Sunday, December 25, 2022

Angin perubahan, Anies ?



Ira minta bertemu denganku di Cafe favorit kami. Ira adalah sahabatku. Dia terpelajar. S3 dari Harvard. Bekerja pada lembaga Think Thank yang terfialiasi dengan NGO international. Semakin lama semakin dia bergerak ke kanan. “ Anies itu bukan soal dia hebat atau engga. Tetapi adalah simbol gerakan kaum kanan. “ katanya. Aku  tidak keberatan dia bilang Anies itu simbol gerakan kaum kanan yang butuh perubahan. Itu hak demokrasi dia. Tetapi yang tidak sehat adalah apabila gerakan perubahan yang  dia maksud sebenarnya tidak jauh dari populisme. 

Sekarang ini, katanya, pemerintah yang lahir dari rezim reformasi, tidak beda dengan rezim Soeharto. Kalau Soeharto menghadapi lawan politiknya lewat tindakan represif. Culik, karungi. Di era refomasi ini, rezim menggunakan cara manipulasi warganya lewat berita dan statistik. Hal yang mudah diketahui. Misal, ketimpangan pendapatan yang umumnya menggunakan ukuran Gini ratio. Perhatikan. Negara korup seperti Afrika, Amerika Latin, Indonesia menghitung GINI rasio dari aspek pengeluaran, bukan pendapatan. Tahu mengapa? Kalau dihitung dari aspek pendapatan maka GINI ratio kita bukannya  0,403, tapi lebih tinggi. Dari Data ini jelas mengindikasikan bahwa rezim sudah kehilangan reputasi membawa perbaikan kepada bangsa ini. 

Kamu tahu, lanjutnya. Para influencer dibayar untuk menciptakan kekacauan informasi ini. " Oh rasio GINI kita masih relatif sama dengan China atau AS. " Kata mereka. Padahal hitungan Rasio Gini China dan AS beda dengan kita. Mereka menggunakan aspek pendapatan, bukan pengeluaran. Mereka yang punya niat baik, berusaha mengingatkan lewat kritik, tetapi dibunuh lewat trial by the press. Tak ubahnya dengan China yang mengitimidasi warganya lewat separangkat  aturan tentang ITE.

Kini sebenarnya kita kembali masuk ke era otokrasi, kata Ira. Tidak perlu terlalu pintar untuk tahu. Kalau 2/3 lebih anggota DPR pro kepada pemerintah, itu sama saja lembaga parlement sudah menjadi oligarki untuk lahirnya rezim otokrasi model baru, seperti yang ditullis oleh Anne Applebaum dalam, Twilight of Democracy: The Seductive Lure of Authoritarianism. Jika para otokrat tradisional seperti halnya agama mengandalkan ilusi persetujuan, para otokrat masa kini menciptakan persetujuan atas konstruksi ilusi. Vladimir Putin adalah contoh. Secara perlahan ia mengubah institusi sehingga perubahan pada Pemilu tidak mengubah kekuasaannya. 

Padahal, kata ira,  sistem demokrasi kita menganut presidentil. Tidak dikenal istilah oposisi atau koalisi. Semua anggota DPR itu seharusnya bertanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya, bukan kepada Partai yang mengusungnya. Mereka harus bersuara seperti apa kata pemilihnya. Dengan begitu  value demokrasi dalam bentuk check and balance tercipta. 

Aku menghela napas kalau ingat perubahan cara berpikir Ira. Bukan hanya Ira, tetapi banyak juga akademisi, agamawan, peneliti, jurnalis, mahasiswa  ikut terpengaruh dalam narasi perubahan yang digaungkan Anies. Mungkin ini tanda tanda kemunduran nilai demokrasi karena dianggap pemerintahan hasil pemilu demokratis tidak seperti yang mereka harapkan. Inilah paradox demokrasi. Dalam sistem demokrasi,  kita tidak akan mendapatkan nilai demokrasi berupa lahirnya pemimpin berkompetensi hebat tanpa masyarakat yang juga hebat. Terlalu utopia kalau ingin berharap demokrasi sebagai jalan perubahan kebaikan. Yang ada hanya perubahan model otokratis saja. Siapapun pemimpinnya.

***

Dari arah pintu masuk, keliatan ira jalan cepat kearah table ku. Dia tersenyum “ Gua sebel  sama lue , tetapi lue ngangenin sih. Ya udah. Gua jujur. Gua kangen dah” Katanya menghempaskan pantatnya di kursi. Aku senyum aja.

“ Maaf gua terlambat. “ katanya “ Tadi di rumah ada tamu. Sebenarnya bukan tamu. Tetapi mantan ART di rumah gua. Empat tahun lalu dia minta berhenti. Alasanya karena mau nikah di sukabumi. Tetapi, tiga bulan lalu, suaminya  di PHK kerja di pabrik garment. Rumah tangga oleng. Mungkin dalam keadaan tidak tahu siapa yang harus disalahkan, membuat suaminya mudah tersinggung. Dan akhirnya terjadilah KDRT. Dia minta cerai. Merekapun bercerai. Dan sekarang dia minta kembali kerja. Ya mau gimana lagi. Gua terima ajalah. Jadi ada dua ART di rumah gua” katanya.

Saya senyum aja. Yakin setelah ini pasti ada narasi yang lebih hot. “ Kamu tahu..” katanya. Benar kan. “ Gelombang PHK itu sudah berlangsung sejak adanya pandemi dan kini sudah sampai puncaknya. Disaat kita surplus perdagangan, kita malah kekurangan dollar karena DHE disimpan di luar negeri oleh eksportir. Rupiah melemah, ongkos jadi naik, supply chain global semakin terhambat akibat resesi, pasar domestik teracam inflasi dan kenaikan suku bunga. Lengkaplah masalah ekonomi, dan selalu yang jadi korban adalah rakyat kecil, para buruh” Lanjutnya.

“ B, harus ada perubahan. Engga bisa dibiarkan rezim ini berkuasa dengan cara oligarki atau tepatnya otokrat demokrasi.” kata Ira berusaha memprovokasiku agar ikut dalam barisan dia. Orang yang berada bersama Anies yang menghela gerakan perubahan kanan.

‘ Ira, saya tidak masalah dengan gerakan perubahan Anies itu. Itu hak kalian dalam berdemokrasi. Tapi harus hati hati. Kalau gerakan itu dibalut dengan narasi populisme maka dia akan bercampur dengan kebencian. Apa hasilnya? tuh contohnya Donald Trumps, di AS dan  Rodrigo Duterte, di Philipina. Keduanya gagal memperbaiki keadaan,  tidak lebih baik dari rezim sebelumnya, bahkan lebih buruk. Jadi saya lebih suka, perubahan akal sehat atas dasar moral. Akar masalah dari kegagalan itu bukan pada sistem dan demokrasi tetapi prilaku elite politik, yang menjadikan kekuasaan segala galanya sehingga menghalalkan segala cara mencapai tujuannya.” Kata saya.

“ Ah kamu terlalu menyederhanakan persoalan. Seakan moral segala galanya? Ini soal sistem. Itu yang harus diubah”

“ Maaf, tepatnya pelurusan agenda nasional. Itu yang harus kita perjuangkan."

“ Oklah. Apa ?

“ Masalah makro ekonomi, mikro ekonomi, geopolitik, geostrategis, itu bukan masalah substansi. Masalah substansi itu adalah soal agenda. Kita kehilangan nilai nilai lama seperti saat kita memproklamirkan kemerdekaan. Apa itu ? kebersamaan, senasip sepenanggungan untuk lahirnya keadilan bagi semua. Tentu keadilan yang proporsional. Kalau diperas lagi ya gotong royong namanya. Harusnya agenda itulah yang kita perjuangkan. “

“ Caranya? tanya Ira.

Di China, kataku berusaha mencerahkan dengan contoh konkrit. " Mereka gemar sekali berkelompok dan bergotong royong menyelesaikan masalahnya. Tak penting siapa yang akan memimpinnya. Bagi mereka yang penting ada orang yang mau memimpin kelompok itu. Orang china itu dalam ring terkecil mereka mengorganisir dirinya lewat system arisan. Antar kelompok arisan ini mereka membentuk perkumpulan berdasarkan bidang profesi, antar petani kol, antar petani beras , antar pengrajin dan lain lain. Dari perkumpulan berdasarkan bidang profesi ini mereka membentuk lagi perkumpulan berdasarkan kecamatan. Dari kecamatan membentuk perkumpulan kabupaten. Begitu seterusnya. 


Tapi susunan perkumpulan ini tidak terstruktur sebagaimana design pemerintah. Di China sistem itu tumbuh alamiah dan pemerintah membiarkan begitu saja berkembang. Makanya strukturnya seperti jaring laba laba. Peneliti barat mengatakan ini sistem ring to ring. Dari satu lingkaran kelingkaran berikutnya dalam ikatan yang kokoh atau seperti sarang lebah, dimana diantar lingkaran itu ada palka. Palka ini berisi para cerdik pandai yang menjadi penghubung  dan mentor antar ring dengan ring itu.


Ketika pemerintah memberikan kebijakan agar rakyat boleh berkelompok membangun kawasan ekonomi baru. Maka segera kekuatan ring to ring itu bergerak cepat. Para mentor dari kalangan kampus dan tokoh masyarakat tampil menjadi pencerah atas program pemerintah itu. Para ketua arisan, ketua kelompok, ketua wilayah memasarkan Kupon investasi itu. Hasil penjualan kupon itu tidak dipakai untuk membangun. Tapi dananya di pool dan ditempatkan sebagai jaminan di bank untuk mereka mendapatkan fasilitas pinjaman dari bank. Di China bunga bank sangat murah. Untuk kegiatan ini bunga bank tidak lebih 1,5% per tahun. Bank bukan hanya memberikan kredit tetapi juga membantu struktur pendanaan lewat turn key project. 


Setelah project selesai dibangun maka kupon itu di tukar dalam bentuk obligasi bagi hasil. Obligasi ini diperjual belikan sebagai alat investasi oleh perkumpulan tingkat propinsi dan pusat. Disini nampak dana orang kaya di kota mengalir ketingkat bawah secara sistematis tanpa dipaksa. Hasil penjualan obligasi itu dijadikan alat pelunasan hutang kepada Bank. Nilai obligasi akan terus meningkat di pasar seiring peningkatan nilai kawasan itu. Atau sama saja seperti kita pegang sertifikat rumah dalam nilai pecahan kecil. Kalau harga rumah naik maka obligasi juga akan naik nilainya. 


Kamu tahu, hampir semua sarana dan prasarana di dalam kawasan dibangun dengan konsep seperti itu. Contoh., Kelompok industri pengolahan pangan, ingin membangun zona industri. Maka kelompok arisan petani akan otomatis menjadi pembeli revenue bond itu karena mereka tahu bahwa kawasan industri itu akan digunakan oleh perusahaan yang akan menjadi pembeli produk pertanian mereka. Antar kelompok arisan itu juga punya hubungan vertikal dan horisontal dengan berbagai kelompok arisan lainnya , yang berbeda beda wilayah, bidang profesi , bidang kegiatannya. Inilah sebagai financial resource. Dari mereka untuk mereka.


Sistem jaring laba laba itu sangat kuat menghalangi kekuatan luar yang ingin mengontrol mereka. Sangat sulit ritel modern yang kuat modal bisa menembus ini. Ini bisa terjadi karena antar orang berilmu dengan orang awam bergandengan tangan , antar orang kaya dan miskin saling bergandengan tangan, antara industri dan pemasok bergandengan tangan, antara dunia usaha dan perbankan bergandengan tangan. Antara semuanya terhubung dalam ikatan saling mengikat diri secara rumit namun fleksibel. Tidak ada UU atau Peraturan pemerintah untuk menghasilkan design seperti ini. Dia ada karena budaya China yang suka bergotong royong , hidup hemat, bekerja keras, setia dengan teman, menghargai orang yang lebih tua, menghormati orang berilmu dan cinta kepada mereka yang lemah. 


Dari komunitas seperti inilah , konsep apapun yang sesuai dengan akar budaya mereka , akan diterima dan dilaksanakan secara otomatis. Pemerintah China, paham betul bagaimana mengelola komunitas diatas 1 miliar itu tanpa terjebak dengan konsep dari dunia barat , dengan segala konsep nilai nilai demokrasi. Buktinya hanya butuh 30 tahun, china sudah menjadi kekuatan nomor dua didunia.

Seharusnya Indonesia lebih hebat dari china soal membangun komunitas. Karena Agama dan budaya kita mengajarkan soal kebersamaan. Sholat, kita disunnahkan berjamaah. Tapi kebersamaan ini dimanfaatkan oleh politisi untuk memperbodoh rakyat  dengan menjadikan agama sebagai alat membenci dan memusuhi mereka yang berbeda, akibatnya potensi gotong royong meredup dan berharap pemerintah jadi lampu Aladin. Kemajuan china bukanlah karena pemerintahnya hebat  tapi rakyatnya yang hebat." 


“ Terus apa kaitannya dengan angin perubahan yang sedang kami perjuangkan?

“ Hilangkan populisme dan raih semangat kebersamaan dari semua elemen bangsa. Kita tidak bisa menjadikan konglomerat dan pengusaha besar sebagai kambing hitam. Mereka exist karena UU dan peraturan. Mereka aset bangsa. Apa yang harus dilakukan, bukan membenci mereka tetapi mengendalikan mereka agar sesuai dengan agenda kebersamaan. Negara harus rebut kembali oligarki ekonomi dari swasta itu. Kemudian arahkan kepada keadilan sosial yang bertumpu kepada industrialisasi dan semangat gotong royong. “

" Dalam konteks Indonesia, apa yang harus dilakukan? Ira sepertinya sudah mulai paham.


“ Ya pada tahap awal, lewat APBN arahkan belanja domestik untuk industri yang bermitra dengan UKM. Ya redistribusi SDA lewat downtream industry, pembangunan pusat logistik dan stokis, agar semakin luas industri terbangun dan semakin luas angkatan kerja terserap. Ya tentu harus focus kepada riset agar SDA kita bisa diolah secara mandiri. Yakinlah kalau kita mandiri maka kita akan menjadi kekuatan ekonomi dunia. Alasanya? kita punya sumber daya besar, iklim yang bersahabat, mayoritas penduduk kaum muda, dan daya beli domestik yang besar. Yang pasti dengan kemandirian itu, kita tidak lagi sepenuhnya tergantung kepada cadagan valas. Rupiah akan jadi mata uang terhormat.” kata saya. 

Ira terdiam. Saya beri kesempatan dia merenung. Akhirnya dia berkata “ Benar, kamu. Sebenarnya kita semua salah. Pemerintah terjebak sendiri diatas kemelimpahan sumber daya, sementara akses rakyat memanfaatkanya sangat rendah. Itu karena lack knowledge. Miskin literasi. Kalaupun ada yang mengaksesnya, itu hanya segelintir. Hanya sebatas rente. Bukan industri kreatif. Lahirnya individualisme, juga karena lack knowledge itu. Ya , harus ada semangat kebersamaan dan negara harus lead dalam hal ini, termasuk memperbaiki sistem pendidikan. Ya memang kerja besar dan bukan jalan yang mudah. Tapi kalau focus, kita pasti akan berubah jadi lebih baik.” kata ira. Aku acungkan jempol dua. 

Moga dia bisa disadarkan.

B, kamu kenal engga dengan Prof Dyah? Katanya tersenyum. Saya terdiam. Bagaimana aku  bisa lupa kepada wanita yang ku kenal diusia muda ku dulu tahun 1984. 

“ Ya kenal” Kataku.

“ Kami mau dirikan lembaga think thank untuk pemberdayaan UKM dalam hal supply chain industry dan mengadvokasi pemda mendirikan pusat logistik dan stokist. Rencana  setelah Pemilu akan kami dirikan. Sekarang kami sedang menggalang teman teman agar ikut bergabung dan tentu berharap ada pillantropi yang mau jadi donatur. Kamu bisa jadi donatur? Kata Ira.

“ Dirikanlah dulu. Nanti saya lihat. Kalau memang benar punya kompetensi ya pasti saya dukung.”

“ Kenapa engga dari sekarang aja? kata ira mengerutkan kening.

“ Engga bisa Ira. Standar saya ya begitu. Saya hanya mendukung orang yang punya effort, bukan hanya punya mimpi doang. Sekecil apapun effort tetapi real, ya pasti saya dukung”

“Dasar padang pelit luh” Kata Ira kesel.  " Pokoknya mulai sekarang kalau gua ajak diskusi dengan teman teman gua, lue harus ikut. Bantu saran saja dulu, dan sekalian traktir makan dan minum. Boleh dong say.."

" OK lah."

" Sekalian  kalau kita mau studi banding ke luar negeri, tolong diongkosi. Boleh ya say"

" OK tapi dengan syarat. tidak ada agenda politik. "

" Ya siaaaap" 

Aku senyum aja.

3 comments:

Anonymous said...

Thanks for this piece, Babo. A good read, indeed!

Smith said...

Luar biasa,, tulisan babo mencerahkan,, semoga nilai2 gotong royong di masyarakat kita tumbuh kembali 🙏🙏🙏

Anonymous said...

Lawan bicara Ira itu sangat dewasa dalam segala hal. Untuk bangsa kita pasti membutuhkan pengorbanan dan waktu yg tak sebentar. Euforia demokrasi melahirkan borjuis model baru hampir di setiap lini "masyarakat". Revolusi mental yg digemakan rezim beradu kuat dg teriakan kaum intoleran yg tak henti²nya menebar kemunafikan.
Namun demikian ayas tetap memohon disela doa.
"Ya Allah Sang Empunya Alam Raya semoga bangsa Indonesia terlepas dari perang saudara".
Trims Tuhan 🙏🙏

Selalu ada harapan..

  “ Ale ! terdengar suara Patria di seberang lewat telp selularku. “ Ketemuan dong. Tempat biasa di bunker ya. " sambungnya. Aku tahu i...