Thursday, April 30, 2020

Memanusiakan mereka



Lima tahun lalu.
Yuni menemui saya bersama dengan Nungki. Saya melihat kening Nungki lebam. Dari wajahnya nampak dia kehilangan semangat hidup. Dia terus menunduk ketika menghadap saya, dengan tersedu sedu dia berkata kepada saya “ abang, saya dipaksa suami saya untuk melayani relasinya. Saya capek abang..” 
Saya menatap kearah Yuni untuk minta penjelasan.
“ Uda, dia menikah udah 17 tahun. Sekarang dia punya anak ABG. Sejak dua tahun lalu suaminya paksa dia melayani relasinya. “
“ Mengapa begitu ? Kata saya bingung.
“ Sejak suaminya kena PHK, kemudian terjun bisnis. Saat itulah Nungki di paksa oleh suaminya melayani relasi suaminya. “
“ Gimana nasip Nungki , abang ? “ kata Nungki terus menangis. 
Saya terdiam lama. Melihat keadaan Nungki membuat saya terenyuh. Malang sekali nasipnya,, Saya teringat dia datang ke rumah singgah saya karena tidak tahan dipukuli prema mucikari. Saya membantunya keluar dari cengkraman mucikari. Dia tinggal di rumah singgah sampai sembuh secara phisik maupun mental. Diapun saya kursuskan menjahit dan design. Tetapi otaknya lemah. Untunglah ada pria yang datang melamarnya. Nungki diboyong dari rumah singgah. Saya ikut bahagia. Kini setelah 17 tahun dalam usia diatas 40 dia harus menderita lagi dari pria yang dia harap untuk tempat berlindung dimasa tuanya.
Saya minta Yuni, bayar pengacara untuk laporkan suami Nung ke Polisi karena KDRT dan sekaligus urus perceraiannya. “ Kamu mau bercerai ?
“ Ya abang. Mau. " Nungki terus menangis " Saya udah tidak tahan, abang." katanya tersedu sedu.
“ Ya udah. Soal anak kamu, biar Yuni yang atur biaya pendidikannya. Kamu harus sabar ya Nung. Sabar. Kamu bisa buka kantin di pabrik Yuni. Itu bisa bantu penghasilan untuk kamu.” Kata saya ketika itu. Nungki sujud di kaki saya sambil menangis “ terimakasih abang … Nung terus merepotkan abang.” Saya menarik bahunya agar dia berdiri “ Kamu jaga kesehatan. Jangan tinggalkan sholat. Itulah yang akan menolong kamu. Ya sayang”
“ Ya abang. “

Kemarin…
Yuni bertemu saya di cafe. 
“ Uda, ada yang mau ketemu Uda. “
“ Siapa ?
“ Nungki “ Kata Yuni dengan tersenyum.
‘ OH ada apa ?
“ Putranya udah lulus di UGM. 
“ Ya ada apa dia mau ketemu saya ?
“ Boleh engga ?
“ Ya ya. mana dia ?
Yuni keluar dari cafe. Tak berapa lama nampak Nungki melangkah ke arah table saya bersama Yuni. Disampingnya ada anak muda.
“ Bud, ini om Jaka. “ Kata Nungki sambil melirik kearah anak muda.
“ Bunda, janji akan kenalkan kamu dengan malaikat Bunda. inilah dia. Berterimakasihlah kamu, nak seumur hidup kepadanya. ? Kata Nungki dengan air mata berlinang. Anak muda itu langsung menyalami saya seraya mencium punggung tangan saya. Saya merangkulnya “ Jangan berterimakasih kepada Om, terimakasih kepada Tuhan. Jaga ibu kamu, sekarang kamulah malaikat ibu kamu. Paham ya “
Anak muda itu menangis dalam pelukan saya. “ Ya. Om. Budiman janji akan jaga bunda selama lamanya. Akan bahagiakan bunda dimasa tuanya.”
Yuni nampak berlinang air mata menyaksikan suasana itu.
Setelah Nungki pergi “ Dari 8 orang adik asuh Uda, empat yang tidak beruntung hidupnya tapi kita berhasil membantu mereka. Semua anak mereka jadi sarjana. Tiga kerja di lingkungan perusahaan kita dan terakhir ini anak Nungki rencana akan yuni tempatkan di perusahaan kita di Medan.”
Saya menghela nafas.
“ Uda, misi Yuni jaga adik asik asuh uda, selesai sudah hari ini.”
“ Terimaksih Yun. Terimakasih. ”

***
Tahun 1990an sebagai pengusaha muda saya sering keluar masuk tempat hiburan malam untuk menjamu relasi saya dari luar negeri. Maklum mereka adalah buyer saya dan juga cukong yang ikhlas kasih saya modal. Setiap di KTV saya berusaha membuat relasi saya nyaman namun saya sendiri tidak terlibat dengan keasyikan layanan pramuria, PL. Kadang di sela sela keasyikan di room KTV itu saya gunakan untuk menasehati PL yang mendampingi saya, agar mereka bertobat. Lambat laun saya berpikir kalau saya bisa menasehati tapi tidak bisa memberikan solusi. Lantas apa gunanya nasehat itu.? Karena pernah saya dengar dari mereka ingin bertobat tapi tidak tahu bagaimana caranya ?

Suatu saat ada teman banker nawarkan lelang terbatas rumah yang disita karena gagal bayar. Harganya murah karena sertifikat bermasalah. Lokasinya di Rawa mangun. Saya beli rumah itu tanpa mikir apapun. Rumah itu saya jadikan rumah singgah bagi PL yang mau tobat. Mengapa saya beri nama Rumah Singgah? karena saya tidak mau rumah itu jadi tempat permanen atau semacam tempat rehabilitasi. Saya ingin mereka jadikan rumah itu hanya transit mereka menuju dunia normal. Kebetulan ada teman yang engga punya uang bayar kontrakan, saya tawarkan dia tinggal dirumah itu sekaligus sebagai bapak dan ibu asuh terhadap anak anak PL yang tinggal dirumah itu.

BIaya makan mereka saya tanggung. BIaya pendidikan kursus trampilan untuk yang tidak punya ijazah SMU saya tanggung. Yang mau kuliah, saya tanggung. Lambat laun jumlah penghuni rumah singgah mencapai 18 orang. Saya batasi sampai sebanyak itu saja. Karena saya tidak mungkin menanggung semua mereka yang bermasalah. Setidaknya dengan kemampuan saya, saya bisa berbuat walau kecil. Selebihnya saya berserah diri kepada Tuhan. Sehari hari yang urus anak anak mantan PL itu adalah pengurus , sementara saya sendiri tidak pernah datang ke rumah singgah itu karena kesibukan saya sendiri.

Apakah sulit saya menanggung mereka ? tidak. Ada saja teman yang berempati membantu biaya bulanan itu. “ Kamu menghabiskkan uang lebih 10 juta untuk 4 jam di KTV tapi kalau uang sebanyak itu kamu gunakan membantu rumah singgah, itu sudah bisa menghidupi mereka sebulan, Dan kamu telah berperan memberi cahaya bagi mereka yang sedang dalam gelap. “ BIasanya setelah itu mereka bisa disadarkan dan ikut membantu biaya bulanan .Tahun 2004 ke 18 orang itu keluar semua dari rumah singgah. Rumah singgah itu saya sewakan ke orang lain.

Dari Yuni saya tahu bahwa para alumni 18 orang itu, semua sukses menjalani hidupnya sebagai wanita terhormat. Tentu usia mereka kini tidak muda lagi. Ada yang bersuamikan Banker, ada jadi pengusaha Bunga, ada yang jadi pengusaha EO, ada yang jadi pengusaha agent kurir international, ada yang jadi pedagang pasar di daerah, ada yang bersuamikan insinyur tambang dan kini hidup damai di luar negeri. Bahka ada yang jadi istri ketiga ustadz kondang tahun 90an. Ada yang punya usaha konveksi. Sebagian besar mereka mendapaktan jodoh yang hebat dan ada juga yang masih sendiri, atau jadi single parent.

Kenangan tahun lalu teringat ketika bertemu dengan mereka. Bersama sama mereka mendoakan saya, membuat saya berlinang airmata. Mengapa ? karena mereka mendokan saya dengan air mata berlinang. Doa yang tulus tanpa bertepi. Betapa besar sekali arti pemberian saya bagi mereka, namun tentu jauh lebih besar rasa syukur mereka kepada Allah…Berkali kali saya kena penyakit berat dan selalu sembuh dengan cara mujizat tanpa operasi dan harus di opname. Berkali kali saya terpuruk dalam urusan yang tak tertanggungkan secara akal sehat, namun selalu lolos dengan kemudahan dari Allah. Mungkin itu berkat salah satu doa mereka untuk saya. Mereka para PSK itu memang salah dan berdosa. Tidak bisa dihadapi dengan dakwah dan hujatan bernada ancaman neraka. Mereka hanya lupa bahwa Tuhan mencintai mereka. Dan tugas kita mewakili Tuhan untuk menyampaikan pesan cinta itu. Lewat berbagi dengan tulus setulusnya..itu aja. Selebihnya urusan Tuhan.

No comments: