Saturday, April 02, 2022

Kapten atas jiwa.


 


Masri, dia kukenal sebagai sahabat dan juga sudah kuanggap sebagai kakakku. Dia memang lebih tua dariku. Tetapi karena tubuhnya yang kerempeng, dia seperti seusia dengan kami  semua temannya. Masri sedari Balita sudah yatim piatu. Dia anak tunggal. Kedua orang tuanya meninggal ketika dalam perjalanan dari rantau ke kampung. Bus yang mereka tumpangi jatuh ke jurang. Sejak usia balita Masri dibesarkan oleh Neneknya.  Namun usia 8 tahun, neneknya juga meninggal. 


Sejak itu Masri hidup sendiri. Setiap hari dia pergi ke hutan. Mengambil hasil hutan untuk dia jual ke pasar. Apa saja. Mungkin karena sering diajak neneknya ke hutan. Dia paham mana yang bisa dimakan dan mana yang bisa dijual. Kami tidak begitu akrab dengan dia. Karena dia tidak sekolah. Kecuali bulan Ramadhan  liburan sekolah. Kami teman teman sepermain selalu mengandalkan Masri pergi ke hutan atau mancing di sungai.


***

Pernah ada pengalaman dan akhirnya menjadikan Masri idolaku. Siang hari bulan Ramadhan, masa kecil kami di kampung biasanya killing time dengan mencari kesibukan sendiri. Ya masuk hutan dan naik bukit. Atau pergi ke Sungai memancing ikan. Suatu saat kami masuk hutan. Baru beberapa langkah menyusuri lereng bukit. Tepat di belokan. Di sampingku ada harimau berdiri. Hanya beberapa langkah dariku. Masri yang ada di depanku. Memberi isarat agar kami semua merunduk. 


Harimau itu melompat tepat berada di depan Masri. Hanya 1 meter mungkin jaraknya. Si Sukri temanku kencing dalam celana seketika. Aku melihat Masri mengelus kepala harimau itu. Nampak mata harimau itu menyipit. Mungkin senang dia diusap kepalanya oleh Masri. Selang beberapa menit, Harimau itu berbalik badan dan melompat ke bawah. Berlari menjauh dari kami. Aku terpesona dengan kejadian itu.  


Pernah kami pergi ke sungai untuk memancing. Sebelum sampai di sungai. Kami terhalang langkah karena di depan kami ada ular besar sekali. Setengah tubuhnya ada di kali. Setengahnya lagi ada disemak. Ular itu tidak bergerak. Tapi matanya awas. Kami semua takut. Masri menyibak semak semak itu. Ternyata ular  kena perangkap penduduk. Dia lepaskan perangkap itu. Dan kemudian dia tarik ekor ular itu masuk ke dalam kali. Ular itu bergerak menjauhi kami.


Sejak peristiwa itu, kami menduga duga bahwa Masri keturunan pendekar harimau. Mungkin nenek buyutnya dulu adalah pendekar sakti dan mati menjadi harimau. Masri sendiri tidak pernah jelaskan mengapa harimau takut dengan dia. Tidak pernah menjelaskan mengapa ular itu tidak mematuk dan menelannya.



***

SD kelas 5, keuargaku pindah ke lampung.  Sejak itu aku berpisah dengan Masri dan juga teman temanku. Aku tidak lagi tahu tentang Masri. Hanya saja ketika SMA, aku dengar kabar bahwa Masri di usir dari kampung. Dia pergi bersama janda beranak 1. Entar kemana dia pergi merantau. Namun dari cerita yang kutahu, Masri dituduh berzina dengan janda miskin yang menumpang tinggal di rumahnya.  Entahlah.


Setamat SMA, aku pergi merantau ke Jakarta. Pilihan hidup yang tidak direncanakan. Memaksaku jadi pengusaha. Tahun 87 aku berdagang hasil laut. Aku bertemu lagi dengan Masri di Pulau Bay Bengkulu. Dia lebih dulu menegurku. Di Bengkulu dia berdagang minyak depan rumahnya. Dari dia aku dapat cerita tentang rumor buruk tentang dia di kampung. “ Kamu kenalkan si Minah. Itu anak janda miskin dan akhirnya jadi yatim piatu. Sama denganku” Katanya mengawali cerita. 


“ Minah menikah usia sangat muda. Suaminya juragan kaya pedagang hasil bumi. Dia jadi istri ke empat. Pernikahan itu hanya berlangsung 3 tahun. Suaminya meninggal. Minah tidak dapat warisan apapun. Anak anak dari istri pertama mengusirnya dari rumah pemberian suaminya. Dia tinggal di rumah pinggir hutan bersama anak balitanya. Aku datang mengajaknya tinggal di rumahku. Tapi orang kampung tuduh aku menzinahi Minah. Padahal aku hanya ingin menjaga janda teranta.  


Orang kampung mengusirku. Ya aku ajak Minah pergi merantau ke Jambi. Setahun di jambi, Minah dapat jodoh pengusaha sawit. Dia diboyong ke jakarta. Akupun pindah ke Bengkulu. Sejak itu aku tidak tahu lagi tentang Minah. Namun aib tentangku dan Minah tidak juga hapus di Kampung. Makanya aku sungkan untuk pulang kampung. Setidaknya aku berusaha menghindari orang kampung berdosa akibat fitnah itu. “ demikian cerita Masri. 


Aku juga tidak ingin bertanya banyak. Aku ingin tahu tentang siapa dia sehingga bisa membuat harimau dan ular takut.


“ Jel.” Serunya. “ Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya disisi Tuhan kekal, di sisi makhluk lenyap. Apa yang kita takuti? Tidak ada kecuali Tuhan ? Apalagi hewan “ Katanya. Dia terdiam sejenak mengisap rokok dalam dalam.


“ Saya paham itu. Tapi bagaimana menanamkan pengertian itu dan merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Apalagi tidak merasa gentar di hadapan binatang buas. “ Tanya saya. Dia tersenyum.


“ Keraslah kepada diri sendiri. Kamu harus jadi kapten jiwamu. Seberapa berat dan hebat kebencian, amarah, cinta, pujian, sakit , sehat, kawatir, takut, harta, jabatan, kepintaran dan kebodohan jangan sampai melemahkanmu. Apa yang terjadi di alam ini adalah cara Tuhan menampakan diriNya dan menyebut diriNya Maha Agung, penuh pengasih lagi Penyayang. Maka ikhlas bukan lagi kemewahan. Tetapi kebutuhan hidup kita .”Katanya penuh makna dan mencuci otakku. Apalagi yang bicara itu Masri. Idola masa kecilku.


“ Lantas apa yang mendasari abang begitu kuat dan tabah menghadapi rasa itu?


“ Sedari kecil almarhum neneku mengajariku berpuasa. Sejak usia 8 tahun aku puasa Nabi Daud. Sebulan aku puasa 15 hari. Sampai usia kini. Ya puasa adalah ritual untuk mengalahkan nafsu. Karena nafsu itu yang menggoda kita terhadap apapun. Bahkan kebaikan yang kita lakukan menjadi dosa karena  kesombongan.  Kekayaan yang kita miliki bisa menjadi sumber dosa karena tamak. Kemiskinan akan menjadikan kita berprasangka buruk kepada orang lain dan Tuhan. Dosa juga jadinya. Jel, bahasa keimanan adalah bahasa meniadakan diri kita dan semua yang ada kecuali Allah. 


Yang tahu kita puasa hanya Allah tapi manfaatnya kembali kepada kita sendiri. Kalau persepsi puasa kita benar maka apapun godaan tidak akan menggoyang keimanan kita. Engga ada yang perlu ditakuti sesuatu di luar kita. Bahkan fitnah dunia ini tidak akan melemahkan kita. Apapun yang menimpa kita adalah kebaikan. Baik yang terjadi kita bersukur. Buruk yang terjadi, kita bersabar. dan kita semakin kuat karena waktu dan keadaan. Kelak kembali kepada Tuhan dalam sebaik baiknya kesudahan.


***

Nasehat dari Masri itu tercatat rapi dalam buku harianku. Apapun " rasa" itu kembali pada diri kita sendiri. Jeruk itu manis, tapi itu hanya dilidah. Lewat lidah "rasa manis " itu hilang. Kalau kita tidak ada lidah tentu tidak merasakan manis. Namun rasa manis itu tidak datang begitu saja tapi lewat proses berpikir melahirkan persepsi bahwa jeruk itu manis. Rasa manis itu tidak pada jeruk tapi pada diri kita sendiri. Jeruk tetaplah jeruk.  


Nah , kalau kita bisa meng-eliminate "rasa " maka persepsi kita terhadap materi juga berubah. Otomatis nafsu sebagai pemicu timbulnya rasa lewat pikiran akan berkurang bahkan dengan keimanan bisa hilang sama sekali. Dengan begitu, secara kejiwaan kita kuat. Kita tidak lagi terisolasi oleh nafsu dan pikiran yang mendorong kita tergantung kepada di luar diri kita.


***

Medio akhir tahun 90, aku ikut program healing di Ponpes di suatu desa di Banten. Aku harus melalui ritual puasa selama 41 hari. Aku hanya berbuka puasa dengan air putih dan nasi putih tanpa sayur. Setiap hari seusai sholat melakukan wiritan. Setiap tengah malam bangun untuk sholat tahajud tanpa tidur lagi sampai subuh. Setelah beberapa hari disana ada pengalaman yang menarik. Tengah malam seusai sholat tahajud aku melihat ustadz sedang duduk seperti orang bersemedi di masjid.


“ Saya perhatikan setiap malam kamu bangun dan melaksanakan ritual sholat. Sangat khusu. “ Terdengar suara. Tapi aku tidak tahu dari mana sumber suara itu. Ustadz nampak tersenyum ketika melihatku kebingungan mencari sumber suara. “ Itu saya yang bicara. Saya menggunakan telepati bicara dengan kamu. Dengan bahasa ibumu“ Nampak wajahnya tersenyum. Langsung aku duduk menghadap dia.


“ Bagaimana anda bisa bicara dengan saya menggunakan bahasa ibu saya “ 


“ Persepsi saya tentang kamu bukanlah kamu seperti ujud mu.” 


“ Jadi apa ?


“ Gelombang pikiran, dan itu adalah energi. Makanya tidak sulit bagi saya masuk kedalam pikiran kamu, melalui gelombang itu.”


“ Bukankan energi manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Jadi bagaimana mungkin anda bisa masuk kedalam pikiran saya.”


“ Energi memang dibatasi ruang waktu tapi pikiran membebaskan itu.”


“ Pikiran apa ?


“ Tentang persepsi. Bahwa semua materi itu tidak ada. Yang ada hanya Tuhan.”


“ Lantas kita dan alam ini apa ?


“ Itu hanya visualisasi dari pikiran kita saja. “


“ Bagaimana dengan perasaan lapar, lelah, kecewa, dan senang, sakit, itu nyata ada dalam diri setiap manusia “


“ Itu manifestasi dari pikiran kita. 


“ Apa artinya itu semua? Bingung saya”


“ Semua yang ada disemesta ini tidak ada. Semua yang kita rasakan juga tidak ada.. 


‘ Tida ada ? Yang ada apa ? 

“ Yang ada hanyalah Tuhan. Tuhan memvisualkan semesta kepada kita agar kita mengagungkan Dia. Tuhan memanifestasikan pikiran lewat perasaan untuk kita mengagungkan Dia. Semua karena Dia. “


“ Oh…bagaimana dengan agama ?


“ Agama adalah kunci kamu memasuki gerbang keagungan itu dan menemukan rahasia tentang Tuhan.”


“ Caranya ?


“ Tiap agama punya cara yang diajarkan langsung oleh Tuhan melaui utusanNya.”


“ Untuk apa rahasia Tuhan ditemukan kalau toh pada akhir kita tidak ada.”


“ Untuk menunjukan Dia Maha Agung, tak terdefinisikan oleh apapun. Yang lain lenyap, bahkan kampung akhiratpun tidak kekal. Yang kekal hanya Tuhan, karena memang existensi Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, bukan yang lain.


Setelah pembicaraan itu , sehabis sholat subuh aku lebih banyak tafakur tentang Tuhan. Lambat laun persepsiku tentang Tuhan terbentuk. Bahwa tidak ada apapun di semesta ini selain Tuhan. Hanya Tuhan semata. Tanpa disadari aku tidak lagi merasa lapar bila makan sekali sehari. Yang lebih mencengangkan adalah aku bisa bangun tidur tepat waktu sesuai kehendakku tanpa di bangunkan oleh alarm. Cukup aku berkata kepada diriku “ Tuhan bangunkan aku jam 3 pagi.” Maka terjadilah.


***

Tahun 2006 aku berangkat ke Shaolin Tempel . Mengapa aku ke Klenteng. Pemahaman ritual agama Budha 90% adalah Tuhan. Cinta.  Hanya 10% dunia. Jadi wajar kalau aku belajar menemukan persepsi tentang Tuhan pada agama Budha. Aku ingin tahu bagaimana cara mereka menanamkan persepsi itu.  Aku harus ikut lelang donasi agar bisa mondok selama 40 hari di sana. Lelang itu dilakukan lewat internet. Akhirnya aku dapat email. Aku dapat kehormatan untuk mondok.



Aku diantar oleh Wenny dan James sampai depan gerbang Klenteng. Wenny tertawa waktu aku semangat masuk gerbang. Tapi James memelukku. “ Saya tahu kamu sanggup. Saya dan Wenny akan nginap di hotel. Jaraknya hanya 2 jam dengan kendaraan dari sini. Jadi kalau kamu tidak sanggup. Kamu minta izin keluar aja. Butuh jalan kaki 5 km sampai ke stasiun BBM. Dari sana kamu telp kami. Kami segera datang jemput.” kata James. Karena masuk klenteng itu tidak boleh hape.  Rokok juga tidak boleh.


Tidak ada program terperinci di klenteng itu. Aku hanya ikuti cara hidup mereka. Berpakaian seperti mereka. Rambut dibotaki. Puasa. Kecuali minum Air putih. Tidur tidak boleh pakai kasur. Beralaskan anyaman rotan dan bantal dari bambu. Kebayangkan gimana tidak nyamannya tidur.  Jam 2 pagi para biksu sudah bangun. Mereka meditasi. Aku juga bangun. Meditasi sesuai agamaku. Tafakur namanya.  Paginya. kita ke ladang bertani. Tidak ada toilet. Jadi kalau mau BAB yang bawa sekop untuk tutup kotoran kita. 


Seminggu puasa aku sudah merasa tidak tahan. Badanku lemah. Puasa dalam islam sampai jam 6 sore. Setelah itu boleh makan bebas sampai jam 4 pagi. Tapi ini tidak ada makan. Kecuali minum. Tapi aku tetap bertahan. Masuk hari ke 10, aku sudah benar benar tak ada tenaga. Tetapi para biksu itu  biasa saja. Mereka juga puasa. Kegiatan sama denganku. Kenapa aku lemah, mereka tidak? Ah aku harus kuat. 


Aku terus bertahan. Masuk hari ke 20 aku sudah benar benar lemah. Waktu meditasi aku sudah tak ada tenaga duduk. Tetapi ada yang tegurku. Aku terkejut. Siapa? dia menggunakan bahasa ibuku.  Aku ingat waktu mutih di Ciomas. Itu dia menggunakan bahasa telepati.


“ Saya ada disamping kamu. “ Kata suara itu. aku lirik kesamping.  “ Kamu sedang dikuasai raga kamu. Itu sisi terlemah kamu. Padahal kekuatan kamu itu ada pada jiwa kamu. Keluarlah dari raga kamu.” Lanjutnya.


“ Bagaimana caranya?


“ Semua hidup ini hanya ilusi. Lapar, sakit, haus, senang, marah, kecewa, sedih, itu hanya ilusi. Buah dari permainan pikiran saja. Materi itu tidak ada.. Ragamu lemah karena ia berusaha memperdaya jiwamu, agar jiwamu jadi budak ragamu. Selama kamu jadi budak ragamu, kamu terisolasi oleh pikiran kamu. Kamu  hidup dalam ilusi. Akan lemah selamanya. Orang lemah tidak akan menemukan kebijakan. Tidak akan menemukan jalan kepada Tuhan “ Katanya.


“ Ya bagaimana caranya keluar dari raga saya?


“ Hilangkan pikiran lapar, haus. Itu aja dulu. Cobalah.”


“ Terimakasih Pak.” 


Kata kata itu seperti cuci otak. Membenamkan persepsi baru kepadaku.  Selama seminggu aku gunakan persepsi itu bertarung melawan lapar. Akhirnya masuk hari ke 30 aku sudah tidak lemah lagi. Badanku terasa enteng. Bahkan aku bisa melihat gerakan kupu kupu dengan slow motion. Angkat gentong dari bawah bukit ke atas bukit enteng saja. Padahal sebelumnya aku  tidak sanggup. Mendaki tampa beban saja udah capek apalagi bawa beban. 


Prosesi hari ke 40 aku sudah semakin mudah. AKu bisa hanya 10 menit dalam meditasi menghilangkan semua benda sekitarku. Tidak nampak lagi. Benar benar senyap dan tenang. Euforia tak terbilang.  Hari ke 40 aku selesai.  


Pagi pagi biksu ketua tersenyum menatapku. “ Kamu sudah mengenal diri kamu dan tentu kamu semakin paham akan Tuhan. Jaga diri baik baik. “ Kataya lewat telepati. Aku rukuk memberi rasa hormat kepada dia.  


Saya keluar gerbang. Sudah ada Wenny dan James jemputku. Mereka berdua memelukku. “ Kamu berubah bro “ Kata James terkejut. 


“ keliatan lebih muda dari usia kamu. “Kata Wenny. Aku diam saja. Tetapi setelah kembali ke Jakarta. istriku juga terkejut. Karena aku nampak sangat muda dari usiaku. Berat badanku turun 6 kg. 

Makanya sampai sekarang kalau sholat, persepsiku sama dengan meditasi. Tidak ada apapun selain aku dan Tuhan saja. Selalu usai sholat kepalaku berembun. Sama seperti kalau aku meditasi. Usai sholat aku kapten atas jiwaku.


***

Hakikat agama sama. Apa ? menyibak rahasia diri kita. Siapa kita dan mau kemana ?. Jawabnya sederhana. Kita bukan raga tapi jiwa. Ketika mati, raga jadi tanah namun Jiwa itu milik Tuhan,  di sisi Tuhan. Artinya, disaat kita dikuasai oleh raga, maka saat itu juga kita menjauh dari sisi Tuhan. Kita akan sangat lemah dan pasti kehilangan jalan menuju Tuhan. Kalau kita tetap bersama Tuhan, jiwa kita menjadi kekuatan besar, dan tidak ada yang rumit dalam hidup ini. Semua jadi mudah termasuk rezeki juga mudah. Mengapa ? Kreatifitas alam bawah sadar kita cepat sekali merespon keadaan diluar kita untuk survival. Membuat kita selalu rendah hati dalam berbagi.

No comments: