Saturday, November 12, 2022

Ikan paus di Samudera

 





Secara coincident aku bertemu Amel di Marina Bay Singapore. Aku mengenal Amel sejak tahun 83. Kemudian kami akrab lagi di Hong Kong tahun 2008. Itu waktu dia melakukan fundraising untuk proyeknya di Indonesia. Waktu itu mitranya adalah mantan banker plat merah. Dia mendirikan holding company dan sudah listed dipasar sekunder Singapore. Ada 4 jenis bisnis dan  puluhan anak perusahaan yang dia kelola dengan melibatkan mitra globalnya dari China, Singapore, Hong Kong dan Amerika. “ Marilah kita cari tempat yang enak ngobrol. Kangen tahu.”Katanya menarik tanganku. Walau usianya sudah kepala 5 namun penampilan dan langkahnya tidak nampak dia menua. Kecantikannya tidak memudar.


Apa yang menarik bagiku tentang Amel.?


“ Kamu tahu kan banyak tadi perusahaan yang sahamnya bluechip di bursa akhirnya harganya tinggal gocap. Tahu apa penyebabnya ? Katanya.


“ Ya bisa saja karena management engga focus sehingga tidak menyadari perusahaan sedang berproses jatuh. Umumnya terjebak menejemen ilusi” Kata saya.


“ Itu ada benarnya. Tetapi kalau itu yang terjadi kan pihak lain tertarik untuk memberikan penyelamatan lewat akuisisi. Harga masih bagus. Tetapi ini terjun bebas harga sahamnya.”


“ Jadi menurut kamu apa ? Kata saya penasaran.


“ Sebelum saya jawab pertanyaan kamu, saya mau tanya dulu. Dimanakah tempat teraman untuk mencuri ? Maksudnya adalah kita bebas mencuri tanpa ada satupun pihak mencurigai kita akan mencuri ditempat itu.” Kata Amel dengan tersenyum.  Aku menggelengkan kepala. Karena memang aku tak pernah terpikirkan untuk mencuri jadi tidak paham menjawabnya. 


“ Mencuri milik kita sendiri”. katanya dengan mimik menahan  tawa. Aku mengerutkan kening.  


“ Kamu tahu. " katanya " Ada perusahaan. Pemegang saham dan executive nya melakukan perampokan secara diam diam tanpa terlacak. Perampokan itu bukan kepada pihak luar tetapi kedalam perusahaan dia sendiri. Salah satu  contoh. Dia mengakusisi perusahaan tambang batu bara. Uangnya dari investor. Namun biaya konsultan sebesar USD 48 juta untuk proses akuisisi itu dibayar kepada perusahaan cangkang. Belakangan diketahui perusahaan cangkang itu milik dia sendiri. Tetapi karena semua kontrak legal maka tidak bisa dianggap perampokan. Ya gimana engga gampang atur legalitasnya?, Direktur perusaan investasi itu dengan direktur perusahaan yang jadi target akuisisi adalah orang yang sama.


Bukan hanya itu. Perusahaan tambang itu juga diperas oleh rekanan perusahaan, yang sebetulnya para direksi rekanan perusahaan itu terhubung dengan dia sebagai pemegang saham. Perusahaan rekanan itu bertindak sebagai outsourcing. Dari hauling road, pelabuhan, tugboat, truk angkut  adalah unit business yang berdiri sendiri. Tentu harga jasa yang ditetapkan dapat diatur sesukanya dan volume pekerjaan dapat diatur sedemikian rupa karena pemiliknya sama walau entity nya berbeda.


Ya perusahaan tambang itu jatuh rugi. Nah kalu rugi kan, terjadi gagal bayar utang. Investor jadi korban. Yang disalahkan pasar karena harga batubara jatuh. Yang disalahkan pemerintah karena menetapkan DMO terlalu tinggi. Skema merampok dari dalam itu banyak sekali. Sama dengan pejabat negara yang korup uang negara. Hampir sebagian konglomerat lakukan itu. Mereka engga peduli. Apalagi mereka uda IPO dan utang di bank serta terbitkan obligasi. 


Tahun 2014 harga batu bara jatuh. Saham batu bara berguguran di bursa. Era selanjutnya bukan lagi mineral yang ditambang tapi persepsi ilusi lewat bisnis unicorn. Investasi pada Unicorn melambung sampai pada batas tidak masuk akal. Semua tercatat sebagai gairah investasi memasuki era 4G. Investasi yang besar diawal itu tidak exit lewat laba operasi, tetapi lewat bursa dengan skema merger sesama perusahaan rugi. Lucunya publik bayar berlipat. Mereka mendapatkan capital gain dengan mengorbankan dana pensiun negara dan rakyat. Dan itu hanya persepsi pasar saja. Ilusi. Hanya masalah waktu, itu saham akan jatuh gocap. Karena engga mungkin window dressing terus, kan.


Ada lagi cerita. Ada pengusaha ambil alih sebagian saham Bank BUMD. Katanya untuk bantu management dan pendanaan. Tetapi setelah duduk sebagai pemegang saham, justru kas pemda yang ada di bank itu ditilep lewat kredit property. Memang secure karena ada jaminannya tetapi itu harga tanah udah di mark up dua kali. Kalaupun credit nya gagal bayar, toh ada collateral. Hebatnya, secara formal perusahaan property itu tidak terhubung dengan nama pemegang saham tetapi kalau ditelusuri pasti ada kaitannya. Ya mau engga mau Pemerintah harus bailout kas PEMDA, kalau engga APBD Pemda engga jalan.


Makanya dampak dari cara culas pengusaha seperti itu, para banker dan investor institusi asing telah menempatkan pengusaha indonesia dalam catatan hitam. Mereka menjauh dari para pengusaha yang menciptakan ponzy bisnis dari penguasaan SDA dan rente. Pengusaha itu jago menciptakan bisnis ponzy yang bisa menyenangkan investor dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang membuat investor dan banker terjebak dalam kerugian besar. Yang menyedihkan sekali adalah para pengusaha yang masuk blacklisted itu kebanyakan dekat dengan elite politik, dan bahkan ada yang merupakan bagian dari elite politik


“ Mereka rakus. There is a sufficiency in the world for man's need but not for man's greed. Greed is so destructive. It destroys everything.” Katanya. Saya tersenyum melihat dia menghabiskan tequila di gelasnya. Sekali tenggak, habis. Membayangkan ternyata tangan Tuhan selalu bekerja disaat rakyat butuh keadilan. Pesta harus usai. Jokowi mengalahkan mereka. Mereka yang kalah itu akhirnya jadi koalisi Jokowi, secara langsung ataupun tidak langsung mereka leverage kekuasaan Jokowi untuk bisnis mereka.


“ Ale, serunya, entah mengapa aku ceritakan semua itu. Sebenarnya aku dan kamu sama saja. Kita komunitas Srigala. Hanya saja kita berusaha menjadi Srigala yang jinak di hadapan kelinci namun garang di hadapan predator lainnya. Ingat engga dulu tahun 2014 kamu provokasi saya mendukung Jokowi. Saya tahu itu cara kamu membayar dosa kesalahan masa lalu. Tentu kamu berharap ada perubahan lebih baik. Sebenarnya kamu naif. Berharap dari bisnis kamu di luar negeri kamu bisa mengembangkannya di Indonesia untuk anak anakmu. Dan kamu inginkan atmosfir bisnis yang bagus, setidaknya tidak sama dengan rezim sebelumnya. Nyatanya kini kan kamu harus tersenyum kecut. " katanya terus minum.


Dari tadi aku hanya mendengar saja. Mungkin Amel sedang galau. Itu terlihat dari berkali kali dia menenggak Tequila. Sampai akhirnya aku ambil botol dari hadapannya. “ Sudah.! Cukup. “ Kataku. Dia mabok. Aku menuntunnya ke kamar. Suaranya tak henti meracau di bawah kucuran air dari gagang shower. Amel kadang-kadang meloncat-loncat seperti kanguru, kadang-kadang melenggak-lenggok bagai Medusa menari di ujung jalan, dan tak jarang berdiri tegak seperti patung gladiator sesaat sebelum berkelahi dengan singa kelaparan. Aku sebenarnya keberatan melihat tingkah sableng Amel, tetapi jadi pengusaha itu memang berat. Apalagi di tengah situasi ekonomi global yang tidak baik baik saja. 


”Ale,  kita ini kumpulan ikan paus yang dikelilingi oleh ikan kecil dan mereka siap saja di telan tanpa kita merasa berdosa.” Amel terus meracau. ”Kau tak takut kan disambar ikan setan?” lanjutnya. Aku mendengus tak mampu menyembunyikan kepanikan melihat dia melepas pakaiannya dan akhirnya underwear nya juga.


”Tak akan ada binatang buas dari samudra paling ganas yang berani memangsaku, Sayang. Hanya binatang rakus sepertimu yang boleh melahapku. Bukan gurita sialan. Bukan hiu urakan. Mari temani aku menyelam dan sama sama memangsa?”


Aku hanya mematung. Tak segera menjawab permintaannya. Apalagi saat dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan bugil. Dia memelukku dari belakang. Aku merebahkannya di tempat tidur. Dia terkulai. Mabuk berat dia. Aku tatap wajahnya sedang tidur. Ternyata tequila yang menyelamatkannya dari kegalauan akibat bisnis yang lesu dan dia bisa bertahan karena bisa melupakan barang sejenak masalah hidup yang tidak baik baik saja.  Besok pagi dia akan terjaga dengan semangat baru dan kekuatan baru. Aku mematikan lampu kamar dan terus ke bandara. Pulang ke jakarta.



1 comment:

Ben de Haan said...

Penggal perjalanan hidup anak manusia, hanya pengendalian dirilah yang mampu menghindar dari hempasan gelombang pasang yang menerpa..

Jangan melewati batas..

  Tahun 2013 september, Holding Company yang aku dirikan sejak tahun 2006 berada dibawah pengawasan dari pihak yang ditunjuk oleh konsorsium...