Friday, May 01, 2020

Sundari.


Sundari namanya. Orang kampung mengenal dia sebagai wanita yang lincah. Walau tidak begitu cantik namun senyumnya membuat kebanyakan pemuda kampung acap melirik diam diam kearahnya. Sundari memang mudah sekali akrab dengan siapapun. Namun dalam usia delapan tahun, Ayahnya meninggal. Diapun yatim karena. Dua tahun kemudian, ibunyapun meninggal. Maka tinggallah Sundari seorang diri. Kalaupun ada sanak family namun kehidupan mereka tak cukup mampu dibebani oleh Sundari. Salah satu penduduk kampung juragan kaya berbaik hati untuk menolongnya. Sundari pun tinggal sama keluarga itu. Demikianlah sekilas yang kukenal tentang Sundari. Selebihnya aku tidak tahu lagi. Karena aku keburu berangkat kekota untuk meneruskan kuliah.

Usiaku dengan Sundari terpaut empat tahun. Jadi ketika dia masih kelas 1 SMP aku sudah menamatkan SLA. Aku memang jarang pulang kampung. Dalam lima tahun kuliah ke dokteran di kota baru dua kali pulang. Itupun ketika mau susun skripsi dan mendapat kabar ayah sakit. Ketika aku pulang baru kutahu dari Bunda bahwa Sundari dalam usia 17 tahun, belum tamat SLA sudah diambil sebagai istri oleh juragan kaya.

Sebelumnya juragan kaya itu adalah ayah angkatnya. Namun ketika istri juragan itu meninggal Sundari-pun dijadikan istri. Mungkin diam diam, juragan kaya itu menaruh hati kepada Sundari. Aku tidak banyak komentar ketika Bunda cerita soal Sundari. Namun yang membuatku miris adalah Sundari diperlakukan seperti pembantu rumah tangga oleh anak anak juragan itu yang sebagian mereka sudah besar besar. Bahkan ada yang seusia Sundari.

Berjalannya waktu, setelah menamatkan kedokteran, aku diterima untuk bekerja. Ditempatkan di Puskesmas dikecamatan. Kebetulan tak begitu jauh dari kampungku. Hanya 2 jam perjalanan dengan bus ke kampungku. Walau ada rumah dinas disediakan dekat puskemas namun aku memilih untuk setiap libur pulang kekampung. Sejak itulah aku mengenal lebih banyak tentang Sundari.

Setelah juragan kaya itu meninggal, Tak berapa lama setelah itu, Sundari menikah.. Diapun hamil. Namun setelah itu suaminya mengusirnya keluar dari rumah. Tak berapa lama setelah itu diapun menikah lagi. Hamil dan punya anak. Seperti sebelumnya, diapun diusir oleh suaminya.. Tinggalah Sundari dengan beban dua anak. Dia tinggal dirumah gubuk dipinggir kampung. Untuk menopang hidupnya dia bekerja dipabrik bata.

Siang itu , aku hendak pulang kerumah untuk makan siang. Karena rumahku tepat berada di sebelah Puskesmas. Ketika tepat di pintu keluar, aku melihat di ruang tunggu Sundari sedang terduduk lemas. Matanya redup dan wajahnya pucat. Dua anaknya ada di sampingnya.

” Sun ” Sapaku.
Dia membuka matanya dengan lemah. ” Eh, Mas..aku mau berobat...”
”Ya sudah masuk kedalam. Biar aku periksa ” Aku membimbingnya ke dalam ruang pemeriksaan. Setelah kuperiksa, ternyata Sundari hamil. Kupandang wajahnya dengan seksama. Siapa yang telah menghamilinya? Padahal dia tidak ada suami. Semua sudah bercerai.
” Sun, kamu hamil ” Kataku dengan hati hati sambil tersenyum
” Ya, Mas..” Nampak air matanya berlinang.
” Jaga kesehatan kamu , ya. Itu yang penting”
” Ya Mas…”

Tak banyak yang bisa kukatakan. Aku hanya terenyuh dengan keadaan Sundari. Apalagi melihat kedua anaknya yang masih kecil kecil. Pikiranku masih kepada Sundari walau dia sudah lama pergi. Entah kenapa , aku melihat sosok ketegaran di balik tubuhnya yang rapuh, matanya yang redup kelelahan dalam derita. Ya, aku tahu pasti bahwa Sundari sangat menderita. Dulu bersuami dan punya anak tapi kini hamil tak jelas siapa suaminya. Lantas bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Sundari melacurkan diri ? Atau ada orang lain yang memperkosanya ?

Entah bagaimana cerita , hanya seminggu setelah pemeriksaan di puskesmas , cerita tentang Sundari hamil beredar keseluruh kampung. Jadi pembicaraan ibu ibu di pasar atau di sawah. Yang anehnya tak ada satupun yang tahu siapa yang telah menghamili Sundari. Makanya para ibu mulai kawatir bila salah satu dari suami mereka adalah yang menghamili Sundari. Tak ada satupun tetua kampung ataupun para ibu ibu yang berani bertanya langsung kepada Sundari tentang siapa yang telah menghamilinya. Namun , yang pasti Sundari semakin terisolasi dari pergaulan di kampung. Dia dicemoohkan oleh orang banyak. Namun dia tetap sabar. Senyumnya menatap siapapun tak pernah kering. Walau perutnya semakin membesar.

Aku mencoba untuk mencari tahu tentang keadaan Sundari. Ketika libur aku pulang kampung. Kudatangi Rumah Sundari dengan membawa vitamin. Sebetulnya keluargaku melarang keras. Alasan aib berkunjung kerumah janda yang hamil. Tapi aku tidak peduli. Karena alasan kemanusiaan. Tidak ada salahnya dokter untuk mengunjungi pasiennya, diminta ataupun tidak. Apalagi Sundari hidup dalam kemiskinan.

” Sun, ini aku bawakan vitamin untuk kamu makan.” Kataku ketika berada di depan pintu rumahnya. Ketika itu siang hari. Sun masih dalam keadaan memakai mukena. Aku terkejut. Bayanganku bahwa dia melacurkan diri ,adalah tidak mungkin. Dia mempersilahkan aku masuk.
” Engga usah repot repot mas. Aku baik baik aja kok. ” Wajahnya menunduk.
” Ya ini vitamin bagus untuk kesehatan kamu yang lagi hamil”
” Terimakasih Mas,”
Tak tahu harus bicara apa lagi. Namun entah kenapa aku berkata ” Sun, siapa ayah dari cabang bayi yang ada didalam rahim kamu ? Maaf sebelumnya ”

Sundari hanya diam dan kemudian airmata mengalir di balik tubir kelopak matanya. Dia berkata ” Saya miskin, saya tak berdaya., tapi inilah cobaan yang harus saya terima. Saya tahu orang kampung membenci saya dengan keadaan saya ini.” .Sekonyong konyong anak laki lakinya yang masih kecil datang mendekatinya. Anak itu merangkulnya dengan erat. Tak ada kata kata yang keluar. Namun nampak anak itu ingin melindungi ibunya dari segala nestapa. Aku mendekati anak itu. Kubelai kepala anak itu namun dengan cepat anak itu mengelak. Matanya merah menatapku.

” Ada apa? Kataku. Tak ada jawaban apapun dari anak itu.
” Mas...ini rahasia mohon jangan dibuka kepada siapapun. Kalau Mas mau tahu siapa anak dari bayi dalam kandungan ini. Itulah si Somad, anak juragan. Dia memperkosa saya. Kejadian itu disaksikan oleh anak laki laki saya. Makanya ketika anak saya melihat pria dewasa dekat saya, dia ketakutan...”
” Mengapa kamu tidak lapor polisi ? Tanyaku
” Somad itu preman. Dia mengancam akan membunuh anak anak saya kalau saya lapor dan lagi setelah kejadian itu Somad pergi entah kemana. Belakangan diketahui Somad meninggal ditembak polisi karena melarikan diri ketika hendak ditangkap. ”
” Mengapa kamu tidak beritahu kepada orang kampung hal yang sebenarnya ? Mengapa harus dirahasiakan ?
”Juragan sudah seperti orang tua kandung bagi saya. Ketika aku terlunta lunta sebagai yatim piatu, juraganlah yang menampung saya. Dia bersama istrinya merawatku dengan tulus walaupun anak anaknya tidak menyukaiku. Setelah istrinya meninggal dia menikahi ku, itupun karena dia ingin melindungiku dari ulah anak anaknya. Buktinya dia tidak pernah menyentuhku. Aku terima kebaikannya dengan tak pernah berhenti berterima kasih. Apapun pekerjaan dirumah , aku kerjakan. Aku tidak tahu kalau juragan cepat sekali menyusul istrinya. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga kehormatan keluarganya sebisa kulakukan.Itulah sebabnya aku tidak mau membuka aib ini. ”
” Bukankah setelah juragan meniggal kamu mendapatkan suami. Kenapa begitu cepatnya mereka menceraikan kamu tanpa memberi apapun.”
” Dua kali aku bersuami. Itupun karena ulah anak anak juragan sebagai cara mereka membayar hutang yang ditinggalkan juragan”
” Oh...”
” Dan terakhir anak tertuanya memperkosaku ...” Sundari menangis. Namun dia tetap mendekap anaknya di pangkuannya. Curahan kasih sayang kepada anak anaknya tak pernah lekang walau dia sadar kehadiran anak anak itu karena hasil penidasan dan pemerkosaan.
” Ya, Sun...berat sekali cobaan hidup kamu. Yatim piatu, teraniaya, terbebani sepanjang hayat mu...”
” Dengan semua ini membuatku semakin dekat kepada Allah. ”
” Mengapa ? ”
” Mereka yang telah menzolimiku adalah ladang ibadah bagiku untuk bersabar menerimanya. Karena itulah aku begitu mencintai anak anakku . Sebagaimana Allah juga mencintaiku…”

***
Setelah Sun melahirkan, dia kembali bekerja di pabrik Bata. Belakangan aku tahu orang kampung mulai membicarakan keadaan Sun, yang katanya jadi piaran encek encek pemilik pabrik bata itu. Maklum pemilik pabrik itu duda tua dan tidak punya anak. Sun dan anak anaknya tinggal di paviliun rumah pemilik pabrik bata itu. Ternyata ketika aku datang ke rumah itu untuk mengobati pemilik pabrik itu, aku baru tahu bahwa Sun merawat orang tua itu. Belakangan aku tahu pemilik pabrik bata itu kembali ke Taiwan. Dia ingin mati dekat dengan keluarga besarnya. Pabrik di hibahkan kepada Sun. Setelah itu nasip Sun berubah. Usaha pabrik bata terus meningkat. Kini anak anaknya semuanya Sarjana, ikut mengembangkan bisnis ibunya.***

No comments: