Friday, September 03, 2021

Kelap kelip lampu di kota..

 






Di ruang Spa di hotel bintang V, Julius menepuk  bahu Robi. “ Ada apa ? tanya Robi mengerutkan kening. “ Luci semakin lengket denganku.  Hebat sekali dia di tempat tidur.”  Kata Julius. Robi hanya diam. Dalam situasi sulit dan seluruh asset tergadaikan kepada Julius, dia hanya menyerah ketika Julius terobsesi meniduri istrinya.  Apalagi secara seksual dia sudah tidak mampu memuaskan  Luci. Namun yang membuat dia sedih dan pencudang, dia membiarkan Luci masuk perangkap Julius tanpa dia berusaha menghalangi


“ Kamu harus top-up loh jaminan saham transaksi REPO kita. Harga saham kamu turun terus. “ Kata Julius. “ Terus kas bon keluargamu juga udah diatas limit. Mana jaminan yang kamu janjikan?. Saham hotel aja dech saya pegang. “ Julius melanjutkan.


“ Saya udah perintahkan orang saya untuk menyerahkan saham hotel. Besok udah selesai penyerahan di hadapan notaris. Soal Top Up, saya nyerah. Engga ada lagi tersisa saham saya mau digadaikan. Beri saya waktu” kata Robi dengan raut putus asa.


“ Dengar kabar jadi juga reklakmasi untuk bangun pulau di teluk jakarta “ Kata Robi


“ Ya terimakasih. Kamu udah bantu saya dapatkan akses politik. Tapi komisi sudah saya bayar lunas kan”


“ Fee udah habis kapan tahu. Saya benar benar lagi sulit. Semua bisnis jatuh.  Yang enak kamu lah. Jadi penampung uang haram.” 


“ Ya mau buka usaha yang benar era sekarang sulit untung. Sementara bisnis lendir dululah. “  Kata Yulius. Robi dan Yulius memang berteman. Sama sama pengusaha.


***


Untuk kesekian kalinya Luci berusaha untuk bertemu dengan Julius dan Julius tidak bisa menolak. Sebetulnya, hubungan ini sia sia. Luci sedang dalam prahara rumah tangga dengan Robi. Mungkin karena pernikahan bertaut usia 30 tahun, Luci tidak siap bersabar dengan keadaan Robi yang sudah berusia 65 tahun.  Julius belum 60 tahun. Sementara perkawinan itu terasa hambar karena tampa kehadiran anak. Harta dan uang yang ada pada kehidupan mereka, tidak bisa membuang sepi dan meraih bahagia. 


Luci berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, Julius hanya menangkap nuansa kesedihan di wajah Luci. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan melingkupi langit. Juius lebih banyak diam, mendengarkan suara seseorang di seberang. Julius tahu, Luci sedang menerima telepon suaminya. Tetapi, Julius tak mendengar dengan jelas: suaranya pelan setengah berbisik, seperti dengung serangga. Sesekali, ia mengangguk-angguk.


Julius masih meringkuk dibalut selimut. Tapi tiba-tiba, dia lihat segumpal warna serupa sisa badai yang menggumpal di sudut mata Luci. Mata yang membuatnya bergidik menatapnya lebih lama. Tak sampai semenit, Luci mematikan handphone, kemudian berjalan ke arah Julius ”Aku harus pulang,” suaranya datar tidak terlalu mengejutkan. Seperti hari-hari yang lain, Luci  tidak selalu mengungkapkan satu alasan pun sebelum pergi.


”Apakah Robi tahu kalau malam ini kamu di apartementku?” Kata Julius. Luci  menggeleng. “ Dia tahunya aku pergi bareng teman teman ke Sing untuk shoping. “ Sorot matanya kelabu dan ganjil serasa meninggalkan bekas luka pedih bagai timbunan kardus kumal yang teronggok di tempat sampah. Lama, mereka bersitatap pandang. Mata mendidih, serupa air yang dijerang di atas tungku. Julius ingin bertanya…, tetapi genangan hitam di sudut mata Luci itu membuatnya beringsut. Luci buru-buru berpakaian. Julius hanya menatapnya dengan diam, bahkan ketika Luci pergi dengan tergesa dan meninggalkan Julius yang masih meringkuk setengah telanjang dalam balutan selimut.


***

Dalam perjalanan pulang, Luci benar-benar merasa bergidik dan disesap rasa takut. Itu karena, dia tidak ingin pernikahannya hancur. Kesenangan hidup berakhir. Kalau sampai suaminya tahu hubungannya dengan Julius, dia tak tahu apa yang terjadi dengan perkawinannya. Tiba di rumah, dibukanya pintu dengan gugup. Lebih gugup lagi tatkala yang menyambut bukan suaminya, tapi anak suaminya dari perkawinan pertama. 


”Mami boleh bebas dengan teman teman mami, tapi tugas mami menjaga papi kami harus utamakan. Emangnya semua yang mami dapat gratis ? pandailah berterimakasih. Jangan seperti seleb gayanya.” Kata putra suaminya

”Ya, mana papi…,” jawab Luci kawatir

Hening sejenak.


”Papi sudah dilarikan ke RS karena stroke. Nih aku mau kesana” Kata putra suaminya ketus. Luci tercekat. Teringat kata kata suaminya via telp tadi siang “ Mengapa kamu selalu tidak ada disaat aku membuhtuhkan. Kalau kamu tidak suka aku sibuk, itu bukan alasan kamu bersibuk juga di luar. Dari awal kamu tahu bisnisku memang menyita waktuku. Pulanglah segera.” 


Luci  langsung ke rumah sakit dan menemukan suaminya terbaring dengan tubuh lemas di ruang ICU. Sampai akhirnya dokter mengabarkan bahwa suaminya telah pergi ke haribaan Tuhan.


***

Sebulan setelah suaminya meninggal. Luci diusir oleh keluarga suaminya dari rumah. Untuk menghidupi dirinya, dia bekerja di cafe sebagai PR. “ Eh pak Budi, apa kabar?  Kata Luci menyapa Budi ketika masuk wine cafe.“ Baik. Gimana kabar kamu? Kata Budi sambil melangkah ke ruang smoking room.

“ Saya keluar dari rumah suami tanpa harta. Karena Perusahaan Mas Robi dan termasuk hotel disita oleh Pak Julius.”


“ Terus gimana hubungan kamu dengan Julius ?


“Kok tahu hubungan saya dengan Pak Julius ? Luci terkejut. “ Jadi mas Robi tahu hubunganku dengan Pak Julius.” Kata Luci berlinang airmata dan akhirnya menangis. Budi memberikan tissue untuk Luci mengusap airmatanya. Hening. 


Luci kembali sibuk melayani tamu. Sebentar bentar dia melirik kearah Budi dan tersenyum. Dia kembali mendekati tablel Budi ketika aku mau bayar bill. “ Aku ada sedikit uang untuk kamu. Mulailah hidup baru.” Kata Budi seraya menyerahkan uang dollar.


“ Kenapa sebanyak ini kasih uangnya?


“ Robi sahabat saya. Dia pernah bantu saya ketika saya terpuruk. “ Kata Budi.


“ Saya berasa diri ini kotor dan sulit bagi saya memaafkan diri sendiri. Apalagi saat Mas Robi sakit saya sedang di kamar dengan Julius”


“ Apapun yang terjadi itu sudah jalan hidup kamu. Jadikan itu pelajaran untuk kamu berubah jadi lebih baik. “


“ Tidak mudah, Pak Budi. ” Luci menangis


“ Berusahalah untuk tegar. “ Kata Budi berlalu. 


Pernikahan Luci  dengan Robi berada disituasi yang retak. Tanpa ada rasa hormat dari putra putri suaminya dan disaat suaminya menua, dia kesepian. Sementara suaminya tidak berdaya melindungi dia dari jeratan julius. Entah siapa salah atau siapa berdosa. Robi sudah meninggal dalam keadaan bangkrut. 


Setahun kemudian  Julius ditangkap KPK karena menampung uang haram hasil korupsi lewat business money changernya. Anak anak Robi tidak bisa menahan selera hidup hedonis ketika ayahnya kesulitan keuangan. Mereka paranoid terhadap Luci padahal luci dikorbankan ayah mereka demi hutang yang sulit dibayar. Semua sudah membayar kesalahanya.  


Namun Budi tidak bisa menghakimi kehidupan orang. Sebisanya membantu Luci keluar dari kehidupan malam. Moga dengan uang yang dia beri bisa sebagai modal awal Luci untuk mandiri dan mendekat kepada Tuhan


No comments:

Menentukan pilihan...

  Tahun 1984, selesai briefing team sales di kantor. Kami segera bergerak menuju target pasar. Kantor kami di Ratu Plaza. Di lobi Aling namp...