Saya datang ke kantor Abeng siang itu. Di lobi terdengar suara ribut. Semakin saya mendekat ke teras, suara itu makin jelas. Saya berhenti sejenak, terhalang oleh sebuah adegan yang tidak pernah saya rencanakan untuk saya saksikan.
“Gua enggak mau pulang. Gua sudah ceraikan lu!” kata seorang pria dengan nada ketus. Hanya potongan kalimat itu yang sempat saya dengar. Tetapi kadang, satu kalimat cukup untuk menjelaskan luka yang panjang. Wanita di depannya didorong pergi. Tubuhnya hampir jatuh. Ia diam. Menatap pria itu dengan mata yang basah. Tidak ada perlawanan. Tidak ada teriakan. Hanya air mata yang tertahan di wajah seseorang yang mungkin sudah terlalu sering dihina oleh hidup.
Saya tersentak. Apalagi ketika melihat wanita itu berlalu sambil memungut sandal yang terlepas dari kakinya. Ada kehinaan yang kadang tidak datang dari kemiskinan, tetapi dari cara manusia memperlakukan manusia lain.
Saya memperhatikan wanita itu sebentar sebelum masuk ke kantor Abeng. Setelah sekitar satu jam, saya pamit karena ada urusan lain. Sopir yang dikirim Awi sudah menunggu. Awi sendiri sedang di luar negeri.
Ketika mobil keluar dari kompleks ruko di kawasan Cideng, mata saya tertuju pada seorang wanita yang duduk di trotoar dekat lampu merah. Saya mengenal wajah itu. Dialah wanita yang tadi menangis di teras kantor Abeng.
Entah mengapa, saya minta sopir berhenti.
Saya turun dari mobil.
“Dik…” panggil saya pelan.
Ia menoleh. Matanya masih sembab.
“Tadi kita ketemu di depan kantor di Tanah Abang Dua,” kata saya.
Ia mengangguk.
“Kamu tidak apa-apa?”
Ia seperti bingung menjawab pertanyaan sederhana itu. Mungkin karena dalam hidupnya, sudah lama tidak ada orang yang bertanya dengan tulus apakah ia baik-baik saja.
“Enggak apa-apa, Pak,” katanya lirih. Lalu dengan suara ragu ia bertanya, “Pak, bisa minta tolong ongkos ke Bandengan?”
Saya menatapnya. Bukan rasa kasihan yang muncul, tetapi rasa manusiawi. Ada orang sedang jatuh. Dan kalau kita kebetulan lewat saat seseorang jatuh, mungkin tugas kita bukan bertanya terlalu banyak, tetapi membantu dia berdiri.
“Kamu ikut saya saja. Kebetulan saya mau makan di Jayakarta,” kata saya.
Ia terdiam sebentar.
“Ayolah,” kata saya sambil tersenyum.
Akhirnya ia mau ikut.
Di dalam mobil, saya memberinya uang dua puluh lembar pecahan seratus ribu rupiah. Dia menerima Rp 100.000, sisanya dia kembaikan ke saya dengan air mata berlinang. Bukan karena jumlahnya, mungkin. Tetapi karena saat dunia menolaknya, ada orang asing yang tidak ikut menghinanya.
“Suami saya menceraikan saya, Pak,” katanya pelan. “Karena sejak menikah saya tidak hamil. Padahal sebelum menikah saya janda dengan dua anak.”
Ia berhenti sebentar. Lalu air matanya jatuh.
“Selama menikah, dia terus menghina saya dan anak-anak saya.”
Saya diam. Ada luka yang tidak perlu kita korek. Ada cerita yang cukup kita dengarkan sebagai bentuk penghormatan. Tidak semua penderitaan harus dijadikan bahan tanya jawab. Kadang, diam adalah cara paling sopan untuk hadir.
“Sebelum menikah dengan Koh Abin, saya kerja di perusahaan travel,” katanya kemudian. “Sekarang saya harus cari kerja lagi untuk makan anak-anak saya.”
“Kamu sekolah sampai mana?”
“ Akademi Pariwisata.”
Saya teringat sesuatu.
“Saya punya perusahaan travel,” kata saya. Lalu saya berikan kartu nama Yuni. “Kamu hubungi ibu ini. Mudah-mudahan ada lowongan untuk kamu.”
Itu terjadi pada tahun 2007.
Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa. Saya tidak menunggu kabar. Tidak menanyakan hasilnya. Bahkan perlahan, saya lupa. Sebab bagi saya, pertolongan kecil seperti itu bukan investasi agar kelak dikenang. Ia hanya gerak hati pada satu sore, ketika Tuhan mempertemukan saya dengan seseorang yang sedang patah.
***
Kemarin saya bertemu Steven di kantor S-Casino di Singapura. Kami berbincang santai di lounge eksekutif yang luas. Steven bercerita tentang rencana ekspansi kasino. Lalu ia memperkenalkan saya kepada calon direktur proyek. Seorang wanita masuk, rapi, percaya diri, dan membungkuk hormat di depan saya.
“Ini Ibu Stella,” kata Steven. “ Dulu dia manajer cabang travel milik GI di Ho Chi Minh. Setelah unit bisnis travel GI bergabung dengan S-Casino, dia menjadi manajer S-Casino di Kuala Lumpur, dan sekarang di Singapura.”
Saya menatapnya. Wajahnya terasa asing, tetapi ada sesuatu yang samar. “Oh, jadi dulu kamu kerja sama Yuni di GI Travel?” tanya saya.
Wanita itu tersenyum. “Kan Bapak yang merekomendasikan saya kerja di GI Travel.”
Saya terdiam.
Ia lalu bercerita tentang pertemuan tahun 2007. Tentang Roxy. Tentang kantor Abeng. Tentang seorang wanita yang menangis di trotoar setelah diceraikan suaminya. Tentang kartu nama Yuni. Tentang awal hidup baru yang ia mulai dari pintu kecil yang saya sendiri sudah lupa pernah membukanya.
Barulah saya ingat. “Ya, ya… saya baru ingat. Nama kamu Stella.”
Saya tersenyum. “Bagaimana kabar anak-anak kamu?”
“Sulung saya dulu kuliah di Shanghai. Sekarang sudah bekerja di sana. Adiknya masih kuliah di Perth,” katanya dengan mata yang berbinar.
Saya menoleh kepada Steven dan menerjemahkan percakapan kami.
Steven tampak terkejut.
“Jadi sejak tahun 2007, setelah sekali bertemu, kamu tidak pernah bertemu lagi dengan Mr.B ?” tanya Steven kepada Stella.
Stella mengangguk.
“Kamu tidak pernah telepon Bapak?” tanya Steven lagi.
“Dilarang Bu Yuni dan Pak Awi,” jawab Stella sambil tersenyum.” Tapi saat unit bisnis GI bidang Travel di merger dengan S-Casino Yuni jadikan saya sebagai wakil GI. Ibu pesan ke saya. Kalau kamu ingin ketemu Mr. B dan berterimakasih kerjalah yang benar dan pastikan mitranya di S-Casino tidak kecewa. “
Saya ikut tersenyum.
Stellah mendekat ke saya. “ Boleh saya peluk bapak” Katanya.
Saya langsung peluk dia.
“ terimakasih pak..” katanya berbisik dengan isakan.
“Saya juga terimakasih, karena kamu telah bekerja dengan baik. Kamu sebenarnya engga berhutang apapun dengan saya.” Kata saya.
Dalam hati saya berkata, begitulah cara Tuhan bekerja. Kadang kita hanya diminta menaruh setitik air di tanah yang kering. Kita tidak pernah tahu, bertahun-tahun kemudian, dari tanah itu tumbuh pohon yang rindang. Memberi tidak selalu harus disaksikan. Tidak harus diumumkan. Tidak harus dibalas dengan ucapan terima kasih. Sebab kebaikan yang paling bersih adalah kebaikan yang selesai setelah diberikan.
Kita sering ingin diingat oleh orang yang pernah kita tolong. Padahal, boleh jadi Tuhan sengaja membuat kita lupa, agar hati kita tidak menagih. Dan suatu hari, ketika kebaikan itu kembali dalam bentuk kabar baik, kita baru paham: tidak ada perbuatan baik yang benar-benar hilang. Ia hanya berjalan melalui jalan sunyi. Kadang ia menjadi pekerjaan bagi seorang ibu yang putus asa. Kadang menjadi pendidikan bagi dua anak. Kadang menjadi masa depan di Shanghai dan Perth. Kadang kembali kepada kita bukan sebagai balasan, tetapi sebagai pelajaran dan kalau akhirnya jadi asset, itu hanya bonus.
Bahwa tangan yang memberi tidak perlu menunggu tepuk tangan. Sebab yang penting bukan siapa yang mengingat kita. Yang penting, pada saat seseorang hampir tenggelam, kita pernah menjadi sepotong kayu kecil yang membuatnya tetap mengapung.
***
Dulu GI memiliki unit bisnis travel. Namun, dalam praktiknya, usaha itu tidak sepenuhnya bergerak di bidang perjalanan wisata sebagaimana tampak di permukaan. Di balik nama travel, ada bisnis lain yang berjalan secara tertutup: penjualan coin casino dan pemberian kredit kepada para pejudi (shark loan).
Itu memang dunia underground. Dunia yang tidak banyak dibicarakan di ruang terbuka. Tahun 2004, saya sedang merintis bisnis. Saya belum berada pada posisi nyaman untuk memilih jalan yang ideal. Apa pun saya kerjakan, sepanjang saya tidak korupsi dan tidak merampok. Dalam fase itu, saya pernah menjadi pemberi kredit bagi para pejudi kelas kakap.
Bukan pekerjaan yang patut dibanggakan, tetapi itulah bagian dari perjalanan hidup saya. Ada masa ketika seseorang harus melewati lorong yang gelap, bukan karena ia mencintai kegelapan, melainkan karena hanya dari sanalah ia menemukan jalan keluar. Yang penting bagi saya waktu itu adalah tetap menjaga batas, tidak mencuri uang negara, tidak menipu orang kecil, dan tidak merampok hak siapa pun.
Pada tahun 2008, ketika usaha saya di Hong Kong sudah mulai mapan, saya meminta Yuni keluar dari bisnis tersebut. Saya tidak ingin lagi ia dan Awi terus berada dalam wilayah abu-abu seperti itu. Saya sudah punya kemampuan untuk menopang bisnis mereka di Jakarta tanpa perlu bergantung pada pekerjaan underground.
Akhirnya, bisnis penjualan coin dan pemberian kredit kepada pejudi itu dilebur ke dalam usaha Steven, Sand Casino. Stella dijadikan wakil GI. Sejak saat itu, Yuni dan Awi melarang Stella menghubungi saya. Karena alasan legal. Mereka paham bahwa nama saya harus dijauhkan dari jaringan bisnis lama itu agar saya tidak menjadi target kecurigaan aparat hukum.
Saya merasakan betapa mahal rasa terimakasih Stella kepada saya. Dia kerjakan bisnis beresiko itu dan semua demi rasa terimakasih kepada saya. Semua keuntungan dalam joint share dengan Sand mengalir ke rekening perusahaan offshore punya AWi BVI.
Tahun 2024, Ale Capital melalui family office di London membeli saham Sand yang terdaftar atas nama sebuah perusahaan di New Jersey. Pada saat itu, Stella tidak lagi berada dalam dunia underground. Ia sudah berdiri di tempat yang jauh lebih terang dan tertib secara hukum. Ia menjadi wakil tetap Ale Capital di Sand.
Barulah pada tahun 2026, kemarin saya bertemu dengan Stella. Dan saya baru tahu kemarin, kalau stella jadi proxy saya. Menurut saya Yuni dan Awi telah mendidik dia dengan baik dan melindungi dia secara penuh.

No comments:
Post a Comment