Friday, April 22, 2022

Tidak ada yang mudah

 






Tahun 2010, saya liat ada wanita  duduk di ruang tunggu receptionis kantor di Seoul “ Siapa wanita itu? Tanya saya kepada receptionist.

“ Tamu bagian sumber daya.”

“ Saya perhatikan sudah sering dia datang. Kenapa?

“ Sebaiknya saya tanya ke bagian sumber daya.”

“ Tunggu sebentar. “ kata saya melirik keras. “ Kenapa dia menanti. Siapa suruh? Tanya saya.

“ Maaf pak. Saya sudah suruh pergi. Karena bagian sumber daya sudah menolak bertemu.” Kata petugas receptionis. Saya lirik tamu itu dan melangkah mendekatinya. Dia segera berdiri dan memberi hormat dengan membungkuk. “ Kamu bisa bahasa inggris? Kata saya dalam bahasa korea terpatah patah. “ Yes but not well. “ katanya. 

“ Ok, follow me.” Kata saya.  Dia mengikuti saya masuk ke dalam kantor. 


Dia sempat terkejut ketika masuk kamar kerja saya. “ masuk lah. “ kata saya. Dia melangkah ragu. “ Anda CEO? Tanyanya. Saya senyum saja.


“ Saya punya waktu 10 menit. Bicaralah. “ Kata saya. Karena saya tidak ingin dia terus datang. Saya yakin bagian sumber daya punya alasan kuat menolak wanita ini. Tentu sudah sesuai SOP.  Tetapi saya harus hormati kegigihannya untuk dapatkan deal. Kalau engga, mana mungkin dia mau terus datang. Pasti dia punya alasan.


“ Saya mengajukan proposal untuk investasi ini” Katanya mengeluarkan botol chili pasta ( Sauce cabe). Aromannya memang ciri khas korea.


“ Ini produk sudah biasa di korea. Apa yang menarik untuk investasi? 


“ Saya racik sendiri. Punya rasa khusus. Sehat dan  punya standar untuk  dipabrikasi.” Katanya. Saya panggil bagian sumber daya. Tak  berapa lama bagian sumber daya datang. “ Kamu punya proposal wanita ini.” Kata saya melirik  wanita itu. “ Saya nona Kim” kata wanita itu. 


“ Ya Nona Kim. Sudah ajukan proposal. Tapi tidak layak “ Kata Bagian sumber daya.

“ OK kamu tunggu disini. Saya minta dia presentasi depan saya.  “ Saya lirik wanita itu. “ Kim, kamu punya waktu 5 menit presentasikan kepada saya. Saya siap dengar.” Kata saya. Dengan cepat dia presentasikan. Keliatan dia sangat kuasai detail produk dan market. 


Saya pandang lama dia setelah usai presentasi. 


 “ Ok, “ Kata saya. “ Apakah kamu punya restoran yang mau jadi uji coba produk kamu? biaya uji coba saya bayar. Saya perlu tiga restoran. Waktu  uji coba 1 bulan. “ Kata saya. 


“ Pak, uji kesehatan semua sudah saya dapatkan dari lab pemerintah. Saya sudah produksi ini secara rumahan. Market bagus.” 


“ Saya berbisnis dengan standar saya. Bukan standar kamu. Mau ikuti saya?


“ Baik pak. Saya akan dapatkan” Kata nya. 


“ Ok saya tunggu” Kata saya seraya berdiri dari tempat duduk saya. Dia membungkuk dan melangkah keluar ruangan saya.


***


Sebulan kemudian saya tidak lagi dengar berita dari Nona Kim.  Satu waktu di musim dingin saya liat ada wanita berdiri depan restoran. Dia sedang membagikan botol sauce cabe kepada pengunjung yang keluar dari restoran. Setiap pengunjung yang dapat cabe sauce, dia minta kartu namanya. Saya kenal itu Kim. Saya dekati “ Ada apa kamu di sini?


“ Pemilik restoran, mau jadikan sauce cabe saya untuk  uji coba kalau 20 pelanggannya suka. Kalau tidak. Dia tidak mau”


“ Bagaimana kamu tahu mereka suka produk kamu? 


“ Setelah seminggu saya akan telp mereka untuk tanyakan pendapat mereka. Kalau mereka suka, saya minta mereka mengendorse produk saya.  Tapi tidak banyak yang mau terima telp saya dan mau endorse. ” Katanya murung. 


“ Kamu baik baik saja? 


“ Baik baik saja. Terimakasih. Mohon sabar ya pak. Saya pasti datang memenuhi sarat yang anda tentukan. Tiga restoran siap uji coba. “ katanya membungkuk.


Sebulan kemudian Kim datang ke kantor. Saya terima kedatangannya di kamar kerja saya. Dia perlihatkan dokumen profile tiga restoran yang siap uji coba. Saya baca profile dari tiga restoran itu. Saya lirik dia. Saya tahu dia sudah melewati banyak kesulitan untuk dapatkan dukungan dari tiga restoran itu. “ Kim. saya akan libatkan team survey market. Mereka akan monitor minat konsumen. Kamu harus produksi sesuai kebutuhan selama 1 bulan. Saya bayar biaya produksi kamu”


“ Siap pak.” 


“ OK, karena business process akan start. Kamu harus teken perjanjian dengan kami. Kita akan jadikan produk ini sebagai business venture.  Kamu setuju?


“ Siap pak.” 


“ Ok kamu silahkan temui bagian sumber daya” Kata saya.


Sebulan kemudian saya dapat laporan dari bagian sumber daya, Bahwa semua pelanggan dari tiga restoran itu puas dengan cabe sauce produksi Kim. Saya baca data survey dan statistik minat konsumen atas beberapa menu. Saya puas. Sekarang masuk tahap perencanaan bisnis untuk proses produksi massal.  Saya buat catatan kepada bagian sumber daya : Pastikan supply chain cabe.  Caranya? hitung Kompetisi mendapatkan supply. Hitung berapa produksi cabe setahun. Berapa produksi sauce cabe dari beberapa pabrik yang ada. Hitung market korea. Libatkan Kim sejak dari awal studi.


***

Sebulan kemudian saya dapat laporan. Bahan baku cabe sulit di dapat karena harus bersaing dengan agro industri yang sudah ada. Umumnya mereka sudah terikat dengan petani lewat ekosistem bisnis dan financial.  Kalaupun dipaksakan, harga akan mahal. Itu butuh waktu lama untuk  bisa menjamin supply kebutuhan produksi yang feasible. 


“ Tapi  pak, kami dapat data produksi cabe china besar sekali. Sistem supply chain mereka bagus, Didukung sitem logistik yang solid. Daerah penghasil Cabe ada di Guizhou, Hunan, Jiangxi, Sichuan, Shaanxi, Hebei, Henan and Jilin. “ Kata bagian sumber daya. Saya terus baca laporan data statistik produksi cabe China. 


‘ Cost produksi analisis gimana ? 


“ Bapak bisa baca lampiran dalam laporan. Perbedaan cost 60% daripada diproduksi di Korea. Kalau dihitung pajak impor. Masih bisa bersaing dengan harga lebih murah 30%. “ 


Saya berdiri,  berjalan di ruangan kantor saya. Wara wiri seraya berpikir.  Semua diam.  Hening. Tak berapa lama saya lirik Kim, wajahnya pucat seperti sedang menanti keputusan.  Ada kasihan melihatnya. Saya tidak mau membuhuh harapan orang yang sudah struggle. Apalagi dia telah melewati banyak hambatan sampai pada tahap ini.


“ Ok semua keluar. Tinggal Kim di ruangan ini.” Kata saya kepada staff. Mereka keluar. Saya tatap Kim dengan seksama. Dia masih terlalu muda. Usianya masih 25 tahun. Terlalu besar angan angannya. Tetapi dia sudah buktikan dia serius.


“ Kim, saya punya rencana bisnis” Kata saya. Dia menyimak. “ Saya akan bangun pabrik pengolahan cabe produksi kamu di CHina. Tetapi itu PMA. Perusahaan kamu di korea akan kerjasama dengan perusahaan kami di China untuk produksi. Sementara perusahaan kami di Korea akan jadi market underkater.  Tahap awal kita tidak jual langsung ke market retail. Tetapi jadi supply chain pabrik sauce cabe yang ada di korea. Mereka yang distribusikan.  Harga kita lebih murah 30%. Itu akan mendorong mereka untuk kontrak dengan kami. “ kata saya. Saya perhatikan dia menyimak. 


“ Tapi untuk itu kita harus dapatkan market offtaker dari pabrikan di korea. Itu dasar saya dapatkan dukungan pembiayaan dari Bank di China. " 


" Jadi kita tidak berproduksi dengan merek. Hanya jual produk antara kepada Pabrik pengolahan di Korea. Mengapa ? Tanya Kim keliatan bingung.


" Karena investasi di merek itu sangat mahal. Untuk pemula engga mudah bertahan. Apalai mereka mereka yang eksis itu sudah sangat solid ekosistem bisnisnya. " 


" Tapi pak.." dia masih berusaha mempertahankan argumennya.


" Nona Kim..." Seru saya mendekatinya, Duduk disampingnya di sofa. " Dalam bisnis kita harus cerdas. Hindari perang yang bukan medan kita. Selalu ada ruang untuk kita cocok bertarung dengan kapasitas kita. Bukan soal menang atau kalah, tetapi bertahan dan kemudian tumbuh berkelanjutan. Dengan rencana produksi kita sebagai pemasok  pabrikan, kita mengubah pesaing jadi mitra. Sinergi tercipta atas dasar saling mendukung. Kelak akan tumbuh sama sama. Paham?


" Ya pak. Paham" Kim tersenyum dan tercerahkan dia.


" Nah tugas kamu, berusahalah dapatkan off taker market itu. Saya punya network dengan beberapa pemegang saham pabrik sauce cabe di korea. Tugas kamu lobi mereka. Yakinkan mereka untuk jadikan kita sebagai mitra supply chain. Data survey product,  minat konsumen dan lain lain gunakan itu untuk yakinkan pabrikan. Saya siap investasi untuk risk management mereka.  Promosi produk sebulan delivery dengan harga diskon 40%. “ Kata saya. 


“Siap pak. “ Katanya membungkuk. Dia keluar dari ruangan saya.


Dua bulan kemudian dia datang temui saya. “ Pak, ada dua pabrik siap kontrak. Kapasitas setahun 1500 ton. Delivery bulan pertama harga diskon jadi USD 3000. Tetapi selanjutnya harga USD 6000/ton. Dia menyerahkan draft perjanjian dari dua pabrikan. Saya baca dan tersenyum.  Saya rentangkan kedua tangan saya. Dia menghambur dalam pelukan saya. “ Terimakasih pak. “ katanya menahan isak tangis. Saya tahu tidak mudah dia dapatkan kontrak itu. 


“ Kamu hebat Kim. Minggu depan setelah kontrak dengan pabrikan,  kamu ikut saya ke Hunan, china. Kita bangun pabrik kamu ya” Kata saya.


***


Tahun 2011 pabrik usai dibangun di Hunan. Tiga bulan pertama sukses melewati uji pasar. Target market yang ditetapkan tercapai. Pabrik juga dapat sertifikasi BRC, ISO, HACCP, Halal, Kosher. Tahun 2012 Kim dapat dana sponsor dari pemerintah korea, yaitu program pembiayaan perusahaan korea di luar negeri. Sehingga hutang bank di china bisa dia lunasi dan Kim terhindar resiko perubahan kurs.  Apa yang kami dapat ? sumber daya untuk mendukung kemampuan kami dalam bisnis supply chain berskala global. Produk Kim sudah masuk pasar Eropa, Jepang, china, Taiwan dan AS. Saya sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Kim. Karena dia sudah sangat sibuk di Korea dan china. 


*** 

Tahun 2015.

Saya ke Seoul.  “ Kim mau bertemu anda pak ? Apa bisa ? kata sekretaris saya.  Saya sungkan ketemu. Karena saya sudah pensiun dari SIDC. Saya datang ke Korea untuk menghadiri pernikahan mantan sekretris saya, Lena. Tapi akhirnya saya bersedia juga datang. Itu karena dia sendiri telp saya “ Pak B, i miss you. Beri kesempatan saya ketemu. Sejam aja” Katanya.


“ Kenangan yang tidak pernah lupa kebersamaan dengan anda. Ingat engga. Waktu kita tinjau kebun Cabe di Hunan. Kamu urut kaki saya yang keram.  Saat itu saya lihat cara  kamu urut saya. Benar benar nature. Benar benar kamu kawatirkan saya. Apalagi kamu gendong saya sampai ke rumah penduduk. Setelah saya pulih, saya tak pernah lupa kata kata kamu, maafkan saya Kim. Kamu jadi begini. Seharusnya kamu tidak perlu ikut survey. Tetapi saya tidak punya pilihan. Kamu harus lihat sendiri pontensi sumber daya, Itu cara saya agar kamu punya passion untuk berproduksi, Ya kan. “ Katanya tersenyum. 


“ Setiap hari saya kerja keras. Setiap proses produksi saya awasi dengan ketat. Setiap cost keluar saya kelola dengan baik. Saya selalu teringat kamu. Ketulusan kamu, mahal sekali. Kamu telah memaksa saya keras kepada diri saya sendiri. Dan kini lihatlah saya..” Katanya merentangkan tangan” Saya jadi business lady. Usia 30 tahu saya sudah punya pabrik dengan ribun karyawan. Usia emas saya diberkati bertemu denga kamu B. I do love you”  Katanyan dan memeluk saya. 


Kami habiskan malam itu dengan minum Soju. Saya tetap kontrol diri namun KIm” Saya pantas mabuk malam ini. Kapan lagi saya bertemu dengan mentor, my shadow love, and my everything.” Katanya. Ya terpaksa saya gendong dia keluar restoran. Tunggu kendaraan kantor jemput kami. Saya tuntun dia kedalam kendaraan dengan hati hati seraya  berbisik " jaga diri kamu baik baik ya sayang. Semoga kamu temukan suami yang bisa membawa kebahagian kedalam hidup kamu. Saya bukan pilihan yang tepat." Kata saya. Berpesan kepada supir antar kim sampai apartement.



Moral cerita 

Sukses Kim bukan dicapai dengan mudah. Dia harus buktikan produknya diterima konsumen. Dan untuk itu dia berani memulai dalam skala kecil namun dengan mimpi besar. Dia harus melewati hambatan dari segala sudut. Semua pihak meragukan dia namun tidak membuat mimpi dia padam. Terus bersemangat tanpa kehilangan harapan. Kerja keras mengaktualkan janji dan mimpi membuat dia mampu melewati banyak hambatan. Disaat peluang terbuka lebar, ia harus bayar dengan kerja keras melewati business process day by day. Kalau dia sukses, itu karena dia pantas mendapatkannya. 

18 comments:

Raldi Artono Koestoer said...

ijin copas...hebat nih contoh keuletan wanita bisnis Korea.-

Wiewoho said...

Hebat

hardiantomo said...

jiwa bisnis terlahir dari masa muda,. diusia kepala 4 ini saya bertanya pada diri apakah masih ada kemampuan dan peluang untuk meraih sesuatu yang lebih.

Anonymous said...

I believe there are a lot that I can learn from this article. Thanks a lot, Babo.

Wewe said...

Trims, B.

Anonymous said...

Inspiratif semoga saya bisa kuat sekuat Kim

Frans said...

Thanks pak B buat sharing nya.. Sangat bermanfaat.
Blessing.

Anonymous said...

Hanya yg bersungguh2 dan kerja keras akan mendapatkan hasil yg dia impikan

Unknown said...

Selaluerasa terlibat ketika saya membaca apa yg Babo uraikan dlm cerita/ulasan apapun..
Semua proses keberhasilam itu mudah.Butuh segala untuk diperjuangkan.Hanya orang" tangguh yg mampu melalui semua proses...Thanks Babo

Unknown said...

Selaluerasa terlibat ketika saya membaca apa yg Babo uraikan dlm cerita/ulasan apapun..
Semua proses keberhasilam itu mudah.Butuh segala untuk diperjuangkan.Hanya orang" tangguh yg mampu melalui semua proses...Thanks Babo

jokoMedan said...

Usahs n kerja keras n nasib ketenu menyor yg tepat berbuah keberhasilan...

jokoMedan said...

Usahs n kerja keras n nasib ketenu menyor yg tepat berbuah keberhasilan...

MarisonLubis said...

Sangat menginspirasi...

Anonymous said...

👍👍 saé sanget

Sayur Buah Segar Fresh Vegetables said...

Salut edukasi & support Babo, terima kasih pencerahannya

Anonymous said...

Bagaimana caranya supaya motivasi seperti ini tertular ke kaum muda Indonesia. Shgga kita tidak hanya jadi target pasar dunia luar.

Anonymous said...

Usaha n kerja keras .... hasilnya ... wow

Anonymous said...

Saya terharu,

Menentukan pilihan...

  Tahun 1984, selesai briefing team sales di kantor. Kami segera bergerak menuju target pasar. Kantor kami di Ratu Plaza. Di lobi Aling namp...