Friday, May 01, 2020

Nuri...


Tahun 1999
Di jalan Mh Thamrin , tepatnya di gedung Sarinah. Ketika itu jam 2 dini hari. Saya baru saja usai mengajak tamu asing makan di restoran Mc Donald. Ketika akan sampai dipelataran parkir nampak di luar pagar ada gadis kecil ( mungkin usianya tak lebih 9 tahun ) sedang ditarik tangannya secara paksa oleh pria perkasa. Saya tertegun melihat pemandangan ini. Karena gadis kecil itu dua kali terjatuh ketika berusaha melepaskan diri dari pagutan pria perkasa. Di belakangnya ada seorang wanita dewasa memandangi keadaan itu dengan tatapan kosong. Tak banyak orang yang melihat peristiwa itu. Tamu saya langsung beraksi untuk memberikan pertolongan kepada wanita itu. Sayapun secara replek membantu.

“ Ada apa ini ?“ Kata saya
“ Lo jangan ikut campur !! “ teriak pria berorot itu dengan muka garang. Sementara gadis kecil itu terus berontak tapi tidak ada air mata kecuali matanya memancarkan rasa takut teramat sangat. Naluri kemanusiaan saya bangkit “ Anda tidak lepaskan, anda harus berhadapan dengan kami “ kata saya sambil memandang tamu saya. Karena tamu saya bertubuh besar, membuat sedikit nyali pria itu mengendur. Kesempatan ini saya gunakan untuk menarik gadis kecil itu. Pria itu langsung berjalan menjauhi kami dengan tatapan penuh amarah .

Gadis kecil itu menatap saya dengan tatapan kosong penuh takut sambil melirik kearah pria itu berlalu dari hadapannya.
“ Terimakasih Pak..” Kata wanita dewasa yang segera menarik gadis kecil itu dari saya “ Itu tadi preman jalanan. Dia memang sering datang kemari untuk meminta uang kepada kami yang mangkal di sini. Minggu lalu saya tak bisa kasih uang tapi anak saya dibawanya pergi. Saya tidak tahu apa yang dilakukan pria itu tapi setelah itu anak saya sangat tekut bila bertemu pria itu”
“ Ini anak Ibu ?“
“ ya pak..
“ Dimana suami ibu ?
“ Di senen pak.. “

Setelah berpikir sejenak akhirnya saya memutuskan untuk mengantarnya kepada suaminya “ Tidak usah pak. Kami tidak punya rumah. Saya dan suami saya tidak tentu dimana harus tidur. Kami hidup di jalanan. Saya pemulung dan anak saya mengamen, juga suami saya pemulung “

Saya terhenyak. Di depan saya ada dua orang wanita. Lemah dan teramat lemah. Anaknya adalah generasi masa depan bangsa dan orang tuanya adalah generasi yang gagal dimanusiakan oleh negara. Akankah kelak , nasip anaknya akan sama dengan orang tuannya. Tak banyak yang dapat saya katakan untuk membantunya kecuali berdoa dan memberi sedikit uang untuk dia bertahan, entah sampai kapan.

Ketika saya keluar dari pelataran parkir, saya melihat gadis kecil itu kembali dalam keadaan yang sama. Berusaha melepaskan diri dari cengkaraman wanita dewasa itu. Tapi kini dia meraung. Sayapun mengarahkan kendaraan kearah mereka. Ketika saya turun, wanita dewasa itu berlari meninggalkan gadis kecil itu sendirian. Nampak gadis kecil itu terduduk di jalan setengah membungkuk. Betapa terkejutnya saya , tangan gadis kecil itu berdarah. Segera saya gendong gadis kcil itu ke dalam kendaraan untuk membawanya kerumah sakit. Didalam kendaraan gadis kecil itu badannya menggigil dikecam rasa takut. Matanya meredup dan tubuhnya menyender kejok kendaraan. Tamu saya menatap dengan air mata berlinang..

‘ Kenapa kamu tidak mau ikut dengan ibumu ? tanya saya dengan lembut kepada gadis kecil ini.
“ Dia bukan ibu saya..bukan…” Katanya lirih. Saya terhentak. Bagaimana mungkin seorang ibu yang dapat berkata begitu manisnya untuk dipercaya sebagai pelindung tapi ternyata tak lebih rubah yang juga pemangsa manusia yang lemah. Tak ada bedanya pria dewasa yang berbadan kokoh tadi.
“ jadi ..ibu kamu dimana , nak “
‘ Saya tidak tahu…”

Kembali saya terhenyak. Anak seusia ini harus menanggung kerasnya kehidupan disebuah negeri yang akrab dengan musim semi, yang di kelilingi oleh kekayaan alam melimpah, yang berbudaya dalam didikan agama samawi. Akankah anak ini mengerti semua apa yang ada disekelilingnya. Akankah …bila setiap hari keamanannya terancam oleh wajah wajah bertopeng malaikat namun berhati iblis. Kemana dia harus berlindung dan siapakah yang harus bertanggung jawab dengan ini semua. Ada lebih 300.000 anak jalan seperti ini di Jakarta. Nasipnya mereka tak jauh beda. Terancam dan terexplotaisi oleh orang orang dewasa yang perkasa…

Sepulang dari Rumah sakit, anak ini baru kami ketahui nama lengkapnya adalah NURI. Tiga hari di opname anak ini sehat kembali. Tamu saya berkebangsaan Amerika berbulat hati untuk mengadobsi anak ini.

Tahun 2009
Di Bandara , di terminal kedatangan saya lihat dari kejauhan nampak Tom berjalan kearah saya. Di sampingnya nampak istrinya dengan dua orang gadis belia. Dua duanya adalah wanita. Namun satu berkulit coklat dan satunya lagi berkulit putih. Yang berkulit coklat berlari kencang kearah saya “ I miss you so much..uncle..” sambil memeluk saya erat . Nampak Tom tersenyum dan istrinya menatap haru. Memang sejak Nuri tinggal bersama Tom, kami sering video call lewat skype.  Nuri selalu ikut dalam video call tersebut.

“ Nur , diterima di Harvard. Dia cerdas sekali. Selalu rangking terbaik di sekolah.” Kata Tom.
“ Ketika kami menanyakan hadiah apa yang dia inginkan atas diterimanya di Harvard, maka dia memilih untuk mengunjugin Jakarta. “ Kata istri Tom.
“ Kamu cinta Indonesia, sayang “ tanyaku sambil tersenyum
“ Ya Om” Nur berkata dengan mata memerah seakan menahan tangis. Dia mungkin merindukan teman temannya yang entah bagaimana nasip mereka. 

***
Mengingat Nur mengingatkan saya kepada anak anak terlantar di jalanan yang kini menurut data 2019, masih ada 12.000 anak terlantar yang tinggal di jalanan. Mereka korban dari orang tua yang gagal. Tetapi jauh lebih gagal negara dalam menjaga mereka. Mengapa Negara lebih pedui kepada anak Ex ISIS yang dididik untuk menjadi monster, sementara anak jalanan tidak terpikirkan seperti negara memikirkan anak anak ex kombatan ISIS. Ketika cinta by conditional, maka politik pun menampilkan drama kepedulian kepada anak, dan itu anak Ex Kombatan ISIS. Sikap hipokrit politik memang menyedihkan.


No comments: