“ Saya tidak ingin rapat diadakan di Jakarta. Akan lebih baik ketemunya di Singapore.” Kata saya kemarin sore kepada Awi, yang mengatur pertemuan dengan relasinya. Pagi jam 9 saya sudah di lounge executive Sheraton Singapore hotel. Rencananya jam 11 pagi Awi akan datang bersama relasinya. Seseorang menyapa saya. Ternyata teman lama. Yeni. “ Kemana saja kamu, Yen. Lama engga keliatan di Jakarta.” Tanya saya.
“ Sejak tahun 2013 memang tinggal di Singapore.” Katanya langsung duduk di table saya. “ Saya kelola bisnis supply tekhnologi. Clients saya BUMN di Jakarta. Tapi sejak dua tahun belakangan ini keliatan lesu bisnis “ sambungnya. Saya senyum aja. Walau usianya sudah diatas 50 tahun, tetapi tetap cantik dan fresh.
“ Saya engga ngerti, kenapa semakin lama semakin serba tidak pasti ekonomi global. Sepertinya kemajuan yang selama sekian decade yang dipacu dengan kerja keras akhirnya berujung kepada pertumbuhan rendah, dan itu justru terjadi pada negara maju. Kemana saja uang yang ada selama ini. Kemana pasar yang selama ini bergairah ? tanya Yenni.
“ Sebenarnya engga sulit dipahami. Seperti ungkapan tempalah besi selagi panas. Innovasi tekhnologi juga melahirkan innovasi pemasaran. Tentu menciptakan peluang investasi dari hulu ke hilir. Ingat kasus overload nya jaringan fiber optic tahun 90an. Mewabahnya bisnis dotcom. Berkembang pesatnya industry migas dan petrokimia. Terakhir, miliaran USD mengalir ke bisnis IT, AI, Biotech, renewal energy. Namun tak ubahnya dengan membangun istana pasir di tepi pantai.
“ Mengapa ?
“ Ya karena semua itu dibiayai dari hutang. Setiap hutang digali, dalam system monetarism itu sama saja menambah uang beredar. Dari pemerintah tercipta Government Bond untuk membiayai anggaran ekspansive. Dari bank central tercipta uang lewat pelonggaran moneter berupa penurunan suku bunga, relaksasi perbankan dan kebijakan macroprudential. Dari pasar modal tercipta uang lewat short selling, Repo, Marcap, corporate bond.
Tentu semua itu ada batasnya. Kalau pertumbuhan kapasitas ekonomi melebih kecapatan pertumbuhan penduduk planet bumi, itu pasti akan berhenti dengan sendirinya. Ya dari masa ke masa krisis terjadi karena kelebihan kapasitas dari apa yang bisa diserap pasar. Dan yang miris adalah setiap krisis terjadi, justru pada akhirnya bersandar kepada bank central sebagai solusi. Dan itu berujung kepada peningkatan utang, yang tentu uang beredar semakin bertambah.
Akibatnya semakin lama semakin banyak uang beredar di bandingkan dengan kapasitas ekonomi yang ada. Inflasi mengancam. Walau inflasi berusaha diredam dengan kenaikan suku bunga, tetap saja tidak bisa memperbaiki struktur ekonomi real. Karena sudah dalam kondisi imbalance economy. Uang lebih banyak di sector moneter daripada sector real. Kurs terus terdepresiasi. Value ekonomi semakin absurd. Itu dialami oleh Jepang, zona Eropa, AS dan tentu China akan menyusul.
Kelebihan kapasitas ada dimana mana. Globalisasi bidang investasi, keuangan, perdagangan, IT, dianggap sebagai biang masalah. Setiap negara maju berusaha melakukan restore ekonominya lewat economic adjustmemt. Dari outward looking policy ke inward looking policy. Now or never. Tapi untuk itu perlu restruktur ekonomi dari ekspor ke market domestic. Proteksionisme tak terelakan. Lagi lagi solusinya adalah lewat stimulus. Artinya menambah lagi uang beredar.
Kita bisa lihat bagaimana negara maju terus menambah utang. Debt to GDP ratio diatas 100 %. Bagi negara berkembang memang tidak mudah menambah utang. Karena likuiditas mengalir ke negara maju terutama ke AS. Ya, terpaksa melibatkan bank central membeli surat utang negara. Bank cental tidak lagi independent. Rezim uang fiat dipertanyakan. Tapi siapa peduli. Para elite yang ada dijantung kekuasaan hanya memikirkan bagaimana periode kekuasaannya dia bisa terus pesta, walau lewat berhutang sekalipun.
Walau tadinya pertumbuhan ekonomi dipicu dengan asumsi future prospektif dan ekspansive, yang terkesan ilusi. Namun dampak yang dirasakan dari kelebihan kapasitas adalah nyata, bukan illusi. Mata uang terdepresiasi itu nyata dampaknya kepada masyarakat dengan semakin melemahnya purchasing power. Jatuhnya nilai upah riil. Menurunnya angka kemakmuran.
Nah sebenarnya sampai disini kita paham. Rezim uang fiat memang lahir dari kudeta kesepakatan Bretton wood yang gagal diimplementasikan. Mengapa gagal ? karena korup di jantung kapitalis, AS. Namun uang fiat ternyata lebih korup. Walau prinsip akuntable, transfaransi, demokratisasi sebagai jargon rezim uang fiat, namun itu seenaknya dilanggar lewat awan konspirasi antara financial konglomerat dan penguasa.
90% uang beredar didunia dikuasai elite financial global. Uang itu berubah jadi asset dari berbagai kelas dan ditempatkan di bank custody Melon Bank NY. Kemakmuran yang dijanjikan justru melahirkan GINI ratio yang lebar. Ya seperti ungkapan orang bijak, bumi ini cukup untuk semua, tetapi tidak cukup untuk satu orang rakus.“ Kata saya.
“ Solusinya apa ?.” Kata Yeni dengan mengerutkan kening.
" Sebenarnya tidak ada solusi pada sistem yang memang distorsi. Seperti halnya kata ekonom, solusi nyata bukan lagi menambah uang beredar. Tetapi dari peningkatan pajak langsung maupun tidak langsung lewat tarif. Memang mudah terdengarnya. Yang jadi masalah adalah tidak akan terjadi peningkatan pajak tanpa ekspansi fiscal. Sementara tanpa utang , ruang fiscal tidak cukup anggaran untuk investasi. " Kata saya.
' Duh dilemma ya. Itu sama saja mana duluan telor atau ayam. Stuck! " kata Yeni.
“ Ya, sepertinya proses keruntuhan uang fiat sedang terjadi. Kalaupun ada upaya untuk menahannya, itu tidak akan bertahan lama. China lebih realiistis. Daripada menahannya lewat instrument stimulus, lebih baik pindahkan asset ke emas. Makanya jangan kaget bila kini harga emas melambung. “ Kata saya.
“Wah lengkap sekali penjelasan kamu, Ale. Jadi paham saya, sebenarnya krisis demi krisis terjadi karena system yang memang korup. System yang lebih mengutamakan kepentingan korporasi, yang tentu bersenggama dengan elite politik ” Kata Yeni. Saya senyum aja.
“ Ale, kenapa SDA Minerba Indonesia tidak bisa memperkuat cadangan devisa dan menstabilkan mata uang. Padahal kita sudah melarang ekspor mentah.” Tanya Yeni.
“ Dalam konteksi cadev dan value added bukan terletak pada larangan ekspor mentah SDA, tetapi pada skema investasi. Nah dalam kasus minerba dan Nikel itu kan sebagian besar skema nya counter trade offset “ kata saya.
“ Apa itu counter trade offset ?
“ Contoh kamu punya IUP nikel. Karena pemerintah larang ekspor mentah. Kamu deal dengan buyer nikel di China, yang perlu ferro steel atau pig iron. Pihak buyer bangun smelter untuk mengolah ore jadi pig iron. Umumnya mereka sendiri yang tentukan tekhnologi dan EPC untuk membangun. Nah setelah smelter jadi, dia serahkan kepada kamu, dengan imbalan kamu serahkan produk jadi dari smelter itu kedia.
Tentu berapa jumlah product smelter yang harus kamu delivery tergantung kesepakatan bersama dengan buyer. Ditentukan berdasarkan harga nikel, total investasi smelter. Namun karena investasi smelter itu dalam skala besar, ya kontrak counter trade itu lama berakhirnya.
Hebatnya, biasanya buyer beri uang cash juga untuk modal kerja. Kamu jadi terlena tanpa mikir lagi. Karena kan tanpa keluar modal kamu tetap dapat uang. Walau relative kecil tapi kan sudah cukup membuat kamu kaya raya dan dianggap konglomerat.
Apalagi kamu bisa pinjam uang ke bank dengan gadaikan smelter itu. Dapat uang lagi dari bank BUMN. Nanti kalau proses counter trade terhenti karena harga nikel jatuh sehingga tidak feasible untuk smelter produksi , itu akan jadi resiko bank, yang tentu negara akan pikirkan gimana bailout nya.” Kata saya tersenyum.
“ Jadi dalam skema counter trade offset, devisa relative kecil sekali. Karena sebagian besar ekspor dianggap barter saja. Barter antara barang modal dengan nikel. “ Kata Yeni menyimpulkan.
“Ya. Dan pihak buyer kadang culas. Sebelum berakhir kotrak, mereka tawarkan kepada kamu untuk perluas kapasitas produksi. Ya tambah lagi smelter. Jadi, terus aja dia jualan barang modal dan kamu jualan nikel. Hanya prosesnya lewat barter. Dan apes nya kalau harga nikel jatuh di pasar dunia, ya akan makin lama aja proses berakhirnya kontrak. “ Kata saya.
“ Oh paham saya. Artinya kalau pemerintah mau dapat DHE dari SDA, ya dari awal larang skema counter trade offset. Jadi yang masuk dalam bisnis hilirisasi nikel hanya investor industry, bukan pedagang. Harusnya pemberian IUP SDA dilelang lewat tender offer investor, bukan bagi bagi IUP kepada pihak yang tidak jelas, yang akhirnya hanya menambah deretan para broker dan komprador“ Kata Yeni.
“ Ya benar. Itu kalau Indonesia ingin jadi negara pemenang ditengah system global yang tidak adil. “ Kata saya dengan tersenyum. Tamu saya sudah datang. Yeni minta pamit untuk pergi dan berharap bisa bertemu lagi dengan saya.