Thursday, April 30, 2020

Selamat tinggal Ben,...


Sore itu ada pria berdiri depan pagar rumahku. Tadinya aku pikir petugas pos. Ternyata bukan. Wajahnya membuat aku terkejut. Betapa tidak? Dia adalah pria dari masa laluku. Tapi mengapa dia tampak kumuh dan kurus? 


“ Mira, aku mohon maaf. Entah kemana lagi aku akan pergi. Aku butuh uang untuk anakku yang sedang sakit keras. “ katanya ketika ada di depanku. Aku terenyuh dan sedih. Dia dulu yang kubanggakan. Kini nampak lemah dan kalah. 


“ Berapa kamu perlu uang, Ben?


“ Rp. 2 juta saja. Maaf, kalau itu memberatkanmu.” Katanya. Aku masuk kamar dan segera menyerahkan uang itu. Dia terpana dengan uluran tanganku. “ Terimakasih, Mira. Maaf. Aku tidak bisa lama lama. Harus segera pulang” Katanya berlalu. " Di luar aku lirik ada wanita kumuh berdiri agak jauh dari depan pagar rumahku. Mungkin itu istri Beni.


***

Dulu, ketika aku masih remaja. Saat senyumku masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas dada. Ketika aku yakin tak mungkin bahagia tanpa Beni. Ah, aku jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara rasa gemetar dan malu-malu. “ Bagiku, kamu adalah cinta pertamaku. Bagimu aku cinta pertamamu. Tetapi ketika menikah nanti, kita akan menjadi produk masa depan. Yang lalu hanya tinggal catatan. “ kataku


“ Maukah kamu berdamai dengan kenyataan, bahwa proses masa depan itu belum tentu seperti kamu mau. Karena kita tidak hidup dalam dimensi pikiran kita, tetapi dalam dimensi pikiran Tuhan. Memahami itu,  kita dipaksa bersabar akan sebuah proses yang terus berlanjut sepanjang usia. “ Ben menimpali.


“ Bukankah Tuhan berkata, sabarlah dan sholatlah? Sabar lebih dulu dipahami sebelum kita diharuskan melaksanakan Sholat”  Kayak


” Ya sabar itu semudah mengucapkan, namun tidak banyak orang menyadari bahwa sabar itu adalah kepatuhan akan sebuah proses sunatullah. Kadang orang percaya kepada Tuhan, tapi tidak percaya kepada hukum ketetapan Allah. Naif sekali ya Mir.”


“ Kadang sunatullah, itu menghadapkan orang dengan dilema. Baik menurut akal tetapi tidak sesuai dengan kehendak hati. Sesuai dengan kehendak hati, tetapi tidak sesuai menurut akal.” Aku tersenyum, karena aku sendiri tidak akan pernah bisa memahami kalau dilema itu terjadi.


“ Dan karena itu, manusia harus memilih. “ Kata Ben cepat.


Aku mengangguk. “ Dan tidak ada satupun pilihan yang sempurna.“ 


“ Aku selalu membayangkan, apapun pilihan, kamu akan tetap yang utama” Kata Ben. Ben tersenyum, kemudian menciumku pelan. 


”Tapi bukankah kamu mengatakan kita hidup dalam dimensi pikiran Tuhan, bukan pikiran kita .” Kataku


”Hahaha,” Ben tertawa renyah. ”Benar, tetapi Tuhan maha pengasih lagi penyayang, dimensi pikiranNya akan sama seperti dimensi pikiran kita” 


”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila pikiran kamu tidak seperti pikiran Tuhan?


”Aku akan protes kepada Tuhan.” Kata Ben. Aku tertawa.


”Aku akan protes kepada Tuhan….” aku masih ingat keluguan Ben. Aku selalu membayangkan itu. Karena keluguan itu aku larut dalam cinta buta. Membiarkan Ben melucuti pakaianku. Meniduriku. Hari itu aku serahkan harapan dan kegadisanku. Keesokanya Ben pergi ke kota lain untuk melanjutkan pendidikannya. Aku tetap di kotaku melanjutkan ke universitas. Aku akan menanti Ben 


***

Budi tadinya tukang kebun di rumahku. Dia hanya tamatan SMP. Ayahku memberi kesempatan Budi sekolah sampai tamat SMA. Setelah tamat SMA, Budi bekerja membantu ayah di pabrik Bata. Tidak ada yang istimewa tentang Budi. Wajahnya keras. Pendiam. Taat beragama. Terkesan pemalu terhadap wanita. Ketika ayah meninggal, Ibuku percayakan pabrik itu kepada Budi untuk kelola. Aku sebagai anak tunggal sangat diharapkan ibu bisa secepatnya tamat kuliah dan menikah untuk melanjutkan usaha keluarga warisan Ayah.  Benarlah. Aku tamat kuliah.  Terlibat langsung di pabrik Bata. Budi jadi asisten pribadiku. Ben kembali ke kotaku. Dia sudah sarjana. Aku berharap Ben melamarku. 


”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.” Kata Ben setelah dia puas mencumbuiku.


“ Siapa wanita yang telah membuatmu berani menikahinya ? Kataku.


”Itu tak penting kamu ketahui.  Jangan hubungi aku! Karena ini  sebenarnya, bukan pernikahanku tetapi perkawinan diatara keluarga yang ingin mengembangkan usahnya semakin besar. Tepatnya pernikahan kapitalis.” kata Ben dan berlalu. 


Aku tidak menyesali yang sudah terjadi. Itu pasti terjadi. Ben telah menentukan pilihan. Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparku sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang hina, Selingkuh dibelakangku i!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah cumbuan yang tak mungkin aku lupakan.  Ben pergi dan tak kembali lagi.


***

IBu tahu aku hamil. IBu tahu itu perbuatan Ben. Ibu tahu betapa sakit hatiku ditinggal pergi oleh Ben untuk menikah dengan wanita lain. “ Ibu sudah bicara dengan Budi. Dia mau menikahi kamu. Dia akan jaga rahasia keluarga kita.  Engga perlu ragu.  Dia sudah ibu anggap seperti anak sendiri. “ Kata ibu dengan hati hati. Aku tersetak. 


“ Mengapa pentingnya nama baik keluarga. Ini perbuatanku. Aku dengan diriku. Risikoku. Apa peduli dengan orang lain. Mengapa demi nama baik keluarga, aib yang harus ditutupi, aku harus menikah dengan pria yang tak pernah aku cintai. “ Itu kata kata yang hendak aku pakai berargumen menolak usulan ibu menikah dungan Budi. Tapi kata kata itu tertahan di tenggorokan saja. Aku tidak bisa membiarkan ibu menderita karena kebodohanku. Aku terima usulanku. 


Pada pesta perkawinan yang megah, orang tersenyum bahagia.  Tapi tidak bagiku. Budi terlalu mudah mendapatkanku. Walau Ben brengsek tapi dia berjuang panjang selama 3 tahun menaklukanku.  Walau Ben pergi tapi aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Dia pria yang merenggut kegadisanku. Kalau Ben tahu, bahwa pada akhirnya aku menikah dengan Budi, itu tidak akan menyakitkan bagi Ben. Dia tahu siapa Budi. Aku dapat tong sampah.


”Aku hanya pria miskin. Kalaulah tampa kebaikan hati ayah kamu, tidak mungkin aku bisa tamat SMA dan akhirnya dipercaya megelola pabrik Bata” Kata Budi pada malam pertama kami.” Kalau memang aku tidak pantas jadi suamimu. Tak apa. Aku sabar sampai kau menemukan pria lain. Setelah itu aku siap menceraikan kamu untuk pilihanmu menikah dengan pria pilihanmu.” Lanjut Budi. 


”Baik.  Yang harus kamu ingat. aku tak akan pernah mencintaimu. Jadi jangan berusaha untuk membuat aku jatuh cinta. Walau kita sudah status suami istri.”  kataku.


”Baik Mira. Aku akan ingat itu.” Kata Budi. Malam pertama dan kedua tidak terjadi apapun. Memang tidak ada dorongan untuk bersetubuh. Satu saat aku terjatuh di tangga kantor. Kandunganku keguguran. Selama di rumah sakit, Budi dengan telaten merawatku. Tak pernah dia tinggalkan aku barang sedetikpun selama dalam perawatan. 


*** 

2 tahun berumah tangga dengan Budi berjalan hambar. Dia seperti pegawai kusaja. Aku tidak pernah bisa mencintainya. Beni datang lagi menemuiku. Dia dalam keadaan terpuruk akibat perceraiannya. 


“ Kesalahanku membuang berlian ditangan untuk dapatkan emas berkarat. Ternyata setelah itu aku dibuang seperti sampah.” Kata Beni dengan wajah sedih. “ Kalau istriku minta cerai aku bisa maklum. Karena aku tidak pernah bisa melupakanmu. “ Lanjutnya.  Yang membuat aku terpesona dan tersanjung. Budi tidak bisa menolak ketika aku utarakan niatku untuk bercerai dan menikah dengan Beni. Ibuku juga tidak bisa berbuat banyak. Setelah bercerai,  Budi keluar dari perusahaan Dia pergi merantau ke kota. Aku tidak tahu bagaimana nasipnya. Apa urusanku.?


Tidak lebih 2 tahun. Pabrik bataku mengalami masalah besar. Utang semakin besar. Produksi menurun. Banyak pesanan gagal delivery. AKu baru sadar, selama ini aku percaya saja kalau disuruh teken untuk hutang Bank. Beni terjebak dengan kebiasaan judi. Di tengah prahara itu Beni pergi dari rumah. Aku harus menyelesaikan sendiri masalahku. Rumah dan pabrik disita. Lewat tiga bulan Beni tidak datang ke rumah. Hanya surat cerai untukku.  Aku jatuh miskin dan menjada. Ibu sudah sering sakit sakitan.  Kami tinggal di rumah kontrakan ukuran 21 meter. 


Saat itulah Budi datang menemuiku. Dia menawarkan agar ibu dan aku ikut bersamanya tinggal di kota lain. Itu semua dia lakukan hanya ingin melaksanakan pesan dari alhmarhum ayah untuk menjaga ibu dan aku. Baru aku tahu, di kota lain Budi sudah mendirikan sendiri pabrik bata berkat bantuan rekannya yang menjadikanny sebagai mitra.


Setahun setelah itu. Budi kembali melamarku. Sebelumnya dia dipaksa menikah denganku demi menjaga kehormatan keluargaku. Tetapi kini dia melamarku hanya untuk melindungiku dan ibu. Itupun karena amanah dari Ayah. “ Kalau kamu tidak bisa mencintaiku, tidak ada Mar. Tapi demi kesehatan ibu, cobalah bersabar. Aku akan tetap hormati privasi kamu. Kapanpun kamu bertemu dengan pria yang cocok untuk kamu, pergilah. Aku akan ceraikan kamu.”  Kata Budi.


***

Kedatangan Ben ke rumahku. Seakan memberikan cahaya dalam sanubariku. Setelah 10 tahun menikah, ini kali aku merasakan cinta dan syukur sekaligus kepada Tuhan atas keberadaan Budi, suamiku. Ben memang mencintaiku tetapi Ben, bukan bagian dari kreatifitas Tuhan untuk aku berevolusi dan berbiak.  Mencintai adalah pilihan, tetapi menikah adalah kerendahan hati menerima proses kreatifitas Tuhan. 


Selamat tinggal Ben. Maaf, besok aku tidak akan pernah membuka pagar rumahku, tanpa izin suamiku. Nanti sore setelah suamiku pulang kerja, aku akan  berkata “ aku mencintaimu, dan akan terus mengabdi sepanjang usiaku. “ seraya memberikan senyum  terindah dan terikhlas untuk Budi, suamiku. Tidak ada istilah terlambat mencintai. Setidaknya dari Budi aku tahu bahwa cinta itu bukan sekedar diungkapkan dengan kata kata. Bukan sekedar bersentuhan. Bukan sekedar merasa memiiki. Bukan sekedar merasakan euforia. Tetapi cinta itu adalah sikap menerima dan berdamai dengan kenyataan tanpa amarah, dendam, benci dan memaksa. Semua adalah ujian kesabaran dalam berkorban dan memberi, yang selalu indah pada akhirnya.


No comments: