Monday, November 08, 2021

Memahami peluang.

 


Putra saya datang ke saya. “ Pah, ini ada orang mau ajak kerjasama. Bisnisnya sudah jalan. Dia minta saham 30%. Kita bayar dia Rp. 5 miliar. Setelah itu, dia perlu Rp. 20 miliar untuk ekspansi “ Kata putra saya menyerahkan dokumen perusahaan , lengkap dengan neraca tiga tahun.  Ini kali pertama dia ajak saya diskusi soal bisnis akuisisi. Biasanya dia hanya tertarik kepada bisnis yang dia kuasai saja. Makanya saya antusias sekali ketika dia bertanya. Karena ini momen tetap mengajarkan dia. Orang bertanya karena kebutuhan mudah mengerti kalau dijelaskan. Karena dia sedang berada dalam gelap. Dia butuh cahaya menerangi jalannya.


Saya langsung ke whiteboard. 

“ Lihat neraca dan laporan keuangannya. “ kata saya.” Berapa laba ditahan tahun 2020?

“ Rp. 8 miliar. “ Kata Putra saya.

“ Berapa modal disetor ?

“ Rp. 2 miliar “

“ Nah artinya dalam tiga tahun perusahaan berjalan, nilainya adalah 4 kali dari modal disetor. 4 kali dari modal disetor ini mencerminkan effort yang melibatkan sumber daya perusahaan berupa uang, mesin dan SDM. Engga mudah mendapatka nilai seperti itu. Coba, kalau uang itu ditempatkan dalam deposito, paling menghasilkan bunga 6% setahun.

“ Tapi walau 6% kan pasti. 400% engga pasti.” Kata putra saya.

“ Ya ketidak pastian itulah value dari wirausaha. Yang kebanyakan orang takut menghadapi ketidak pastian itu. Paham”

“ Ya.”

“ Ok lanjut. Kalau dia minta Rp. 5 miliar atas 70% saham. Maka harga yang pantas adalah Rp. 5,6  miliar.”

“ Tapi kenapa dia minta Rp. 5 miliar? Kata putra saya dengan wajah polos.


“ Karena bisa saja dia butuh uang. Kalau kamu baca neraca dan laporan keuangannya. Laba terpakai untuk beli  mesin dan piutang. Sementara marketnya bagus tapi dia kesulitan cash flow.  Kalau dia jual mesin, jelas value jatuh, piutang jelas sudah sulit ditagih. Maklum itu piutang dagang. Jadi jual saham, adalah solusi agar dia bisa ekspansi dan value tidak jatuh. “


“ Jadi harga yang dia buka itu rasional”


“ Sementara ya rasional harganya. Tetapi kamu harus lewati dulu standar kepatuhan dalam proses akuisisi. Pertama, teken dulu MOU, agar kamu punya hak meminta diadakan audit neraca oleh akuntan publik. Setelah hasil audit keluar, ternyata neracanya benar dan valid, kamu masuk ke tahap kedua. Kedua, adalah Perjanjian jual beli sementara. Kamu harus bayar DP minimal 5% dari harga disepakati. Dengan DP itu kamu berhak audit management, SDM dan legal. Pastikan tiga hal, yaitu, kontrak tenaga kerja dan perizinan, hutang piutang perusahaan, termasuk hutang pajak. Ketiga, pastikan kamu tahu value bisnis perusahaan itu. Apakah karena tekhnologi, pasar atau SDM. “


“ Apa dia mau kita lakukan itu ?


“ Dalam hukum bisnis, kalau kamu sudah kasih orang DP, secara hukum itu sudah menjadi hak kamu. Dalam rentang waktu tertentu dia tidak bisa nego ke orang lain dan kamu juga punya hak untuk tahu semua, termasuk kamu jual lagi ke orang lain.


“ OK lanjut.”


“ Kamu harus dapatkan informasi sebanyak mungkin, agar kamu bisa meningkatkan value dari perusahaan itu. Artinya setelah kamu ambil alih nilai perusahaan itu harus meningkat, bukan karena modal tetapi karena aspek pasar, atau aspek tekhnologi. Kamu harus kerja keras dapatkan informasi itu. 


Papa biasanya temui eksekutif perusahaan sejenis. Papa undang dia makan malam. Dalam suasana santai papa ngobrol soal bisnis. Kadang dia beri informasi yang kita tidak tahu. Atau solusi bisnis yang bagus meningkatkan value tetapi pemegang sahamnya engga berminat menerapkan. Itu bisa saja peluang bagi kamu. Atau kamu ajak pejabat bank makan malam. Tanya dia soal bisnis itu. Umumnya bank lebih banyak tahu soal kredibilitas pemegang saham dan trend bisnis. Paham.”


“ Kalau sudah tahu bagaimana tingkatkan value perusahaan. Gimana caranya jalankan.”


“ Ya kamu harus berburu tenaga profesional yang mampu jalankan. Bujuk dia dengan segala cara. Tetapi utamakan pendekatan humanis. Sehingga kamu kenal dia secara pribadi dan dia percaya kepada kamu.”


“ Terus..”


“ Nah dari informasi itu semua, barulah kamu membuat keputusan. Beli atau tidak. Beli, kalau audit management, SDM dan legal, terbukti  clean and clear. Dan pastikan kamu punya peluang tingkatkan value perusahaan dan ada orang yang bisa menjalankan. Kalau hasil audit tidak valid, peluang meningkatkan value tidak ada, ya kamu keluar aja. Hilang 5% anggap resiko bisnis. Biasa saja.”


“ Wah resiko juga ya. “


“ Dapatkan peluang itu emang murah? Tanpa resiko kamu engga akan bergerak kemana mana kecuali ditempat tidur. “ kata saya tersenyum. 


“ Gimana kalau pemegang saham lama, punya solusi tingkat value perusahaan. Apakah tidak mungkin kita pakai dia aja sebagai profesional” Kata putra saya dengan cara berpikir pragmatis.


“ Kalau dia profesional dan tahu meningkatkan value, dia engga datang ke kamu. Dengan value 4 kali dari modal, tidak sulit dia deal dengan banker atau venture capital. Artinya hati hati, itu bisa jadi jebakan manis.”  Kata saya tersenyum, berharap dia mulai tercerahkan. 


“ Terus darimana duit untuk lunasi kekurangan 95% dari harga beli perusahaan itu.”


Saya tersenyum memandang dia sejurus. “ Kalau semua data dan informasi adalah valid dan peluang tingkatkan value menang ada. Uang bukan masalah.” Kata saya. 


“Gimana ?


“ Contoh sederhana. Kan banyak orang  kaya punya uang disimpan di bank. Kamu temui mereka. Bilang aja. Pak, kita kerjasama, anda tidak perlu keluar uang. Deposito tetap aman. Bunga tetap didapat.  Anda juga dapat saham 30% dari proyek akuisisi ini. Saya hanya minta deposito anda sebaga credi link. Dengan itu saya akan create surat utang dan jualnya kepada investor. Anda engga perlu kawatir soal resiko gagal bayar. Karena deposito anda hanya sebagai credit link aja. Resiko utama tetap saham yang akan saya kuasai sebagai jaminan. “


“ Apa iya mereka mau.?


“ Dengan data bisnis yang kamu sodorkan dia tahu itu peluang tingkatkan uang dia. Orang kaya yang cerdas itu punya sifat rakus, nak. Dia utamakan aman dan untung. Penuhi sifatnya itu. Apapun kamu usulkan, dia pasti mau. Tetapi kalau cuman cerita dan proposal, paling sekedar kopi secangkir doang kamu dapat dari dia.”


“ Ada contoh skema lain pah.”


“ Masih banyak contoh lan. Itu berkaitan dengan financial engineering. Cobalah belajar sambil kerja. Yang penting setiap kamu ada masalah, datang ke papa. Papa akan beri tahu solusinya. Dari situ kamu bisa belajar”


“ Tetapi untuk pastikan aman dan dapat untung itu yang sulit.”


“ Engga sulit. Patuhi saja standar akuisisi itu, dan bekerja keraslah memenuhinya. Kamu akan berhasil. Tetapi memang butuh pengetahuan dan kemauan untuk terus belajar dari sumber manapun. Makanya kamu perlu perluas pergaulan, open minded, dan rendah hati. Agar kamu bisa masuk disemua level strata sosial. Knowledge is power. Paham ya sayang.”

1 comment:

Anonymous said...

terimakasih....pencerahannya 😊🙏🙏

Jangan melewati batas..

  Tahun 2013 september, Holding Company yang aku dirikan sejak tahun 2006 berada dibawah pengawasan dari pihak yang ditunjuk oleh konsorsium...