Sunday, April 11, 2021

Sesal.

 


Kalaulah bukan karena aku butuh uang. Aku tidak ingin menerima kedatangan pria itu. Dia bersendal jepit. Bajunya kumuh seperti orang kampung pada umumnya. Aku kawatir teman temanku meliat kedatangannya. Kuterima dia di teras. Dia menyerahkan uang dalam bungkus plastik dengan tersenyum. “ Ya udah. “ Kataku ketus. Dia tetap tersenyum. Tak berapa lama dia pergi. Mungkin karena aku tak berniat bicara dengan dia. Itulah kebiasaan pria itu sejak aku kuliah di kota.

***

“ Bunda akan menikah lagi “ kata Bunda saat aku SLTP


“ Ya Bunda. Tetapi kenapa harus dengan dia, pria miskin itu. Bunda kan cantik. “ Kataku. Bunda diam saja. Ayahku meninggal karena kecelakaan.  Dua tahun bunda menjanda. Kehidupan kami semakin sulit. Harta yang tak seberapa peninggalan mendiang ayah cepat habis menghidupi aku dan adikku. Bunda terpaksa bekerja sebagai buruh di Pabrik. Pernikahan itu terjadi. Aku harus menerima. Itu urusan Bunda. Ayah tiriku pedagang kecil di pasar tradisional. Dia pendiam. Tidak banyak bicara. Sehingga hubungan antara aku dan adikku dengan dia tidak begitu hangat. Aku dan adiku tetap tidak menyukainya.


Saat remaja. Aku punya pacar. Bunda senang. Karena pacarku dari keluarga kaya raya di kampug kami. Tapi ayah tiriku tidak suka hubunganku dengan pacarku. Itu dia buktikan ketika pacarku datang ke rumah. Dia tidak pernah keluar dari kamar tidur.  Pernah aku dengar suara suara bisik bisik dari balik kamar. Pertengkaran antara ibuku dan ayah tiriku. Benar. Ayah tiriku tidak ingin aku terus  berhubungan dengan pacarku.


Suatu saat pulang sekolah sore hari. Pacarku memaksa aku mampir ke rumah kosong. Aku berontak keras. Aku tidak mau. Dari jauh nampak ayah tiriku sedang jalan ke arah pulang. Dia melihat aku sedang berusaha meloloskan diri dari paksaan pacarku. Dia bentak pacarku. Langsung Pacarku lari. Dia tatap aku dengan wajah kerasnya.” Pulanglah. Jangan ceritakan kepada ibumu.” katanya. Aku pulang jalan lebih dulu. Di belakang ayah tiriku mengikuti.


Tetapi setelah itu, entah darimana rumor datang. Ibuku sedih. Keluarga pacarku mengabarkan kepada orang ramai bahwa aku sudah tidak perawan. Karena digauli oleh ayah tiriku. Ibuku berang kepada ayah tiriku. Namun ayah tiriku tetap diam. Dia tidak ingin bicara banyak. “ Aku tidak  ingin membela diriku atas fitnah itu. Antar anak kamu ke puskesmas. Periksa.” Kata ayah tiriku. Dia tidak pernah cerita peristiwa dulu pacarku hampir merenggut kegadisanku. Bunda sangat kecewa kegagalanku menikah dengan keluarga kaya. Akhirnya karena itu perceraian terjadi. Ayah tiriku keluar dari rumah. Aku senang.


Bunda kembali kerja sebagai buruh pabrik. Aku tamat SMU. Aku diterima di PTN. Bunda bingung dapatkan uang untuk mengirimku ke kota. Saat itu ayah tiriku datang mengulurkan bantua. Bunda menolak keras. Tapi karena tidak ada pilihan lain. Akhirnya Bunda menerima. Sehingga aku bisa berangkat ke kota. Kesanku tetap tidak suka dengan ayah tiriku. Setiap tiga bulan dia datang ke kota. Memberiku uang makan dan uang bayar kos. 


Ayah tiriku setelah bercerai dengan ibuku tidak menikah lagi. Setelah tamat kuliah, aku diterima bekerja di kota. Ibu dan adiku kubawa tinggal bersamaku. Hubungan kami terputus dengan mantan ayah tiriku. Dari keluargaku di kampung aku mendengar kabar mantan ayah tiriku meninggal. Sejak kematian ayah tiriku, aku dirudung rasa bersalah. Aku harus membuka rahasia masa laluku. 


“ Bunda, aku mau jujur. Sebenarnya ayah tiriku tidak pernah menyentuhku. Bahkan dia yang menyelamatkanku dari usaha pacarku yang ingin perkosaku.’ kataku. 


“ Benar itu? Mengapa Nak kamu tidak jujur kepada Bunda” Kata Bunda menangis. Aku terdiam. Ketidak sukaanku kepada ayah tiriku membuat aku mendiamkan segala fitnah terhadap pria yang begitu tulus dan berkorban untukku dan Bunda. Bunda keliatan sangat sedih. Semalaman Bunda menangis. 


“ Dia memang miskin. Tapi dia cinta pertama Bunda. Saat bunda dijodohkan oleh kakekmu dengan ayahmu, dia sangat terpukul. Tapi dia sadar dengan kemiskinannya. Saat ayahmu meninggal dia datang ke bunda. Melamar Bunda. Walau kalian tidak suka dengan dia. Namun cintanya kepada kalian tidak beda dengan anak kandung. Bahkan setelah bercerai dengan Bunda, disaat Bunda kesulitan,  dia selalu ada untuk bunda. “ Kata Bunda. Saat itu aku terasa jatuh kejurang terdalam dalam sesal tak bertepi.


Seminggu setelah itu, aku dan  Bunda beserta adiku pergi ke kampung, Kami pergi ke pusara ayah tiriku. 


Aku bersimpuh dengan air mata berurai. “ Ayah maafkan aku Yah…” isakku. Kupeluk pusara itu. 


Ibuku juga  memeluk pusara itu “ Maafkan aku Abang. Maafkan aku..”  Kata Bunda menangis. 


Adiku juga memeluk pusara itu. 

Kami bertiga menangis dalam sesal untuk pria yang seumur hidupnya hanya ingin berbuat baik karena Tuhan. Walau derita tak tertanggungkan, dia tetap tidak kehilangan cinta dan terus berkorban.


No comments: