Tuesday, August 16, 2022

Drama keadilan?



Club Societeit Concordia, sebuah  klub mewah yang beranggotakan para saudagar zaman Kolonial. Sebagian besar adalah kalangan elite yang berasal dari Eropa. Mereka punya tempat  hiburan eksklusif, pramuria kelas premium dan makanan serta minuman mahal. Berbeda dari tempat hiburan lainnya, tempat ini juga menyediakan perpustakaan dan meja baca, dengan banyak buku dan jurnal. 


Setiap Brinkman datang ke club ini dia merasa pecundang. Betapa tidak. Semua pria anggota club menceritakan tentang kehebatan Fientje di tempat tidur. Dia tidak bisa marah. Hanya sebatas geram saja. Karena Fientje bukan miliknya.


Fientje adalah komoditas kapitalis. Pelacur yang memang menjual sumber dayanya untuk uang. Usianya 19 tahun. Parasnya blasteran, campuran pribumi  dan Eropa. Kulitnya putih, Matanya bulat dan hidung mancung. Rambutnya panjang, hitam, serta ikal berombak. Senyum mengalahkan semuanya.


“ Apa sih masalah kamu?, kenapa terlalu terbawa perasaan dengan seorang pelacur. Fientje bukan siapa siapa. “ kata Ivan sahabat Brinkman ketika dia minta pendapat. 


“ Aku tahu dia pelacur. Aku tahu dia menawarkan tubuhnya kepada siapa saja. Tapi masalahnya bukan sekedar dia pelacur. Aku merindukan wanita berparas Eropa dengan kepribadian wanita pribumi. Di rumah,  aku tidak merasa pria seutuhnya. Posisi equality terhadap istri tidak membuatku nyaman. Apa arti kekuasaan dan uang kalau akhirnya kita tidak berdaya dihadapan istri, wanita yang kita ongkosi hidupnya. “ kata Brinkman. Dia mengusap kepalanya dan tertunduk seperti menahan kesal dan bosan”  Terutama ditempat tidur. Kering. Membosankan. “ kata Brikman. Dia terdiam sejenak. 


“ So…” Irvan ingin tahu suasana hati Briekman.


“ Kamu tahu artinya kekuasaan pria? Kata Brinkman. “ Ketika aku  masuk kamar tidur, Fientje  mencuci kakiku. Menggunting kukuku. Mengelap dadaku  dan semuanya. Setelah itu dia membersihkan dirinya. Berias dan seharum mungkin. Dia menyerahkan tubuhnya dengan total. Tidak berusaha lead. Tetapi ketika dia kusentuh, dia lead tanpa ragu untuk memanjakanku dan memuaskanku. Wajahnya sangat dekat denganku. Itu wajah Eropa, Ivan! Sementara sepanjang hidupku tak kudapati wanita Eropa seperti itu. Mereka ingin dilayani dan mudah mengeluh ditempat tidur. “ lanjut Brinkman. 


Ivan hanya tersenyum. Dia tahu Brinkman sedang memasuki usia krisis rumah tangga. Biasa itu terjadi ketika memasuki usia perkawinan diatas 15 tahun. Dia tidak hendak berusaha meyakinkan Brinkman, tentang rumah tangga bukan melulu soal sex tapi sentuhan persahabatan jiwa. Itu lah yang membuat hubungan nyaman. Kalau ukurannya sex, itu tak akan bertahan lama. Sama halnya orgasme yang hanya berselang sekian detik saja. Setelah itu sepi dan lelah.


***

Sekian bulan kemudian, lewat koran pagi. Ivan membaca berita “ ditemukan mayat wanita dalam karung tersangkut di pintu air di daerah Senen, Batavia. Menurut berita itu, walau kulitnya putih dipastikan mayat itu  bukan orang china. Namanya Fientje. Wanita penghuni rumah bordil mewah di Batavia. Ruempol, komisioner besar polisi memimpin penyelidikan dan penyidikan kematian pelacur ini.


“ Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Fientje hanyalah seorang pelacur. Mengapa harus repot. “ kata Brinkman kepada Ivan. “ media massa saja terlalu mendramatisir keadaan. Engga jelas lagi fakta dan fiksi” lanjutnya.


“ Ya ini fenomena tentang keadilan yang sudah lama diragukan oleh rakyat. Berita ini seperti wahana rakyat menumpahkan ketidakpercayaanya kepada penguasa Belanda. Apalagi mereka sudah bosan baca berita pemberontakan kaum pribumi. Selalu kalah di medan perang dan kalah di pengadilan. 


Mereka udah bosan baca berita cerita seks, sensasi, dan kekerasan. Mereka butuh oase ditengah kehausan akan rasa keadilan. Mereka muak dengan hukum pemerintahan kolonial yang tidak ramah kepada rakyat pribumi. Tajam kebawah tumpul keatas” kata Ivan.


Polisi sudah tahu siapa pembunuh sebenarnya. Apalagi Fientje adalah pramuria terkenal dikalangan elite Belanda di Batavia. Hampir semua mereka pernah merasakan kehangatan tubuhnya. Mereka juga tahu kedekatan Brinkman dengan Fientje. Namun mereka tidak  yakin bahwa ada perasaan khusus Brinkman kepada Fientje.  Semua elite aparat hukum berusaha saling menutupi kasus ini. Maka skenario dibuat sedemikian rupa atas kematian Fientje itu.  Seakan kematian Fientje disulut perasaan dendam dan marah oleh seorang Centeng yang tak mau tubuh Fientje dibagi ke pria lain. Tak lupa media Massa juga ceritakan kehidupan glamor Fientje dengan para elite Eropa. Rakyat tetap tidak percaya skenario itu.


“ Cobalah kalian pikir. Tersangka pastilah orang Belanda. Hukumnya dari Belanda. Polisi dan hakim juga Belanda. Yakin akan ada kebanaran yang diungkapkan. ? Kata rahmat sahabat Ivan dari kaum terpelajar pribumi yang sering jadi narasumber kolom berita koran. “ Hukum kolonial hanya di design untuk menjerat rakyat jelata, bukan elite kolonial “ lanjut rahmat. Ivan hanya diam. Ada benarnya tapi bisa saja itu dibawa dalam dialektika. Bahwa keadilan itu tidak bisa memuaskan semua orang. Masalahnya selalu yang tidak puas adalah rakyat jelata. Penguasa selalu baik baik saja. 


***

Berita koran sore mengejutkan Ivan. Apa pasal? Brinkman ditangkap karena diduga sebagai pelaku pembunuhan. Nama Ruempol komisaris besar polisi menghias berita koran. Polisi hebat. Berpihak kepada keadilan. Walau elite Eropa sekalipun, kalau salah tetap harus dihukum. 


Rakyat menantikan proses penyidikan sampai ke pengadilan. Setiap proses penyidikan, hasilnya pasti menimbulkan spekulasi di tengah menyakat yang sudah terlanjur tidak percaya kepada pemerintah. Apalagi semua tahu. Dari polisi sampai elite poltik pasti terkait dengan Brinkman. Brinkman juga menebar uang kepada siapapun yang berwenang menangani kasus ini. Sebagian besar polisi Batavia sudah dibelinya.


Darimana Brinkman punya uang banyak? Dia pengusaha besar Eropa yang punya koneksi kuat dengan elite kerjaan Belanda. Hampir semua bisnis pedagang china di Batavia mendapatkan rente dari kedekatan Brinkman dengan kekuasaan. Termasuk bisnis candu, yang sangat digemari oleh orang kaya. 


Dia juga menjadi mediator keluarga kerajaan di Jawa untuk dapatkan upeti lebih dari pejabat kolonial. Pada waktu bersamaan membujuk kerajaan menghabisi pangeran yang pro ke rakyat jelata.  Tentu banyak masalah rumit mengenai politik antara pemerintah kolonial dengan kerajaan dapat diselesaikan oleh Brinkman. Itu berkat candu, uang dan wanita yang mudah didapatnya dan dibagikannya.


Dengan sigap Brinkman menangkal tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia segera dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pada masa itu, seorang Belanda tulen diadili karena membunuh seorang indo tentu sangat luar biasa. Mungkin bagi Brinkman, nyawa seorang pribumi tidak ada harganya. Terlebih ia juga dibela pengacara terkenal, Mr Hoorweg. Brinkman sempat sesumbar bahwa rekan-rekannya di Societeit Corcondia bakal membelanya habis-habisan. Namun jaksa tidak peduli. Proses jalan terus.


Akhirnya setelah melalui proses pengadilan yang panjang, Gemser Brinkman di pidana dengan pasal Pembunuhan berencana. Ia diancam hukuman mati. Apa motifnya ? lantaran cemburu. Gemser Brinkman rupanya ingin menjadikan Fientje de Feniks sebagai gundik atau isteri gelapnya. Namun, mucikari Fientje menolak dan Fientje lebih memilih terus menjalani pekerjaannya sebagai pramuria. Penolakan ini rupanya membuat Gemser Brinkman gelap mata. Ia mencekik Fientje sampai tewas. 


Keterangan saksi Raonah, seorang pelacur pribumi, turut menguatkan keterlibatan Gemser Brinkman. Raonah mengaku pernah melihat Gemser Brinkman dan Fientje bertengkar.  Raonah menyatakan bahwa ia melihat Gemser Brinkman mencekik Fientje de Feniks di sela-sela bilik bambu. Kesaksian Raonah itu lebih meyakinkan hakim daripada kesaksian lain,  yang mengatakan pembunuhan dilakukan orang bayaran, yaitu centeng  Silun dan dua anak buahnya. Mereka menghabisi nyawa Fientje de Feniks sekaligus membuang mayatnya di Kali Baru Batavia. Karena itu, Pak Silun juga ikut tertangkap. Ia sangat menyesal, terlebih bayaran yang diterimanya baru uang muka.


***

Ivan bertemu dengan Ruempol di Club Societeit Concordia. “  Sangat tragis nasip seorang Brinkman. Dia kaya, terpandang, terpelajar, punya koneksi luas. Akhirnya terhina oleh hanya seorang pelacur “ kata Ivan. Ruempol hanya tersenyum sambil melirik pemain piano yang sedang melantunkan lagu klasik. Dia meneguk minumannya dan menghela napas.


“ Dengan kasus ini kita memberikan panggung teater terbaik kepada rakyat kolonial. Bahwa apa yang mereka ragukan selama ini bahwa hukum tajam ke bawah, kini kita buktikan bahwa hukum tetaplah sandaran untuk mendapatkan keadilan bagi siapa saja, bahkan untuk seorang pelacur sekalipun. Politik perlu drama kolosal agar orang tetap percaya dengan pemerintah dan melupakan realitas bahwa mereka sedang dijajah oleh sistem kekuasaan. Kini atau nanti andaikan bangsa ini merdeka, keadaan itu tetap akan ada. 


Selagi poltik sebagai panglima maka selama itu pula kekuasaan perlu drama. Ya sekedar cara menghapus trauma dan ingatan bahwa kekuasaan itu menindas dan berbohong.” Kata Ruempol.  Ivan teringat Brinkman. Selama menanti eksekusi hukuman mati, dia akhirnya memilih jalan  bunuh diri.. Kadang sesama elite saling menghabisi atas nama hukum. Itu juga demi mempertahankan legitimasi di hadapan rakyat. Apakah itu tanda sebuah perubahan ? No way. Just drama!  Mengapa ?  Sistem kolonialisme menjadikan politik sebagai panglima, selama itu pula tidak akan ada keadilan bagi rakyat.

1 comment:

Rhia said...

sukarela atau terpaksa, perlahan tapi pasti kita sedang masuk ke sistem era peradaban baru, dimana keadilan berada ditangan semua orang ��

Selalu ada harapan..

  “ Ale ! terdengar suara Patria di seberang lewat telp selularku. “ Ketemuan dong. Tempat biasa di bunker ya. " sambungnya. Aku tahu i...