Friday, October 22, 2021

Menari dibalik kabut...

 



Hong Kong.

Sore itu saya datang ke tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan seseorang. Karena teman yang rekomendasi, saya penuhi pertemuan itu. Bertempat di restoran kecil di pojok jalan. Memang ini lingkungan cafe di kawasan central Hong Kong. Walau tempatnya kecil tetap saja sewanya mahal. Harga menu engga murah. Belum sempat pesan menu, seorang wanita usia empat puluhan mendekati saya. “ Saya dari Pak Denny. Saya baru sejam lalu mendarat dari NY “ Katanya dengan wajah dingin.


“ Duduklah.” Kata saya cuek sambil pilih menu.

Pelayan restoran datang. “ Ayam Hainan.” kata saya. 

“ Dan anda “ kata pelayan itu kepada wanita depan saya duduk.

“ Kopi saja.” 


Pelayan berlalu. Wanita itu mengeluarkan amplop warna kuning. Saya membuka amplop itu. Setelah membaca sekilas. Saya masukan kembali dokumen itu kedalam amplop. Saya mengambil cheque dari balik saku jas saya. Menyerahkan ke wanita itu. Tampa melihat jumlah tertera di cheque itu, wanita itu pergi dari hadapan saya. 


***

Singapore

Saya jalan kaki dari Mandarin Orchard ke Hotel Four Season. Sampai di Hotel, Denny dan Wenny sudah menanti saya di lobi. “ Mereka tunggu kamu di lantai 6. Team mereka lengkap. Kamu siap? Kata Denny. Saya tersenyum saja seraya melangkah cepat ke arah lift diikuti oleh Wenny dari belakang. Di dalam lift Wenny memperbaiki dasi saya dengan tersenyum. “ Mengapa kamu tidak pernah rapi? Katanya. Saya diam saja.


Di ruang meeting, mereka hadir dengan lengkap. Mereka memperkenalkan diri satu persatu. Saya menjawab hormat. Salah satu dari mereka tampil menyampaikan presentasi bisnis. 

“ Dari lokasi ini “ katanya mewakili presentasi dengan menunjuk satu peta kawasan property. “ ke jakarta, membutuhkan jarak tempuh 1 jam.  Harga tanah di kawasan itu Rp. 20 juta per M2. Sekarang ada lokasi ini ” Katanya menunjuk arah petan lain yang merupakan lokasi proyek yang hendak dibangun. 


“ Lokasi ini sekarang harga tanah Rp. 1 juta. Nanti berkat adanya akses transfortasi modern ke lokasi ini, dibutuhkan waktu tempuh hanya 15 menit. Harga tanah akan naik Rp. 20 juta per m2. Itu masih sangat murah. Bandingkan dengan kawasan TOD di China yang harganya tanah di TOD bisa mencapai Rp. 60 juta per m2.” Katanya melanjutkan. Kemudian dia masuk kepada analisa yang berkaitan dengan aspek legal, tenis, marketing dan financial. Singkatnya dari kenaikan harga tanah pada TOD saja sudah bisa bayar hutang bangun akses transportasi. Sebuah exit strategy yang jenius. Saya tidak begitu tertarik dengan angka angka itu. Saya sudah tahu agenda mereka. 


Saya membuka tas kerja saya dan mengeluarkan tiga lembar dokumen.  “ silahkan baca dokumen ini. Saya minta pihak yang saya tunjuk untuk tanda tangani dokumen ini. Saya pastikan dalam seminggu komitmen bank  akan keluar. Masalah pembiayaan selesai. “ Kata saya. 


“ Bagaimana anda yakin ? kata salah satu mereka


“ Di sebelah saya banker yang mengatur komitmen itu” Kata saya memperkenalkan Denny. Tampa saya komando Denny videocon dengan banker di NY. Semua menyaksikan komunikasi dengan banker itu. Mereka tidak percaya. Saya berdiri dan minti izin undur diri, Saya males bicara lebih banyak. 

"  B, Seru Danny waktu keluar dari ruang meeting." Jadi gagal? 

" Kita meeting bukan untuk deal. Kita hanya lempar umpan. Nanti yang kail orang lain. Terimakasih udah temanin saya meeting" kata saya.


***

Beijing.

Chang datang ke hotel Central Park Beijing sebelah hotel Hyatt tempat saya nginap. “ Kenapa engga di Panninsula ? Kata Chang

“ Kebetulan malam ini saya ada janji makan malam di Germany Club dengan teman. Tempatnya di hotel ini.” Kata saya.

“ Kamu yakin mereka akan patuhi business model yang kamu inginkan dalam proyek konsorsium itu? Tanya chang sambil lalu waktu minum kopi di lounge  executive.

“ Apa penting itu ?

“ Ya penting. Karena tampa business model seperti itu, engga mungkin proyek trasnfortasi modern itu bisa mendatangkan laba. Mau engga mau pada akhirnya negara Indonesia harus tanggung jawab.”

“ Selagi dokumen ini ditanda tangani, apakah masih relevan bicara resiko dari sisi anda? Kata saya memperlihatkan draft dokumen. Chang baca sebentar. Dia tersenyum dan mengangguk. “

“ Tapi apa iya tanpa sovereign guarantee,  banker mau berikan credit. Kan dokumen draft ini tidak kuat, apalagi tanpa persetujuan DPR “ kata Chang.

“ Selagi dokumen itu ditanda tangani, akan aman saja. Banker di NY yang menjamin resiko atas dokumen tersebut. “ 

Chang pandang saya lama. “ Bro, kamu tempatkan kami dalam posisi sulit.”

“ Ini bisnis. Negeri kami masih dibawah kapasitas ekonominya. Peluang berkembang masih sangat besar. Sementara negara lain sudah over capacity. Please, anda ragu, AS masuk. Atau ikuti skema saya. Anda akan dapatkan peluang lebih luas bermitra dengan kami.”

“  Saya dengar kabar salah satu menteri akan berkunjung ke Beijing minggu depan. Dia datang bersama team EPC proyek. Katanya rapat dengan banker.” kata Chang. Saya tidak peduli.

“  Nah tugas anda meyakinkan banker di sini” Kata saya tersenyum. Chang terdiam seperti sedang berpikir. Saya berdiri dan kancingkan jas saya. “ Permisi Chang. Saya ada janji ketemu relasi saya. Senang bertemu dengan anda.” kata saya seraya membungkuk.


***

KL 2019

Yuni datang bersama Esther ke Hotel Istana. Saya ajak mereka makan malam di Pulau bintan. “ Hebat, proyek tranfortasi itu berjalan mulus. Masalah tanah sudah hampir 100 persen selesai dibebaskan. Tapi yang jadi masalah adalah soal TOD. Seperti n nya pemda belum berani mengubah tata ruang. Apa yang terjadi apabila TOD gagal sebagai business model”


“ Jawab sendiri.” Kata Eshter. Saya tersenyum. Yuni melirik ke saya. “ Negara ya bailout. Jadi proyek APBN. ?  Tapi kan ada Perpres 2015. Engga ada APBN”Lanjut Yuni

“ Kan refinncing lewat TOD. Kalau TOD engga jalan, ya default hutang kontruksi. Terus yang mau tanggung jawab untuk biaya kontruksi siapa? Kata esther. Yuni terdiam.


“ Uda kenapa diam dan senyum senyum aja dari tadi? Kata Yuni. Esther tertawa.  

" Kamu itu kepoan. B, itu engga suka diskusi soal gituan. Tetapi omongan kamu dia catat baik. Akan jadi tema dalam tulisan dia di blog dan page.” Kata Esther.


Usai makan malam, Yuni langsung ke kamar. Tetapi Esther temanin saya minum wine di cafe bersama James. “ Saya dengar kabar kamu udah keluar dari cross guarantee settlement dengan pihak NY. Benar?


“ China yang minta saya keluar. Ya 70% pinjaman itu kembali ke CHina lagi dalam bentuk impor pengadaan EPC. Setidaknya China mengukuhkah hegemoninya terhadap ekonomi Indonesia. Itu lebih baik daripada AS. “ 


“ Dan kamu dapat fee dari Chang. Karena berkat dokumen dari kamu, Chang dapat posisi. Dia dapat fee dari pengadaan EPC. Padahal itu hanya selembar dokumen SWAP guarantee settlement. Tetapi dengan itu kamu benturkan politik AS dan China. Bisnis cari uang mudah. “ Kata Esther. 


“ Sok tahu kamu?


“ Semua langkah kamu saya tahu. Denny kan teman saya. Kamu kenal dari saya.” kata esther sewot. “ Baru saya tahu, ternyata dokument dari NY itu hanya credit enhancement yang ilegible, yang tidak ada isi. Teganya kamu make use, Danny.” Esther bicara dengan nada tinggi.


“ Saya engga make use. Itu semua ada ongkosnya. Tapi okelah. Maafkan  saya. Saya tahu, kamu tidak pernah percaya saya.” Kata saya tersenyum.


" Saya tahu jalan pikiran kamu. Kamu tahu percis mereka yang terlibat dalam proyek itu rakus dan pasti umpan kamu mereka makan. Itu kan skema too good to be true.  Chang itu pedagang, dengan dokumen dari kamu itu, dia pasti mudah yakinkan semua pihak, terutama bank di China dan juga politisi. Kamu memang tidak bergerak dan tidak ada dimana mana,  tapi kamu melempar racun ke mereka semua. Jahat kamu, B" Kata Esther.


" Saya engga jahat. Saya hanya survival saja. Berharap program pemerintah bisa jalan. Infrastruktur bisa terbangun. itu aja."


" Jangan hipokrit depan saya. Akui sajalah" Esther semakin keras.


" Loh apa salah saya berprangsangka baik. Kalau benar business model TOD bisa diterapkan kan bagus. Semua happy. " Kata saya.


" Dan kamu tahu pasti TOD itu akan gagal. APBN akan bailout. Karena rente tanah akan dibagi bagi ke pengusaha yang dekat penguasa. " Esther semakin emosi. Saya diamkan saja. Dia memang begitu. Kami saling berdiam. Saya tahu esther sedang berpikir. Entah apa yang dia pikirkan. Yang jelas dia sahabat saya. Dia yang tak ragu kritik saya. Tapi dia pula yang selalu ada untuk saya.


“ Tapi setelah melewati resiko dan kamu keluar sebagai pemenang, Kamu seksi banget. kecerdasaran kamu itu yang seksi. Jangan GR. ya.” Kata esther kemudian.. Saya tertawa.


“ Gimana kalau kita buka botol wine.? Kata esther dengan mata penuh arti.


“ Kamu engga kawatir  mabok. Hotel kamu jauh loh dari sini”


“ Mabok? kamu gendong aku ke kamar.” Kata esther polos dan dia pesan wine satu botol kepada waitress.***


Disclaimer : Nama dan tempat fiksi belaka.

Source : MYdiary.

No comments: