Friday, October 08, 2021

Hadiah cinta dari Tuhan.

 

“ Pulanglah. Sudah 15 tahun kau merantau. Ketika ayahmu meninggal kau tidak datang. Kini ibumu sedang sakit sakitan pula dan kau masih juga belum mau pulang. Anak macam apa kau ini ? Laki laki memang harus merantau tapi jangan pula merantau china. Lupa pulang. Lupa kampungmu sendiri. Lupa orang tua yang mencintai siang dan malam. “ Demikian kata teman lamanya ketika dia amprokan di Bandara Changi singapore.


“ Entahlah. Aku masih sulit berdamai dengan sikap Ayahku. Ayahku tidak restui aku menikah dengan Linda. Padahal itu cinta pertamaku. Sampai kini sudah kepala 3 usiaku, kututup hati untuk semua wanita."


“ Linda sudah menikah. Ikut suaminya ke Medan. Apalagi yang kau nanti? menanti dia jadi janda? 


“ Ya. Bila perlu janda beranak 4 pun aku tunggu dia.”


“ Tolol kau Bas. “ Kata temannya seraya mencibir. “ Tapi okelah. Itu sudah pilihan kau. Bagaimana dengan ibumu? apakah kau lupakan juga hanya karena cinta kau kepada Linda tidak direstui?


“ Aku tidak pernah lupakan orang tuaku. Sejak di rantau, setiap bulan tetap aku kirimin uang ke kampung.”


“ Ibumu bukan hanyan perlu uang tetapi kehadiran kau, Bas..”


“ Masalahnya ibuku minta aku menikah dengan Marina, tetanggaku yang juga sepupuku. Kalau aku pulang, pasti ibuku suruh aku menikah dengan Marina, ada kolot itu.


“ Kenapa ? Karena tidak secantik Linda?


“ AKu tidak mencintainya, B. “ 


“ Cinta bisa datang belakangan.  Pulanglah dan sujud di kedua kaki ibumu. “


***


Dia terbayang kemasa lebih 15 tahun lalu ketika di kampung. Dia pria yang gagah dan pandai berseni. Pemain gitar yang hebat dan disenangi oleh banyak gadis. Dia bangga dengan semua yang ada pada dirinya. Apalagi ketika Linda, gadis cantik,  berlesung pipi anak babah Amo terpukau dengan setiap lentingan gitarnya. Linda selalu memberikan senyum indah kepadanya, di sekolah, di jalan. Tak sulit untuk menjangkaunya. Semua isyarat yang dilihatnya sudah memastikan Linda menyukainya. Dari bertegur sapa dan akhirnya menjadi akrab. Cintapun berlabuh dalam hati untuk melihat yang tak terlihat. Hatinya berbunga manakala membayangkan wajah Linda sebelum berangkat tidur.


Namun cinta yang bersemi itu tidak diatas lahan yang rata. Ada pematang yang luas memisahkan mereka. Linda tak seiman dengannya. Soal harta dan kekayaan , dia tak sebanding dengan keluarga Linda yang pedagang besar di kotanya. Ayahnya hanyalah pegawai negeri golongan rendah. Teramat rendah untuk di sejajarkan dengan orang tua Linda.  Cinta itu mengaburkannya dari realitas bersyarat. Dia yakin akan diterima oleh keluarga besar Linda. Namun syaratnya diapun harus bisa membuktikan bahwa dirinya pantas untuk ditumpangi. Bagaimana caranya?. Dia hanya pelajar sekolah menengah. Dia akan rebut keyakinannya untuk seorang Linda. Kelak bila dia lulus sekolah , dia akan pergi merantau  untuk mengejar harapannya menjadi orang sukses di kota. Dia yakin.

Di tengah untaian kebahagiaan bersama Linda, ada sesuatu yang membuat dia berang. Apa? Seorang gadis lain, Marina, yang begitu akrab dengan keluarganya. Maklum saja Marina itu tak lain adalah sepupunya, yang juga tetangganya. Diam diam dia mengetahui betapa kedua orang tuanya menginginkan agar Marina kelak menjadi istrinya. Pulang kabako, itu ada kolot.


“ Tak perlulah merantau jauh. Di kota ini kamu bisa melanjutkan kuliah. Atau kamu bisa bekerja di tempat ayahmu bekerja sekarang. Atau kamu bisa membantu ayah Marina berdagang di pasar. Kelak kamu bisa pula menjadi pedagang untuk bekal kamu berkeluarga.” Demikian kata ibunya ketika dia lulus sekolah. 


Ada kekesalan di dalam dirinya ketika ibunya menasehati itu. Dia merasa tak lebih hanya seonggok daging yang tak punya nilai apapun. Masa depannya begitu mudah direncanakan dan dilalui. Tapi hanya untuk jadi jongos dan pedagang kumuh di pasar yang berlantai tanah. Tak bisa! Aku bukanlah pria yang selemah itu. Aku akan menjadi lain bila aku bisa mengambil resiko untuk masa depan yang kutentukan sendiri. Demikian tekadnya. Tak ingin dia berdedat panjang lebar soal masa depannya kepada orang tuanya. Hanya satu yang dia tahu bahwa niat orang tuanya agar dia tak jauh dari rumah dan menikah dengan Marina , sepupunya. Ini pikiran kolot.


“ Bercerminlah dengan diri kamu sendiri. Apa yang kamu harap dari Amoi itu. Agamanya berbeda dengan kita. Adat kita tak sama dengan mereka. Kau juga tahu , orang tuanya tak suka dengan kau. Mau apa lagi?. Mau merantau kemana ? apa yang kamu bisa untuk bertahan hdiup di kota besar? Paling paling kamu hanya membebani kerabat kita di sana. Di sini sajalah , ya nak. “ Nasehat ibunya. Kan benar. Ujung ujungnya nasehat itu berakhir pada niat orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Marina.


Dia hanya tahu bahwa orang tua Linda tak keberatan untuk menerimanya asalkan dia pantas diterima. Dan itu bila dia punya kelas yang sama dengan keluarga LInda. Ini bukanlah permintaan yang berlebihan. Semua calon mertua menginginkan calon mantu yang hebat. Dia akan buktikan itu. Tekadnya sudah bulat untuk merantau. Diapun berangkat meninggalkan kota kelahirannya dengan dilepas linangan airmata oleh ibunya. " Elok elok di rantau. Jaga selalu sholat ya Nak." Kata Ibunya, memeluknya erat. Ayahnya hanya diam tanpa ada satu kata keluar. 


"Selamat tinggal kampungku, selamat tinggal teman sepermainan. Tunggulah aku datang dengan wajah dan nasip berbeda." Katanya dalam hati.


***


Awal merantau dan merasakan kejamnya ibukota , dia merasa kecut dan ingin segera pulang. Tapi ingat akan janjinya dengan Linda, niat itu diurungkannya. Untuk masuk universitas dia tak berbakat. Untuk berdagang, modal tak ada. Maka satu satunya modal yang dia punya adalah jadi salesman freelance. Dia hanya berharap agar suatu kelak dia dapat sukses. Setiap bulan dia terus berkirim surat kepada Linda soal hidupnya di kota dengan segala impiannya. Awalnya surat itu berbalas cepat. Namun tahun demi tahu sudah lambat dibalas dan akhirnya tak lagi berbalas. 


Namun dia terus mengirim surat dan surat. Dia baru berhenti berkirim surat ketika dia tahu bahwa Linda sudah menikah dengan pria pilihan orang tua. Harapannya pun punah. Tapi tak mengurangi tekadnya untuk sukses menurut caranya. Justru dengan menikahnya Linda, menimbulkan dendang dengan masa lalunya. Dia yakin kemiskinannya telah membuat dia berjarak dengan Linda dan akhirnya kehilangan Linda.


Setelah lebih 5 tahun dia merantau, Hidupnya memang berubah. Dia sudah jadi pengusaha sukses. Namun hatinya tetap hambar. Pintu hatinya tertutup kepada wanita.  ibunya tak lagi menyebut nyebut soal Marina. Ibunya hanya menitipkan pesan agar dia tak meninggalkan sholat dan terus berdoa agar dia selamat di rantau dan segera pulang. Itu saja. Di dalam surat ibunya tak pernah mengabarkan soal sakit. 


Dia baru tahu ibunya sakit itu dari teman lamanya yang kebetulan bertemu di Bandara Singapore. Tak terasa telah hampir 15 tahun dia merantau. Setelah bertemu dengan temannya, bila memikirkan keadaan ibunya yang sakit, keinginan untuk pulang itu semakin besar. “ Pulanglah. Sudah cukup waktu yang ada untuk membuktikan siapa kau. Sehebat apapun nasipmu, seburuk apapun nasipmu, kau tetapkah putra ibumu. Pulanglah. “ nasehat temannya.


***


Dari bandara dia naik taksi ke rumahnya. Dalam perjalanan dia perhatikan kotanya. Keadaan sudah banyak berubah namun kotanya tetaplah kota kecil. Sampai di rumah. Rumah terkunci. Nampak pekarangan rumahnya bersih dan terawat dengan baik. Di ketuknya pintu rumah itu. Tak berapa lama, pintu terkuak dan di hadapannya nampak Wanita yang tak lagi remaja. Marina..


“ Bang Basarudin ?


“ Marina ..” Katanya terkejut. Dia cepat masuk kedalam rumah “ Mana Mandeh? “ katanya setengah berlari kedalam kamar ibunya. Marina mengikutinya dari belakang. Di dalam kamar itu nampak ibunya berbaring. Dia peluk ibunya dan airmatanya tumpah. Di lihatnya ibunya semakin tua dan renta, apalagi dalam keadaan sakit ini.


“ Alhadulillah. Pulang juga akhirnya kamu nak..”


“Maafkan aku Mandeh. Maafkan aku.. Aku anak yang tak pandai berbakti kepada orang tua. Maafkan aku Mandeh. Seharusnya setelah ayah meninggal, aku menggantikan ayah untuk menjaga Mandeh.. “ Kata Basarudin dengan airmata berlinang.


“ Engga apa apa. “ Kata ibunya dengan terengah engah. “ Kan ada Marina yang setia merawat Mandeh. Dulu waktu ayahmu sakit, Marina membantu Mandeh merawat ayahmu. Hampir 6 tahun ayahmu lumpuh karena terserang struk dan akhirnya meninggal. “


Di tetapnya Marina yang ada di belakangnya. Marina tersenyum kepadanya. “ Kata dokter mandeh terkena penyakit jantung. Kesehatannya dari hari kehari semakin menurun, bang. “ Airmata Marina berlinang “ Setiap hari Mandeh selalu menyebut nama abang. Dan kini lihatlah wajahnya mulai memerah dan nampak segar. Kiranya rindunya tertunaikan kini. “


“ Ya , Mar…Abang memang anak durhaka. “ Hanya itu yang dia dapat katakan sebagai ujud sesal yang tak bertepi.


“ Kau sudah mau pulang saja ,sudah lebih dari cukup bagi Mandeh. “ Kata ibunya dan berusaha untuk duduk dari pembaringannya. Dia  membantu ibunya duduk.


“ Nah , mandeh, sekarang bisa makan kan ? Mar suapin ya? .” Marina tersenyum kearah ibunya. “ tadi malam mandeh bermimpi melihat abang pulang. Sejak itu dia tak mau makan. Setiap sebentar dia melirik ke pintu rumah. Dia yakin sekali abang akan pulang.” Kata Marina. Dia perhatikan setiap suap makanan yang masuk kedalam mulut ibunya. Diapun memperhatikan pancaran wajah Marina yang begitu tulus merawat ibunya.


‘ Gimana keadaan suami kamu., Mar “ Katanya tersenyum. Marina diam memerah wajah.


“ Si Mar belum menikah. Dia masih sendiri. Usianya sudah 30 tahun. “Kata ibunya dengan airmata berlinang.


“Kenapa belum juga menikah? “


Marina hanya diam.


“ Awalnya banyak pria yang hendak malamarnya. Tapi Mandeh mengharapkan dia untuk jadi istri kau. Dan orang tuanya juga setuju. Tapi setelah lima tahun kau dirantau , orang tuanya tak lagi berharap kepada kau. Namun setelah itu tak ada lagi pria yang hendak melamarnya.l Kini usianya sudah 30 tahun, dikota ini mana ada pria yang suka dengan wanita seumur itu. “


Dia tersentak. Walau cinta tak berbalas, namun Marina tak berkurang cintanya kepada kedua orang tuanya. Marina juga tahu bahwa dia tak pernah mencitainya. Cintanya ada pada Linda. Diapun tak pernah berkirim surat kepada Marina. Tak ada janji apapun. Apa yang dilakukan Marina kepada kedua orang tuanya tak lebih ujud keiklasan kepada Budenya, (adik dari ayahnya)  dan itu berkat didikan orang tuanya. 


Lima belas tahun penantian untuk cinta bukan waktu yang lama. Tapi penantian tuntuk sesuatu yang tak berharap kepada manusia kecuali kepada Tuhan , bukanlah waktu yang sebentar dan mudah. Benarlah ibunya yang menginginkan dia menjadikan Marina sebagai istri. Gadis sederhana yang santun kepada orang tua. Yang tak pandai bersolek namun wajahnya bercahaya. Yang tak pandai mengungkap perasaan hatinya kecuali ikhlas menerima apa saja hanya untuk beribadah kepada Tuhan.


Setelah seminggu dia berada di rumah. Ketika dia sedang duduk di beranda rumah menghadap taman bunga. Marina muncul dari balik pintu. “ Kapan abang kembali ke Jakarta “ Kata Marina dengan tertunduk. Tak ingin duduk berhadapan dengan dia. Begitu adat mendidik perempuan di kampung.


‘ Abang akan kembali ke Jakarta, setelah… “ katanya


“ Setelah apa bang? Kata Marina dengan wajah tertunduk.


“ Setelah abang bertemu dengan paman untuk melamar kau. Marina,  mau ya jadi istri abang.? Ikut Abang ke Jakarta. Mandeh juga ikut kita ke Jakarta. Sama sama kita rawat mandeh ya” 


Wajah marina bersemu merah. 


“ Alhamdulillah..” Kata ibunya yang ternyata mendengar pembicaraan itu. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berlutut dihadapan Ibunya, “  Mandeh, restui aku menikah dengan Marina.” katanya. Ibunya mengusap kepalanya. “ Kau anak satu satunya mandeh. Kau permata hati mandeh. Berdirilah. Temuilah segera pamanmu. Dia juga merindukan kau.” Kata Ibunya tersenyum bahagia seraya melirik kearah Marina yang tertunduk malu dan sekejab kemudian Marina berlari kecil menuju rumahnya yang berada disebelah. 


Sebuah keikhlasan akan pasti berbalas dari Tuhan, untuk sesuatu yang tak terbayangkan. Marina mendapatkan Basarudin lewat proses yang tidak pasti dan cinta yang tak berbalas. Namun semua itu mudah bagi Tuhan. Cinta sejati ( true love) datang seiring dengan waktu dalam  kesabaran tanpa batas.

No comments: