Saturday, November 20, 2021

Jalan Tuhan, bukan jalan Agama.


 


Tadi siang dia berjanji akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan sahabat, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Tapi akhirnya saya lebih banyak mendengar. Dia memang hebat, moderat atau bisa juga sesat. Kaya akan ilmu dan sangat realistis. Rasional. Ketika melihat hidupnya baik baik saja. Padahal sebagai pengusaha dia hidup serba tidak pasti. Saya berpikir apakah benar dia baik baik saja?


Dulu setahun sebelum jatuhnya Soeharto, dia sangat sibuk sebagai anggota Pokja merancang UU berkaitan dengan gerakan muamalah umat. Saya sebagai mahasiswi dan aktifis keagamaan mendukungnya. Sangat mendukung. Bagi saya, UU itu adalah jalan bagi umat menguasai ekonomi nasional menurut akidah. Kalau secara ekonomi sudah mengikuti tuntunan agama, maka ridho Allah akan datang. Semua akan serba mudah. Benarlah, UU itu disahkan setelah Soeharto jatuh. Tapi saat itu dia sudah tidak lagi aktif sebagai anggota Pokja. Ketika saya mengucapkan selamat. Tidak ada reaksi apapun dari dia. Karena dia sudab sibuk dalam dunia kapitalis. Membangun usaha di luar negeri. Namun dia tetap idola saya.


Tahun 2006 saya menikah dengan pria yang juga tokoh agama. Dia tidak datang. Namun dia mengirim karangan bunga dan SMS, mengucapkan selamat. Tak lupa mendoakan. Sejak itu saya tidak lagi berkomunikasi dengan dia.  Tahun 2009, saya bercerai. Karena tidak siap dipoligami. Saat itu saya dihujat tidak taat kepada suami. Tidak ingin mendapaktan kunci sorga. Tidak siap diuji keimanannya, lebih mencintai Allah atau manusia?. Memahami agama dan sorga, terlalu rumit bila syarat harus berbagi ranjang dengan orang asing. Saat terasing di linkungan orang sholeh, saya merindukan dia. Kami mulai kembali berkomunikasi. Dialah orang yang mau mendengar kekecewaan saya dan dia memaklumi sikap saya.


Bukan itu saja. Sebagai janda dengan satu anak. Saya lebih memilih sibuk dalam kegiatan sosial keagamaan. Tak ingin menikah lagi. Setiap ada kegiatan sosial , setiap saya SMS dia, selalu dijawab “ Rin, saya udah transfer uangnya. Semoga sukses ya”. Suatu saat saya utarakan kesulitan keuangan. Karena pecah kongsi dengan teman dalam bisnis penyewaan Perlengkapan perkawinan. “Rin, saya udah kirim uang”. Tanpa disadari saya merasa dia sudah jadi tempat sandaran hidup. Walau dia bukan suami, tetapi dia selalu ada untuk saya, dan selalu mengerti saya.


***


Namun secara prinsip pemikirannya membuat saya berjarak dengan dia. Saya bukan orang yang mengerti bahasa isyarat. Apalagi kalau itu mengandung makna filosofis berat. Saya cuma tahu karena saya merasa. Bukan karena teori-teori yang tercantum dalam buku-buku kaum sekular. Keadaanya jelas. Dalam dunia kapitalis. Setiap orang adalah pedagang. Bisa untung, bisa juga rugi. Masalahnya, umat selalu rugi. “ Kalian tidak rugi, hanya tidak meraih seperti harapan. Mungkin juga terlalu besar harapan. Sehingga disebut rugi. Kalau kalian memang rugi, sudah lama kalian kelaparan dan berhenti berharap. Mati sebelum ajal datang. Nyatanya sekarang semua baik baik saja” Katanya dengan enteng. 


“ Kamu tidak bisa menyederhanakan masalah. Ini masalah umat. Masalah mayoritas penduduk negeri ini. Soal keadilan“ Kata saya.


”Kenapa harus rumit memikirkan hidup ini. Kalau sebotol Jonny Walker bisa menyelesaikan. ” Katanya


”Hah?!” Saya terkejut. Sejauh itukah dia berubah. Kemana idola saya yang dulu? yang selalu bersemangat untuk jalan kebenaran.


“ Kenapa kamu berubah? Kata saya.


“ Tidak ada yang berubah. Saya masih tetap di jalan Tuhan. Bukan jalan Agama. “


“ Murtad kamu! Kafir kamu. “ Kata saya keras.  Dia tersenyum. Kemudian tertawa. Seperti tidak merasa tersinggung. Apakah dia tidak bisa lagi membedakan salah dan benar.? Namun sebelum saya meragukan sikapnya dia dengan santai menjelaskan. Adakah pelajaran berharga dari Rasul tentang kekalahan yang menyakitkan ? Adakah pelajaran berharga dari Rasul. Rasa senang atas kemenangan berakhir kepada kekalahan yang mempermalukan ? demikian pertanyaan yang diajukannya. 


Ia melanjutkan, setelah mencapai kemenangan dalam perang Badar, pasukan Nabi penuh percaya diri tampil gagah berani menjemput sahid dalam perang Uhud. Nabipun mengatur strategi dengan begitu rapinya. Diminta semua pasukan mentaati taktik dan strategi itu dengan sebaik baiknya. Ketika perang berlangung. Dalam posisi diatas angin atas musuh, terjadi kekacauan barisan pertahanan. Pasukan pemanah yang diminta untuk tetap di posisinya di atas bukit, turun kebawah untuk ikut memperebutkan harta rampasan. Pada saat itulah kaveleri musuh dibawah pimpinan Khalid Bin Walid melakukan pukulan balik.


Tanpa terduga , serangan dari balik bukit pasukan kavelery musuh itu membuat kacau pertahanan pasukan muslim. Keadaan menjadi terbalik. Kalau tadinya Pasukan Islam sudah hampir mencapai kemenangan, kini tersudut. Akhirnya mengalami kekalahan. Dalam perang Uhud itu, banyak sahabat Rasul yang gugur termasuk pama Rasul, Hamzah. Nabipun mengalami luka luka dalam perang itu. Bahkan sholatpun Nabi harus sambil duduk karena banyak luka ditubuhnya. Paham kamu? Itu artinya Nabi kekasih Allah saja tunduk dengan sunnatullah. Siapa kita ? yang berharap mirracle melawan kezoliman.


Ini sebuah pembelajaran yang sangat mahal bagi kaum muslim ketika itu. Bahwa disiplin dalam perjuangan adalah kunci sebagai pemenang. Ya, dalam kehidupan sekarang ini, dalam situasi pribadi maupun organisasi maka kedisiplinan sangat penting. Dunia ini adalah the battle of life. Hanya mereka yang cerdik, disiplin dan terorganisir baiklah yang akan tampil sebagai pemenang. Itu yang tidak dimiliki oleh pemimpin umat. Lihatlah. Begitu banyak ormas. Itu artinya sulit dipesatukan dalam barisan yang sama. Liatlah fakta, begitu banyak aliran dalam agama. Bagaimana mau disiplin barisan. ? Ya kalau kalah, itu sudah sunattulah. “ Katanya. 


“ Saya sedikit tercerahkan  walau tidak sepenuhnya menerima. Masih banyak yang dipertanyakan sikap kamu? Kata saya.


”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Perubahan yang seperti kamu mau tidak akan terjadi. Sehebat apapun Agama, politik, sains tidak akan mengubah peradaban. Yang bisa mengubah itu adalah Tuhan. Perubahan yang lebih baik terjadi karena  pada diri setiap orang ada Tuhan. Masalahnya kita mentuhankan selain Tuhan. Kita mentuhankan agama. Itu yang salah. Paham ya sayang. “ Katanya.


Tapi di manakah sekarang ia? Saya lirik jam. Sudah sejam berlalu. Dia tidak juga datang. Saya merindukannya. 


”Hah?!” Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang.


”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”Katau pengunjung kafe.


”Hah?!”


Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu satu jam dengan perut kosong. 


”Boleh saya pakai bangkunya, Mbak?”


”Maaf, ada yang saya tunggu.” Kata saya. Memang saya butuh dia, butuh tempat bersandar.  Saya tidak akan kecewa kalau akhirnya dia tidak datang. Karena kalau saya SMS, dia selalu jawab “ Rin, saya udah transfer ya.” 

No comments: