Sunday, April 10, 2022

Marhaen

 




Dia wanita yang kupanggil Ibu. Perempuan perkasa yang setiap hari bertelanjang kaki menyusuri pematang sawah yang becek. Kemudian membiarkan kakinya terendam dalam kubangan Lumpur. Badan membungkuk menggemburkan tanah dengan kakinya yang kokoh. Suaranya nyaring mengendalikan kerbau menyusuri setiap jengkal sawah kami. Ibu dan Kerbau adalah pasangan serasi. Pasangan yang sadar dengan takdirnya. Pasangan yang harmonis diantara petak sawah yang menghampar dan ladang yang rimbun. Dan kami , anak anaknya adalah bagian penonton suatu drama kehidupan yang juga dulu ibu pernah lalui ketika masih kanak kanak. Kehidupan memang bergerak lambat dan tradisi ini menjadikan kami selalu akrap dengan kerbau dan sawah.


Ibu , adalah juga bagi kumpulan wanita dikampung kami. Semuanya berbaris rapi menjadi lebah pekerja karena para ayah turun kekota menjadi kuli atau apa saja untuk membangun kota. Kepulangan para ayah tidak lagi menjadi sebuah penantian. Para ibu hanya tahu bahwa mereka harus membunuh rasa birahinya hanya untuk sebuah harapan dari kota. Hingga setiap jengkal tanah dikampung ini hanya dipenuhi oleh para ibu yang kelelahan ketika malam datang. Keesokan paginya mereka harus kembali berbaris bersama kerbau kesayangannya. Layaknya suami , sang kerbau menjadi sahabat setia dan juga tempat makian bila kerbau itu malas bergerak. Tapi sang suami tetap menjadi harapan.


Yang menjadi kenangan terindah bagiku dan ini kelak yang akan selalu kurindu.Adalah memberikan tumpukan jerami kepada kerbau dan ibu akan membakar sebagian kotoran kerbau untuk menghangatkan tubuh kami dari sengat dingin malam dan juga untuk menghindarkan kami dari sengatan nyamuk. Semua tersusun dengan sangat sistematis. Antara kerbau dan kami saling melengkapi.Desa ini bila senja tanpa seluet elang menari nari. Pria tempat kehangatan bagi ibu ibu tidak lagi hadir dikala senja datang merangkak malam. Ibu nampak tidak lagi peduli karena selalu ada harapan bila ayah pulang. Membenamkan diri dalam kesuyian malam dalam kelelahan adalah irama hidup yang kadang membosankan namun ibu akan selalu baik baik saja.


Satu saat ketika Ayah pulang, maka keceriaan terpancar diwajah ibu dan juga kami. Maka hari hari berikutnya terasa sangat lain. Ibu lebih banyak bersolek. Apa lagi Ayah datang membawa oleh oleh bedak berwarna warni dari kota. Bibir ibu nampak ranum dan juga pipinya. TV berwarna yang dibawa Ayah dari kota menceritakan banyak impian untuk ku “ Kamu harus melihat dunia luar. Kamu harus seperti dunia yang ada diluar sana. “ Begitu kata Ayah memberikan semangat untuk ku. Hari hari berikutnya, Kerbau ku tak lagi nampak. Dia sudah digantikan oleh motor bebek baru berwarna merah. Juga ibu tidak perlu lagi bersusah payah membusukan jerami disawah kami. Karena ayah membawa pupuk dari kota untuk ditebar. Juga Ayah membawa bibit bibit terbaik dari kota. Semuanya “ agar ibu tidak perlu berlelah disawah dan dapat menikmati hasil banyak” demikian Ayah.


Kami merasa berubah dan harapanpun semakin besar bahwa kami akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Waktu bergerak maju , impian kami jauh lebih maju tapi anehnya kami tetap saja ditempat kami bahkan tak lagi merasa berpijak ditanah kami. Apa pasal? Sawah kami menghasilkan padi namun tidak memberikan kami cukup uang untuk dimakan karena harus berbagi dengan Koperasi untuk membayar pupuk dan bibit dan juga upah traktor menggemburkan sawah. Juga kami harus membayar cicilan hutang keperluan ibu membeli kulkas, membayar kredit motor dan banyak lagi. Lambat laun ayah sudah jarang bicara tentang keindahan hidup di kota. Tentang mimpi kelap kelip lampu kota dimalam hari. Tentang rumah megah berlapis marmer. Dan ibu sudah tak pernah lagi memintal rambutku yang panjang. Ibu selau pergi ketika aku terlelap dalam tidurku dan baru kembali setelah ayam berkokok. Tapi aku yakin ibu akan baik baik saja.


Aku tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya tentang kota. Ingin sekali aku datang kekota melihat semua yang Ayah ceritakan, seperti bintang filem, mobil mewah, gedung tinggi dan banyak lagi yang selama ini hanya kulihat dari televisi. Dalam keinginan dan impian itu, akupun tidak begitu tertarik lagi belajar disekolah , apalagi ketika Motor bebek kesayangan ibu sudah tidak ada lagi untuk mengantarku kesekolah. Aku tidak mau berlelah jalan kaki kesekolah atau merusak sepatu cantikku. Aku rindu kota, tapi juga aku merindukan ibu yang tidak lagi ada ketika aku sangat membutuhkannya. Ayah hanya bilang ” Ibu mencari uang”. Aku sendiri bingung, sejak kapan Ibu pandai mencari uang.? Yang kutahu ibu adalah sahabat kerbauku disawah dengan arit ditangan menyiangi kebun kami. Tapi aku yakin , ibu akan baik baik saja.


Satu waktu yang tidak pernah aku lupakan , ketika malam aku terjaga. Aku sangat merindukan Ibu. Kulihat disebelah kamar , Ibu tidak ada. Ayah juga tidak ada. Aku mencoba melangkah keluar rumah. Berjalan menembus pekatnya malam. Diujung jalan desa terdengar suara musik sayup sayup dan suara tawa orang ramai. Kesanalah aku pergi. Disana aku lihat ayah sedang bermain remi dengan bertemankan bir hitam. Kemana Ibu ? Aku tidak melihat ibu. Langkahku terus bergerak mencari ibu. Dari kejauhan nampak ibu ku sedang berdiri didepan losmen kumuh. Ibu tersenyum kepada siapa sajan yang lewat atau kadang kala bercanda dengan tukan becak yang mangkal didepan losmen. Apa yang sedang dikerjakan ibu?. Aku tidak tahu. Tapi aku yakin , ibu akan baik baik saja.


Kini waktu berjalan terasa lambat seiring dengan semakin jarangnya aku melihat ibu dan Ayah dirumah. Memasak , menanak nasi dan mencuci adalah bagian dari keseharianku. Tapi setidaknya aku tidak harus bercengkrama dengan kerbau. Atau menggiring kerbau kesawah. Karena sawah sudah dijual. Kebun sudah juga dijual setelah sebelumnya kerbaupun terjual. Keinginan dan impian yang dibawa oleh TV , tidak lagi bisa kami dengar karena TV pun sudah lama terjual. Kami tidak punya apa apa lagi. Kecuali jasad dan impian yang masih tersisa walau tak bisa diungkapkan. Kami hanya butuh makan untuk membuat hari hari dalam impian kami tetap hidup. Itupun semakin sulit. Tapi kami yakin ,kami akan baik baik saja.


Kini, aku tidak lagi ada didesa bersama mimpiku. Aku berada di etalase dengan lampu temaram. Tubuhku menjadi tontonan orang orang yang melirik setiap melintas di depan etelage. Aku tersenyum bersama semua mereka yang ada didalam rumah kaca ini. Harapan kami disini , hanyalah berharap agar ada orang yang memanggil kami dan membeli kesenangan sesaat yang dapat kami berikan untuk membayar impian kami. Beginilah akhir dari cerita bila akhirnya aku ada disini bersama mimpiku dan juga sama dengan semua mereka yang terkapar tanpa masa depan karena terampas oleh mesin kepengohan dari budaya yang salah. Aku tidak akan menyalahkan ibu dan ayahku. Karena mereka juga adalah korban dari sebuah negeri yang gagal menjadi dirinya sendiri.


"Kalau kau melempar jumroh di Tanah Suci, ingatlah Tanah Air kita ini. Tancapkan di hatimu bahwa batu-batu yang kau hunjamkan itu merajam setan-setan kota maupun desa di tanah suci kita ini, yang tak sempat disingkirkan karena presiden pertama keburu ditumbangkan. Lihatlah, sekarang, di samping setan kapitalis birokat, muncul pula setan banggarong atas nama korporat. Mereka pesta-pora, gentayangan bermobil mewah meraung-raung suka-suka di Senayan sana, di Jakarta sana. Rajamlah mereka dengan batu-batumu itu. Rajamlah, sahabatku"


***


Ceritakan kepadaku tentang marhaen” Kata Wenny.


“ Kenapa kamu tanya itu? Darimana kamu tahu soal marhaen?


“ Saya pemerhati politik asia. Saya suka baca semua literatur tentang sosialisme.” Kata Wenny. “ Ceritakan kapada saya secara sederhana apa itu Marhaen, yang katanya ajaran bapak Soekarno yang fenomenal itu”


“ Saya akan uraikan secara sederhana prinsip perjuangan kaum marhaen. Mungkin tidak tepat. Tetapi inilah yang saya pahami sesuai otak jadul saya.


Pertama. Marhaen tidak menolak subsidi. Namun subsidi yang tepat sasaran. Subsidi bagus, asalkan subsidi untuk produksi. Kalau konsumsi yang berlaku bagi siapa saja, marhaen menolak. Seperti kasus subdisi BBM. ERa SBY, PDIP menolak kenaikan harga BBM ,tanpa ada subsidi pendirian industri hulu migas ( kilang). Jadi PDIP bukan menolak kenaikan BBM tetapi menolak tidak adanya program subsidi pendirian kilang BBM. Demi kemandirian, kaum marhaen siap lapar, bahkan mungkin mati.


Kedua. Marhaen menolak rakyat miskin diorganisir secara ekonomi lewat kekuatan politik semacam gerakan Koperasi era Soeharto. Marhaen maunya, negara hadir memberikan akses kepada rakyat terhadap pasar, modal dan tekhnologi. Sekali lagi, ingat. Hanya AKSES. Bukan pemberian free of charge. Harus disertai dengan kolaborasi dan sinergi antara yang besar dan kecil, Tugas negara memfasilitasi agar tidak ada aneksasi bagi yang kuat kepada yang lemah. itu aja.


Ketiga. Marhaen, menolak ekonomi dikuasai negara lewat konglomerasi BUMN atau Swasta. Karena itu akan melahirkan karte kaum berjuis, dan akhirnya melahirkan Oligarki ekonomi. Tetapi mendukung ekonomi gotong royong. Caranya? harus ada cluster tiga pilar, BUMN, swasta Besar dan UKM. Tiga pilar ini dijaga dengan ketat, lewat reformasi ruang agraria. Sehingga modal dan SDA negara terdistribusi dengan adil dan proporsional. Seperti apa ? Seperti bank Tanah, pusat logstik atau skema stokis, pajak progressive atas harta.


Keempat. Marhaen, mendukung keadilan ekonomi itu lewat penyediaan sarana transfortasi massal yang murah. Infrastruktur ekonomi publik seperti jalan , jembatan, bandara, pelabuhan dan kereta, bendungan irigasi. Agar rakyat kecil bisa mengakses keadilan ekonomi dimana saja mereka berada, Tidak ada lagi yang terisolasi. Empat itu saja. “ Kata saya. 


“ Apakah salah? “ Kata Wenny. “ kalau mereka memimpin negeri anda ? Karena mengelola ekonomi dengan standar marhaen itu murah meriah. Eggga perlu canggih amat untuk bisa makmur. Karena negeri anda sudah dirahmati Tuhan dengan SDA besar, dan yang diperlukan hanya niat baik dan keberpihakan kepada rakyat yang lemah.” Kata Wenny. Saya senyum aja. 


“ Sekarang jelaskan bagaimana perspektif kamu tentang sosialisme ala China”


Wenny terdiam seakan berpikir. “ Baiklah saya akan bercerita.” Kata Wenny, Saya siap menyimak “ Dari sebuah desa kepemimpinan terbentuk. Dari sebuah Desa orang diuji berjalan di titian. Dari sebuah desa orang dikenal , dipuji dan diasingkan. Hukum komunitas terkecil ini mempunyai hukum alam. Yang baik dihormati dan yang jahat diasingkan. Budaya terbangun, ketulusan dijalankan. 


Beda sekali dengan dikota. Orang bergerak dalam diam namun penuh curiga dan awas. Segala kebusukan dan kesalehan bersatu, menjadikan semuanya tak jelas dilihat dengan mata kepala. Dari kumpulan orang orang inilah budaya santun, tulus , terdegradasi menjadi budaya individualistis. Tapi bagaimanapun. Desa tetaplah memanggil rasa rindu nurani siapa saja untuk menemukan kesejatiannya.


Begitupula yang dirasakan oleh seorang Salesman gagal mengejar impiannya di Kota. Namun di Desa dia mendapatkan senyuman dan harapan, yang selama dikota jarang dia dapatkan. Tak perlu terkejut bila kedamaian dibalas dengan ketulusan untuk berbuat dapat melahirkan kekuatan diluar akal sehat. Sesorang ini adalah dia. Diapun akhirnya didaulat menjadi Lurah di Desa. 


Hanya karena di Desa yang miskin kepemimpinan tidak memberikan pendapatan berlebih kecuali rasa hormat. Namun bagi dia, itu adalah segala galanya. Diapun sadar bahwa dia bukanlah siapa siapa. Hanya salesman gagal di kota. Tak pula pernah mengenyam bangku kuliah. Namun, itulah dia, yang menyandang predikat sebagai pemimpin dari komunitas desa miskin. Mungkinkah.


Lantas apa yang di lakukannya ? Dia mengusulkan rencana sederhana. Yaitu agar petani tidak lagi bertanam padi,  tapi singkong dan jagung. Mengapa ? Sudah sekian lama kehidupan petani selalu miskin karena hasil padi tidak lagi mencukupi biaya hidup. Terus bertanam padi adalah mati konyol dan bodoh. Bagaimana dengan singkong dan jagung ? Singkong dan jagung akan dijual ke pabrik pengolahan di kota dan dia minta pabrik agar ampasnya diserahkan kedia untuk dijadikan bahan baku pembuat piring dan mangkok. 


Dia minta bantuan universitas mendesign mesin mixing dan press , molding untuk mengolah ampas jadi piring dan mangkok. Produk ini akan dipasarkan ke restoran cepat saji sebagai kemasan sekali pakai. Dari mana biaya membangun pabrik ? Ini ide gila. Engga ada bank yang akan biayai. Apalagi diusulkan oleh komunitas desa miskin. Namun tanpa diminta, semua rakyat desa menjual ternak sebagai satu satunya harta tersisa untuk mendapatkan uang membeli mesin. Bangunan dikerjakan gotong royong.


Penduduk desa begitu percaya dengan dia sebagai pemimpin. Semua sepakat tanpa tanya untuk beralih menanam singkong dan jagung. Perubahan ini ada resiko karena mereka terancam tidak makan apabila program gagal. Tapi mereka tidak melihat hal buruk menanti. Sebuah keyakinan untuk sebuah hope akan lebih baik daripada hidup bergantung kepada kesehajaan yang terhina dan tak terpelihara. Setiap hari kepala desa hadir di tengah mereka di kebun sampai akhirnya panen. Hasil panen ternyata melimpah dan dia berhasil memasarkan produk itu ke pabrik. Dan sekaligus mendapatkan ampasnya.


Setelah ampas diolah jadi piring dan mangkok. Berbulan bulan dia memasarkan produk itu, tapi tidak ada yang berminat mencoba. Namun dia tidak pernah menyerah. Sampai akhirnya ada restoran yang mau mencoba tanpa membayar dengan kondisi apabila konsumen restoran suka maka akan dibayar. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata konsumen suka dan pesanan datang secara tunai. Akhirnya produknya menjadi terkenal. 


Rakyat desa di samping mendapatkan hasil penjualan singkong dan jagung , juga dapat penghasilan tambahan dari keuntungan menjual produk dari ampas. Rakyat desa yang tadinya miskin kini makmur. Mereka bersatu menghadapi masalah , mengambil resiko untuk berubah , berkerja keras untuk meraihnya.


Nah, keberhasilannya mengundang perhatian Partai. Diapun terpilih sebagai Bupati. Apa yang membuat dia terpilih ? ternyata karena hobinya mengumpulkan sampah plastic. Partai menganggap dia orang yang pantas untuk menjaga kota tetap bersih. Padahal tujuannya mengumpulkan sampah plastic agar tanah tidak tercemar. 


Ketika dia jadi bupati. Setiap hari , dalam perjalanan dari rumah kekantor, dia selalu menyempatkan diri untuk menanam satu pohon disetiap tanah lowong. Tidak ada rakyat yang berani mengganggu pohon itu karena dia yang tanam. Lima tahun dia berkuasa, kota yang gersang, tumbuh menjadi kota yang sejuk.dan penuh bunga. 


Keberhasilannya , ternyata bukan hanya mengundang perhatian pemerintah daerah tapi juga pemerintah pusat. Diapun diundang untuk datang kepusat. Jabatan tinggi sudah menantinya. Tapi ketika itu ditawarkan kepadanya , dia menolak dan lebih memilih untuk cepat pension. Ketika hal ini ditanyakan kepadanya , dengarlah jawabannya:


“ Sepuluh tahun menjadi pemimpin , usia saya serasa bertambah 1000 tahun. Selama itupula saya tidak pernah menikmati yang seharusnya saya nikmati. Apa itu, ? waktu!. Setiap hari , 18 jam waktu saya terpakai untuk mengabdikan diri kepada rakyat. Sehingga saya lupa tanggal ulang tahun istri saya. Lupa kapan terakhir saya mendapatkan bayi kedua saya. Saya lupa menjahit jas saya yang robek. 


Menjadi pemimpin itu, bagaikan hidup diatas bara. Setiap detik, bukanlah hal yang menyenangkan. Kalau anda ingin memberikan hadiah kepada saya , maka biarkanlah saya menikmati pension saya dengan damai. Jangan pernah berpikir sayalah yang terbaik, Karena kehidupan tidak akan pernah berhenti hanya karena ketidakadaan saya. Kita hanya butuh satu keyakinan, beri kesempatan kepada siapa saja untuk berbuat karena nuraninya dan selesai. “


***


Kisah diatas terjadi disalah satu distrik di provinsi Yunnan, China. Budaya China memaknai politik terdiri dari unsur kekuasaan , aturan dan keteladanan. Kekuasaan tanpa moralitas adalah Penjahat, Aturan tanpa keadilan adalah penjajahan, Keteladanan tanpa akhlak dan keikhlasan adalah Penipuan. Kekuasaan adalah politik yang datang karena kebutuhan untuk ” menyelesaikan” bukan retorika untuk pencitraan. 


Untuk ”menyelesaikan” bukanlah kemudahan dibalik banyak fasilitas jabatan yang menempel dalam simbol simbol kekuasaan. Tapi deretan derita dan kelelahan untuk ” menyelesaikan”. Bila ini disadari oleh semua kita maka tentu tidak ada lagi yang berani sombong mengejar kekuasaan atau jabatan. Tidak ada lagi yang mau merekayasa Undang Undang Politik untuk terus berkuasa. Tidak ada lagi fitnah. Tentu tidak adalagi kelaparan dan kematian karena kemiskinan. mungkinkah…? Kata Wenny. Dia tidak menggurui saya apa yang benar atau salah. Tetapi dia menggaris bawahi bahwa kepemimpinan dan niat baik adalah kunci utama untuk perubahan lebih baik.


“ Oh i see.  Paham saya. Leadership..” Kata saya.


“ My dear friend, kemajuan dunia karena keberanian untuk berubah. Kadang orang yang berani berubah terkesan gila dan tidak rasional. Dia pemberontak dan melihat sesuatu secara berbeda. Dia tidak menyukai keteraturan. Dan dia  tidak menghormati status quo. Dia  tidak menyerah dengan keadaan dan tidak suka mengeluh menyalahkan orang lain atau pemerintah. 


Kita boleh setuju atau tidak , memuliakan atau menjelekkan dia. Tapi satu hal yang tidak dapat kita lakukan adalah mengabaikan dia. Karena dia mengubah keadaan. Dia mendorong orang ke depan dan mengabaikan orang yang terlalu banyak alasan karena takut berubah.


My dear friend, yang diperlukan pemimpin yang punya niat baik untuk berani melawan ketidak adilan sosial. Bukan melawan dengan revolusi phisik,  tetapi revolusi mindset. Jangan takut untuk berubah menjadi lebih baik. Ingat bahwa orang-orang yang cukup nekat untuk berpikir bahwa mereka dapat mengubah dunia, adalah orang-orang yang berbuat dan mengambil resiko karena itu.. Mereka adalah hero dan peradaban terbentuk karena adanya orang orang pemberani untuk berubah. Itulah sebenarnya esensi dari ajaran Soekarno, tentu dari perspektif saya. Pilihlah dia yang pantas memimpin sesuai pemikiran Marhaen, kalian akan jadi negara besar dan terhomat. Maafkan kalau saya salah. Kata Wenny. 

6 comments:

Anonymous said...

Tahap pertama kita mulai dengan anti korupsi.
Karena korupsi tidak bermoral. Menghisap darah rakyat.

Anonymous said...

Terimakasih telah menulis catatan pentinh ini. Salam

Nanang said...

Kekuasaan tanpa moralitas adalah Penjahat, Aturan tanpa keadilan adalah penjajahan, Keteladanan tanpa akhlak dan keikhlasan adalah Penipuan. Kekuasaan adalah politik yang datang karena kebutuhan untuk ” menyelesaikan” bukan retorika untuk pencitraan. ..... 👍

Anonymous said...

tahap pertama pilih Gp

Anonymous said...

Terima kasih babo.

Anonymous said...

Revolusi mindset..menjadi sebuah cita2 besar dari si penulis

Menentukan pilihan...

  Tahun 1984, selesai briefing team sales di kantor. Kami segera bergerak menuju target pasar. Kantor kami di Ratu Plaza. Di lobi Aling namp...