Thursday, May 18, 2023

Pergi dengan bahagia





2011

Dari jarak 10 langkah aku lihat Aashna duduk sendirian di kursi pedestrian Las Ramblas. Semilir angin menggeraikan rambutnya. Kecantikan keliatan sangat sempurna. Tak ada yang berubah di Las Ramblas. Pejalan kaki tetap berseliweran dari pagi sampai pagi. Ada yang santai, ada yang dalam gegas. Para pengamen berdiri di sisi jalan dengan kesabaran tanpa batas. Semuanya mempertontonkan kelebihan masing-masing seraya berharap ada pejalan kaki yang rela menyisihkan uang receh. Mereka tak menadahkan tangan. Mereka menjual kepandaian. Ada yang berperilaku seperti manekin hidup dengan tubuh berbalut semacam cat putih dan baru mengubah posisi mematungnya manakala seseorang melempar uang receh pada sebuah wadah di depannya. 


Kelompok penyanyi Puerto Riko juga tetap setia membawakan lagu-lagu rakyatnya di depan sebuah toko yang menjual berbagai macam majalah dan koran. Sudah hampir pukul sembilan malam rupanya. Sinar matahari masih terlihat jelas di ufuk barat sana. Pengamen-pengamen asal Puerto Riko asyik menyanyikan lagu-lagu tradisional mereka. Lagu-lagu tentang semangat kerja rakyat petani. El Cantar de un Campesino, Mi Jaragual, meluncur mendayu-dayu diiringi dansa-dansa yang amat indah. Beberapa orang berkerumun untuk mendengarkan. 


“ “Apakah mereka sudah menyanyikan Cantandole a lo Nuestro?” Kataku mengejutkan Aashna. Dia menoleh. Tersenyum. “ Belum. Kamu bisa memberinya uang dan meminta mereka menyanyikannya untukmu.”.  Katanya genggam jemariku. “ Aku selalu menyukai lagu itu.” Lanjutku.


“Untuk kita.” Kataku menoleh kesamping.  Dia tersenyum malu.


“ Terimakasih sudah meresponse emailku dengan mau datang ke Barcelona. Aku pikir sejak tempo hari perpisahan kita, tidak akan pernah bertemu lagi. Aku kangen B. Naif ya. Aku sampai memelas kepadamu.” Kata Aashna. Tadi setelah check in hotel, memang Aashna kirim SMS minta bertemu di sini.


“ Gimana udah ketemu dengan teman kamu ? udah lepas kangenan? Tanyaku. Alasan Aashna datang ke Barcelona memang berkunjung ke sahabatnya.


“ Kemarin ketemu. Setelah itu dia tidak punya waktu lagi bersamaku. Dia sibuk. “


Aku tersenyum.  Kami hening bersama.


Sepasang muda-mudi kemudian duduk di kursi di depan di seberang kami. Dengan es krim di tangan mereka. Si pemudi menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemuda. Si pemuda menyodorkan es krim di tangannya ke mulut si pemudi. Lalu, keduanya bersama-sama menggigit es krim di tangan si pemudi dalam waktu bersamaan. Lalu mereka tertawa-tawa berkakakan. Mereka seolah cuma ada berduaan. Mereka tak peduli dengan pejalan kaki yang berseliweran.


Kami berdua tersenyum.  Aku teringat tentang dua tahun lalu bersama Aashna. Bertemu di Paris, pada sebuah seminar biotekhnologi.  Selama 7 hari di Paris, setiap hari kami bersama. Aku takkan pernah lupa sebelum aku pulang ke Hong Kong, Aashna meminta  bertemu denganku dan pertemuan itu tidak membuat dia sungkan untuk bicara di kamarku. “ Aku yakin kamu bukan periset. Kamar dan hotel ini terlalu mahal untuk periset’ kata Aashna. Entah magnit apa yang mengikat kami sehingga semua terjadi begitu saja dan “ Akhirnya aku temukan Cinta dari Indonesia.” Katanya usai melenguh diatas tubuhku dan memejamkan mata.


Hari menjelang tengah malam, Kami jalan kaki menyusuri pedestarian. “ B, karena industrialisasi pencemaran udara tidak bisa dihindari. Partikel kimia berbahaya dalam bentuk debu halus, berisiko merusak organ paru, terutama jika paparannya berlangsung dalam jangka panjang. Debu halus itu karena pembangkit listrik dari batubara, industri petrokimia, kenalpot kendaraan, dan penggunaan pestisida pertanian. Untuk kesehatan sangat buruk dampaknya, seperti penyakit Fibrosis. “ Kata Aashna.


“ Fibrosis itu penyakit apa ? tanya saya.


“ Gangguan pernapasan akibat terbentuknya jaringan parut di organ paru-paru. Kondisi ini menyebabkan paru-paru tidak berfungsi secara normal. Akibatnya dapat berkembang dari beberapa penyakit, seperti pneumonia, rheumatoid arthritis, skleroderma, dan sarkoidosis.”


“ OK lanjut” Kataku.


“ Aku ingin kamu ambil bagian mengembangkan riset obat penyakit Fibrosis itu. Kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan efek rumah kaca dan menjamin udara bersih. Kemajuan industri dengan segala dampaknya itu adalah proses slow motion. Semua paham dari awal resiko atas lingkungan. Tetapi manusia harus berusaha hidup ditengah udara tercemar itu. Riset obat adalah upaya survival umat manusia.


Aashna mengeluarkan sesuatu dari balik tasnya. Amplop warna kuning. “ Kamu baca dokumen ini” Kata Aashna. Setelah usai membaca, aku mengerutkan kening.” Mengapa kamu berikan peluang ini kepadaku. Ini dokumen sangat rahasia. “ Kataku. Aku tahu perusahaan GS Lab pharma. Itu perusahaan asal AS yang termasuk canggih dalam hal riset pharma.


“ Tadinya aku marah dengan sikap predator kamu. Tetapi berlalunya waktu, aku bisa sadari. Niat kamu mulia. Saat kamu menjadi pemenang dan menguasai sumberdaya, kamu bisa tegakan nilai nilai kemanusiaan. Nilai tentang perubahan yang lebih baik, rasa hormat dan semangat berbagi. Itu aku dapatkan laporan dari Susan yang bekerja sebagai executive pada Polmex. “ Kata  Aashna tersenyum seraya merangkul lenganku sambil melangkah menyusuri pedestarian. 
Tadinya Susan berkerja keras menciptakan produk biopolimer. Paten nya terpaksa dilepas lewat hutang konversi. Dari itu aku punya peluang untuk akuisisi Polmex produsen alat kesehatan… 


“ Aku akan pelajari peluang itu. Tapi informasi yang aku terima  ini sangat memudahkan bagiku untuk aksi aquisisi “ kataku.


“ Dimananya yang kamu anggap peluang?


“ GS Lab bukan hanya melakukan pengembangan obat fibrosis tapi juga pengembangan obat neurodegeneratif” Kataku.


“ Hebat kamu. Cepat sekali tahu ada peluang.”  Kata Aashna. 


“ Penyakit eurodegeneratif termasuk penyakit Parkinson, Alzheimer, Huntington, neuron motorik, yang sulit disembuhkan karena berkaitan dengan kerusakan sel otak.“ Kataku.


“ Ya memang luas dampak dari penyakit neurodegeneratif, termasuk  beberapa atrofi sistem, ya sejenis penyakit neurodegeneratif langka yang mempengaruhi fungsi tubuh, pernapasan, tekanan darah, fungsi kandung kemih, dan koordinasi motorik. Ini dapat berkembang di berbagai bagian tubuh dan mempengaruhi orang-orang dari segala usia.” Lanjut Aashna. “ Ya tepat sekali. “ kataku. Dia lebih hebat soal ini. 


***


Keesokan paginya aku bertemu lagi dengan Aashna di restoran Hotel saat breakfast. “ Aku udah pelajari dokumen dari kamu. Aku dapat simpulkan bahwa perusahaan GS Lab  mempunyai motode pengobatan yang canggih dan mutakir. Mereka memiliki keahlian mendalam dalam jalur biologis baru, termasuk autotaxin dan biologi calpain” Kataku. Aashna tersenyum cerah. Aku rasa bukan soal bisnisnya, tapi dia senang aku peduli dia. “ Tapi tetap aku harus menanti advice dari team business development group di Hong kong. “Kataku.


“ Aku paham. Walau terkesan mudah tetapi standar kapatuhan bisnis sangat kamu jaga. Tidak mudah tentunya untuk membuat keputusan bisnis dimana harus melewati penelitian semua aspek. Maklum sumber dana kamu berasal dari private  yang umumnya limited investor. Mereka orang yang menguasai segala galanya. Bekerja dengan cepat dan efisien. Dan tanpa dukungan team kamu yang punya kompetensi tinggi, rasanya tidak mungkin aksi akuisisi itu bisa terlaksana." 


" B,... Seru Aashna. " Aku tahu, tidak mudah bertemu dengan kamu. Setelah Polimex kamu akuisisi, Susan tidak pernah bertemu dengan kamu. Bahkan executive Polimex sendiri tidak pernah bertemu dengan kamu. Bagi mereka  B, adalah misterius. Terlalu jauh untuk mereka jangkau, apalagi sekedar fantasi. Nah mengapa kamu sempatkan bertemu denganku. Bukankah sudah biasa bagi pria, Kalau sudah menikmati tubuh wanita, dia akan mudah melupakan. Apalagi kamu tidak menggodaku. Aku yang menggodamu lebih dulu untuk tidur." 


Aku hanya diam. Tak ingin komentar. Yang jelas aku tidak pernah make love karena nafsu memuaskan diri sendiri. Tentu ada alasan yang lebih dari sekedar nafsu rendah. Bagiku persahabatan dan cinta adalah dua hal yang saling terkait. Itu tidak akan mudah dipahami oleh Aashna. Kalau karena alasan itu aku tidak pernah memaknai cinta sebagai sebuah ikatan yang memenjarakan. Bagiku Cinta dan persahabatan adalah membebaskan diri dari rasa memiliki. Penuh maklum atas dasar rasa hormat. 


Usai sarapan pagi kami pergi keluar hotel. Menikmati suasana Barcelona. Barcelona dipenuhi dengan bar-bar keren, restoran-restoran enak, dan tempat nongkrong yang bagus. Setidaknya pergi ke Park Güell. Tempat yang menakjubkan , menjelajahi pemandangan kota yang indah. Malam kami berpisah di jalan. Keesokannya, aku kembali ke Hong Kong.


***

Empat bulan kemudian team berangkat ke NY untuk negosiasi dengan GS Lab. Mereka setuju melepas saham sampai 70%. Karena mereka terdesak untuk biaya riset. Maklum anggaran riset obat memang menurun. Sementara pemasaran obat dan modifikasi obat dengan harga yang terus meningkat. Telah membuat persaingan semakin tidak fair. Terutama bagi pendiri perusahaan  pharma yang punya visi bisnis kuat. Proses negosiasi tidak berlangsung lama. Karena team yang dikirim didukung sumber daya yang penuh. Selanjutnya proses penggalangan dana dilakukan lewat pembentukan SPAC khusus untuk akuisisi, yang listing di Nasdaq. Nilai akuisisi mencapai USD 200 juta.


Sukses akuisisi itu mengundang minat DSC group produsen Active Pharmaceutical Ingredient, API yang ada di Eropa. DSC group punya portofolio sekitar 300 API, supply chain bagi lebih dari 400 Industri pharma di lebih dari 80 negara. Mempekerjakan sekitar 4.000 staf dan mengoperasikan enam pusat manufaktur dan punya R&D di Prancis, Jerman, Hungaria, Italia, dan Inggris. Mereka menawarkan saham sampai diatas 50%. Mereka hanya pertahankan kepemilikan 30%. Sehingga masuk putaran negosiasi tahap dua. “ Kami lebih memilih bermitra dengan investor China yang mendominasi market API. Kalau tidak, kami akan digulung kompetisi” Kata CEO DSC kepadaku saat bertemu makan malam di Bern.  8 bulan proses akuisisi selesai dengan total investasi mencapai USD. 1 miliar. Pendanaan lewat sophisticated investor  hedge fund.



2012


Sebulan setelah semua proses akuisisi selesai, aku terbang ke London untuk business meeting. Sebelumnya aku kirim email kepada Aashna rencana kedatanganku. Saat aku masuk lobi hotel The Ritz-Carlton, dia sudah menanti dengan senyum ringan. “ B, selamat datang”  Dia mengenakan longcoat dan sal warna merah. Dengan langkah ringan mengikutiku ke lift menuju lantai kamar. Masuk kamar, aku membayangkan dia akan berubah liar seperti sebelumnya. Tapi kali ini tidak. Dia melangkah ke arah sofa. Aku duduk menghadapnya tanpa berusaha menggodanya. Dia tersenyum saat aku tatap. “ Apa yang sedang kamu pikirkan, Aashna? Tanyaku.


“ Akhirnya aku tahu semua..penasaranku hilang sudah.” kata Aashna. Aku mengerutkan kening.


“ Kamu akuisisi GS Lab Pharma hanya batu loncatan untuk akuisisi DSC Group yang terseok dihantam kompetisi dari China dalam hal produksi API. Dengan kepemilikan GS Lab, kamu dapat insentif biaya riset dari pemerintah AS untuk melakukan akuisisi DCS Group. Karena Holding kamu terdaftar di China, itu sama  saja menggabungkan tekhnologi China dan Eropa untuk menghasilkan produk API yang murah dan tentu biaya riset yang efisien dengan tingkat kesuksesan diatas 80%. Kamu bisa menghasilkan produk yang bersaing baik dari segi mutu maupun harga. “ Katanya. Aku terkejut. 


Aku tidak diam saja.  Darimana dia tahu strategi aksi akuisisi ini? Aku berdiri ke arah mini bar ambil air minum mineral. Aku bawa satu botol untuk Aashna. “ Dari mana kamu tahu ? kataku seraya menyerahkan satu botol air mineral.


“ Dokumen rahasia yang dulu aku berikan kepada kamu, itu aku dapat dari CEO, GS Lab“


“ Mathew ? 


“ Ya. “


“ Kamu punya hubungan istimewa dengan dia? tanyaku 


“ Ya. Kami telah menikah tiga bulan lalu."


" Oh..." Aku akhirnya terkejut namun cepat menguasai keadaan. AKupun tersenyum bahagia.


"  Terimakasih B. Sudah selamatkan Mathew dari posisinya” 


“ Oh biasa saja. Itu hanya business. Semoga kamu dan Mathew hidup bahagia,  menua bersama dan sampai ajal menjemput ” kataku. Aashna tersenyum dan berdiri seraya menyalamiku. “ terimakasih untuk semuanya. “ Katanya melangkah ke arah pintu kamar. 


“ B, serunya menatapku saat depan pintu kamar. “ Setelah aku tahu siapa kamu, aku merasa naif berharap cinta dari kamu. Aku tahu diri. Siapalah aku. Tapi apa yang terjadi diantara kita, itu benar benar karena aku mencintaimu. Kini yang tersisa hanyalah rasa hormat. Apalagi kamu pertahankan Mathew sebagai CEO.” 


“ Mathew orang baik dan profesional. Sama dengan kamu. Kalian memang pasangan hebat” kataku. Aashna tersenyum.  Tahun 2013 aku hired dia sebagai CEO subholding Pharma SIDC. Tapi sejak itu saya tidak pernah lagi bertemu secara personal dengan dia.


***

2023


Hari senin yang lalu James CEO SIDC hubungi aku via chat. “ B, Aashna mau ketemu kamu di Jakarta. Boleh?


“ Ada apa ? terakhir aku bertemu dia tahun 2013. “


“ Sepertinya masalah pribadi. Bukan masalah bisnis. Tapi terserah kamu. Kalau engga bisa ketemu, saya akan sampaikan ke dia”


“ Ok, datanglah ke jakarta. “ Kataku.


Kemarin aku dapat telp dari Aashna dia sudah ada di jakarta. Nginep di Ritz. Saya minta Lina dan FLorence jemput dia di Ritz dan antar ke PIM Golf. Aku akan temui disana. Kebetulan aku ada janjian dengan relasi.


Saat aku bicara dengan relasi , aku melihat Florence dan Lina datang bersama wanita bule. Aku langsung berdiri dan menyambut mereka datang. “ Na, How are you my dear .” kataku seraya memeluknya. Dia tersenyum. “ I am fine. “ Katanya melirik kerambutku. “ You seem to be getting old. “ Lanjutnya.


“ Semua orang pasti menua. “ kataku. Dan meminta mereka ambil tamble lain sambil nunggu aku selesai dengan relasiku


Usai meeting dengan ralas, aku temui Aashna. Florence dan Lina pindah ke table lain.


“ Rencana sampai kapan di jakarta.” tanyaku


“ Besok pulang. “katanya tersenyum, Dia lama pandang saya. “ terakhir ketemu kamu tahun 2013. Baru sekarang kita ketemu lagi” lanjutnya.


“ Ya tapi tugas kamu sebagai CEO SIDC Pharma saya pantau terus. Setiap bulan saya dapatkan laporan dari SIDC. Hebat. 10 tahun kampu pimpin SIDC pharma, aset meningkat lebih dari 20 kali. “


“ Saya tahu, kamu terus pantau saya dan memberikan dukungan luar biasa. Tapi mengapa kamu tidak kengen saya. Tidak pernah telp saya. Semua menjadi formal sejak saya kamu hired. Tidak ada lagi kehangatan persahabatan seperti awal saya kenal. Apa salah saya.” Katanya. Aku tahu sejak dia berkarir di SIDC. Dia tinggalkan dosen PHD nya. Dia tinggalkan karier sebagai peneliti dan dia korbankan waktunya sebagai istri. Dia  kerja keras dan luar biasa.


“ Gimana kabar Mathew ? tanyaku.


“ Saya datang kemari justru karena masalah dengan Mathew.”


“ Ada apa dengan kalian ?


“ Sejak saya jadi CEO Subholding, kami hidup berpisah. Saya di London dan dia di New York. Hanya bertemu disaat akhir pekan. Selama 10 tahun kami gagal dapatkan bayi.” Kata Aashna. Saya meyimak.


“ B, Mathew selingkuh dengan wanita lain.” Kata ashna dengan airmata berlinang.


“ Darimana kamu tahu?


“ Dari dia sendiri. Dia akui itu. “


“ Oh..


“ Apa yang harus saya lakukan. Karena dia kan salah satu direktur anak perusahaan dibawah sub holding yang saya pimpin. B, tolong saran kamu”


Saya diam aja. Tak mau memberikan saran.


“ Saya berencana mengundurkan diri dari SIDC. Maafkan saya..”


“ Mengapa ?


“ Selama ini saya yang salah. Kurang waktu kebersamaan dengan dia. Saya harus rebut kembali mathew dari wanita lain. Dia suami saya dan saya lebih tahu sifatnya. Dia tidak akan bahagia dengan wanita lain. Dari matanya saya tahu dia masih mencintai saya dan kalaupun mencintai wanita lain, itu hanya pragmatis saja. “Kata Aashna berlinang airmata.


“ Ya. Kalau kamu pikir itu pilihan yang tepat. Lakukan. Utamakan keluarga.” Kataku. Aashna menangis. Aku berikan tissue untuk mengusap airmatanya. Aku panggil Florence untuk mendekati table kami. “ Ajak Aashna kembali ke hotel. Dia perlu sendirian untuk menenangkan pikirannya.” kataku. Esoknya Aashna mengabarkan bahwa dia lebih memilih bercerai daripada mengorbankan karier nya. Secure lewat uang dan jabatan lebih utama daripada cinta. Semoga Aashna bisa berdamai dengan realitas hidupnya. Hidup bukan apa yang kita dapat tapi apa yang kita beri..


Sunday, May 14, 2023

Menjadi transformatif..

 




Tahun 2010 Aling datang dari Jakarta ke Hong Kong. Dia sempat mampir ke kantor saya. Dia terkejut. Di Kantor saya hanya ada staff 4 orang, itu sudah termasuk sekretaris. “ Kenapa hanya 4 orang staff ? Tanya Aling.

“ Ya ini kantor saya. Kalau bagian lain ada di tempat lain. Tapi beda gedung. Tepatnya diseberang. Mau lihat ? 

“ Ya mau lah “ katanya semangat. Kami pergi ke seberang gedung kantor saya.


“ Ini gedung punya siapa ? katanya saat sampai di gedung itu..

“ Punya BUMN CHina. Saya sewa 22 lantai.”

“ Untuk apa ?

“ Untuk Business developent, Finance, Investment dan HRD

“ Seluas ini kantornya ?

“ Ya staf intinya hanya 40 orang. Tetapi operationnya lebih  “

“ Gila ya.” Dia geleng geleng kepala ketika keliling ruangan.

“ Ini otaknya Holding saya. Dari sinilah lebih 100 anak perusahaan tersebar di beberapa negara, dikembangkan dan dikendalikan. Kita punya 5 subholding, Agro, kawasan industri, Pharma, HighTech, Financial service” Kata saya. 


Usai keliling ruangan. Kami kembali lagi ke kantor saya. Dia tidak lagi bertanya. Aling duduk di sudut ruangan. “ Kamu terus aja kerja. Biar saya tunggu di sini. Boleh? “ Katanya. Saya senyum aja dan terus melanjutkan kerjaan saya. Membaca laporan dan menerima tamu. Aling hanya memperhatikan saya dari sudut ruang. ALing lihat saya sholat Ashar dan Maghrib di ruang khusus solat yang ada di kamar kerja saya. Jam 7 malam usai rapat saya kembali ke kamar kerja saya. Aling tersenyum. “ Kamu rapatnya hanya 15 menit. Efisien sekali.” Katanya.  


Saya merebahkan tubuh di sofa. “ Capek Ale ?

“ Ya engga lah. Hanya longgarkan urat punggung. “ 

“ Ale boleh tanya engga ? 

“ Ya tanya aja”

“ Kenapa kantor Business Development begitu besar. Banyak lagi karyawannya. Emang ada pengaruh dapatkan cuan.?


“ Business Development itu dalam organisasi disebut supporting group. Tugas melakukan penelitan berbagai aspek business yang berkaitan dengan marketing dan pesaing, produk dan tekhnologi, logistik, Instrument keuangan, geostrategis dan geopolitik, menagement. Itu untuk memastikan setiap kebijakan perusahaan berbasis penelitian dan tentu akademis. “ Kata saya.


“ Bisa jelaskan konkritnya ? 

Saya berdiri dari rebahan di sofa dan duduk menghadapnya. “ Gini ya, Ling. Bisnis di era modern sekarang ini berkembang dengan pesat sekali. Perubahan terjadi disemua sektor. Informasi datang begitu cepat. Nah kalau kita tidak punya team penelitian, kita akan jadi orang bego ditengah perubahan. Kesepian di tengah keramaian. “  


Aling menyimak.


“ Ada enam manfaat penelitian itu. Pertama, dengan penelitian akan memperluas pengetahuan dan informasi. Misal ada peluang mau investasi jalan tol. Dari hasil penelitian bisnis kita tahu bahwa infrastruktur jalan tol itu bagian dari pengembangan kota satelit dan TOD. Nah kalau mau masuk ke bisnis jalan tol, kita tidak hanya focus kepada pendapatan tarif tol, tetapi juga pengembangan kota satelit dan TOD. Kalau hanya andalakn dari tariff, jelas terbelakang berpikirnya. Secara bisnis itu  tidak layak. 


Misal lagi. Kita dapat peluang bangun smelter Bauksit. Kita tidak hanya melihat tersedianya sumber daya mineral Bauksit, tetapi juga memperhatikan tersedianya listrik yang murah. Karena 80% cost pengolahan bauksit itu adalah energi. Kalau tidak ada sumber daya energi murah, seperti PLTA, ya investasi smelter bauksit itu tidak layak.  


Kedua. Dengan penelitian visi kita semakin taja. Walau apapun bisnis selalu ada tantangan namun kita berkembang karena adanya hambatan itu. Analoginya gini. Tahu jeruk? Tahu kan. Nah kalau kita hanya tanam jeruk dan jual jeruk. Itu sangat bersiko karena mudah busuk. Harga tergantung musiman. Petani tidak bisa makmur walau mereka punya lahan pertanian jeruk. Solusinya? Holding punya estate food jeruk di Hunan. Jeruk kita olah jadi bahan baku obat. Ini tentu membutuhkan tekhnologi prosesing sepator memisahkan unsur kimia pada jeruk itu agar VItamin C, A dan lainnya terurai. Setelah diuraikan kita murnikan dan packing Jadilah produk yang menjamin supply chain pabrik pharmacy. Nilai tambahnya 10 kali daripada petani jual jeruk doang. Bisa sustain tanpa ada gangguan apapun. Paham?


“ Wah paham sekali, terusss”


“ Cabe ditanam. Hasilnya dijual untuk sayur perasa pedas. Tapi juga beresiko paska panen. Mudah busuk. Di Jilin, Cabe kita olah dengan tekhnologi cold drier agar aroma dan rasa tidak berubah. Dari sana dihasilkan chili powder, untuk mensuply food Industry produksi sauce. Atau seperi kita punya kebun pisang di Laos. Kita olah pisang dengan tekhnologi separator agar unsur kimianya bisa diurai sehingga bisa jadi bahan baku untuk indusri pharmaci dan makanan. Bisnisnya terus sustain tumbuh berkesinambungan tanpa peduli krisis”


“ Terusss”


“Orang biasa bangun mall. Visinya jual atau sewakan kios. Kita membangun mall, vsi kita sediakan tempat display product branded standar premium. Sewakan kioss hanya USD 30/M2. Sepi pembeli, tewas tuh kios. Tapi sewakan kios untuk display product branded USD 300/M2. Mau ramai atau sepi, tetap dibayar sewa. Perbedaan visi itu tentu berbeda dalam hal design dan management. Jadi bisnis sama. Tetapi revenue beda..”


“ Ale suka sekali kalau kamu bicara soal bisnis, terus aja bicara” 


“ Orang biasa bisnis IT, visi mereka jualan akses kemudahan belanja. Mereka harus bakar uang untuk promosi. Tetapi visi kita dalam bisnis IT, mengubah tataniaga bisnis agar efisien. Kita tidak perlu bakar uang. Karena perubahan tataniaga itu sudah jadi ekosistem bisnis. Contoh kita punya IT Platform Logistic. Semua tergantung kita. Mereka bakar uang, kita yang dapat nilai tambah”


“ Terus.” 


“ Kita tidak punya pabrik celluar seperti Apple. Tapi kita menghasilkan produk yang diperlukan oleh apple. Jadilah kita sebagai supply chain Apple dan lain lain. Tadinya mereka merasa jadi raja. Tetapi lambat laun mereka tidak bisa bisnis tanpa kita. Karena kita kuasai semua riset sparepart mereka. Apple bakar uang untuk promosi dan kita mendapakan nilai tambah karena itu.”


" OK lanjut " 


Ketiga, setiap hari Devisi Business Development mengirim laporan penelitian lewat email dan databased ke seluruh unit usaha dan direksi. Memungkinkan direksi dan staf mendapatkan fakta paling mutakhir. Selalu ada pengetahuan dan penemuan baru di berbagai sektor. Jadi kalau ada rapat antar anak perusahaan, internal unit business, antar anak perusahaan dengan induk perusahaan, itu bisa berlangsung cepat. Karena data dan informasi terupdate, membuat mereka lebih siap untuk mendiskusikan suatu topik untuk mendapatkan solusi, dan membangun ide bersama.


Keempat. Setiap rencana business dibuat atas dasar penelitian itu pasti punya kredibelitas tinggi. Sehingga kita mudah mendapatkan dukungan dari stakeholder dan investor institusi. Mengapa ?  Penelitian memberikan dasar yang kuat untuk merumuskan pemikiran dan pandangan. Para eksekutif dapat berbicara dengan percaya diri dihadapan investor dan banker. Sehingga mudah kita mendapatkan kemitraan dalam bidang apa saja. 


Kelima. Bisnis yang sukses tidak dapat dilakukan tanpa bukti kuat dan riset pasar. Dikatakan demikian, itu menjadikan penelitian sebagai langkah utama sebelum melakukan bisnis apa pun. Bisnis gagal pada tingkat mendekati 90% jika penelitian yang tepat tidak dilakukan. Jadi, selalu lebih baik melakukan riset yang tepat dalam segala hal sebelum terjun ke bisnis apa pun. Bisnis makmur karena mereka memiliki pemilik yang bijaksana yang percaya perlunya team riset yang kuat.” 


Keenam. Peluang bisnis itu bisa datang dari mana saja. Para eksekutif dapat memaksimalkan potensi mereka dan mencapai tujuan mereka melalui berbagai peluang yang disediakan oleh penelitian Business Developement. Artinya peluang yang benar apabila didukung oleh penelitian yang benar.  Paham ya” Kata saya.


“Wah paham sekali.” Kata Aling tersenyum. “ Terus gimana kamu sampai terpikir perlunya penelitian, dan berani lagi berinvestasi pada Business Development. ?


“ Ya karena saya tidak terpelajar. Saya hanya tamatan SMA. Saya percaya sarjana itu sangat penting dan hebat untuk perubahan peradaban yang lebih baik. Engga mudah jadi sarjana. Lah saya aja gagal jadi sarjana. Makanya saya bangun Business Development divisi. Mereka para peneliti adalah lulusan terbaik universitas. Saya juga kontrak dengan pusat penelitian di kampus kampus kelas dunia. Mereka secara rutin mengirim laporan ke pada Divisi Business Development.”


“ Berani banget kamu. Kan engga kecil investasinya?


“ Business kan harus berani. Tetapi tentu didasarkan oleh visi yang kuat. Kalau tampa visi ya mana berani keluar uang besar untuk hasilnya hanya kertas berisi informasi dan data. “


“ Artinya kalau pemerintah tidak berani investasi dibidang riset, itu artinya memang pemerintah membangun tidak punya visi. Makanya gampang sekali kena Frank, Elon Musk, Masayoshi Son, US- IDFC, SWF Abudabi. Gampang dikerjain  Singapore, China, Eropa. Semua rencana tidak berbasis penelitian dan tentu pelaksanaanya tidak efektif dan pasti korup. “ Kata Aling. Saya senyum aja. 


Jam 9 malam. Kami keluar kantor untuk makan malam. “ Gimana mengelola sumber daya yang begitu besar dan jumlah unit usaha yang beragam. Maksud saya gimana mengelolanya dari kemungkinan penyelewengan” Tanya Aling.


“ Penyelewengan terjadi karena sistem. Sistem itu disamping berkaitan dengan organisasi juga berkaitan dengan HRD. Dalam organisasi, kami punya dua kamar. Satu kamar untuk supporting group dan satu lagi kamar untuk operation group.  Dua kamar ini terpisah dari tingkat Holding sampai ke tingkat anak perusahaan. Antara mereka yang mengawasi, berpikir dan melaksanakan berbeda kamar namun satu ikatan yang terstruktur saling mengikat. Menghubungkan itu semua, ada Governance Risk and Compliance yang d design secara IT.


Secara organisasi itu sudah merupakan pengawasan melekat. Sekecil apapun penyimpangan management process pasti ketahuan. Karena itu akan berdampak kepada kinerja business process. Sementara pada business process berhubungan dengan punishment and reward secara langsung. Holding memberikan bonus yang diatas industri rata rata. Sistem inilah yang membuat proses bottom up sangat efektif menghindari terjadinya moral hazard. Dalam sistem human resource,  orang berkembang bukan karena aturan dan standar tetapi kompetensi dan integritas. Kecil sekali terjadi kemungkinan moral hazard. Karena selalu ukurannya kinerja, bukan retorika” Kata saya saat makan malam. 


“ Benar juga. Ternyata organisasi modern itu harus bertumpu kepada sains dan seni mengelolanya.  Itu saya pahami saat kuliah dulu tapi prakteknya tidak mudah. Karena bagaimanapun tergantung dari boss yang ada di puncak kekuasaan untuk memastikan organisasi berjalan tertip. “


“ Pemimpin itu ada dua jenis. Pertama, pemimpin yang memimpin. Dia tidak sibuk dengan masalah kecil dan keluhan. Karena dia percaya dengan pendelegasian tugas dan wewenang. Dia hanya focus melaksanakan visinya sebagai pemimpin. Bagaimana sumber daya yang ada bisa dioptimalkan agar kepemimpinannnya efektif melaksanakan ide besarnya. Mengajarkan hal yang konstruktif kepada bawahannya agar emosi tetap terjadi secara positip, mengundang orang untuk mengambil langkah keyakinan melalui sepatah kata tentang apa yang mungkin , menciptakan sebuah inspirasi kolektif. Semua itu  tercermin dari caranya  berpikir ( way of thinking ) , merasakan ( feeling ) dan kemampuannya  memfungsikan semua potensi positip ( functioning ) , sebuah cara hidup ( the way of life ) dan cara menjadi ( way of being ) yang transformative. 


Kedua, pemimpin yang responsif. Dia selalu sibuk dengan masalah kecil dan mendengar keluhan. Karena dia menganggap orang dibawahnya seperti anaknya yang selalu dia kawatirkan dan jaga. Dia pasti tidak ada waktu memikirkan agenda besar. Dia mudah lelah dan mungkin mudah dikendalikan. “ Kata saya. Sampai apartement sudah jam 12 malam. Saya tahu Aling capek. Karena di dalam kendaraan dia sudah tertidur pulas. Saya terpaksa gendong dari lobi apartement ke kamarnya.

Saturday, May 13, 2023

Kafe kenangan...

 





Di kafe itu, aku meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, seakan itu kenangan terakhir yang bakal aku reguk. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika aku sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkanku, karena aku tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika aku mencium Aling pertama kali dulu.


Dulu, ketika aku masih salesman. Saat senyumku masih ringan diusia muda belia. Dengan rambut tersisir berminyak tanCho. Tapi tetap saja aku inferior dihadapan Aling. Karena aku pria miskin. Aku benci dengan kehidupan yang tidak adil. Aku hanya merasa superior di hadapan Aling saat berkata "  aku harus melawan ketidak adilan. Tak mungkin bisa makmur bangsa ini bila kemerdekaan hanya berganti penjajah saja. Kalau tadi dijajah londo namun kini dijajah bangsa sendiri. "


“ Kamu tidak hidup dalam realita, dan kamu ingin menciptakan perang, bukan untuk siapa siapa. Tapi untuk dirimu sendiri.” Kata Aling. Aku dengan percaya diri menjawab ”Aku perlu masa depan tapi tidak dengan lingkungan brengsek seperti sekarang. “ Kata-kata itu kini terasa pahit. Karena aku hanya sekedar bersikap merasa inferior. Tapi mengapa bukan kata kata romantis? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Aku tidak punya kemewahan merayu dengan retorika. Kehidupanku yang miskin tidak qualified untuk kehidupan romansa. Aku hanya bisa marah. Marah kepada nasipku.


Tahun 1984 aku pernah masuk bui karena tragedi Tanjung Priok. Walau dibebaskan saat proses penyidikan. Namun itu membekas abadi dalam diriku. Mengapa ? Politisi yang aku bela, hidupnya lebih bahagia dengan harta dan jabatan,  dan tidak peduli dengan korban akibat provokasinya. Andaikan perjuangan aku sukses, tentu politisi itu lebih bahagia hidupnya. Dan aku tetap jadi jelantah. Akhirnya aku lantunkan doa “ Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim.” Ya aku zalim karena bego dan bigot. Tetapi tetap berusaha idealis tentunya.


Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaanku. Kenanganku. Itulah yang membuat aku  kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangan.  Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. 


”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu….” kata Aling. Aku tak percaya bahwa Aling akhirnya meneleponku.


”Kok diam….” kejarnya.


”Hmmm.”


”Bisa kita ketemu?”kembali mengejarku.


”Ya.”


”Tunggu aku,” Aling berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.” Lanjutnya.


Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya aku jangkau dulu. Ketika aku yakin, aku tak mungkin bahagia tanpa Aling.  Ah, aku jadi teringat di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan malu-malu. ”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma sepasang kunang-kunang.” Kataku.


Aling  tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….” Kataku.

”Hahaha,” Aling tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu. " Kataku cepat.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Kata aling.


Dada yang membusung. Dada yang kini pasti masih segar karena tidak pernah menyusui bayi dan disentuh pria selain aku. Dada yang masih aku rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya. Ingat dulu. Aling membuka satu per satu kancing bajunya. Dia hanya memejam saat aku sentuh. Dia pasrah menyerahkan tubuhnya dan dengan wajah penuh bahagia ketika melihat titik darah di sprey tempat tidur. Aku selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuat aku masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan Aling tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat aku selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang aku pesan.


Gelas bir itu sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas bir itu mati. Sementara kuning di luar bir gemerlapan. Hidup. Aku jadi teringat pada percakapan dulu. Setelah sekian tahun aku  menikah dengan wanita pilihan orang tua. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.


”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” Kataku, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa? Aling berkerut kening.

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kamu merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.”  Kata Aling tersenyum.

”Bohong….” kataku seakan dipermalukan sebagai pecundang

”Aku realiistis. Kamu sudah jadi suami orang. Mengapa harus merindukanmu. Rindu itu adalah kekalahan bila tidak lagi terikat komitmen. Atau tepatnya kebodohan” 

“ Jadi apa yang tersisa ?

“ Ya persahabatan saja. “

“ Termasuk kiss dan huge itu?

“ Ya. Kenapa ? salah? Toh dulu sebelum kamu menikah, kita lanjut dengan saling membuka baju, tapi kini itu tidak pernah terjadi” Kata Aling tangkas dan cerdas. Aku semakin merasa pecundang dihadapannya.


Aku tak menjawab. Tapi bergegas mencium aling Rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila aku merasa bersalah dan kalah. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kekalahanku. Tapi aku tak bohong kalau aku masih mencintainya. Walau pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kamu tidak menyadari setiap pelukan dan kiss itu sama dengan kamu mengungkit masa laluku yang bodoh. Bodoh menolak kamu menikahiku tapi euforia kamu perawani. Yang pasti walau aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”


”Jangan lagi hubungi aku!” Kata Aling. Tapi dia menciumku lama.  Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: Aling menamparku sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin aku lupakan.


Dan kini, seperti malam-malam kemarin, Aku ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum bir. Kafe yang mengantarkanku pada sebuah ciuman panjang di bibir. Dan aku masih menunggu. Aku melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Aku melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal aku seorang di kafe. Barangkali, bila aku bukan pelanggan, pasti pelayan itu sudah mengusirku dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan. Aling tidak juga datang. Mungkin tidak akan pernah datang lagi.


Pada gelas kedelapan, akhirnya aku  bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah aku reguk habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe itu. Besok aku tak akan kembali ke kafe kenangan ini. Kemudian aku beranjak pergi dari kafe itu. Saat itu usiaku 33 tahun, tahun 1996.


Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah takdir yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang? Pada saat aku tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling aku cintai itu adalah istriku. Karena hanya dia yang berani berkomitmen denganku. Jelas itu bukan Aling. Pada saat itulah aku menyadari aku bukan pecundang.


Saat gaung reformasi semakin kencang dan akhirnya tahun 1998 Soeharto jatuh. Aku melihat para elite politik Golkar dan TNI yang mendesign Soeharto berkuasa selama 32 tahun tetap exist. Yang TNI bahkan dapat jabatan menteri, belakangan jadi presiden. Ada yang jadi Menko dan ketum Partai, pemilik partai. Lantas aku yang berusaha idealis malah terpuruk. Masa depan masih panjang, otak reptil ku bangkit. Aku harus hijrah dari negeri ini. Hijrah menjauh dari Aling setidaknya. Malu karena selalu dia hadir disaat aku bangkrut. Seakan aku hanya kunang kunang untuk hinggap di buah dadanya.


Usia 40 aku hijrah ke China. Selanjutnya berusaha survival di negeri orang. Di China walau negara komunis tapi hukum tegak. Jadi siapapun yang legitimate masuk ke China, akan diperlakukan sama dengan warga negara china. Kompetisi terbuka secara sehat. Aku  terseret gelombang arus perubahan besar besaran di China. Dari sana aku menemukan arti sebuah kolaborasi dan sinergi. Keterbatasan bisa dilewati dan hambatan bisa diatasi karena modal sosial China sebagai bangsa sudah established.


Selama 10 tahun aku berjuang di CHina dalam ritme kerja yang luar biasa keras. Aku bekerja 18 jam sehari. Melintasi benua dan banyak negara. Akhirnya masuk usia 50 tahun aku bisa menemukan jati diri. Bahwa tidak ada manusia yang terlahir sebagai pecundang. Hanya lingkungan yang membuat orang jadi pecundang. Di China aku memang berubah. Tidak jadi ayam merak tapi jadi elang. Aling datang lagi kepadaku. Kami bertemu di Hong Kong. Tapi aku sudah selesai dengan dirinya.  ”Aku memilih menikah atas restu orang tua, karena  tidak punya pilihan. Karena kamu menolak menikah denganku. Aku sadar, hidup bukan apa yang kita mau tapi melewatinya dengan ikhlas. Itu akan menjadi lebih mudah dari pada aku kecewa, broken heart kamu tolak.” Itulah yang ku ucapkan. Aku hanya ingin jadi sahabatnya. Dia pun menemukan kebahagiaan dari arti sebuah persahabatan


Kini usia 60 tahun, aku menikmati hidup tanpa sesal akan masa lalu. Aling juga menua. Usianya 2 tahun diatasku. Tapi yang lebih bersukur adalah aku punya waktu banyak bersama keluarga. Dan tentu ada waktu ke kafe bertemu Aling. Tentu bukan ke kafe kenanangan kami. Dulu “waktu” kebersamaan dengan keluarga  dan sahabat adalah sesuatu yang sangat mewah bagiku. Kini “waktu” membebaskanku, rasa sukur selalu membuncah kepada Tuhan. Hidup memang soal pilihan, namun setidaknya dalam politik  dan kehidupan percintaan, aku tidak memilih waiting for godot seperti lakon drama karya Samuel Beckett.

Pendidikan Adalah Jalan Naik Kelas

  Setelah satu bulan Amel mengikuti sekolah malam untuk mendapatkan ijazah SMA, saya datang ke tempat belajarnya di kawasan Cempaka Putih. S...