Wednesday, April 28, 2021

Hikmah perjalanan hidup

 


Perjalanan hidup saya mungkin lebih banyak berkisah tentang kegagalan dan pecundang. Tidak ada yang perlu dibanggakan. Tahun 83 saya sebagai perantau yang hidup melata. Terseret dalam arus mencari jati diri. Saya ikut pengajian radikal. Menentang rezim Soeharto. Aktif terlibat dalam diskusi gelap bersama gerakan marhaen. Aktif dalam kelompok agama yang menentang pemerintah. Kelompok apapun yang punya semangat menentang Soeharto, saya ikuti.  Tahun 84 saya masuk penjara. Karena tersangkut kasus Tanjung Priok. 


Di penjara walau hanya 7 hari namun seperti 7 abad. Setiap hari  dua atau tiga jam saya disiksa. Disebelah sel saya, ada ruang interogasi. Setiap jam saya mendengar suara lulungan dan tangisan memohon ampun. Setelah itu saya melihat orang diseret dari ruang interogasi dengan kepala dan  wajah berdarah. Bahkan ada wanita diseret dengan menarik rambutnya dalam keadaan tak berdaya setelah disiksa.  Saat itu sepertinya saya kehilangan jatidiri. Merasa kalah dan tak berdaya.


“ Apakah kamu kira yang kita perjuangkan ini sudah benar? tanya teman satu sel dengan saya. Saya terkejut. Tak bisa menjawab. Saya sedang berada dititik terendah keimanan. 


“ Tahukah, kamu. Kisah Nabi Yunus. Kapten kapal yang sedang menghadapi badai, perlu mengurangi penumpang. Saat itu dia melakukan undian siapa yang pantas dibuang kelaut dan siapa  tetap tinggal di kapal. Ternyata, Nabi Yunus harus keluar dari kapal. Saat dia terjun ke laut. Saat itu juga ikan Paus menyambutnya dengan menelannya. Di dalam perut ikan yang gelap. Malaikat mengajarkanya berdoa. Kamu tahu doa apa yang diajarkan malaikat ? 


“Apa ?


“ Itu bukan doa. Tetapi pengakuan diri bahwa “ tiada tuhan selain Allah, sesunggunya aku termasuk yang zolim”. 


“ Oh…


“ Kamu bisa bayangkan, disaat Nabi  Yunus merasa paling benar sehingga pantas meniggalkan kaumnya demi menjauh dari kemaksiatan. Merasa yakin Allah akan menolongnya dalam undian. Tetapi ternyata dia kalah. Orang yang dianggap maksiat justru selamat dan tetap di kapal. Sementara dia sebagai Rasul, terlempar dari kapal. “ kata teman satu sel saya dengan tersenyum. Dia mendekati tempat saya duduk di lantai. 


“ Saudaraku, Yang jahat dan baik itu selalu bersanding di dunia ini. Kita tidak diminta Tuhan memerangi yang buruk. Kita diminta menyampaikan kebaikan dengan cara baik melalui perbuatan dan sikap kita. Agar apa ? agar terjadi perubahan lebih baik. Dan setiap perubahan itu tetaplah kehendak Allah yang berlaku. Jadi tugas kita hanya menyampaikan kebaikan dengan rendah hati dan bersabar. Artinya, sebaik apapun niat kita , kalau disampaikan dengan cara yang salah, tetap saja salah di hadapan Allah.” Katanya dengan bijak. 


Saya terhenyak. Setelah itu setiap detik napas saya berdoa dengan melapalkan “ Tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya aku termasuk orang yang zolim. Saat saya terpuruk, yang saya ingat adalah kezoliman saya, bukan kehebatan saya dalam beragama. Tuhan ingin saya mendapatkan hikmah dari keadaan saya, dan itu adalah rendah hati dan bersabar pada batas tak tertanggungkan. Seharusnya bagi mereka yang dulu pernah merasa benar melaksanakan fatwa ulama menjatuhkan dan menghina Ahok, dan kini mereka hidupnya terpuruk, mereka harus melapalkan " Tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya aku termasuk orang yang zolim." Sebuah sikap kerendahan hati dan malu di hadapan Allah. Karena sikap itulah pertolongan Tuhan akan sampai. 


***

Setelah peristiwa Tanjung priok, saya melupakan soal amarah kepada rezim Soeharto. Saya berusaha berdamai dengan diri saya dan semakin membuat saya berserah diri kepada Allah. Saya focus kepada bisnis. Karena bisnis juga saya berinteraksi dengan rezim Soeharto melalui kroni , ormas dan Golkar. Saya tidak merasa berdosa bila saya ambil bagian dari kemaksiatan itu. Namun satu waktu, saya bertemu Gus Dur. Dia membantu saya dapatkan SPK proyek dan juga fasilias kredit bank. Begitu sakti surat Gus Dur sehigga bisa membuat segan Pak Harto dan banker. 


Tapi ketika proyek selesai, dan saya dapat untung besar dan saya datang ke Gus Dur. “ Saya dapat untung. Berapa Gus perlu uang dari keuntungan ini” kata saya dengan jujur. 

“Saya tidak perlu kamu beri. “.” Katanya.

“ Mengapa Gus ?

“ Agar kamu tidak perlu datang lagi ke saya. Bukankah kamu sudah kaya. “


Saya tersentak. Saat itu juga ada cahaya kebenaran datang ke dalam sanubari saya.  Kalaulah dekat kepada rezim untuk berdamai dan kaya mudah, tentu Gus Dur lebih kaya dari saya dan orang lain. Tetapi Gus Dur tetap hidup sederhana. Dan tidak tergoda dengan pengaruhnya di hadapan politik kekuasaan.? Berdamai adalah keikhlasan. Keikhlasan yang benar apabila diikuti sifat istiqamah. 


“ Apa nasehat Gus untuk saya”


“ Pertama, selalulah berniat baik, Tidak penting orang suka atau tidak suka.  Karena niat itu hanya antara kita dan Tuhan saja yang tahu. Kedua, berusahalah memberikan petunjuk kepada orang lain termasuk mereka yang berbeda agama dengan kamu. Ketiga, caranya selalu bersikap adil dari sejak dalam pikiran sampai pada perbuatan.  Keempat, lakukan itu dengan cara yang manis dan egaliter. Jangan membuat orang lain merasa berjarak, kalau bisa dengan canda yang becanda juga engga apa apa. Kelima, Rendah hatilah selalu.” Kata Gus Dur. 


Sejak itu saya tinggalkan semua bisnis yang berhubungan dengan fasilitas pemerintah dan proyek pemerintah. Saya ingin ikhlas dan istiqamah. Saat itulah saya menemukan jatidiri. Usia saya saat itu 32 tahun. Selama 7 tahun atau sampai usia 40 tahun. Usaha yang saya lakukan jalan terseok seok. Kadang terheti tanpa harapan. Kemudia bergerak lagi dengan terseok seok. Saya tidak lagi melihat hasil sebagai tujuan. Tetapi proses yang bertumpu kepada ikhlas dan istiqamah.


Ketika Gus Dur dilengserkan dan keluar dari istana dengan celana pendek,  saya menangis. " Tuhan, engkau tunjukan kepadaku hakikat ikhlas dan istiqamah dari seorang pemimpin yang engkau pilih. Apalah arti deritaku dibandingkan Gus Dur dalam berjuang secara ikhlas dan istiqamah. "  Samahalnya drama penyalipan Yesus, dalam derita dia masih berdoa kepada Tuhan" Ampuni mereka Tuhan, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan" 



***


Usia 40 tahun saya hijrah ke China. Di China saya menemukan jalan untuk bersikap ikhlas dan istiqamah. Bahkan justru karena sifat itu saya mudah mendapatkan mitra dan kepercayaan dari investor dari Eropa dan AS, termasuk kepercayaan dari pemerintah China yang memberikan peluang dan insentif setiap niat saya membangun industri. 


China bisa mereformasi ekonomi dan politik berkat Dengxioping. Dia lakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Ketika Deng meninggal, dia tidak punya rumah pribadi. Padahal selama dia memimpin, jutaan rumah dia bangun untuk rakyat. Kalau penerusnya sama dengan Deng, itu karena rakyat juga ikhlas dan istiqmah dengan hidup mereka masing masing. Artinya harus ada sikap yang sama antara rakyat dan pemimpin. Maka perubahan yang lebih baik akan terjadi secara sunatullah.


Apa yang dapat saya maknai dalam kisah hidup saya? politik itu hanyalah ladang cobaan bagi orang beriman. Sama halnya dengan kemaksiatan. Apa yang terjadi diluar kita, itu antara mereka dengan Tuhan.  Apa yang terjadi pada kita, itu juga antara kita dengan Tuhan. Jadi tetaplah ikhlas  dan istiqmah dengan focus kepada kita sendiri. Dengan itu tanpa disadari kita sudah ambil bagian dari perubahan  yang lebih baik.


No comments: