Friday, April 16, 2021

Jalan terjal menuju taubah.

 



Pria itu datang ke KTV tidak seperti tamu lainnya. Dia tidak mau menyentuhku  walau aku sudah di booking dan bisa diperlakukan sesukannya. Usai waktu KTV, dia memberiku tip lebih besar dari tamu lainnya. Apakah dia menyukaiku dan ingin berhubungan lebih dari sekedar hubungan client dan pramuria KTV. Entahlah. Pernah satu saat, aku tidak masuk kerja.  Menurut mami son, dia tidak memilih wanita lain. Apakah dia sedang menggodaku? Apakah dia terpesona denganku. ? 


Ah tidak mungkin. Aku bukan pilihan tepat. Banyak yang lebih cantik dariku. Kalau dia mau istri simpanan, tentulah dia pilih yang lebih cantik. Soal service? Aku tidak pernah ada kesempatan service dia. Sudahlah.  Biarkan dia dengan sikapnya. Mungkin dengan duduk di ruang KTV bersama temanya, dan memberi tip kepada pramuria adalah kesenangan tersendiri baginya. Apa peduliku.


Suatu saat dia datang ke rumah sakit. Ternyata dia tahu aku sakit dari Mamin Son. Dia pindahkan aku kamar VIP. Dia hanya diam menatapku. Tak ada kata penghibur.  Tapi dia tanggung semua biaya. Sekeluar dari rumah sakit. Aku merasa ada cahaya dalam relung sanubariku.  Aku harus berubah. Aku harus mencari pekerjaan lain yang lebih terhormat.  Tapi aku tidak ada uang untuk bayar hutangku kepada mamison. Ketika dia tahu rencanaku. Dia membayar hutangku.


 “ Beranilah untuk berubah. Dan tetap sabar walau cobaan berat.” Katanya singkat ketika memberi tahu bahwa hutangku sudah dibayarnya. Setelah itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Walau aku tahu Hapenya, aku tidak berani telp dia. Dia hanya pria yang misterius dan memberikan solusi too good to be true kepadaku. Aku tidak boleh baper. Walau mungkin aku sudah jatuh cinta dengannya.


***


Empat tahun setelah keluar dari dunia malam. Aku memang berubah dalam segala hal. Walau pekerjaanku sebagai administrasi gudang coldstorage  namun lebih dari cukup untuk hidupku sendiri. Aku sudah bisa sewa rumah sendiri. Aku juga menaggung seorang ponakanku yang yatim piatu. Aku tidak butuh apa apa lagi. Kecuali bersukur kepada Tuhan. 


“ Murni kamu ada dimana? SMS masuk. Tertera namanya Doni. Di hapeku aku sebut namanya “Mas-ku”.

“ Di rumah mas..” 

“ Boleh engga ke rumah akmu?

“ Boleh mas. Datang aja. “ Kataku seraya memberi alamat lengkap.


Belum jam 10 malam mas Doni sudah sampai. Dia tampak kumuh. Tidak seperti biasa.

“ AKu bangkrut, Mur. “ Katannya berwajah muram.

“ Sabar ya mas.”

“ istriku pergi ke Singapore ikut anaknya setelah rumahku disita bank.  “ katanya tertunduk lesu. “ Aku tidak punya apa apa lagi. Hanya baju yang melekat di badan” Lanjutnya. 

“ Kalau Mas engga keberatan. Mas bisa tinggal di rumahku sementara. “ Kataku mengusulkan begitu saja. Dia terkejut menatapku. Seperti tidak percaya yang baru didengarnya. 

“ Terimakasih Mur. Moga engga lama saya merepotkan kamu. Saya ad peluang bisnis yang sedang saya urus. Moga cepat berhasil dan aku bisa keluar dari rumah’

“ Amin. Semoga dimudahkan Tuhan rencana Mas.” 


Setelah itu Mas Doni tinggal di rumahku. Setiap hari dia keluar rumah. Kami hanya bertemu malam hari. Itupun dia tidak merepotkanku. Dia punya kunci sendiri. Tidur di dekat dapur. Pagi pagi aku membuat sarapan untuk dia sebelum pergi ke kantor. Selalu diatas meja makan aku letakan uang Rp. 100 ribu untuk ongkos dia. Aku pergi kerja dia belum bangun. 


Tiga bulan Mas Doni di rumahku. Dia pamit ke kalimantan membawa relasi bisnisnya dari luar negeri untuk meninjau tambang batu bara. Setelah itu Mas Doni mengabarkan bahwa dia sementara menetap di Kalimantan. Tak lupa berterimakasih. Setelah itu itu kami sudah jarang komunikasi. Aku berdoa semoga dia baik baik saja.


Setahun kemudian, mas Doni datang menemuiku lagi. Sekarang dia sudah berbeda dari sebelumnya. Penampilannya sama seperti awal aku bertemu dengannya. Dia sudah kaya lagi. Dia membelikan rumah untukku. Saat itu aku benar benar tersanjung. Namun saat itu juga Mas Doni bilang bahwa dia sudah kembali ke istrinya. Aku senang saja. 


Suatu hari di hari minggu, aku kedatangan wanita dan pria ke rumahku. Aku persilahkan mereka masuk
“ Kamu Murni ? Kata pria tamu.

“ Ya benar. Ada apa ? 

“ Kamu perusak rumah tangga orang ya. “ Suara pria muda itu menggelegar. Aku terkejut. Jantungku berdetak kencang. Aku yakin anak muda ini putra dari Mas Doni dan perempuan itu istrinya.

“ Maaf, apa maksud anda?

“ Papa saya selingkuh dengan kamu. Dan rumah mewah ini pasti pemberiannya! Kata anak muda itu dengan emosi.

“ Dasar lonte kamu! Teriak wanita itu. 

Aku terdiam. Entah mengapa aku menangis. “ Maafkan saya. Rumah ini memang pemberian dia tanpa pernah saya minta. Kalau kalian mau ambil, ambillah. Saya keluar sekarang”  kataku.

“ Minggat  kamu.! Teriak anak muda itu dengan garang.
“ Ya udah keluar kamu! Kata wanita itu.

Tanpa banyak bertanya lagi, aku langsung masuk kamar dan  keluar membawa tas dengan isi pakaian. Anak asuhku kubawa pergi. Sejak itu juga hape mas Doni aku block. Tempat tinggalku  yang baru aku rahasiakan kepada teman teman kantor.


Aku tidak menyalahkan keluarga Mas Doni. Anaknya tentu berhak atas ayahnya. Tentu mereka inginkan kedua orang tuanya rukun kembali. Istri Mas Doni tidak salah. Dia berhak lindungi suaminya.   Setidaknya dengan kebangkutan Mas Doni dan akhirnya bisa bangkit kembali, keluarganya bisa mendapatkan hikmah untuk saling memperbaiki diri dan merubah menjadi lebih baik. 


Aku juga tidak salah.  Kalau aku membantu mas Doni, itulah caraku berterimakasih kepada Mas Doni. Apakah aku pantas dapatkan keadilan atas kesalahan yang tak kuperbuat terhadap Mas Doni?  Itu tidak penting bagiku. 


Allah memang Maha Pengampun atas dosa dosa manusia. Namun ampunan itu tidak didapat dengan hanya lewat kata dan penyesalan. Tetapi harus dibuktikan dengan sikap konsiten di jalan yang benar.  Sama halnya dengan keimanan. Tidak ada keimanan tampa cobaan. Pada akhirnya rasa sukur dan sabar itulah menjadi pendamai jiwa, walau sakit tak tertanggungkan namun aku tetap harus berprasangka baik kepada Tuhan.


Menjelang usia 40 tahun aku bertemu dengan pria yang berkarir di Bank. Dia bisa menerima masalaluku. Mendukung karirku. Kini, Karirku diperusahaan cold storage semakin bagus. Aku sudah jadi pimpinan unit business. Aku mengendalikan empat processing fish di Indonesia, Thailand, China, Korea. Pimpinanku yang juga wanita Jomblo adalah inspirasiku untuk memahami itu semua.  Kadang satu pintu tertutup, Tuhan bukakan pintu lain. Selalu indah akhirnya.

No comments: