Saturday, October 08, 2022

Cinta seorang petarung

 




Desember tahun lalu saya pulang Kampung ke Maninjau, Sungai batang, Tanjung Raya. Sehari di kampung, saya sempatkan ke rumah Tan Malaka. Matahari bersinar lembut saat kendaraan menyusuri Jalan Tan Malaka sepanjang 50 kilometer, yang merupakan jalan provinsi terpanjang di Sumatra Barat. Jalan yang lurus itu melintang dari Jalan Lintas Riau Sumbar di Kota Payukumbuh hingga tembus ke rumah masa kecil pahlawan nasional Ibrahim Datuk Tan Malaka di daerah perbukitan terpencil di pelosok Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota. Rumah itu beraksitektur rumah adat Minangkabau, dengan lima buah gonjong terbuat dari seng.



Di rumah itu saya termenung lama. Inilah rumah dimana seorang putra minang di lahirkan. Siapa sangka, dialah penggagas Negara Indonesia dengan konsep yang ditulis secara terpelajar, dalam bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925). Kelak buku inilah yang menginspirasi Soekarno, Hatta, Sjahrir, dkk untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Istri yang mendampingi saya dalam kunjungan itu sempat bingung melihat saya termenung menatap rumah itu. “ Emang hebatnya apa sih  orang ini. Kan katanya dia Komunis” Ya orang Minang sendiri tidak banyak yang tahu siapa itu Tan Malaka


“ Kalau  komunis yang dimaknai anti Tuhan jelas bukan. Tan Malaka dalam usia ABG sudah bisa bahasa Arab. Hafidz Al Quran. Menguasai tafsir Al Quran.” Kata saya.


“ Wah pintar sekali dia. “ Kata istri saya.


“ Bukan hanya pintar. Tepatnya dia jenius. Berkat kecerdasannya, dia dapat berkesempatan sekolah bagi kalangan bangsawan, Kweekschool, Bukittinggi. Di sekolah itu juga awal Tan Malaka  mengenal cinta kepada teman sekelasnya. Syarifah namanya. Namun Cintanya tak bisa bersandingn di pelaminan. Orang tuanya tidak merestui ketika Tan Malaka hendak melamarnya. Tan Malaka memilih patuh kepada orang tuanya. Namun Cinta Tan Malaka kepada Syarifah tak pernah padam sampai usia menua.


Dalam duka karena cinta tak bertaut. Tan Malaka menerima beasiswa melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Itu tahun 1912.  Di Belanda, ia masuk Sekolah Guru Haarlem. Ia menonjol dalam ilmu pasti. Dia juga tertarik membaca buku tentang militer, politik, terutama terinspirasi terhadap Revolusi Rusia (1917). Minatnya terhadap buah pikiran Marx dan Engels semakin besar. Ia kerap mengikuti berbagai pembicaraan politik kaum kiri di Amsterdam, juga diskusi terbuka antara Sneevliet dan Suwardi tentang Kecenderungan Nasionalis dan Sosialis dalam Pergerakan Nasional Hindia. “ Kata saya.


“ Tuh kan benar. Dia itu komunis.” Kata istri saya.


“ Engga begitu mah. Tan Malaka tetap islam yang taat. Bagi Tan Malaka, meskipun berbagai angin taufan pengaruh dari derasnya pemikiran dan berbagai kejadian di Eropa mengaduk aduk, menyeret sampai menghilirkannya ke perisitiwa 1917,  orientasinya terhadap Islam terus hidup. Ruh islam tetap abadi dalam pikiran dan hatinya.” 


“ Terus gimana kelanjutannya dengan Syarifah ? tanya istri saya.


“ Walau jarak memisahkan mereka. Tan Malaka terus berhubungan dengan Syarifah via surat. Kerinduannya kepada Syarifah ditumpahkan dalam surat dengan tulisan yang indah. Waktu berlalu. Syarifah tidak bisa terus menanti Tan Malaka. Akhirnya Syarifah menerima pinangan Bupati Cianjur RAA Wiranatakusumah. Tan Malaka sangat memaklumi, Syarifah tidak mungkin terus menanti dia. Siapalah dia? Pria miskin yang terlalu banyak impian.  Mungkin saat itu Tan sadar dia dikalahkan oleh feodalisme. Tapi bagaimanapun dia harus berdamai dengan realita. 


Tan Malaka kembali ke Indonesia pada November 1919. Bekerja di sebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan antara buruh pekerja dan tuan Belanda di tempat itu semakin memantapkan langkah Tan untuk memperjuangkan nasib kaum tertindas. Tan Malaka tidak punya senjata untuk melawan. Tetapi dia punya pena. Dengan tulisan itulah dia melawan ketidak adilan itu. Mulai 1920-an ia menulis banyak artikel politik. Dengan sangat terpelajar dia mengkritisi sistem Soviet dan parlementer pada sistem monarky. Tulisannya dimuat di majalah Soeara Ra’Jat. 


Tokoh PKI, Samaun pergi ke Rusia. Tahun 1921, Tan Malaka terpilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia mengembangkan cabang PKI di daerah dan mengecam pemerintahan kolonial yang menindas para buruh. Ia ditangkap karena terlibat dalam aksi pemogokan para buruh perkebunan (1922).  Tapi dengan cerdik Tan minta diasingkan ke Belanda. Di depan pengadilan Den Haag pada 1928 Tan meyampaikan pledoi yang sangat cemerlang.


Di Belanda Tan Malaka dekat dengan gadis Belanda, Fenny Struijvenberg.  Disaat cinta sedang tumbuh, ia pergi ke Moskwa, Rusia (1922) untuk ikut pertemuan komunis sedunia. Pada pertemuan itu, Tan Malaka diangkat sebagai wakil Komunis Internasional (Komintern) untuk Asia Tenggara. Sejak itulah dia dianggap oleh negara imperialis sebagai musuh berbahaya. Pemikirannya merusak standar politik imperialis.  Tan buron. Ia diburu oleh agen Inggris, Belanda, Amerika, Jepang. 


Dalam Pelarian itu, ia menulis buku mengenai Indonesia, berjudul Indonezija: ejo mesto na proboezjdajoesjtjemsja Vostoke (Indonesia dan empatinya di timur yang sedang bangkit). Sementara hubungannya dengan Fenny Struijvenberg tak ada ujung pangkalnya. Tapi di Manila pada 1927, dia mendapatkan labuhan hati. Seorang putri tokoh universitas. Hubungan mereka kandas karena Tan Malaka ditangkap oleh intel Amerika. Dia dibuang ke Tiongkok. Tan bisa meloloskan diri disaat dalam perjalanan ke Tiongkok. Ia menggunakan nama samaran, Ong Soong Lee.  Saat menetap di Xiamen itulah Tan  Malaka bertemu seorang gadis Amoy berusia 17 tahun berinisial “AP”. Tapi hubungan kandas karena Tan harus terus berlari. Dari Tiongkok dia menuju Malaya. Kemudian menetap di Singapura.



Di Singapore wilayah jajahan Inggris itu, dia  menggunakan nama Hasan Gozali dan bekerja sebagai guru pada sebuah sekolah. Tak jelas apakah dia kembali menjalin hubungan cinta di sana. Karena keburu terjadi invasi Jepang ke negara Asia Tenggara. Pada 1942 
Tan Malaka melihat ada kesempatan untuk pulang.  Dengan sampan dia berlayar sampai di Indonesaia. Dia hidup secara rahasia selama Jepang berkuasa. Sampai tahun 1943 ia tinggal di Cikini Jakarta, menulis buku Madilog -Materialisme, Dialektika, Logika. Buku itu karya besar Tan Malaka. Buku yang lahir dari perenungan panjang selama pelarian di luar negeri dan melihat benturan peradaban Barat dan Timur. Tan sadar bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan berpikir. Untuk apa kemerdekaan terjadi, kalau pemikiran masih terisolasi oleh pemikiran primodial dan sektoral, eklusif. 


Di tengah pelarian dan bersembunyi itu. Da dapat kabar. Syarifah sudah bercerai. Punya anak lima. Melalui temanya, dia diatur bertemu dengan syarifah. Namun saat bertemu, Syarifah menolak pinangan Tan Malaka. Kandas sudah cintanya ditengah gejolak perjuangan menuju Indonesia merdeka. Tan biarkan semua yang buruk datang padanya. Dia focus menggelorakan pergerakan kemerdekaan dalam badai revolusi. Sahabatnya Ahmad Soebardjo sempat kenalkan dengan ponakanya, Paramita Abdurrachman. 


Paska proklamasi kemerdekaan, Indonesia dalam status quo secara hukum international. Pengakuan kemerdekaan butuh proses pembuktian tekad antara kehendak kaum republikan dan kerajaan yang masih diakui eksistensi hukumnya. Revolusi pun meledak tak  terhindarkan. Saat itu kaum pergerakan terdiri dari tiga. Kaum nasionalis- Sosialis, komunis dan Islam. Kebetulan nasionalis lebih didukung kaum feodal dan tentara pelajar. Sehingga mereka punya legitimasi berdiplomasi dengan Belanda dan sekutu.


Di tengah arus revolusi bau amis darah itu, perundingan legitimasi Indonesia diadakan. Perjanjian Linggarjati ditandatangani pada 25 Maret 1947. Delegasi yang terlibat adalah Soetan Sjahrir, A.K. Gani, Amir Sjarifuddin, Soesanto Tirtoprodjo, Mohammad Roem, dan Ali Boediardjo. Mereka di dominasi oleh kelompok sosialis dan nasionalis. Karena tidak menghasilkan pengakuan utuh NKRI tapi hanya sebagian saja. Tan Malaka meradang. Dia sadar bahwa kemerdekaan hanya akan melahirkan paham foedalisme, penjajahan baru.  Itu sebabnya dia memutuskan menyatakan berseberangan dengan Soekarno dkk.


Pada bulan Januari 1946 di Purwokerto. Tan Malaka bertemu dengan Soedirman.  Pada pertemuan itu yang hadir adalah pimpinan pusat Partai Sosialis, Partai Kominis Indonesia, Serindo, Masjoemi, Partai Boeroeh Indonesia, Partai Revolosioner Indonesia (Parindo), Organisasi-organisasi pemuda dan pejuanh Pasindo, Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia, Badan Kongres Pemoeda Repoeblik Indonesia, Hizbullah, Gerakan Pemoeda Islam Indonesia (GPII). Hadir pula perwakilan Angkatan Moeda Repoeblik Indonesia, Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi (KRIS), Pemuda Republik Indonesia Soematra, Federasi Perempuan Persatoean Wanita Indonesia (Perwari), tentara dan orang-orang dari semua lapisan rakyat. Tan Malaka menggagasnya untuk melawan kapitalisme dan penjajahan.


Saat itu Soedirman terpukau dengan kecerdasan dan ketulusan Tan Malakan. Kebetulan  Tan Malaka dan Soedirman  memiliki banyak kesamaan. Mereka sama sama memiliki latar belakang sebagai guru, punya prinsip keras anti diplomasi damai dengan Belanda.  Itu sebabnya sejak pertama bertemu di Purwokerto, berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Terbentuklah front Tan Malaka- Soedirman. Disisi lain ada front Sjahrir-Sjarifuddin, Soekarno- Hatta. Sejak perundingan Linggarjati, Renville, butir perjanjian tidak pernah settle. Selalu dikacaukan oleh sikap Tan Malaka-Soedirman. Tan membakar semangat rakyat diakar rumput untuk terus kobarkan api revolusi. Soedirman gunakan Tentara rakyat untuk lakukan perang grilya. Sementara Amir Sjarifuddin, Muso terpengaruh dengan Tan Malaka untuk melawan Sjahrir. Pemberontakan PKI meletus di Madiun. 


Sjahrir melihat Tan Malaka adalah duri dalam daging yang membuat perjanjian damai dengan Belanda gagal. Yang memancing Belanda melakukan aksi militernya. Membuat Sjahrir dan Soekarno serta lainnya ditangkap. Karenanya menjelang Konferensi Meja Bundar. Atas perintah Sjahrir, Tan Malaka ditangkap.  Akhirnya dieksekusi 21 Februari 1949. Tuduhan sebagai dalang atas peristiwa kudeta terhadap pemerintah.  Cintanya dengan Paramita Abdurrachman diakhiri oleh ajalnya. “ Kata saya miris.


“ Waduh hebat juga ternyata Tan Malaka. Syarifah, Fenny Struijvenberg, gadis philipino, gadis Tiongkok dan terakhir dengan Paramita. Semua kandas. Mengapa dia tidak perjuangkan cintanya kepada mereka itu. Setidaknya satu jadilah”  Tanya istri.


“ Tan Malaka tidak pernah bisa jatuh cinta dalam arti sesungguhnya dengan wanita lain kecuali kepada Syarifah. Dia paham Syarifah menikah karena kuatnya budaya feodal. Saat Syarifah menjada. Dia pinang juga Syarifah. Tapi Syarifah menolak. Dia tersingkir. Dia berharap Tuhan mempertemukan dia kembali dengan Syarifah di sorga. Tan dikalahkan oleh takdirnya. Sama halnya sebegitu kuat dan besar cintanya kepada Indonesia tetapi justru tentara Indonesia membunuhnya. Kasih Tan Malaka di dunia memang tak sampai, tapi dia sampai kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang.” Kata saya.


“ Lantas apa hikmah dari seorang Tan Malaka?


“ Pada tanggal 27 desember 1949  KMB terlaksana. Pengakuan kedaulatan Indonesia yang bersyarat.  Setahun setelah Tan Malaka meninggal, Soedirman menemui ajalnya di tempat tidur. Bukan di medan tempur. Karena sakit TBC. Setelah KMB, Belanda berkurang hegemoninya. AS masuk dalam politik perang dingin berhadapan dengan USSR di Indonesia. Sementara PKI dan Islam tetap tidak menerima isi perjanjian KMB. PKI provokasi Soekarno agar hengkang dari PBB dan membentuk Non Blok. Namun kelompok Islam, anggap PKI pro Beijing dan Rusia. Nasionalis sama saja, pro Barat. Sama sama condong kepada neocolonialism. 


Namun akhirnya elite Islam bersama kelompok sosialis terpaksa memberontak untuk menjatuhkan Soekarno yang dekat dengan PKI. Upaya kelompok Islam dan sosialis dalam PRRI/PERMESTA gagal berhadapan TNI.  Akhirnya tahun 1965, AS menggunakan perwira TNI untuk menghabisi PKI dan sekaligus menjatuhkan Soekarno. G30S PKI meledak sebagai jalan menuntaskan skenario menempatkan Soeharto sebagai presiden. PKI dimutilasi. Gerakan Islam di bonsai. 32 tahun era Orba, AS mengendalikan Indonesia. SDA kita  habis. Daya rusaknya lebih besar dari 350 tahun dijajah oleh Belanda.


Selama Soeharto berkuasa. Buku Pelajaran sekolah tentang Tan Malaka menyebut dia adalah Komunis. Mah, Tan Malaka bukan Komunis seperti ajaran Karl Marx. Dia hanya menggunakan komunis sebagai metodelogi membela kaum tertindas. Dia bukan anti Tuhan. Dia putra Minangkabau. Yang membumikan " Adat basandi sara, sara basandi kitabullah. Dia pejuang kaum tertindas. Menginginkan Indonesia merdeka dalam arti sesungguhnya tanpa campur tangan asing.   


Sampai kini kita tidak bisa lepas dari neocolonialism dalam bentuk hutang dan fasilitas REPO line the Fed. Sementara ketimpangan ekonomi tampak pada penguasaan aset atau kekayaan. 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 46,6% kekayaan nasional. Bahkan, 10% orang terkaya menguasai 75,3% kekayaan nasional. Kondisi ini membuat ketimpangan ekonomi Indonesia berada di urutan ketiga terburuk di dunia, sebagaimana dilaporkan dalam survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse pada Oktober 2018.” Kata saya.


Sore setelah sholat lohor kami kembali ke Maninjau, Sungai batang.  “ 10  Tokoh hebat pendiri negeri ini, Hatta, Sjahrir. Tan Malaka, Agus Salim, Muhammad Yamin, Muhammad Natsir, Abdul Rivai, Chaerul Saleh, Samaun Bakri, Rasuna said, adalah putra Minang Kabau. Mereka petarung dengan keyakinannya. Tidak saja di dalam negeri tetapi di luar negeri. Tapi cucunya, Papa malah terpaksa hijarah untuk bertahan hidup, mencari makan di luar negeri. Tragis sekali ya pah buah kemerdekaan yang diperjuangkan mereka.” Kata istri dalam perjalanan. Saya terhenyak. Negeri ini hanya berubah kekuasaan. Sistem kolonialsime tetap berlangsung dalam bentuk Neo, ya penjajahan oleh bangsa sendiri.


***



Petugas business center mengirim guide untuk aku berkunjung  ke Mao monumen. Guide itu seorang wanita dengan tinggi di perkirakan diatas 170 cm. Dia mengenakan Baju putih, kerah berenda dan dipadu dengan rok diatas lutut warna merah. Dia kenalkan namanya, Fang Yin atau panggil dia Lin. Kalau saja matahari musim panas sedang berbaik hati, rok tipisnya tentu menerawang pula. Di Changsa, saya berkunjung ke sekolah dan Asrama dimana Mao Zedong pernah menghabiskan masa remajanya. Saya duduk di bangku dimana Mao pernah duduk dulu menyikmak pelajaran dari gurunya. Pikiran saya sempat melayang jauh kemasa lalu. Bagaimana pria pendiam dan pemalu, drop out universtitas namun punya kharisma memimpin ratusan juta rakyat.  


Tapi yang membuat saya terharu ketika membaca kumpulan kliping tulisan Mao di koran,  dimana Mao menulis tentang semangat kebersamaan dan gotong royong atas senasip sepenanggungan. Mao mengutip nama Ong Soong Le dalam tulisan nya. Belakangan saya tahu  bahwa nama  itu adalah Tan Malaka yang mendidik pemuda China mengenal ajaran Marx, Komunisme dalam konteks budaya. Itu sebanya ajaran komunisme China sangat berbeda dengan ajaran komunis di Rusia. Tan mengarahkan kepada pemuda China bahwa china harus menjadikan Marx sebagai metode perjuangan bukan menjalankan kerangka berpikir Marx atau komunisme. Bagi Mao,Tan Malaka adalah inspirasinya menjadi petarung atas nasip bangsanya di kemudian hari..


Tan Malaka bermimpi tentang masa depan Indonesia. Masyarakt egaliter dan emasipasif.  Dalam buku Madilog-nya tersirat, bahwa Indonesia tak akan pernah benar-benar bebas apabila masih terkungkung pada pemikiran  irasional. Misal, dia mengajak orang untuk tidak perlu memilih pemimpin karena faktor keturunan dan dengan embel embel dia titisan dewa atau primordial. Ada faktor yang substansial dalam memilih seorang jadi pemimpin yaitu seperti sumbangsih pemikiran, kepeduliannya, akhlak, dan intelektualitas. Tan Malaka ingin mengajak orang agar lebih partisipatif dan meninggalkan segala hal berbau pembodohan lewat jargon politik, budaya maupun ekonomi. Mandiri akal adalah kekayaan yang tak ada habisnya.


“ Tan malaka menegaskan bahwa logika tidak dibatalkan oleh dialektika, melainkan tetap berlaku dalam dimensi mikro. Tan Malaka justru menunjukkan bahwa pemikiran logis, dengan paham dasar dialektis, membebaskan ilmu pengetahuan untuk mencapai potensialitas yang sebenarnya. Logika gaib seharusnya dilawan dengan logika yang sebenarnya dan karena itu perubahan terjadi, keberadaan Tuhan di agungkan, iman semakin kukuh. China mampu melakukan transformasi dari politik primodial dan  totaliter,  menjadi politik emansipasi. Revolusi kebudayaan China adalah kado terindah dari bapak Maosedong kepada generasi China masa depan, dan karena itu China bisa menjadi negara besar. Mereka belajar dari pemikiran Tan Malaka. " Kata teman saya. Saya hanya diam saja. Malu kepada diri saya sendiri.


Sebenarnya pemikiran Tan Malaka sangat sederhana. Dia mengajak kita berpikir berdasarkan fakta. Tidak berpikir sektoral atau wilayah. Mengajak kita berpikir futuristik dan bersikap mandiri, konsekwen dan konsisten. Bagaimana keluarga bisa melahirkan putra sehebat itu? tanya teman dari China. 


Dengan tersenyum saya katakan " Tan lahir dari keluarga muslim yang taat. Dalam usia belia sudah hafal Al Quran. Namun dia berkembang dari pemikiran islam moderat, bukan islam puritan pakai baju gamis dan celana cingkrang. Pasih dalam 6 bahasa dan terpelajar jago berdebat namun tetap tidak merendahkan orang lain. Itu budaya Minang Kabau dan begitu agama mendidik kami. “ Kata saya.


" Tapi mengapa Indonesia tidak belajar dari Tan ? Tanya Teman.


Saya terdiam. Tan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir bebas,  bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking” atau bukan dogmatis. Tapi di era kini standar pendidikan Indonesia menjadikan orang terpelajar, tetapi tidak  terdidik. Karena buah standarisasi pendidikan yang menggiring orang seperti kerbau ke kamp kapitalisme sebagai konsumen dan pekerja. Hilang kemandirian, hilang akal sehat dan tentu hilang visioner. Bukan masa depan yang baik. Entahlah. Saya rindu Tan Malaka. 

6 comments:

Raldi Artono Koestoer said...

Ini tulisan hebat... luarbiasa...

Anonymous said...

Makasih babo

Anonymous said...

Saya pernah juga singgah dirumahnya..

Anonymous said...

Hebat. Luar biasa. Semua harus tahu ini

Anonymous said...

Yg menjadikan orang Minang saat ini tidak secemerlang pada waktu kemerdekaan DAN CENDERUNG JADI BODOH adalah ABS SBK. Harusnya ABS SBK diganti dengan ABS SBAS (Adat Bersendi Sarak, Sarak Bersendi Akal Sehat).

Anonymous said...

Sangat mencerdaskan tulisan babo, selama ini tidak pernah ada yg mengupas tentang prinsip pemikiran Tan Malaka, bahkan banyak orang menganggap bahwa Tan Malaka adalah komonis.terima babo

Jangan melewati batas..

  Tahun 2013 september, Holding Company yang aku dirikan sejak tahun 2006 berada dibawah pengawasan dari pihak yang ditunjuk oleh konsorsium...