Saturday, April 16, 2022

Politik berbisik.

 



Dia kukenal dengan baik. Aku anggap dia sebagai sahabat. Entah bagaimana dia menganggapku. Mengapa ? karena dia sendiri tidak pernah merindukanku. Kecuali kalau dia perlu sesuatu dariku. “ Kamu kan di jalur bebas hambatan. Kepada siapa lagi aku minta bantuan kalau bukan ke kamu. Kalau di jalurku kan banyak sekali rambu rambu, dan terutama citra politik harus kujaga dengan baik. Rakyat sebagai konsumen politik masih perlu moralitas. “ Katanya. Usia kami hanya bertaut 3 tahun. Dia lebih muda. Tetapi karena dia wanita, jarak umur itu membuatku harus lebih banyak mengalah. 


Tahun 98 dia ikut dalam barisan gerakan reformasi bersama sama mahasiswa menjatuhkan Soeharto. Dengan bangganya dia telp aku dari Senayan. “ perjuangan pro demokrasi mendapatkan peluang untuk menggantikan rezim diktator Soeharto.” Katanya. Sore itu aku lihat berita TV, Soeharto mengundurkan diri. Digantikan Habibie. TV juga meliput mahasiswa sujud sukur kepada Tuhan atas berita itu. Aku hanya tersenyum. 


Sebenarnya aku ingin tertawa, tetapi senyum sudah cukup menggambarkan suasana hatiku untuk berdamai dengan kenyataan. Proses sejarah terulang lagi. Betapa tidak? Sebelum Soeharto mengundurkan diri, aku dapat kesempatan sejarah untuk hadir di suatu tempat di kantor Ormas Islam pertemuan antara tokoh Islam, pro demokrasi dan TNI.  Di situ sudah dibahas secara detail, yang kesimpulannya Soeharto tamat. 


Yang menarik dari diskusi itu adalah keluhan TNI. “ Pengusaha lebih merasa aman dan nyaman berdekatan dengan keluarga Soeharto, khususnya sejak putra putri Soeharto berbisnis. Eksistensi kami sebagai pengawal orde baru sudah tidak lagi dianggap. Saatnya rezim harus dihabisi. Secara kultural dan real politik. Kekuatan Indonesia ada pada kelompok Nasionalis, Islam dan TNI. Kalau tiga itu sudah satu satu suara, selesai urusannya” Kira kira begitu keluhan yang berujung solusi. 


Tokoh nasionalis yang merupakan pro demokrasi dan tokoh islam yang selama ini dibonsai. Bangkit percaya diri melawan rezim Soeharto. Selama ini mereka kalah karena TNI back up rezim. Semua sepakat. Tapi budaya politik di Indonesia itu, 70% tidak nampak di permukaan. Para mereka yang bersepakat itu perlu kuda  penerjang  dan corong berhadapan secara vulgar dengan  rezim Soeharto. Kuda itu adalah para tokoh pergerakan. Corong itu adalah mahasiswa. 


“ Kamu  tabuh genderang sesuai irama  anak anak kita di kampus. Agar mereka menari mengikuti irama gendang. Nanti, TNI dan Polri akan buka gerbang Senayan untuk jadi panggung kolosal para anak anak itu menyuarakan reformasi. “ Demikian kelakar salah satu peserta diskusi kepada tokoh pergerakan reformasi,  yang juga mentor politik mahasiswa. “ Habibie, hanya sebatas mempersiapkan  pemilu. Setelah Pemilu, akan dihabisi. Selanjutnya kita akan berbagi posisi.” Lanjutnya.  Tentu tidak  ada yang gratis. Semua pihak yang terlibat menjatuhkan rezim akan dapat peluang berkuasa.


Makanya setelah pertemuan itu, aku sudah malas baca berita koran, TV. Bagiku itu semua omong kosong. Yang diberitakan itu hanya 30% peristiwa politik. Yang 70% sudah selesai di ruang bisik bisik. Omongan pakar, pengamat, tokoh gerakan , ormas, itu hanya drama yang memuakan. Hasil akhirnya adalah konspirasi elite untuk mereka berkuasa. 


Itu sebab aku tidak perlu kaget, bila kebijakan yang lahir dari DPR sejak reformasi, hanya untuk kepentingan tiga golongan itu saja. Sistem nya adalah 3 kartu. Kalau salah satu kartu tertutup yang berkuasa akan jatuh. Jadi harus full house kartunya agar bisa terus berkuasa. Jatuhnya Gus Dur, dan akhirnya kalah Megawati dalam pemilu 2004, karena sistem main begitu. 10 tahun SBY berkuasa dengan soft landing, itu karena kartunya full house. SBY punya prinsip zero enemy atau bahasa vulgar, “ mari berbagi”


***


“ Kita ketemuan ya.” Katanya namun terkesan mendesak. Tapi sebagai sahabat yang sudah lama kami tidak bersua, aku tidak punya pilihan walau berat.


“ Engga bisa mendadak begitu. Ini hari libur. Waktuku untuk keluarga. “ 


“ Jam 17.45 ketemuannya.” Katanya tak peduli alasanku. Tempat dia juga yang tentukan. Biasanya aku juga yang bayar walau dia yang pesan table di resto. Tapi oklah. Aku berusaha untuk datang sesuai keinginanannya. Tentu aku terpaksa geser buka bersama dengan keluarga. Yang tadinya di rumah pindah ke resto tempat aku akan bertemu dengannya.


“ Familyman kamu? Katanya menyambutku di tablenya.


“ Mau gimana lagi. Usia saya tidak muda lagi.”  kataku sekenanya.


“ Banyak sekal rumor sekitar aksi demo mahasiswa kemarin. Itu dipicu oleh adanya wacana perpanjangan masa jabatan presiden yang didengungkan oleh tiga pimpinan partai dan tiga menteri Jokowi. “ Katanya mengawali. Aku siap menyimak.


“ Kalau kita baca hasil survey Litbang Kompas pada 17 hingga 30 Januari 2022. Ada fenomena menarik, apalagi survey itu dari Kompas yang tingkat akurasinya 99 %. Suara partai 5 besar bergeser significant. Kini tiga besar adalah PDI Perjuangan yang memperoleh 22,8 persen, serta Gerindra 13,9 persen. Demokrat berada di angka 10,7 persen, itu sama saja meningkat luar biasa. Kalau oktober 2021, hanya 5,4 %, survey terakhir jadi 10,7%, Itu artinya naik dua kali lipat. Sementara PDIP hanya naik 3,7%, Gerindra naik 5,1%. Apa artinya? kalau terus sampai 2024, elektabiltas Demokrat bisa diatas Gerindra, bukan tidak mungkin sama dengan PDIP. Jadi masuk akal kalau ada partai yang elektabilitasnya drop menginginkan Pemilu ditunda. Kamu tahukan alasannya?


“ Apa ? Tanyaku inginkan perspektif dia.


“ Pastilah ada agenda bisnis. Mungkin saja ada pengusaha punya kepentingan bisnis sampai tahun 2025. Kalau itu diamankan, mereka bisa jadi sponsor pemilu. Dan ini pasti tidak deal dengan partai yang elektiblitas tinggi. Dealnya dengan partai yang sudah drop. Dan kebetulan ring kekuasaan presiden yang bukan non partai punya kemampuan mengendalikan partai itu untuk mengusung capres pilihan mereka. Ya pemain non partai itu memang inginkan presiden lemah seperti Jokowi. Sehingga kelak yang berkuasa sebernarnya mereka. Katanya, pak Jokowi sudah tanya menterinya yang mau maju capres. Eric, Airlangga, Sandi, Prabowo, semua mengakui, ya akan maju” 


“ Terus..”


“ Kemana sebenarnya pengusaha berlabuh dalam konteks permainan politik menjelang Pemilu  2024? 


“ Saya tidak bisa komentar. Karena Kepres PEMILU belum diteken Jokowi. “


“ Asumsi besok Kepres Pemilu diteken. Gimana pendapat kamu?


“ Menurut saya. Pertama, Pengusaha itu melihat agenda pemerintah terhadap kasus BLBI. Maklum yang sekarang masuk konglo kan mereka yang terkena kasus BLBI. Kedua, skema pembangunan IKN. Maklum ini menyangkut dana ratusan triliun dan peserta tender luar biasa banyaknya. Ketiga, ada beberapa kasus besar melibatkan pengusaha dan elite yang masih tersandera. Nah, tiga hal itu saja masalahnya. 


Kebetulan saat sekarang, tiga hal itu dikendalikan  oleh ring kekuasaan  presiden yang non partai. Jadi wajar saja kalau PDIP sebagai pengusung Jokowi tidak lagi sepenuhnya berada di kekuasaan. Mereka focus kepada elektabilitas saja. Makanya mereka tidak perlu ragu berbeda dengan sikap menteri Jokowi. LIhat aja kasus Mubes kudeta PD. Migor dan terakhir kenaikan BBM “ Kataku.


“ Ya wajar kalau ada pernyataan anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu yang menyebut Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Brutus di dalam lingkaran Istana Presiden Jokowi. “Katanya. Aku senyum saja.  Setelah itu kami bicara soal lain yang tidak penting. Aku lebih banyak mendengar. Sekedar pinjamkan kuping untuk dia curhat. 


Usai pertamuan itu. AKu teringat omongan dari teman pengusaha yang ikut dalam pembicaraan antara Jokowi dan Megawati, usai Pilpres 2019 “ Kenapa terus pertahankan LBP? Tanya bu Mega. Jawaban Jokowi sederhana “ Apa engga boleh saya percaya kepada teman saya”  Menurut teman saya. Dari raut wajah Bu Mega, itu sudah menyiratkan “ Anda sudah tidak bersama saya lagi.” Artinya sejak itu sikap PDIP secara politik sudah sangat jelas. Mega tidak bisa lagi kendalikan Jokowi. 


Selanjutnya PDIP berharap pemerintahan berjalan baik, kalau engga, PDIP akan utamakan citra partai untuk kritik, bila perlu bersuara oposisi. Pilpres tidak lagi jadi prioritas. Partai yang jadi prioritas. Kalaupun nanti Capres yang diusung PDIP menang, ya itu bonus.

No comments:

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...