Thursday, October 21, 2021

Merebut hati orang

 





Tahun 1987 saya pertama kali bersentuhan dengan Bank untuk jadi debitur. Waktu tiu usia saya 24 tahun. Collateral engga ada. Tapi saya ada long term kontrak ekspor keranjang Rotan. Semua bank minta collateral. Rekening saya untuk dijadikan Personal gurantee engga cukup. Saya bertemu dengan mentor saya. Dia orang Tionghoa. Setelah saya ceritakan masalah saya, dia tersenyum. 


“ Kamu harus ketemu dengan Dirut Bank langsung. Hanya dia yang bisa mengerti rencana kamu dan berani ambil resiko. “ Kata mentor saya. Siapa saya yang bisa bicara dengan dirut bank. Usia masih muda. Business masih kelas gurem.  “ Kamu dan dia sama saja. Sama sama dirut perusahaan dihadapan UU. Jangan takut. Temui dia. Kalau ketemu, pastikan dalam 3 menit dia tertarik dengan rencana kamu” Nasehat mentor saya. 


Saya datang ke kantor pusat Bank itu di kota. Jam 7 pagi saya sudah ada di ruang tunggu dirut itu.  Jam 7.30 dirut bank itu masuk ke kamar kerjanya. Saya membungkuk memberikan hormat. Dia tersenyum. “ Ada apa ? 


“ Boleh saya bicara sebentar pak.”


“ Kamu nasabah bank ?


“ Ya pak.” 


Dia tatap saya sebentar. “ Maaf saya engga ada waktu. Lain waktu aja” Katanya tersenyum. Saya mengangguk. Besok saya datang lagi. Di tolak lagi. Saya butuh waktu 4 minggu, datang setiap hari. Barulah dia terima.  Ketika duduk menghadap meja kerjanya, saya langsung ceritakan masalah saya. Dia tersenyum.

 

“ Gini, yakinkan pembeli kamu di Taiwan itu untuk mau memberikan red clause LC minimal 30%. Kalau dia mau, kamu datang ke saya. “


Saya  bengong. Begitu bijak dia menolak saya. Saya temui mentor saya. “ Wajar saja. Yang pertama harus kamu yakinkan adalah pembeli. Kalau hanya sekedar kontrak, semua orang bisa. Tetapi kontrak yang memberikan kamu kepercayaan bukan sekedar delivery tetapi juga mitra, itu engga mudah.”  Kata mentor saya bijak.


Saya lakukan ekspor pertama dengan modal sendiri. Saya kirim saja sebagai sample 1 kontainer tanpa Lc. Saya tahu itu beresiko. Kalau dia tidak bayar karena alasan spec di bawah standar. Habis saya. Ternyata dia senang. Tapi “ Saya akan bayar setelah 10 kontainer delivery sesuai kontrak. “ Katanya via fax. Saya senang. Tetapi darimana modal? Saya tidak mau terus dalam situasi tidak pasti. Saya terbang ke Taipeh untuk menemui buyer. 


“ Maafkan saya. Saya tidak bisa delivery karena saya tidak ada modal. Maafkan saya.” Kata saya berlutut.  


Lama dia pandang saya. 

“Jadi gimana solusinya? Katanya.


“ Apakah mungkin anda keluarkan red clause Lc 30% dari kontrak”  kata saya. “ Bank saya mau memberikan kredit ekspor kalau sarat LC itu red clause. “ Kata saya. Akhirnya setelah berpikir sehari, besoknya dia sanggupi.


Sampai di Jakarta, saya menghadap dirut bank itu lagi. Dia tersenyum membaca Performa Invoice dengan sarat Red Clause LC. 


“ Ajukanlah proposal kredit ke bagian kredit ya.” Katanya berwibawa namun tidak hilang wajah ramahnya. 


“ Terimakasih pak. Segera saya ajukan kredit sekarang” 


Setelah dapat kredit. Kepercayaan saya jaga. Bunga  dan cicilan saya bayar ontime. Hubungan pribadi dengan dirut bank saya jaga. Setiap dia ulang tahun saya selalu kirim bunga ke Rumahnya. Itu sampai sekarang. Walau dia sudah pensiun. Kini dia jadi mentor saya. 


Saya teringat nasehat papa saya. “ kalau kamu ingin naik tangga sosial maka kamu harus memerdekankan pikiran kamu. Kamu harus keluar dari stigma bahwa kamu lahir dari keluarga miskin. Kamu tidak sarjana. Kamu bukan etnis China. Nasip kamu ditentukan oleh pilihan cara kamu berpikir. Kalau pikiran kamu terjebak dengan realitas siapa kamu, maka masalah dan kesulitan akan menelan kamu.


Jangan biarkan masalah dan kesulitan menghentikan kamu. Kamu  harus terus bergerak. Kepada orang Chinalah kamu harus belajar. Mereka tidak manja dan pandai merebut hati orang. Setelah itu mereka berjuang tiada henti untuk menjaga kepercayaan.  Semoga suatu saat kamu bisa punya mitra orang China, atau orang Barat. Bahwa kamu putra terbaik kami dan kami tidak main main mendidik kamu.”


Usia 45 tahun setelah sepuluh tahun lebih papa saya meninggal saya punya direktur orang China, Hong Kong, Inggeris, Korea, Rusia. Terbukti benarlah nasehat papa saya bahwa bukan karena agama atau ras membuat orang berbeda tapi sikap mental dan lebih tinggi lagi adalah akhlak berani bersaing secara terpelajar dan terhormat. Tanpa mengeluh,  tanpa iri dengan kesuksesan orang lain. Senantiasa rendah hati.

Tuesday, October 19, 2021

Tidak mudah menjadi Ibu.

 



Jam 2 pagi aku terbangun oleh suara telp selularku. Aku segera meraih telp yang ada di lampu meja tempat tidur. Nara, Putriku. Tertera di layar telp selularku. “ Ada apa sayang? kataku.


“ Aku depan pagar ayah” Katanya dengan suara menahan tangis. Aku segera berlari ke lantai bawah. Tetapi sebelum aku sampai, Nara sudah ada di ruang tamu. ART sudah lebih dulu membukakan pintu. Nara tidak datang sendiri. Bersamanya ada dua cucuku. Dari wajahnya aku tahu Nara punya masalah dengan suaminya. Aku tak ingin bertanya lebih jauh. Aku sadar, sangat berat baginya untuk bisa keluar rumah tanpa suami.  Nara menangis. Aku peluk dia. “ Bawa cucu ayah ke kamar kamu, Ya sayang. “ Kataku seraya menghapus air matanya. Dia mengangguk. 


Aku termenung di kamar sendiri. Besok ulang tahunku yang ke 65. Itu juga berarti 10 tahun sudah aku ditinggal Mariam, yang meninggal karena kanker. Kami punya 2 putri dan 2 putra. Dua putri kami adopsi sejak mereka usia Balita. Dua putra anak kandung kami sendiri. Namun kami tidak pernah membedakan mereka. Usia mereka tidak terpaut jauh.  Boy, yang sulung sudah selesai kuliah. Dia sudah menikah dan memberiku 1 cucu. Tinggal di Surabaya. Randi, masih jomblo. Dia bekerja di pasar modal setelah tamat kuliah. Putriku Nara, jadi designer dan menikah dengan pengusaha. Punya anak 2. Terakhir Vivi, ibu rumah tangga, suaminya pengusaha.


Aku pergi ke ruang sholat yang ada di taman dekat kolam renang. Sampai di sana , sudah ada Nara bersimpuh sedang berdoa. Dia usai sholat tahajud. Aku sholat sunah fajar. Setelah itu, Nara berdiri ikut jadi ma’,mun sholat subuh. 


“ Ayah maafkan aku. Selalu membuat repot ayah.” Kata Nara usai sholat subuh. 


“ Tidak perlu minta maaf anakku. Mendiang bundamu berpesan kepada ayah walau kalian tidak lagi tinggal di rumah namun kamar kalian harus tetap bersih. Rumah ini akan selalu tempat kalian pulang dan ayah selalu ada untuk kalian.  Tenangkan diri kamu. Jangan terlalu sedih ya sayang” Kataku mengusap kepalanya. Nara berlinang air mata. 


Aku kembali ke kamar kerja untuk membaca dokumen sebelum pergi ke kantor. Telp masuk dari istri Boy. “ Ayah..” kata Weni.


“ Ya sayang,. ada apa ?


“ Mas boy sudah tiga bulan berhenti kerja. Katanya kerja di bank, haram.  Kehidupan kami sedang sulit ayah. Mas Boy tidak mau lagi bicara denganku. Karena aku menolak pakai hijab. Dia juga larang aku bicara kepada ayah. Gimana nasip kami ayah..”


“ Sabar ya sayang. Nanti Ayah bicara dengan Mas mu. Cucu ayah gimana?


“ Semua baik baik saja ayah.” 


Aku terhenyak. Sepagi ini aku dihidangkan masalah yang rumit dari anak anakku. Setelah sarapan aku pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku telp Bayu, suami Nara. “ Ananda sehat ? kataku menyapa.

“ Oh ayah. Sehat yah..” 

“ Istri dan anak anak kamu di rumah ayah.” 

“ Ya ayah. Maafkan saya.”

“ Kalau ada waktu, Bayu temanin ayah ya makan siang” Kataku.

“ Ya ayah. Bayu  pasti datang.”


Setelah telp ditutup aku telp teman yang juga ustad. “ Assallamualaikum ustad”

“ Waalaikum salam. Eh Pak Dono apa kabar.”

Aku ceritakan masalah Boy. Dengan seksama ustad itu mendengar. “ Saya akan temui putra bapak sekarang. Insya allah selesai masalahnya. Boy masih pemula kok. Tenang saja pak. Engga usah kawatir.”


“ Terimakasih pak Ustad. “


“ Oh ya pak Dono, terimakasih donasinya untuk ponpes kami. Uang sudah kami terima minggu lalu. Surat tanda terima sudah kami kirim juga  ke  kantor bapak. “


“ Terimakasih juga pak Ustad. Selama ini bapak yang telah menuntun saya dalam beragama dan sabar.” Kataku. Setelah itu aku menghela nafas. 


Sampai di kantor jam 10 pagi. Aku dapat kabar dari Sekretarisku bahwa Randi menantiku di kamar kerjaku. Kudapati dia sedang duduk dengan wajah lesu. “ Ayah ..” katanya dengan canggung. Itu cirinya kalau ada masalah.


“ Ada apa,  sayang..”


“ Maafkan aku ayah..”


“ Ya ada apa ? AKu semakin kawatir.


“ Dewi hamil. “


“ Dewi siapa ?


“ Sekretarisku. “


“ Sama siapa hamilnya?


“ Aku ? Kata Randi dengan menunduk. 


“ Kamu? Dewi pacar kamu.? Kataku terkejut. Randi terdiam lama. Aku kenal sifatnya. Dia sangat pragmatis. Karenanya aku harus hati hati. 


“ Ya ayah..”  Randi terdiam. “ Aku ingin menikahinya. Tapi orang tuanya engga setuju kami menikah. Karena beda agama.” Randi keliatan sekali rapuh. Dia butuh aku ayahnya untuk melindungi dan mengerti dia. Aku tidak mempermasalahkan dia tidak pernah terbuka soal pacarnya. " Ayah aku kangen Bunda.." Kata Randi menangis. Aku tahu perasaan Randi dalam situasi ini. Ibunya tempat dia curhat atas masalah apapun. Ibunya cahayanya melewati hidup yang tidak ramah.


Aku peluk dia. “ Ayah juga kangen Bunda. Kalau Bunda masih ada, dia pasti senang melihat kamu jadi pria yang bertanggung jawab. Hari ini kita akan temui orang tua Dewi. “ kataku. Kurasakan Randi semakin kencang pelukannya. “ Maafkan aku ayah. Selama ini aku terus merepotkan ayah.”


“ Anakku, masa muda masa dimana semua orang bisa saja berbuat salah. Ayah juga pernah muda. Yang penting kamu harus dapat hikmah dari setiap masalah yang datang. “ Kataku. Setelah itu Randi pergi keluar dari ruanganku. 


Aku kembali sibuk dengan akfititasku. Janga 12.30 siang aku pergi ke restoran janji bertemu Bayu. Dia mencium punggung lenganku ketika bertemu. Aku diamkan saja. Tidak bertanya apa masalahnya. Namun lambat laun Bayu salah tingkah. Akhirnya dia berkata” Aku lagi ada masalah ayah”


“ Masalah apa ?


“ Bank akan sita rumah kami. Masalahnya aku gagal membayar hutang yang jatuh tempo. Tahun lalu aku beli stock barang impor , ternyata kurs rupiah semakin menguat. Aku tidak bisa bersaing. Potensial loss. “ 


“ Sabar ya nak.”


“ Nara tuduh aku mata duitan kepada mertua. Padahal aku tidak ada niat minta uang. Aku hanya ingin minta advice ke ayah agar bisa keluar dari masalah. Dia terus cerca aku. Akhirnya aku lepas kendali, bicara kasar. Maafkan aku ayah . “


“ Biasa itu rumah tangga.  Kalian harus saling menguatkan. Jangan karena perbedaan sikap, kalian terpisahkan, paham ya nak.”


“ Ya ayah.


“ Oh ya. Stok kamu di gudang, PPC kan.” 


“ Ya ayah.”


Aku telp teman yang punya pabrik minuman. Setelah selesai telp aku menatap lama kepada Bayu. “ Kamu bawa kartu nama ayah. Temui pak Adreas. Dia sudah janji akan beli stok kamu. Bayarlah utang ke bank.” Kataku. Randi berlinang air mata dan memelukku. 


“ Terimakasih ayah.”


“ Jangan cerita kepada Nara soal ini ya. Jemputlah istri dan anak anak kamu di rumah ayah.”


“ Terimakasih ayah.”


Sore jam 5 aku dapat telp dari istri Boy ” Ayah, Mas Boy sudah minta maaf kepadaku. Dia menyesal karena salah ikut pengajian. Terimakasih ayah sudah kembalikan mas boy kepada aku dan anak anak.  Mas Boy akan ke Jakarta. Dia merasa salah selama ini. Seharusnya dia bantu ayah di perusahaan. Karena dia anak tertua di keluarga” Setelah bicara telp itu, aku menangis.  Aku ingat pesan Mariam, " Mas, kalau aku tidak ada, bagaimanapun hadapi dengan sabar anak anak. Mereka  semua cobaan dari Tuhan untuk kita,  agar kita kembali ke Tuhan dalam husnul khatimah ".  Tuhan kembalikan anakku kepadaku. Dia akan jadi tongkatku dimasa tua.


Ya aku harus ingat pesan Mariam. Aku harus sabar dan ikhlas. Berikutnya aku harus siap siap ke rumah Dewi, Pacar Randi. Jam 6 sore Randi sudah sampai di kantor. Kami sholat maghrib berdua di kamar kerjaku.


Sesampai di rumah keluarga Dewi, kami disambut dengan wajah masam oleh ayah dan Ibunya. “ Kami memang orang tidak sekaya bapak, tapi kami punya rasa hormat. Dari awal kami sudah menolak hubungan mereka karena alasan beda agama. Tetapi anak bapak tidak bisa mengerti. Kini kami ditempatkan disituasi yang sulit. Beginikah cara bapak mendidik anak? Kata Ibu Dewi. Aku tahu dan bisa mengerti suasana hati seorang ibu. Apalagi kepada putrinya. 


Aku berlutut dihadapan kedua orang tua Dewi. “ Maafkan saya pak, bu. Memang saya gagal mendidik anak saya. Maafkan saya. “ Randi terkejut meliat aku berlutut dihadapan kedua orang tua Dewi. “ Dengan segala kerendahan hati, saya mohon izin bapak dan ibu untuk merestui mereka menikah. Saya janji akan menjadikan Dewi seperti anak kandung saya. Sekali lagi mohon maaf. “ lanjutku.


Ayah Dewi dan ibunya terkejut dengan sikapku. Mereka berdua berusaha mengajak aku berdiri. “ Ya sudah pak. Kami juga restui putri kami menikah dengan putra bapak. Kita orang tua yang penting mereka bahagia dengan pilhannya.” kata ayah Dewi. Selanjutnya pembicaraan langsung kepada jadwal pernikahan.


Dalam perjalanan pulang, WA masuk dari Vivi. “ Ayah, Restoran  kami sudah enam bulan tutup karena covid…Tabungan sudah habis. Selama ini suamiku larang aku minta bantuan ayah. Kini kami benar benar sulit,  ayah..”


“ Ayah sudah kirim uang Rp. 70 juta. Gunakan uang itu untuk bertahan sampai pandemi selesai. Nanti kalau kurang uang untuk modal, hubungi ayah ya sayang” Jawaban WA ku setelah kirim uang via Mbanking. Aku menghela nafas panjang. 


Sampai di rumah, kembali sepi. Nara sudah kembali ke rumahnya. Padahal hari ini aku ulang tahun. Tidak ada  anak yang mengucapkan ulang tahun. Tetapi bagaimanapun mereka tetaplah anakku. Tugas ayah memang harus berkorban dan menyimpan sepi dan sedih dihadapan anak anaknya. Boy dan Randi sudah jadi ayah. Tentu dia harus menjalani takdirnya sebagai ayah. Sama denganku. Nara dan Vivi sudah jadi ibu dari anaknya dan istri bagi suaminya. Tentu mereka harus menjalani takdirnya sebagaimana yang dilakukan Mariam. Pada akhir semua akan baik baik saja dan kepada Tuhan semua kembali.


***


Sewaktu Mariam, istriku masih hidup. Aku tidak pernah terlibat menyelesaikan masalah anak anak. Karena memang tidak ada masalah atau Mariam pintar menyelesaikan masalah tanpa aku perlu repot. Sehingga aku bisa focus dengan bisnisku. Siibuk di luar rumah dan pulang dalam keadaan lelah. Di rumahpun pikiranku masih kepada bisnis. Selama 25 tahun menikah, aku tidak pernah mendengar Mariam mengeluh soal anak anak. Andaikan ada waktuku mendengar keluhan Mariam, mungkin itu bisa mengurangi bebannya. Tetapi aku tidak ada waktu untuk itu. Aku merasa baik baik saja karena aku sudah memberi uang lebih dari cukup, rumah yang besar, dan segala fasilitas.


Setahun setelah Mariam wafat, Boy datang minta izin menikah. Padahal kuliah belum tamat. Setelah menikah, Boy dan istrinya tingga di rumahku. Setamat kuliah, Boy bekerja di PMA. Dia menolak berkarir di perusahaanku. Tidak juga mau tinggal bersamaku. Dia lebih memilih Pindah ke rumahnya sendiri. Tahun yang sama, Randy berhenti kuliah karena lebih tertarik main saham. Semakin aku paksa membantuku di perusahaan, semakin keras dia menolak. Bahkan sempat lari dari rumah. Aku terpaksa membujuknya berkali kali agar pulang. Setelah itu dia tetap ingin misah dariku. Tinggal di Apartement.


Lima tahun setelah itu, Vivi putri bungsuku memilih menikah dengan pria dari keluarga miskin. Suaminya tidak mau kerja di perusahaanku. Vivi dan suaminya pindah ke Semarang. Membuka restoran.  Setahun setelah Vivi menikah. Nara, tamat dari sekolah desain di Singapore, dilamar pacarnya. Suaminya pengusaha. Mereka juga tidak mau bekerja di perusahaanku. 


Setiap anak menikah, aku selalu menangis. Aku teringat Mariam. “ Kalau nanti aku tidak ada dan anak anak merepotkan Mas, itu karena salahku. Aku gagal melaksanakan amanah Mas mendidik mereka. Maafkan aku Mas..” Kata Mariam sebelum menghembuskan  napas yang terakhir. Betapa ikhlasnya dia dengan amanahnya sebagai istri. Tidak ada sekalipun dia menyalahkanku. Padahal akulah penanggung jawab keluarga. Kelak di akhirat, sebelum mereka diadili Tuhan, aku lebih dulu diadili. Maafkan aku Mar...maafkan aku..


Setelah Mariam meninggal, selama 10 tahun aku harus menyelesaikan banyak masalah dengan anak anak. Setiap masalah datang, aku semakin merasa bersalah kepada Mariam. Waktu dia masih hidup, aku tidak pernah berterimakasih kepadanya. Ternyata uang dan harta yang aku berikan tidak ada arti bila dibandingkan dengan kehadirannya selalu ada untuk anak anak. Aku baru sadar betapa berat amanah yang selama ini kuberikan kepadanya mendidik dan menjaga anak anak. Tugas ibu memang tidak mudah. Tidak mudah.


Friday, October 15, 2021

Transformasi diri.

 




2008, pada satu kesempatan makan malam bersama Cha, saya datang bersama sahabat saya, David. “ Kita memindahkan pekerjaan remeh kepada negara miskin yang padat penduduk, agar mereka bisa menghidupi rakyatnya lewat industri padat karya namun nilai tambah rendah. Sementara di Eropa , AS dan Jepang sibuk berinovasi lewat riset dan teknologi untuk menghasilkan produk high tekhnologi. Itulah sebabnya sejak 20 tahun lalu terjadi gelombang relokasi industri besar besaran dari Eropa, AS ke China, Vietnam dan negara berkembang lainnya.


“ Manusia bukan  budak yang bekerja keras untuk produksi sandal, sepatu, tas dan pakaian dengan standar upah rendah. Dengan tekhnologi tinggi, tinggi juga nilai tambah dan tentu tinggi juga upah. Dengan begitu terjadi tranformasi dari masyarakat industri tradisional ke industri modern high tech. Itu cara mudah dan cepat mencapai kemakmuran. “ Lanjut David. 


“ Tekhnologi bukanlah solusi menyelesaikan masalah subtansi kehidupan. Ia hanya sebagai alat mempermudah upaya manusia. Walau ada uang digital, namun fungsi uang tidak berubah. Ia tetap sebagai alat bertransaksi. Market place online bagus, tetapi tidak akan menggantikan off line. Product high tech bagus, tetapi barang remeh tidak tergantikan. “ Kata Cha. David tersenyum mendengar ucapakan Cha yang pilosofis itu. 


Setahun setelah itu Pabrik Garment David di Spanyol dan Pabrik sepatu di Italia dia tutup. Saya beli merek dagangnya dan jaringan marketingnya. Pabrik saya pindahkan ke  Dongguan-China. Cha membantu saya dalam proses relokasi pabrik itu. Kami terus bersahabat.  Cha, saya kenal kali pertama ketika dia jadi Sales di Guangzhou. Tapi tahun 2013 dia sudah jadi boss pabrik besar di China. Bagaimana secepat itu dia dapat sukses.? Begini ceritanya…


***

Dia cerita bahwa awalnya dia mengetahui ada informasi dari Internet tentang new produk. Produk ini dibuat dari bahan alami atau istilahnya friendly environments. Kegunaanya adalah untuk membersihkan toilet atau mencuci piring kotor atau membersihkan kramik kamar mandi. Hebatnya lagi, limbah dari produk ini ,kalau mengalir kesaluran pembuangan maka dapat membersihkan juga saluran tersebut dan sekaligus menghilangkan aroma busuk. Dia melihat ini suatu peluang yang luar biasa kalau dapat dipasarkan di China. 


Kemudian , dia mengirim email ke perusahaan yang memproduksi barang tersebut di AS. Hampir sebulan , tidak ada response. “ Padahal dalam sebulan itu saya berkirim email lebih dari 100 kali.” 


“ Mengapa ? Apa pasal ?


“ Karena dalam email itu saya menawarkan diri sebagai sole agent di china.Naif ya. “ Katanya tersenyum. Saya tahu, dia hanyalah salesman ,yang tidak punya kantor sendiri , apalagi karyawan.Tapi dia jujur menyampaikan background dia kepada produsen barang itu.


Akhirnya berkat kegigihan itu datang juga response. Perusahaan di AS itu bersedia menujuk dia sebagai agent asalkan dia dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan. Syarat tersebut , tentu syarat yang normative. “ saya harus punya gudang, harus punya kantor, harus punya cabang, harus punya bukti kemampuan menjual sesuai target selama setahun. “ Kata Cha tersenyum. Secara logika, tidak mungkin Cha mampu memenuhi syarat tersebut. Tapi yang logika bagi orang awam, tidak bagi dia. 


Dia berjuang untuk dapat memenuhi syarat yang ditetapkan oleh produsen. Sebelum dia melangkah lebih jauh dia minta ada penjanjian sederhana (seperti MOU ) yang memberikan hak dia untuk memproses sesuai sarat yang ditentukan dan juga kewajiban produsen memenuhi janjinya apabila dia dapat memenuhi persyaratan.


Setelah MOU ditanda tangani. Dia mulai bergrilya mendatangi target pasar. “ Saya memilih meyakinkan pasar sebelum saya melengkapi persyaratan lainnya. Beberapa rumah sakit besar, Hotel dan apartement resort , saya datangi. Setiap hari sedikitnya ada sepuluh calon target pasar yang saya kunjungi. Saya mendatangi target market itu menggunakan angkutan umum dan kadang berjalan kaki. Karena kendaraan pribadi saya telah terjual untuk keperluan biaya sehari hari. 


Disamping itu saya juga mengirim brosur via email lebih dari enam ribu sasaran. Hasilnya dalam tiga bulan , saya bisa mendapatkan response lebih dari 500 target market. Total permintaan tak disangka , lebih dari valume penjualan produsen AS selama setahun di lima negara.” Kata Cha.


Hasil penjajakan pasar ini , dia laporkan kepada produsen di AS tapi tidak ditanggapi serius karena dia belum melampirkan kesiapan yang lainnya seperti kantor, izin perusahaan dan lain lain. ‘ Saya sadar jalan sebagai agent terlalu sempit peluang. Ada ruang yang lebih besar yaitu sebagai industriawan. Naif ya.” Katanya. Saya mengangguk.


Maka dengan keyakinan pasar yang begitu besar, jalan sebagai industriawan dipilihnya. Walau dihadapan produsen AS dia tidak dianggap sebelah mata, namun dia tidak ragu untuk mengajukan proposal sebagai industriawan. Lebih dari empat bulan, proposal itu tidak pernah digubris oleh produsen. Walau setiap hari dia selalu mengirim email tentang hal yang sama. Kadang sehari dia kirim 5 email. Menurutnya, tidak sedikitpun dia ragu akan diterima proposalnya. Dia yakin seyakinnya. Selagi belum ada jawaban maka peluang masih ada. Kalaupun ada jawaban penolakan maka dia masih punya cara untuk meyakinkan.


Akhirnya , benarlah keyakinannya bersua dengan kenyataan. Pihak produsen , menyanggupi untuk bekerja sama” Mereka minta technology fee berdasarkan volume penjualan danh golden share sebesar 15%. Mereka juga miinta transfer right untuk patent sebesar USD 1 juta dollar didepan. Itu wajar saja. Tapi sarat ini tidak mungkin dapat saya penuhi. Apalagi dengan keadaanya saya yang hampir bankrupt. Maklum lebih dari setahun saya hidup dari tabungan karena tidak lagi bekerja sebagai sales. Seluruh energy dan waktunya dicurahkan untuk ini. “ Kata Cha.


Dalam keadaan serba kurang , dia tetap yakin akan berhasil. Apalagi istrinya selalu mendukungnya dan tak sedikitpun meragukan obsesinya. Dukungan istrinya sangat luar biasa. Di saat terpuruk istrinya selalu meyakinkan dia untuk terus berjuang dan focus. Istrinya terpaksa kerja di Pasar Ikan untuk biaya hidup mereka. Padahal sebelumnya hidupnya nyaman sebagai sales manager di Pabrik Kimia. Dia juga insinyur kimia. Tentu tidak sulit dapatkan kerjaan. Tetapi jalan wirausaha,  jalan yang sulit dan terjal dipilihnya.


Waktu dilaluinya dengan berat dan jalan terseok seok. Semakin sulit semakin membara semangatnya. “ Andaikan semua mudah, tentu sukses akan menjadi milik semua orang. Hanya pejuang yang berhak memenangkan pertempuran “  Demikian philosopy hidup Cha. 


Itulah sebabnya tidak ada istilah menyerah baginya. Ditengah sulit akan selalu ada cara untuk keluar dari kesulitan asalkan selalu bergerak dan bergerak , tidak menyerah dengan keadaan. Dia juga tidak mengemis dengan produsen untuk mengasihaninya agar melunakan kondisi. Baginya, kemitraan adalah keseimbangan. BIla dia ingin dihargai maka dia harus memastikan dirinya qualified untuk dijadikan mitra dan itu hanya satu jalan yaitu dia harus memenuhi syarat dari produsesn.


“ Lantas apa solusinya ? Tanya saya. 


“ Jalan yang ditempuh adalah mencari orang lain yang bisa dijadikan sinergi untuk meraih impiannya.” Katanya.


Pertama tama yang dia datangi adalah Perusahaan Distributor besar, yang mengageni banyak produk import. Ada banyak distributor yang didatanginya. Akhirnya beberapa menyanggupi untuk mendukung rencananya membuat pabrik dan bersedia menjadi distributor. Masalah marketing teratasi. 


Masalah kedua , darimana modal untuk merealisasikan ini. “ Inilah yang paling utama. Tanpa modal , semua impian akan menjadi tetap impian. Tapi saya tidak frustrasi. Tanpa izin perusahaan, tanpa kantor , tak mengurangi rasa pecaya diri saya untuk bertemu dengan bank. “ Katanya. Ya, hanya bank yang dia tahu sebagai sumber pembiayaan. Lain tempat tidak dia paham. Apalagi mengharapkan bantuan dari keluarga Itu tidak mungkin. Dia terlahir dari keluarga miskin, juga istrinya.  


Dengan bermodalkan proposal bisnis dan MOU dengan produsen di AS, dia berusaha meyakinkan bank untuk mendukungnya. Bukan hanya satu bank yang didatanganinya ,tapi beberapa bank. Jawaban bank semuanya sama bahwa dia harus punya track record sebagai businessman atau collateral, juga perizinan yang lengkap. Tanpa itu bank tidak bisa beri dia modal. 


“ Tract record , saya tidak ada. Collateral, apalagi, izin jangan tanya.” katanya. Dia tidak kecewa dengan penolakan itu. Karena dari penolakan itu dia mengetahui apa yang harus dilakukannya agar qualified mendapatkan pinjaman dari bank.


“ Ya saya harus mencari mitra yang punya tract record sebagai debitur bank yang sehat. Tentu mereka orang yang sukses dan perusahaan yang hebat. Bila saya bermitra dengan orang itu maka perusahaan saya akan memenuhi syarat untuk dibiayai oleh bank.”  Katanya. “ Tapi saya tidak mau bermitra hanya bawa badan dan semangat. Saya harus mendirikan perusahaan terlebih dahulu. Darimana uang biaya izin dan sewa kantor ? Saya menjual apartement. Hanya itu tersisa sumber daya keuangan kami. Selanjutnya, kami pindah ke rumah orang tua saya.” Lanjutnya.


Selanjutnya dia mendatangi beberapa nasabah bank yang sudah punya track record. Dia tidak meminta modal dari mereka. Dia hanya minta nama mereka tercantum sebagai pemegang saham perusahaanya. Karena nasabah bank yang sudah punya track record adalah perusahaan besar , tentu tidak mudah mendatangi mereka apalagi meyakinkan petinggi perusahaan itu. 


“ Untuk mendapatkan kesempatan bertemu, tidak sekali saya terpaksa duduk seharian di depan sebuah restoran, yang biasa dikunjungi CEO perusahaan itu. Tak sedikit yang langsung menolak rencana bisnis saya. Namun saya tak pernah kehilangan harapan. Saya sadar, apalah saya untuk dengan mudah dipercaya orang”Kata Cha.


Akhirnya ada satu perusahaan yang tertarik untuk mendukungnya. Benarlah. Mereka tidak keluar uang hanya bersedia menempatkan namanya sebagai pemegang saham mayoritas. Mereka minta saham 60% namun dia punya opsi untuk membeli kembali saham itu dalam jangka waktu tertentu dengan harga 50% diatas harga nominal. Dia terima deal itu tanpa sedikitpun merasa dirugikan. 


“ ini wajar, menurutnya.”  Karena siapa yang akan percaya kepada pemula. Namun saya yakin , walau saya minoritas saya  akan menjadi pemenang karena saya sangat memahami bisnis ini dan tahu bahwa mitra venture saya hanya mengejar rente saham. “ 


Setelah kemitraan terjadi maka proses pengajuan pinjaman ke bank dilaksanakan. Bankpun setuju memberikan kredit dengan kondisi semua saham dijadikan jaminan, termasuk personal guarantee dari pemegang saham mayoritas yang dikenal bank sebagai nasabah yang punya track record bagus.


Maka, jadilah Cha sebagai direktur perusahaan dengan investasi raksasa. Tiga tahun setelah perusahaannya beroperasi , produksinya sudah membanjir pasar dalam negeri China maupun manca negara. Hebatnya lagi , principalnya yang di AS memilih menutup pabriknya di AS dan memindahkan businessnya ke china. Melalui venture capital  dia mengajukan skema pembiayaan untuk menbeli kembali saham yang 60% tersebut dan kemudian menjualnya kembali kepada mitranya dari AS seharga 4 kali lipat. Kini dia bermitra langsung dengan principal yang menguasai riset dan technology.


Sukses sudah ditangannya. Apakah penampilannya berubah, seperti orang kaya baru ? tidak !.Justru dia semakin keras bekerja. Sehari dia berkeja hampir 18 jam. Hidup sederhana. Tidak membeli rumah mewah. Dia bahagia dengan tetap tinggal di tempat yang lama. Kenapa ? dia masih punya obsesi ? “ saya ingin membuat imperium business , bukan hanya untuk saya dan keluarga tetapi juga untuk masyarakat china.”. Tahun 2013 saya mendukung  perusahaanya untuk masuk ke bursa Shenzhen Stock exchange dan Shanghai Stock Echange.


***

Hikmah cerita.

Apa yang dilakukan oleh Cha adalah suatu semangat entrepreneurship.  Jeli membaca peluang, creative mencari solusi, tidak kenal lelah dan selalu bekerja keras , tidak takut menghadapi resiko ketidak pastian, selalu berpikir positif, tidak rendah diri, bersikap terbuka dan mau berkerjasama demi mencapai tujuan. Lebih daripada itu adalah niat baik untuk kepentingan semua pihak. 


Ya, Keberhasilan tidak pernah datang dengan mudah. Semuanya harus diperjuangkan ditengah keterbatasan yang ada. Hidup adalah proses , yang semua orang harus melewatinya. Tanpa kecuali. Yang membuat orang lain kagum bukanlah hasil yang dicapai seseorang melainkan proses dibalik keberhasilan tersebut. Jangan pernah tergoda dengan istilah miracle atau short cut atau kekuatan doa miskin effort. Bila kita percaya kepada Tuhan maka kita juga harus percaya kepada hukum Allah, yaitu sunattulalh, bahwa semua harus dilalui dengan kerja keras, istiqamah dan sabar. Ini juga yang ajarkan agama kepada semua orang beriman.


Sumber “ MyDiary.

Tahun 2013.





Selalu ada harapan..

  “ Ale ! terdengar suara Patria di seberang lewat telp selularku. “ Ketemuan dong. Tempat biasa di bunker ya. " sambungnya. Aku tahu i...