Friday, September 30, 2022

Menghentikan perang


 

Minggu lalu Awi minta bertemu. “ ada masalah, Ale” Katanya via SMS. Jarang jarang dia mengabarkan ada masalah. Ini pasti masalah serius. “ kita ketemu di safehouse” Lanjutnya. Nah ini masalah memang serius.  “ Dalam satu jam gua udah di tempat” kata saya singkat lewat SMS.


Sampai Safehouse di Apartement bilangan Sudirman. Keluar dari lift udah keliatan di ruang tamu Awi bersama dua orang.  Tetapi mereka tidak bisa lihat saya. Karena yang memisahkan saya dan  ruang tamu adalah kaca satu arah “ Ada apa ? kata saya ketika Awi menyambut saya.


“ Mereka ada masalah ? kata awi menunjuk dua orang tamunya.


“ Masalah apa ?


Awi menjelaskan masalah secara detail yang berkaitan dengan dua orang yang ada di ruangan itu.  Saya tatap dengan keras ke arah Awi. “ Lue suruh pergi mereka sekarang. Gua engga mau ketemu mereka.” 


“ Kenapa, Ale”


“ Gua tidak pernah bertemu dengan mereka. Tapi Boss mereka Gua  kenal, teman gua.


“ Siapa ?


Saya sebutkan namanya.  “ Hah dia? waduh Ale. Baru tahu gua ? 


“ Salah satu yang datang itu  istrinya artis. Dia proxy dari shadow businessman teman saya. Nah shadow businessman teman saya itu sedang perang dengan pihak lain. Karena dialah perang bintang terjadi. Ini masalah uang haram ilegal mining dan judi , macam macamlah”


“ Tapi Ale…”


“ Apa ? Saya membaca raut wajah Awi, Ini pasti masalah.


“ Kalau mereka kena, team Kamboja juga kena.“


“ Urusan apa dengan kita ? Emang lue masih main? Kata saya mengerutkan kening.


“ Udah engga lagi. Sumpah. “ Kata Awi tegas. Saya tahu dia jujur. 


“ Tetapi ….Ale.” Wajah Awi keliatan cemas.


“ Apa !! Ngomong yang jelas ! Kata saya melotot.


“ Kalau mereka kena,  gua pasti kena juga.” Awi sujud di kaki saya. “ Engga sepenuhnya bisa keluar Ale. Jejak pasti ada. Bantu gua Ale.” 


Saya termenung melihat awi sujud. Saya terenyuh. Saya harus terus menjaganya. Inikah harga yang harus saya bayar atas masa lalu yang kelam. “ Ya udah. Lue berdiri. “ Kata saya menyentuh bahunya. “ Biar gua urus.  Sekarang lue suruh mereka keluar. Gua akan bereskan masalah lue. Kalau engga bisa gua atasi ya  hari ini juga lue dan Yuni keluar dari Indonesia. Lue tahu kan kontak gua yang bisa lindungi lue orang. “


“ Ale, gua engga bisa tinggalkan lue sendiri di jakarta.” Kata awi geleng gelengkan kepala.


“ Engga Wi. Gua pastikan urusan ini selesai. Udah tenang aja. Percayalah kepada gua” Kata saya.  Awi menangis. Saya segera kembali masuk lift turun. “ gua tunggu di lobi basement” kata saya. 


***

Kendaraan Awi datang di lobi apartemen, saya langsung masuk kendaraan“ Udah pulang mereka? Kata saya saat di dalam kendaraan.


“ Udah Ale.” Kata Awi “ gua udah telp Yuni untuk siap siap kabur ke luar negeri. Dia akan ketemu kita di spa sore ini “ lanjut Awi.


Saya telp sahabat saya. Berharap dia bisa atur saya bertemu dengan seseorang yang bisa bantu saya keluar dari masalah  “ Chia bantu gua ya. “ kata saya diujung pembicaraan setelah saya jelaskan masalah.


“ Ya Ale. Tunggu 10 menit gua call back lue “ katanya.


Benarlah tak lebih 10 menit telp datang “ Ale dia mau ketemu. Apa perlu orang gua untuk back up lue?


“ Engga perlu. Terimakasih. “


“ Ok, dia tunggu lue di Ancol jam 1 sore. “ 


“ Siap” kata saya.


Saya minta Awi meluncur ke Ancol. Saya telp ke Macau  dan China. Serius bicara lewat jalur aman.


“ Ale, kita berdua aja. Yakin lue kita bisa hadapi. “ Kata Awi.


“ Bisa engga lue berpikir positif. Ingat disaat seperti ini, yang diperlukan berpikir positif. Karena secara logika lue dan gua sebenarnya udah mati. Paham engga sih lue. Kita sedang perang!  


“ Ya Ale..” 


“ Kenapa takut mati.?  Orang semua pasti mati. Hanya masalah waktu kok. Kalau engga senin ya selasa, ya hitungan hari hanya seminggu doang. Yang engga boleh kita mati sebagai pecundang. Lawan sampai titik darah penghabisan. Ngerti lue !


“ Ya Ale..” Kata Awi mengangguk sambil setir. Awi memang mental preman tapi engga pernah siap mati. 


Sampai di Ancol, depan lobi kami diperiksa ketat oleh sekuriti. Keliatannya mereka terlatih. Setelah itu kami dipersilahkan masuk.  Seseorang itu menyambut saya depan pintu kamar kerjanya. Dia hanya pakai celana pendek saja. “ Ale, Ale…akhirnya kita ketemu. Gua baru tahu lue teman baik Chia.  “ Katanya menyalami saya.


“ Ok, gini aja. “ lanjutnya setelah duduk di sofa. Sebelum dia bicara banyak, saya minta izin telp. Dia mengangguk. Tak berapa lama saya serahkan telp kepada dia. Pembicaraan hanya 3 menit. Dia terdiam. “ Ya udah. Gua beresin. Harusnya gua yang tanggung jawab. Maaf kalau udah buat kacau jaringan lue.”  


Saya langsung berdiri. “ Kalau begitu saya keluar. Saya pastikan kita tidak perang. Saya tarik mundur team saya. “ kata saya. Dia mengangguk lesu sambil duduk di sofa. 


Saya keluar dari kamar kerjanya. Awi ikut saya. Sampai di  dalam kendaraan saya telp “ Steve, tarik semua team di bandara. Sudah selesai semuanya.” 


“ OK bro.” Kata Steven via telp international.


Saya tatap Awi. “ masalah lue udah selesai.” kata saya. “ lue bebas.  Engga usah mikir macem macem. Kerja aja seperti biasa.” Lanjut saya. 


Ale, boleh tahu siapa yang lue telp tadi yang bikin dia takut ? Tanya Awi.


" Boss terkuat di Asia. Bahkan di Amerika dan di Eropa" 


“ Terimakasih Ale. “ Kata Awi dengan airmata berlinang. 


***


Kami sampai di tempat spa di kawasan Sudirman.  Udah ada Yuni menanti kami. Dia peluk saya." Uda,  engga apa apa kan. Yuni udah bawa tas. Siap berangkat." Katanya dengan wajah kawatir.


" Engga jadi. Kamu tetap di jakarta. Udah selesai masalahnya" Saya peluk dia. " Pulanglah. Istirahat. Anggap engga terjadi apa apa " Kata saya. 


Awi tersenyum meliat wajah yuni penuh kawatir dan akhirnya pulang.


“ Ale, gimana sih masalah sebenarnya? Tanya Awi ketika di ruang steam.


“ Mereka yang datang ke safehouse tadi siang itu kacung. Tapi mereka jago create story. Padahal sebenarnya ini engga ada kaitannya dengan Kamboja. Ini kerjaan mereka sendiri. Mereka udah cuci uang dalam bentuk property dan business legal. Engga ada lagi di luar negeri. Semua ada di dalam  negeri. Itu ratusan triliun nilainya. Mereka jadikan Kamboja sebagai kambing hitam. Seolah olah uang di luar negeri. Nah kalau begitu udah jadi urusan interpol. Blank spot dah urusannya


Orang yang kita temui tadi di Ancol punya banyak Proxy. Proxy nya  punya bisnis legal dalam bidang tambang dan industri, hiburan dan lain lain. Kepemilikan bisnis itu ditebar kebeberapa proxy, termasuk kepada selebritis.  Mereka juga beli rumah dan tanah atas nama proxy.”


“ Ale, gimana jaringan mereka, kenapa begitu kuat?


“ Ya mereka memang jago dalam hal kriminal dan jago menyamarkan diri. Mereka bukan hanya lakukan business ilegal, tapi juga terlibat mencuci uang ex orba dan judi online.  Begitu kuat dan luasnya jaringan mereka diantara aparat hukum. Mereka juga jadi makelar kasus. Seakan mengatur semua hal seperti negeri ini punya mereka. Hukum diperjual belikan. Kasus money game atau MLM pasti kena perangkap mereka. Itu uang pasti ludes dan korban money game engga mungkin dapatkan lagi uang itu. Dari putaran uang besar ukuran gigantik itu mereka mulai sentuh politik. Mendukung money politik untuk pemilu. “ Kata saya.


“ Tapi gimana pun hebatnya, mereka engga ada nyali perang dengan kita.”  Kata Awi spontan.


“ Duh Wi. kenapa sih lue. ? Kata saya mengerutkan kening. “ Kita bukan mereka. Dan kita engga ada urusan dengan mereka. Gua engga mau mereka  bawa kasus ke politik dan menjadikan teman teman kita di luar negeri jadi kambing hitam. Jadi, sebelum teman kita diserang, ya kita ingatkan bahwa  teman kita itu bukan kaleng kaleng.” 


“ Jadi kasus pembunuhan berencana yang sekarang marak itu, hanya sebatas jendral itu saja. Engga melebar kemana mana.  Tapi ongkosnya mahal ya. Hitungan pasti puluhan triliun. “ Kata Awi. “ Mayan untuk ongkos pemilu. Politik oh politik”  Lanjut Awi.  Saya senyum aja seraya menikmati uap steam sauna. Dalam Buku Democracy for Sale: Dark Money and Dirty Politics, by Peter Geoghegan, published by Head of Zeus menyebutkan peran uang haram atau uang gelap atau uang rente yang masuk kedalam sistem politik. Panetrasi uang rente ini luar biasa sehingga membuat demokrasi hanya sebatas prosedur formal saja. Kenyataannya pemerintah bekerja untuk kepentingan rente saja. Yang  miris, uang rente itu sulit dilacak pajaknya. Mereka dilindungi oleh elite politik.

No comments:

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...