Saturday, February 18, 2023

Bertemu Marhaen


 

Saya naik Ojol ke tempat pertemuan di kawasan Pluit. Driver Ojol keliatan tidak muda lagi. “ Berapa usia pak ? tanya saya.


“ 55 tahun pak. “


“ Tadi kerja dimana ?


“ Di perusahaan logistik. Jadi supir angkutan barang” 


“ Kenapa berhenti?


“ Kena PHK pak. “


“ Kenapa ?


“ Boss saya sudah tua. Usaha dilanjutkan ke anaknya. Tetapi bukan mengembangkan usaha yang ada malah anaknya alihkan ke usaha internet. Eh malah bangkrut. Ya terpaksa perusahaan angkutan itu disita bank. Pemilik baru, lebih tertarik ke lahan parkir truk dan gudang untuk bisnis property. Ya kita semua yang sudah kerja puluhan tahun di PHK” Kata driver itu. 


“ Oh gitu ya pak ?


“ Ya pak. Kini anak saya tertua baru SMU. Yang dua masih SLTP dan SD. Rumah terpaksa ngontrak. Karena saya engga bisa lagi bayar angsuran rumah. Terpaksa dilepas ke bank. Hidup orang kecil pak. Engga ada tabungan ya ginilah. Kerja ojol juga ini bukan kendaraan saya, tetapi orang punya.  Saya harus bisa setor untuk bayar ke pemilik untuk angsuran leasing. Cari uang engga mudah lagi.  Terlalu banyak ojol. Saingan berat. Ditambah lagi komisi aplikasi 20%. Berat sekali hidup pak. Engga tahu gimana masa depan anak saya. “  Kata drive  itu. 


Saya termenung. Nasip driver Ojol ini seperti sebuah paradox dari perubahan zaman dan generasi. Ternyata perubahan itu tidak melahirkan perbaikan bagi rakyat kecil dan pekerja. Tapi yang jelas memberikan peluang bagi sikaya semakin kaya. Usaha jasa yang tradable dilibas oleh bisnis non tradable ( property) dan kemudian terjebak dalam ekosistem  bisnis yang menjajah.


Sampai di Pluit ditempat tujuan pertemuan, saya membayar ongkos dan tips sebesar USD 100. Driver itu terkejut. “ Pak, untuk apa tips sebanyak ini pak.”

“ Untuk anak bapak di rumah. Yang sabar ya pak” kata saya berlalu. Driver itu terharu seraya mengucapkan terimakasih.”


***

Saat saya masuk ke restoran, Florence sudah bersama tamu dari China dan Ricky, teman bisnis saya. Saya minta maaf karena terlambat datang. 


“ Saya melihat keadaan politik dari waktu ke waktu menuju 2024 sangat mengkawatirkan. Betapa tidak. Sampai saat ini belum ada satupun partai yang dengan resmi mengumumkan capres-cawapres. Yang ada hanya Bakal Calon yang terus digoreng engga jelas. Di media massa kita hanya membaca pendapat pengamat yang sibuk membahas koalisi dan sikap diamnya PDIP terhadap Calonnya. Sementara kalau kita perhatikan puzzel berita soal proses hukum kasus korupsi, kita tahu mereka sedang berperang diatas sana. “ Kata Ricky saat menanti menu datang. Relasi dari China tidak paham apa yang kami bicarakan. Karena Ricky menggunakan bahasa indonesia.


“ Apa indikasi yang kamu lihat ? tanya saya.


“ Kemarin Meneg BUMN lempar bola panas bahwa Dapen BUMN berpotensi kehilangan lebih Rp. 9 triliun akibat salah urus.  Yang hebatnya Meneg BUMN yang laporkan ke KPK, bukan berdasarkan laporan BPK. Kita tahu bahwa disemua BUMN itu pasti ada wakil dari Relawan Jokowi dan Partai. Serangan ini sudah jelas, diarahkan kepada elite. Apakah mungkin Eric merasa terganggu dengan Partai dan ring satu presiden yang restriksi terhadap pencalonan dia sebagai Wapres atau capres ? entahlah. “ Kata Ricky.


“ Ah Eric? “ seru Florence. “ Apa sih prestasi dia? Tiga hari lalu saham dan Obligasi Waskita di suspended oleh Bursa. Terancam default hutangnya. Hutangnnya saja sudah mencapai Rp. 70 triliun. Sebenarnya tahun 2020 sudah diperingatkan SMI soal resiko BUMN ini. Kata SMI, Menkeu di depan Anggota DPR, Bahwa 68% BUMN terancam bankrut. Yang menyedihkan mereka yang terancam bangkrut adalah  mereka yang kurun waktu 2007-2020 telah menikmati kucuran dana PMN lewat APBN. Hanya 32 % yang tergolong sehat.


Penyelesaian hutang GA diberitakan hebat. Tetapi sebenarnya memindahkan resiko kepada BUMN lain  termasuk BUMN perbankan yang dipaksa menukar utang Garuda dengan Obligasi berjangka waktu 20 tahun berbunga 0,5%./ tahun. Itu sama saja engga bayar. GA sehat tapi dimasa depan menyinmpan masalah terhadap BUMN lain. Abai terhadap Risk Management Telkom atas investasi di GoTo yang mengakibatkan unrealized loss sebesar Rp. 881 miliar.


Sebenarnya PR dari Eric Thahir terpilih sebagai Meneg BUMN sangat banyak dan berat sekali. Dengan kondisi itu saya sangat berharap dia bisa membenahi. Latar belakang dia sebagai pengusaha, dinilai Jokowi mumpuni untuk kerja berat itu. Tetapi ternyata selama dia menjadi menteri. Dia sibuk tidak jelas dan hanya retorika dengan membanggakan keuntungan BUMN, yang sebagian besar dari BUMN perbankan. Laba ini juga bisa saja terindikasi dari adanya window dressing.


Kini dengan setumpuk beban masalah BUMN, dia masih ada waktu jadi ketum PSSI dan sibuk sebagai calon Wakil Presiden. Saya kehilangan kata kata untuk menjelaskannya. “ Kata Florence. Saya menyimak saja.


“ Nah, “ Lanjut Ricky “ Kasus judi online 303, yang oleh PPATK  taksasi uang haram sebesar Rp. 150 triliun terabaikan dengan vonis mati terhadap FS. Dan untuk lebih solid pengalihan issue, mendadak pemerintah intervensi kasus indosurya dengan mengatakan kerugian publik lebih mencapai Rp. 500 triliun.  Padahal kasus itu sudah berlangsung lama sampai ada keputusan MA membebaskan tersangka. Kemana saja selama ini? mengapa baru sekarang berteriak mau intervensi hukum.  Kita semua tahulah. Kasus ini sudah bonyok. Tapi suara pembelaan ini menebalkan awan konspirasi kasus besar judi online dan mengamankan elite yang ada dibelakangnya. Sementara kepastian pengembalian uang anggota koperasi tidak jelas.


Dengan dua kasus besar itu, Dubes AS dengan berani mendatangi kantor PKS yang semua tahu sebagai partai pendukung pencalonan Anies. Dan kasus Kader Nasdem di BTS dan kasus Tower transmisi  PLN yang melibatkan keluarga JK, tidak membuat Presiden punya nyali lakukan reshuffle Kabinet untuk kick out kader Nasdem dari Kabinet. “ Demikian uraian Ricky


“ Terlalu besar masalah selama Jokowi berkuasa. Yang itu semua diluar kendali Jokowi. Jokowi tidak punya pengalaman dalam politik tingkat tinggi. Sehingga dia tidak punya terobosan hebat menghadapi intrik dari 8 pejuru mata angin. Terlalu bergantung kepada ring kekuasaan yang ABS. Dia sendiri tidak sadar sampai akhirnya menempatkan dirinya harus lebih utamakan soft landing. Siapapun presiden nanti yang terpilih. Seharusnya dari awal Jokowi lebih mendengar PDIP yang mengusungnya, bukan pihak lain. PDIP udah kenyang pengalaman dan tahu mengelola politik persatuan. “Kata Plorence dengan wajah sedih. Maklum Florence orientasi politiknya adalah Marhaen.


Saat hidangan tersedia, saya asik bicara dengan tamu dari China. Hanya bicara soal bangkitnya Ekonomi China paska lockdown Covid. 


" Kami minta Anda jadi mitra kami untuk bebaskan tanah proyek kawasan industri dan pelabuhan logistik” kata tamu dari China. Nah masuk ke masalah bisnis.


" Saya dapat apa? tanya saya.


" Kami beri fee per m2”


" Hanya itu ?


" Ya. Dana dari kami. Tugas Anda hanya atur pembebasan tanah”


" Izin ?


" Itu juga bagian dari tugas Anda. Tapi biaya semua kami yang bayar”


" Bagaimana kalau kita bicara secara real bisnis. Saya ingin mitra sejajar”


" Engga mungkin. Kami yang punya uang dan kami juga yang pegang market. Kenapa harus sejajar?


" Tapi saya warga negara Indonesia. Pemerintah beri izin kepada saya. Dan saya punya tanggung jawab melaksanakan visi negara. Bukan visi negara anda." kata saya tersenyum.


" Apa peduli Anda dengan itu semua? Ayolah. Kita teman lama. Toh tampa resiko Anda akan dapat uang banyak dari komisi itu”


" Justru karana teman lama, saya pikir Anda tidak pernah kenal saya. Sebaiknya cari mitra lain aja. “


" Anda korbankan semua ini hanya karana Indealisme?


" Bukan idealisme tapi rasa hormat. Tanggungan jawab sebagai warga negara. Apapun saya tidak akan gadaikan negeri ini hanya karana uang.”


" Baiklah. Saya tunggu Anda berubah sikap. Saya beri waktu berpikir”


" Engga perlu tunggu. Hasilnya akan sama. “ Kata saya menuangkan teh ke cangkirnya. Saya tersenyum. Dan dia bermuka masam. Setelah itu suasana sudah tidak nyaman. Tapi saya yakin dia bisa menerima sikap saya. Karena dia sudah lama kenal saya di China.


***

Setelah relasi saya dari China pulang, tinggalah saya dan Florence.  Karena Ricky dampingi relasi saya kembali ke hotel. “ Memang berat menjaga idealisme itu. Apalagi orang seperti kamu yang punya peluang dan punya network untuk itu. Tapi kamu tetap focus kepada amanah. Apa yang mendasari kamu tetap konsiten? Tanya florence.


“ Negeri ini merdeka dengan jutaan martir dan suhada. Mereka mati karena hope. Lantas apa jadinya kalau setelah merdeka kita tenggelamkan hope itu hanya karena kerakusan. Kita mungkin belum mampu memberi yang terbaik bagi negara. Belum mampu melakukan perbaikan dan perubahan. Tetapi setidaknya kita tidak ikut merusak negeri ini. Ya setidaknya ibu saya tidak harus menyesal melahirkan saya. Hidup sederhana sajalah. “ kata saya. 


" Lantas apa masalah bangsa kita ini sebenarnya? Tanya Florence.


" Ada enam saja  dan itu berakar kepada budaya feodalisme. Ini penyakit bangsa kita sejak sebelum merdeka. Kekuasaan bisa berganti tetapi feodalisme dipertahakan. Sepertinya kekuasaan adalah kerakusan dan kutukan bagi negeri ini."


" Sebutkan apa saja itu ?


“ Pertama ketimpangan sosial. Bayangin ada orang punya tanah jutaan hektar, tapi ada juga yang engga punya tanah. Bedanya jauh sekali. Lebih banyak yang engga punya tanah. Ada yang punya rumah puluhan, sementara ada banyak yang engga punya rumah. Bahkan sewa rumahpun kesulitan bayarnya. “ 


“ Oh segitunya ya. Tapi bandara masih rame. Jalan toll masih macet. Ke mall masih banyak yang belanja”


“ Ya, itu 35% rakyat Indonesi dan kamu termasuk di dalamnya. Nikmati saja. Tapi kalau engga ada perbaikan di masa depan, NKRI bisa bubar. Bukan karena mereka anti pancasila, tetapi justru mereka menuntut pancasila tegak. “ Kata saya. 


“ Duh sangat mengkawatirkan. Lanjut yang berikutnya “


“ Kedua, ketidak adilan kepada akses berbankan. Yang punya akses ke bank hanya mereka yang punya collateral. Engga ada Collateral ? ya engga dapat kredit. Balik lagi kepada yang pertama. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.  Ketiga. Infrastrutur ekonomi yang timpang. Coba aja perhatikan. Untuk rakyat Jakarta bandung, dapat fasilitas kereta cepat. Biayanya Rp. 100 trilun lebih. Uang sebanyak itu bisa  bangun trans railway Lampung - Aceh.  Jakarta itu APBD nya 76 triliun. Bandingkan dengan jawa tengah yang penduduknya 4 kali Jakarta, APBD nya hanya 1/3 dari jakarta atau Rp. 26 trilun.  Keempat ? Jaminan sosial. Menurut data 65% orang indonesia tidak secure hidupnya. Punya dana pensiun tapi tidak cukup. Engga ada tabungan.  Kadang ada tabungan, dilibas juga oleh bisnis ponzy berkedok asuransi dan Koperasi. Mana bisa mereka dimasa tuanya piknik menikmati waktu santainya. Apalagi punya pesanggrahan yang damai dan sejuk. Itu hanya mimpi doang. 


Kelima. Kualitas pendidikan yang buruk. Mengapa yang pertama, kedua, ketiga, keempat terjadi?. Itu karena kualitas pendidikan rendah. Kita punya banyak perguruan tinggi. Tapi korban investasi bodong dan ponzy adalah mereka yang lulusan Perguruan tinggi. Korban hoax adalah mereka dari lulusan perguruan tinggi. Ternyata pendidikan tinggi tidak ada korelasinya dengan kekayaan literasi. Makanya jangan kaget bila banyak tenaga ahli didatangkan dari luar negeri. Nah apalagi mereka yang tidak dapat kesempatan masuk perguruan tinggi. Itu jumlahnya 88% dari populasi negeri ini.  Keenam. Sistem hukum yang tidak solid dan penegakan hukum lemah. Dari 1 sampai 5 penyebabnya karena politik jadi panglima. Hukum berpihak kepada kekuasaan. Penguasa menggunakan hukum untuk menindas dan memperkaya diri. Maka jadilah hukum sebagai komoditi yang bisa dibeli dan dijual sesuai market. "Kata saya. Florence terhenyak. 


" Apa solusinya ?  Tanya florence dengan suara lirih, Sepertinya dia tidak berharap jawaban dari saya, tetapi saya jawabkan juga, "Perubahan mental dan perbaikan Akhlak. Setidaknya berhentilah rakus dan hiduplah sederhana" 


Tak berapa lama, kami bayar bill dan pulang. Namun saat saya akan naik kedalam kendaraan Maybach milik Florence, driver ojol yang tadi antar saya, menegur saya. “ Pak, saya pikir tadi bapak mau pulang pakai ojol lagi. Makanya saya tunggu. Ya udah. Sekali lagi terimakasih pak” Kata driver ojol itu. Saya tertegun saat driver ojol itu berlalu kekendaraannya. “ Pak “ panggil saya.


“ Ya pak.” Driver itu balik badan.


“ Ya udah saya naik Ojol bapak saja” Kata saya. Dia tersenyum cerah.


“ Ada apa kamu? tanya florence. “ biar saya antar “ 

“ Engga usah. Biar saya naik ojol aja. Itu driver orang marhaen.” Kata saya tersenyum. Florence mengacungkan jempol. “ Merdeka!”

2 comments:

Anonymous said...

Idealisme itu jangan sendirian.harus bersama sama dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.bangun dari akar rumput.
Kami tetap membangun investor swasta dlm Negeri bekerja sama dengan Pemerintah daerah bagian Timur.karena membangun Indonesia harus dari Timur.pasti sukses pasti bahagia.itulah Indonesia.

Anonymous said...

Merdeka...

Selalu ada harapan..

  “ Ale ! terdengar suara Patria di seberang lewat telp selularku. “ Ketemuan dong. Tempat biasa di bunker ya. " sambungnya. Aku tahu i...