Friday, September 23, 2022

Dihabisi oleh para bedebah.

 




Kemarin dapat telp dari Ira “ Ale, ada dimana ?


“ Saya lagi di Pondok Indah Golf.”


“ Ah dekat rumah saya. Boleh ketemu?


“ Kita ketemu di Opiopio ya. Jam 6.40 sore ya.”


“ OK”


Ira adalah sahabat saya Kami sudah bersahabat lebih dari 25 tahun. Dia pernah jadi anggota DPR pada awal reformasi. Kemudian dia mundur dari politik. Ambil S3 di AS. Terus bekerja pada lembaga multilateral. Kini dia sebagai senior advisor lembaga riset ekonomi dan sosial yang terafiliasi dengan lembaga riset international.


Seusai meeting dengan teman. Saya temui Ira. Ternyata dia sudah lebih dulu datang. “ Gua datang dari 30 menit lalu. Gua makan duluan. Laper. Sekalian perbaiki gizi. Kapan lagi ditraktir makan enak." Katanya tersenyum. “ Kamu makan?


“ Engga. Udah makan. Minum kopi aja” Kata saya.


“ Anak mantu gua sekarang terlalu bawel. Mereka sok ngatur gua. “


“ Ya karena mereka sayang kamu ira. Usia kamu udah 58 tahun. Sadar engga sih”


“ Emang gua udah uzur? matanya melotot.


“ Ya engga. Rasa kawatir anak itu karena mereka sebenarnya engga mau repot kita sakit. Sama seperti dulu ketika mereka masih anak anak. Kita bawel ke mereka. Kawatir mereka sakit.” Kata saya sekenanya dan minta dia realistis.


“ Ale, ini ada paper, Kamu coba baca “ Kata Ira menyerahkan dokumen. Saya baca. Saya mengerutkan kening. “ Darimana kamu dapat dokumen ini? kata saya setelah membaca semua.


“ Dari teman orang asing.”


Saya senyum aja.


“ Kamu liat itu data mereka yang dapat aliran dana itu” kata Ira.


“ Ya tapi untuk apa ?


“ Gua prihatin aja. Kenapa bisa begini negeri ini?


“ Ya mau gimana lagi.” Kata saya tersenyum.


“ Ale, usia kita udah mendekati 60 tahun. Kamu sedih engga melihat keadaan negeri seperti ini. Jokowi itu muara kebaikan dan spirit, tapi dihilir kita dapat sampah.”


Saya senyum aja. Meliat wajah ira sangat serius.


“ Dari 23 investor Nikel, 22 dari China. Harga Patokan Mineral (HPM) dipatok 50% dari harga internatonal. Itu karena pemegang saham proxy, ya kamu tahulah siapa mereka. Sama seperti Hutan kita dulu era Soeharto. Alasan hilirisasi. Pabrik triplek dibangun, kebun sawit dibuka seluas mungkin, apa hasilnya? Papan kita hasilkan tapi masih banyak rakyat tidak punya rumah sendiri. Kebun sawit luas, rakyat masih harus beli minyak goreng curah. Habis SDA kita dijarah. Kita dapat sampah doang. Yang menikmati hanya segelintir orang saja. Tidak lebih 50 orang saja.


Saya senyum aja.


“ Dulu era kolonial “ Lanjut Ira. “ kita penghasil gula terbesar di dunia. Era Soeharto kita eksportir gula. Tapi sekarang kita jadi importir gula terbesar di dunia. Dan itu semua terjadi karena kebijakan memanjakan 4 orang importir agar mereka semakin kaya. “


Saya senyum aja.


“ Lebih miris lagi, udah SDA dijarah, akumulasi putaran uang rakyat kecil juga dijarah lewat judi online. “ Lanjut ira dengan geleng geleng kepala. “ Harus ada yang bersuara, Ale. Jokowi itu tidak tahu soal ini. Harus ada yang  bersuara kencang..”


“ Oh ya” Kata saya.


“ Masalahnya orang sekitar Jokowi itu gila kekuasaan dan kemaruk harta. Mereka membungkus diri dengan retorika pro pancasila dan NKRI. Mereka juga ciptakan stigma anti pancasila dan NKRI bagi yang kritik pemerintah. Dengan UU dan hukum mereka menciptakan rasa takut kepada semua mereka yang kritik pemerintah.  Sementara mereka menikmati rente dari adanya kekuasaan Jokowi itu. Padahal Merekalah perusak sejati negeri ini.


Tempo hari kamu tahu kan ada munas Ormas agama terbesar. Ring kekuasaan juga ikut intervensi lewat operasi inteligent. Mereka rekayasa agar ketua umum terpilih dalam munas orang mereka. Tetapi untunglah elite ormas agama sadar. Munas pilih ketua umum yang bukan orang ring kekuasaan. Eh karena itu Bendahara Ormas  agama itu yang juga kader partai penguasa kena KPK soal izin tambang. Itu karena dia engga loyal kepada partai tapi loyal kepada ormas agama.


Sementara pengusaha yang dekat dengan oposan juga dihabisi secara sistematis. Itu kamu kan tahu si Apek. Dia dihukum berdasarkan angka imajiner kerugian negara. Sementara kasus TPPI yang melibatkan elite partai koalisi aman saja. Yang kena hanya proxy dan pejabat teknis doang. Gubernur oposan juga di trap dengan tuduhan korupsi berdasarkan laporan PPATK. Sementara PPATK tidak perlakukan sama terhadap penerima aliran dana judi online. Saya selalu dukung operasi anti korupsi tetapi harusnya kan operasi tampa tebang pilih. Bukan politik. Murni karena ingin menerapkan law enforcement. " Kata Ira dengan wajah kesal.


Saya menyimak. Saya tahu Ira butuh kuping saya untuk mendengar. Itu juga bagus untuk kesehatan dia.


" Ale..lanjutnya. " Banyak pengusaha mendapatkan fasilitas rente berkat ring kekuasaan Jokowi. “Kamu kenal  ini orang ini” Kata Ira perlihatkan photo di hapenya. 


“ Ya saya kenal “ kata saya mengerutkan kening.


“ Nah dia yang tebar uang ke DPR untuk revisi UU Minerba, yang memanjakan pengusaha tambang batubara dan nikel. Tuh orang juga berteman baik dengan ring 1 partai yang jadi pejabat tinggi negara, sehingga dia bisa juga kendalikan banyak perwira tinggi Polisi dan Kejaksaan untuk melancarkan bisnis ilegal seperti ilegal mining,  human trafficking, gamebling online dan lain lain. Dari dia aja mungkin ratusan triliun rupiah uang rente berputar. Belum lagi yang lain. Negeri ini sedang dihabisi oleh para bedebah. Kita sedang tidak baik baik saja Ale..." kata Ira dengan tatap kosong ke arah jendela. Dia seperti kehilangan kata kata.


“ Ira, saya kawatirkan kesehatan kamu. Bisa engga, kamu engga usah mikir terlalu jauh. Udah dech..Nikmati saja hidup kamu.” Kata saya.


“ Kenapa ? lue tersinggung? karena lue juga bagian dari yang menjarah negeri ini! Teriaknya.


Saya senyum aja. Saya pindah duduk disamping dia, dan rangkul dia.” Udah ya ngomongnya. Bicara yang lain aja.” Kata saya dan dia tersenyum. “ Gua kesepian, Kadang gua pengen telp lue, tetapi engga ada alasan. Malu..” 


“ Kan kamu bisa telp aku kapan saja.”


“ Malu, Ale..”

“ Kamu sahabat saya. Itu tidak akan berubah..” Kata saya peluk dia. 


Saat pulang,  di loby cafe sudah menanti anak dan mantu Ira. " Nah kan Om Ale datang kan mah. Mau kan ketemu mama." Kata Ari putranya.


" Emang kanapa? tanya saya melirik Ira.


" Dari kemarin mama tanya saya, Ari mama mau telp Om Ale, tapi engga enak. Pasti dia sibuk.  Terus Ari bilang, Om Ale kan sahabat mama. Kenapa sungkan telp. Yakinlah, mama telp pasti om Ale terima dan pasti ketemu dchh' Kata Ari  melirik  mamanya. Ira tersenyum dan dengan lembut pukul putranya. " Ah sudahlah. Pulang kita." Katanya melangkah cepat ke arah kendaraan terpakir. Saya senyum aja. " Permisi Om." Kata Ari.

" Ya Jaga mama kamu ya."

" Ya Om."

No comments:

Idealisme ?

Rahmat teman SMP ku. Ayahnya kepala sekolah. Dia memang pintar di sekolah. Beda denganku yang setiap dapat lapor sekolah dengan nilai  rata ...