Saturday, August 28, 2021

Terimakasih Mas.

 



Aku yatim piatu. Punya kakak seperti Mas Rudi,  aku tidak merasa sendirian di bumi Allah ini. Kemarin malam aku sempat telp  Mas Rudi yang sedang business trip ke luar negerz “ Mas, tahukan besok acara nikahku. Kok mas masih di luar negeri.” 

“ Ya sayang. Mas mu sudah di Taipeh transit terus ke Jakarta. Diperkirakan subuh sudah sampai. Langsung ke Bandung. “


“ Mas kenapa engga dari kemarin marin pulang? Kataku 


“ Duh, Mas berusaha pulang dari kemarin marin tetapi urusan belum selesai. Tenang saja sayang. Mas pasti hadir di acara perkawinan kamu. Kamu kan adik kesayangan Mas. “ 


“ Ya mas harus hadir. Kalau engga hadir, Rani nangis..”


“ Ya ya..


Tapi pagi hari Mas Rudi sudah nampak. Padahal acara sejam lagi akan mulai. Kini mas Rudiku hadir diacara terpentingku. 


***


Setelah ayahku meninggal karena sakit, Ibuku menikah lagi. Ayah  tiriku membawa anak laki laki,  Rudi namanya. Ayah tiriku juga cerai mati dengan istrinya. Usia kami bertaut jauh. Aku usia 4 tahun. Mas Rudi berusia 11 tahun. Kasih sayang ibuku terhadap kami berdua sama. Ayah tiriku juga sangat sayang kepadaku. Aku pertama masuk sekolah TK diantar ayah tiriku. Mas Rudi pintar di sekolah. Dua keluarga kami sangat bahagia. Namun tahun ketiga, prahara datang. Ayah tiriku sakit jantung. Stroke. Selama 8 bulan dalam perawatan akhirnya meningal.


Setelah penguburan ayah tiriku, Mas Rudi diambil oleh Pamannya. Dia pindah ke Semarang. Waktu itu Bunda keberatan. “ Aku dapat amanah dari mendiang suamiku untuk merawat Rudi. Biarlah dia tinggal samaku saja. “Kata bunda.


“ Wah engga enak merepotkan mbak. Rudi biarlah saya bawa.”  Kata pamannya. Bunda tidak bisa berbuat banyak. Karena hak keluarga Rudi lebih besar untuk menjaganya. 


Setelah Mas Rudi pergi. Aku merasa kehillangan. Selama ini dia yang mengajarkanku membaca dan menulis. Dia yang selalu menjagaku. Dia selalu mengalah dengan kenakalanku. Bunda buka usaha warung depan rumah untuk melanjutkan hidup kami. Setahun setelah kepergian Mas Rudi, Bunda dapat kabar dari sepupu paman mas Rudi.


 “ Rudi saya liat sering di terminal. Dia seperti gembel. Tidur dimana saja.’ “ 


“ Kenapa? kan pamannya yang urus dia.”


“ Lah pamannya pergi ke Malaysia jadi TKI. “


Saat itu aku meliat bunda berlinang air mata. “ Dia anakku. Biarlah aku jemput kalau engga ada yang urus dia.” Kata Bunda.


Keesokannya, Bunda ajak aku pergi ke Semarang “ Ran, kita ke Semarang. Kita cari Mas Rudi kamu ya. “ Kata Bunda. Aku senang sekali. 


Benarlah sampai di terminal bus. Tidak lama mencari mas Rudi.  Dia kami dapati sedang duduk dalam kelelahan tidak jauh dari Toilet umum,  dengan bungkusan karung pemulung di sebelahnya


“ Rudi..” tegur  Bunda halus. Mas Rudi mendongak dengan raut terkejut meliat aku dan bunda. Dia segera berdiri. Bunda langsung peluk dia “ Kita pulang ya sayang. Ikut Bunda ya”


“ Tapi kata paman, aku tidak boleh tinggal sama Bunda. Karena ayahku sudah tidak ada.” Kata Mas Rudi polos.


“ Engga sayang. Ini Bunda kamu. Tidak berubah walau ayah sudah tidak ada. Mari kita pulang. “ Kata Bunda. Mas Rudi sujud di kaki Bunda. Bunda memeluknya. Akupun ikut memeluk mas Rudi. Kami seakan hari itu dipersatukan dalam cinta dan karena cinta kami akan selalu bersama tak terpisahkan.


Mas Rudi kembali sekolah kelas 1 SLTP. Mas Rudiku memang pintar di sekolah. Dia juga pintar mengaji. Pulang sekolah dia dagang asongan di stasiun. Itu caranya membantu Bunda untuk kami bisa terus bertahan dalam kemiskinan. Mas Rudi sangat sabar mengajariku matematika.  Kelas tiga SLTP dia juara sekolah, lulus dengan terbaik. 


SMU mas Rudi sudah punya lapak teh botol di stasiun. Jadi setiap hari praktis sebagian besar biaya rumah tangga yang tanggung Mas Rudi. Karena Bunda sakit sakitan. Kata dokter bunda kena radang lambung. Entahlah.Tetapi sejak itu berat badan bunda terus turun. Tidak bisa lagi sepenuhnya buka warung. Aku kelas 5 SD bunda meninggal. Karena kanker usus. Mas Rudi masih kelas 3 SMU. Kami yatim piatu. 


Keluarga ibuku membawaku pergi dan rumah dijual untuk biaya hidupku, kata Om. Soal Mas Rudi, Omku tidak peduli. Untunglah pengurus masjid dekat rumah kasihan dengan Mas Rudi. Apalagi dia sering azan sholat subuh dan maghrib di masjid. Mas Rudi bisa tinggal di Masjid. Aku berat sekali berpisah dengan Mas Rudi. “ Ran, Mas janji, tamat SMU kamu  mas jemput. Kita berkumpul lagi. Yang sabar ya Ran. “ Katanya berpesan. Ya karena situasi,  kami harus terpisahkan. Aku pindah ke Bali ikut Om. Mas Rudi tetap di Bandung. 


SLTP aku tinggal di Bali. Tamat SLTP aku dikirim oleh Omku ke rumah sepupu Om di Metro, Lampung. SMU aku di lampung . Tetapi hari hariku harus kerja keras membantu menganyam Bambu. Sejak aku pindah ke Bali dan akhirnya di Lampung aku tidak pernah bertemu dengan Mas Rudi. Aku sangat merindukan Masku. Hanya  dia satu satunya yang tulus menyayangiku. Sejak di Bali dan di lampung aku diperlakukan sangat buruk. Tapi aku ingat pesan Mas Rudi agar bersabar. Hanya sholat penolongku bertahan dari hidup yang tak ramah. Tamat SMU aku benar benar serba salah. Karena merasa dipaksa pergi dari rumah sepupuku. 


“ Asal kamu tahu aja. Om kamu di Bali tidak pernah kirim uang sejak kamu tinggal di sini. Padahal uang hasil jual rumah warisan ibumu dia yang ambil semua. Kamu itu ya tahu diri. Udah besar kok masih numpang makan di rumah. Tuh liat teman teman kamu, sudah pada pergi merantau ke jakarta. Bahkan ada yang kerja di luar negeri jadi TKW. “


Nada ketus dan tidak suka,  terasa dibebani seperti itu selalu diulang ulang. Membuat aku tidak betah. Memang apalah aku?. Yatim lagi piatu. Miskin lagi. Sementara yang kutumpangi bukan keluarga kaya. Sepupuku juga miskin. Wajar kalau mereka lelah dengan dibebani olehku. Aku menyanggupi untuk merantau ke Jakarta. Tidak ada hakku untuk bertahan.


Disaat galau dan bersiap untuk merantau itulah, satu hari aku melihat sosok pria yang tak asing ada di depan pintu rumah sepupuku.  Masku. Mas Rudi berdiri dengan gagah. Dengan senyum khasnya dia merentangkan kedua tangannya. Aku menghambur kedalam pelukannya. Aku menangis dalam pelukannya“ Kamu ikut mas ya.” bisiknya. Keluarga sepupuku senang melepas kepergianku. 


Aku dibawa mas Rudi ke Jakarta. Ternyata Mas Rudi sudah punya rumah sendiri. Dia bekerja di perusahaan asing sebagai salesman. Sering melakukan perjalanan keluar kota dan ke luar negeri. Memang sejak SMU, Mas Rudi sudah bisa bahasa inggris. Dia juga hafid Al Quran.  Walau tidak sarjana tapi Mas Rudi  cepat sekali berkembang karirnya. Berkat Mas Rudi aku bisa melanjutkan ke universitas. Aku diterima di PTN di Bandung. Dia sendiri yang mencarikan rumah kontrakan untuk aku tinggal selama kuliah di Bandung. Setiap bulan dia tidak pernah telat kirim uang untukku. 


Setiap liburan aku tinggal di jakarta bersama Mas Rudi. Aku menyediakan sarapan paginya. Memasak untuk mas Rudi. Mencuci bajunya. Mas Rudi memang sibuk sekali. Pulang selalu larut malam. Kadang keluar kota berhari hari. Tetapi kalau di rumah dia selalu jadi imamku sholat. Selalu menesehatiku untuk mendoakan orang tua. Menasehatiku untuk jaga pergaulan. Tapi anehnya mas Rudi tidak pernah cerita soal pacarnya. Padahal dia sukses dan gagah. Apalagi sekarang dia pengusaha yang bermitra dengan asing bangun pabrik kimia. Posisii direktur  pastilah banyak wanita yang suka. Aku tidak ingin bertanya lebih jauh.


Aku tamat kuliah dapat tawaran bekerja pada perusahaan swasta di Bali. Tapi mas Rudi tawarkan aku ambil S2 di Luar negeri. Semua biaya dia yang tanggung. Selama di luar negeri aku berkenalan dengan pria. Hubungan kami sudah serius. Ayah pacarku pengusaha besar di Indonesia. Ketika aku kabarkan kepada mas Rudi. dia senang sekali. “ Jaga hubungan dengan baik. Kalau kamu akhirnya menikah, menikahlah karena Allah. “  Nasehatnya. Setelah tamat S2 aku menikah. 


***

Mas Rudi hadir mendampingiku sebagai wali di acara pernikahanku.  Lengkaplah kebahagianku.


 “ Ran, tugas mas selesai melaksanakan amanah bunda. mengantarmu sampai ke pelaminan. Apakah setelah ini mas boleh menikah?


“ Ya menikahlah mas. Mana calon mbaku. Kenalkan keaku. “kataku antusias.


Mas Rudi melambaikan tangan kepada wanita yang ada ditengah  tengah undangan resepsi pernikahan. Nampak wanita bermata sipit yang cantik menghampiriku dan mas Rudi. “ Ini calon mbaku ya mas. “ Kataku. Mas rudi tersenyum. Kami saling berangkulan. 


Semoga bunda di alam baqa menyaksikan kebahagian kami. Keikhlasan Bunda menjaga dan menyayangi Ma Rudi, anak yatim piatu yang miskin dibalas oleh Allah dengan sebaik baiknya balasan.


No comments:

Menentukan pilihan...

  Tahun 1984, selesai briefing team sales di kantor. Kami segera bergerak menuju target pasar. Kantor kami di Ratu Plaza. Di lobi Aling namp...