Sunday, April 11, 2021

Sesal.

 


Tahun 2013, saya bertemu Andi di KL“ Lue tahu kan, abeng” Tanyanya. Saya mengangguk. Betapa tidak. Abeng sahabat saya. Kami berteman sejak tahu 80an. “ Sekarang dia tidak punya apa apa lagi. Dia diusir oleh istri dan anak anaknya. Tengoklah dia. Dia ngekos di Mangga besar “ Lanjut Andi.  


Saya teringat tahun 89, setelah saya bangkrut. Saya datang menemui Abeng di Ruko nya kawasan Kota. “ Tuhan sedang jewer lue Ale. Engga apa apa. Biasa laki laki. Bangkrut itu untuk ajarkan lue naik kelas.” Kata Abeng setelah tahu saya bangkrut. Dia dukung rencana saya untuk ekspor pumice stone. Dia beri saya modal untuk satu container. Dan ketika saya sukses dan kembalikan uang “ Ale, pakai aja uang itu. Kalau sudah longgar kembalikan. Jangan terlalu terbawa perasaan. Kita kan teman.” Katanya. Sejak itu kami semakin dekat. Saat saya akan berangkat ke China untuk hijrah, dia sempatkan datang ke Bandara antar saya. Dia beri semangat istri saya untuk terus dukung saya. Dia belikan jacket musim dingin " ALe perlu jacket ini. Di china dingin kalau lagi winter " Katanya.


Sepulang dari KL, saya sempatkan datang ke tempat Kos Abeng. Saat saya datang pagi hari. Dia terkejut. Dia peluk saya lama. “ Ada apa Beng. ? kenapa engga telp gua? Tanya saya. Abeng diam saja sambil tertunduk.


“ Sejak perusahaan gua serahkan ke anak gua yang tertua untuk kelola. Gua praktis pensiun aja. Kemudian bini gua diangkat oleh anak gua sebagai direktur keuangan. Gua sendirian aja di rumah. Pas gua sakit, yang urus nurse. Entah mengapa mereka curiga gua selingkuh dengan nurse. Akhir cerita gua dibuang oleh mereka. Adik gua rawat gua di Bangka. Setelah sembuh gua balik ke jakarta. Karena gua mau urus uang gua di Singapore.” Kata Abeng dengan nada datar. Saya juga tidak mau bertanya lebih jauh. Itu masalah keluarganya.


“ Ale, bisa bantu gua.” tanya.


“ Ya pastilah. Apa yang harus gua bantu?


“ Beberapa tahun lalu gua ada teken kontrak investasi di Singapore. “ Katanya seraya menyerahkan kontrak dari balik tasnya yang kumuh. Saya baca kontrak itu. “ Kita ke singapore hari ini. Lue cepatan mandi. “ kata saya. Dia segera mandi. Dari mangga besar kami go show ke bandara. Hanya dua jam saya urus, investasi Abeng di Asset manager itu bisa saya cairkan. Jumlahnya USD 5 juta.


“ Terima Kasih Ale. Padahal udah capek gua urus. Engga juga cair. Tapi ama lue sebentar doang, selesai.” Kata Abeng berlinang air mata.


“ Lue ya, aneh. “ Saya mengerutkan kening. “ Gua kan teman lue. Kenapa engga tel kalau ada masalah.”


“ Ale, gua malu. Kata teman teman lue udah jadi orang hebat, Apa iya masih ingat gua. Malu ale. Gua tahu diri.” Katanya. 


" Ingat engga. Waktu gua bangkrut. Lue bantu gua dan lue ajarkan gua untuk tetap bersemangat. Dan beri gua modal. Lue pikir gua lupa ? Lue udah gua anggap saudara kandung gua. Walau kita jarang ketemu, tetapi dihati gua lue tidak pernah hilang. Pahamkan Beng? Abeng menunduk dan akhirnya mengangguk.


“ Terus apa rencana lue dengan uang itu? tanya saya. Abeng hanya diam. 


" Ya udah. Tapi ingat. Kalau ada masalah telp gua ya Beng." Kata saya maklum. Tidak mau desak dia. Sejak itu dia tidak pernah telp saya lagi. Tapi dari AWi saya tahu usahanya semakin berkembang sebagai eksportir sarang walet. Dia memang punya network di Taipei. Sementara anak anaknya tidak mau bertemu dengan dia.


Tahun 2020 saya dapat kabar dari Awi. Abeng masuk rumah sakit karena COVID. Segara saya datang ke rumah sakit bersama Awi. Kondisinya memang parah. Dia sempat menyerahkan kunci safety box bank dan PIN. Dia tidak bisa bicara lagi. Tapi saya tahu bahwa kalau terjadi apa apa dengan dia, saya mendapatkan amanah dari dia. Sebisanya saya berusaha menghubungi istri dan anak anaknya. Tetapi mereka tidak mau tahu.


Seminggu kemudian Telah berlaku takdir untuk ABeng. Dia dijemput pulang oleh Tuhan. Awi urus jenazahnya dan penguburunnya. Tetap anak anak dan istrinya tidak mau datang ke rumah duka.


Seminggu setelah Abeng meninggal, saya temui anak dan istrinya. Saya serahkan semua dokumen kepada mereka. “ Ada 4 rumah. Salah satunya di Pantai Mutiara. Termasuk reksadana di Singapore. Dan saham perusahaan yang sekarang ada. “ Kata saya. Istrinya terkejut. 


" Papa engga punya istri lagi ? tanya anaknya yang perempuan


" Papa kamu tidak pernah menikah lagi. " Kata saya.


Anaknya yang perempuan langsung menangis saat baca surat warisan. Dia teriak histeris menyalahkan mamanya. Anaknya yang laki laki hanya tertunduk dan diam.  Ayah adalah ayah. Cintanya tidak terungkapkan dengan kata kata. Tetapi dengan perbuatan. Seberat apapun beban yang dipikulnya, dia telan semua dan tetap tersenyum di hadapan anak dan istrinya tanpa mengeluh.  Dalam diam dia berdoa. Dalam sakit dia tetap tidak kehilangan harapan untuk memberikan yang terbaik bagi putra putrinya. Semoga Abeng damai di alam sana dan keluarga yang ditinggalkan …Tentu akan menjadi sesal yang tak berujung bagi mereka..

No comments:

Selalu ada harapan..

  “ Ale ! terdengar suara Patria di seberang lewat telp selularku. “ Ketemuan dong. Tempat biasa di bunker ya. " sambungnya. Aku tahu i...