Friday, December 15, 2023

Jalan bergeser..


 

Ira minta waktu bertemu. “ Ada temanku sedang melakukan riset soal kebudayaan. Dia mau jadikan kamu sebagai narasumber. Sebagai referensi melengkapi riset PHD nya tentang Studi pembangunan.  Ayolah ketemuan.” Kata Ira lewat SMS. Akhirnya saya sanggupi bertemu di cafe di kawasan Sudirman Jakarta. Saya didampingi Florence. “ Kenalkan nama saya Dini" Kata Temannya Ira seraya mengulurkan tangan menjabat saya. Keliatannya cerdas. Ya kalau tidak cerdas mana mungkin dia bisa berniat dapatkan phd, padahal dia sibuk sebagai profesional di Pusat kajian International.


“ Saya tahu dari tulisan anda di Blog dan juga informasi dari Ira tentang bisnis anda di China. “ kata Dini. “ Apa yang anda ketahui tentang budaya China ? Tanya nya.


“ Dalam sejarah Cina sempat ratusan tahun mereka terjebak dalam budaya foedalisme. Itu sejatinya bukan karakter China. Tapi sejak China menjadi republik dan Partai komunis berkuasa. Mereka kembali kepada jati diri sebagai bangsa kontinental. Maklum China itu 99% wilayahnya daratan, yang dipisahkan oleh batas-batas geografis dengan negara lain. Tentu jatidiri mereka adalah budaya kontinental. Ciri khasnya adalah secara personal mereka sangat mandiri dan punya kemampuan survival. Sulit dipersatukan secara budaya. Makanya pilihan idiologi komunis yang otoriterian adalah metodelogi untuk mempersatukan saja.


Atas dasar budaya kontinental itulah rencana pembangunan China yang disebut dengan lompatan China jauh kedepan digelar. Maozedong yang dikenal bapak komunis China melakukan langkah revolusi kubdayaan. Kemudian dilalanjutkan oleh bapak Dengxioping, ia melepas akar feodalisme di tengah masyarakat dengan memberikan rakyat kebebasan berproduksi. Kebebasan yang dimaksud adalah memberikan kanal seluas mungkin rakyat melakukan apa saja selagi tidak merugikan orang lain. Orang barat mengatakan China menerapkan kapitalisme. Karena kebebasan produksi membuka  peluang kompetisi yang keras. Padahal itu sudah budaya China.


Tidak ada lagi keharusan bagi petani menanam tumbuhan yang  seragam seperti era Mao. Tidak ada lagi keharusan rakyat berprodusi baja secara massive. Yang penting walau begitu luas dan rumitnya persoalan produksi, selagi tidak diatur itu artinya diizinkan siapa saja lakukan. Yang mau kerja keras dan cerdas ya  dia yang sukses. Yang kalah bersaing ya harus tersingkir. Itu bukan urusan negara.  Rakyat tidak ada masalah. Karena saat awal reformasi ekonomi memang banyak BUMN/ D China yang ditutup. Artinya fight terjadi fairness.


Nah lewat proses pembangunan itu terjadi pula proses dialektika. Kalau situasi produksi akhirnya menciptakan ketidak adilan. Yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin, pemerintah lakukan intervensi. Negara hadir ditengah masyarakat lewat BUMN nya. Sehingga terciptalah cluster ekonomi, mana wilayah kapitalisme negara dan mana swasta. Walau cluster terbentuk sinergi tercipta sebagai bentuk kamandirian. “ Kata saya. ira tersenyum. Dini mengangguk. Dia rekam omongan saya.


“ Memang budaya kontinental itu membuat orang banyak berduyun ke kota. Karena kota magnit ekonomi. Mereka meninggalkan rules dan akal tradisional untuk mengangkat harga diri mereka. Walau karakter mereka memang mandiri, tetapi kan tidak semua punya keberanian mengambil resiko. Adanya cluster state capitalism dan private, itu menyisakan mayoritas rakyat rakyat tenggelam dalam kemiskinan di desa. Bagaimana Cara china menyikapinya? Tanya Dini. Saya seruput kopi.


“ Makanya setelah sekian dekade pertumbuhan ekonomi dua digit, pemerintah China lakukan intervensi sosial terhadap rakyat yang masih tertinggal. Intervensi itu tidak dalam pengertian sosialisme populisme seperti BLT atau subsidi. Tetapi menyadiakan akses rakyat terhadap tekhnologi, pasar,  deregulasi tata niaga yang terhubung dengan ekosistem financial. Itu dilakukan dengan sangat terencana dengan anggaran gigantik dan konsisten. “ kata saya.


“ Apa yang terjadi.? 


“ Dalam 5 tahun pemerintah China bisa mengangkat 800 juta rakyat dari kubangan kemiskinan. Dan kini rakyat jadi potensi pasar raksasa. Dan mendorong terjadinya relokasi Industri dari zona ekonomi khusus ke wilaya reguler. “


“ Tapi kini ekonomi CHina melambat “ Kata Dini.


“ Ya. Walau pertumbuhan ekonomi melambat tidak ada masalah. Tapi kan kualitas pertumbuhan lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi sebelumnya. ” Kata saya tersenyum.


“ Dan distribusi keadilan ekonomi tercipta secara meluas. Untuk apa pertumbuhan ekonomi tinggi seperti Indonesia kalau hanya ditopang oleh segelintir orang saja yang makmur. “ kata Florence dengan tersenyum.


Dini menganguk dan tersenyum. “ Lantas apa pendapat anda dengan kebijakan ekonomi dan sosial di Indonesia ? tanya Dini kepada saya.


" Indonesia itu negara kepulauan. Budaya kita sangat beda sekai dengan negara kontinental seperti China dan India atau AS. Jadi engga bisa kita meniru model pembangunan seperti mereka. Indonesia adalah  bangsa bahari dengan 1.340 suku di dalamnya. Kita tidak bisa dipersatukan dengan diktator atau otoriterian seperti China. Atau demokrasi terbuka seperti India dan AS. Engga bisa.  Budaya bahari terikat dengan primordial. Dulu kita bangun rumah secara gotong royong. Kemudian setelah kerangka rumah jadi, tetua adat menentukan dimana pondasi rumah akan didudukkan. Apapun masalah diselesaikan bersama sama, Singkatnya, budaya bahari itu adalah budaya gotong royong. Agama berkata, ada memakai. Bukan individualisme. 

Tetapi karena pengaruh luar, jalan sudah digeser orang lain. Sampai saat ini, semua sistem yang diterapkan, mulai dari pendidikan, hukum, ekonomi, sampai politik, lebih mengacu pada kontinental. Itu sebab setelah 7 presiden berkuasa, selalu menciptakan problem dan masalah yang tak kunjung terselesaikan, terutuma soal kemandirian dan keadilan sosial. Misal, exploitasi SDA kepada segelintir orang, itu bertolak belakang dengan budaya kita. Penguasaan retaii modern kepada segelintir orang, itu juga tidak sesuai dengan kebudayaan kita” kata saya.


“ Bisa beri contoh konkrit soal ekonomi berbasis budaya itu dalam konteks kekinian” tanya Dini.


“ Prinsip budaya bahari itu kan gotong royong. Misal,  membangun ekosistem bisnis lewat tata niaga berbasis IT. Pemerintah sediakan gudang lewat sistem stokis berbasis IT, ya semacam warehousing ecommerce marketplace and logistic. Nah lewat aturan tata niaga, maka setiap pabrik atau produsen akan nyaman menempatkan barangnya di warehousing. Karena lewat ekosistem financial dari warehousing, likuiditas mereka terjamin. Dan pedagang secara B2B lewat ecommerce bisa dengan mudah mengakses barang di gudang tersebut untuk dijual lewat market place.


Dengan adanya warehousing ecommerce marketplace and logistic itu,  otomatis terjadi transformasi ekonomi dan sosial yang individual ke gotong royong. Nah, karena adanya efisiensi dari segi distribusi  dan  financial. Industri akan tumbuh berkembang pesat dan peluang berdagang terbuka luas bagi siapa saja untuk menjangkau 123 juta konsumen indonesia. Kalau bisa dibuat berdasarkan cluster sesuai type produk seperti barang kebutuhan umum dan komoditas pertanian, dan segmentasi pasar, industri, pemerintah maupun rumah tangga.  itu semua dilakukan secara B2B. Setiap Pemda minimal punya satu warehousing ini. Buatnya engga semahal bangun kereta cepat dan IKN. Itu kalau tahu arti perubahan dan punya niat baik untuk kembali kepada jatidiri kita sebagai banga bahari.”  Kata Saya.


" Lebih konkrit lagi ?


Mari kita lihat posisi strategis kita di Barat dan di Timur.  Saat ini, sekitar 90% kapal dunia lalu-lalang di Poros Maritim Dunia yang melalui perairan Indonesia, yakni 80% di Selat Malaka dan 10% lainnya melintasi Selat Makassar. Di Selat Malaka, jumlah kapal yang melintas lebih dari 100.000 dengan mengangkut 90 juta TEUs kontainer per tahun. Kalau di wilayah Barat, kita memanfaatkan posisi Sumatera di jalur Selat Malaka. Sumatera akan berkembang menjadi Hub Logistik Agro, yang akan mendatangkan investasi relokasi downstream industri dari dalam dan luar negeri. Akan menjadi pusat industri agro berkelas dunia. Begitu juga kalau Manado menjadi Hub Poros Maritim Pacific maka akan menciptakan kawasan industri Agro dan mineral tambang berkelas dunia, yang akan jadi magnit bagi investor dalam dan luar negeri. Begitu juga memanfaatkan posisi selat Lombok yang menjadi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

Seharusnya visi Indonesia sebagai negara bahari adalah menjadi hub industri dan perdagangan. Sriwijaya menjadi kerajaan besar, karena bahari. Samudera Pasai juga sama. Majapahit hebat karena ekosistem bahari. Apa artinya ?Itu budaya kita. DNA kita sebagai bangsa. Makanya bapak bangsa kita tidak menyebut sistem ekonomi dan idiologi. Tapi cukup Pancasila. Dalam Pancasila itulah tersirat dan tersurat kebudayaan kita. Pandangan hidup kita sebagai bangsa berbudaya. Jadi kalau boleh disimpulkan, lingkungan strategis, geopolitik dan SDM yang membuat kita menjadi bangsa besar. Bukan SDA yang akan memakmurkan kita.

“ Yang sangat miris setelah 78 tahun kemerdekaan digenggam kuat, dan kebudayaan selalu dijadikan tameng untuk mempersatukan keberagaman yang ada. Namun, apakah elite negeri ini memahami betul apa inti dari sebuah kebudayaan? Saya engga yakin mereka paham. yang ada rakyat tetap bingung dan bertanya mengapa negeri kaya tetapi mayoritas masih miskin “ Kata Florence. Ira dan Dini termenung. 

“ Terimakasih “ Kata Dini.

2 comments:

Anonymous said...

Mantap Babo

Anonymous said...

Miris memang bangsa ini

Peluang bisnis hidrogen.

  Dari jam 10 malam, saya baca studi tentang rencana Yuan kembangkan bisnis energi terbarukan. Dengan adanya teknologi memungkinkan idea kre...