Friday, May 13, 2022

Jangan pergi lagi, Sa..

 


Kala itu tahun 2000. Usia 36 tahun. Setelah duduk di bangku business class pesawat menuju Hong kong. Pramugari memberiku welcome drink. Dari arah pintu masuk. Aku terkejut. Menatap wanita yang baru masuk melewati kuridor. Dia sempat melirik kearahku. Tak ada senyum ketika melewati kursiku. 


Aku melirik ke belakang. Wanita itu duduk di economy class. Tepat di perbatasan ekonomi class dan business class. Apakah aku baru melihat masa laluku? Benarkah itu Risa? Mengapa dia tidak mengenalku lagi.? Dalam kebingungan itu memaksaku untuk kembali menoleh ke belakang. Dia sempat tersenyum tipis ketika aku tatap.


***

Tahun 1983 aku bekerja sebagai sales. Sering mampir ke pasar glodok. Kebetulan ada rekananku yang berdagang di glodok. Saat itulah aku mengenal Risa. Awalnya aku tertarik membeli tape kaset lagu barat tahun 70an yang dia jual di kaki lima. Dia sabar melayaniku walau aku hanya membeli satu kaset saja.


Setelah itu  kalau aku mampir ke Glodok, aku pasti menemui Risa. Lama lama kami jadi akrab. Aku senang berteman dengannya, walau dia gadis Tionghoa. Dia cerdas dan punya rasa hormat. Kalau dia mau dapatkan pacar kaya tidak sulit. Dia memang cantik.


Aku pernah ajak dia ketempat kosku di Cempaka Putih. Akupun pernah diajaknya ketempat kosnya di bilangan Mangga Besar. Jadi kami saling memaklumi bahwa kami anak rantau. Aku tak pernah mendengar dia becerita tentang masa depannya. Dia sepertinya tidak punya cita cita. Hidup mengalir saja.  Hanya karena kesibukan masing masing, kami jarang bersama sama. Tapi pernah sekali makan bubur ayam di Mangga Besar. Dia sanang sekali aku traktir. Pernah sekali nonton di Eldorado. Itu saja. 


Suatu hari aku pulang ke tempat kosku dia sudah ada di teras paviliun. “ Aku tak bisa lagi bayar kos. Daganganku sudah habis untuk biaya berobat ibuku di kampung. Aku tidak tahu mau tinggal dimana? Katanya dengan tertunduk. 

“ Kalau kamu tidak keberatan, Kamu bisa tinggal sementara di kamarku. Aku tidur di lantai. Engga apa apa ?


“ Engga. Kamu tidur di ranjang. Aku tidur di lantai. Kalau engga, ya aku cari tempat lain saja.” katanya ketika masuk kamar. Akupun mengalah. Aku sibuk membaca dan dia cepat sekali tertidur.  Sepertinya dia lelah sekali. 


Keesokan paginya. “ Aku mau ke glodok. Jadi calo aja dulu. Moga dapat peluang untuk makan.” katanya. Aku biarkan dengan rencananya. Sebelum berangkat kerja, aku memberinya uang untuk trasport. Dia sempat berlinang airmata menolak uang itu. Tapi karena butuh, dia terima juga.  Setelah itu, dia sibuk. Malam hari baru pulang ketempat kosku. Langsung tidur kelelahan.


Satu waktu. Saya dapat kabar. Risa di RS. Saya datangi. Kepalanya berdarah. “ Aku dagang rokok asongan depan tempat karaoke. Preman minta rokok tanpa bayar. Aku menolak. Dia marah. Dia pukul kepalaku pakai botol bir.. “ Katanya. Temanku cerita. Tidak ada orang yang berani melerai. Dia tidak melacurkan diri. Dia berusaha mempertahankan secuil hartanya yang jadi sumber penghidupannya. Walau disepak. Dia tidak menangis. Dia diam saja. Dia tetap kemasin barang daganganya.  Walau terhina dan terluka. Dia tidak melacur. Risa tidak terkalahkan.


Pernah lebaran, dia  menemaniku pulang mudik ke sumatera. Dia sangat menghormati kedua orang tuaku. Namun ayahku menolak aku berteman dengan dia. Itu dikatakan terang terangan di hadapan dia. Risa hanya diam. Tak ada sedikitpun dia tersinggung. Setelah kembali ke Jakarta, dia tidak mempermasalahkan sikap ayahku. Hampir enam bulan dia tinggal satu kos denganku. Selama itu kami tidak pernah saling menyentuh dan tetap menghormati privasi masing masing.


Dia pergi dengan alasan dapat pekerjaan sebagai penjaga toko di Surabaya. Pamannya berbaik hati menampungnya. Aku tak bisa menahan kepergiannya. Aku hanya berdoa semoga dia baik baik saja. Dua kali lebaran aku tidak datang. Karena hidupku dirantau sedang sulit. Namun dari kampung aku dapat surat. Kedua orang tuaku berterimakasih. Walau aku tidak datang tetapi kiriman uang tetap datang. Aku bingung. Siapa yang kirim uang itu.  Belakangan baru aku tahu. Ternyata yang kirim uang adalah Risa. 


Stempel wesel dari Jakarta. Itu artinya dia tidak di Surabaya. Aku berusaha mencarinya dan bertanya dengan teman temannya di Glodok. Tidak ada yang tahu dimana dia berada. Dia hilang begitu saja. Sampai akhirnya aku melupakannya. Apalagi tahun 1985 aku sudah menikah. 


***

Setelah pesawat landing. Pintu pesawat terbuka. Walau business class lebih dulu keluar. Aku tidak segera berdiri dari tempat dudukku.  Setelah giliran ekonomi class diizinkan keluar. Aku berdiri menatap kearah ekonomi class dan melangkah kearah tempat duduk Risa. “ Lama ya engga ketemu. Kamu udah jadi orang hebat. “ Katanya tersenyum.


“ Ke Hong Kong ?tanyaku.


“ Ya” Katanya singkat.


“ Ada urusan apa ? Tanyaku.


Dia tidak menjawab. Namun dia memagut lenganku melangkah keluar dari pesawat. Sama seperti 16 tahun lalu ketika kami masih melata di kaki lima. “ Aku jadi TKW.”


“ Bagaimana dengan anakmu?


“ Aku tidak pernah menikah. “


“ Sudah berapa lama kerja di Hongkong?


“ Hampir 10 tahun. Kebetulan bossku orang baik. Dia sudah anggap aku sebagai keluarga sendiri. “


Aku termenung. 


“ Megapa kamu menghilang dariku. Bukankah kita sahabat.? Kamu pernah mengirim uang untuk keluargaku di kampung disaat aku terpuruk. Apakah itu tidak ada artinya bahwa kita memang sahabat” kataku


Risa hanya diam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaanku. Aku mau antar dia ke tempat tinggalnya tapi dia menolak. Kami berpisah di gate bandara HKIA. Sejak itu dia tidak pernah telp aku. Akupun sibuk. 


***

Tahun 2005 aku kena Flue SARs. Saat itu sedang ada pandemi di Hong Kong. Kalau aparat tahu aku kena SARS, pasti aku dikarantina. Semua sahabat aku telp tidak mau datang. Tentu mereka kawatir ketularan. Mereka hanya menyarankanku pergi ke RS atau hubungi pusat bantuan SARS. Temanku di China, bisa membatuku berobat tanpa harus ke rumah sakit. Masalahnya bagaimana aku bisa keluar dari gate Hong Kong -shenzhen yang punya detektor suhu  tubuh. 


Saat itulah, aku telp Risa. Aku tidak yakin dia mau terima telpku. Apalagi saat itu jam 2 pagi. Tubuhku panas dan sesak napas. Ternyata dia terima telpku. Dia berjanji akan ke tempatku. Benarlah. Dalam 30 menit dia sudah ada di apartemenku. Aku ceritakan alasanku tidak mau ke RS dan ingin ke China. Sampai pagi dia merawatku dengan mengompres kepalaku setelah memberi obat penurun panas. Jam 10 pagi dia bawa aku ke shenzhen. Berkat parasetmol, aku bisa lolos melewati gate imigrasi yang dilengkapi detektor suhu tubuh. 


Di gerbang kedatangan sudah ada Wenny menantiku. Mereka berdua membawaku ke klinik khusus. Semalaman dalam perawatan aku tertidur pulas.  Besok paginya aku bisa sembuh. Ternyata itu klinik khusus pengobatan dengan candu. Sebelum aku berterimakasih, Risa sudah kembali ke Hong Kong. 


“ Semalaman Risa ada di samping tempat tidur kamu. Dia menangis dalam doa. Aku dengar doanya,” Tuhan, sembuhkan pria yang pernah menjaga kehormatanku ketika aku terpuruk dan terabaikan. Sembuhkan pria yang aku cintai dengan tulus. Aku tak berharap apapun, kecuali sembuhkan dia Tuhan.” Demikian Wenny mengulang doa Risa.


“ Bro, dia mencintai kamu dengan tulus. Dia mencintaimu karena Tuhan. Dia sudah menemukan Tuhan ketika dia bisa berkorban untuk cintanya dan tahu berterimakasih. Kalau orang sudah menemukan Tuhan lewat pengorbanan cinta, dia tidak butuh apa apa lagi..” Kata Wenny.


***


Dari stasiun HungHom, saya jalan kaki ke apartement saya di Harbour View Horison. Tidak terlalu jauh. Kaluar dari stasiun, masuk gedung Metropolis. Keluar lewat belakang, terus menyeberang jalan. Ada skybridge ke apartement saya. Ya kurang lebih 2 KM. Waktu itu tahun 2010. Bulan januari. Tempratur sore hari sekitar 18 derajat celcius. Sampai di halaman kawasan Apartement, saya melihat ada wanita mengenakan jaket musim dingin warna merah. Dia tersenyum kearah saya.  "Risa !" Dia tidak sanggup menatap saya. “Ale, aku datang hanya ingin pamit. Kontrakku sudah habis. Aku mau pulang ke pontianak” Katanya. Waktu dia saya peluk. Dia tidak langsung balas pelukan saya. Dia ragu. Saat itu saya pakai setelan jas Armany. 


“ Ale, jangan nanti jas kamu kusut..” Katanya. Tetapi karena pelukan saya makin erat. Dia balas juga. “ Jaket saya bau ya” Katanya menundukan wajah. Waktu saya salami. Dia ragu. “ Telapak tanganku kasar, ale.” Katanya. Saya gengam telapak tanganya dengan kedua tangan saya. 


” Kamu tetap Risaku. Tidak peduli keadaan kamu. Saya tidak pernah meninggalkan kamu, tetapi kamu yang tinggalkan saya. Itu faktanya.”


Waktu masuk apartemen saya. Dia tidak berani duduk di sofa. “ Ale, biarkan aku pamit. Aku tidak pantas ada di apartement semewah ini. Biar aku nginap di mess konjen di Causeway bay. Besok aku pulang ya.” Katanya menunduk. Saya membayangkan 18 tahun dia hidup selalu merendahkan diri kepada majikannya.


“ Sa. aku ada disini. Jangan pergi lagi ya. “ Kata saya.” Saya, tetap Ale yang kamu kenal tahun 83. “ “ kata saya menenangkan hatinya.


Malamya di Apartement. Saya kaget. Karena saya lihat kamarnya yang ada di sebelah kamar kerja saya lampu masih nyala. Saya intip dari lobang kunci. Dia tidur di lantai. Saya segera gedor pintu kamar.” Sa, ini aku. Buka” Kata saya. Dia tersenyum ketika pintu tersibak.


“Ada apa ale?


“ Kenapa kamu tidur di lantai. Itu spring bed untuk kamu tidur dengan nyaman. “ 


Dia diam saja. 


“ Kenapa sa ? 


“ Aku tidak pernah tidur di tempat semewah ini, Ale. Maafkan aku. Aku lebih nyaman tidur di lantai parkit”


“ Sa, kita bukan tahun 1983. Tinggal di tempat kos kucil. Walau apa yang aku punya berubah tetapi aku tidak berubah. “ Kata saya.  “Aku mau ngopi. “Kataku melangkah ke sofa.


 " Aku buatkan kopinya ya. " Katanya melangkah ke mini bar. “ Kenapa belum tidur? Ini udah jam 2 pagi.” Katanya bingung


“ Aku masih harus kerja”


Dia hidangkan kopi untuk saya. Dia tidak mau duduk di sofa. Tetap berdiri. “ Ada apa Sa? Mengapa berdiri. Duduklah. Santai saja.”


“ Ale jaga kesehatan. Tidur lah” Katanya menunduk.


“ Ok saya tidur,“ Kata saya. Saya tarik lengannya. “ temanin aku tidur. “ Kataku. Dia terkejut. Dia bersimpuh depan saya. “ Nanti tempat tidur kamu kotor, Ale. Badan saya  kotor. Kamu pasti terganggu. ‘ Katanya. Saat itu usianya 47 tahun.


Saya tetap tarik tangannya. Itulah cara saya agar membangkit rasa harga dirinya. Dia tetap saja ragu masuk ke kamar saya. Dia lihat keseliling kamar. “ Ale, aku tidur di kamar ku saja ya”


“ Kenapa ? Kamu takut saya perkosa? Ingat engga. Tahun 83, enam bulan kita sekamar di tempat kos, apakah aku pernah sentuh kamu. Benar aku pernah merawat kamu sakit. Membersihkan BAB kamu dan urin kamu. Cuci celana dalam kamu. Tetapi aku tidak sentuh kamu. Mengapa kamu ragu sekarang? Kata saya. Dia bersimpuh di lantai. Dia menangis. Tanpa keluhan. Kepalanya menggeleng geleng. Saya dekati. Saya peluk dia. “ Ada apa Sa..”


“ Seumur hidupku tidak pernah diperlakukan orang lain seperti ini, Ale. Hanya kamu satu satunya yang memperlakukan aku seperti ratu. Padahal keadaanku kini kumuh dan tua. Aku salah. Maafkan aku. Aku tinggalkan kamu disaat kamu perlu dukunganku.  Tentu tidak mudah bagimu dapatkan ini semua. Pasti sudah melewati banyak kesulitan. Kamulah segala galanya bagiku. Tapi bagaimanapun aku tidak pantas dapatkan apa yang kamu punya.” kata Risa dengan terisak.


Saya dekap dia. “ Saya maklum Sa. lebih 10 tahun kamu telah melewati hidup yang sulit. Tidak mudah kamu menyesuaikan diri. Apalagi masuk dalam kehidupan saya sekarang. Engga apa apa sayang. Kita akan lalui secara lambat lambat ya. Sekarang mulailah yakinkan dirimu. Bahwa kamu di tempat aman.Saya akan jaga kamu. Selalu. Tidak akan ada lagi orang bentak kamu. Atau suruh kamu menghamba. “ Kata saya. Risa memeluk saya erat. Dia menangis sedusedan. Dia tidak merintih dan mengeluh. Namun dari siikapnya aku tahu dia sangat menderita selama ini


Saya gendong dia ke tempat tidur. Sampai pagi saya peluk dia. Pagi terbangun. Lengan saya semutan. Karena dijadikan bantal oleh Risa. Saya telp Wenny untuk datang ke Apartemen. Saya berencana menempatkan Risa tinggal bersama Wenny. Sebelum bertemu Wenny saya ajak dia ke toko pakaian wanita. Saya minta pegawai toko itu memilihkan baju dan pakaian dalam untuk Risa. 


“ Ale engga usah. Mahal sekali harga bajunya. Sepatu saja sama dengan gajiku 1 tahun sebagai nurse. Engga usah aja, Ale.” Katanya bingung.


“ Kamu tenang saja.  Nurut saja apa kata pegawai toko itu.” Kata saya  menyerahkan AMEX Card ke petugas toko.. Walau ragu, dia akhirnya mau juga dipilihkan pakaian. Waktu dia kenakan baju itu. Kencatikannya tidak hilang. Risaku kembali kepadaku. Dia punya kelas. Hanya derita sekian puluh tahun mengaburkan auranya.


***

Besok pagi Wenny sudah datang ke apartement.  Saya perintahkan Wenny untuk memikirkan masa depan Risa. Sementara dia tinggal sama Wenny. Risa terharu ketika meninggalkan apartemen saya. Dia hanya tamatan SMA, tapi dia fasih bahasa inggirs , mandarin dan kanton. Yang sangat membantu masa depan Risa di Hongkong adalah dia sudah punya PR. Jadi mudah merencanakan pekerjaan untuk dia di Hong Kong atau di negara lain. Sementara dia magang di holding di bawah pimpinan Wenny.


Tahun 2011 Risa pindah ke Vietnam pada unit business kami bidang elektonik. Awalnya berkarir sebagai office manager. Tahun 2012 dia sudah pegang posisi GM. Tahun 2013 dia sudah pegang posisi sebagai direktur.  Benar kata Weny dia memang cerdas dan sangat mandiri. 


Kalau kemudian, Risa bisa sukses mengawali karirnya di usia 47 tahun, itu berkat Wenny yang jadi mentornya. Saya tidak pernah terlibat secara langsung. Bahkan saya jarang ketemu dia. Selama 12 tahun dia berkarir di SIDC, saya hanya ketemu dia 4 kali. Mengapa capainya sanga tluar biasa. Bahkan tidak masuk akal. Dalam 8 tahun dia sudah jadi CEO Sub holding.


“ Kalau kamu benar benar mencintai B, dan kamu telah buktikan berkorban sekian lama demi kebahagiaannya. Maka mulai sekarang kamu harus lebih keras lagi dengan diri kamu. Belajarlah dengan keras. Kerja keras. Saya akan jadi mentor kamu. Karena itu tugas yang dia berikan kepada saya. Jadi jangan sekalipun kamu merasa rendah.


Tetapi kamu harus ingat. B secara personal sangat baik. Tetapi secara bisnis dia sangat keras. Kalau kamu tidak menguntungkan dia, pasti kamu dibuang dia. Dan dia tidak ingin itu terjadi. Jadi, pahami dia dan jaga jangan sampai dia menderita hanya harus buang kamu.” Demikian kata Wenny kepada saya. Waktu kali pertama Risa magang di kantor wenny sebelum akhirnya bergabung di SIDC.


Risa itu cerdas. Mungkin sangat cerdas. Daya survival nya tinggi sekali. Engga mungkin dia buang berlian ke dalam got karena berharap imiitasi. Dia tidak bisa dibujuk dengan ilusi. Dia sangat realistis. Kalau engga, bagaimana dia bisa bertahan bekerja sebagai TKW merawat manula lebih dari 10 tahun?. Kata Wenny mengingatkan saya betapa kerasnya Risa agar membuat saya bangga.


Pernah ada kasus. Akibat kesalahan perusahaan kami di Ho Chin Minh yang bermitra dengan Lens, kontrak dibatalkan oleh Apple. Zhou tdak mau lagi ketemu. Marah besar dia. Saya tahu standar bisnis Zhou. Dia telp Zhou, denied. Menurut cerita Risa. Dia butuh 3 minggu berusaha temui Zhou. Dia pernah duduk lebih dari 7 jam di cafe untuk bisa bertemu dengan Zhou. Ditolak. Dia pernah diusir oleh pengawal Zhou. Padahal dia sudah berlutut depan Zhou. Dia sebagai Direktur, hanya ingin sampaikan langsung permintaan maaf atas kesalahan perusahaannya, Apapun hukuman dia akan tanggung.


Akhirnya Risa dapatkan lagi kontrak itu. Setelah itu hubungan dia dengan Zhou semakin dekat. “ Saya pikir saya keras dengan diri saya sendiri. Tetapi Risa lebih keras. Saya rendah hati. Tetapi Risa lebih rendah hati. Padahal saya tahu, kamu punya resource untuk hadapi saya. Risa tidak mengeluh ke kamu. “Kata Zhou alasannya mau melanjutkan kontrak. Risa berhasil merebut hati Zhou. Risa tak terkalahkan.


Tahun 2018 dalam pertemuan dengan seluruh anak perusahaan, Risa datang mewakili perusahaannya di Vietnam. Usai acara aku undang dia makan malam. Saat aku genggam erat jemarinya “ Ale aku sudah tua ya.  Udah lembek ya. “ Katanya tertunduk malu.


“ Tapi kamu tetap Risa ku. Itu tidak akan berubah. “ Kataku. Wenny bilang waktu aku sakit, kamu berdoa. Bilang kamu mencintaiku ya.” Lanjutku. Wajahnya bersemu merah. Dia cubit lenganku. Kini usianya 56 tahun. Kami menua namun tetap saling mendoakan. 


“ Walau hidupku mungkin tidak lama lagi. Aku bahagia, karena kamu tahu aku mencintaimu.” Katanya. 


Aku peluk dia. “  Aku bahagia Ale. Kamu selalu menghormatiku dan membuatku sangat sempurna sebagai wanita.” Katanya berlinang airmata.


***




Saya terpaksa datang ke Guangzhou karena proses pengembangan produk baru lewat akuisisi dan merger melambat. Saya tahu, subholding Risa tidak efektif melakukan pengawasan proses tersebut. Mungkin karena kebanyakan anak perusahaan. Saya sedang berpikir merestruktur subholding Risa. Hasil evaluasi saya terhadap semua anggota team terlibat. Memang mereka salah dari awal. Karena platform yang ditetapkan Holding di Hong Kong tidak tepat. Sehingga salah disikapi oleh SubHolding Risa di Shanghai.


“ Kamu terbang ke Guangzhou sekarang. “ Telp saya ke Risa.


“ Ada apa Ale.” Suara Rise terkesan terkejut.


“ Kamu engga tahu. Udah 3 bulan engga ada progress apapun proses akuisisi dan merger untuk strategi pengembangan produk. Semua orang numpang makan saja. 3 bulan kalian suruh saya onani. Cepat ke Guangzhou.” Kata saya.


“ Ya Ale. Aku segera berangkat. “ kata Risa.


Saya telp Jemes, “ James, panggil direktur BDG dan Investasi. Saya mau mereka semua datang ke Guangzhou”


“ Ok B. Segera kami datang”


Malamnya mereka sudah datang di Guangzhou. Malam juga rapat di kantor Pabrik elektronik kami.


“ Jhon..” Seru saya menatap dia dengan keras. “ Jelaskan kepada saya apa visi holding dalam pengembangan bisnis? Kata saya. Dia memperbaiki posisi duduknya. Saya tahu dia menjelaskan. Benar, dia mulai dengan retorika sebagai pengantar. Itu pendapat dia pribadi. Saya segera angkat tangan sebalah kiri sebagai isarat dia berhenti bicara.


“ Jawab apa yang B tanya.” Kata James kepada Jhon. Dia malah bingung. Saya tunggu dia bicara.


“ Ya pak. Pengembangan bisnis kita ditujukan untuk memperkuat bisnis yang ada. Agar terjadi pertumbuhan berkesinambungan?


“ OK. Lantas apa ini? Kata saya seraya lempar map berisi perencanaan yang dia buat. Dia diam.


“ Kamu buang waktu 3 bulan. Kamu tahu? Berapa sumber daya Holding yang dikorbankan selama tiga bulan.” Kata saya dengan nada datar.


“ Tahu artinya? Kata saya menatap semua yang hadir dalam rapat. “ Selama tiga bulan kalian hanya numpang makan di holding. Belum lagi stakeholder kita yang kawatir karena perencanaan malah mematikan bisnis orang lain.


“ Jadi saya minta dalam 3 bulan ke depan. Perencanaan sudah diubah. Proses akuisisi target selesai. Merger ke anak perusahaan juga selesai. Kalau gagal. Semua kalian yang hadir disini ajukan pengunduran diri. Karena holding bayar kalian pakai uang, bukan janji” Paham” Kata saya segera berdiri.


Rapat usai. Saya lihat Risa wajahnya pucat. Risa pergi ke ruang sebelah dimana anggota teamnya menanti. Dia lanjutkan meeting dengan teamnya. Saya tahu. Dia lebih utamakan bicara dengan teamnya daripada direksi holding. Dia ingin mereka tenang.


***

Malam saya telp Risa  “ Sa, temanin aku ke acara diner antar investment banker di Hotel Mandarin. “


“ ya Ale”


“ Jam 7 udah di apartemen.” Saya ingatkan.


Jam 6.45 Risa sudah di Lobi dengan kendaraan standar limo. Karena memang dia dapat fasilitas itu sebagai CEO subholding. Dia mengenakan gaun makan malam. Bahunya nampak putih mulus. Susunya membusung. Wah risaku memang hebat. Saya duduk dibelakang bersama dia.

“ Ale, kenapa kamu keliatan tenang banget. Engga seperti tadi waktu rapat. “Kata Risa.


“Emang kenapa waktu rapat tadi?


“ Ale marah marah. Semua orang stress.”


“ Saya engga merah, Saya ingatkan dengan alasan logis. Salah?


“ Ya engga. “


“ Apa mereka pikir saya pensiun, saya buta dan tuli. Ini holding saya yang lahirkan dan saya yang besarkan sejak bayi. Batin saya sudah menyatu dengan holding. “


“ Ya ale,”


“ Kamu tahu, Mereka di Holding itu sedang berusaha jatuhkan kamu. Saya engga suka cara mereka. Apa salah kamu. Kamu naik karena prestasi yang sesuai dengan target Holding. Semua pemegang saham tahu itu. Emang siapa saya yang bisa atur pemegang saham lain.”


“ Ale…”


“ Dan lagi kamu Risaku. Engga ada orang seenaknya perlakukan kamu. Kita bukan lagi era 80an jadi pecundang di jalanan. Dan lagi sudah cukup 15 tahun kamu menderita karena menghamba majikan. Jangan ada lagi yang berani ganggu kamu” kata saya dingin.


“Ale..” Risa menangis. Saya rangkul dia dari samping.


“ Nanti depan teman teman banker saya. Kamu harus gandeng lengan saya ya. Jangan seperti sudah sudah. Selalu jaga jarak. Kalaupun engga suka saya. Setidaknya berpura pura suka sajalah. “ Kata saya tersenyum.


“ Ale, kenapa susah sekali yakinkan  kamu. Hatiku tidak pernah lari dari kamu. Sampai kini aku tidak pernah menikah dan tidak ada pacar. Paham lah Ale. Please Ale..” Risa mengusap airmatanya.


“ Cukup. Jangan terus diulang ulang bicara aku tinggalkan kamu. Lebih 20 tahun aku menderita karena menjauh dari kamu dan aku sudah membayarnya, Ale..”


Saya menghela napas dan diam seribu bahasa.


“ Ale, setiap ketemu kamu, Aku rasanya mau mati saja, Karena Ale selalu menyesali perpisahan kita. Ale..” Kata Risa dengan arimata berlinang. Saya hapus airmatanya. “ maafkan saya. Udahan nangisnya.”


***

Kendaraan standar limo sampai di lobi hotel Mandarin Guangzhou. Saya dan Risa keluar dari kendaraan. Saya tunggu Risa menggandeng tangan saya. Tetapi dia keliatan ragu. Saya santai aja jalan.  Petugas mengantar kami ke ruang pertemuan. Sebelum masuk ruangan. Saya berhenti. Saya liat dia. Dia menunduk.


“ Kenapa ? ada apa Sa?


“ Saya malu gandeng tangan kamu, Ale.”


“ Engga mau gandeng? Ya udah..” Kata saya jalan lebih dulu. Dia di belakang saya. Teman saya dari Post Bank dan BOC mendekati saya. “ B, mana Richard dan Steven? Kata CEO Post Bank. 


“ Sebentar lagi mereka datang. “Kata saya.


“ Kalian sukses akuisisi bunker di Dubai dan Nanning ya.” Kata CEO BOC. “ Ada niat ikut konsorsium Pipa gas dari Iran ke Kunming.” Lanjutnya. 


“ Belum tahu. Kalau ada peluang. Ikutlah.” Kata saya tersenyum. 


“ Eh itu Risa ya. “ Kata CEO Post Bank. Saya melihat ke belakang. Risa tersenyum mendekati kami. Risa langsung gandeng tangan saya. Boss BOC dan Post Bank kaget melihat Risa sangat dekat dengan saya. “ Bu Risa, gimana dengan rencana pembiayaan proyek di Hangzhou? Kata CEO Post Bank.


“ Saya sudah dapat sumber pembiayaan lain” Kata Risa santai.

“ Maafkan kami Bu. Tempo hari kami sedang konsolidasi. Jadi engga sempat pelajari proposal anda” 


Risa tersenyum. 


Dia menarik lengan saya ke tempat lain. Ambil minuman di table. CEO dari Merylin datang mendekati saya. Kami ngobrol santai sebentar.


“ Venture capital kamu bidang IT keliatan semakin agresif, B. Ajak ajak saya. “Kata CEO Merylin, Dia wanita usia 40an. Keliatan cerdas. Risa tetap gandeng tangan saya. Dia menyerahkan kartu nama kepada Risa. Saya diam saja. Tak berapa lama, Richard dan Steven datang. Pembicaran jadi lebih santai. Itu berlangsung sampai jam 10 malam. 


Kami pulang. Di dalam kendaraan.


“ Sa, kamu perhatikan para banker itu. Mereka antusias tawarkan sumberdaya keuangan kepada kami. Tahu kenapa? bukan karena kami orang kaya. Tetapi karena kami punya visi mengelola bisnis untuk melakukan perubahan.” 


‘ Visi ?


“Orang biasa bangun mall. Visinya jual atau sewakan kios.  Kami membangun mall, vsi kami sediakan tempat display product branded standar premium. Sewakan kioss hanya USD 30/M2. Sepi pembeli, tewas tuh kios. Tapi sewa kios untuk display product branded USD 300/M2. Mau ramai atau sepi, tetap dibayar sewa. Perbedaan visi itu tentu berbeda dalam hal design dan management. Jadi bisnis sama. Tetapi revenue beda..”


“ Ale suka sekali kalau kamu bicara soal bisnis, terus aja bicara” Kata Risa merebahkan kepalanya ke bahu saya.


“ Orang biasa bisnis IT, visi mereka jualan akses kemudahan berkonsumsi. Mereka harus bakar uang untuk promosi. Tetapi visi kami dalam bisnis IT, mengubah tataniaga bisnis agar efisien. Kami tidak perlu bakar uang. Karena perubahan tataniaga itu sudah jadi ekosistem bisnis. Kami mengendalikan sistem. Karenanya kami tidak follow uang. Kami create uang. Contoh kita punya IT Platform Logistic. Semua tergantung kita. Mereka bakar uang, kita yang dapat nilai tambah”


“ Ya paham. Kita awalnya jadi supply chain Apple dan lain lain. Tadinya mereka merasa jadi raja. Tetapi lambat laun mereka tidak bisa bisnis tanpa kita. Karena kita kuasai semua riset sparepart mereka. Visi kita sebenarnya bukan jadi supply chain, tetapi menguasai pasar yang Apple bangun tanpa kita bakar uang untuk promosi. Karenanya kita ciptakan puluhan anak perusahaan agar tidak mudah dimatikan mereka. ya kan.


Dua tahun lalu, Holding suruh aku akuisisi perusahaan riset baterai EV di Hangzou. Setahun aku berjuang. Akhirnya aku berhasil akuisisi. Harga akuisisi sudah sama dengan bikin satu smelter. Karena harus di-merger dengan perusahaan riset material baterai dari Kanada. Visi Holding bukan jual baterai tetapi jual tekhnologi. Jual ketergantungan. Itu sebabnya tidak  sulit kita paksa perusahaan raksasa smelter untuk kuasai tambang nikel dan logam tanah jarang di Afrika. Karena visi holding yang transformatif maka semua banker dan lembaga keuangan tidak ragu beri kita kredit.” Kata Risa.


Saya senyum


“ Ale, kamu tahu darimana?. Gimana kamu bisa punya visi itu. Semua subholding punya visi kuat dan sangat transformatif.” Kata Risa menatap saya. Wajah kami sangat dekat. Saya senyum aja ketika dia dry kiss saya..


“ Kenapa ketika saya bicara dengan banker, kamu begitu mesra dengan saya depan mereka.?” Kata saya.


“ Tadi waktu masuk ruangan. Aku pergi ke ruang khusus wanita. Di situ semua yang kumpul adalah para nyonya yang suaminya ikut dalam acara. Aku dengar mereka berbisik katanya aku selir.” Risa merengut.  Saya ketawa kencang. 


“ Jadi kamu paham mengapa kamu harus gandeng tangan saya masuk ruangan. Ini China. Hanya nyonya atau para istri yang boleh gandeng tangan suami. Para selir tidak boleh mesra depan publik. Selir itu sangat hina di hadapan orang banyak.” Kata saya tersenyum. 


“ Oh gitu.” Risa kaget. Keliatan dia tidak pernah bergaul dengan para nyonya secara personal. “ tapi aku bukan selir, Ale”


“ Ya tentu bukan. Tetapi saya selir kamu.” 


“ Ale ! Risa cubit lengan saya. “ Aku ingat dulu tahun 80an. Aku tinggal di tempat kos Ale. Aku tidur di lantai. Paginya aku bangun. Aku sadar, Ale  selimuti aku. Itu kalau ingat. Aku sering nangis.  Aku tahu Ale sangat sayang aku”


“ Ah kamu GeEr. Aku selimuti kamu karena aku engga bisa tidur lihat bokong kamu yang tersingkap di balik daster. Apalagi pas lagi telentang. Kamu tidur tidak pernah diam. Seperti orang selalu resah.” Kata saya tersenyum. Risa semakin merapatkan dadanya ke tubuh saya. Sepertinya dia ingin bicara sesuatu tetapi sungkan. " Ada apa Sa?

“ Ale, aku boleh engga tidur malam ini di apartement kamu? katanya dengan wajah bersemu merah.


" Dulu tahun 1983, kamar kos aku ukuran  6 meter, aku izinkan kamu tinggal bersamaku. Apalagi sekarang apartemenku ada tiga kamar. Datanglah bebas."


Wajah kami sangat dekat. Saya cium keningnya. “Aku kangen dengar Ale ngaji. Enak betul dengarnya. Ingat dulu Ale selalu setiap subuh ngaji. “ Katanya manja.


“ Ya udah. Kamu pergi aja ke apartemen duluan. Antar aku ke Shangrila. Richard dan Steven mau ajak aku have a fun di sana.”


“ Kunci apartemen.? Passwordnya.”


“ Tanggal lahir kamu.”


“Hah…” 


“ Ya kenapa”


Risa menangis. Saya usap kepalanya. 


Setelah kendaraan sampai depan lobi shangrila.


 “ Ya udah. Cepat ya pulangnya. Jangan mabok. “ Kata Risa tak lupa kiss dry.


“ Kamu tidur aja duluan. Engga usah tunggu aku” Kata saya 


***


Tahun 2021 Risa datang ke Jakarta untuk ketemu saya. Dia nginap di Grand Hyatt. Saya ajak di makan malam di restoran 88. Saya tahu dia perhatikan saya ketika pesan menu. “ Ada apa liat ? kata saya tersenyum.


“ Ale, tidak berubah dari sejak tahun 1983 kita ketemu. Dengan pakaian Ale seperti ini aku jadi nyaman. Kalau di hong kong grogi.”

Saya tersenyum. “ Kamu mau makan di Pangeran Jayakarta. Restoran Hokian. Mau?


“ Ya aku ikut Ale aja.”


Saya serahkan menu kepada waitress. Kami naik taksi ke Pangeran Jayakarta. “Kamu sering nge gym ya? Kata saya pegang paha dia.


“ Ya seminggu dua kali. Kenapa ?


“ Paha kamu masih keras.”


“ Ale juga tangannya masih keker.” Katanya.


“ Saya sudah tua, Sa.”


“ Umur kita kan sama. Oh ya kenapa tadi engga jadi makan di 88?

“ Engga tega makan di sana. Mahal banget. Kita di Indonesia. Masih banyak orang miskin. Tahu dirilah.” Kata saya sekenanya. Dia rangkul saya dari samping. “ Ale, engga pernah berubah. Setelu perasa”


“ Mau ajak teman teman waktu di glodok dulu?


“ Siapa ?


“ Afin.”


Risa mencoba mengingat. “ Eh ya Afin. Yang pernah aku pergoki dia ngomong ke kamu. “ Eh gimana rasanya lihat tetek risa. Mengkel banget.” Gitu kan” Luar biasa daya ingatnya


“ Ya. “ saya tersenyum. “ Dia kerja sama saya sekarang. Jadi banker personal saya “ Kata saya. Saya telp Afin untuk gabung ke restoran.


“ Kamu punya teman pria di Shanghai?


“ Engga ada. Yang mau dekatin banyak. Tetapi engga ada waktu. Dari jam 8 pagi udah di kantor. Harus update 40 lebih anak perusahaan. Shenzhen, Hangzhou, Hunan, Guangzhou, Nanning, Yunan, Soul. Vietnam. Duh.. kebayangkan. Masalah sepertinya engga ada habis habisnya. Engga terasa udah jam 10 malam masih sibuk aja. Belum lagi boss di Hongkong pressure saya untuk terus Develop. Mereka update setiap hari. Mereka selalu beralasan. B akan marah kalau kwartal laporan tidak bagus. Ale, kerja sama kamu, itu udah segala galanya. Engga pernah kepikir pria lain. Bukan hanya sekarang, itu sejak aku pergi dari kamu. Kamu tidak tergantikan. Apalagi saya udah tua. “ kata Risa. Saya senyum aja. 


" Sa " seru saya. " Boleh tanya engga ?


" Ya."


" Mengapa kamu tinggalkan aku dulu tahun 1983? 


Risa terdiam lama. Airmatanya mengambang " Kamu terlalu baik, Ale. Sangking baiknya, kamu sangat naif memperlakukanku. Aku sadar sangat besar cinta kamu kepadaku. Aku juga sadar.  Aku tidak akan bisa mencintai kamu sebesar cintamu kepadaku. Aku tidak pantas memilikimu. Tentu akan ada wanita lain yang akan bisa memberikan cinta besar kepadamu. " 


" Dan kamu merasa bebas setelah meninggalkanku begitu saja" Kata saya datar.


"Ale..." Risa menangis. " Aku tidak pernah pergi dari kamu. Mungkin secara phisik kita berpisah. Tetapi secara batin aku tidak pernah meninggalkanmu. Tidak pernah!. Sampai kini aku tidak pernah menikah. Ruang hatiku hanya untuk kamu." Airmata Risa jatuh. Saya usap airmatanya. " ya saya paham. Udah. Mulai sekarang. Tidak akan saya bahas lagi soal masa lalu. " Kata saya


Kami datang. Afin sudah dagtang lebih dulu. Afin sempat terkejut lihat Risa. “ Busyet dah. Masih mengkel” kata Afin liat Risa. Risa bersemu merah wajahnya “ Koh Afin juga engga keliatan tua. Masih belum keliatan usia 60 tahun. “


“ kerja sama jeli mana bisa tua.Happy terus. Kamu aja masih mengkel.” Kata Afin.


Selama makan malam itu kami ngobrol ngalur ngidul. Jam 8 malam usai. Saya antar Risa, ke Hyatt. “ Kamu pandai sekali berterima kasih. Afin itu dulu yang bantu kamu ketika kena trap jual tekstil dibawa kabur orang. Kini kamu jaga dia. Ternyata bukan hanya saya. Semua sahabat kamu jaga. Termasuk Florence.” kata Risa. Saya tersenyum dan dia buka pintu kamar.


" Good nigh Sa. tidur yang nyenyak ya" Kata saya berlalu.


***

Tahun 2021

Apakah karena keyakinan kita percaya tentang kebenaran. Atau karena kebenaran kita punya keyakinan. Kalau boleh  memilih tetap konsisten, bahwa aku yakin apapun alasan Risa adalah kebenaran yang harus percaya. Tetapi dalam bisnis kadang sulit untuk focus kepada personal. Karena orientasi laba, membuat kita terpaksa berpikir rasional. Dan itu hanya melihat fakta yang ada. “ Kita kalah tender untuk kemitraan bisnis supply chain dengan GE. “ Kata Jame sebagai CEO Holding. Itu dia sampaikan via WeChat. 


“ Mengapa ?


“Hasil investigasi, Risa penyebabnya. Dia bocorkan proposal kita kepada pesaing dan pesaing gunakan proposal itu menjatuhkan kita. Bro…” seru james. “ Ini  bukti hasil investigasi team BDG holding. “ Jame mengirim File berupa photo dan video. Photo Risa bersama pesaing di sebuah restoran mewah di Shanghai. Ada juga Video yang terkesan pesaing sangat akrab dengan Risa.


“ Kotrak dengan GE itu 40% dari market anak  perusahaan di bawah subholding bidang tekhnologi. Belum lagi resiko kehilangan trust dari rekanan lain. Sub holding yang dipimpin Risa benar benar terancam bangkrut. Maklum biaya tetap kita sangat besar, dan belum lagi biaya riset untuk menghasil produk sesuai kehendak vendor akan sia sia.” Kata Jemas melanjutkan Chat.


“ James, terimakasih antas informasinya. Saya akan pikirkan jalan keluarnya. Sementara jangan ampil keputusan terhadap Risa. Berio waktu saya 2 minggu.“ 


“ Ok Bro. “


***

Setelah bicara dengan James soal kasus Risa yang berkhianat kepada Perusahaan,  aku mencoba meninta pendapat dari Wenny.  “ Saya tidak yakin Risa akan berkhianat dengan kamu. Baik karena dia sebagai CEO subholding maupun sebagai personal. “ Kata Wenny.


“ Apa dasar keyakinan kamu ?


“ Pertama, dia CEO subholding. Dia tidak berpikir operasional. Hanya berpikir strategis. Operasional ada pada anak perusahaan. Kedua, SOP holding sangat ketat. Walau ada Subholding, namun berkaitan dengan kemitraan bisnis tetap dibawah kendali dari Holding di Hong kong. Jadi hampir tidak mungkin Risa bisa dipercaya oleh pesaing. Dan lagi, ada atau tidak ada informasi dari Risa, pihak pesaing akan berusaha dapatkan informasi agar bisa menyingkirkan kita. Itu normal dalam bisnis. 


Kedua, Risa itu cerdas. Mungkin sangat cerdas. Daya survival nya tinggi sekali. Engga mungkin dia buang berlian ke dalam got karena berharap imiitasi. Dia tidak bisa dibujuk dengan ilusi. Dia sangat realistis. Kalau engga,  bagaimana dia bisa bertahan bekerja sebagai TKW merawat manula lebih dari 10 tahun?. Dia bisa dalam lima tahun jadi CEO subholding. Kamu lebih tahu bagaimana ketatnya kompetensi untuk jadi direksi dan bisa menjadi elite di holding. Karena kamu sendiri yang tetapkan syarat kompetensi itu. Pahami itu sebelum kamu membuat keputusan tentang Risa. "


“ Terimakasih Wen. “ kataku tanpa memperlihatkan photo dan video tentang Risa bersama pesaing. Faktanya kini anak perusahaan dibawah sub holding Risa, gagal memenangkan kontrak. Perusahaan terancam bermasalah. Aku terus berpikir menemukan solusi yang tepat. Apakah aku berpegang kepada keyakinan atau fakta. 


Akhirnya aku kirim surel ke Risa. “ Saya dengan kabar anak perusahaan kamu kalah tender. Tolong jelaskan photo dan video ini.” Tulis saya singkat. Berharap tidak menyinggung Risa dan kalau karena itu saya harus membuat keputusan pecat Risa dan kalau kemudian Holding bawa kasus ini ke Polisi, itu resiko yang harus dibayar Risa.  Itu konsekuensi yang harus dia terima. 


“ Ale, aku ke Jakarta. Bisa ketemu ? Kata Risa vai telp.

" Ya silahkan. "


Aku temui Risa di Hotel Grand Hyatt. Dia jemput aku di lobi. “ Ale, kita ngobrol di kamar ku aja ya.” katanya. Aku mengikuti langkah Risa ke elevator. Dia nampak tegang. Namun aku berusaha santai saja. 


“ Ale. “ seru Risa. “ Kamu percaya dengan saya. “ Katanya dengan mimik serius.  Aku diam tanpa bereaksii apapun.


“ Ale jawab pertanyaan saya. Kamu percaya saya.” Kejar Risa.


“ Sa, ini soal bisnis. Terlalu besar resiko yang harus saya tanggung akibat kegagalan tender itu. Ada ribuan karyawan dan periset berbakat akan kehilangan pekerjaan. Maklumi dech. Focus kepada masalah saja. “ Kataku. Risa lama memandangku. Aku tetap tersenyum tanpa ada kesan menekan dia.


“ Ok dengar alasan saya. Mau ?


“ Ya silahkan.” Kataku merentangkan kedua tangan.


“ Pertama, anak perusahaan itu terlalu tinggi leverage-nya.  Sudah diatas 3 kali. Memang cash flow  bagus. Tetapi IRR hanya 1 % diatas bunga obligasi. Sementara sumberdaya yang dikorbankan untuk dapatkan IRR itu sangat besar. Sedikit saja salah perhitungan,  cash flow akan terganggu. Kerusakan akan sistemik. Kamu kan tahu bisnis supply chain. ? sekali produk tekhnologi itu tidak suitable  maka akan dimatikan oleh Vendor. Kemanapun kita pergi, engga ada yang mau dukung. Bad reputasi. “ Kata Risa. Dia perhatikan reaksiku. 


“ Kedua” , lanjut Risa. “ Saya sudah usulkan kepada holding di Hong Kong agar adakan restruktur bisnis pada anak perusahaan tersebut. Saya buat proposal lengkap dengan kajian semua aspek. Tetapi holding menolak. Alasan mereka, selagi bermitra dengan GE, saham perusahaan di bursa tidak akan jatuh. Kreditur tetap senang memberikan pinjaman. Maklum nama besar GE itu jaminan. Ya kesimpulannya, mereka di holding itu takut  berubah. Malah lebih senang di comfort zone atas dasar ilusi  harga  saham di pasar modal. “ kata Risa. Nadanya dia terjebak dalam instrik di perusahaan. Dia tidak taku ambil resiko. 


“ OK. Saya paham alasan kamu. Tapi ingat. Saat sekarang pemegang saham  publik belum tahu kita gagal tender di GE. Tapi rumor sudah beredar. Makanya saham kita terkoreks. Jatuh hampir 3 %. Ini kalau sampai harus diumumkan secara resmi tanpa solusi, saham perusahaan akan terjun bebas. Habis saya. “ Kataku. Risa menatapku dengan tenang. 


“ Ini baca. ” kata Risa menyerahkan map plastik warna merah. Aku baca cepat kontrak itu. “ Kamu dapatkan kontrak dengan pesaing GE dibidang Alat kesehatan.  Skema kerjasamanya lebih bagus lagi. Biaya riset ditanggung 70% dari vendor, 20% dari Pemerintah China dan 10% dari perusahaan. Dengan GE mereka tanggung biaya riset 30% dan kita tanggung biaya riset 70%, tanpa ada bantuan dari pemerintah. Harga lebih baik dar GE.  Bagaimana mungkin?


“Pesaing GE itu perusahaan berafiliasi dengan BUMN China. Tentu kita dapat program bantuan biaya riset dari China. Pasar BUMN china itu jauh lebih besar dari GE. Karena mereka dapatkan captive market pasar domestik. GE tidak ada. “


“ Kamu kan tahu. Kalau GE keluar, investor dan kreditur yang terhubung dengan GE juga mundur. Darimana kita dapatkan pembiayaan untuk pengembangan ?


“ Ini baca “ kata Risa menyerahkan dokumen. Aku baca dokumen itu. Ternyata surat dukungan dari Lembaga Keuangan bidang tekhnologi di China. “ Sumber dana mereka jauh lebih besar dari group GE.” Kata Risa. 


“ Wah artinya tidak ada masalah. " Gimana dengan keakraban kamu dengan boss pesaing kita."? Kataku. Kutatap mata Risa untuk melihat kejujurannya.


" Itu hanya pergaulan bisnis saja. Dia sangat profesional. Dia tidak pernah bicara bisnis selama bertemu denganku. Dia selalu berusaha mendekatiku. Lama lama dia menggodaku. Akhirnya aku bosan bertemu lagi dengan dia. " Kata Risa tersenyum. Aku tahu, Risa tidak boong. Aku kenal pribadinya. Termasuk bahasa tubuhnya.


" Terus mengapa kamu tida lapor ke saya tentang apa yang kamu kerjakaan itu semua. Itu kan di luar SOP Holding. "


“Saya tahu BDG holding akan lapor kepada kamu atas kegagalan tender anak perusahaan dibawah sub holding saya. Saya yakin kamu tidak akan bertanya kepada saya sebelum saya lapor, dan saya tidak perlu lapor. Karena ini masalah strategis, yang memang tanggung jawab saya sebagai CEO Sub Holding bidang tekhnologi. Semua anak perusahaan saya pantau 24 jam. Tidak ada yang terlewatkan.  Proposal saya untuk keluar dari GE, ditolak oleh CEO Holding di Hong Kong. Ok lah. Itu masalah management. Saya biarkan saja proses tender berlangsung. Kalau akhirnya tender gagal, itu karena intrik sesama pesaing kita. Umumnya pesaing newcomer dalam industri ini. GE sengaja meciptakan instrik itu agar sesama supply  chain saling bersaing untuk menguntungkan mereka. Dan kegagalan itu dipakai oleh team BDG Holding untuk menjatuhkan saya. Itu juga intrik di lingkungan elite Holding. Cuci tangan atas kegagalan mereka. "


" Mengapa kamu sangat yakin bisa deal dengan vendor baru? 


" Sebelum tender, lebih 5 bulan saya kerja keras. Riset terhadap pontesi produk. Melobi vendor baru, bicara dengan pejabat China, berdiskusi dengan lembaga Sains. Semua mendukung saya keluar dari GE. Saya sudah muak dengan kontrak kerjasama dengan GE. Mereka menikmati nilai tambah semau mereka. Namun kepada kita mereka dikte laba. Itu bukan kerja tetapi dikerjain, Ale.  “ Kata risa, yang kemudian terdiam. Akhirnya airmatanya jatuh. Dia palingkan wajahnya dari hadapanku.


“ Tetapi nyatanya, Ale, kamu berubah." Kata Risa berlinang air mata."  Kamu bukan Ale yang dulu saya kenal. Ale, dengan ini saya mengundurkan diri. “ Kata Risa menyerahkan surat pengunduran dirinya. “ Saya pulang ke Pontianak. Pulang kampung. Saya memang tidak pantas dekat dengan kamu, apalagi mencintai kamu. Maafkan saya Ale..” 


Aku berusaha memeluknya untuk menentramkan hatinya. Tetapi Risa mendur selangkah. Sepertinya dia bersikap tahu diri. Menolak untuk aku peluk. Dia buka pintu kamar seraya berdiri di samping pintu. Itu artinya dia minta aku keluar kamar. “ Risa..” kataku tersekat ditenggorokan. Aku melangkah lesu keluar kamar. Untuk terakhir kali aku ingin menatapnya, melihat matanya,  tetapi dia memalingkan wajahnya.


Aku tidak langsung pergi dari lantai kamar Risa. Aku terduduk menyender di pintu kamar Risa. Ada rasa bersalah yang luar biasa. Ketulusan persahabatan puluhan tahun jadi jeorpardize, hanya karena sikapku dalam bisnis. Semua kebaikannya dan ketulusannya terbayang di pelupuk mata. Dan terakhir, prasangka burukku dibayarnya dengan fakta kebenaran yang justru untuk kepentingan perusahaan. Semua itu dia lakukan karena dia mencintaiku. Saat itu juga aku merasa rendah di hadapan Risa. 


Setelah hampir 1 jam. Pintu kamar terbuka. Risa tidak terkejut  melihatku masih di depan pintu dalam keadaan duduk di lantai. Aku berlutut di hadapan Risa. “ Maafkan aku Sa..maafkan aku..” dengan kepala tertunduk. Risa memelukku dengan erat. “ Ale, kenapa sampai berlutut. Kamu engga boleh lemah, sayang. Kamu harus kuat sebagai pebisnis dan pria. Sikap kamu udah benar. Yang salah aku terlalu terbawa perasaan atas sikap kamu sebagai pimpinan. Maafkan aku sayang…” Kata Risa. 


Dia menuntunku ke sofa dengan wajah bingung.  “ Ale, kenapa kamu sampai 1 jam menanti di depan pintu kamar hotel saya “.Aku diam saja.

“ Kenapa, Ale. Jawablah.” 

“ Ya, saya tidak mau kamu pergi dari saya. Cukuplah tahun 83 kamu pergi begitu saja dan saya harus menanti 19 tahun untuk bertemu lagi. Kan bego. Apalagi sekarang kamu dan saya sudah berusia diatas 55 tahun. Sekarang jawab pertanyaan saya. Mengapa kamu pergi begitu saja dari saya.?Apa salah saya ?


Lama Risa terdiam. Tetapi matanya terus kepadaku. Aku menanti satu kejujuran lagi. Semoga dia mau menjawabnya “ Suatu malam..." Kata Risa mulai bicara "  saya pulang ke tempat kos kamu. Saat itu saya lihat di kamar,  kamu sedang bersama Florence. Tanpa setahu kamu, saya dengar Florence nasehati kamu untuk menerima saran orang tua untuk menjodohkan kamu. Saat itu juga saya putuskan, sebaiknya saya pergi. Namun bertahun tahun saya tidak bisa melupakan kamu. Ada rasa bersalah atas kebodohan saya. Mengapa saya tidak perjuangkan cinta saya. Mengapa saya semudah itu kalah… Maafkan saya.”


“ Kamu tahu, selama dua tahun saya setiap minggu sedikitnya dua kali ke Glodok tempat kamu biasa jualan. Saya kelilingi tempat itu. Berharap bertemu kamu. Tetapi sia sia. Akhirnya saya sadari. Sebaiknya saya lupakan dan terima saran orang tua. Menikah dengan ponakan ayah"


" Saya bisa menerima keputusan kamu menikah. Toh kita tidak pernah pacaran. Itu hanya cinta sepihak dari saya saja. Saya baru tahu ternyata begitu besarnya perhatian kamu ke saya. Ternyata cinta itu bersambut. Maafkan aku, Ale..


" Itu sudah masalalu. Yang penting, semua wanita yang pernah dekat dengan saya, kini mereka ada untuk saya. Menjadi palang pintu bisnis saya. Florence jadi Komut di perusahaan Yuni. Kamu jadi CEO sub holding.  Mungkin tahun depan, kamu akan jadi 5 dari elite Holding. Pada akhirnya mereka semua menerima kenyataan. Persahabatan itu indah, sayang... ”  Kataku. Akhirnya Risa tersesenyum. 


***


“ Bro, Risa mau chat? Boleh engga? Tanya Wenny via WeChat.


“ Silahkan.” Kata saya. Tak berapa lama nampak di screen Risa tersenyum. “ Ada apa Risa? Tanya saya.


“ Mau ngobrol aja. “ Katanya pakai bahasa inggris. Karena disebelahnya ada Wenny.


“ Kamu masih di Sulawesi? kata saya dalam bahasa indonesia”


“ Ya. Besok balik ke jakarta.”


“ Gimana senang ya bisa jalan jalan di Indonesia.


“ Capek Ale, aku ketemu menteri dan pejabat di daerah, harus pakai bahasa inggris. “


“ Kenapa ?


“ Mereka pikir aku orang China. Apalagi aku didampingi olah staf kedubes China selama kunjungan ke Indonesia.


“ Padahal encim pontianak ya”Kata saya dengan memberikan emoticon tertawa.


“ Ale, boleh konsultasi engga ?


“ ya silahkan.”


“ BIsa engga offtake Nikel yang Ibu Wenny punya saya ambil. Holding perlu itu untuk memperkuat rencana bisnis bangun pabrik baterai kendaraan. Proses akuisisi tekhnologi baterai sudah hampir rampung. “ Kata Risa.


“ Jelaskan itu pakai bahasa inggris atau mandarin. Biar wenny dengar. “ Kata saya, Risa gunakan bahasa mandari kepada Wenny. Saya dengar aja.


“ Wah engga bisa Risa. Bisnis saya memang trading mineral dan kepemilikan saham secara tidak langsung pada mining. Kalau kamu ambil offtake saya, saya makan dari mana? Kata Wenny. Risa jelaskan secara detail kompensasi yang dia bisa berikan kepada Holding Wenny. Saya dengar saja. Keliatan mereka berdua nego dengan skill luar biasa. Hebat , my lady. Saya senyum saja.


Risa keliatan bingung karena sikap Wenny. “ Ale, itu tambang Nikkel punya Yuni bisa engga saya ambil? Tanya Risa.


“ Wen, ajak gabung Yuni” kata saya kepada Wenny. Tak berapa lama Yuni muncul di screen.


Yuni menyimak penjelasan Risa yang pakai bahasa mandarin soal rencana mau beli saham tambang Yuni. “ Saya mau saja. Tetapi saya juga harus punya saham di unit bisnis baterai punya SIDC. Kalau engga, saya hanya jual sumber daya saja. Lantas negara saya dapat apa ? Kata Yuni. Saya senyum saja. Risa diam saja. Dia tatap saya. “ ya udah. Terimakasih semuanya. Saya paham. Mereka saling melambaikan tangan.


Selesai chat, Risa telp saya. “ Ale, apa saya harus perang dengan dua wanita itu? Kata Risa. " Sekuat apa Wenny. SIDC terlalu besar dibandingkan Holding dia. Kalau kran kredit bank distop, mati dia. Eh si Yuni itu sok nasionalis. Emang ada uang holding dia mau invest di pabrik baterai. Itu dua wanita terlalu halu. Engga realistis." Lanjut RIsa. Nah kan keluar mental kalimantannya. Petarung.


“ Sabar sayang… “


“ Mereka besar kan berkat SIDC, tetapi kenapa mereka ego sekali?

“ Sabar kamu RIsa,. Hadapi dengan tenang. “


“ Ya saya akan bicarakan dengan BDG. Liat aja nanti. MEreka harus bayar kesalahannya. “


“ eh kamu, udah sarapan? Kata saya mengalihkan pembicaraan.


“ Udah. Ale, kangen.”


“ Ya sama. Sehat selalu ya. Saya mau sarapan, jaga diri ya

***

“ Bro, “ james Chat via SafeNet.


“ Ya ada apa James?


“ Risa, kirim surat ke Business Development Group. Dan Komite Investasi. Saya dipanggil oleh anggota Komite investasi tadi. “


“ OK masalahnya apa?


“ Dia minta SIDC hentikan dukungan pendanaan atas kontrak offtaker atas PI Mining nikel Yuan holding Dia juga minta agar rencana Dragon Fly, SPC konsorsium GI dan Yuan untuk akuisisi perusahaan riset kendaraan listrik di Hangzou dihentikan. SPAC di New York sebagai investor sudah di kontak oleh Risa, agar hentikan semua pembiayaan Dragon Fly. “


“ Terus..”


“ Para boss di SIDC minta pendapat kamu. Kamu kan punya hak veto dalam Komite investasi.”


“ Hubungkan saya dengan Wang. “ Kata saya kepada James, Tak berapa lama Wang muncul di Screen. Dia anggota komite investasi.

“ B, ini gimana. Ada apa dengan program SIDC di Indonesia. Sepertinya ada masalah ya.”


“ Engga ada masalah. “


“ So?


“ Sebaiknya SIDC tetap dengan program nya. SIDC harus dapatkan sumber daya sendiri di Indonesia. Saya dari awal sudah bilang, saya tidak bisa intervensi. Karena posisi saya sebagai orang Indonesia, tidak mau ada benturan kepentingan. Apalagi investasi di Indonesia dalam skala besar. “


“ Tetapi anda mendahului SIDC. Itu saya dengar. Ada konsorsium Yuan dan GI akan akuisisi Perusahaan riset baterai. Dan Yuan kan selama ini dapat fasilitas dari SIDC.”

“ Hubungan Yuan dan SIDC itu business as usual. Saya tidak pernah terlibat. Kalau SIDC hentikan pendanaan Yuan, tidak ada masalah. Tetapi pastikan alasan bisnis, Bukan atas dasar like or dislike.”


“ Clear B.” Kata Wang.


“ OK.”


Wang keluar dari Safenet.


“ Bro, kamu tenang saja. biar saya selesaikan masalah tiga wanita kamu itu. Walau mereka keras tapi semua mereka mencintai kamu. Pastilah mereka inginkan yang terbaik untuk kamu. “Kata James.

“ Ok, james. Terimakasih”


***


Ale, maafkan saya yagn telah membuat kamu repot. Karena saya terpaksa laporkan Wenny, Yuan holding Company dan Yuni,  GI kepada BDG, SIDC holding. Tadi sore saya dapat telp dari CEO Holding, James, bahwa kamu harus bicara dengan Wang, Ketua Komite Investasi. Kamu tidak membela Wenny dan Yuni, kamu terus membuka jalan agar saya tetap punya kebebasan menggerakan SIDC Tekhnologi dengan visi globalnya.  Tetapi setelah  bicara dengan James, saya jadi malu kepada diri saya sendiri. Tidak seharusnya saya menggunakan power SIDC untuk menjatuhkan pihak lain, apalagi kepada mereka yang juga sahabat kamu.  


James, katakan bahwa Yuan Holding dibawah pimpinan Wenny ikut terlibat dalam konsorsium investor mengembangkan BYD kendaraan listrik paling popular di China.  Bahkan telah menggeser Tesla. Yuan juga terlibat dalam riset baterai EVOGO, yang memungkinkan pengemudi mengganti baterai mobil dalam satu menit. Di Hangzhou , Yuan holding juga berinvestasi pada riset Virtual reality and augmented reality. Kini beberapa EV telah menggunakan tekhnologi itu. Semua itu Wenny lakukan karena visi kamu. 


Kamu sadar bahwa di SIDC tidak lagi ada power walau kamu tetap sebagai pemegang saham dengan hak istimewa. Namun dalam kebijakan investasi, kamu tidak punya hak veto. Saya tahu apapun yang kamu lakukan, kamu ingin yang terbaik bagi Indonesia. Itu sebabnya kamu arahkan Wenny untuk ambil bagian dalam setiap  riset tekhnologi EV yang melibatkan konsorsium international. Karena kamu punya ambisi mengembangkannya di Indonesia. 


Tahun lalu SIDC memutuskan untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia, khusus tekhnologi EV. Saya tadinya berpikir Wenny adalah ancaman SIDC. Karena apa yang dilakukan Wenny mendukung GI, Holding Yuni di Jakarta, jelas merupakan ancaman serius bagi SIDC. Bahkan ancaman bagi semua industri EV yang ada di China dan Eropa, AS. Betapa tidak. Yuan holding mempunyai saham pada perusahaan riset tekhnologi EV, dari baterai, EV/AR,  Artificial intelligencet untuk mendukung smart car. 


Saya di briefing oleh Komite Investasi SIDC agar hadang setiap upaya GI masuk ke Industri EV. Karena GI dapat dukungan dari Yuan dan punya konsesi tambang sumber daya mineral. James, sudah jelaskan maksud dari hadang itu bukan mencaplok GI dan Yuan, tetapi bersaing secara sehat. Harus melihat GI dan Yuan sebagai B. Karena SIDC besar juga  berkat B, dan tentu SIDC akan lebih unggul dari GI dan Yuan karena sumber daya SIDC jauh lebih besar. Itu akan memotivasi saya untuk sukses mengalahkan Gi dan Yuan, dan kalau akhirnya nanti bermitra juga, bukan karena dipaksa, tetapi memang kami perlu sinergi. Maafkan saya, Ale..


Demikian email dari Risa. 


***

“ Risa , udah tidur? Chat saya via WeChat.

“ Eh Ale, belum sayang.”

“ terimaksih untuk emailnya” Kata saya dengan memberikan emoticon senyum.

“ Ya maafkan aku ya Ale. “

“ Engga apa apa”

“ Tadi aku telp Wenny dan Yuni. Aku juga udah sampaikan minta maaf. Ibu Wenny dan Yuni bilang. Mereka sangat menghormati sikapku. Tapi mereka tidak berani keluar dari visi kamu. Dan ternyata saya harus lebih banyak mengerti kamu, Ale. Kita jarang  berkomunikasi. Dalam 10 tahun kita hanya ketemu 4 kali. Chat juga jarang. Saya baru sadar, Ale yang saya kenal, beda sekali dengan Ale sekarang. Petinggi SIDC sangat menghormati Ale. Maafkan saya.”


“ Tidak perlu minta maaf. Kamu juga hebat, Karena sudah jadi real fighter dari SIDC. Kamu bukan lagi Risa yang saya kenal dulu di pasar GLodok. Kamu sudah jadi Risa yang berkelas dunia. Kemungkinan tahun ini kamu akan menggantikan James sebagai CEO. Karena james sudah masuk usia pensiun. “


“ Dan setelah itu dua tahun lagi, aku juga udah masuk usia 60 tahun. Pensiun juga. Duh senangnya kalau akhirnya bisa pulang juga ke Indonesia. Terimakasih Ale sudah memberikan makna hidup luar biasa bagiku.. Tahun tahun di SIDC sangat luar biasa. Itu akan jadi kenangan indah.” Kata Risa. 


" Apa rencana kamu setelah pensiun ?


" Aku engga punya siapa siapa Ale. Terserah ale aja. " Katanya dengan emoticon senyum.


" Kamu gabung di GI ya di Jakarta. Jadi Preskom Industri baterai dan EV yang GI akan dirikan."


" Ya ale. ..aku nangis.." 


" Kenapa Risa. Ada apa ?


" Kenapa kamu selalu jaga aku. Padahal aku sudah tua."


“ Aku juga sudah tua Risa. Kamu tetap Risaku. Ya udah, Kamu istirahat ya..Tenangkan diri kamu” 


“  By Ale..”

No comments: