya sajalah sama Ilham Dia yang jadi pusat masalah.” Katanya ketika aku desak. Aku menatap Ilham.


“ Ayah ..” kata ilham. “ Ayah bayangkanlah, Aku nabung selama setahun agar bisa membelikan perhiasan untuk istriku. Tapi oleh Uda Bahar aku dituduh dapatkan uang haram untuk beli perhiasan itu. Hanya karena aku kerja di Bank.” 


Aku tatap Bahar suami Dewi. “ Ayah, aku hanya menyampaikan keyakinan aku beragama. .Bahwa kerja di bank itu haram.  Karena riba.” Katanya.


“ Dan..” kata Deni suami Ani “ Aku engga terima dituduh radikalis oleh Uda Ilham. Kami menjalankan agama dengan konsisten. Apa itu salah. Kami menghidupi keluarga tidak minta kepada siapapun. Kami tidak korup seperti pejabat dan politisi. Tidak ada yang dirugikan. Mengapa kami direndahkan. “ Lanjutnya. Akutatap Ilham. Dia menunduk.


“ Ayah, kata Dewi. “ aku harus patuh kepada suamiku. Apa itu salah? Kalau aku tidak terima suamiku dihina oleh Uda ilham”


“ Aku juga ayah. “ kata Ani. 


Aku menghela napas. 


“ Ayah sudah paham masalah kalian. Yang harus kalian ingat. Kalian,  herman, Ilham, Dewi dan Ani. Kalian berasal dari sini. “ kataku memegang perut Mar. “ Kalian itu satu kaveling. Penderitaan melahirkan dan membesarkan setiap kalian sama. Pertanyaannya sederhana,  mengapa kalian saling bertengkar dan membuat ibu kalian menangis? itulah yang ayah sesalkan. “ kataku. Mereka terdiam.


“ Baik Ayah akan bahas satu persatu masalah kalian.   Penjelasan ayah bersifat universal. Kalian semua sarjana. Jadi tidak sulit untuk dimengerti. Ilham, kau tidak boleh mempertanyakan keyakinan orang beragama. Itu hak orang. Karena setiap orang berhak memilih jalan hidupnya masing masing. Kamu Bahar, kamu tidak boleh menilai orang dengan standar kamu beragama. Hargai sikap orang lain, tentu orang akan menghargai sikap kamu. Saling mengerti sajalah. Itu akan membuat kedamaian dan yang akan mendatangkan rezeki.


Ilham, kalau kamu membeli perhiasan untuk istri kamu, tidak perlu diperlihatkan ke orang lain. Rezeki itu nak sangat berat bebannya. Kalau dipertontonkan maka hukumnya wajib untuk berbagi. Kalau kau tak siap berbagi, jagalah perasaan orang lain yang tidak mampu. Setidaknya jangan pamer akan harta kamu. Hidup sederhana itu lebih baik nak.  Itu akan menghindarkan kamu dari fitnah dunia.


Ilham, untuk kau tahu. Dewi dan Ani tidak bisa kau salahkan kalau dia patuh kepada suaminya. Ketika dia menikah, maka saat itu dia harus utamakan suaminya, bukan kakaknya. Justru kau harus jadi palang pintu mereka. Kalau ada masalah dengan suaminya,   kalianlah sebagai kakak laki lakinya untuk datang lebih dulu melindunginya. “ Kataku.  Mereka menyimak dan terdiam.


“ Maaf ayah” kata Bahar suami Dewi. “ apakah salah mengingatkan orang akan firman Allah.” 


“ Tidak salah kalau disampaikan di majelis atau di masjid. Tapi di luar itu, yang berlaku adalah hukum dan UU negara. Itu yang menjadi standar kita bersosialisasi dengan siapapun”


“ Kenapa ayah?


“UU dan Hukum itu konsesus kita bernegara. Menjaga dan menghormati konsesus adalah akhlak mulia. Cobalah, kalau kamu ingatkan orang dan orang tersinggung. Pastilah jadinya bertengkar. Walau niat kamu baik , namun bagaimanapun bertengkar itu dosa. Akhlak rendah,  anakku.” Kataku.


“ Tapi ayah..” Kata ilham. “ Kefanatikan mereka kepada aliran agama itu sudah keterlaluan. itu sudah merusak tatanan budaya dan sosial , bisa juga berdampak politik. Politik identitas “ Lanjut ilham.


“ Fanantik itu bagus, selagi tidak memaksakannya kepada orang lain. Bahar dan Deni adik ipar kamu itu pedagang. Mereka pekerja keras untuk menghidupi anak dan istrinya. Fanatik beragama itu baik kalau menjadikan dia mandiri dan punya etos kerja tinggi , yang tentu berkat fanatifk takut kepada Allah itu dia terhindar dari perbuatan korup dan merugikan orang lain. Nah soal politik, itu soal pilihan. Apapun pilihan dia, itu artinya dia patuh kepada konstitusi. Siapapun yang dipilihnya, tetap tidak akan mengubah konstitusi negeri ini. 


Dalam politik demokrasi harusnya tidak membuat perbedaan pilihan saling menghujat dan merendahkan. Karena siapapun yang menang, itu Allah yang memberikan kekuasaan. Sebagai orang beriman kita harus percaya itu. Makanya kita harus menghormati setiap penguasa. ” Kataku.


“ Ayah, korupsi mewabah negeri ini karena syariah dipunggungi. “ Kata Deni.


“ Korupsi itu berkaitan dengan mental, dan itu bisa terjadi kepada orang beragama apapun. Syariah itu adalah sistem dan tidak ada sistem yang sempurna di dunia ini, anakku. Daripada kamu memaksakan kehendak, mengapa kamu tidak berusaha mengubah diri kamu lebih baik. Tidak perlu katakan agama kamu hebat,  tapi tunjukan kepada orang lain akhlak hebat kamu itu.


Nah, focus lah kepada diri kamu , keluarga kamu dan orang terdekat kamu saja. Pastikan yang dekat merapat dan yang jauh mendekat. Kalau berlebih,  berbagilah. Kalau kurang , bersabarlah. Kalau sikap ini menjadi sikap berjamaah, negeri ini akan makmur. Siapun pemimpinnya, apapun sistemnya. Paham ya anakku.. “ Kataku. Bahar dan Deni menganguk.


“ Ayah tidak akan mendikte kalian agar mengikuti pemahaman ayah. Tapi yang harus dicatat, ayah bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas kalian.  Kalau kalian tidak menghargai ayah, ayah tidak akan kecewa. Tapi kalau karena sikap kalian, ibu kalian menangis sedih dan terluka. Bukan hanya ayah yang kecewa tapi langit mengutuk. Hidup kalian akan sengsara dimakan waktu. Percayalah.” kataku. 


Herman segera memeluk kakinya ibunya “ maafkan aku amak. “  Kata herman. Dan diikuti oleh Ilham ,  Dewi, Ani dan menantu kami. Aku terharu dan menitik kan air mata. Bukan karena sikap mereka kepada ibunya, tetapi melihat Mar bisa begitu bahagianya. Ya bagi Mar, anak adalah titipan terindah dari Allah. Sama seperti aku suaminya adalah titipan terindah dari Allah. Menjaga kami bagi Mar, adalah bukti kecintaannya kepada Allah. Tentu berkat Cinta Mar,  Tuhan akan menjaga kami. Tentu kami akan baik baik saja.

Selalu ada harapan..

  “ Ale ! terdengar suara Patria di seberang lewat telp selularku. “ Ketemuan dong. Tempat biasa di bunker ya. " sambungnya. Aku tahu i...