Friday, April 14, 2023

Karena rente, sulit untuk berubah..

 





Saya baca SMS dari Ira. Itu sudah kesepuluh kali dia kirim SMS. Tapi tidak pernah saya response. Karena saat itu saya sedang focus menghadapi masalah bisnis. Akhirnya saya telp dia. “ Honey, apa kabar ? Kata saya mengawali salam saat dia terima telp : Hallo


“ Ngapain lue telp gua. Memang kalau perempuan udah nenek nenek engga lagi menarik, bahkan sekedar membalas SMS pun tak lagi bergairah.” Katanya terdengar ketus diseberang.


“ Duh segitunya ngambek. Gua kangen lue omelin gua. Ketemu ya” 


“ Ya udah. Lue datang aja ke kantor gua sore. Karena sore gua dampingi UKM dan Koperasi untuk deal dengan investor asing” kata Ira. “ Mau ! Lanjutnya.


“Siap “ Kata saya. 


Sore saya datang ke kantor Ira di Sudirman. Dia sambut saya dengan ceria. Engga lagi terkesan ngambek. “ Langsung ke ruang meeting aja. Kita lagi dengar presentasi potensi Alga dan jahe di Daerah” katanya. Saya ikut aja. Duh lihat bokong Ira dari belakang dan caranya jalan.Engga terkesan dia udah kepala 6. Masih lincah dan bergairah. Dia memang well educated dan gaya hidup dengan standar yang sehat. Tidak makan daging merah dan hanya makan sayur. Rajin konsumsi madu.


Di ruang meeting saya dapati ada pria  India dan wanita China. Mereka wakil dari investor. Dan presentasi sedang berlangsung tentang potensi sumbe daya daerah.  Saya menyimak saja. Data yang dipaparkan sangat akademis. Lengkap dengan sumber data dan dukungan analisa yang hebat. Singkatnya kalau berdasarkan data,  maka  peluang membangun Pabrik ginger extract dan ginger oil serta bioetanol dari Alga sangat mendukung. 


Setelah presentasi, pria india itu berkata kepada team Ira. “ Berdasarkan data presentasi tadi, kami hanya melihat potensi ekonomi tapi bukan potensi bisnis.  Apalagi dikaitkan dengan peluang investasi untuk downstream Ginjer dan Alga. “ 


“ Maksud anda dengan potensi business itu apa ? tanya Ira mengerutkan kening.


“ Business process yang berkaitan dengan pengadaan alga dan jahe. “ Kata Wanita China.


“ Ya Alga dari laut dan jahe dari kebun. Lahan tersedia untuk tanam jahe dan daerah pesisir yang bersih juga tersedia untuk budidaya alga. Apalagi. Kan tinggal kerja “ Kata team Ira.


“ Ya benar. Bagaimana proses nya agar Alga dan Jahe bisa datang ke pabrik. Itu yang ingin kami ketahui. Dari sana kami bisa tahu apakah layak dibangun industri.”  Kata pria India.


“ Oh itu mudah. Kalau ada uang, tentu tidak ada yang sulit. Masyarakat tinggal digerakan.” kata team Ira yang dari daerah.


Mereka yang mewakili investor terdiam dan saling pandang.  Selang beberapa menit kemudian mereka berdua berdiri dan tersenyum. “ Permisi kami masih ada janji ketemu dengan ralasi kami. Terimakasih untuk presentasinya.” kata Pria India. Mereka berdua berjalan ke arah pintu ruang meeting. Mereka yang hadir di ruang meeting itu terdiam semua. Ira antar tamunya sampai pintu lift. Setelah itu dia kembali lagi ke ruang meeting.


“ Ale, kenapa selalu investor tidak tertarik investasi di Indonesia. Padahal sumber daya kita sangat besar. Peluang bangun agro industri yang high tech terbuka lebar. Mengapa ? Tanya Ira. Saya senyum aja. Karena sulit menjelaskan kepada orang yang mindset nya masih serba tergantung kepada sumber daya alam. Belum berpikir secara industri, apalagi supply chain industry. 


“ Ale please jelaskan. Kamu kan praktisi. Sudut pandang kamu sangat diperlukan, “


Akhirnya saya tergugah untuk menjelaskan secara sederhana. “ OK. Kata saya seraya menghela napas. 

“ Ale mending lue bicara pakai white board. Arahkan kami semua” kata ira. Duh ini kan kantor konsultan yang berafiiasi dengan NGO international. Pastilah semua teamnya adalah tenaga riset yang hebat. Tapi oklah saya coba jelaskan dengan cara saya.


“ Mereka yang datang itu adalah investor langsung, bukan broker. Umumnya mereka dapatkan dana investasi dari investor institusi. Nah SOP investasi itu sudah ada. Sangat ketat sekali standar kepatuhannya. Misal kalau mereka mau investasi industri agro untuk mendukung supply chain industri, maka itu skalanya bukan lokal tetapi international. Otomatis yang mereka perlukan adalah mitra yang punya visi supply chain industri.” Kata saya.


“Apa yang dimaksud dengan visi supply chain industri itu ? Tanya Ira.


“  Nah visi itu bisa dilihat dari business process. Bagaimana stuktur organisasi pengadaan dan budidaya alga dan jahe di derah. Bagaimana organisasi itu memanfaatkan tekhnologi dan modal dan SDM. Bagaimana logistiknya. Bagaimana ekosistem financial yang ada untuk mendukung proses produksi jahe dan alga. “ Kata saya.


“Wah itu rumit Ale. Seharusnya investor yang bina aja. Mereka tinggal ngikut aja“ Kata Ira.


“ Tugas membina itu adalah negara atau pemerintah dan masyarakat terpelajar seperti LSM. Mana bisa diharapkan dari investor asing “ Kata saya.


“ Terus gimana solusinya ? Kejar Ira.


“ Ya ..”  Saya tidak sanggup lanjutkan kata kata saya. Saya terdiam seraya menatap mereka semua. “ Ale apa ? terus aja ngomong.” Desak Ira.


“ Ya beri aja investor konsesi lahan untuk tanam jahe dan izin pemanfaatan pesisir pantai untuk budidaya alga. Rakyat dan masyarakat jadi pekerja saja.” Kata saya. 


“ OH engga ada masalah pak. “ kata salah satu pengusaha wakil daerah yang hadir dalam rapat itu. “ Kami siap jadi mitra. Sediakan lahan dan perizinan. “ Lanjutnya.


Saya tersenyum.


“ Engga usah kawatir, Kami punya koneksi kuat dengan penguasa.  Soal izin dan dapatkan lahan  mudah. Yang penting investor komit beli saham kami setelah izin semua lengkap. Tapi kamik tetap dapat minimal 10% saham goodwill “ katanya provokasi saya.  


Saya termenung.


Sikap pengusaha daerah ini percis sama dengan pengusaha daerah yang punya SDA tambang nikel dan batubara. Mereka punya IUP tapi yang dapatkan manfaat adalah investor asing. Dulu era Orba, waktu program PIR diperkenalkan Soeharto untuk budidaya Sawit, Model bisnis ini sangat marak terjadi. Umumnya pengusaha lokal hanya jadi kepanjangan tangan dari investor Singapore dan Malaysia. Mereka hanya mengandalkan kedekatan dengan penguasa. Yang mendapatkan nilai tambah dan laba berlipat hanyalah investor asing. 


Indonesia hanya kebagian kerusakan lingkungan dan  pengaruh sosial yang buruk. Apa itu ? lahirnya Middle class yang lemah berinovasi dan kreatifitas dalam proses produksi dan kompetisi. Mereka sudah terlanjur menikmati penghasilan too good to be true, walau itu bersumber dari transaksi ilegal. Mereka tidak peduli. Baik pengusaha maupun ASN sama sama terjebak kehidupan middle class yang hedonisme. Bayangkan, bagaimana nasip masa depan bangsa ini bila kelas menengahnya seperti itu. High Class nya tentu lebih buruk lagi.


Pembangunan bergerak ke depan tapi proses pemiskinan terus terjadi. Walau ekspor melimpah, namun DHE sebagian besar di luar negeri. Walau PDB tinggi tapi rasio terhadap Kredit dan DPK masih dibawah 100%. Kita punya SDA berupa nikel, batubara, bouksit dan lain lain. Mengapa negara tidak sediakan pusat logistik dan smelter dalam satu kawasan Ekonomi khusus, sehingga negara bisa kontrol sumber daya dan lingkungan. Kalau ekspor semua berasal dari kawasan khusus, tentu mudah mengontrol pemasukan devisa.


Begitu luasnya lahan Sawit. Anehnya kita engga punya pusat downstream seperti Malaysia. Akibatnya harga komoditas CPO tergantung market malaysia dan sebagian besar perusahaam CPO terdaftar di Singapore. Jutaan hektar lahan kita di-leverage mereka di Singapore dan uangnya dipakai untuk kendalikan sumber daya kita. Kan lucu. Kan bego..Begitu besar potensi terabaikan. Karena sumber daya besar yang menikmati hanya seglitintir saja. 


“ Wah..” Kata Ira membuat saya terkejut dari lamunan. “  kalau gitu, kapan kita bisa mandiri. Selamanya kita hanya jadi jongos atas sumber daya yang kita miliki “ Kata Ira dengan raut sedih.


“ Ya itulah realita bangsa kita. “ Kata saya.


“ Mengapa ?


“ Karena sistem pembelajaran di sekolah yang tidak melahirkan kreatifitas dan rasa hormat. Lihatlah fakta, semua lulusan sarjana berharap jadi pekerja daripada wirausaha. Karena sistem pendidikan tidak mendidik kreatifitas dan etos kerja. Lihatlah korban investasi bodong dan Asuransi Link. Itu jumlahnya besar sekali. Itu fakta bahwa kelas menengah kita mudah terjebak jadi korban dan disisi lain hobi menjebak orang lain jadi korban.” Kata saya. Ira terdiam.


“  Bangsa ini sakit Ira, Kita tidak sedang baik baik saja” Kata saya dengan suara lirih. Mereka semua terdiam.


***

Malamnya saya janjian dengan  Ira makan malam di Cafe di SCBD. Jarak dengan kantornya hanya 5 menit jalan kaki. 


“ Ale, coba jelaskan ke gua. Gimana caranya agar petani itu berdaya.” Tanya ira. Masih penasaran dia kiranya.


“ Ini adalah pusat logistik produk pertanian di China. Luasnya 27 hektar. “ kata saya memperlihat photo lewat gadget. “ Pusat logistik ini dilengkapi dengan gudang bertekhnologi lindung kualitas seperti mesin pendingin, mesin pengering, mesin packing nitrogen. Ia menampung beragam produk pertanian seperti bahan rempah, cabe, buah buahan, bijian, umbian. Member yang terlibat adalah petani, pedagang, pabrikan. Untuk menjamin likuiditas, Resi Gudang sebagai bukti penitipan barang bisa diperjual belikan di market secara OTC. Sistem juga dilengkapi mekanisme transaksi opsi.


Kontrak opsi menawarkan kepada pembeli opsi untuk membeli satu unit lagi produk pertanian segar pada hari tertentu dengan harga exercise yang telah dinegosiasikan sebelumnya dengan syarat membayar premi opsi kepada pemasok sebelumnya. Kontrak ini membawa secara fleksibel kepada pembeli tanpa merugikan pemasok.  Disamping itu juga dilelangkapi dengan fintech yang memungkinkan petani dapat pinjaman tunai tanpa harus menjual barangnya ketika harga jatuh.


“ Apa dampaknya dengan adanya pusat logistik itu? Tanya ira.


“ Industri pengolahan pertanian berkembang pesat. Petani dapat jaminan pasar. Perhatikan keterkaitannya. Para pabrikan dapat kepastian pasokan dari pusat logistik. Pabrik sauce, powder chilly, makanan kemasan, buah kemasan, minuman ringan, pharmasi, herbal dan lain lain semua berkembang berkat tersedianya sistem pasokan bahan baku yang solid. Dan sistem logistik yang didukung ekosistem financial dan market. Demikianlah bisnis process produk pertanian yang berkelanjutan. Tidak ada rentenir, tidak ada tengkulak, tidak ada permainan harga. Ketika panen petani penentu harga dan jual. Patokan international price.” Kata saya


“ Wow..Hebat sekali. Tentu hanya yang mau kerja keras berhak kaya. Rente kelaut aja. “ Kata ira terpukau. “ Di Indonesia memang sulit diterapkan sistem seperti itu. Padahal kita udah ada UU RSG. Karena political will tentang produktifitas hanya sebatas retorika saja. Akibat tidak adanya ekosistem logistik ini, terjadi pemborosan sekitar  20-25%  dari PDB. Itu semua income yang dipenggal oleh adanya rente dan yang dikorbankan adalah sektor produsi termasuk petani dan nelayan. Industri tidak tumbuh bahkan terjadi deindustrialisasi.  Sulit untuk berubah. Karena poltik diongkosi oleh rente. Masa depen yang tidak menjanjikan kecuali kerusakan“ Kata Ira dengan suara lirih.


Kita membangun selalu melihat ke luar. Tidak bergerak sesuai kemistri kita. Bayangin aja. Kita ikutan arus bisnis IT. Tapi bukan dimanfaatkan untuk terjadinya trasformasi ekonomi malah sibuk kembangkan bisnis di hilir, unicorn. Semenetara yang di hulu seperti insfrastruktur jaringan tergantung kepada asing. Engga sedikit uang dibuang untuk unicorn. Kalaulah dana itu disalurkan kepada kekuatan ekonomi berbasis agro, itu sama saja dengan membuat puluhan industri vegacab atau bahan baku kapsul dari rumput laut yang harganya per kg USD 500. Engga kehitung berapa juta nelayan dan UKM bisa makmur.


Kita punya kekuatan bisnis informal rumah tangga yang sangat besar. Ini jaring pengaman sosial terbesar. Mengapa negara tidak sediakan ekosistem bisnis dengan didukung sistem stokis dan supply chain untuk retail market berskala nasional. Sehingga bisa mudah diakses oleh pedagang rumahan. Tidak perlu ada hegemoni bisnis retail modern yang dikuasai korporat. Tapi dengan lemahnya negara dalam mengawal keadilan tataniaga, tak terbilang bisnis rumahan yang tutup karena kehadiran 3 retail modern di seluruh Indonesia. " Kata saya.


Ira terkejut. Karena dua orang investor yang tadi meeting di kantornya datang ke table saya bersama satu orang.


“ Loh kan tadi mereka meeting di kantor saya. Kok kamu pura pura engga kenal ? Kata Ira dengan mengerutkan kening.


" Mereka berdua kebetulan adalah staf dari SIDC yang ditugaskan menjajaki investasi di Indonesia. Saya baru tahu tadi waktu dapat telp dari perwakilan SIDC di Jakarta. Mereka minta ketemu saya. Karena mereka mau pamit dengan saya sebelum besok pulang “  Kata saya.  Wajah ira langsung berubah. “ Ah sudahlah, Kamu terus boongin saya. Tega lue ! Teriak Ira. Dia langsung pergi ninggalin saya seorang.

Saturday, April 08, 2023

Emas dan uang kotor

 



Hai Din. I would like to discuss with you.  Is it possible to meet you “ terdengar suara diseberang telp selularnya. Itu suara Erwin sahabat lama udin. 

“  Is it a business? Tanya Udin ingin pastikan

“ Maybe it could be business.  Is it possible to meet you? kata Erwin. Walau berat tetapi Udin sanggupi.


Sebenarnya Udin malas bertemu dengan Erwin. Dia orang Eropa namun bekerja sebagai financial advisory pada Aset Management group di Jakarta.  Udin ingat beberapa tahun lalu pernah dihubungi oleh Erwin di Hong Kong. “ Din, you are experienced in OTC gold trading. I know that. Ahmed in Dubai and Chang in Beijing told me about you. You have an extensive gold business network. So now I have a business scheme that you might be interested in. And I'm sure you will... Let's work together. “ Erwin provokasi Udin. Tapi Udin menolak.


Memang Udin pernah berbisnis OTC emas. Dia ingat. Kali pertama dia terjun ke dunia OTC.  Pada satu sore tahun 2010 di Hong Kong, Udin bertemu dengan teman dari London. “ Saya punya teman di Afrika. Mereka mau jual emas. Kamu ada lawannya? Katanya. Udin tahu ini bisnis pencucian uang. Emas dapat digunakan dalam semua 3 layering Pencucian Uang. Baik itu Placement atau layering , atau Integrasi. Yang punya emas pasti penguasa di Afrika. Memang memindahkan aset ke tempat lain dengan mudah, tentu menggunakan emas. Karena emas sama dengan uang tunai. Likuiditasnya kuat. Di samping itu perdagangannya bisa dilakukan secara OTC.


Tapi teman ini minta bukti Udin punya financial capability untuk membayar. Udin serahkan bukti bank draft dari Bank di DMCC (Dubai Multy Commodity Center) atas nama Ale investment Corp. Izin mendirikan bisnis perdagangan emas UEA sangat mudah. Engga banyak document compliance. Misalnya, tidak diwajibkan kita menyerahkan asal usul emas. Tidak perlu ada certificate origin dan audit surveyor pihak ketiga. Lawannya selalu ada tersedia. Dengan dokumen BL/ AB saja udah jadi uang.


Setelah dia verifikasi bank draft itu. Valid. Mereka kontrak. Ternyata penjualnya perusahaan yang terdaftar di negara bebas pajak. Benar kan. Bagaimana transaksinya? Pembayaran setelah cargo sampai di Dubai. Emas dikirim dengan pesawat cargo yang Udin tunjuk. Setelah cargo masuk ke dalam pesawat. Anak buah Udin kirim airbill via fax. Dengan Airbill itu Udin jual cash on bill kepada pembeli di Dubai. Setelah Cargo sampai di Dubai, Udin bayar emas itu kepada penjual di Afrika ke rekening  di negara bebas pajak. Udin dapat 10% dari harga market setelah dipotong pajak penjualan.


Modus itu udin lakukan berkali kali. Sampai akhirnya tahun 2018 Udin keluar dari bisnis trading emas itu. Karena Udin dapat informasi dari teman di OECD dan London Bullion Market Association (LBMA bahwa Dubai masuk dalam radar Satuan Tugas Aksi Keuangan (FATF) International. Perusahaan Udin yang terdaftar atas nama Ale Investment di Dubai, Udin tutup. Tahun 2018 juga Udin akuisisi perusahaan trading emas yang terdaftar di Hangseng Hong Kong. Pada tahun yang sama, entity Trading emas right issue untuk akuisisi tambang emas di TZN.


Pada tahun 2019, di Singapore Udin dapat tawaran yang sama untuk trading emas dengan menjadikan indonesia sebagai landing dan refinery. Karena katanya indonesia membuka peluang impor emas yang belum di refinery. Dan standar AML juga longgar. Tapi Udin tolak. Padahal sebelumnya sejak tahun 2009 paska kejatuhan Lehman memang banyak trader pasar gelap emas sudah jadikan indonesia sebagai landing. Maklum likuiditas emas kencang. Uang haram banyak di Indonesia. Siap beli berapa aja emas.  Tapi Udin sudah tidak lagi berbisnis dengan modus semacam itu.


Udin setuju untuk bertemu Erwin di Singapore. Udin memilih tempat di cafe yang ada di Ritz.  “ My business is in Jakarta but I live in Singapore.  I go back to Singapore once a week “ kata Erwin mengawali pembicaraan. “ Lama ya kita tidak ketemu. Terakhir ketemu tahun 2019.” Lanjut Erwin. Bagaimanapun bagi Udin itu hanya sekedar ramah tamah. Biasa saja. Erwin memang broker dan jago financial arranger.  Jadi wajar saja gayanya seperti salesman.


“ Din, kata Erwin yang sepertinya mulai masuk ke pokok persoalan. “ Sudah tahu kan berita sekian ratus triliun transaksi yang mencurigakan. “  Udin mengangguk dan siap menyimak.


“  OTC emas hanya skema. Untuk menyamarkan asal usul uang,  seperti penyeludupan tambang dan mineral lewat manipulasi invoice dan dokumen pengapalan. Termasuk juga bisnis rente jual beli konsesi bisnis dibawah tangan dan menggandakan quota impor lewat lagi lagi manipulasi dokument. Tentu juga uang dari bisnis drugs. Semua itu terjadi karena longgarnya sistem pengawasan dan rusaknya moral aparatur pemerintah. “ Kata Erwin. Apa yang disampaikan Erwin itu bukan rahasia. Semua pengusaha kalangan atas di dalam maupun luar negeri paham itu. Udin masih menanti apa usulan bisnis yang hendak ditawarkan Erwin.  Udin engga ada waktu dengar omong kosong ini.


“ Ini ada ratusan rekening” kata Erwin perlihatkan dokumen digital lewat Bookmac nya. Udin melirik saja. Engga antusias untuk bertanya kebenaran informasi itu.” Semua rekening itu sekarang di block oleh otoritas AS. Maklum rekening itu bermata uang dollar. Tidak sulit bagi Amerika untuk tahu asal usul uang dan memblocknya. FIU dapatkan informasi kan dari AS. Dan sekarang Pemerintah ditekan oleh FATF untuk mengusutnya secara projustia. Tapi masalahnya, pemerintah tidak punya UU yang cukup untuk menangkap pelaku pencucian uang dan pasti gagal sita uang itu.  Dan karena itu FATF punya alasan memblock uang itu. “ Erwin berhenti sejenak. Sepertinya dia  memikirkan sesuatu.


“ Din, apa kamu bisa utilize rekening yang di block itu?  Saya dengar ada dua fund manager yang terlibat mengatur rekening itu. Dari teman di New York, saya tahu kamu kenal dengan salah satu fund manager itu. Coba kamu pikirkan apakah bisa dijadikan bisnis, informasi ini” Kata Erwin. Udin terdiam seraya menatap Erwin. Dia menggelengkan kepala “ I don't want to touch this business. But I will think about it. ” Kata Udin dengan suara datar. Erwin tidak mau melanjutkan pembicaraan. Dia tahu kalau Udin sudah bersikap. Tidak ada lagi ruang untuk provoke.


***

Keesokan harinya setelah bertemu dengan Erwin, Udin bertemu dengan Sobarin. Hubungan persahabatan antara udin dan Sobarin sudah terjalin lama. Namun tidak ada bisnis diantara mereka. Udin sebagai pengusaha yang mengelola investment holding. Sementara Sobarin bisnisnya tidak jelas tapi dia tajir. Udin tahu itu karena Sobarin punya koneksi luas di kalangan elite dan aparat TNI, Polri. Apapun bisa diaturnya termasuk kasus hukum, mungkin itu sumber uang yang tak nampak namun mudah. Udin perlu informasi dari Sobarin. Ya informasi remang remang yang biasa dibicarakan secara bisik bisik. Setidaknya dengan informasi ini, Udin bisa bersikap jelas terhadap proposal Erwin.


Mereka buka puasa bersama di restoran bilangan Sudirman. “ Anda tahu, " Kata Sobarin saat buka puasa minum cincau dengan gula merah. "  LBP itu adalah ketua dewan penasehat Golkar. Menko Perekomian adalah Airlangga, juga adalah Ketua Umum Golkar. LBP sendiri dikenal sebagai menteri segala urusan. Begitu besar kepercayaan Jokowi kepada LBP. Dan menteri yang mengkoordinir, Kementerian keuangan, Perindustrian, Perdagangan, Pertanian. ESDM, PUPR, itu dipercayakan kepada Airlangga, ketua Umum Golkar.  Praktis kebijakan bidang sospolbud pemerintahan tidak bisa lepas dari pengaruh kuat dari Golkar. Apalagi ketua umum Nasdem dan Gerindra kan alumni Golkar.  Ketua MPR dan DPD itu semua didikan Golkar. Jadi walau warna berbeda, mindset Golkar tidak hilang. Singkatnya politik negeri ini ya politik Golkar. 


Sejak reformasi, Golkar sadar bahwa mereka tidak bisa melawan PDIP dan partai Islam, Semakin lama semakin kuat pengaruh idiologi nasionalis dan identitas. Sementara PDIP juga sadar bahwa gelombang perlawanan oposisi PKS dan PD semakin kokoh bersama Nasdem. Kalau berhadapan Head to head dengan PDIP jelas akan jadi medan nerara bagi PDIP. Politik identitas akan dibenturkan dengan nasionalis. Narasi politik saat kampanye bisa memecah belah persatuan.”  Kata Sobarin. Udin menilai apa yang dikatakan Sobarin hanyalah telaah realita politik. 


“ OK lanjut “ kata Udin siap menyimak.


“ Nah, kamu kan tahu. PDIP mengusulkan Pileg  secara tertutup. Tetapi kalau gol usulan ini, bisa saja Koalisi Besar gabungan Golkar, PKB, PAN, PPP, Gerindra mengusulkan juga Pilpres secara tertutup lewat pemilihan di DPR/MPR. Nah ini dilema bagi PDIP. Kalau dipaksakan pileg secara tertutup tapi ada peluang masuk proposal pilpres tertutup. Kan repot. Mau engga mau, PDIP harus mau berkoalisi dengan Golkar dkk kalau mau capres nya menang lewat voting DPR/MPR.” Kata Sobarin.


“ Terus” Udin penasaran.


“ Megawati sikapi santai saja pertemuan para elite Partai koalisi pemerintah minus PDIP. PDIP masih tetap yakin bahwa Pilpres secara tidak langsung lewat DPR/MRP akan sulit dilakukan. Kecuali koalisi Perubahan ( PKS, PD, Nasdem) bubar. Tapi Golkar engga hilang akal. Mereka jagonya bermain politik. “


“ Gimana mainnya ? tanya Udin.


“ Pertama. Bisa jadi dibalik upaya Muldoko ajukan PK terhadap kasus kepengurusan DPP Partai Demokrat adalah juga Golkar. Kalau ternyata PK diterima MA, maka PD akan terancam tidak bisa ikut pemilu. Nah bubarlah Koalisi pedukung Anies. Kurang suara mencapai Presidential threshold.


Kedua. Bukan tidak mungkin Golkar juga ikut bermain dibalik diberhentikannya dua direktur KPK yang dianggap menghalangi KPK keluarkan sprindik untuk Anies. Kalau sampai KPK keluarkan sprindik kepada Anies, maka dipastikan Anies tidak bisa memenuhi qualifikasi sebagai Capres.” Kata Sobarin.


“ Wah semakin liar analisa kamu. Ok lanjut “Kata Udin.


“ Tapi PDIP tidak tinggal diam. Tentu mereka ogah ikuti skema kekuasaaan ala koalisi. Melalui Mahfud, kasus pencucian uang Rp. 349 triliun diledakan. Semua tahu yang meminta agar Mahfud jadi Menko Polhukam adalah Megawati sendiri kepada Jokowi. Kasus ini sekarang sudah masuk ke KPK. Kalau petinggi kementrian keuangan tersangkut, itu bisa nyasar ke elite Golkar. Ini memang serangan telak PDIP lewat drama kontroversial kadernya di DPR komisi 3.


Publik memaksa agar UU Perampasan aset disahkan DPR. PDIP setuju saja asalkan Megawati setuju. “ Kalian bermain saya juga bermain. Sekali saya bilang yes, nangis kalian semua. “ Kira kira begitu kata Megawati. “ Jadi engga usah manuver macem macem. Pemilu lanjut dengan pileg tertutup dan Pilres langsung. Engga cukup presidential threshold? ya bangun koalisi. Kalau sulit, itu masalah kalian.”


Ya memang masalah Golkar, PAN, PKB, PPP adalah sulit dapatkan capres yang laku dijual. Geridra walau sudah yakin elektabilitas PS tinggi, namun tidak laku dijual ke sponsor. Kecuali PS berpasangan dengan Ganjar. Tapi PDIP engga mau sebagai cawapres. Maunya capres. Kan engga mungkin Wowok jadi wakil. Amanat kongres Gerindra mengamanahkan PS sebagai capres. Kan bisa mentok. Nah bingungkan. Mari kita pantau terus dinamika politik kedepan. Semakin kencang gerakan Golkar,  semakin kencang kasus pencucian uang dibongkar. “ Kata Sobarin. 


Udin tersenyum. “ Pendapat kamu apa Din.? tanya sobarin. Udin tidak ingin komentari. Terlalu rumit.  Karena tidak ada partai yang menguasai suara lebih dari 30%. Jadi kartu apa saja bisa dimainkan. Walau PDIP sebagai partai pemenang pemilu dan kadernya terpilih sebagai Presiden, namun secara politik PDIP hanya 20% suara di DPR. Tidak bisa sepenuhnya berkuasa. PDIP seperti duduk diatas bara. Pengalaman selama dua periode kekuasaan Jokowi, suara Pileg PDIP tidak bertambah significant. Justru karena koalisi itu PDIP tidak mendapatkan keuntungan apapun. Mau tidak mau harus bermain agar survival dan sampai pada tujuan agendanya. 


***

Dua hari kemudian Udin bertemu lagi dengan Erwin. Pertemuan kali ini Erwin membawa temannya. Udin tidak tertarik untuk kenalan. Tapi dia yakin teman Erwin itu bukan orang sembarangan. Setelah mendegar provokasi dari Erwin, saatnya Udin bicara. “ Apa yang terjadi dengan kasus TPPU itu, karena kebodohan dan kerakusan para elite dan pejabat. Mereka pikir bisa seenaknya menumpuk uang karena aturan AML  yang longgar. Padahal tanpa disadari ada predator lain yang mengintip dari kejauhan. Kini mereka keluarkan taringnya. Uang diblock dan para elite kehilangan sumber daya untuk memperkuat oligarchi. Sementara sebentar lagi mau Pemilu. Tanpa uang, hanya omong kosong. 


Kalau akhirnya Parpol kehilangan posisi tawar kepada kekuatan proxy asing yang menguasai kendali arus uang haram. So to be honest, whatever the jargon is, it's all bullshit. There is nothing to fight for. There is no hope. They only dance on the carcasses of the victims of oligarchy  While the war is won by foreign proxies. " Kat Udin.


" They are all on the losing side. Yes, losers. Once a sucker, a sucker stays a sucker. " Kata Erwin mengarah kepada elite partai. " The loser has a goal. The winner has a system. Of course, the system that keeps the losers losing. It will never change.” Kata Erwin. '  So. ....lets go we make money.." Kejar Erwin.


I am not a good person but I am not a traitor. If I can't help the country, then don't bother, it's simple my way. " Kata Udin memastikan dia menolak proposal Erwin.



***


 Disclaimer " This is not fact and reality. It's a fiction


Tuesday, April 04, 2023

Salma gadis Kazakh.





Saya berkunjung ke Kazakhtan tahun 2011. Ini adalah negara terbesar kesembilan di dunia dan ukurannya hampir sama dengan Argentina. Kazakhstan sebenarnya adalah negara yang cukup kaya, sebagian besar uangnya berasal dari cadangan minyak dan komoditas Lahan pertanian yang luas, mungkin tidak mengherankan jika ini adalah ekonomi terbesar di Asia Tengah (PDB Kazakhstan hampir sama dengan Qatar). Dan sebagian besar uang itu berakhir di Almaty. Jumlah penduduknya hanya 17 juta, salah satu kepadatan terendah di dunia. 


Karena ini perjalanan bisnis. Seperti biasanya saya tidak ada waktu untuk berwisata. Saya datang hari jumat Sore. Di jemput oleh Salma. “ Besok sabtu dan minggu hari libur. Apa rencana anda? tanya Salma saat saya sampai Ritz Carlton hotel Astana. Salma, saya pekerjakan sebagai liaison officer di Astana. Memang saya sedang menjajaki membuka kantor secara permanen di Astana. Peluang bisnis Gas dan Mineral cukup menjanjikan. 


Saya jalan malam hari ke pusat kota Astana ditemani Salma. " Pada pertengahan abad ke -19, kata Salma, ketika Asia Tengah dibawah Kekaisaran Rusia yang ekspansionis, garda depan kekuatan Eropa ini adalah bangsa Cossack. Mereka mendirikan benteng di Sungai Ishim pada tahun 1830 dan menamainya Akmola, kemudian Akmolinsk. Alasan mendirikan markas di sini hanyalah geografi. Tempat ini berada di tengah-tengah segalanya. Jalur perdagangan dan suplai serta pergerakan berbagai militer dapat dikontrol dan diamati dari posisi seperti itu. Pemukiman tumbuh dari waktu ke waktu tetapi tetap dalam jumlah ribuan hingga abad ke- 20. 


Oktober Merah membawa Bolshevik ke tampuk kekuasaan dan  diikuti dengan perang saudara sebagai efek dari konsolidasi pemerintahan Soviet atas bekas kekaisaran Tsar. Akmolinsk tidak mendapat perhatian elite di Moscow. Populasi Kazakhstan membengkak sejak tahun 1930-an. Karena deportasi berbagai kelompok etnis, termasuk sejumlah besar orang Jerman Volga. Paska perang dunia ke 2, Nikita Khrushchev mengkampanyekan Tanah Perawan untuk mengubah padang rumput tandus menjadi negeri ajaib yang hijau berkat keringat dan semangat para pemuda Uni Soviet. Akmolinsk diganti namanya menjadi Tselinograd. Dimulailah proses mengubah bekas benteng Cossack menjadi kota Soviet. Itu dibangun dengan cepat. Misal deretan Khruschyovki seperti gedung apartemen 4 atau 5 lantai, House of Culture, Palace of the Soviets, Schoolchildren's Palace, dll dibangun dengan model prepabrikasi.


Setelah kemerdekaan pada akhir tahun 1991, pemerintahan baru di bawah kendali mantan Sekretaris Jenderal Nazarbayev menghapus nama Tselinograd dan menggunakan Akmola lagi. Pelukis Icon mulai bekerja, tetapi pada tahun 1998 tepat setelah kota mengambil mahkota ibu kota dari Almaty, namanya diubah menjadi Astana. Astana sebagai baoutique karya arsitektural, rumah bagi lebih dari satu juta orang. Sekitar dua pertiga dari mereka adalah orang Kazakh, sisanya adalah orang Rusia, Ukraina, dan kelompok etnis lainnya. Tadi blok kota yang kita lihat seperti salah satu dari Moscow Seven Sisters, lalu sebuah gedung pencakar langit dengan kuil bergaya Cina di atasnya, lalu sebuah monstrositas marmer putih bergaya Ashgabat. Astana berusaha menampilkan wajah kosmpolitan. Demikian cerita Salma.

Sejak tahun 2000, ekonomi Kazakhstan telah berkembang pesat berkat ekspor minyak dan komoditas. Padahal sebelumnya pertengahan tahun 1990an, memang terjadi reformasi berskala luas. Privatisasi terjadi dimana mana. Namun proses reformasi itu dibajak oleh oligarkhi politik bersama pengusaha hitam. Ini benar benar membuat ekonomi Kazakhtan terpuruk. Kaum minoritas yang berkualifikasi tinggi, termasuk Jerman dan banyak orang Rusia yang berpendidikan, memilih untuk meninggalkan Kazakhtan. Hampir 1,5 juta orang telah meninggalkan Kazakhstan.


Saya dapat informasi dari teman yang elite politik Kazakhtan bahwa mereka sedang merencanakan reformasi ekonomi jilid 2 yang berfocus kepada industrialisasi dan hilirisasi Mineral. Mereka akan gunakan tabungan dari surplus neraca perdagannya untuk melaksanakan agenda besar itu. Saya punya kontrak supply chain untuk industri petrokimia dan smelter di China dan beberapa negara. Berharap saya dapat peluang dari spirit baru pembangunan ekonomi Kazakhtan.


Ah tidak ada salahnya saya gunakan waktu sabtu minggu berwisata  “ Sebaiknya kita ke Almaty dulu ya. Naik pesawat aja kesana. Besok minggu pagi kita pulang. “ Kata saya. Salma setuju. Dengan pesawat butuh 2 jam lebih sedikit sampai di Almaty dari Astana. Kesan pertama saya saat menginjak kaki di Almaty. " Ah ini Swiss di Asia Tengah. " Pegunungan berselimut salju yang mengelilinginya. Beberapa di antaranya tingginya hampir 4000 meter dan menciptakan latar belakang dramatis ba’ Swiss dengan Alpen. Salah satu nilai jual besar kota ini adalah kedekatannya dengan keajaiban alam, termasuk ski hebat di musim dingin.  


Saya terkejut dengan betapa modernnya kota ini – meskipun dengan gaya Asia Tengah. Bukannya hanya ada gedung pencakar langit yang megah seperti New York atau mal besar seperti Indonesia. Yang mengejutkan saya adalah betapa bersih dan teraturnya… dan betapa natural bagian-bagiannya. Restoran trendi di sudut jalan; blok apartemen baru; Subway. Sangat aman untuk berjalan-jalan dan merasakan tempat itu sendiri. Ini tentu memiliki karakteristik uniknya sendiri. " Almaty adalah ibu kota Kazakhstan dari tahun 1929 hingga 1997… dan sebagian besar periode ini adalah bagian dari Uni Soviet. " Kata Salma. Ini menjelaskan banyak hal yang saya lihat. Dari sistem transportasi hingga klub malam masih dipengaruhi oleh masa Uni Soviet. Saya yakin statistik konsumsi vodka di sini akan mendukung poin saya!  



Bangunan kantor pemerintah yang megah menunjukkan pengaruh dari era Soviet, monolit beton yang mengesankan sebanyak yang diilhami. Hotel Kazakhstan adalah contoh arsitektur yang bagus pada masa itu. Dibangun pada tahun 1970-an, ada sesuatu yang cukup indah tentang pendekatan brutal terhadap desainnya. 


Pagi hari saya bersama Salma jalan kaki mengelilingi area pusat bisnis Almaty. Rasanya seolah-olah patung-patung pahlawan lokal sering nampak di sepanjang jalan. Itu semua sangat Soviet Style - bahkan jika sebagian besar tokoh yang digambarkan sebenarnya adalah orang Kazakh. Bahwa begitu banyak bangunan di sini juga memiliki kesan Soviet tentang mereka adalah pengingat sejarah yang konstan.



Sayangnya saya tidak punya banyak waktu untuk naik ke pegunungan bersalju tapi saya naik kereta gantung ke Kok Tobe, yang merupakan titik tertinggi kota, sekitar 1100 meter di atas permukaan laut. Di bagian atas terdapat tempat rekreasi, dengan kebun binatang kecil, wahana untuk anak-anak, dan bianglala besar. Ini adalah tempat di mana keluarga berjalan-jalan untuk menghibur anak-anak, teman bertemu untuk minum kopi, dan restoran ramai di akhir pekan. Dari sini, saya berhenti di sudut pandang dan melihat ke seberang Almaty, terbentang di lembah di bawahnya. saya merasakan bagaimana kota dengan populasi 1,5 juta menyatu dengan lingkungan alamnya. 



Senja merangkak malam. Saya makan malam bersama Salma di Alasha Restoran. Tempatnya begitu indah & makanannya fantastis. Arsitektur dengan gaya Asia Tengah yang sangat tradisional dan stafnya sangat ramah. Masakannya sebagian besar Uzbek, dengan beberapa hidangan Kazakh juga. Tapi wah mahal banget. Makanya dari awal Salma sempat salah tingkah ketika masuk restoran. “ Mimpi apa saya bisa makan di tempat semewah ini.” Katanya.


Ada yang menarik dalam pembicaraan dengan dia waktu dinner. Uni Soviet memang memberikan jaminan sosial yang luas namun kodrat kita sebagai manusia tidak dihormati. Orang memang tidak ada terlalu miskin tapi kaya jelas tidak mungkin kecuali kamerad partai. Setelah Uni Soviet runtuh dan kami bisa memerdekakan diri, kami harus mau berubah. Memang tidak mudah. Yang sulit berubah itu adalah para elite politik yang masih terbiasa dengan gaya komunis. Sementara bagi rakyat, kebebasan itu lebih dari segala galanya.


Di era demokrasi tidak seharusnya ada keluhan. Nasip setiap orang ditentukan oleh dirinya sendiri. Negara memberikan peluang bagi siapa saja yang cerdas. Kalau yang boleh kaya hanya orang pintar , tentu dosen lebih dulu kaya. Tetapi kan tidak. Kalau kaya itu identik dengan kerja keras, tentu buruh dan petani lebih banyak yang kaya. Nyatanya tidak. Kalau kaya itu karena paham luas ilmu agama, tentu ulama lebih dulu kaya. Nyatanya tidak. Jadi kaya dan sukses itu bukan karena pintar, kerja keras, atau paham agama, tetapi kerja cerdas.


Menjadi cerdas, adalah menjadi diri sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Kita bekerja sebagai profesional bukan karena kita tergantung kepada pemberi kerja tetapi karena mereka butuh skill kita. Kalau kita jadi ASN bukan karena kita numpang makan kepada uang pajak rakyat, tetapi karena dedikasi kita diperlukan negara. Kita jadi pengusaha dan berusaha membujuk konsumen, bukan karena kita tergantung kepada mereka, tetapi karena kita tahu mereka butuh kita untuk dapatkan barang bagus. Kita hormati pemodal karena kita tahu bisnis yang kita tawarkan menguntungkan. Artinya keraslah kepada diri sendiri dan tempa diri kita agar diperlukan orang lain.


Kalau kita tidak merasa diperlukan dan tetap berharap, maka itu kembali ke era komunis yang semua tergantung kepada negara. Dalam era demokrasi wahana kompetisi tidak bisa dihindari. Semua orang dan semua profesi termasuk politisi harus melewati kompetisi. Dalam prosesnya semua orang harus survival. Apakah karena itu ada yang merasa dirugikan dan kecewa, itu biasa saja. Kecewa dan kawatir adalah sikap pecundang. Selalu ada alasan untuk menyalahkan dan dikeluhkan. Apakah itu akan mengubah keadaan? tentu tidak. Sementara kehidupan terus berjalan. Kalau kita larut dalam keluhan maka kita akan jadi korban kompetisi. tidak ada yang akan peduli.


Tentu kita tidak berhak mengahakimi siapapun selagi hukum dan konsesus tidak dilanggar. Pada akhirnya semua orang menjalani takdirnya masing masing. Baik dan buruk , susah dan senang, sakit dan sehat selalu bersanding. Semua orang akan merasakan kedua hal itu, tanpa peduli siapa dia. Biasa saja.Kata Samal dengan tersenyum


“ Terimakasih udah undang saya makan malam yang mewah ini. Entah kapan lagi saya bisa nikmati. Saya akan kerja keras dan tentu cerdas seperti anda. “ Katanya melangkah keluar dari Restaurant. Malam semakin larut. Diluar tentu cuaca dingin menggit. Tahun 2012 SIDC mendirikan kantor di Astana. Kepala perwakilan adalah Salma. Dia sukses mendirikan smelter dan ikut dalam konsorsium pipeline untuk gas. Sejak tahun 2019, Salma bertugas di kantor SIDC di Beijing. Usianya sudah 50 tahun dan sejak bertemu saya di Astana tahun 2011 dia tidak pernah menikah.


***

Karena pandemi Ekonomi Kazakhtan sempat kontraksi. Itu karena mereka belum usai sepenuhnya melakukan reformasi ekonomi jilid 2. Pendapatan negara tetap bergantung pada minyak, struktur penerimaan APBN 2020 sebesar 45 persen. Selain pertumbuhan ekonomi rendah, mata uang volatile, sehingga rentan terhadap gelombang kejut yang dipicu oleh pandemi. Karena tekanan inflasi global akan bertahan pada 2023, kemungkinan recovery akan lambat dengan pertumbuhan yaitu 3%


Konsolidasi fiskal tetap lambat di tahun sebelumnya, meski pengeluaran untuk sektor kesehatan, fasilitas umum, dan transportasi lebih tinggi. Tingginya tingkat ekonomi bayangan, diperkirakan mencapai 25 persen dari PDB, dan keringanan pajak juga memukul sektor pendapatan. Defisit nonmigas anggaran pemerintah pada 2020 dan 2021 telah melampaui dan diperkirakan akan melebihi 10 persen dari PDB, yang merupakan faktor negatif dan mengurangi keberlanjutan keuangan masyarakat dalam jangka panjang. Sementara kebijakan stimulus sudah tidak efektif. Kalau dipaksa akan memicu inflasi.


Ekspor bahan mentah tidak  terbukti cukup untuk mengimbangi arus keluar mata uang dari neraca pembayaran Kazakhstan untuk melayani akumulasi utang luar negeri sebesar USD 160 miliar dan membayar dividen kepada investor asing. Tapi bagaimanapun masih aman. Karena rasio utang terhadap PDB sebesar 21%. Bayangkan saja, indonesia mendekati 40%.


Kini mereka melanjutkan reformasi ekonomi setelah sempat stuck karena pandemi. Kebijakan prioritas adalah agenda reformasi ambisius yang bertujuan memperkuat fondasi untuk pemulihan yang didorong oleh sektor swasta. Itu meliputi perbaikan iklim bisnis, manajemen pendapatan rakyat, dan meningkatkan kontribusi organisasi perantara bisnis untuk membantu pemulihan sektor swasta. Ya semacam UU Cipta kerja.


Korupsi di Kazakhstan adalah masalah serius, mengakar di berbagai sektor, institusi, ruang publik dan swasta. Terjadi massive dan tidak terlacak seperti temuat PPAK kasus transaksi mencurigakan diatas Rp. 300 triliun. Itu karena kerangka kerja antikorupsi yang cacat, kurangnya daya tanggap dalam pembuatan kebijakan, dan kontrol negara atas media terlalu kuat. 


Pembentukan Badan Pemberantasan Korupsi merupakan perkembangan yang positif, begitu juga penerapan strategi dan inisiatif khusus dengan fokus pencegahan yang lebih besar.  Namun, masih banyak yang harus dilakukan untuk mendorong dan memastikan partisipasi yang cukup luas dari berbagai sektor, baik publik maupun swasta, dan masyarakat sipil yang lebih besar, termasuk LSM dan media independen, dalam tindakan pencegahan korupsi, juga di luar bidang penegakan hukum. Ya itulah ciri khas negara yang mayoritas populasinya islam,  yang tak bisa lepas dari feodalisme. Sama dengan Indonesia dan Turki. Sulit sekali memberantas korupsi. Untung saja Tuhan berkati mereka kekayaan SDA. Kalau engga, wah udah jatuh mati miskin mereka.


Pendidikan Adalah Jalan Naik Kelas

  Setelah satu bulan Amel mengikuti sekolah malam untuk mendapatkan ijazah SMA, saya datang ke tempat belajarnya di kawasan Cempaka Putih. S...