Saturday, May 23, 2026

Pendidikan Adalah Jalan Naik Kelas

 



Setelah satu bulan Amel mengikuti sekolah malam untuk mendapatkan ijazah SMA, saya datang ke tempat belajarnya di kawasan Cempaka Putih. Saya ingin melihat perkembangannya. Namun ternyata ia tidak ada di kelas. Padahal saya sudah membayar uang pendaftaran dan memberinya ongkos setiap bulan. Saya tanya kepada ibu asuhnya.

“Amel dagang di Senen,” kata ibu itu.

Saya terdiam sebentar. Lalu segera menuju Senen.

Benar saja. Di sana saya melihat Amel sedang berjualan teh botol. Ia terkejut ketika melihat saya datang. Wajahnya langsung berubah pucat.

“Mel,” kata saya pelan, “saya tunggu kamu di tempat kos saya.”


Sekitar satu jam kemudian, ia datang. Wajahnya tampak takut. Ia berdiri di depan saya seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan besar.

“Bang…” katanya lirih.

Saya menatapnya.

“Mel, kamu tahu?” tanya saya. “Robert bisa seenaknya membuang kamu setelah tahu kamu hamil karena kamu miskin, yatim piatu, dan tidak punya siapa pun yang melindungi kamu. Robert memang salah. Tetapi akan jauh lebih salah kalau kamu tidak belajar dari kemalangan ini.”


Amel menunduk. Matanya mulai basah.


“Yang bisa menyelamatkan kamu bukan Robert. Bukan saya. Bukan siapa pun. Yang bisa menyelamatkan kamu adalah diri kamu sendiri. Dan jalan paling nyata untuk itu adalah pendidikan. Dengan pendidikan, kamu punya harapan. Dengan pengetahuan, kamu punya harga diri. Dengan ijazah dan kemampuan, kamu tidak mudah dibuang orang.”


Ia tetap menunduk.

“Amel…” suaranya tertahan. “Amel enggak enak terus membebani Abang. Makanya Amel dagang. Biar bisa biayai sekolah sendiri.”


Saya menarik napas panjang. Di satu sisi saya paham. Ia bukan malas. Ia hanya terlalu terbiasa hidup tanpa sandaran. Anak seperti Amel sering kali tidak percaya bahwa ada orang yang benar-benar ingin menolong tanpa meminta balasan.


“Mel,” kata saya, “saya mungkin bukan apa-apa bagi kamu. Tapi saya berniat baik. Saya anggap kamu adik saya. Kalau bantuan saya tidak penting bagi kamu, ya sudah. Mulai hari ini saya tidak akan ikut campur lagi. Maafkan saya.”


Mendengar itu, Amel cepat membungkuk. Kedua tangannya memegang lutut saya. Ia menangis. “Amel sayang Abang. Enggak ada di dunia ini yang peduli sama Amel kecuali Abang. Maafkan Amel, Bang. Amel janji akan fokus belajar.” Tangisnya pecah. Saya diam. Kadang nasihat tidak perlu panjang. Yang penting hati seseorang tersentuh pada titik paling dalam.


Sejak hari itu, Amel berubah. Ia rajin masuk sekolah malam. Ibu asuhnya bercerita bahwa ia menjadi sangat tekun belajar. Setiap minggu saya bawakan buku bahasa Inggris yang saya pinjam dari perpustakaan. “Terjemahkan ini,” kata saya. “Minggu depan saya lihat hasilnya.”

Amel mengerutkan kening.

“Sulit, Bang.”

“Tidak ada yang sulit,” jawab saya. “Kamu harus bisa bahasa Inggris. Dengan bahasa Inggris, kamu bisa membaca apa saja. Setelah tamat SMA, kamu mungkin tidak bisa langsung kuliah. Tapi kamu tetap harus bisa mandiri hidup dan mandiri belajar.”


Ia mengangguk.


Saya tahu, bagi orang miskin, pendidikan bukan sekadar gelar. Pendidikan adalah alat bertahan. Ijazah adalah pintu pertama. Bahasa adalah kunci kedua. Pengetahuan adalah jalan panjang untuk keluar dari nasib yang diwariskan oleh kemiskinan.

Lucunya, Amel dan Risa ternyata satu kelas di sekolah malam. Keduanya saya bantu biaya sekolahnya. Saya ingin mereka punya bekal yang sama: ijazah SMA dan kemampuan bahasa Inggris. Tidak banyak, tetapi cukup untuk memulai hidup dengan kepala lebih tegak.


***

Setelah tamat SMA, mereka berdua pergi meninggalkan saya. Tidak ada drama. Tidak ada janji. Tidak ada ucapan panjang. Mereka pergi begitu saja. Saya tidak kecewa. Dalam hidup, orang yang kita bantu tidak harus terus berada di dekat kita. Ada bantuan yang memang tugasnya hanya mengantar seseorang sampai ke pintu. Setelah itu, ia harus berjalan sendiri. Setidaknya saya yakin, mereka akan baik-baik saja. Mereka sudah punya ijazah. Mereka sudah bisa membaca bahasa Inggris. Mereka sudah punya sedikit bekal untuk menghadapi dunia.


Tahun 1999, saya bertemu lagi dengan Amel. Ia sudah bekerja di Singapura dan sedang berusaha membuka usaha sendiri melalui lelang BPPN. Katanya, ia punya investor dari Singapura. Saya melihat matanya berbeda. Bukan lagi mata anak yang takut dibuang, tetapi mata perempuan yang mulai percaya bahwa hidup bisa ditaklukkan.


Risa saya temui lagi pada awal tahun 2000-an, dalam perjalanan dari Jakarta ke Hong Kong. Ia menjadi TKW. Bagi banyak orang, TKW mungkin hanya pekerjaan rendahan. Tetapi bagi saya, itu bukti keberanian. Ia keluar dari batas hidup lamanya, masuk ke dunia baru, belajar bertahan, dan mencari jalan naik kelas dengan caranya sendiri.


Namun setelah pertemuan baik dengan Amela maupun Risa, hubungan kami tidak berlanjut intens. Kami kembali terputus. Begitulah hidup. Orang datang, belajar, pergi, lalu muncul lagi ketika garis nasib mempertemukan.


Tahun 2010, Amel datang kepada saya. Holding-nya sedang mengalami krisis utang akibat kejatuhan pasar tahun 2008. Ia tidak lagi datang sebagai gadis takut yang pernah berjualan teh botol di Senen. Ia datang sebagai pengusaha yang sedang menghadapi badai. Saya bantu selamatkan krisis utang holding-nya. Tahun 2019, saya jadikan perusahaannya sebagai afiliasi Yuan Holding. Sampai sekarang ia masih berada dalam jaringan itu.


Risa juga datang lagi pada tahun 2010. Kontrak kerjanya di Hong Kong habis. Saya rekrut ia bekerja di SIDC. Dari sana ia terus naik. Tahun 2024, jabatannya sudah menjadi Wakil Chairman SIDC.




Kadang saya tersenyum sendiri memikirkan perjalanan mereka. Dua perempuan yang dulu duduk di kelas malam dengan masa depan yang tidak jelas, kini berdiri di tempat yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Tetapi lucunya, baik Amel maupun Risa, sampai sekarang masih menyimpan rasa takut kepada saya. Mungkin karena mereka mengenal saya bukan dari ruang rapat, tetapi dari masa ketika hidup mereka sedang rapuh. Mereka jarang datang kalau tidak ada masalah. Dan kapan pun saya telepon, jam berapa pun, mereka pasti mengangkat tanpa jeda. Padahal saya sendiri hampir tidak pernah menelepon mereka, kecuali ketika mendengar mereka sedang menghadapi masalah.


Dari Amel dan Risa saya belajar satu hal: pendidikan tidak selalu mengubah hidup secara cepat. Ia bukan sulap. Ia bukan tiket instan menuju kemewahan. Tetapi pendidikan memberi manusia alat untuk berdiri. Ia memberi bahasa untuk memahami dunia. Ia memberi keberanian untuk tidak tunduk kepada nasib. Ia memberi peluang agar seseorang tidak selamanya menjadi korban keadaan.

Kemiskinan sering membuat orang kehilangan pilihan. Pendidikan mengembalikan pilihan itu.


Pengetahuan membuat orang miskin tidak mudah ditipu. Bahasa membuat mereka bisa membaca dunia. Ijazah membuka pintu pertama. Disiplin membuka pintu berikutnya. Dan keberanian belajar sepanjang hidup membuka pintu yang tidak pernah terlihat sebelumnya.


Amel dan Risa tidak naik kelas karena belas kasihan saya. Mereka naik kelas karena pada akhirnya mereka mau belajar. Bantuan hanya menyalakan lampu. Yang berjalan melewati lorong gelap tetap mereka sendiri. Itulah hikmahnya.


Kalau ingin mengubah nasib, jangan hanya mencari penolong. Carilah ilmu. Jangan hanya mencari uang. Carilah pengetahuan. Karena uang bisa habis. Orang bisa pergi. Kesempatan bisa tertutup. Tetapi pengetahuan yang sudah masuk ke dalam diri akan tetap tinggal sebagai cahaya. Dan dalam hidup, cahaya kecil di kepala sering kali lebih berguna daripada emas besar di tangan.


***


Berterimakasih...

 


Saya datang ke kantor Abeng siang itu. Di lobi terdengar suara ribut. Semakin saya mendekat ke teras, suara itu makin jelas. Saya berhenti sejenak, terhalang oleh sebuah adegan yang tidak pernah saya rencanakan untuk saya saksikan.


“Gua enggak mau pulang. Gua sudah ceraikan lu!” kata seorang pria dengan nada ketus. Hanya potongan kalimat itu yang sempat saya dengar. Tetapi kadang, satu kalimat cukup untuk menjelaskan luka yang panjang. Wanita di depannya didorong pergi. Tubuhnya hampir jatuh. Ia diam. Menatap pria itu dengan mata yang basah. Tidak ada perlawanan. Tidak ada teriakan. Hanya air mata yang tertahan di wajah seseorang yang mungkin sudah terlalu sering dihina oleh hidup.


Saya tersentak. Apalagi ketika melihat wanita itu berlalu sambil memungut sandal yang terlepas dari kakinya. Ada kehinaan yang kadang tidak datang dari kemiskinan, tetapi dari cara manusia memperlakukan manusia lain.


Saya memperhatikan wanita itu sebentar sebelum masuk ke kantor Abeng. Setelah sekitar satu jam, saya pamit karena ada urusan lain. Sopir yang dikirim Awi sudah menunggu. Awi sendiri sedang di luar negeri.


Ketika mobil keluar dari kompleks ruko di kawasan Cideng, mata saya tertuju pada seorang wanita yang duduk di trotoar dekat lampu merah. Saya mengenal wajah itu. Dialah wanita yang tadi menangis di teras kantor Abeng.


Entah mengapa, saya minta sopir berhenti.

Saya turun dari mobil.

“Dik…” panggil saya pelan.

Ia menoleh. Matanya masih sembab.

“Tadi kita ketemu di depan kantor di Tanah Abang Dua,” kata saya.

Ia mengangguk.

“Kamu tidak apa-apa?”

Ia seperti bingung menjawab pertanyaan sederhana itu. Mungkin karena dalam hidupnya, sudah lama tidak ada orang yang bertanya dengan tulus apakah ia baik-baik saja.


“Enggak apa-apa, Pak,” katanya lirih. Lalu dengan suara ragu ia bertanya, “Pak, bisa minta tolong ongkos ke Bandengan?”

Saya menatapnya. Bukan rasa kasihan yang muncul, tetapi rasa manusiawi. Ada orang sedang jatuh. Dan kalau kita kebetulan lewat saat seseorang jatuh, mungkin tugas kita bukan bertanya terlalu banyak, tetapi membantu dia berdiri.


“Kamu ikut saya saja. Kebetulan saya mau makan di Jayakarta,” kata saya.

Ia terdiam sebentar.

“Ayolah,” kata saya sambil tersenyum.

Akhirnya ia mau ikut.

Di dalam mobil, saya memberinya uang dua puluh lembar pecahan seratus ribu rupiah. Dia menerima Rp 100.000, sisanya dia kembaikan ke saya dengan air mata berlinang. Bukan karena jumlahnya, mungkin. Tetapi karena saat dunia menolaknya, ada orang asing yang tidak ikut menghinanya.


“Suami saya menceraikan saya, Pak,” katanya pelan. “Karena sejak menikah saya tidak hamil. Padahal sebelum menikah saya janda dengan dua anak.”


Ia berhenti sebentar. Lalu air matanya jatuh.

“Selama menikah, dia terus menghina saya dan anak-anak saya.”

Saya diam. Ada luka yang tidak perlu kita korek. Ada cerita yang cukup kita dengarkan sebagai bentuk penghormatan. Tidak semua penderitaan harus dijadikan bahan tanya jawab. Kadang, diam adalah cara paling sopan untuk hadir.


“Sebelum menikah dengan Koh Abin, saya kerja di perusahaan travel,” katanya kemudian. “Sekarang saya harus cari kerja lagi untuk makan anak-anak saya.”


“Kamu sekolah sampai mana?”


“ Akademi Pariwisata.”


Saya teringat sesuatu.


“Saya punya perusahaan travel,” kata saya. Lalu saya berikan kartu nama Yuni. “Kamu hubungi ibu ini. Mudah-mudahan ada lowongan untuk kamu.”


Itu terjadi pada tahun 2007.


Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa. Saya tidak menunggu kabar. Tidak menanyakan hasilnya. Bahkan perlahan, saya lupa. Sebab bagi saya, pertolongan kecil seperti itu bukan investasi agar kelak dikenang. Ia hanya gerak hati pada satu sore, ketika Tuhan mempertemukan saya dengan seseorang yang sedang patah.


***

Kemarin saya bertemu Steven di kantor S-Casino di Singapura. Kami berbincang santai di lounge eksekutif yang luas. Steven bercerita tentang rencana ekspansi kasino. Lalu ia memperkenalkan saya kepada calon direktur proyek. Seorang wanita masuk, rapi, percaya diri, dan membungkuk hormat di depan saya.


“Ini Ibu Stella,” kata Steven. “  Dulu dia manajer cabang travel milik GI di Ho Chi Minh. Setelah unit bisnis travel GI bergabung dengan S-Casino, dia menjadi manajer S-Casino di Kuala Lumpur, dan sekarang di Singapura.”


Saya menatapnya. Wajahnya terasa asing, tetapi ada sesuatu yang samar. “Oh, jadi dulu kamu kerja sama Yuni di GI Travel?” tanya saya.


Wanita itu tersenyum. “Kan Bapak yang merekomendasikan saya kerja di GI Travel.”


Saya terdiam.

Ia lalu bercerita tentang pertemuan tahun 2007. Tentang Roxy. Tentang kantor Abeng. Tentang seorang wanita yang menangis di trotoar setelah diceraikan suaminya. Tentang kartu nama Yuni. Tentang awal hidup baru yang ia mulai dari pintu kecil yang saya sendiri sudah lupa pernah membukanya.


Barulah saya ingat. “Ya, ya… saya baru ingat. Nama kamu Stella.”

Saya tersenyum. “Bagaimana kabar anak-anak kamu?”


“Sulung saya dulu kuliah di Shanghai. Sekarang sudah bekerja di sana. Adiknya masih kuliah di Perth,” katanya dengan mata yang berbinar.


Saya menoleh kepada Steven dan menerjemahkan percakapan kami.

Steven tampak terkejut.

“Jadi sejak tahun 2007, setelah sekali bertemu, kamu tidak pernah bertemu lagi dengan Mr.B ?” tanya Steven kepada Stella.

Stella mengangguk.

“Kamu tidak pernah telepon Bapak?” tanya Steven lagi.

“Dilarang Bu Yuni dan Pak Awi,” jawab Stella sambil tersenyum.” Tapi saat unit bisnis GI bidang Travel di merger dengan S-Casino Yuni jadikan saya sebagai wakil GI. Ibu pesan ke saya. Kalau kamu ingin ketemu Mr. B dan berterimakasih kerjalah yang benar dan pastikan mitranya di S-Casino tidak kecewa. “


Saya ikut tersenyum.


Stellah mendekat ke saya. “ Boleh saya peluk bapak” Katanya. 


Saya langsung peluk dia. 


“ terimakasih pak..” katanya berbisik dengan isakan.


“Saya juga terimakasih, karena kamu telah bekerja dengan baik. Kamu sebenarnya engga berhutang apapun dengan saya.” Kata saya.


Dalam hati saya berkata, begitulah cara Tuhan bekerja. Kadang kita hanya diminta menaruh setitik air di tanah yang kering. Kita tidak pernah tahu, bertahun-tahun kemudian, dari tanah itu tumbuh pohon yang rindang. Memberi tidak selalu harus disaksikan. Tidak harus diumumkan. Tidak harus dibalas dengan ucapan terima kasih. Sebab kebaikan yang paling bersih adalah kebaikan yang selesai setelah diberikan.


Kita sering ingin diingat oleh orang yang pernah kita tolong. Padahal, boleh jadi Tuhan sengaja membuat kita lupa, agar hati kita tidak menagih. Dan suatu hari, ketika kebaikan itu kembali dalam bentuk kabar baik, kita baru paham: tidak ada perbuatan baik yang benar-benar hilang. Ia hanya berjalan melalui jalan sunyi. Kadang ia menjadi pekerjaan bagi seorang ibu yang putus asa. Kadang menjadi pendidikan bagi dua anak. Kadang menjadi masa depan di Shanghai dan Perth. Kadang kembali kepada kita bukan sebagai balasan, tetapi sebagai pelajaran dan kalau akhirnya jadi asset, itu hanya bonus.


Bahwa tangan yang memberi tidak perlu menunggu tepuk tangan. Sebab yang penting bukan siapa yang mengingat kita. Yang penting, pada saat seseorang hampir tenggelam, kita pernah menjadi sepotong kayu kecil yang membuatnya tetap mengapung.


***


Dulu GI memiliki unit bisnis travel. Namun, dalam praktiknya, usaha itu tidak sepenuhnya bergerak di bidang perjalanan wisata sebagaimana tampak di permukaan. Di balik nama travel, ada bisnis lain yang berjalan secara tertutup: penjualan coin casino dan pemberian kredit kepada para pejudi (shark loan).


Itu memang dunia underground. Dunia yang tidak banyak dibicarakan di ruang terbuka. Tahun 2004, saya sedang merintis bisnis. Saya belum berada pada posisi nyaman untuk memilih jalan yang ideal. Apa pun saya kerjakan, sepanjang saya tidak korupsi dan tidak merampok. Dalam fase itu, saya pernah menjadi pemberi kredit bagi para pejudi kelas kakap.


Bukan pekerjaan yang patut dibanggakan, tetapi itulah bagian dari perjalanan hidup saya. Ada masa ketika seseorang harus melewati lorong yang gelap, bukan karena ia mencintai kegelapan, melainkan karena hanya dari sanalah ia menemukan jalan keluar. Yang penting bagi saya waktu itu adalah tetap menjaga batas,  tidak mencuri uang negara, tidak menipu orang kecil, dan tidak merampok hak siapa pun.


Pada tahun 2008, ketika usaha saya di Hong Kong sudah mulai mapan, saya meminta Yuni keluar dari bisnis tersebut. Saya tidak ingin lagi ia dan Awi terus berada dalam wilayah abu-abu seperti itu. Saya sudah punya kemampuan untuk menopang bisnis mereka di Jakarta tanpa perlu bergantung pada pekerjaan underground.


Akhirnya, bisnis penjualan coin dan pemberian kredit kepada pejudi itu dilebur ke dalam usaha Steven, Sand Casino.  Stella dijadikan wakil GI. Sejak saat itu, Yuni dan Awi melarang Stella menghubungi saya. Karena alasan legal. Mereka paham bahwa nama saya harus dijauhkan dari jaringan bisnis lama itu agar saya tidak menjadi target kecurigaan aparat hukum.


Saya merasakan betapa mahal rasa terimakasih Stella kepada saya. Dia kerjakan bisnis beresiko itu dan semua demi rasa terimakasih kepada saya. Semua keuntungan dalam joint share dengan Sand  mengalir ke rekening perusahaan offshore punya AWi BVI. 


Tahun 2024, Ale Capital melalui family office di London membeli saham Sand yang terdaftar atas nama sebuah perusahaan di New Jersey. Pada saat itu, Stella tidak lagi berada dalam dunia underground. Ia sudah berdiri di tempat yang jauh lebih terang dan tertib secara hukum. Ia menjadi wakil tetap Ale Capital di Sand. 


Barulah pada tahun 2026, kemarin saya bertemu dengan Stella. Dan saya baru tahu kemarin, kalau stella jadi proxy saya.  Menurut saya Yuni dan Awi telah mendidik dia dengan baik dan melindungi dia secara penuh.

Pendidikan Adalah Jalan Naik Kelas

  Setelah satu bulan Amel mengikuti sekolah malam untuk mendapatkan ijazah SMA, saya datang ke tempat belajarnya di kawasan Cempaka Putih. S...