Sunday, April 25, 2021

Kehilangan waktu kebersamaan

 


Waktu nunggu kendaraan datang di lobi, saya bertemu dengan teman lama. Kami sempat ngobrol layaknya sobat lama  tak jumpa. Setelah kendaraan datang saya permisi untuk pergi dan janji ketemuan untuk minum kopi.


“ Siapa dia Uda? Tanya Yuni mengarahkan kendaraan ke rumahnya di kelapa gading.


“ Teman ini saya kenal lebih dari 15 tahun. Kedua orang tuanya kewarga negaraan Singapore dan dia pindah ke Indonesia ketika menikah dengan orang Indonesia.  Saya mengenal kali pertama ketika dia dipertemukan oleh sahabat saya dalam satu acara. “ kata saya.


 “ Tapi ada kisah hikmah dari teman saya itu. Mau dengar ceritanya ! Kata saya. 


“ Mau lah.”


“ Istrinya selingkuh dengan mantan pacarnya waktu di SMU. Dan itu dilakukan ketika dia jatuh bangkrut. Dia dengan ikhlas memaafkan asalkan istri mau melupakan selingkuhannya.  Dia  tidak peduli asalkan keutuhan keluarga tetap bisa dipertahankan.  Tapi apa yang dia dapatkan setelah itu  ? tak ada. Malah rasa hormat istrinya semakin berkurang. “


“ Apakah begitu cepatnya seseorang bisa berubah? Apakah sebetulnya yang membuat istrinya berubah? 


“ Itulah pertanyaan yang tak pernah bisa dia dapatkan jawabanya. Sampai akhirnya istrinya pergi dan tak pernah kembali lagi.” 


“ Terus uda. Jangan berhenti ceritanya.”


“ Akhirnya dia memutuskan untuk memperbaiki hidup dan melanjutkan hidup tanpa istri. Anak anak dia yakinkan bahwa mereka akan tetap aman bersamanya. Bagaimanapun dia tidak pernah marah kepada istrinya. Dia hanya berpikir istrinya  terlalu lemah menyikapi goncangan hidup dan dia sebagai suami gagal melindunginya. Karenanya dia tidak tenggelam dalam dendam. Dia harus ikhlas jadi single parent setelah itu. Berusaha menjadi ayah dan ibu sekaligus bagi anak anak. 


Dia mulai merintis kembali bisnis. Mulai dari nol lagi. Berawal sebagai agent sparepart alat berat menjual ke perusahaan tambang dan jasa transfortasi darat dan laut. Usaha itu lambat laun bekembang. Kedua anaknya sejak SMU sekolah di Singapore, Tinggal di Asrama. Tamat SMU mereka melanjutkan ke Amerika.” Kata saya.


“ Setelah bisnis dia bangkit lagi, apakah mantan istrinya pernah menghubunginya  “ Tanya Yuni


“ Ya datang . “


“ Mau dia menerimanya? “


“ Ya. Biasa saja. Toh dia ibu dari anak anaknya. Tapi keadaannya menyedihkan”


“ Kenapa ?


‘ Menurutnya istrinya mengalami kekecewaan dengan perkawinan keduanya. HIdupnya hancur dan dia hidup terlunta lunta.”


“ Oh…”


“ Yang jadi masalah adalah kedua anak nya sulit bisa menerima Mama nya. “


“ Mengapa ?


“ Maklum dulu waktu mamanya pergi usia mereka masih kecil. Yang bungsu usia 5 tahun. Yang sulung usia 7 tahun. Mereka menyaksikan dia sujud dihadapan mamanya agar jangan pergi tapi mamanya maksa pergi dengan kata kata kasar. Kedua anaknya  juga memegang kaki mamanya agar jangan pergi tetapi mamanya malah mendorong mereka dengan keras. Seakan itu trauma bagi anak anak. Yang tak mudah mereka lupakan. Padahal dia tidak pernah memprovokasi mereka membenci mamanya. 


Dia berusaha meyakinkan anak anaknya agar memaafkan mamanya tetapi selalu gagal. Sudah 15 tahun berlalu, tetapi ingatan buruk masa kanak kanak mereka terhadap ibunya tak pernah hapus. 


Putri sulungnya berkata “ Aku akui mama. Dia ibu yang melahirkan aku. Tetapi dimana mama ketika aku pertama kali dapat haid? dimana mama ketika aku sedih karena di bully teman di sekolah. Dimana mama ketika aku ingin curhat soal pacarku?. Dimana mama ketika aku terbangun tengah malam karena mimpi buruk ? di mana mama ketika aku pertama kali masuk SMU?  Harta tak terbilang dalam kehidupan ini adalah waktu dalam kebersamaan. Tidak ada yang bisa membayar 15 tahun waktu yang begitu berharga hilang begitu saja. Dan itu pilihan mama. Mama tidak perlu minta maaf kepada kami tapi minta ampun kepada Tuhan.”


Anaknya yang laki laki punya sikap berbeda. “ Kalau papa mau balikan dengan mama, yang engga apa apa. Tapi tolong bilang mama, jangan berharap lebih kami bisa seperti anak lain yang sedari kecil dalam dekapan ibunya. Mama harus mau menerima kenyataan. Biarlah waktu berproses untuk membayar semua moment terindah yang hilang selama 15 tahun itu Sampai akhirnya kita bisa kembali normal. Bisa engga mama berkorban untuk kami, merebut hati kami kembali ? . “ 


Yuni terharu mendengar cerita saya. “ Sama dengan Yuni. Putri Yuni sampai sekarang tidak pernah bisa menerima papanya. Dia ingat waktu Yuni diusir malam malam oleh papanya dan gendong dia keluar rumah. Waktu  itu usianya 6 tahun. Sampai kini walau dia sudah menikah, memori masa kecilnya tidak pernah hapus. Ya, kebetulan  papanya memang tidak pernah mau ketemu anaknya lagi. Yang selalu ada untuk dia adalah Uda, ayah non biologis. Ya yang jadi hero dia adalah papa non biologisnya. Sangking sayangnya sama Uda, dia marah kalau Yuni salahin uda. Dihadapannya Uda itu pahlawan tanpa cacat. “ kata Yuni dan saya tersenyum.


No comments: